Data disimulasikan dengan hubungan non-linier (kuadratik) antara
x dan y.
set.seed(123) #digunakan untuk mempertahankan data simulasi tsb
n <- 100
x <- seq(0, 10, length.out = n) #mendefinisikan variabel bebas, sebanyak 100 baris
y <- 5 + 2*x - 0.3*x^2 + rnorm(n, mean = 0, sd = 2) #rnorm adalah data distribusi normal yg dibangkitkan scr acak
data <- data.frame(x = x, y = y)
head(data)
## x y
## 1 0.0000000 3.879049
## 2 0.1010101 4.738604
## 3 0.2020202 8.509213
## 4 0.3030303 5.719529
## 5 0.4040404 6.017682
## 6 0.5050505 9.363708
#regresi polinomial adalah model regresi yang dimana variabel responnya berbentuk kuadratik
Berdasarkan output di atas, diketahui data simulasi berhasil dibuat sebanyak 100 observasi, dengan variabel x tersusun merata dari nilai 0 hingga 10. Sementara itu, variabel y dibentuk mengikuti persamaan kuadratik yang ditambahkan komponen acak berdistribusi normal dengan rata-rata 0 dan simpangan baku 2.
Tiga model dicocokkan sebagai pembanding: linier, polinomial derajat 2, dan derajat 3.
model_linier <- lm(y ~ x, data = data)
model_poli2 <- lm(y ~ poly(x, 2, raw = TRUE), data = data)
model_poli3 <- lm(y ~ poly(x, 3, raw = TRUE), data = data)
summary(model_linier)
##
## Call:
## lm(formula = y ~ x, data = data)
##
## Residuals:
## Min 1Q Median 3Q Max
## -7.4317 -1.4051 -0.0466 2.2166 6.6109
##
## Coefficients:
## Estimate Std. Error t value Pr(>|t|)
## (Intercept) 9.88171 0.55369 17.847 <2e-16 ***
## x -0.95028 0.09566 -9.934 <2e-16 ***
## ---
## Signif. codes: 0 '***' 0.001 '**' 0.01 '*' 0.05 '.' 0.1 ' ' 1
##
## Residual standard error: 2.789 on 98 degrees of freedom
## Multiple R-squared: 0.5017, Adjusted R-squared: 0.4967
## F-statistic: 98.68 on 1 and 98 DF, p-value: < 2.2e-16
summary(model_poli2)
##
## Call:
## lm(formula = y ~ poly(x, 2, raw = TRUE), data = data)
##
## Residuals:
## Min 1Q Median 3Q Max
## -4.8136 -1.1977 -0.0533 1.3549 4.3891
##
## Coefficients:
## Estimate Std. Error t value Pr(>|t|)
## (Intercept) 5.33982 0.53777 9.929 <2e-16 ***
## poly(x, 2, raw = TRUE)1 1.80266 0.24855 7.253 1e-10 ***
## poly(x, 2, raw = TRUE)2 -0.27529 0.02405 -11.447 <2e-16 ***
## ---
## Signif. codes: 0 '***' 0.001 '**' 0.01 '*' 0.05 '.' 0.1 ' ' 1
##
## Residual standard error: 1.829 on 97 degrees of freedom
## Multiple R-squared: 0.788, Adjusted R-squared: 0.7837
## F-statistic: 180.3 on 2 and 97 DF, p-value: < 2.2e-16
summary(model_poli3)
##
## Call:
## lm(formula = y ~ poly(x, 3, raw = TRUE), data = data)
##
## Residuals:
## Min 1Q Median 3Q Max
## -4.7866 -1.1996 -0.0497 1.3386 4.3777
##
## Coefficients:
## Estimate Std. Error t value Pr(>|t|)
## (Intercept) 5.282801 0.708433 7.457 3.93e-11 ***
## poly(x, 3, raw = TRUE)1 1.872854 0.616613 3.037 0.00307 **
## poly(x, 3, raw = TRUE)2 -0.292931 0.143693 -2.039 0.04424 *
## poly(x, 3, raw = TRUE)3 0.001176 0.009443 0.125 0.90117
## ---
## Signif. codes: 0 '***' 0.001 '**' 0.01 '*' 0.05 '.' 0.1 ' ' 1
##
## Residual standard error: 1.838 on 96 degrees of freedom
## Multiple R-squared: 0.7881, Adjusted R-squared: 0.7815
## F-statistic: 119 on 3 and 96 DF, p-value: < 2.2e-16
Berdasarkan output di atas, dapat dilihat bahwa - Model Linier : Hasil regresi linier menunjukkan nilai R^2≈0.5017, artinya model hanya mampu menjelaskan sekitar 50,17% variasi data. Slope sebesar -0.95058 signifikan, namun arah hubungan negatif ini tidak sesuai dengan pola kuadratik yang sebenarnya. -Model Polinomial derajat 2 : Model ini memberikan peningkatan yang signifikan dengan R^2≈0.788, sehingga mampu menjelaskan hampir 78,8% variasi data. Koefisien kuadratik (-0,27529) dan linear (1,80266) keduanya signifikan, sesuai dengan persamaan simulasi yang dirancang. -Model Polinomial derajat 3 : Nilai R^2 hanya sedikit lebih tinggi (0,7881) , artinya model hanya mampu menjelaskan sekitar 78,81% variasi data dibanding derajat 2, sehingga tidak memberikan peningkatan berarti. Koefisien kubik (0,001176) tidak signifikan (p-value ≈ 0.90), menandakan bahwa tambahan suku kubik tidak berkontribusi dalam menjelaskan data.
anova(model_linier, model_poli2, model_poli3)
## Analysis of Variance Table
##
## Model 1: y ~ x
## Model 2: y ~ poly(x, 2, raw = TRUE)
## Model 3: y ~ poly(x, 3, raw = TRUE)
## Res.Df RSS Df Sum of Sq F Pr(>F)
## 1 98 762.42
## 2 97 324.33 1 438.09 129.6931 <2e-16 ***
## 3 96 324.28 1 0.05 0.0155 0.9012
## ---
## Signif. codes: 0 '***' 0.001 '**' 0.01 '*' 0.05 '.' 0.1 ' ' 1
Berdasarkan output di atas, dapat dapat diketahui model linier dibandingkan dengan model polinomial derajat 2 menunjukkan penurunan Residual Sum of Squares (RSS) yang sangat besar, dari 762,42 menjadi 324,33, dengan nilai F sebesar 129,69 dan p-value < 0,001, sehingga penambahan suku kuadratik terbukti signifikan dan diperlukan untuk menjelaskan variasi data. Namun, ketika model ditingkatkan dari derajat 2 ke derajat 3, penurunan RSS hampir tidak terlihat (hanya 0,05, dari 324,33 menjadi 324,28), dengan nilai F yang sangat kecil (0.0155) dan p-value sebesar 0,9012, sehingga tambahan suku kubik tidak memberikan kontribusi berarti terhadap model.
AIC(model_linier, model_poli2, model_poli3)
## df AIC
## model_linier 3 492.9204
## model_poli2 4 409.4469
## model_poli3 5 411.4307
Berdasarkan output di atas, dapat dapat diketahui perbandingan nilai AIC menunjukkan bahwa model linier memiliki AIC tertinggi sebesar 492,92, sehingga kualitasnya paling rendah dalam menjelaskan data. Model polinomial derajat 2 justru memiliki AIC terendah, yaitu 409,45, menandakan model ini paling efisien dan optimal. Sementara itu, model polinomial derajat 3 menghasilkan AIC sebesar 411,43, sedikit lebih besar daripada derajat 2, sehingga tidak memberikan peningkatan yang berarti. Dengan demikian, model polinomial derajat 2 menjadi pilihan terbaik karena mampu menjelaskan data dengan baik sekaligus tetap sederhana dibandingkan model derajat 3.
data$pred_linier <- predict(model_linier)
data$pred_poli2 <- predict(model_poli2)
data$pred_poli3 <- predict(model_poli3)
ggplot(data, aes(x = x, y = y)) +
geom_point(alpha = 0.5) +
geom_line(aes(y = pred_linier, color = "Linier"), linewidth = 1) +
geom_line(aes(y = pred_poli2, color = "Polinomial derajat 2"), linewidth = 1) +
geom_line(aes(y = pred_poli3, color = "Polinomial derajat 3"), linewidth = 1) +
labs(title = "Perbandingan Regresi Linier vs Polinomial",
x = "X", y = "Y", color = "Model") +
theme_minimal()
### Interpretasi: Berdasarkan output di atas, dapat dapat diketahui
bahwa model linier menghasilkan garis lurus menurun yang jelas tidak
sesuai dengan pola data yang berbentuk kuadratik. Sebaliknya, model
polinomial derajat 2 dan derajat 3 membentuk kurva parabola yang lebih
sesuai dengan distribusi data. Kedua garis polinomial tampak hampir sama
dan saling menutupi, sehingga menunjukkan bahwa penambahan suku kubik
pada model derajat 3 tidak memberikan peningkatan yang berarti
dibandingkan dengan model derajat 2. Oleh karena itu, model polinomial
derajat 2 sudah cukup optimal untuk menggambarkan hubungan antara
variabel x dan y.
rmse <- function(actual, predicted) sqrt(mean((actual - predicted)^2))
data.frame(
Model = c("Linier", "Polinomial derajat 2", "Polinomial derajat 3"),
RMSE = c(rmse(data$y, data$pred_linier),
rmse(data$y, data$pred_poli2),
rmse(data$y, data$pred_poli3))
)
## Model RMSE
## 1 Linier 2.761195
## 2 Polinomial derajat 2 1.800917
## 3 Polinomial derajat 3 1.800772
Berdasarkan output di atas, dapat dapat diketahui bahwa perhitungan RMSE memperlihatkan bahwa model linier memiliki kesalahan prediksi paling besar dengan nilai sekitar 2,761195. Model polinomial derajat 2 mampu menurunkan kesalahan secara signifikan menjadi 1,800917, sehingga jauh lebih tepat dalam menggambarkan pola data. Sementara itu, model polinomial derajat 3 menghasilkan RMSE yang hampir identik dengan derajat 2 (1,800772), sehingga tidak memberikan peningkatan akurasi yang berarti. Oleh karena itu, model polinomial derajat 2 menjadi pilihan terbaik karena mampu mencapai tingkat akurasi tinggi sekaligus tetap sederhana dibandingkan dengan model derajat 3.
Skema 10-fold cross-validation diulang 5 kali untuk menguji derajat polinomial 1 sampai 6.
names(data)
## [1] "x" "y" "pred_linier" "pred_poli2" "pred_poli3"
library(caret)
set.seed(42)
kontrol <- trainControl(
method = "repeatedcv",
number = 10,
repeats = 5
)
derajat_max <- 6
hasil_cv <- data.frame(
derajat = integer(),
RMSE = numeric()
)
for (d in 1:derajat_max) {
data_cv <- data
# Membuat variabel polynomial
if (d == 1) {
data_cv$x_poly <- data_cv$x
} else {
poly_x <- poly(data_cv$x, degree = d, raw = TRUE)
data_cv$x_poly <- poly_x[, 1]
for (j in 2:d) {
data_cv[[paste0("x_poly", j)]] <- poly_x[, j]
}
}
# Formula sesuai derajat
if (d == 1) {
formula_model <- y ~ x_poly
} else {
variabel <- paste0("x_poly", 2:d)
formula_model <- as.formula(
paste("y ~ x_poly +", paste(variabel, collapse = " + "))
)
}
model_cv <- train(
formula_model,
data = data_cv,
method = "lm",
trControl = kontrol
)
hasil_cv <- rbind(
hasil_cv,
data.frame(
derajat = d,
RMSE = min(model_cv$results$RMSE)
)
)
}
hasil_cv
## derajat RMSE
## 1 1 2.757805
## 2 2 1.825068
## 3 3 1.859968
## 4 4 1.877628
## 5 5 1.871701
## 6 6 1.880719
derajat_optimal <- hasil_cv$derajat[which.min(hasil_cv$RMSE)]
cat("Derajat optimal berdasarkan CV:", derajat_optimal, "\n")
## Derajat optimal berdasarkan CV: 2
ggplot(hasil_cv, aes(x = derajat, y = RMSE)) +
geom_line(
color = "steelblue",
linewidth = 1
) +
geom_point(
size = 3,
color = "steelblue"
) +
geom_vline(
xintercept = derajat_optimal,
linetype = "dashed",
color = "firebrick"
) +
scale_x_continuous(
breaks = 1:derajat_max
) +
labs(
title = "Pemilihan Derajat Optimal via 10-Fold Cross-Validation",
x = "Derajat Polinomial",
y = "RMSE Rata-rata (Validasi Silang)"
) +
theme_minimal()
### Interpretasi: Berdasarkan output di atas, dapat dapat diketahui
bahwa validasi silang dengan repeated 10-fold cross-validation
memperlihatkan bahwa model polinomial derajat 2 memiliki RMSE rata-rata
terendah (≈1,83), sehingga menjadi model yang paling optimal. Model
linier menghasilkan RMSE tertinggi (≈2,76), menandakan performa
prediksinya paling buruk. Sementara itu, model polinomial derajat 3
hingga 6 justru menunjukkan kenaikan RMSE bertahap (≈1,86-1,88), yang
berarti peningkatan kompleksitas tidak memberikan manfaat tambahan.
Grafik RMSE terhadap derajat polinomial juga menampilkan titik minimum
yang jelas pada derajat 2, dengan garis vertikal putus-putus menandai
posisi optimal.
model_final <- lm(y ~ poly(x, derajat_optimal, raw = TRUE), data = data)
summary(model_final)
##
## Call:
## lm(formula = y ~ poly(x, derajat_optimal, raw = TRUE), data = data)
##
## Residuals:
## Min 1Q Median 3Q Max
## -4.8136 -1.1977 -0.0533 1.3549 4.3891
##
## Coefficients:
## Estimate Std. Error t value Pr(>|t|)
## (Intercept) 5.33982 0.53777 9.929 <2e-16 ***
## poly(x, derajat_optimal, raw = TRUE)1 1.80266 0.24855 7.253 1e-10 ***
## poly(x, derajat_optimal, raw = TRUE)2 -0.27529 0.02405 -11.447 <2e-16 ***
## ---
## Signif. codes: 0 '***' 0.001 '**' 0.01 '*' 0.05 '.' 0.1 ' ' 1
##
## Residual standard error: 1.829 on 97 degrees of freedom
## Multiple R-squared: 0.788, Adjusted R-squared: 0.7837
## F-statistic: 180.3 on 2 and 97 DF, p-value: < 2.2e-16
Berdasarkan output di atas, dapat diketahui bahwa model final memperlihatkan bahwa polinomial derajat 2 memang menjadi pilihan terbaik. Koefisien linear (≈1,80266) dan kuadratik (≈-0,27529) keduanya signifikan dengan p-value < 0,001, sehingga benar-benar berperan dalam menjelaskan variasi data. Intercept sebesar 5,34 juga signifikan. Nilai R^2 sebesar 0,788 menunjukkan bahwa sekitar 78,8% variasi data dapat dijelaskan oleh model ini, jauh lebih baik dibandingkan model linier.
poly(x, derajat, raw = TRUE) digunakan agar koefisien
dapat diinterpretasi langsung sebagai \(\beta_1 x + \beta_2 x^2 + \dots\)x distandardisasi terlebih dahulu
(scale(x)) agar model lebih stabil secara numerik.