ANALISIS DERET WAKTU (ANALISIS DEKOMPOSISI ADDITIVE dan MULTIPLICATIVE
Data yang dipakai adalah data volume produksi air minum PDAM
Kabupaten Serang periode Januari 2022-Desember 2024 (36 observasi
bulanan, dalam satuan ribu m\(^3\)/bulan). Tujuan dari analisis ini
adalah untuk melakukan dekomposisi additive dan multiplicative
menggunakan fungsi decompose() untuk memisahkan komponen
tren, musiman, dan residu, serta menjawab pertanyaan latihan (tren naik
atau tidak, bulan musiman tertinggi dan terendah, kondisi residu), lalu
membandingkan kedua model untuk menentukan yang lebih sesuai.
# 1. BUAT OBJEK TS
pdam <- c(410,415,405,420,430,445,455,440,425,420,418,435, # 2022
440,445,438,452,462,478,488,472,458,452,450,468, # 2023
470,476,468,483,494,510,521,504,489,483,480,499) # 2024
pdam_ts <- ts(pdam, start = c(2022,1), frequency = 12)
pdam_ts## Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec
## 2022 410 415 405 420 430 445 455 440 425 420 418 435
## 2023 440 445 438 452 462 478 488 472 458 452 450 468
## 2024 470 476 468 483 494 510 521 504 489 483 480 499
Interpretasi: Data diubah menjadi objek ts dengan frequency = 12 karena data ini bersifat bulanan. Produksi naik dari 410 pada bulan Januari 2022 menjadi 499 pada bulan Desember 2024 dan menunjukkan pola yang naik turun yang terjadi setiao tahun, dengan puncaknya sekitar bulan Juli (455, 488, 521). Perubahan naik turun ini hampir sama besarnya tiap tahun.
## Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug
## 2022 NA NA NA NA NA NA 427.7500 430.2500
## 2023 443.7083 446.4167 449.1250 451.8333 454.5000 457.2083 459.8333 462.3750
## 2024 475.4583 478.1667 480.7917 483.3750 485.9167 488.4583 NA NA
## Sep Oct Nov Dec
## 2022 432.8750 435.5833 438.2500 440.9583
## 2023 464.9167 467.4583 470.0833 472.7500
## 2024 NA NA NA NA
## Jan Feb Mar Apr May Jun
## 2022 NA NA NA NA NA NA
## 2023 0.83159722 0.33159722 0.78993056 0.22743056 -0.33506944 -0.41840278
## 2024 -0.91840278 -0.41840278 -0.87673611 -0.31423611 0.24826389 0.33159722
## Jul Aug Sep Oct Nov Dec
## 2022 -0.50173611 0.01909722 -0.52256944 -0.10590278 -0.12673611 -0.64756944
## 2023 0.41493056 -0.10590278 0.43576389 0.01909722 0.03993056 0.56076389
## 2024 NA NA NA NA NA NA
## [1] -4.5399 -1.7483 -11.9149 -0.0608 7.8351 21.2101 27.7517 9.7309
## [9] -7.3524 -15.4774 -20.1233 -5.3108
## [1] 0
## Min. 1st Qu. Median Mean 3rd Qu. Max. NA's
## -0.9184 -0.4184 -0.0434 -0.0434 0.3316 0.8316 12
## [1] 0.4862621
Interpretasi: Tren terus meningkat dari 427,75 pada bulan Juli 2022 menjadi 488,46 pada bulan Juni 2024, dengan rata-rata pertambahan sekitar +2,64 ribu m\(^3\)/bulan. Artinya, produksi air minum PDAM Kabupaten Serang menunjukkan tren naik. Nilai NA di awal dan akhir muncul karena CMA 2x12 memerlukan data di kedua sisi, indeks musiman tertinggi ada di bulan Juli (+27,75) dan terendah di bulan November (-20,12), dengan jumlah 12 indeks = 0 (sesuai dengan syarat additive).
Ada kemungkinan produksi air yang meningkat pada bulan Juli dipengaruhi oleh musim kemarau, karena pada saat itu kebutuhan air bisa aja jadi lebih tinggi. Sementara itu, produksi yang menurun pada bulan November mungkin berkaitan dengan musim hujan. Tapi ini masih berupa dugaan karena data yang digunakan tidak memuat informasi tentang kondisi cuaca maupun permintaan air. Rata-rata residu sebesar -0,043 menunjukkan nilai yang mendekati nol, dengan standar deviasi sebesar 0,486 dan nilai residu sekitar antara -0,918 hingga 0,832. Jika dilihat dari grafik, titik-titik residu menyebar di atas dan di bawah garis nol tanpa membentuk pola tertentu. Ini menunjukkan bahwa residu berfluktuasi secara acak di sekitar nol.
# 3. DEKOMMPOSISI MULTIPLICATIVE
dekomp_mul <- decompose(pdam_ts, type = "multiplicative")
plot(dekomp_mul)## Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug
## 2022 NA NA NA NA NA NA 427.7500 430.2500
## 2023 443.7083 446.4167 449.1250 451.8333 454.5000 457.2083 459.8333 462.3750
## 2024 475.4583 478.1667 480.7917 483.3750 485.9167 488.4583 NA NA
## Sep Oct Nov Dec
## 2022 432.8750 435.5833 438.2500 440.9583
## 2023 464.9167 467.4583 470.0833 472.7500
## 2024 NA NA NA NA
## [1] 0.9902 0.9963 0.9744 0.9999 1.0167 1.0449 1.0626 1.0218 0.9836 0.9657
## [11] 0.9556 0.9883
## [1] 1
## Jan Feb Mar Apr May Jun Jul
## 2022 NA NA NA NA NA NA 1.0010461
## 2023 1.0014693 1.0005740 1.0008342 1.0004650 0.9998269 1.0005500 0.9987391
## 2024 0.9983158 0.9992111 0.9989510 0.9993202 0.9999583 0.9992351 NA
## Aug Sep Oct Nov Dec
## 2022 1.0007953 0.9982074 0.9984910 0.9980699 0.9981398
## 2023 0.9989899 1.0015778 1.0012941 1.0017152 1.0016454
## 2024 NA NA NA NA NA
## Min. 1st Qu. Median Mean 3rd Qu. Max. NA's
## 0.9981 0.9989 0.9999 0.9999 1.0009 1.0017 12
# Residu multiplicative pada skala data asli
residu_mul_asli <- dekomp_mul$trend *
dekomp_mul$seasonal *
(dekomp_mul$random - 1)
sd(residu_mul_asli, na.rm = TRUE)## [1] 0.5613295
Interpretasi: Trennya sama dengan model additive. Faktor musiman paling tinggi terjadi di bulan Juli (1,0626), berarti ada peningkatan sekitar 6,3 % dibandingkan tren, dan yang terendah ada di bulan November (0,9556), berarti penurunan sekitar 4,4 % di bawah tren. Rata-rata faktor = 1, yang sesuai dengan syarat multiplicative. Nilai residu bergerak disekitar 1 (0,998 sampai 1,002), bukan di sekitar 0, dengan standar deviasi 0,00125.
## SD residu additive : 0.4862621
## SD residu multiplicative : 0.001249183
# Menelusuri residu additive bulan Desember tiap tahun
window(dekomp_add$random, start = c(2022,7), end = c(2022,7))## Jul
## 2022 -0.5017361
## Jul
## 2023 0.4149306
## 2022 2023 2024
## 50 50 53
Interpretasi: Nilai standar deviasi residu additive diperkirakan sekitar 0,486 ribu m\(^3\), sementara untuk skala rasio, standar deviasi residu multiplicative mencapai 0,001249. Kedua nilai ini tidak bisa dibandingkan langsung karena berada di skala yang berbeda. Jika residu multiplicative diubah kembali ke skala data asli, standar deviasinya sekitar 0,561 ribu m\(^3\). Residu additive pada bulan Juli memang berubah dari negatif pada tahun 2022 (-0,50) menjadi positif pada tahun 2023 (+0,41), tapi nilai tersebut sangat kecil jika dibandingkan dengan besar fluktuasi musiman yang mencapai sekitar 20 ribu di atas atau di bawah nilai rata-rata dan tidak menunjukkan pola terhadap level. Dari data yang ada, besar fluktuasi musiman setiap tahun hampir tetap, yaitu sekitar 50, 50, 53 ribu m\(^3\), meskipun tingkat produksinya/levelnya terus meningkat. Jadi, pola ini lebih cocok menggunakan model additive karena pengaruh musimannya relatif tetap dalam satuan m\(^3\).
KESIMPULAN AKHIR
Berdasarkan hasil analisis dekomposisi, produksi air minum oleh PDAM Kabupaten Serang dari Januari 2022-Desember 2024 menunjukkan tren yang meningkat. Tren produksinya naik dari sekitar 427,75 ribu m\(^3\)/bulan pada Juli 2022 menjadi 488,46 ribu m\(^3\)/bulan pada Juni 2024.
Melihat pola musiman, bulan Juli memiliki indeks musiman additive tertinggi dengan angka +27,75, sedangkan November memiliki indeks terendah yaitu -20,12. Ini berarti, produksi di bulan Juli lebih tinggi sekitar 27,75 ribu m\(^3\) dibandingkan dengan nilai trennya, sementara November berada di bawah tren dengan selisih sekitar 20,12 ribu m\(^3\). Penyebab dari pola ini masih bersifat dugaan karena data yang dipakai tidak memberikan informasi terkait cuaca atau permintaan air.
Pada dekomposisi multiplicative, pola serupa juga terlihat. Faktor musiman untuk Juli tercatat sebesar 1,0626, menunjukkan bahwa produksi di bulan Juli sekitar 6,26% lebih tinggi dari tren, sedangkan faktor untuk November berada di angka 0,9556, berarti produksi bulan tersebut sekitar 4,44% lebih rendah dari tren.
Untuk residu, model additive menunjukkan rata-rata residu sekitar -0,043 dengan standar deviasi sebesar 0,486 ribu m\(^3\), sehingga residu ini berfluktuasi di sekitar angka nol. Sementara, residu dari model multiplicative memiliki rata-rata sekitar 1 dan standar deviasi 0,001249, sehingga residunya berfluktuasi di sekitar angka satu.
Secara umum, model additive lebih sesuai/tepat untuk merepresentasikan data ini. Alasannya, standar deviasi residu additive (0,486 ribu m\(^3\)) lebih kecil dari pada residu multiplicative setelah diubah ke skala asli, yaitu 0,561 ribu m\(^3\), dan fluktuasi musiman per tahun hampir tetap, yaitu 50, 50, 53 ribu m\(^3\) walaupun level produksi naik.