Data volume produksi air minum PDAM Kabupaten Serang, Januari 2022–Desember 2024 (ribu m³/bulan)
Dekomposisi Addiptive
1. Buat objek ts dari data di atas, lalu lakukan dekomposisi additive menggunakan decompose().
# 1. Buat objek ts dari data di atas, lalu lakukan dekomposisi additive menggunakan decompose()
# Data volume ekspor baja Kawasan Industri Cilegon (ribu ton)
air <- c(410, 415, 405, 420, 430, 445, 455, 440, 425, 420, 418, 435,
440, 445, 438, 452, 462, 478, 488, 472, 458, 452, 450, 468,
470, 476, 468, 483, 494, 510, 521, 504, 489, 483, 480, 499)
air_ts <- ts(air, start = c(2022,1), frequency = 12)
# Dekomposisi additive
dekomp_add <- decompose(air_ts, type = "additive")
plot(dekomp_add)
Data produksi air minum dari bulan Januari 2022 sampai Desember 2024
dibuat menjadi objek time series dengan frekuensi 12 karena datanya
merupakan data bulanan. Selanjutnya dilakukan dekomposisi additive
menggunakan decompose() dan dihasilkan plot yang menunjukkan bahwa data
dipisah menjadi komponen tren, musiman, dan random(residu).
3. Tampilkan 12 indeks musiman. Bulan apa yang cenderung tertinggi dan terendah? Berikan dugaan penjelasannya.
# 3. Tampilkan 12 indeks musiman. Bulan apa yang cenderung tertinggi dan terendah? Berikan dugaan penjelasannya
dekomp_add$seasonal # 12 indeks musiman (berulang tiap tahun)## Jan Feb Mar Apr May
## 2022 -4.53993056 -1.74826389 -11.91493056 -0.06076389 7.83506944
## 2023 -4.53993056 -1.74826389 -11.91493056 -0.06076389 7.83506944
## 2024 -4.53993056 -1.74826389 -11.91493056 -0.06076389 7.83506944
## Jun Jul Aug Sep Oct
## 2022 21.21006944 27.75173611 9.73090278 -7.35243056 -15.47743056
## 2023 21.21006944 27.75173611 9.73090278 -7.35243056 -15.47743056
## 2024 21.21006944 27.75173611 9.73090278 -7.35243056 -15.47743056
## Nov Dec
## 2022 -20.12326389 -5.31076389
## 2023 -20.12326389 -5.31076389
## 2024 -20.12326389 -5.31076389
## [1] -4.54 -1.75 -11.91 -0.06 7.84 21.21 27.75 9.73 -7.35 -15.48
## [11] -20.12 -5.31
Berdasarkan perhitungan tersebut, didapatkan bahwa indeks musiman tertinggi terjadi pada bulan Juli, yaitu sebesar 27,75. Sedangkan indeks musiman terendah terjadi pada bulan November yaitu sebesar -20,12. Dugaan penyebab hal ini terjadi, kemungkinan pada bulan Juli kebutuhan air cenderung lebih tinggi sehingga produksinya meningkat, sedangkan pada bulan November kebutuhannya relatif lebih rendah.
4. Periksa komponen residu (ringkasan statistik dan simpangan bakunya). Apakah residu tampak berfluktuasi acak di sekitar nol?
# 4. Periksa komponen residu (ringkasan statistik dan simpangan bakunya). Apakah residu tampak berfluktuasi acak di sekitar nol?
dekomp_add$random # komponen residu## Jan Feb Mar Apr May Jun
## 2022 NA NA NA NA NA NA
## 2023 0.83159722 0.33159722 0.78993056 0.22743056 -0.33506944 -0.41840278
## 2024 -0.91840278 -0.41840278 -0.87673611 -0.31423611 0.24826389 0.33159722
## Jul Aug Sep Oct Nov Dec
## 2022 -0.50173611 0.01909722 -0.52256944 -0.10590278 -0.12673611 -0.64756944
## 2023 0.41493056 -0.10590278 0.43576389 0.01909722 0.03993056 0.56076389
## 2024 NA NA NA NA NA NA
## Min. 1st Qu. Median Mean 3rd Qu. Max. NA's
## -0.9184 -0.4184 -0.0434 -0.0434 0.3316 0.8316 12
## [1] 0.4862621
Nilai rata-rata residu sebesar -0,0434 yang sangat dekat dengan nol. Kemudian nilai redisu berada pada kisaran yang relatif kecil, yaitu sekitar -0,9184 sampai 0,8316. Pada grafik juga terlihat bahwa residu naik turun di sekitar angka nol dan tidak membentuk pola tertentu. Oleh karena itu, residu dikatakan cuup acak dan berfluktuasi di sekiat nol.
Dekomposisi Multiplicative
5. Dekomposisi multiplicative
## [1] 0.990 0.996 0.974 1.000 1.017 1.045 1.063 1.022 0.984 0.966 0.956 0.988
Berdasarkan hasil dekomposisi multiplicative, faktor musiman tertinggi terjadi pada bulan Juli sebesar 1,063. Artinya, produksi pada bulan Juli cenderung lebih tinggi dibandingkan trennya. Sementara itu, faktor musiman terendah terjadi pada bulan November sebesar 0,956, yang berarti produksi pada bulan November cenderung lebih rendah dibandingkan trennya.
6. Membandingkan simpangan baku residu ADDIPTIVE VS MULTIPLICATIVE
## [1] 0.4862621
## [1] 0.001249183
Berdasarkan perbandingan simpangan baku residu, model additive memiliki SD residu sebesar 0,4862621, sedangkan model multiplicative sebesar 0,001249183. Nilai SD residu pada model multiplicative lebih kecil. Namun, kedua nilai tersebut berada pada skala yang berbeda karena residu additive menggunakan skala data asli, sedangkan residu multiplicative menggunakan skala rasio. Berdasarkan hasil perbandingan tersebut, model multiplicative lebih sesuai untuk data produksi air minum karena menghasilkan variasi residu yang lebih kecil pada skala modelnya.