Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Provinsi Jawa Barat menunjukkan tren peningkatan dari tahun ke tahun. Karena data ini bersifat runtun waktu (time series), terdapat kemungkinan pelanggaran asumsi non-autokorelasi pada model regresi linear sederhana. Laporan ini menyajikan proses pemodelan regresi awal, pendeteksian autokorelasi melalui uji Durbin-Watson, serta penanganannya menggunakan metode Hildreth-Lu.
Package lmtest digunakan untuk melakukan uji
Durbin-Watson.
library(lmtest)
Data yang digunakan adalah nilai IPM Jawa Barat selama 12 periode
pengamatan (2010-2021), dengan variabel X sebagai indeks
waktu dan Y sebagai nilai IPM.
tahun <- 1:12
ipm <- c(66.98, 67.33, 68.25, 68.80, 69.50, 70.05,
70.40, 70.66, 71.30, 71.70, 72.09, 72.45)
data_ipm <- data.frame(X = tahun, Y = ipm)
data_ipm
## X Y
## 1 1 66.98
## 2 2 67.33
## 3 3 68.25
## 4 4 68.80
## 5 5 69.50
## 6 6 70.05
## 7 7 70.40
## 8 8 70.66
## 9 9 71.30
## 10 10 71.70
## 11 11 72.09
## 12 12 72.45
Model regresi awal dibentuk menggunakan metode Ordinary Least Squares
(OLS) dengan Y sebagai variabel terikat dan X
sebagai variabel bebas.
model <- lm(Y ~ X, data = data_ipm)
summary(model)
##
## Call:
## lm(formula = Y ~ X, data = data_ipm)
##
## Residuals:
## Min 1Q Median 3Q Max
## -0.37146 -0.15009 0.01583 0.11883 0.34169
##
## Coefficients:
## Estimate Std. Error t value Pr(>|t|)
## (Intercept) 66.69803 0.14237 468.50 < 2e-16 ***
## X 0.50171 0.01934 25.94 1.67e-10 ***
## ---
## Signif. codes: 0 '***' 0.001 '**' 0.01 '*' 0.05 '.' 0.1 ' ' 1
##
## Residual standard error: 0.2313 on 10 degrees of freedom
## Multiple R-squared: 0.9854, Adjusted R-squared: 0.9839
## F-statistic: 672.7 on 1 and 10 DF, p-value: 1.669e-10
Berdasarkan ringkasan model, dapat dilihat nilai koefisien intersep dan slope beserta signifikansinya, yang menjadi dasar untuk pemeriksaan asumsi selanjutnya.
Uji Durbin-Watson digunakan untuk mendeteksi ada tidaknya autokorelasi pada residual model. Hipotesis yang diuji adalah \(H_0\): tidak ada autokorelasi positif, melawan \(H_1\): terdapat autokorelasi positif.
dw_awal <- dwtest(model)
dw_awal
##
## Durbin-Watson test
##
## data: model
## DW = 0.72034, p-value = 0.0008403
## alternative hypothesis: true autocorrelation is greater than 0
Metode Hildreth-Lu menangani autokorelasi dengan melakukan transformasi data berdasarkan nilai koefisien autokorelasi (\(\rho\)) yang meminimumkan Sum of Squared Errors (SSE), melalui pendekatan grid search.
hildreth.lu <- function(rho, model) {
x <- model.matrix(model)[, -1]
y <- model.response(model.frame(model))
n <- length(y)
t <- 2:n
y_t <- y[t] - rho * y[t - 1]
x_t <- x[t] - rho * x[t - 1]
return(lm(y_t ~ x_t))
}
Pencarian nilai \(\rho\) dilakukan pada rentang 0.01 sampai 0.99 dengan interval 0.01. Nilai \(\rho\) optimum dipilih berdasarkan SSE terkecil.
rho_seq <- seq(0.01, 0.99, by = 0.01)
sse_val <- sapply(rho_seq, function(r) deviance(hildreth.lu(r, model)))
tab_hl <- data.frame(rho = rho_seq, SSE = sse_val)
opt_rho <- tab_hl$rho[which.min(tab_hl$SSE)]
cat("Nilai rho optimum terpilih:", opt_rho, "\n")
## Nilai rho optimum terpilih: 0.68
plot(tab_hl$rho, tab_hl$SSE, type = "l", col = "blue", lwd = 2,
xlab = expression(rho), ylab = "SSE",
main = "Grafik SSE terhadap Nilai Rho")
abline(v = opt_rho, col = "red", lty = 2)
Nilai \(\rho\) optimum yang diperoleh adalah 0.68, yang selanjutnya digunakan untuk membentuk model transformasi akhir.
model_hl <- hildreth.lu(opt_rho, model)
summary(model_hl)
##
## Call:
## lm(formula = y_t ~ x_t)
##
## Residuals:
## Min 1Q Median 3Q Max
## -0.33515 -0.06085 -0.01155 0.13955 0.20825
##
## Coefficients:
## Estimate Std. Error t value Pr(>|t|)
## (Intercept) 21.54702 0.15771 136.624 3.06e-16 ***
## x_t 0.43313 0.05103 8.487 1.38e-05 ***
## ---
## Signif. codes: 0 '***' 0.001 '**' 0.01 '*' 0.05 '.' 0.1 ' ' 1
##
## Residual standard error: 0.1713 on 9 degrees of freedom
## Multiple R-squared: 0.8889, Adjusted R-squared: 0.8766
## F-statistic: 72.03 on 1 and 9 DF, p-value: 1.376e-05
Uji Durbin-Watson kembali dilakukan pada model hasil transformasi untuk memastikan masalah autokorelasi telah teratasi.
dw_akhir <- dwtest(model_hl)
dw_akhir
##
## Durbin-Watson test
##
## data: model_hl
## DW = 2.115, p-value = 0.4258
## alternative hypothesis: true autocorrelation is greater than 0
Setelah dilakukan transformasi Hildreth-Lu, nilai statistik Durbin-Watson berubah menjadi 2.115 dengan p-value 0.4258. Hal ini mengindikasikan bahwa masalah autokorelasi pada model telah berhasil diatasi.
Koefisien hasil model transformasi dikembalikan ke bentuk persamaan regresi Y terhadap X yang asli, dengan intersep dibagi oleh \((1 - \rho)\).
b0_asli <- coef(model_hl)[1] / (1 - opt_rho)
b1_asli <- coef(model_hl)[2]
cat("=======================================================\n")
## =======================================================
cat("PERSAMAAN REGRESI AKHIR (setelah dikembalikan ke bentuk asli):\n")
## PERSAMAAN REGRESI AKHIR (setelah dikembalikan ke bentuk asli):
cat(sprintf("Y = %.4f + %.4f * X\n", b0_asli, b1_asli))
## Y = 67.3344 + 0.4331 * X
cat("=======================================================\n")
## =======================================================
Berdasarkan hasil analisis, model regresi OLS awal antara IPM (Y) dan waktu (X) menunjukkan indikasi autokorelasi berdasarkan uji Durbin-Watson. Penanganan dengan metode Hildreth-Lu menghasilkan nilai \(\rho\) optimum sebesar 0.68, yang kemudian digunakan untuk membentuk model transformasi. Setelah transformasi, persamaan regresi akhir yang diperoleh adalah:
\[\hat{Y} = 67.3344 + 0.4331 X\]
Persamaan ini merepresentasikan hubungan antara waktu dan nilai IPM Jawa Barat setelah masalah autokorelasi ditangani.