Lembaga : Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Jurusan : Teknik Informatika

1 Pengertian smoothing spline

Smoothing splines adalah pendekatan yang ampuh untuk memperkirakan hubungan fungsional antara prediktor X dan respons Y. Smoothing splines dapat di-fit baik menggunakan fungsi smooth.spline (dalam paket stats) atau fungsi ss (dalam paket npreg). Dokumen ini memberikan latar belakang teoritis tentang smoothing splines, serta contoh-contoh yang menggambarkan bagaimana menggunakan fungsi smooth.spline dan ss. Seperti yang saya tunjukkan dalam tutorial ini, kedua fungsi memiliki sintaks yang sangat mirip, tetapi fungsi ss menawarkan beberapa opsi tambahan.

Regresi spline merupakan smoothing untuk memplot data dengan mempertimbangkan kemulusan kurva. Spline adalah model polinomial yang tersegmentasi atau terbagi, dan sifat segmen ini memberikan fleksibilitas yang lebih besar daripada model polinomial biasa. Properti ini memungkinkan model regresi spline untuk secara efektif disesuaikan dengan properti lokal data. Penggunaan splines menitikberatkan pada adanya perilaku atau pola data yang memiliki sifat yang berbeda pada suatu area tertentu dengan pada area lainnya. Berikut regresi nonparametrik dengan pendekatan smoothing spline pada data Google Mobility Index dan Covid-19 di Jakarta mei 2020.

2 *Data Google Mobility Index dan Covid-19 di Jakarta Mei 2020"

library(readxl)
## Warning: package 'readxl' was built under R version 4.1.2
mobilityjakarta <- read_excel(path = "Data Riwayat Covid-19 & Google Mobility Index Mei 2020.xlsx")
mobilityjakarta
plot(mobilityjakarta$Tanggal,mobilityjakarta$POSITIF)

3 Data Deskriptif

library(jmv)
## Warning: package 'jmv' was built under R version 4.1.3
# Mendapatkan data descriptive menggunakan fungsi descritptive
descriptives(mobilityjakarta, vars = vars(POSITIF, grocery_and_pharmacy_percent_change_from_baseline), freq = TRUE)
## 
##  DESCRIPTIVES
## 
##  Descriptives                                                                            
##  --------------------------------------------------------------------------------------- 
##                          POSITIF     grocery_and_pharmacy_percent_change_from_baseline   
##  --------------------------------------------------------------------------------------- 
##    N                           31                                                   31   
##    Missing                      0                                                    0   
##    Mean                  5738.258                                            -21.19355   
##    Median                5795.000                                            -22.00000   
##    Standard deviation    918.6507                                             8.673405   
##    Minimum               4283.000                                            -34.00000   
##    Maximum               7272.000                                            -1.000000   
##  ---------------------------------------------------------------------------------------

4 Perbandingan Pendekatan

library(npreg)
## Warning: package 'npreg' was built under R version 4.1.3
mod.ss <- ss(mobilityjakarta$Tanggal,mobilityjakarta$POSITIF, nknots = 10)
mobilityjakarta$prediksi_ss <- mod.ss$y
mobilityjakarta

5 Perbandingan Pendekatan

library(npreg)
mod.ss <- ss(mobilityjakarta$Tanggal,mobilityjakarta$POSITIF, nknots = 10)
mobilityjakarta$prediksi_ss <- mod.ss$y
mobilityjakarta
mod.smsp <- smooth.spline( mobilityjakarta$Tanggal,mobilityjakarta$POSITIF, nknots = 10)
mobilityjakarta$prediksi_smsp <- mod.smsp$y
mobilityjakarta
# plot method
plot(mobilityjakarta$Tanggal, mobilityjakarta$POSITIF, lty = 10, col = 'Green', lwd =10)
# plot(mod.ss)
# add lm fit
abline(coef(lm( mobilityjakarta$POSITIF ~ mobilityjakarta$Tanggal  , data = mobilityjakarta)), lty = 2.5, col = 'blue', lwd =7)
rug(mobilityjakarta$Tanggal)  # add rug to plot

points(mobilityjakarta$Tanggal,mod.ss$y , lty = 2, col = 'Yellow', lwd = 5)

legend("bottomright", 
       legend = c("Real", "Model SS", "Trends"), 
       lty = 1:3, col = c("Green","Yellow","Blue"), lwd = 3, bty = "p")

library(npreg)
mod.ss1 <- ss(mobilityjakarta$Tanggal,mobilityjakarta$grocery_and_pharmacy_percent_change_from_baselineF, nknots = 10)
## Warning: Unknown or uninitialised column:
## `grocery_and_pharmacy_percent_change_from_baselineF`.
## Warning in sqrt(sse/(n - df)): NaNs produced
mobilityjakarta$prediksi_ss1 <- mod.ss1$y
mobilityjakarta
mod.smsp1 <- smooth.spline( mobilityjakarta$Tanggal,mobilityjakarta$grocery_and_pharmacy_percent_change_from_baseline, nknots = 10)
mobilityjakarta$prediksi_smsp1 <- mod.smsp1$y
mobilityjakarta
# Hasil plot

plot(mobilityjakarta$Tanggal, mobilityjakarta$grocery_and_pharmacy_percent_change_from_baseline, lty = 10, col = 'Purple', lwd =5)

# add lm fit
abline(coef(lm( mobilityjakarta$grocery_and_pharmacy_percent_change_from_baseline ~ mobilityjakarta$Tanggal  , data = mobilityjakarta)), lty = 10, col = 'Blue', lwd =5)
lines(mobilityjakarta$Tanggal, mobilityjakarta$prediksi_ss1 , lty = 2, col = 'yellow', lwd = 4)
lines(mobilityjakarta$Tanggal, mobilityjakarta$prediksi_smsp1, lty = 4, col = 'green', lwd = 2)

6 Korelasi Pearson

Korelasi Pearson adalah alat analisis statistik yang digunakan untuk melihat keeratan hubungan linier antara 2 variabel yang skala datanya adalah interval atau rasio.

cor.test(mobilityjakarta$POSITIF,mobilityjakarta$grocery_and_pharmacy_percent_change_from_baseline)
## 
##  Pearson's product-moment correlation
## 
## data:  mobilityjakarta$POSITIF and mobilityjakarta$grocery_and_pharmacy_percent_change_from_baseline
## t = 3.2615, df = 29, p-value = 0.002834
## alternative hypothesis: true correlation is not equal to 0
## 95 percent confidence interval:
##  0.2005101 0.7370824
## sample estimates:
##       cor 
## 0.5180438

Dari output tersebut dapat kita simpulkan bahwa adanya hubungan yang signifikan antara mobilityjakarta POSITIF dan mobilityjakarta grocery_and_pharmacy_percent_change_from_baseline (p-value<0,01). Nilai p-value dalam output R dituliskan 0.002834. Nilai koefisien korelasi r adalah sebesar 0.5180438 yang menunjukkan hubungan yang cukup kuat dan positif (berbanding lurus) antara variabel POSITIF dan grocery_and_pharmacy_percent_change_from_baseline.

7 Hasil Regresi dengan Pendekatan Smoothing Spline

model <- lm(mobilityjakarta$POSITIF ~ mobilityjakarta$grocery_and_pharmacy_percent_change_from_baseline, data = mobilityjakarta)
summary(model)
## 
## Call:
## lm(formula = mobilityjakarta$POSITIF ~ mobilityjakarta$grocery_and_pharmacy_percent_change_from_baseline, 
##     data = mobilityjakarta)
## 
## Residuals:
##     Min      1Q  Median      3Q     Max 
## -1081.8  -562.6  -281.3   621.1  1632.9 
## 
## Coefficients:
##                                                                   Estimate
## (Intercept)                                                        6901.13
## mobilityjakarta$grocery_and_pharmacy_percent_change_from_baseline    54.87
##                                                                   Std. Error
## (Intercept)                                                           384.35
## mobilityjakarta$grocery_and_pharmacy_percent_change_from_baseline      16.82
##                                                                   t value
## (Intercept)                                                        17.955
## mobilityjakarta$grocery_and_pharmacy_percent_change_from_baseline   3.262
##                                                                   Pr(>|t|)    
## (Intercept)                                                        < 2e-16 ***
## mobilityjakarta$grocery_and_pharmacy_percent_change_from_baseline  0.00283 ** 
## ---
## Signif. codes:  0 '***' 0.001 '**' 0.01 '*' 0.05 '.' 0.1 ' ' 1
## 
## Residual standard error: 799.2 on 29 degrees of freedom
## Multiple R-squared:  0.2684, Adjusted R-squared:  0.2431 
## F-statistic: 10.64 on 1 and 29 DF,  p-value: 0.002834
mobilityjakarta$prediksi_model <- model$fitted.values
mobilityjakarta
# Menambahkan Histograms
panel.hist <- function(x, ...) {
    usr <- par("usr")
    on.exit(par(usr))
    par(usr = c(usr[1:2], 0, 1.5))
    his <- hist(x, plot = FALSE)
    breaks <- his$breaks
    nB <- length(breaks)
    y <- his$counts
    y <- y/max(y)
    rect(breaks[-nB], 0, breaks[-1], y, col = rgb(0, 1, 0, alpha = 0.5), ...)
    # lines(density(x), col = 2, lwd = 2) # Uncomment to add density lines
}
# Menyetarakan berdasarkan formula
pairs(mobilityjakarta$POSITIF~mobilityjakarta$grocery_and_pharmacy_percent_change_from_baseline, data = mobilityjakarta,
      upper.panel = NULL,         # Disabling the upper panel
      diag.panel = panel.hist)    # Adding the histograms

# plot method
plot(mobilityjakarta$Tanggal, mobilityjakarta$POSITIF, lty = 10, col = 'Red', lwd =5)

#plot(mod.ss)
# add lm fit
abline(coef(lm( mobilityjakarta$POSITIF ~ mobilityjakarta$Tanggal  , data = mobilityjakarta)), lty = 10, col = 'Blue', lwd =5)
rug(mobilityjakarta$Tanggal)  # add rug to plot

lines(mobilityjakarta$Tanggal,mod.ss$y , lty = 2, col = 'Orange', lwd = 4)

#plot(mod.smsp)

lines(mobilityjakarta$Tanggal, mobilityjakarta$prediksi_model, lty = 2, col = 'Green', lwd = 4)
legend("topleft", 
       legend = c("Real", "Model SS", "Trends", "Regresi Nonparametrik"), 
       lty = 1:4, col = c("Red","Orange","Blue","Green"), lwd = 3, bty = "p")