Persiapan Data membaca data

data <- read.csv(file.choose())

menghitung selisih

data$diff <- data$before - data$after

print("Data head:")
## [1] "Data head:"
print(head(data))
##   id before after diff
## 1  1    140   132    8
## 2  2    150   145    5
## 3  3    135   130    5
## 4  4    142   138    4
## 5  5    128   125    3
## 6  6    155   148    7

Visualisasi boxplot

par(mfrow=c(1,2))

boxplot(data$diff, 
        main="Boxplot Selisih Tekanan Darah", 
        ylab="Selisih (mmHg)", 
        col="lightblue")

histogram

hist(data$diff, 
     main="Histogram Selisih", 
     xlab="Selisih (mmHg)", 
     col="lightgreen")

par(mfrow=c(1,1))

**Pemeriksaan Asumsi (Shapiro-Wilk) uji normalitas

cat("\n ---- Uji Normalitas Shapiro-Wilk ---- \n")
## 
##  ---- Uji Normalitas Shapiro-Wilk ----
uji_shapiro <- shapiro.test(data$diff)
print(uji_shapiro)
## 
##  Shapiro-Wilk normality test
## 
## data:  data$diff
## W = 0.89942, p-value = 0.008129

Karena nilai p-value lebih kecil dari tingkat signifikansi standar 0,05 (p < 0,05), maka hipotesis nol ditolak. Interpretasinya adalah data selisih (diff) tidak berdistribusi normal.

Uji HIpotesis

cat("\n--- Wilcoxon signed-rank test ---\n")
## 
## --- Wilcoxon signed-rank test ---
uji_wilcoxon <- wilcox.test(data$before, data$after, paired = TRUE)
## Warning in wilcox.test.default(data$before, data$after, paired = TRUE): cannot
## compute exact p-value with ties
print(uji_wilcoxon)
## 
##  Wilcoxon signed rank test with continuity correction
## 
## data:  data$before and data$after
## V = 465, p-value = 1.619e-06
## alternative hypothesis: true location shift is not equal to 0

Berdasarkan hasil uji non-parametrik Wilcoxon signed-rank, diperoleh nilai statistik V sebesar 465 dengan p-value sebesar 1.619e-06(atau sekitar 0,000001619). Karena nilai p-value tersebut jauh di bawah tingkat signifikansi 0,05 (p < 0,05), maka hipotesis nol ditolak. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang sangat signifikan secara statistik antara tekanan darah pasien sebelum dan sesudah intervensi. Dapat disimpulkan bahwa program edukasi gaya hidup selama 6 minggu tersebut terbukti efektif dalam menurunkan tekanan darah sistolik pasien

Ukuran Efek

mean_diff <- mean(data$diff)
sd_diff <- sd(data$diff)
cohen_d <- mean_diff / sd_diff

cat("\n--- Ukuran Efek ---\n")
## 
## --- Ukuran Efek ---
print(paste("Cohen's d:", round(cohen_d, 2)))
## [1] "Cohen's d: 3.07"

Berdasarkan hasil analisis, diperoleh nilai Cohen’s d sebesar 3,07. Nilai ini jauh melampaui ambang batas efek besar (d > 0,8), yang menandakan bahwa penurunan rata-rata tekanan darah berjarak lebih dari 3 standar deviasi. Hal ini menunjukkan bahwa intervensi edukasi gaya hidup selama 6 minggu tidak hanya signifikan secara statistik, tetapi juga memberikan dampak klinis yang sangat kuat dan nyata dalam menurunkan tekanan darah sistolik pasien.

Interpretasi hasil uji kesamaan rata-rata berpasangan: Rata-rata tekanan darah sistolik pasien sebelum intervensi adalah 139,83 mmHg (SD = 7,71) dan setelah intervensi menjadi 135,03 mmHg (SD = 6,71), dengan rata-rata penurunan (selisih) sebesar 4,80 mmHg (SD = 1,56).Karena uji normalitas Shapiro-Wilk menunjukkan bahwa data selisih tidak berdistribusi normal (\(W/ = 0,899, p = 0,0081\)), analisis dilanjutkan menggunakan uji non-parametrik Wilcoxon signed-rank test. Hasil uji Wilcoxon menunjukkan perbedaan tekanan darah yang sangat signifikan secara statistik (\(V = 465, p < 0,001\)). Selain itu, ukuran efek berpasangan menunjukkan nilai Cohen’s d = 3,07, yang termasuk dalam kategori efek sangat besar (\(d > 0,8\)). Kesimpulannya, intervensi edukasi gaya hidup selama 6 minggu terbukti secara signifikan dan bermakna klinis dalam menurunkan tekanan darah sistolik pasien.