BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Artificial Neural Network (ANN) merupakan salah satu metode dalam machine learning yang terinspirasi dari mekanisme kerja jaringan saraf manusia untuk mempelajari pola dan hubungan antara variabel masukan dan variabel keluaran. ANN tersusun atas tiga lapisan utama, yaitu input layer, hidden layer, dan output layer, yang saling terhubung melalui bobot tertentu untuk memproses informasi. Setiap neuron mengolah masukan melalui penjumlahan berbobot dan bias yang selanjutnya diproses menggunakan fungsi aktivasi untuk menghasilkan keluaran. Arsitektur jaringan dan fungsi aktivasi yang digunakan memungkinkan ANN mempelajari hubungan linear maupun nonlinear sesuai dengan karakteristik data. Oleh karena itu, pemahaman mengenai struktur jaringan, bobot, bias, dan fungsi aktivasi menjadi dasar penting dalam penerapan ANN untuk menyelesaikan permasalahan prediksi dan klasifikasi (Montesinos-López et al., 2022).

Proses pembelajaran ANN dilakukan dengan menyesuaikan bobot jaringan berdasarkan kesalahan yang dihasilkan oleh model selama proses pelatihan. Salah satu algoritma pembelajaran yang digunakan adalah backpropagation, yaitu mekanisme perhitungan gradien kesalahan untuk memperbarui bobot agar fungsi kerugian dapat diminimalkan. Proses tersebut melibatkan forward propagation untuk menghasilkan prediksi, backward propagation untuk menghitung gradien kesalahan, serta pembaruan bobot berdasarkan hasil perhitungan tersebut. Penerapan ANN dapat dibedakan menjadi regresi untuk memprediksi respons numerik kontinu dan klasifikasi untuk menentukan kategori berdasarkan pola yang dipelajari dari data. Pemilihan arsitektur jaringan, jumlah neuron pada lapisan tersembunyi, fungsi aktivasi, dan parameter pelatihan perlu diperhatikan karena berpengaruh terhadap kemampuan model dalam mempelajari pola data (Aggarwal, 2023).

Evaluasi model ANN diperlukan untuk mengetahui kemampuan jaringan dalam menghasilkan prediksi yang sesuai dengan karakteristik data sebenarnya. Pada kasus regresi, evaluasi dapat dilakukan menggunakan Mean Squared Error (MSE) dan Mean Absolute Percentage Error (MAPE) untuk mengukur besarnya kesalahan prediksi berdasarkan perbedaan antara nilai aktual dan nilai estimasi. Sementara itu, pada kasus klasifikasi, evaluasi dapat menggunakan confusion matrix, accuracy, dan precision untuk menilai kesesuaian hasil klasifikasi dengan kategori aktual. Pembagian data menjadi data pelatihan (training) dan data pengujian (testing) juga diperlukan untuk mempelajari pola sekaligus menilai kemampuan model pada data yang tidak digunakan selama pelatihan. Dengan demikian, implementasi ANN menggunakan bahasa pemrograman R dapat membantu memahami proses pembentukan jaringan, pelatihan model, prediksi, serta evaluasi performa pada permasalahan regresi dan klasifikasi (Bishop & Bishop, 2024).

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas dapat disimpulkan bahwa rumusan masalah sebagai berikut:

  1. Bagaimana mahasiswa mampu memahami konsep dan mengimplementasikan model Artificial Neural Network (ANN) untuk regresi dan klasifikasi menggunakan bahasa pemrograman R?

  2. Bagaimana mahasiswa mampu mengevaluasi performa model ANN menggunakan metrik evaluasi MSE dan MAPE untuk regresi, serta akurasi dan presisi untuk klasifikasi?

1.3 Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah di atas, tujuan penelitian yang dapat disimpulkan sebagai berikut:

  1. Mahasiswa dapat memahami konsep dan mengimplementasikan model Artificial Neural Network (ANN) untuk regresi dan klasifikasi menggunakan bahasa pemrograman R.

  2. Mahasiswa dapat mengevaluasi performa model ANN menggunakan metrik evaluasi MSE dan MAPE untuk regresi, serta akurasi dan presisi untuk klasifikasi.

1.4 Manfaat Penelitian

Adapun manfaat yang didapatkan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

  1. Bagi penulis
    • Memberikan informasi dan pengetahuan mengenai konsep dan mengimplementasikan model Artificial Neural Network (ANN) untuk regresi dan klasifikasi menggunakan bahasa pemrograman R serta dapat mengevaluasi performa model ANN menggunakan metrik evaluasi MSE dan MAPE untuk regresi, serta akurasi dan presisi untuk klasifikasi.
    • Menerapkan ilmu atau wawasan baru mengenai konsep dan mengimplementasikan model Artificial Neural Network (ANN) untuk regresi dan klasifikasi menggunakan bahasa pemrograman R serta dapat mengevaluasi performa model ANN menggunakan metrik evaluasi MSE dan MAPE untuk regresi, serta akurasi dan presisi untuk klasifikasi.
  2. Bagi pembaca
    • Menambah ilmu pengetahuan mengenai konsep dan mengimplementasikan model Artificial Neural Network (ANN) untuk regresi dan klasifikasi menggunakan bahasa pemrograman R serta dapat mengevaluasi performa model ANN menggunakan metrik evaluasi MSE dan MAPE untuk regresi, serta akurasi dan presisi untuk klasifikasi.
    • Dapat menjadi rujukan bagi penelitian selanjutnya.

1.5 Batasan Masalah

Adapun batasan masalah pada penelitian ini yaitu, lakukan ANN Klasifikasi dengan Hidden Neuron=c(10, 20, 30) dengan data training 80% dan testing 20% serta data training 60% dan testing 40%, kemudian interpretasikan masing masing output dengan jelas!

Note: Menggunakan data Iris, Friedman, Breast Cancer, etc.

1.6 Sistematika Penulisan

Adapun sistematika penulisan dari praktikum ini adalah sebagai berikut:

BAB I PENDAHULUAN

Bab ini merupakan bab yang memuat latar belakang penelitian, rumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, batasan masalah penelitian, dan sistematika penelitian.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Bab ini merupakan bab yang memuat pengertian dari teori yang diperlukan untuk rancangan penelitian pada bab-bab berikutnya.

BAB III METODE PENELITIAN

Bab ini merupakan bab yang memuat uraian mengenai jenis dan sumber penelitian, variabel penelitian, dan analisis data.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

Bab ini merupakan bab yang memuat hasil analisis, pembahasan dari hasil yang telah diperoleh, dan interpretasi.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

Bab ini merupakan bab yang memuat rangkuman dari hasil keseluruhan dan saran yang diberikan oleh penulis terhadap hasil maupun analisis yang telah dilakukan.

DAFTAR PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Artificial Neural Network

Artificial Neural Network (ANN) merupakan metode komputasi dalam machine learning yang meniru prinsip kerja jaringan saraf biologis untuk mempelajari pola hubungan antara variabel masukan dan keluaran. Struktur ANN terdiri atas neuron-neuron yang saling terhubung melalui bobot (weight), dengan setiap neuron mengolah informasi yang diterima sebelum meneruskannya ke neuron berikutnya. Secara umum, arsitektur ANN terdiri atas input layer sebagai penerima masukan, hidden layer sebagai pemroses informasi, dan output layer sebagai penghasil keluaran. Pemrosesan informasi dilakukan melalui kombinasi masukan berbobot, bias, dan fungsi aktivasi yang menentukan respons setiap neuron. Kemampuan ANN dalam mempelajari hubungan linear maupun nonlinear bergantung pada arsitektur jaringan, mekanisme pembelajaran, dan karakteristik data yang digunakan (Madhiarasan & Louzazni, 2022). Secara matematis, keluaran neuron dihitung berdasarkan kombinasi linear dari variabel masukan, bobot, dan bias yang kemudian diproses menggunakan fungsi aktivasi. Persamaan neuron dapat dituliskan sebagai berikut (Hwang & Kim, 2023):

\[ z_j = \sum_{i=1}^{p} w_{ij}x_i+b_j \] dengan:

\[ a_j=f(z_j) \]

Keterangan:

  • \(x_i\) = variabel masukan ke-\(i\).
  • \(w_{ij}\) = bobot yang menghubungkan masukan ke-\(i\) dengan neuron ke-\(j\).
  • \(b_j\) = bias pada neuron ke-\(j\).
  • \(z_j\) = hasil penjumlahan berbobot dan bias.
  • \(f(z_j)\) = fungsi aktivasi.
  • \(a_j\) = keluaran neuron.
  • \(p\) = jumlah variabel masukan.

2.2 ANN untuk Regresi

ANN untuk regresi merupakan penerapan jaringan saraf tiruan yang bertujuan memodelkan hubungan antara variabel prediktor dan variabel respons numerik kontinu. Dalam penerapannya, variabel prediktor ditempatkan pada input layer, sedangkan nilai respons yang ingin diprediksi dihasilkan melalui output layer. Jaringan mempelajari hubungan antara masukan dan keluaran dengan menyesuaikan bobot serta bias selama proses pelatihan sehingga kesalahan prediksi dapat diminimalkan. Algoritma backpropagation dapat digunakan untuk menghitung gradien kesalahan dan memperbarui bobot jaringan, sedangkan fungsi aktivasi pada lapisan keluaran dipilih sesuai dengan karakteristik respons yang dimodelkan. Kinerja ANN regresi dapat dievaluasi dengan membandingkan nilai aktual dan prediksi menggunakan ukuran kesalahan, seperti Mean Squared Error (MSE) dan Root Mean Squared Error (RMSE), sehingga kemampuan prediksi model dapat dinilai secara kuantitatif (Munkhdalai et al., 2022). ANN regresi digunakan untuk memprediksi respons berupa nilai numerik kontinu. Nilai prediksi diperoleh dari keluaran jaringan yang telah mempelajari hubungan antara variabel prediktor dan respons. Untuk regresi dengan satu neuron keluaran dan fungsi aktivasi linear, prediksi dapat dituliskan sebagai berikut (Chicco et al., 2021):

\[ \hat{y}_i=f\left(\sum_{j=1}^{m}w_j a_{ij}+b\right) \]

dengan fungsi aktivasi keluaran linear:

\[ f(z)=z \]

Keterangan:

  • \(\hat{y}_i\) = nilai prediksi pada observasi ke-\(i\).
  • \(a_{ij}\) = keluaran neuron tersembunyi ke-\(j\) untuk observasi ke-\(i\).
  • \(w_j\) = bobot dari neuron tersembunyi ke lapisan keluaran.
  • \(b\) = bias pada lapisan keluaran.
  • \(m\) = jumlah neuron pada lapisan tersembunyi.

2.3 ANN untuk Klasifikasi

ANN untuk klasifikasi merupakan penerapan jaringan saraf tiruan yang digunakan untuk mengelompokkan observasi ke dalam kategori berdasarkan pola yang dipelajari dari data. Pada proses ini, input layer menerima variabel prediktor, sedangkan output layer menghasilkan informasi yang digunakan untuk menentukan kelas suatu observasi. Klasifikasi biner melibatkan dua kategori dan dapat menggunakan fungsi aktivasi sigmoid untuk menghasilkan probabilitas kelas, sedangkan klasifikasi multikelas dapat menggunakan fungsi softmax untuk menghasilkan probabilitas pada setiap kategori. Selama proses pelatihan, bobot jaringan disesuaikan untuk mengurangi kesalahan klasifikasi, kemudian hasil prediksi dibandingkan dengan kelas aktual pada data pengujian. Evaluasi ANN klasifikasi dapat dilakukan menggunakan confusion matrix serta ukuran accuracy dan precision untuk menilai ketepatan prediksi dan proporsi prediksi positif yang benar di antara seluruh prediksi positif yang dihasilkan model (Mustaqim et al., 2023). ANN klasifikasi digunakan untuk menentukan kelas observasi berdasarkan pola yang dipelajari dari variabel prediktor. Pada klasifikasi biner, fungsi sigmoid dapat digunakan untuk menghasilkan probabilitas kelas positif (Sinsomboonthong, 2022).

\[ \hat{p}_i=\frac{1}{1+e^{-z_i}} \]

dengan:

\[ z_i=\sum_{j=1}^{m}w_j a_{ij}+b \]

Probabilitas tersebut dapat diubah menjadi kelas prediksi menggunakan ambang batas tertentu. Sebagai contoh, apabila ambang batas yang digunakan adalah 0,5, aturan klasifikasinya adalah:

\[ \hat{y}_i= \begin{cases} 1, & \hat{p}_i\geq 0.5\\ 0, & \hat{p}_i<0.5 \end{cases} \]

Pada klasifikasi multikelas, fungsi softmax dapat digunakan untuk menghitung probabilitas setiap kelas.

\[ \hat{p}_{ik} = \frac{e^{z_{ik}}} {\sum_{j=1}^{K}e^{z_{ij}}} \]

Keterangan:

  • \(\hat{p}_{ik}\) = probabilitas observasi ke-\(i\) termasuk kelas ke-\(k\).
  • \(z_{ik}\) = skor keluaran jaringan untuk kelas ke-\(k\).
  • \(K\) = jumlah kelas.

BAB III METODE PENELITIAN

3.1 Jenis dan Sumber Data

Jenis data pada penelitian ini adalah data numerik. Data numerik adalah jenis data yang terdiri dari angka dan dapat diukur atau dihitung secara kuantitatif. Data ini digunakan untuk merepresentasikan nilai atau ukuran tertentu dalam berbagai konteks, seperti sains, ekonomi, statistik, dan matematika. Data numerik sering digunakan untuk melakukan perhitungan, analisis, dan visualisasi data. Data berbentuk data tabular dan bersifat cross-sectional karena setiap baris merepresentasikan satu pasien atau satu observasi pada satu waktu pengamatan.

Dalam laporan ini sumber data yang digunakan adalah sumber data dalam wujud data sekunder, yaitu data yang telah dikumpulkan dan disusun oleh pihak lain di luar praktikan itu sendiri. Data pada praktikum ini yaitu dataset Breast Cancer (Wisconsin Breast Cancer Database) yang tersedia di R melalui paket mlbench.

3.2 Variabel Penelitian

Variabel adalah simbol, karakteristik, atau atribut yang dapat diukur atau diamati dalam sebuah penelitian atau eksperimen. Pada laporan ini terdapat 1 batasan masalah. Variabel respons dalam penelitian ini adalah Class, yang terdiri atas dua kategori, yaitu benign dan malignant. Variabel prediktor terdiri atas sembilan karakteristik sel, yaitu ketebalan gumpalan sel (Cl.thickness), keseragaman ukuran sel (Cell.size), keseragaman bentuk sel (Cell.shape), perlekatan marginal (Marg.adhesion), ukuran sel epitel tunggal (Epith.c.size), kondisi inti sel (Bare.nuclei), struktur kromatin (Bl.cromatin), bentuk nukleolus normal (Normal.nucleoli), dan mitosis (Mitoses). Variabel Id tidak digunakan dalam pemodelan karena hanya berfungsi sebagai identitas observasi. Data yang memiliki nilai hilang pada variabel Bare.nuclei dibersihkan sebelum digunakan dalam pembentukan model ANN.

3.3 Analisis Data

Langkah-langkah yang digunakan pada penelitian untuk batasan masalah adalah sebagai berikut:

  1. Memuat dataset BreastCancer dan paket yang diperlukan.
  2. Membersihkan data, menghapus Id, mengubah prediktor menjadi numerik, dan menghapus observasi yang memiliki nilai hilang (?).
  3. Membagi data dengan skenario 80% training-20% testing dan 60% training-40% testing.
  4. Membentuk ANN dengan hidden neuron 10, 20, dan 30 pada setiap skenario.
  5. Melakukan prediksi pada data testing dan menghitung confusion matrix serta metrik klasifikasi.
  6. Membuat visualisasi jaringan, bobot jaringan, dan variable importance.
  7. Membandingkan enam model dan menentukan model terbaik berdasarkan performa klasifikasi serta jumlah false negative.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Library dan Import Data

library(nnet)
library(NeuralNetTools)
library(mlbench)

# Import Data
data(BreastCancer)
bc <- BreastCancer
bc$Id <- NULL

# Ubah prediktor (factor ordinal 1-10) menjadi numerik
for (j in 1:9) bc[, j] <- as.numeric(as.character(bc[, j]))

# Hapus missing value (16 baris pada Bare.nuclei)
bc <- na.omit(bc)
bc$Class <- factor(bc$Class, levels = c("benign", "malignant"))

head(bc)
##   Cl.thickness Cell.size Cell.shape Marg.adhesion Epith.c.size Bare.nuclei
## 1            5         1          1             1            2           1
## 2            5         4          4             5            7          10
## 3            3         1          1             1            2           2
## 4            6         8          8             1            3           4
## 5            4         1          1             3            2           1
## 6            8        10         10             8            7          10
##   Bl.cromatin Normal.nucleoli Mitoses     Class
## 1           3               1       1    benign
## 2           3               2       1    benign
## 3           3               1       1    benign
## 4           3               7       1    benign
## 5           3               1       1    benign
## 6           9               7       1 malignant

Berdasarkan sintaks yang telah dijalankan, paket nnet, NeuralNetTools, dan mlbench dimuat untuk mendukung analisis Artificial Neural Network (ANN). Dataset BreastCancer diimpor, kemudian disimpan dalam objek bc, sedangkan variabel Id dihapus karena tidak digunakan sebagai prediktor. Selanjutnya, sembilan variabel prediktor dikonversi dari tipe faktor atau ordinal menjadi numerik, kemudian baris yang mengandung missing value dihapus menggunakan fungsi na.omit(). Variabel respons Class diubah menjadi faktor dengan dua kategori, yaitu benign dan malignant. Berdasarkan output head(bc), enam observasi pertama berhasil ditampilkan dengan enam baris dan sepuluh kolom, yang terdiri atas sembilan variabel prediktor dan satu variabel respons.

4.2 Statistika Deskriptif dan Distribusi Kelas

summary(bc)
##   Cl.thickness      Cell.size        Cell.shape     Marg.adhesion  
##  Min.   : 1.000   Min.   : 1.000   Min.   : 1.000   Min.   : 1.00  
##  1st Qu.: 2.000   1st Qu.: 1.000   1st Qu.: 1.000   1st Qu.: 1.00  
##  Median : 4.000   Median : 1.000   Median : 1.000   Median : 1.00  
##  Mean   : 4.442   Mean   : 3.151   Mean   : 3.215   Mean   : 2.83  
##  3rd Qu.: 6.000   3rd Qu.: 5.000   3rd Qu.: 5.000   3rd Qu.: 4.00  
##  Max.   :10.000   Max.   :10.000   Max.   :10.000   Max.   :10.00  
##   Epith.c.size     Bare.nuclei      Bl.cromatin     Normal.nucleoli
##  Min.   : 1.000   Min.   : 1.000   Min.   : 1.000   Min.   : 1.00  
##  1st Qu.: 2.000   1st Qu.: 1.000   1st Qu.: 2.000   1st Qu.: 1.00  
##  Median : 2.000   Median : 1.000   Median : 3.000   Median : 1.00  
##  Mean   : 3.234   Mean   : 3.545   Mean   : 3.445   Mean   : 2.87  
##  3rd Qu.: 4.000   3rd Qu.: 6.000   3rd Qu.: 5.000   3rd Qu.: 4.00  
##  Max.   :10.000   Max.   :10.000   Max.   :10.000   Max.   :10.00  
##     Mitoses             Class    
##  Min.   : 1.000   benign   :444  
##  1st Qu.: 1.000   malignant:239  
##  Median : 1.000                  
##  Mean   : 1.603                  
##  3rd Qu.: 1.000                  
##  Max.   :10.000
table(bc$Class)
## 
##    benign malignant 
##       444       239
nrow(bc)
## [1] 683
# Formula model
i <- names(bc)
form <- as.formula(paste("Class ~", paste(i[!i %in% "Class"], collapse = " + ")))
form
## Class ~ Cl.thickness + Cell.size + Cell.shape + Marg.adhesion + 
##     Epith.c.size + Bare.nuclei + Bl.cromatin + Normal.nucleoli + 
##     Mitoses

Berdasarkan output fungsi summary(bc), diperoleh ringkasan statistik deskriptif dari sembilan variabel prediktor yang meliputi nilai minimum, kuartil pertama, median, rata-rata, kuartil ketiga, dan maksimum. Seluruh variabel prediktor memiliki nilai minimum 1 dan maksimum 10, dengan rata-rata yang bervariasi pada setiap variabel. Hasil table(bc$Class) menunjukkan bahwa terdapat 444 observasi berkategori benign dan 239 observasi berkategori malignant, sehingga total data yang dianalisis sebanyak 683 observasi berdasarkan output nrow(bc). Selanjutnya, sintaks names(bc) dan as.formula() digunakan untuk membentuk formula model ANN dengan Class sebagai variabel respons serta sembilan variabel lainnya sebagai prediktor. Dengan demikian, formula Class ~ Cl.thickness + Cell.size + Cell.shape + Marg.adhesion + Epith.c.size + Bare.nuclei + Bl.cromatin + Normal.nucleoli + Mitoses menunjukkan bahwa model ANN yang dibangun bertujuan mengklasifikasikan data ke dalam kategori benign atau malignant berdasarkan sembilan variabel prediktor.

4.3 Fungsi ANN Klasifikasi

jalankan_ann <- function(prop_train, size, seed = 917) {
  set.seed(seed)
  index <- sample(1:nrow(bc), round(prop_train * nrow(bc)))
  train <- bc[index, ]
  test  <- bc[-index, ]
  
  set.seed(seed)
  nn <- nnet.formula(form, size = size, data = train,
                     maxit = 500, trace = FALSE, MaxNWts = 5000)
  
  pred <- factor(predict(nn, newdata = test, type = "class"),
                 levels = levels(bc$Class))
  tab  <- table(Aktual = test$Class, Prediksi = pred)
  
  TN <- tab["benign", "benign"];       FP <- tab["benign", "malignant"]
  FN <- tab["malignant", "benign"];    TP <- tab["malignant", "malignant"]
  
  hasil <- data.frame(
    Train = paste0(prop_train * 100, "%"),
    Test = paste0((1 - prop_train) * 100, "%"),
    Hidden = size,
    n_train = nrow(train), n_test = nrow(test),
    Akurasi = (TP + TN) / sum(tab),
    Sensitivitas = TP / (TP + FN),
    Spesifisitas = TN / (TN + FP),
    Presisi = TP / (TP + FP)
  )
  list(model = nn, tabel = tab, hasil = hasil)
}

# Fungsi untuk menampilkan seluruh output satu skenario
tampilkan_skenario <- function(out) {
  cat("Tabel klasifikasi (confusion matrix):\n")
  print(out$tabel)
  
  cat("\nMetrik evaluasi:\n")
  print(round(out$hasil[, 6:9], 4))
  
  cat("\nJumlah bobot jaringan:", length(out$model$wts), "\n")
  cat("\nBobot jaringan (9 bobot pertama pada hidden neuron 1):\n")
  w <- neuralweights(out$model)$wts[[1]]
  print(w[1:min(9, length(w))])
  
  cat("\nKepentingan variabel (Olden):\n")
  print(olden(out$model, bar_plot = FALSE))
}

Berdasarkan sintaks yang dibuat, fungsi jalankan_ann() digunakan untuk membangun model Artificial Neural Network (ANN) klasifikasi dengan variasi proporsi data pelatihan dan jumlah neuron pada lapisan tersembunyi (hidden layer). Data dibagi menjadi data training dan testing secara acak menggunakan sample(), sedangkan model dilatih menggunakan fungsi nnet.formula() dengan maksimum 500 iterasi dan batas 5.000 bobot jaringan. Hasil prediksi dibandingkan dengan kelas aktual melalui confusion matrix untuk menghitung nilai akurasi, sensitivitas, spesifisitas, dan presisi. Fungsi tampilkan_skenario() kemudian digunakan untuk menampilkan confusion matrix, metrik evaluasi, jumlah bobot jaringan, sembilan bobot pertama pada neuron tersembunyi pertama, serta kepentingan variabel berdasarkan metode Olden. Dengan demikian, kedua fungsi tersebut mempermudah evaluasi dan interpretasi model ANN untuk mengklasifikasikan data kanker payudara ke dalam kategori benign dan malignant pada berbagai skenario pemodelan.

4.4 Skenario 1: Training 80%, Testing 20%, Hidden Neuron = 10

out1 <- jalankan_ann(0.8, 10)
tampilkan_skenario(out1)
## Tabel klasifikasi (confusion matrix):
##            Prediksi
## Aktual      benign malignant
##   benign        90         3
##   malignant      2        42
## 
## Metrik evaluasi:
##   Akurasi Sensitivitas Spesifisitas Presisi
## 1  0.9635       0.9545       0.9677  0.9333
## 
## Jumlah bobot jaringan: 111 
## 
## Bobot jaringan (9 bobot pertama pada hidden neuron 1):
## [1] -112.0528168   29.2895999   12.2748305    2.8059773    0.1077392
## [6]   -8.4170399    7.8109917  -10.7603476    6.5840727
## 
## Kepentingan variabel (Olden):
##                 importance
## Cl.thickness     -5118.933
## Cell.size         1981.528
## Cell.shape        9351.952
## Marg.adhesion     5522.208
## Epith.c.size     -5069.188
## Bare.nuclei       7018.447
## Bl.cromatin       8688.271
## Normal.nucleoli  -4324.778
## Mitoses          -2869.309
plotnet(out1$model)

olden(out1$model)
## Warning: `label` cannot be a <ggplot2::element_blank> object.

Berdasarkan hasil Skenario 1 dengan proporsi data training sebesar 80%, testing sebesar 20%, dan 10 hidden neuron, diperoleh confusion matrix yang menunjukkan bahwa 90 data benign dan 42 data malignant berhasil diklasifikasikan dengan benar, sedangkan 3 data benign salah diklasifikasikan sebagai malignant dan 2 data malignant salah diklasifikasikan sebagai benign. Model menghasilkan akurasi sebesar 96,35%, sensitivitas 95,45%, spesifisitas 96,77%, dan presisi 93,33%, yang menunjukkan bahwa model memiliki kemampuan klasifikasi yang baik pada data pengujian. Jumlah bobot jaringan yang terbentuk adalah 111, sedangkan sembilan bobot pertama pada neuron tersembunyi pertama menunjukkan nilai positif dan negatif yang menggambarkan arah pengaruh bobot terhadap proses pengolahan informasi jaringan. Berdasarkan grafik kepentingan variabel metode Olden, variabel Cell.shape memiliki nilai kepentingan positif tertinggi sebesar 9351,952, diikuti oleh Bl.cromatin sebesar 8688,271 dan Bare.nuclei sebesar 7018,447, sedangkan Cl.thickness memiliki nilai negatif sebesar -5118,933. Grafik jaringan ANN memperlihatkan sembilan variabel masukan yang terhubung dengan 10 neuron tersembunyi dan satu neuron keluaran Class, dengan ketebalan serta warna garis menggambarkan bobot hubungan antarneuron; secara keseluruhan, hasil ini menunjukkan bahwa model ANN mampu mengklasifikasikan kategori benign dan malignant dengan tingkat ketepatan yang tinggi pada skenario tersebut.

4.5 Skenario 2: Training 60%, Testing 40%, Hidden Neuron = 10

out2 <- jalankan_ann(0.6, 10)
tampilkan_skenario(out2)
## Tabel klasifikasi (confusion matrix):
##            Prediksi
## Aktual      benign malignant
##   benign       180         6
##   malignant     14        73
## 
## Metrik evaluasi:
##   Akurasi Sensitivitas Spesifisitas Presisi
## 1  0.9267       0.8391       0.9677  0.9241
## 
## Jumlah bobot jaringan: 111 
## 
## Bobot jaringan (9 bobot pertama pada hidden neuron 1):
## [1]  5.1555592 -0.8084398 -2.3828910 -2.7442571  7.9770148 -7.1451457  4.1714190
## [8]  5.8757021 -0.6986356
## 
## Kepentingan variabel (Olden):
##                  importance
## Cl.thickness      -56.13463
## Cell.size       -2426.30912
## Cell.shape       1179.63096
## Marg.adhesion    1717.49825
## Epith.c.size      915.96826
## Bare.nuclei      1416.44795
## Bl.cromatin      2199.62795
## Normal.nucleoli  1118.62502
## Mitoses          -559.20327
plotnet(out2$model)

olden(out2$model)
## Warning: `label` cannot be a <ggplot2::element_blank> object.

Berdasarkan hasil Skenario 2 dengan proporsi data training sebesar 60%, testing sebesar 40%, dan 10 hidden neuron, diperoleh confusion matrix yang menunjukkan bahwa 180 data benign dan 73 data malignant berhasil diklasifikasikan dengan benar, sedangkan 6 data benign salah diklasifikasikan sebagai malignant dan 14 data malignant salah diklasifikasikan sebagai benign. Model menghasilkan akurasi sebesar 92,67%, sensitivitas 83,91%, spesifisitas 96,77%, dan presisi 92,41%, yang menunjukkan bahwa model memiliki kemampuan klasifikasi yang baik, meskipun sensitivitasnya lebih rendah dibandingkan skenario sebelumnya. Jumlah bobot jaringan yang terbentuk adalah 111, sedangkan sembilan bobot pertama pada neuron tersembunyi pertama memiliki nilai positif dan negatif yang menunjukkan arah hubungan berbobot dalam proses pengolahan informasi jaringan. Berdasarkan grafik kepentingan variabel metode Olden, variabel Bl.cromatin memiliki nilai kepentingan positif tertinggi sebesar 2199,628, diikuti oleh Marg.adhesion sebesar 1717,498 dan Bare.nuclei sebesar 1416,448, sedangkan Cell.size memiliki nilai negatif terbesar, yaitu -2426,309. Grafik jaringan ANN menunjukkan sembilan variabel masukan yang terhubung dengan 10 neuron tersembunyi dan satu neuron keluaran Class, sedangkan grafik Olden menggambarkan kontribusi relatif variabel berdasarkan tanda dan besarnya nilai kepentingan; secara keseluruhan, model pada skenario ini menghasilkan akurasi yang cukup tinggi, tetapi masih terdapat 14 data malignant yang salah diklasifikasikan sebagai benign.

4.6 Skenario 3: Training 80%, Testing 20%, Hidden Neuron = 20

out3 <- jalankan_ann(0.8, 20)
tampilkan_skenario(out3)
## Tabel klasifikasi (confusion matrix):
##            Prediksi
## Aktual      benign malignant
##   benign        91         2
##   malignant      5        39
## 
## Metrik evaluasi:
##   Akurasi Sensitivitas Spesifisitas Presisi
## 1  0.9489       0.8864       0.9785  0.9512
## 
## Jumlah bobot jaringan: 221 
## 
## Bobot jaringan (9 bobot pertama pada hidden neuron 1):
## [1] -35.718007  21.653152 -35.076846  18.576114  -1.448047  -4.454150 -13.112425
## [8]  41.975199  12.455097
## 
## Kepentingan variabel (Olden):
##                  importance
## Cl.thickness      -23.11357
## Cell.size        -496.04114
## Cell.shape       1878.72066
## Marg.adhesion   -1955.20940
## Epith.c.size     3855.09571
## Bare.nuclei      -291.28375
## Bl.cromatin      4919.00806
## Normal.nucleoli  1502.28409
## Mitoses          5327.37649
plotnet(out3$model)

olden(out3$model)
## Warning: `label` cannot be a <ggplot2::element_blank> object.

Berdasarkan hasil Skenario 3 dengan proporsi data training sebesar 80%, testing sebesar 20%, dan 20 hidden neuron, diperoleh confusion matrix yang menunjukkan bahwa 91 data benign dan 39 data malignant berhasil diklasifikasikan dengan benar, sedangkan 2 data benign salah diklasifikasikan sebagai malignant dan 5 data malignant salah diklasifikasikan sebagai benign. Model menghasilkan akurasi sebesar 94,89%, sensitivitas 88,64%, spesifisitas 97,85%, dan presisi 95,12%, yang menunjukkan bahwa model memiliki kemampuan klasifikasi yang baik, terutama dalam mengenali kategori benign. Jumlah bobot jaringan yang terbentuk adalah 221, meningkat dibandingkan skenario dengan 10 hidden neuron, sedangkan sembilan bobot pertama pada neuron tersembunyi pertama menunjukkan nilai positif dan negatif yang menggambarkan arah hubungan berbobot dalam jaringan. Berdasarkan grafik kepentingan variabel metode Olden, variabel Mitoses memiliki nilai kepentingan positif tertinggi sebesar 5327,376, diikuti oleh Bl.cromatin sebesar 4919,008 dan Epith.c.size sebesar 3855,096, sedangkan Marg.adhesion memiliki nilai negatif terbesar sebesar -1955,209. Grafik jaringan ANN memperlihatkan sembilan variabel masukan yang terhubung dengan 20 neuron tersembunyi dan satu neuron keluaran Class; secara keseluruhan, model menghasilkan akurasi yang tinggi, tetapi masih terdapat lima data malignant yang salah diklasifikasikan sebagai benign.

4.7 Skenario 4: Training 60%, Testing 40%, Hidden Neuron = 20

out4 <- jalankan_ann(0.6, 20)
tampilkan_skenario(out4)
## Tabel klasifikasi (confusion matrix):
##            Prediksi
## Aktual      benign malignant
##   benign       179         7
##   malignant     12        75
## 
## Metrik evaluasi:
##   Akurasi Sensitivitas Spesifisitas Presisi
## 1  0.9304       0.8621       0.9624  0.9146
## 
## Jumlah bobot jaringan: 221 
## 
## Bobot jaringan (9 bobot pertama pada hidden neuron 1):
## [1] -4.4163210 -1.4745072 -4.1884216  6.1693567  1.3594741  0.3669770  0.8589219
## [8]  4.2396686  7.4250116
## 
## Kepentingan variabel (Olden):
##                 importance
## Cl.thickness     469.11629
## Cell.size       2128.29572
## Cell.shape      -256.95626
## Marg.adhesion    -59.59444
## Epith.c.size     592.47308
## Bare.nuclei     2149.66897
## Bl.cromatin     1228.20786
## Normal.nucleoli -890.15996
## Mitoses         1652.75143
plotnet(out4$model)

olden(out4$model)
## Warning: `label` cannot be a <ggplot2::element_blank> object.

Berdasarkan hasil Skenario 4 dengan proporsi data training sebesar 60%, testing sebesar 40%, dan 20 hidden neuron, diperoleh confusion matrix yang menunjukkan bahwa 179 data benign dan 75 data malignant berhasil diklasifikasikan dengan benar, sedangkan 7 data benign salah diklasifikasikan sebagai malignant dan 12 data malignant salah diklasifikasikan sebagai benign. Model menghasilkan akurasi sebesar 93,04%, sensitivitas 86,21%, spesifisitas 96,24%, dan presisi 91,46%, yang menunjukkan bahwa model memiliki kemampuan klasifikasi yang baik, meskipun masih terdapat kesalahan dalam mengenali kategori malignant. Jumlah bobot jaringan yang terbentuk adalah 221, sesuai dengan penggunaan 20 hidden neuron, sedangkan sembilan bobot pertama pada neuron tersembunyi pertama memiliki nilai positif dan negatif yang menunjukkan arah hubungan berbobot dalam jaringan. Berdasarkan grafik kepentingan variabel metode Olden, variabel Bare.nuclei memiliki nilai kepentingan positif tertinggi sebesar 2149,669, diikuti oleh Cell.size sebesar 2128,296 dan Mitoses sebesar 1652,751, sedangkan Normal.nucleoli memiliki nilai negatif terbesar sebesar -890,160. Grafik jaringan ANN menunjukkan sembilan variabel masukan yang terhubung dengan 20 neuron tersembunyi dan satu neuron keluaran Class; secara keseluruhan, model menghasilkan akurasi yang tinggi, tetapi masih terdapat 12 data malignant yang salah diklasifikasikan sebagai benign.

4.8 Skenario 5: Training 80%, Testing 20%, Hidden Neuron = 30

out5 <- jalankan_ann(0.8, 30)
tampilkan_skenario(out5)
## Tabel klasifikasi (confusion matrix):
##            Prediksi
## Aktual      benign malignant
##   benign        92         1
##   malignant      2        42
## 
## Metrik evaluasi:
##   Akurasi Sensitivitas Spesifisitas Presisi
## 1  0.9781       0.9545       0.9892  0.9767
## 
## Jumlah bobot jaringan: 331 
## 
## Bobot jaringan (9 bobot pertama pada hidden neuron 1):
## [1] -1.4030661  2.7537795 -2.4267894  0.6349852  4.2972836  3.5397161 -1.5666015
## [8]  2.5561584  0.7231256
## 
## Kepentingan variabel (Olden):
##                 importance
## Cl.thickness     352.55581
## Cell.size        144.22270
## Cell.shape       308.58904
## Marg.adhesion    641.31648
## Epith.c.size    -175.86734
## Bare.nuclei      450.14159
## Bl.cromatin      181.40618
## Normal.nucleoli   50.20407
## Mitoses           96.79762
plotnet(out5$model)

olden(out5$model)
## Warning: `label` cannot be a <ggplot2::element_blank> object.

Berdasarkan hasil Skenario 5 dengan proporsi data training sebesar 80%, testing sebesar 20%, dan 30 hidden neuron, diperoleh confusion matrix yang menunjukkan bahwa 92 data benign dan 42 data malignant berhasil diklasifikasikan dengan benar, sedangkan 1 data benign salah diklasifikasikan sebagai malignant dan 2 data malignant salah diklasifikasikan sebagai benign. Model menghasilkan akurasi sebesar 97,81%, sensitivitas 95,45%, spesifisitas 98,92%, dan presisi 97,67%, yang menunjukkan bahwa model memiliki kemampuan klasifikasi yang sangat baik pada data pengujian. Jumlah bobot jaringan yang terbentuk adalah 331, sesuai dengan penggunaan 30 hidden neuron, sedangkan sembilan bobot pertama pada neuron tersembunyi pertama memiliki nilai positif dan negatif yang menggambarkan arah hubungan berbobot dalam jaringan. Berdasarkan grafik kepentingan variabel metode Olden, variabel Marg.adhesion memiliki nilai kepentingan positif tertinggi sebesar 641,316, diikuti oleh Bare.nuclei sebesar 450,142 dan Cl.thickness sebesar 352,556, sedangkan Epith.c.size memiliki nilai kepentingan negatif sebesar -175,867. Grafik jaringan ANN memperlihatkan sembilan variabel masukan yang terhubung dengan 30 neuron tersembunyi dan satu neuron keluaran Class; secara keseluruhan, skenario ini menghasilkan performa klasifikasi terbaik sementara berdasarkan akurasi di antara skenario yang telah dibahas, dengan hanya tiga observasi yang salah diklasifikasikan.

4.9 Skenario 6: Training 60%, Testing 40%, Hidden Neuron = 30

out6 <- jalankan_ann(0.6, 30)
tampilkan_skenario(out6)
## Tabel klasifikasi (confusion matrix):
##            Prediksi
## Aktual      benign malignant
##   benign       176        10
##   malignant      5        82
## 
## Metrik evaluasi:
##   Akurasi Sensitivitas Spesifisitas Presisi
## 1  0.9451       0.9425       0.9462  0.8913
## 
## Jumlah bobot jaringan: 331 
## 
## Bobot jaringan (9 bobot pertama pada hidden neuron 1):
## [1] -2.7226124  1.5562991 -8.4432602 -0.7811029 -3.2108353  2.7221558  2.4157656
## [8]  4.7509451  6.0261145
## 
## Kepentingan variabel (Olden):
##                 importance
## Cl.thickness     248.17246
## Cell.size        -53.18459
## Cell.shape        55.27080
## Marg.adhesion    498.49406
## Epith.c.size     -46.15911
## Bare.nuclei       68.75030
## Bl.cromatin       33.15129
## Normal.nucleoli  124.03564
## Mitoses          423.75799
plotnet(out6$model)

olden(out6$model)
## Warning: `label` cannot be a <ggplot2::element_blank> object.

Berdasarkan hasil Skenario 6 dengan proporsi data training sebesar 60%, testing sebesar 40%, dan 30 hidden neuron, diperoleh confusion matrix yang menunjukkan bahwa 176 data benign dan 82 data malignant berhasil diklasifikasikan dengan benar, sedangkan 10 data benign salah diklasifikasikan sebagai malignant dan 5 data malignant salah diklasifikasikan sebagai benign. Model menghasilkan akurasi sebesar 94,51%, sensitivitas 94,25%, spesifisitas 94,62%, dan presisi 89,13%, yang menunjukkan bahwa model memiliki kemampuan klasifikasi yang baik dalam mengenali kedua kategori. Jumlah bobot jaringan yang terbentuk adalah 331, sesuai dengan penggunaan 30 hidden neuron, sedangkan sembilan bobot pertama pada neuron tersembunyi pertama menunjukkan kombinasi nilai positif dan negatif dalam hubungan berbobot jaringan. Berdasarkan grafik kepentingan variabel metode Olden, variabel Marg.adhesion memiliki nilai kepentingan positif tertinggi sebesar 498,494, diikuti oleh Mitoses sebesar 423,758 dan Cl.thickness sebesar 248,172, sedangkan Cell.size memiliki nilai negatif sebesar -53,185. Grafik jaringan ANN menunjukkan sembilan variabel masukan yang terhubung dengan 30 neuron tersembunyi dan satu neuron keluaran Class; secara keseluruhan, model menghasilkan akurasi yang tinggi, tetapi masih terdapat 5 data malignant yang salah diklasifikasikan sebagai benign dan 10 data benign yang salah diklasifikasikan sebagai malignant.

4.10 Ringkasan Perbandingan Seluruh Skenario

semua <- list(out1, out2, out3, out4, out5, out6)
ringkasan <- do.call(rbind, lapply(semua, function(x) x$hasil))
ringkasan[, 6:9] <- round(ringkasan[, 6:9], 4)
ringkasan
##   Train Test Hidden n_train n_test Akurasi Sensitivitas Spesifisitas Presisi
## 1   80%  20%     10     546    137  0.9635       0.9545       0.9677  0.9333
## 2   60%  40%     10     410    273  0.9267       0.8391       0.9677  0.9241
## 3   80%  20%     20     546    137  0.9489       0.8864       0.9785  0.9512
## 4   60%  40%     20     410    273  0.9304       0.8621       0.9624  0.9146
## 5   80%  20%     30     546    137  0.9781       0.9545       0.9892  0.9767
## 6   60%  40%     30     410    273  0.9451       0.9425       0.9462  0.8913

Berdasarkan hasil perbandingan enam skenario ANN, diperoleh bahwa Skenario 5 dengan proporsi data training 80%, testing 20%, dan 30 hidden neuron menghasilkan performa terbaik berdasarkan nilai akurasi sebesar 97,81%, sensitivitas 95,45%, spesifisitas 98,92%, dan presisi 97,67%. Skenario tersebut menggunakan 546 observasi untuk data training dan 137 observasi untuk data testing, sehingga menghasilkan ketepatan klasifikasi yang paling tinggi dibandingkan skenario lainnya. Sementara itu, Skenario 2 dengan proporsi training 60%, testing 40%, dan 10 hidden neuron menghasilkan akurasi terendah sebesar 92,67%, dengan sensitivitas 83,91%, spesifisitas 96,77%, dan presisi 92,41%. Perbandingan tersebut menunjukkan bahwa peningkatan jumlah hidden neuron tidak selalu menghasilkan peningkatan performa secara konsisten karena hasil klasifikasi juga dipengaruhi oleh pembagian data training dan testing. Dengan demikian, berdasarkan hasil evaluasi enam skenario, Skenario 5 dipilih sebagai model ANN terbaik karena memiliki nilai akurasi, sensitivitas, spesifisitas, dan presisi yang paling tinggi secara keseluruhan.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Artificial Neural Network (ANN) merupakan metode pembelajaran mesin yang meniru cara kerja jaringan saraf biologis untuk mempelajari pola hubungan antara variabel masukan dan keluaran. ANN dapat diterapkan untuk menyelesaikan permasalahan regresi dengan memprediksi nilai numerik kontinu serta klasifikasi dengan menentukan kategori suatu observasi. Implementasi ANN menggunakan bahasa pemrograman R dapat dilakukan melalui pembentukan arsitektur jaringan yang terdiri atas input layer, hidden layer, dan output layer. Proses pelatihan jaringan dilakukan dengan menyesuaikan bobot dan bias agar model mampu mempelajari pola data secara optimal. Oleh karena itu, pemahaman konsep ANN dan implementasinya diperlukan untuk membangun model prediksi dan klasifikasi sesuai dengan karakteristik permasalahan.

Evaluasi performa model ANN diperlukan untuk mengetahui kemampuan model dalam menghasilkan prediksi dan klasifikasi yang tepat. Pada kasus regresi, Mean Squared Error (MSE) digunakan untuk mengukur rata-rata kuadrat kesalahan prediksi, sedangkan Mean Absolute Percentage Error (MAPE) mengukur rata-rata persentase kesalahan absolut antara nilai aktual dan prediksi. Pada kasus klasifikasi, akurasi digunakan untuk mengukur proporsi seluruh observasi yang diklasifikasikan dengan benar, sedangkan presisi mengukur proporsi prediksi positif yang benar dari seluruh prediksi positif. Nilai MSE dan MAPE yang lebih kecil umumnya menunjukkan kesalahan prediksi yang lebih rendah, sedangkan nilai akurasi dan presisi yang lebih tinggi menunjukkan performa klasifikasi yang lebih baik sesuai dengan aspek yang diukur. Dengan demikian, penggunaan metrik evaluasi yang sesuai dengan tujuan pemodelan membantu mahasiswa menilai dan membandingkan kinerja ANN secara sistematis.

Berdasarkan hasil batasan masalah, dapat disimpulkan bahwa analisis Artificial Neural Network (ANN) menggunakan bahasa pemrograman R dapat dilakukan untuk mengklasifikasikan data kanker payudara ke dalam kategori benign dan malignant berdasarkan sembilan variabel prediktor. Data yang digunakan berjumlah 683 observasi setelah dilakukan penanganan terhadap missing value, dengan 444 observasi berkategori benign dan 239 observasi berkategori malignant. Pemodelan ANN dilakukan melalui enam skenario dengan variasi proporsi data training sebesar 60% dan 80%, proporsi data testing sebesar 40% dan 20%, serta jumlah hidden neuron sebanyak 10, 20, dan 30 neuron. Berdasarkan hasil evaluasi, Skenario 5 dengan proporsi training 80%, testing 20%, dan 30 hidden neuron memberikan performa terbaik, dengan akurasi 97,81%, sensitivitas 95,45%, spesifisitas 98,92%, dan presisi 97,67%; selain itu, metode Olden menunjukkan bahwa variabel Marg.adhesion memiliki nilai kepentingan positif tertinggi sebesar 641,316 pada skenario tersebut. Dengan demikian, ANN dapat digunakan untuk klasifikasi data kanker payudara, dan berdasarkan enam skenario yang dibandingkan, Skenario 5 merupakan model terbaik karena menghasilkan nilai evaluasi klasifikasi tertinggi secara keseluruhan.

5.2 Saran

Praktikan dapat melakukan pembelajaran lebih lanjut mengenai Machine Learning and modern prediction serta cara interpretasinya agar semakin paham. Dapat dilakukan melalui sumber-sumber belajar lainnya. Dalam penulisan laporan praktikan juga diharapkan untuk selalu teliti dan memperhatikan tata cara penulisan yang baik. Penulis juga berharap kritik dan saran kepada pembaca dan asisten praktikum guna membuat laporan ini menjadi lebih baik.

DAFTAR PUSTAKA

Aggarwal, C. C. (2023). Neural networks and deep learning: A textbook (2nd ed.). Springer. https://doi.org/10.1007/978-3-031-29642-0

Bishop, C. M., & Bishop, H. (2024). Deep learning: Foundations and concepts. Springer. https://doi.org/10.1007/978-3-031-45468-4

Chicco, D., Warrens, M. J., & Jurman, G. (2021). The coefficient of determination R-squared is more informative than SMAPE, MAE, MSE, and RMSE in regression analysis evaluation. PeerJ Computer Science, 7, Article e623. https://doi.org/10.7717/peerj-cs.623

Fransiska, H. (2026). Modul Praktikum Machine Learning. Universitas Bengkulu

Hwang, S.-Y., & Kim, J.-J. (2023). A universal activation function for deep learning. Computers, Materials & Continua, 75(2), 3553–3569. https://doi.org/10.32604/cmc.2023.037028

Madhiarasan, M., & Louzazni, M. (2022). Analysis of artificial neural network: Architecture, types, and forecasting applications. Journal of Electrical and Computer Engineering, 2022, Article 5416722. https://doi.org/10.1155/2022/5416722

Montesinos-López, O. A., Montesinos-López, A., & Crossa, J. (2022). Fundamentals of artificial neural networks and deep learning. Dalam Multivariate statistical machine learning methods for genomic prediction (hlm. 379–425). Springer. https://doi.org/10.1007/978-3-030-89010-0_10

Munkhdalai, L., Munkhdalai, T., Pham, V. H., Hong, J.-E., Ryu, K. H., & Theera-Umpon, N. (2022). Neural network-augmented locally adaptive linear regression model for tabular data. Sustainability, 14(22), Article 15273. https://doi.org/10.3390/su142215273

Mustaqim, A. Z., Fadil, N. A., & Tyas, D. A. (2023). Artificial neural network for classification task in tabular datasets and image processing: A systematic literature review. Jurnal Online Informatika, 8(2). https://doi.org/10.15575/join.v8i2.1002

Sinsomboonthong, S. (2022). Performance comparison of new adjusted min-max with decimal scaling and statistical column normalization methods for artificial neural network classification. International Journal of Mathematics and Mathematical Sciences, 2022, Article 3584406. https://doi.org/10.1155/2022/3584406