Data volume produksi air minum PDAM Kabupaten Serang, Januari 2022 sampai Desember 2024 (ribu m³/bulan).
air <- c(410,415,405,420,430,445,455,440,425,420,418,435,
440,445,438,452,462,478,488,472,458,452,450,468,
470,476,468,483,494,510,521,504,489,483,480,499)
air_ts <- ts(air, start = c(2022,1), frequency = 12)
air_ts
## Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec
## 2022 410 415 405 420 430 445 455 440 425 420 418 435
## 2023 440 445 438 452 462 478 488 472 458 452 450 468
## 2024 470 476 468 483 494 510 521 504 489 483 480 499
ts dan dekomposisi additivedekomp_add <- decompose(air_ts, type = "additive")
plot(dekomp_add)
Dari hasil dekomposisi, terlihat bahwa data air memiliki
tren yang meningkat dari tahun 2022 sampai 2024. Komponen seasonal juga
menunjukkan pola yang berulang setiap 12 bulan. Sementara itu, komponen
random berfluktuasi di sekitar nol tanpa pola yang jelas.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa data air mengalami peningkatan dari waktu ke waktu dan memiliki pola musiman setiap tahun, sedangkan sisanya merupakan variasi acak.
dekomp_add$trend # komponen tren (CMA 2x12)
## Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug
## 2022 NA NA NA NA NA NA 427.7500 430.2500
## 2023 443.7083 446.4167 449.1250 451.8333 454.5000 457.2083 459.8333 462.3750
## 2024 475.4583 478.1667 480.7917 483.3750 485.9167 488.4583 NA NA
## Sep Oct Nov Dec
## 2022 432.8750 435.5833 438.2500 440.9583
## 2023 464.9167 467.4583 470.0833 472.7500
## 2024 NA NA NA NA
plot(dekomp_add$trend, main = "Komponen Tren Produksi Air Minum",
ylab = "ribu m3/bulan", xlab = "Waktu")
Berdasarkan grafik komponen tren, produksi air minum menunjukkan tren naik. Nilai tren meningkat dari sekitar 427,75 ribu m³/bulan pada Juli 2022 menjadi sekitar 488,46 ribu m³/bulan pada Juni 2024. Kenaikannya terlihat cukup konsisten selama periode pengamatan.
idx_add <- round(dekomp_add$seasonal[1:12], 2) # 12 indeks musiman
names(idx_add) <- c("Jan","Feb","Mar","Apr","Mei","Jun",
"Jul","Agu","Sep","Okt","Nov","Des")
idx_add
## Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agu Sep Okt Nov
## -4.54 -1.75 -11.91 -0.06 7.84 21.21 27.75 9.73 -7.35 -15.48 -20.12
## Des
## -5.31
names(which.max(idx_add)) # bulan tertinggi
## [1] "Jul"
names(which.min(idx_add)) # bulan terendah
## [1] "Nov"
Berdasarkan 12 indeks musiman, nilai tertinggi terdapat pada Juli sebesar 27,75, sedangkan nilai terendah pada November sebesar -20,12. Artinya, produksi air minum cenderung lebih tinggi pada Juli dan lebih rendah pada November dibandingkan pola rata-ratanya.
Dugaannya, kenaikan pada Juli dapat berkaitan dengan meningkatnya kebutuhan air pada musim kemarau, sedangkan penurunan pada November kemungkinan dipengaruhi oleh musim hujan sehingga kebutuhan air cenderung menurun.
dekomp_add$random # komponen residu
## Jan Feb Mar Apr May Jun
## 2022 NA NA NA NA NA NA
## 2023 0.83159722 0.33159722 0.78993056 0.22743056 -0.33506944 -0.41840278
## 2024 -0.91840278 -0.41840278 -0.87673611 -0.31423611 0.24826389 0.33159722
## Jul Aug Sep Oct Nov Dec
## 2022 -0.50173611 0.01909722 -0.52256944 -0.10590278 -0.12673611 -0.64756944
## 2023 0.41493056 -0.10590278 0.43576389 0.01909722 0.03993056 0.56076389
## 2024 NA NA NA NA NA NA
summary(dekomp_add$random) # ringkasan statistik
## Min. 1st Qu. Median Mean 3rd Qu. Max. NA's
## -0.9184 -0.4184 -0.0434 -0.0434 0.3316 0.8316 12
sd(dekomp_add$random, na.rm = TRUE) # simpangan baku
## [1] 0.4862621
plot(dekomp_add$random, main = "Komponen Residu (Additive)", ylab = "Residu")
abline(h = 0, col = "red", lty = 2)
Berdasarkan ringkasan statistik, residu memiliki rata-rata -0,0434 dan simpangan baku 0,4863. Nilai residu berada pada kisaran -0,9184 hingga 0,8316.
Dari grafik, residu terlihat berfluktuasi di sekitar garis nol dan tidak menunjukkan pola tertentu yang jelas. Jadi, residu dapat dikatakan cukup acak di sekitar nol, meskipun terdapat beberapa fluktuasi yang cukup besar.
plot(air_ts, type = "o",
main = "Produksi Air Minum PDAM Kabupaten Serang",
ylab = "ribu m3/bulan",
xlab = "Tahun")
# Menghitung kenaikan April dan Desember
april_2023 <- air_ts[time(air_ts) == 2023 + 3/12]
april_2024 <- air_ts[time(air_ts) == 2024 + 3/12]
des_2023 <- air_ts[time(air_ts) == 2023 + 11/12]
des_2024 <- air_ts[time(air_ts) == 2024 + 11/12]
april_2023
## [1] 452
april_2024
## [1] 483
des_2023
## [1] 468
des_2024
## [1] 499
Berdasarkan hasil tersebut, produksi pada April dan Desember 2024 lebih tinggi dibandingkan tahun 2023. April meningkat dari 452 menjadi 483 ribu m³, sedangkan Desember meningkat dari 468 menjadi 499 ribu m³. Keduanya mengalami kenaikan yang sama, yaitu 31 ribu m³.
dekomp_mul <- decompose(air_ts, type = "multiplicative")
plot(dekomp_mul)
fak_mul <- round(dekomp_mul$seasonal[1:12], 4) # 12 faktor musiman
names(fak_mul) <- c("Jan","Feb","Mar","Apr","Mei","Jun",
"Jul","Agu","Sep","Okt","Nov","Des")
fak_mul
## Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agu Sep Okt Nov
## 0.9902 0.9963 0.9744 0.9999 1.0167 1.0449 1.0626 1.0218 0.9836 0.9657 0.9556
## Des
## 0.9883
names(which.max(fak_mul)) # bulan tertinggi
## [1] "Jul"
names(which.min(fak_mul)) # bulan terendah
## [1] "Nov"
Faktor musiman tertinggi terdapat pada Juli (1,0626), sedangkan terendah pada November (0,9556). Artinya, produksi pada Juli cenderung 6,26% lebih tinggi dari kondisi normal, sedangkan November cenderung 4,44% lebih rendah dari kondisi normal.
dekomp_add <- decompose(air_ts, type = "additive")
sd_add <- sd(dekomp_add$random, na.rm = TRUE) # skala ribu m3
sd_mul <- sd(dekomp_mul$random, na.rm = TRUE) # skala rasio
# Residu multiplicative pada skala asli (ribu m3) agar sebanding
res_mul_asli <- air_ts - dekomp_mul$trend * dekomp_mul$seasonal
sd_mul_asli <- sd(res_mul_asli, na.rm = TRUE)
perbandingan <- data.frame(
Model = c("Additive", "Multiplicative (rasio)", "Multiplicative (skala asli)"),
SD_Residu = round(c(sd_add, sd_mul, sd_mul_asli), 5)
)
perbandingan
## Model SD_Residu
## 1 Additive 0.48626
## 2 Multiplicative (rasio) 0.00125
## 3 Multiplicative (skala asli) 0.56133
Hasil perbandingan pada skala asli menunjukkan bahwa SD residu additive sebesar 0,486, sedangkan SD residu multiplicative sebesar 0,561. Dengan demikian, SD residu additive lebih kecil daripada multiplicative.
Model additive lebih sesuai untuk data produksi air minum PDAM Kabupaten Serang. Alasannya:
Pola musiman pada kedua model menunjukkan pola yang sama, yaitu Juli sebagai bulan dengan nilai musiman tertinggi dan November sebagai yang terendah.
SD residu additive lebih kecil, yaitu 0,486 dibandingkan 0,561 pada multiplicative setelah dibandingkan pada skala yang sama.
Nilai produksi pada April dan Desember 2024 memang lebih tinggi dibandingkan 2023, tetapi kenaikannya masih dalam pola yang relatif serupa, yaitu masing-masing 31 ribu m³.
Jadi, berdasarkan hasil dekomposisi dan SD residu yang lebih kecil, model additive lebih sesuai untuk data ini.