ANALISIS DATA KATEGORIK (HUBUNGAN ANTARA VARIABEL KATEGORI)
Tugas ini bertujuan untuk mengetahui apakah penggunaan kelas online berhubungan dengan kelulusan mahasiswa, dengan jalur masuk (Reguler/Beasiswa) sebagai faktor yang diduga memengaruhi pola hubungan tersebut. Data yang digunakan adalah data simulasi sebanyak 1000 mahasiswa yang disusun dalam tabel kontingensi 2 x 2 x 2 (Online x Hasil x Jalur). Analisis dilakukan melalui lima tahap yaitu, menyusun tabel kontingensi 3 arah, menghitung OR marginal dan bersyarat, memeriksa paradoks simpson, melakukan uji Breslow-Day dan CMH, serta menyusun interpretasi dan kesimpulan akhir.
library(DescTools)
# 1. Data Simulasi dan Tabel Kontingensi 3 Arah
dat <- array(c(252, 72, 108, 48, # reguler
72, 380, 8, 60), # beasiswa
dim = c(2, 2, 2),
dimnames = list(Online = c("Ya", "Tidak"),
Hasil = c("Lulus", "Tidak Lulus"),
Jalur = c("Reguler", "Beasiswa")))
dat## , , Jalur = Reguler
##
## Hasil
## Online Lulus Tidak Lulus
## Ya 252 108
## Tidak 72 48
##
## , , Jalur = Beasiswa
##
## Hasil
## Online Lulus Tidak Lulus
## Ya 72 8
## Tidak 380 60
## Jalur Reguler Beasiswa
## Online Hasil
## Ya Lulus 252 72
## Tidak Lulus 108 8
## Tidak Lulus 72 380
## Tidak Lulus 48 60
## Reguler Beasiswa
## 480 520
## [1] 1000
Interpretasi: Data disusun dalam array tiga dimensi
dengan (dim = c(2,2,2)) yang terdiri dari 2 kategori kelas
online, 2 kategori hasil, dan 2 jalur masuk. Kategori “Ya” dan “Lulus”
ditaruh paling awal supaya OR > 1 menunjukkan odds lulus pengguna
kelas online lebih tinggi dibandingkan dengan yang tidak mengguakan
kelas online. Fungsi ftable menggambarkan dua tabel parsial
2x2 (Reguler dan Beasiswa) secara berdampingan, dengan total 1000
mahasisw yang terdiri atas 480 mahasiswa jalur Reguler dan 520 mahasiswa
jalur Beasiswa.
# 2. Menghitung OR Marginal dan OR Tiap Stratum (Bersyarat)
# Tabel marginal (jumlahkan kedua jalur)
tab_marg <- margin.table(dat, c(1, 2))
tab_marg## Hasil
## Online Lulus Tidak Lulus
## Ya 324 116
## Tidak 452 108
## Hasil
## Online Lulus Tidak Lulus
## Ya 73.6 26.4
## Tidak 80.7 19.3
## Hasil
## Online Lulus Tidak Lulus
## Ya 70 30
## Tidak 60 40
## Hasil
## Online Lulus Tidak Lulus
## Ya 90.0 10.0
## Tidak 86.4 13.6
# Rumus OR = (n11 x n22) / (n12 x n21)
or_hitung <- function(t) (t[1, 1] * t[2, 2]) / (t[1, 2] * t[2, 1])
OR_marginal <- or_hitung(tab_marg) # OR marginal
OR_reguler <- or_hitung(dat[, , "Reguler"]) # OR bersyarat stratum Reguler
OR_beasiswa <- or_hitung(dat[, , "Beasiswa"]) # OR bersyarat stratum Beasiswa
c(OR_marginal = OR_marginal, OR_Reguler = OR_reguler, OR_Beasiswa = OR_beasiswa)## OR_marginal OR_Reguler OR_Beasiswa
## 0.6673787 1.5555556 1.4210526
Interpretasi: Pada tabel marginal (jalur masuk diabaikan), persentase kelulusan pengguna kelas online adalah 73,6% sementara yang bukan pengguna 80,7%, sehingga OR marginal 0,667 (< 1). Menunjukkan kelas online seolah-olah memberikan efek negatif. Namun, saat dipisahkan berdasarkan jalur masuk, hasilnya justru berbeda. Pada jalur Reguler pengguna online memiliki tingkat kelulusan 70% dibandingkan dengan 60% untuk yang tidak online (OR 1,556), dan pada jalur Beasiswa, 90,0% dibandingkan dengan 86,4% (OR 1,421). Kedua OR bersyarat > 1, yang berarti pada setiap jalur, odds kelulusan pengguna online lebih tinggi. Arah OR marginal yang berbeda dengan OR bersyarat ini menunjukkan tanda-tanda awal adanya Paradoks Simpson.
# 3. Memeriksa Paradoks Simpson
# Paradoks Simpson: OR marginal < 1 tetapi OR kedua stratum > 1
simpson <- (OR_marginal < 1) & (OR_reguler > 1) & (OR_beasiswa > 1)
cat("Terjadi Paradoks Simpson? ", simpson, "\n")## Terjadi Paradoks Simpson? TRUE
# (Tambahan) penyebab Paradoks Simpson: komposisi pengguna online dan tingkat lulus tiap jalur
# Persentase pengguna kelas online di tiap jalur masuk
round(prop.table(margin.table(dat, c(1, 3)), 2) * 100, 1)## Jalur
## Online Reguler Beasiswa
## Ya 75 15.4
## Tidak 25 84.6
# Persentase lulus tiap jalur masuk (kelas online diabaikan)
round(prop.table(margin.table(dat, c(3, 2)), 1) * 100, 1)## Hasil
## Jalur Lulus Tidak Lulus
## Reguler 67.5 32.5
## Beasiswa 86.9 13.1
Interpretasi: Nilai TRUE menunjukkan bahwa Paradoks Simpson muncul karena OR marginal < 1 sedangkan OR di kedua stratum > 1. Penyebabnya terlihat dari tabel komposisi. Sekitar 75% mahasiswa Reguler menggunakan kelas online, sedangkan hanya 15,4% dari mahasiswa jalur Beasiswa, padahal kelulusan jalur Reguler (67,5%) jauh lebih rendah dibandingkan dengan jalur Beasiswa (86,9%). Hal ini menyebabkan kelompok pengguna kelas online didominasi oleh mahasiswa Reguler yang pada uumumnya memang mengalami kesulitan untuk lulus, sehingga persentase kelulusan gabungan turun. Maka, jalur pendaftaran berfungsi sebagai variabel pengganggu (confounder) yang membuat kesimpulan marginal tidak akurat.
# 4. Uji Breslow-Day dan CMH
# Uji Breslow-Day: H0 = OR semua stratum sama (asosiasi homogen)
BreslowDayTest(dat)##
## Breslow-Day test on Homogeneity of Odds Ratios
##
## data: dat
## X-squared = 0.039811, df = 1, p-value = 0.8418
# Uji CMH: H0 = OR bersyarat sama dengan 1 (independen setelah mengontrol jalur masuk)
mantelhaen.test(dat, correct = FALSE)##
## Mantel-Haenszel chi-squared test without continuity correction
##
## data: dat
## Mantel-Haenszel X-squared = 4.778, df = 1, p-value = 0.02883
## alternative hypothesis: true common odds ratio is not equal to 1
## 95 percent confidence interval:
## 1.041768 2.217442
## sample estimates:
## common odds ratio
## 1.519888
Interpretasi: Uji Breslow-Day bertujuan untuk menentukan apakah OR pada kedua stratum sama (H0: OR Reguler = OR Beasiswa, asosiasi homogen) dan (H1: OR kedua stratum berbeda, ada interaksi tiga arah). Hasil dari uji ini menunjukkan nilai \(\chi^2\) = 0,0398 dengan df = 1 dan p-value = 0,8418 > 0,05 sehingga H0 diterima. Artinya tidak ada bukti bahwa hubungan kelas online dan kelulusan berbeda antara jalur Reguler dan Beasiswa, sehingga OR gabungan dapat digunakan sebagai ringkasan.
Uji CMH digunakan untuk menguji independensi bersyarat (H0: semua OR bersyarat = 1, kelas online dan kelulusan independen setelah jalur masuk dikontrol) dan (H1: ada asosiasi bersyarat). Hasilnya menunjukkan nilai \(\chi^2\) = 4,778 dengan df = 1 dan p-value = 0,02883 < 0,05, sehingga H0 ditolak. Artinya setelah jalur masuk dikontrol, penggunaan kelas online berhubungan signifikan dengan kelulusan. Estimasi common odds ratio (OR Mantel-Haenszel) sebesar 1,520 dengan selang kepercayaan 95% dari 1,042 hingga 2,217 yang tidak mencakup angka 1, jadi odds lulus pengguna kelas online sekitar 1,52 kali odds lulus mahasiswa yang tidak mengikuti kelas online.
KESIMPULAN AKHIR
Berdasarkan analisis data simulasi 1000 mahasiswa, terdapat hubungan
antara penggunaan kelas online dan kelulusan, tetapi arah hubungan
dipengaruhi oleh perhitungan jalur masuk. Jika jalur masuk tidak
diperhitungkan, pengguna kelas online terlihat lebih jarang lulus (73,6%
dibandingkan 80,7%) dengan OR marginal 0,667. Tapi, ketika dipisahkan
berdasarkan jalur masuk, lebih banyak pengguna kelas online yang lulus
di kedua jalur (Reguler 70% dibandingkan 60%, Beasiswa 90,0%
dibandingkan 86,4%) dengan OR bersyarat 1,556 dan 1,421. Perubahan arah
ini dikenal sebagai Paradoks Simpson. Penyebabnya adalah
mahasiswa Reguler yang cenderung lebih rendah tingkat kelulusannya lebih
banyak menggunakan kelas online (75%) dibandingkan dengan mahasiswa
Beasiswa (15,4%).
Uji Breslow-Day menunjukkan hasil yang tidak signifikan (p = 0,8418), sehingga OR gabungan Mantel-Haenszel dapat digunakan dengan tepat. Sedangkan uji CMH menunjukkan signifikansi (p = 0,02883), dengan OR Mantel-Haenszel 1,52 kali dengan selang kepercayaan 95% yaitu 1,042 hingga 2,217.
Jadi, analisis marginal yang sederhana dapat menghasilkan kesimpulan yang keliru, dan penting untuk mengendalikan kovariat (jalur masuk) sebelum melakukan kesimpulan. Karena data yang digunakan merupakan data simulasi, hasil ini menunjukkan hubungan antarvariabel, bukan sebab-akibat.