Pertemuan 6 — Dekomposisi Model Additive

Soal

Berikut data volume produksi air minum PDAM Kabupaten Serang, Januari 2022–Desember 2024 (ribu m³/bulan).

Tahun Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agu Sep Okt Nov Des
2022 410 415 405 420 430 445 455 440 425 420 418 435
2023 440 445 438 452 462 478 488 472 458 452 450 468
2024 470 476 468 483 494 510 521 504 489 483 480 499
  1. Buat objek ts dari data di atas, lalu lakukan dekomposisi additive menggunakan decompose().
  2. Tampilkan dan gambarkan komponen tren. Apakah produksi air minum menunjukkan tren naik?
  3. Tampilkan 12 indeks musiman. Bulan apa yang cenderung tertinggi dan terendah? Berikan dugaan penjelasannya.
  4. Periksa komponen residu (ringkasan statistik dan simpangan bakunya). Apakah residu tampak berfluktuasi acak di sekitar nol?

Jawaban

1. Membuat objek ts dan dekomposisi additive

Kode berikut menggunakan sintaks yang sama seperti pada materi Pertemuan 6, yaitu membuat objek ts, kemudian menggunakan decompose(..., type = "additive").

# Data volume produksi air minum PDAM Kabupaten Serang
pdam <- c(
  410,415,405,420,430,445,455,440,425,420,418,435,
  440,445,438,452,462,478,488,472,458,452,450,468,
  470,476,468,483,494,510,521,504,489,483,480,499
)

pdam_ts <- ts(pdam, start = c(2022,1), frequency = 12)

# Dekomposisi additive
dekomp_add <- decompose(pdam_ts, type = "additive")

# Visualisasi dekomposisi
plot(dekomp_add)

Model additive yang digunakan adalah:

\[ Z_t = T_t + S_t + e_t \]

Pada hasil decompose(), data dipisahkan menjadi komponen tren, musiman, dan residu. Model additive sesuai ketika besar ayunan musiman relatif konstan dari waktu ke waktu.

2. Komponen tren

# Menampilkan komponen tren
dekomp_add$trend
##           Jan      Feb      Mar      Apr      May      Jun      Jul      Aug
## 2022       NA       NA       NA       NA       NA       NA 427.7500 430.2500
## 2023 443.7083 446.4167 449.1250 451.8333 454.5000 457.2083 459.8333 462.3750
## 2024 475.4583 478.1667 480.7917 483.3750 485.9167 488.4583       NA       NA
##           Sep      Oct      Nov      Dec
## 2022 432.8750 435.5833 438.2500 440.9583
## 2023 464.9167 467.4583 470.0833 472.7500
## 2024       NA       NA       NA       NA
# Menggambarkan komponen tren
plot(dekomp_add$trend,
     main = "Komponen Tren Produksi Air Minum PDAM Kabupaten Serang",
     xlab = "Tahun",
     ylab = "Volume Produksi (ribu m3)",
     col = "#D88195",
     lwd = 2)

Hasil dan pembahasan:

Komponen tren menunjukkan pola yang meningkat dari tahun 2022 sampai 2024. Nilai produksi pada awal periode berada di sekitar 410 ribu m³, sedangkan pada akhir periode sudah mendekati 499 ribu m³. Jadi, produksi air minum PDAM Kabupaten Serang menunjukkan tren naik.

Berdasarkan hasil dekomposisi, kenaikan produksi merupakan pola jangka panjang yang cukup jelas, meskipun masih terdapat naik-turun pada bulan tertentu.

3. Indeks musiman

# Menampilkan 12 indeks musiman
round(dekomp_add$seasonal[1:12], 2)
##  [1]  -4.54  -1.75 -11.91  -0.06   7.84  21.21  27.75   9.73  -7.35 -15.48
## [11] -20.12  -5.31

Hasil indeks musiman yang diperoleh secara pendekatan adalah:

Bulan Indeks Musiman
Jan -4.54
Feb -1.75
Mar -11.91
Apr -0.06
Mei 7.84
Jun 21.21
Jul 27.75
Agu 9.73
Sep -7.35
Okt -15.48
Nov -20.12
Des -5.31

Indeks musiman tertinggi terdapat pada Juli, yaitu sekitar 27,75 ribu m³. Artinya, pada bulan Juli produksi cenderung berada di atas nilai tren.

Indeks musiman terendah terdapat pada November, yaitu sekitar -20,12 ribu m³. Artinya, pada bulan November produksi cenderung berada di bawah nilai tren.

Dugaan penjelasannya adalah adanya pola penggunaan atau kebutuhan air yang berbeda antarbulan. Kenaikan pada pertengahan tahun dapat berkaitan dengan meningkatnya kebutuhan air, sedangkan penurunan pada beberapa bulan akhir tahun dapat terjadi karena perubahan aktivitas atau kebutuhan produksi.

4. Komponen residu

# Melihat komponen residu
dekomp_add$random
##              Jan         Feb         Mar         Apr         May         Jun
## 2022          NA          NA          NA          NA          NA          NA
## 2023  0.83159722  0.33159722  0.78993056  0.22743056 -0.33506944 -0.41840278
## 2024 -0.91840278 -0.41840278 -0.87673611 -0.31423611  0.24826389  0.33159722
##              Jul         Aug         Sep         Oct         Nov         Dec
## 2022 -0.50173611  0.01909722 -0.52256944 -0.10590278 -0.12673611 -0.64756944
## 2023  0.41493056 -0.10590278  0.43576389  0.01909722  0.03993056  0.56076389
## 2024          NA          NA          NA          NA          NA          NA
# Ringkasan statistik residu
summary(dekomp_add$random)
##    Min. 1st Qu.  Median    Mean 3rd Qu.    Max.    NA's 
## -0.9184 -0.4184 -0.0434 -0.0434  0.3316  0.8316      12
# Simpangan baku residu
sd(dekomp_add$random, na.rm = TRUE)
## [1] 0.4862621

Ringkasan residu secara pendekatan adalah:

Statistik Nilai
Min -0.9184
Kuartil 1 -0.4184
Median -0.0434
Mean -0.0434
Kuartil 3 0.3316
Max 0.8316
SD 0.4863

Nilai rata-rata residu sangat dekat dengan nol, yaitu sekitar -0,0434, dengan simpangan baku sekitar 0,4863 ribu m³. Dari plot dekomposisi, residu berfluktuasi di sekitar nol dan tidak menunjukkan pola sistematis yang kuat.

Jadi, residu dapat dikatakan cukup berfluktuasi secara acak di sekitar nol. Hal ini menunjukkan bahwa model additive sudah menangkap sebagian besar pola utama dalam data.

Kesimpulan Pertemuan 6

Berdasarkan dekomposisi additive, produksi air minum PDAM Kabupaten Serang mempunyai tren yang meningkat dari 2022 sampai 2024. Komponen musiman menunjukkan bahwa Juli memiliki indeks musiman tertinggi, sedangkan November memiliki indeks musiman terendah. Residu mempunyai rata-rata yang mendekati nol dan tidak menunjukkan pola sistematis yang kuat, sehingga model additive cukup sesuai untuk menggambarkan data tersebut.

Pertemuan 7 — Dekomposisi Model Multiplicative

Soal

Gunakan data yang sama dengan Pertemuan 6, yaitu data volume produksi air minum PDAM Kabupaten Serang Januari 2022–Desember 2024.

Tahun Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agu Sep Okt Nov Des
2022 410 415 405 420 430 445 455 440 425 420 418 435
2023 440 445 438 452 462 478 488 472 458 452 450 468
2024 470 476 468 483 494 510 521 504 489 483 480 499
  1. Buat plot data. Apakah pola musiman terlihat membesar seiring kenaikan level data?
  2. Lakukan dekomposisi multiplicative. Tampilkan 12 faktor musiman dan identifikasi bulan tertinggi/terendah.
  3. Bandingkan simpangan baku residu multiplicative dengan simpangan baku residu jika model additive dipaksakan.
  4. Simpulkan model mana yang lebih sesuai, disertai alasan berdasarkan hasil poin 1–3.

Jawaban

1. Plot data dan pemeriksaan pola musiman

Karena tugas Pertemuan 7 menggunakan data yang sama dengan Pertemuan 6, objek ts yang digunakan juga sama.

# Data yang sama dengan Pertemuan 6
pdam_ts <- ts(pdam, start = c(2022,1), frequency = 12)

# Plot data
plot(pdam_ts,
     main = "Volume Produksi Air Minum PDAM Kabupaten Serang",
     xlab = "Tahun",
     ylab = "Volume Produksi (ribu m3)",
     col = "#D88195",
     lwd = 2)

Dari plot data, terlihat adanya tren naik dari 2022 sampai 2024. Pola naik-turun antarbulan juga terlihat, tetapi besar ayunannya tidak menunjukkan pelebaran yang sangat kuat seiring naiknya level data.

Dengan demikian, secara visual data lebih mengarah pada pola musiman yang relatif stabil daripada pola musiman yang semakin membesar.

2. Dekomposisi multiplicative

Model multiplicative yang digunakan adalah:

\[ Z_t = T_t \times S_t \times e_t \]

Pada model multiplicative, komponen musiman dinyatakan sebagai faktor. Nilai faktor musiman lebih dari 1 menunjukkan kondisi di atas tren, sedangkan nilai kurang dari 1 menunjukkan kondisi di bawah tren.

# Dekomposisi multiplicative
dekomp_mul <- decompose(pdam_ts, type = "multiplicative")

# Visualisasi dekomposisi
plot(dekomp_mul)

# Menampilkan 12 faktor musiman
round(dekomp_mul$seasonal[1:12], 3)
##  [1] 0.990 0.996 0.974 1.000 1.017 1.045 1.063 1.022 0.984 0.966 0.956 0.988

Hasil faktor musiman yang diperoleh secara pendekatan adalah:

Bulan Faktor Musiman
Jan 0.990
Feb 0.996
Mar 0.974
Apr 1.000
Mei 1.017
Jun 1.045
Jul 1.063
Agu 1.022
Sep 0.984
Okt 0.966
Nov 0.956
Des 0.988

Faktor musiman tertinggi terdapat pada Juli, yaitu sekitar 1,063. Artinya, produksi pada Juli sekitar 6,3% lebih tinggi daripada tren.

Faktor musiman terendah terdapat pada November, yaitu sekitar 0,956. Artinya, produksi pada November sekitar 4,4% lebih rendah daripada tren.

3. Perbandingan residu additive dan multiplicative

# Dekomposisi additive sebagai pembanding
dekomp_add <- decompose(pdam_ts, type = "additive")

# Simpangan baku residu additive
sd(dekomp_add$random, na.rm = TRUE)
## [1] 0.4862621
# Simpangan baku residu multiplicative
sd(dekomp_mul$random, na.rm = TRUE)
## [1] 0.001249183
# Ringkasan residu multiplicative
summary(dekomp_mul$random)
##    Min. 1st Qu.  Median    Mean 3rd Qu.    Max.    NA's 
##  0.9981  0.9989  0.9999  0.9999  1.0009  1.0017      12

Hasil perhitungan:

Model SD Residu
Additive 0.4863 ribu m³
Multiplicative 0.00125

Pada model multiplicative, residu berada pada skala rasio dan idealnya berfluktuasi di sekitar 1, bukan di sekitar 0. Rata-rata residu multiplicative pada data ini sekitar 0,9999, sehingga sangat dekat dengan 1.

Perlu diperhatikan bahwa simpangan baku kedua model berada pada skala yang berbeda, sehingga angka 0,4863 dan 0,00125 tidak dibandingkan sebagai satuan yang sama. Model additive berada pada skala volume produksi, sedangkan model multiplicative berada pada skala rasio.

4. Pemilihan model

Berdasarkan plot data, amplitudo musiman tidak terlihat semakin melebar secara kuat ketika level produksi meningkat. Pada model additive, residu juga memiliki rata-rata yang mendekati nol dan tidak menunjukkan pola sistematis yang kuat.

Sementara itu, model multiplicative menghasilkan faktor musiman yang relatif dekat dengan 1 dan residu yang berfluktuasi sangat dekat dengan 1. Namun, berdasarkan karakteristik data yang diberikan, pola musiman lebih tepat dipandang sebagai perubahan dalam besaran absolut yang relatif stabil daripada perubahan yang semakin besar secara proporsional terhadap level data.

Oleh karena itu, model additive lebih sesuai untuk data produksi air minum PDAM Kabupaten Serang.

Kesimpulan Pertemuan 7

Dekomposisi multiplicative menunjukkan bahwa faktor musiman tertinggi terdapat pada Juli (1,063) dan terendah pada November (0,956). Residu multiplicative berfluktuasi di sekitar 1. Namun, karena pola musiman pada data tidak menunjukkan pelebaran yang kuat seiring kenaikan level, serta model additive sudah menghasilkan residu yang dekat dengan nol dan tidak berpola sistematis, maka model additive lebih sesuai untuk data ini.

Kesimpulan Akhir

Data volume produksi air minum PDAM Kabupaten Serang dari Januari 2022 sampai Desember 2024 menunjukkan tren produksi yang meningkat. Dekomposisi additive menghasilkan indeks musiman dalam bentuk selisih terhadap tren, sedangkan dekomposisi multiplicative menghasilkan faktor musiman dalam bentuk rasio terhadap tren. Pada data ini, Juli menjadi bulan dengan pengaruh musiman tertinggi dan November menjadi bulan dengan pengaruh musiman terendah. Berdasarkan pola visual dan karakteristik amplitudo musiman, dekomposisi additive lebih sesuai digunakan.