1 Latar Belakang

Sebuah kampus ingin mengetahui apakah penggunaan kelas online berhubungan dengan kelulusan mahasiswa, dengan jalur masuk (Reguler/Beasiswa) sebagai kovariat yang diduga memengaruhi pola hubungan tersebut.

  • X (paparan): Penggunaan kelas online (Tinggi vs Rendah)
  • Y (respons): Kelulusan tepat waktu (Ya vs Tidak)
  • Z (kovariat/stratum): Jalur masuk (Reguler vs Beasiswa)

2 Data Simulasi dan Tabel Kontingensi 3 Arah

Data disimulasikan untuk 400 mahasiswa (N = 400) dengan jumlah sel yang ditetapkan agar dapat menggambarkan kemungkinan terjadinya Paradoks Simpson.

dat <- data.frame(
  Jalur  = rep(c("Beasiswa", "Reguler"), each = 4),
  Online = rep(c("Tinggi", "Rendah"), each = 2, times = 2),
  Lulus  = rep(c("Ya", "Tidak"), times = 4),
  n      = c(18, 2, 64, 16,     # Beasiswa
             90, 90, 48, 72)    # Reguler
)

dat$Online <- factor(dat$Online, levels = c("Tinggi", "Rendah"))
dat$Lulus  <- factor(dat$Lulus,  levels = c("Ya", "Tidak"))
dat$Jalur  <- factor(dat$Jalur,  levels = c("Reguler", "Beasiswa"))

tab3 <- xtabs(n ~ Online + Lulus + Jalur, data = dat)
ftable(tab3, row.vars = c("Jalur", "Online"), col.vars = "Lulus")
##                 Lulus Ya Tidak
## Jalur    Online               
## Reguler  Tinggi       90    90
##          Rendah       48    72
## Beasiswa Tinggi       18     2
##          Rendah       64    16

Tabel parsial per stratum jalur masuk:

tab_reg <- tab3[, , "Reguler"]
tab_bea <- tab3[, , "Beasiswa"]

cat("Jalur Reguler\n");  print(addmargins(tab_reg))
## Jalur Reguler
##         Lulus
## Online    Ya Tidak Sum
##   Tinggi  90    90 180
##   Rendah  48    72 120
##   Sum    138   162 300
cat("\nJalur Beasiswa\n"); print(addmargins(tab_bea))
## 
## Jalur Beasiswa
##         Lulus
## Online    Ya Tidak Sum
##   Tinggi  18     2  20
##   Rendah  64    16  80
##   Sum     82    18 100

Tabel marginal (mengabaikan jalur masuk):

tab_marg <- margin.table(tab3, margin = c(1, 2))
addmargins(tab_marg)
##         Lulus
## Online    Ya Tidak Sum
##   Tinggi 108    92 200
##   Rendah 112    88 200
##   Sum    220   180 400

3 Odds Ratio Marginal dan Bersyarat

Odds ratio dihitung sebagai \(OR = \frac{a \cdot d}{b \cdot c}\) dengan selang kepercayaan 95% menggunakan metode Woolf (log-OR).

hitung_or <- function(t) {
  a <- t[1, 1]; b <- t[1, 2]; c <- t[2, 1]; d <- t[2, 2]
  or <- (a * d) / (b * c)
  se <- sqrt(1/a + 1/b + 1/c + 1/d)
  c(OR = or,
    Lower95 = exp(log(or) - 1.96 * se),
    Upper95 = exp(log(or) + 1.96 * se))
}

hasil_or <- rbind(
  "Marginal (gabungan)"   = hitung_or(tab_marg),
  "Bersyarat: Reguler"    = hitung_or(tab_reg),
  "Bersyarat: Beasiswa"   = hitung_or(tab_bea)
)
kable(round(hasil_or, 3), caption = "OR kelas online tinggi vs rendah terhadap kelulusan")
OR kelas online tinggi vs rendah terhadap kelulusan
OR Lower95 Upper95
Marginal (gabungan) 0.922 0.622 1.368
Bersyarat: Reguler 1.500 0.940 2.395
Bersyarat: Beasiswa 2.250 0.473 10.710

Proporsi lulus per kelompok:

prop_lulus <- function(t) round(prop.table(t, 1)[, "Ya"], 3)
kable(data.frame(
  Online    = c("Tinggi", "Rendah"),
  Marginal  = prop_lulus(tab_marg),
  Reguler   = prop_lulus(tab_reg),
  Beasiswa  = prop_lulus(tab_bea)
), row.names = FALSE, caption = "Proporsi lulus menurut tingkat penggunaan kelas online")
Proporsi lulus menurut tingkat penggunaan kelas online
Online Marginal Reguler Beasiswa
Tinggi 0.54 0.5 0.9
Rendah 0.56 0.4 0.8

4 Pemeriksaan Paradoks Simpson

Paradoks Simpson terjadi jika arah asosiasi marginal berbeda dengan arah asosiasi di dalam setiap stratum. Untuk mencari penyebabnya, diperiksa hubungan jalur masuk dengan kedua variabel lainnya.

or_m <- hasil_or["Marginal (gabungan)", "OR"]
or_r <- hasil_or["Bersyarat: Reguler", "OR"]
or_b <- hasil_or["Bersyarat: Beasiswa", "OR"]

simpson <- (or_m < 1 & or_r > 1 & or_b > 1) | (or_m > 1 & or_r < 1 & or_b < 1)
cat("OR marginal =", round(or_m, 3), "| OR Reguler =", round(or_r, 3),
    "| OR Beasiswa =", round(or_b, 3), "\n")
## OR marginal = 0.922 | OR Reguler = 1.5 | OR Beasiswa = 2.25
cat("Paradoks Simpson terdeteksi:", ifelse(simpson, "YA", "TIDAK"), "\n")
## Paradoks Simpson terdeteksi: YA
cat("Jalur masuk x Penggunaan kelas online (proporsi baris)\n")
## Jalur masuk x Penggunaan kelas online (proporsi baris)
print(round(prop.table(margin.table(tab3, c(3, 1)), 1), 3))
##           Online
## Jalur      Tinggi Rendah
##   Reguler     0.6    0.4
##   Beasiswa    0.2    0.8
cat("\nJalur masuk x Kelulusan (proporsi baris)\n")
## 
## Jalur masuk x Kelulusan (proporsi baris)
print(round(prop.table(margin.table(tab3, c(3, 2)), 1), 3))
##           Lulus
## Jalur        Ya Tidak
##   Reguler  0.46  0.54
##   Beasiswa 0.82  0.18

Mahasiswa jalur Beasiswa cenderung lulus dengan proporsi tinggi, tetapi sebagian besar tergolong pengguna kelas online yang rendah. Sebaliknya, mahasiswa Reguler banyak menggunakan kelas online tetapi tingkat kelulusannya lebih rendah. Struktur ini membuat jalur masuk bertindak sebagai confounder yang menutupi (bahkan membalik) efek kelas online pada data gabungan.

5 Uji Breslow-Day dan Cochran-Mantel-Haenszel (CMH)

5.1 Uji Homogenitas OR (Breslow-Day)

  • \(H_0\): OR sama di semua stratum (\(OR_{Reguler} = OR_{Beasiswa}\))
  • \(H_1\): OR berbeda antar stratum
bd <- BreslowDayTest(tab3, correct = TRUE)  # dengan koreksi Tarone
bd
## 
##  Breslow-Day Test on Homogeneity of Odds Ratios (with Tarone correction)
## 
## data:  tab3
## X-squared = 0.24067, df = 1, p-value = 0.6237

5.2 Uji CMH (Asosiasi Bersyarat)

  • \(H_0\): \(OR_{CMH} = 1\) (tidak ada asosiasi kelas online dan kelulusan setelah mengontrol jalur masuk)
  • \(H_1\): \(OR_{CMH} \neq 1\)
cmh <- mantelhaen.test(tab3, correct = TRUE)
cmh
## 
##  Mantel-Haenszel chi-squared test with continuity correction
## 
## data:  tab3
## Mantel-Haenszel X-squared = 3.3886, df = 1, p-value = 0.06565
## alternative hypothesis: true common odds ratio is not equal to 1
## 95 percent confidence interval:
##  0.9991649 2.4394591
## sample estimates:
## common odds ratio 
##          1.561224
kable(data.frame(
  Uji        = c("Breslow-Day (Tarone)", "CMH"),
  Statistik  = round(c(unname(bd$statistic), unname(cmh$statistic)), 3),
  df         = c(unname(bd$parameter), unname(cmh$parameter)),
  p_value    = signif(c(bd$p.value, cmh$p.value), 4)
), caption = "Ringkasan uji statistik")
Ringkasan uji statistik
Uji Statistik df p_value
Breslow-Day (Tarone) 0.241 1 0.62370
CMH 3.389 1 0.06565
cat("OR bersama (Mantel-Haenszel):", round(unname(cmh$estimate), 3),
    "| CI 95%:", round(cmh$conf.int[1], 3), "-", round(cmh$conf.int[2], 3), "\n")
## OR bersama (Mantel-Haenszel): 1.561 | CI 95%: 0.999 - 2.439

6 Interpretasi dan Kesimpulan

Interpretasi

  1. OR marginal sebesar 0.92 (< 1) pada data gabungan seolah-olah menunjukkan bahwa penggunaan kelas online yang tinggi tidak menguntungkan kelulusan (odds lulus mahasiswa pengguna tinggi sekitar 0.92 kali odds pengguna rendah).
  2. Setelah dikontrol berdasarkan jalur masuk, OR bersyarat menunjukkan arah yang berlawanan: 1.5 pada jalur Reguler dan 2.25 pada jalur Beasiswa (keduanya > 1). Artinya, di dalam setiap jalur masuk, mahasiswa dengan penggunaan kelas online tinggi memiliki odds lulus yang lebih besar.
  3. Perbedaan arah ini adalah Paradoks Simpson (terdeteksi). Penyebabnya adalah jalur masuk berhubungan dengan kedua variabel: mahasiswa Beasiswa lebih sering lulus tetapi jarang menggunakan kelas online, sedangkan mahasiswa Reguler sebaliknya.
  4. Uji Breslow-Day: p-value = 0.624, sehingga pada \(\alpha\) = 0,05 H0 tidak ditolak, OR antar stratum dapat dianggap homogen, sehingga OR gabungan Mantel-Haenszel layak digunakan.
  5. Uji CMH: p-value = 0.0656 dengan OR bersama = 1.56 (CI 95%: 1 sampai 2.44). Pada \(\alpha\) = 0,05, asosiasi antara penggunaan kelas online dan kelulusan setelah mengontrol jalur masuk belum signifikan secara statistik.

Kesimpulan

Analisis yang hanya berdasarkan tabel marginal berpotensi menyesatkan. Setelah jalur masuk (Reguler/Beasiswa) dikendalikan, penggunaan kelas online yang tinggi cenderung berhubungan positif dengan kelulusan mahasiswa di kedua jalur. Jalur masuk berperan sebagai confounder yang menimbulkan Paradoks Simpson. Karena itu, kampus sebaiknya menilai efektivitas kelas online dengan analisis terstratifikasi (OR bersyarat atau OR Mantel-Haenszel), bukan dari data gabungan.