Panitia PMB ingin melihat hubungan antara Nilai Rapor (X) dan Nilai Ujian Masuk (Y) dari 10 pendaftar.
X <- c(75, 78, 80, 82, 85, 88, 90, 92, 95, 97)
Y <- c(70, 74, 75, 80, 82, 85, 88, 90, 93, 95)
data <- data.frame(X, Y)
data
## X Y
## 1 75 70
## 2 78 74
## 3 80 75
## 4 82 80
## 5 85 82
## 6 88 85
## 7 90 88
## 8 92 90
## 9 95 93
## 10 97 95
plot(X, Y, pch = 19, col = "blue",
xlab = "Nilai Rapor (X)", ylab = "Nilai Ujian Masuk (Y)",
main = "Scatter Plot Nilai Rapor vs Nilai Ujian Masuk")
abline(lm(Y ~ X), col = "red", lwd = 2)
Interpretasi : Dari Gambar Scatter plot diatas bisa dilhat bahwa:
1).Pola Hubungannya berbentuk linear,karena titiknya membentuk garis lurus.
2).Korelasinya Positif, karena semakn tinggi nilai raportnya maka semakin tinggi pula nilai ujian masuknya.
3).Hubungan antara Keduanya sangat Kuat, karena titik-titiknya sangat rapat dan menempel ke garis tren.
cor(X, Y)
## [1] 0.9963767
cor.test(X, Y)
##
## Pearson's product-moment correlation
##
## data: X and Y
## t = 33.136, df = 8, p-value = 7.507e-10
## alternative hypothesis: true correlation is not equal to 0
## 95 percent confidence interval:
## 0.9841554 0.9991754
## sample estimates:
## cor
## 0.9963767
Interpretasi : r=0,996 memiliki hubungan positif dan sangat kuat antara nilai raport dan nilai ujian masuk. dan memiliki arah hubungan yang kuat dimana semakn tinggi nilai raportnya maka semakin tinggi pula nilai ujian masuknya.
model <- lm(Y ~ X)
summary(model)
##
## Call:
## lm(formula = Y ~ X)
##
## Residuals:
## Min 1Q Median 3Q Max
## -1.14931 -0.40920 -0.04116 0.19431 1.57627
##
## Coefficients:
## Estimate Std. Error t value Pr(>|t|)
## (Intercept) -14.82728 2.96820 -4.995 0.00106 **
## X 1.13721 0.03432 33.136 7.51e-10 ***
## ---
## Signif. codes: 0 '***' 0.001 '**' 0.01 '*' 0.05 '.' 0.1 ' ' 1
##
## Residual standard error: 0.764 on 8 degrees of freedom
## Multiple R-squared: 0.9928, Adjusted R-squared: 0.9919
## F-statistic: 1098 on 1 and 8 DF, p-value: 7.507e-10
predict(model, newdata = data.frame(X = 80))
## 1
## 76.14931
Kesimpulan : jadi, untuk prediksi nilai ujian masuk untuk calon dengan nilai rapor 80 adalah 76,14
summary(model)$r.squared
## [1] 0.9927666
Kesimpulan : Jadi, 99,2% variasi nilai ujian masuk dapat dijelaskan oleh nilai rapor.
Jawab :
korelasi spearman lebih sesuai dibanding Pearson karena Jenis datanya sudah berubah dari data skor menjadi data Peringkat (ordinal). Alasannya:
1). Skala data berbeda, Pearson mengharuskan data berskala interval/rasio. Sedangkan data Peringkat berskala ordinal. Maka dari itu, menggunakan korelasi spearman lebih cocok untuk data Peringkat ini, Karena justru spearman ini dirancang khusus untuk data ordinal.
2). Asumsi pearson tidak terpenuhi,Pada data peringkat dari sejumlah kecil pendaftar prioritas, asumsi normalitas akan Sangat sulit terpenuhi dan sangat sensitif terhadap outlier. Spearman adalah uji non-parametrik, sehingga tidak membutuhkan asumsi distribusi normal yang cukup hubungan monoton
Jadi kesimpulannya: karena panitia hanya memiliki data Peringkat (ordinal), maka korelasi spearman adalah metode yang lebih Valid dan sesuai untuk mengukur kekuatan dan arah hubungan monotonik antara hubungan kedua Variabel tersebut. ```