ANALISA PENGARUH PLANT GROWTH PROMOTING RHIZOBACTERIA DAN TRICHODERMA TERHADAP TINGGI TANAMAN PADI

Muhammad Rizal Zuhdi

22 Mei 2022


1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

        Padi merupakan tanaman pangan yang banyak di temukan di Asia dan Afrika Barat. Padi menjadi sumber pangan pokok di wilayah indonesia dan negara sekitarnya. Seiring berkembangnya teknologi dan pertumbuhan penduduk, kebutuhan konsumsi padi juga meningkat. Tercatat dari tahun 2019 produksi padi mulai menurun disebabkan oleh kegiatan budidaya tanaman yang dialihkan atau serangan dari hama dan penyakit.
        Kegiatan alternatif yang dapat dilakukan untuk menanggulangi permasalahan tersebut adalah dengan diterapkannya konsep pengendalian hama terpadu. Salah satu agen hayati yang dapat dimanfaatkan adalah rhizobacteria karena kemampuannya dalam mengendalikan patogen yang sangat baik. Salah satu diantaranya adalah Plant Growth Promoting Rhizobacteria (PGPR). Penelitian ini akan memantau pengaruh dari PGPR itu sendiri dan pengaruhnya jika dikombinasikan dengan Trichoderma.

1.2 Asumsi Normalitas

        Salah satu syarat utama dalam analisis statistika parametrik adalah terpenuhinya kenormalan data. Menurut Lukiastuti & Hamdani (2012) menyatakan bahwa persyaratan dan asumsi statistika parametrik antara lain
  • Sampel data yang diperoleh berasal dari populasi yang memiliki pola distribusi data yang normal.

  • Data yang dijadikan sampel diperoleh dengan penentuan secara acak.

  • Skala pengukuran harus bersifat kontinu

  • Nilai variansi harus sama.

Uji normalitas digunakan untuk mengetahui apakah residual berdistribusi normal atau tidak, Residual harus mengikuti distribusi normal dengan rata rata 0 dan varians 2. Penyebab tidak normal kemungkinan karena terdapat nilai ekstrim data yang kita ambil.

         Pengujian untuk membuktikan normal atau tidaknya suatu data dapat dilakukan dengan menggunakan analisis kolmogorov – smirnov, liliefors dan Shapiro–wilk dengan hipotesis:

H 0 : Data atau residual data mengikuti distribusi normal.

H 1 : Data atau residual data tidak mengikuti distribusi normal.

Statistik uji Shapiro-Wilk sesuai digunakan untuk data dalam kasus ini karena ukuran < 100. Berikut merupakan rumus Statistik Uji Shapiro-Wilk :

\[ T = \frac{1}{D}[\Sigma~\alpha_i~(X_{n-i+1}-X_i)]^2 \] Dengan kriteria pengambilan keputusan :

\[ Terima ~H_0~jika ~p-value >\alpha \] Artinya data mengikuti distribusi normal.

1.3 Asumsi Homogenitas

        Asumsi Homogenitas merupakan kesamaan varians antar dua kelompok data atau antar beberapa kelompok data. Pengujian ini dilakukan untuk menyakinkan bahwa sekumpulan data yang diukur memang berasal dari populasi yang sama (Usmadi, 2020). Dalam hal ini, kelompok data yang dimaksud adalah kelompok data dalam variabel bebas.
        Tujuan utama uji Levene yaitu untuk menguji kesamaan varians dari beberapa populasi (Usmadi, 2020). Uji Levene menggunakan analisis varian satu arah, dengan mencari selisih masing-masing angka dengan rata-rata kelompoknya.

Hipotesis untuk uji asumsi homogenitas :

\[ H_0 : \sigma^2_1=\sigma^2_2=... = \sigma^2_k \]

\[ H_1 : \text{Terdapat minimal satu } (i,j) ~ \sigma^2_i \neq \sigma^2_j \] Statistik uji yang digunakan

\[ W = \frac{n-k}{k-1} \frac{\Sigma~n_i(Z_i- \bar Z)^2}{\Sigma \Sigma (Z_i,_j-Z_i)^2} \] Dengan nilai kritis : \[ Tolak ~ H_0 ~ jika ~W~> F_{(a~;~k-1,k-1)} \] atau melalui nilai-p dengan kriteria pengambilan keputusan :

\[ Terima~ H_0~jika ~p-value >\alpha \] Artinya data bersifat homogen.

1.4 One-Way Anova

        Analisis of variance atau ANOVA merupakan salah satu uji parametrik yang berfungsi untuk membedakan nilai rata-rata lebih dari dua kelompok data dengan cara membandingkan variansinya (Ghozali, 2009). Terdapat dua jenis ANOVA, yaitu ANOVA satu jalur (one-way ANOVA) dan ANOVA dua jalur (two-way ANOVA).
       Analisis ANOVA satu jalur (one-way ANOVA) merupakan jenis uji statistika parametrik yang digunakan untuk pengujian perbedaan beberapa kelompok rata-rata, di mana hanya terdapat satu variabel bebas (independent) yang dibagi dalam beberapa kelompok dan satu variabel terikat (dependen). Dalam teknik one-way ANOVA biasanya digunakan dalam penelitian eksperimen atau Ex-Post-Facto (Widiyanto, 2013).
        Dalam pengujian one-way ANOVA menggunakan beberapa parameter yang perlu diperhatikan yaitu:
  • Data sampel yang digunakan berdistribusi normal atau dianggap normal.

  • Populasi tersebut memiliki varian yang homogen.

  • Sampel tidak berhubungan satu dengan lain (independen), sehingga uji ANOVA tidak bisa digunakan untuk sampel berpasangan (paired).

1.5 Uji Lanjut Duncan’s Multiple Range Test

        Uji Duncan atau duncan multiple range test merupakan salah satu uji lanjut digunakan untuk melihat apakah setiap perlakuan yang dilakukan memiliki perbedaan yang bermakna atau tidak dan juga untuk melihat perlakuan mana yang memberikan efek paling kecil dan efek yang paling besar melalui perbandingan ganda yang menggunakan statistik terpelajar qr untuk membandingkan himpunan rata-rata (Duncan, 1955).
        Dalam uji lanjut duncan ini ada beberapa kriteria yang digunakan untuk memenuhi uji lanjut Duncan sebagai berikut:
  • Dilakukan untuk perlakuan yang banyak

  • Digunakan banyak pembanding

Rumus yang digunakan untuk uji Duncan

\[ D=d_\alpha, _p,_v * \sqrt{KTG/n} \] dimana :

α = Taraf nyata

p = Jarak peringkat 2 perlakuan p

v = Derajat bebas galat

Nilai d αpv dapat dilihat pada tabel Duncan, di mana p adalah jarak peringkat dua perlakuan dan db galat adalah derajat bebas galat.

        Dalam Uji Duncan atau duncan multiple range test ini ada beberapa langkah perhitungan sebagai berikut :
  • Menghitung nilai D masing-masing perlakuan melalui tabel duncan dan nilai KTG

  • Mengurutkan rata-rata perlakuan

  • Membandingkan selisih rata-rata perlakuan dengan nilai D

  • Perlakuan tidak berbeda nyata jika selisih < D, lalu berikan notasi yang sama untuk perlakuan yang tidak berbeda nyata

2 SOURCE CODE

2.1 Library yang Dibutuhkan

> # Library(readxl)
> # Library(knitr)
> # Library(rmarkdown)
> # Library(prettydoc)
> # Library(prettydoc)
> # Library(equatiomatic)
> # Library(car)
> # Library(agricole)
> # Library(Hmisc)
> # Library(readxl)

2.2 Membangkitkan Data

> library(readxl)
> Data_Padi <- read_excel("F:/Tinggi Tanaman.xlsx", range = "A14:B38")

Penjelasan :

  • Source code di atas merupakan perintah untuk menampilkan data tinggi pengamatan dari file excel.
> library(rmarkdown)
> paged_table(as.data.frame(Data_Padi))

Penjelasan :

Tabel di atas merupakan data hasil pengamatan tinggi tanaman padi terhadap 9 perlakuan yaitu :

  • P1 : PGR dengan konsentrasi 10ml/L

  • P2 : PGR dengan konsentrasi 20ml/L

  • P3 : PGR dengan konsentrasi 30ml/L

  • P1T : PGR dengan konsentrasi 10ml/L + Trichoderma

  • P2T : PGR dengan konsentrasi 20ml/L + Trichoderma

  • P3T : PGR dengan konsentrasi 30ml/L + Trichoderma

Tabel diatas disajikan dalam bentuk data.frame

2.3 ANOVA

> anova <- aov(Tinggi~Perlakuan, data=Data_Padi)
> summary(anova)
            Df Sum Sq Mean Sq F value  Pr(>F)   
Perlakuan    5  452.8   90.56    5.39 0.00335 **
Residuals   18  302.5   16.80                   
---
Signif. codes:  0 '***' 0.001 '**' 0.01 '*' 0.05 '.' 0.1 ' ' 1

Penjelasan :

Source code diatas merupakan perintah untuk melakukan uji One-Way Anova.

2.4 Uji Lanjut Duncan’s Multiple Range Test (DMRT)

> library(agricolae)
> Uji_Duncan<- duncan.test(aov(Tinggi~Perlakuan, data=Data_Padi), trt = "Perlakuan", group = TRUE)
> Uji_Duncan
$statistics
  MSerror Df     Mean       CV
  16.8029 18 93.03333 4.406092

$parameters
    test    name.t ntr alpha
  Duncan Perlakuan   6  0.05

$duncan
NULL

$means
      Tinggi      std r  Min   Max    Q25   Q50    Q75
P1  87.50000 5.507571 4 81.0  93.0 84.000 88.00 91.500
P1T 92.22500 5.034796 4 85.0  96.0 90.700 93.95 95.475
P2  92.33333 4.041452 3 90.0  97.0 90.000 90.00 93.500
P2T 98.25000 2.928595 4 96.0 102.5 96.525 97.25 98.975
P3  89.42000 2.777049 5 87.0  93.0 87.300 88.00 91.800
P3T 99.20000 3.922584 4 96.4 105.0 97.150 97.70 99.750

$comparison
NULL

$groups
      Tinggi groups
P3T 99.20000      a
P2T 98.25000     ab
P2  92.33333     bc
P1T 92.22500     bc
P3  89.42000      c
P1  87.50000      c

attr(,"class")
[1] "group"

Penjelasan :

Source code diatas merupakan perintah untuk melakukan uji lanjut Duncan.

2.5 Uji Asumsi Untuk ANOVA

2.5.1 Uji Asumsi Normalitas

> shapiro.test(Data_Padi$Tinggi)

    Shapiro-Wilk normality test

data:  Data_Padi$Tinggi
W = 0.97956, p-value = 0.8877

Penjelasan :

Source code diatas merupakan perintah untuk menguji normalitas data untuk dibandingkan dengan taraf signifikansi.

> plot(anova, 2)

Penjelasan :

Source code diatas merupakan perintah untuk menampilkan distribusi data.

> qqPlot(Data_Padi$Tinggi)
Error in qqPlot(Data_Padi$Tinggi): could not find function "qqPlot"

Penjelasan :

Source code diatas merupakan perintah untuk menampilkan distribusi data sekaligus batas bagi data agar dapat masuk kategori berdistribusi normal.

2.5.2 Uji Asumsi Homogenitas

> library(car)
> leveneTest(Tinggi~Perlakuan, data=Data_Padi)
Levene's Test for Homogeneity of Variance (center = median)
      Df F value Pr(>F)
group  5  0.4806 0.7861
      18               

Penjelasan :

Source code diatas merupakan perintah untuk menguji apakah data tersebut homogen antar variabelnya.

3 HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Uji Asumsi

3.1.1 Uji Asumsi Normalitas

  • Berdasarkan Persebaran Data
> qqPlot(Data_Padi$Tinggi)

[1]  2 24

Berdasarkan grafik di atas terlihat bahwa persebaran data masih dalam batas biru dan mengikuti garis distribusi normal. Jadi dapat disimpulkan bahwa persebaran data mengikuti distribusi normal.

  • Berdasarkan Nilai-P

Hipotesis :

H0 : Data mengikuti sebaran normal

VS

H1 : Data tidak mengikuti sebaran normal

> shapiro.test(Data_Padi$Tinggi)

    Shapiro-Wilk normality test

data:  Data_Padi$Tinggi
W = 0.97956, p-value = 0.8877

Berdasarkan Uji Shapiro Wilk terlihat bahwa nilai-p = 0.8877 lebih dari taraf signifikansi 0.05 maka Terima H0. Artinya Data mengikuti sebaran normal.

3.1.2 Uji Asumsi Homogenitas

Hipotesis :

H0 : Data berasal dari populasi yang sama (homogen)

VS

H1 : Data tidak berasal dari populasi yang sama (heterogen)

Statistik Uji Levene

> library(car)
> leveneTest(Tinggi~Perlakuan, data=Data_Padi)
Levene's Test for Homogeneity of Variance (center = median)
      Df F value Pr(>F)
group  5  0.4806 0.7861
      18               

Berdasarkan Statistik uji Levene didapatkan nilai signifikansi lebih dari 0.05 maka terima H0 artinya data berasal dari populasi yang homogen atau sama.

Karena data sudah memenuhi asumsi normalitas dan homogenitas maka bisa dilanjutkan ke Uji One-Way anova.

3.2 One-Way ANOVA

Hipotesis :

H0: α1 = α2 = α3 = α4 (tidak terdapat perbedaan anatar keenam perlakuan terhadap pertumbuhan padi)

VS

H1: Paling sedikit ada 1 αi yang tidak sama (terdapat perbedaan anatar keenam perlakuan terhadap pertumbuhan padi)

Tabel 1 One-Way Anova Pertumbuhan Tanaman Padi

SK Df JK KT F Hitung P-Value
Perlakuan 5 452.8 90.56 5.39 0.00335
Residuals 18 302.5 16.80

Keputusan : Berdasarkan statistik uji F didapatkan nilai F hitung = 5.39 dan P-value 0.00335. karena F hitung < F (0.05, 5;18) = 2.773 dan nilai signifikansi kurang dari α = 0.05 maka Tolak H0.

Interpretasi : Pada taraf nyata 5% sudah cukup bukti untuk menolak H0 artinya terdapat perbedaan antar ke 6 perlakuan tersebut terhadap pertumbuhan padi.

3.3 Uji lanjut Duncan’s Multiple Range Test

Tabel 2 Rata rata panjang Tanaman Padi

Perlakuan Tinggi Groups
P3T 99.20 a
P2T 98.25 ab
P2 92.33 bc
P1T 92.225 bc
P3 89.42 c
P1 87.5 c

Interpretasi :

Berdasarkan Uji lanjut DMRT terlihat bahwa P3T memberikan perbedaan nyata paling tinggi. Dengan kata lain meberikan PGR dengan konsentrasi 30ml/L + Trichoderma dapat memaksimalkan pertumbuhan tanaman padi. Akan tetapi jika terdapat keterbatasan biaya, memberikan perlakuan PGR dengan konsentrasi 20ml/L + Trichoderma hanya berbeda kurang dari 1 satuan. Namun untuk perlakuan selanjutnya lebih baik dipilih pernambahan PGR dengan konsentrasi 20ml/L tanpa Trichoderma daripata perlakuan P1T agar pertumbuhan padi masih bisa dimaksimalkan.

4 Kesimpulan

           Berdasarkan Hasil Uji One-Way Anova kemudian dilanjutkan dengan uji duncan didapatkan bahwa perlakuan P3T memberikan pengaruh paling besar pada pertumbuhan padi dan mampu menghasilkan padi paling tinggi. Jadi disarankan untuk menggunakan perlakuan P3T agar pertumbuhan pdi bisa maksimal.
           Namun perlakuan P2T juga layak dipilih jika terdapat keterbatasan biaya atau bahan perlakuan karena perlakuan P2T tidak berbeda nyata dengan perlakuan P3T.

5 DAFTAR PUSTAKA

Aqil, M., & Efendi, R. (2017). Aplikasi SPSS dan SAS untuk Perancangan Percobaan. BALITSEREAL.

Usmadi. (2020). Pengujian Persyaratan Analisis (Uji Homogenitas dan Uji Normalitas). Jurnal Inovasi PendidikanI, 7(1), 50-62.

Steel, R. G. D. dan Torrie, J. H. (1980). Principles and Procedures of Statistics. Second Ed.McGraw-Hill Kogakusha Ltd., Tokyo.

Yuni. (2013). Formulasi dan Uji Aktivitas Gel Antijerawat Ekstrak Umbi Bakung (Crinum Asiaticum L.) Terhadap Bakteri. Jurnal Ilmiah Farmasi, 24-25.