Dalam R, fungsi c() digunakan untuk menggabungkan satu
nilai data dengan nilai data lainnya. Sebagai contoh, diberikan data 10,
20, 40, 15, dan 40 yang akan disimpan dalam variabel bernama
simpan.
simpan = c(10, 20, 40, 15, 40)
Untuk menampilkan data yang telah disimpan dalam variabel
simpan, digunakan perintah berikut.
simpan
## [1] 10 20 40 15 40
Data yang tersimpan dalam sebuah variabel dapat diakses berdasarkan
posisi atau indeksnya. Misalnya, untuk menampilkan nilai pada posisi
ke-3 dari variabel simpan, digunakan perintah berikut.
simpan[3]
## [1] 40
Untuk menampilkan nilai pada posisi ke-4, digunakan perintah berikut.
simpan[4]
## [1] 15
Untuk menampilkan nilai pada posisi ke-1, ke-3, dan ke-4, digunakan
c() di dalam tanda [ ].
simpan[c(1,3,4)]
## [1] 10 40 15
Selain itu, data pada beberapa posisi yang berurutan dapat diakses
menggunakan tanda :. Berikut digunakan untuk menampilkan
data pada posisi ke-2 sampai ke-4.
simpan[2:4]
## [1] 20 40 15
Nilai data yang tersimpan dalam variabel dapat diubah berdasarkan posisi atau indeksnya. Pada contoh berikut, nilai pada posisi ke-3 yang semula 40 diubah menjadi 100.
simpan[3] = 100
simpan
## [1] 10 20 100 15 40
Selanjutnya, nilai pada posisi ke-4 yang semula 15 diubah menjadi 10000.
simpan[4] = 10000
simpan
## [1] 10 20 100 10000 40
Misalkan sebuah variabel bernama NILAI menyimpan lima
nilai, yaitu 10, 40, 45, 30, dan 80.
NILAI = c(10, 40, 45, 30, 80)
NILAI
## [1] 10 40 45 30 80
Nilai 45 berada pada posisi atau indeks ke-3. Untuk menghapus nilai tersebut, digunakan tanda negatif pada indeks.
NILAI = NILAI[-3]
NILAI
## [1] 10 40 30 80
Selanjutnya, nilai 80 berada pada posisi ke-4 dari data yang tersisa. Nilai tersebut dapat dihapus dengan perintah berikut.
NILAI = NILAI[-4]
NILAI
## [1] 10 40 30
Untuk menghapus nilai pada posisi pertama dan ketiga secara bersamaan, digunakan kode berikut.
NILAI = NILAI[c(-1,-3)]
NILAI
## [1] 40
Operator > digunakan untuk memilih atau menampilkan
nilai yang lebih besar dari suatu nilai tertentu.
Misalkan variabel NILAI menyimpan data 100, 95, 70, 80,
25, 60, 80, 60, 55, dan 90.
NILAI = c(100, 95, 70, 80, 25, 60, 80, 60, 55, 90)
Untuk menampilkan nilai yang lebih besar dari 80, digunakan perintah berikut.
NILAI[NILAI > 80]
## [1] 100 95 90
Operator < digunakan untuk memilih atau menampilkan
nilai yang lebih kecil dari suatu nilai tertentu.
Dengan data NILAI yang sama, untuk menampilkan nilai
yang lebih kecil dari 70 digunakan perintah berikut.
NILAI[NILAI < 70]
## [1] 25 60 60 55
Operator & digunakan untuk menggabungkan dua kondisi
yang harus dipenuhi secara bersamaan.
Misalkan akan ditampilkan nilai NILAI yang lebih besar
dari 60 dan lebih kecil dari 80.
NILAI[NILAI > 60 & NILAI < 80]
## [1] 70
Operator | digunakan untuk menggabungkan dua kondisi
yang salah satunya dapat terpenuhi.
Misalkan akan ditampilkan nilai NILAI yang lebih besar
dari 80 atau lebih kecil dari 30.
NILAI[NILAI > 80 | NILAI < 30]
## [1] 100 95 25 90
Operator < dapat digunakan untuk menghapus atau
mempertahankan data berdasarkan suatu batas nilai.
Misalkan nilai-nilai yang lebih besar atau sama dengan 75 akan
dihapus dari variabel NILAI. Dengan demikian, nilai yang
tersisa adalah nilai yang lebih kecil dari 75.
NILAI = c(100, 95, 70, 80, 25, 60, 80, 60, 55, 90)
NILAI = NILAI[NILAI < 75]
NILAI
## [1] 70 25 60 60 55
Operator > juga dapat digunakan untuk mempertahankan
nilai yang lebih besar dari suatu batas tertentu.
Misalkan nilai-nilai yang lebih kecil atau sama dengan 90 akan dihapus, sehingga nilai yang tersisa adalah 100 dan 95.
NILAI = c(100, 95, 70, 80, 25, 60, 80, 60, 55, 90)
NILAI = NILAI[NILAI > 90]
NILAI
## [1] 100 95
Misalkan variabel NILAI menyimpan 10 nilai. Setiap nilai
yang lebih kecil dari 65 akan ditambah dengan 10.
Kode berikut menggunakan function, for, dan
if.
fungsi = function(x)
{
for(i in 1:length(x))
{
if(x[i] < 65)
{
x[i] = x[i] + 10;
}
print(x[i])
}
}
A = c(100, 95, 70, 80, 25, 60, 80, 60, 55, 90)
fungsi(A)
## [1] 100
## [1] 95
## [1] 70
## [1] 80
## [1] 35
## [1] 70
## [1] 80
## [1] 70
## [1] 65
## [1] 90
Dalam R terdapat beberapa jenis data, yaitu:
Data yang berupa angka merupakan data berjenis numeric. Sebagai contoh, angka 1000 merupakan data numeric.
mode(1000)
## [1] "numeric"
Data yang berupa karakter diapit dengan tanda petik ganda. Contohnya
adalah "HALO".
mode("HALO")
## [1] "character"
Data yang berjenis logika terdiri dari dua nilai, yaitu
T atau F. T merupakan singkatan
dari True, sedangkan F merupakan singkatan dari False.
Misalkan sebuah variabel bernama d menyimpan data logika
F.
d = (F)
mode(d)
## [1] "logical"
Data yang berjenis fungsi mempunyai ciri menggunakan kata
function. Berikut merupakan contoh fungsi kuadrat.
kuadrat = function(x)
{
print(x*x);
}
A = c(4)
kuadrat(A)
## [1] 16
mode(kuadrat)
## [1] "function"
R menyediakan beberapa operator matematika, yaitu penjumlahan
+, pengurangan -, perkalian *,
pembagian /, pangkat ^, dan sisa pembagian
%%.
Contoh berikut menggunakan dua variabel A dan B.
A = c(1,2,3)
B = c(4,5,6)
C = A+B
C
## [1] 5 7 9
Contoh penjumlahan lainnya adalah menambahkan nilai 2 ke setiap nilai dalam A.
A = c(1,2,3)
B = 2+A
B
## [1] 3 4 5
Operator pengurangan digunakan untuk mengurangi nilai-nilai dalam dua variabel.
A = c(2,4,6)
B = c(1,3,5)
B-A
## [1] -1 -1 -1
Operator perkalian dapat digunakan dengan mengalikan data dengan suatu nilai.
A = c(4,8,12)
A*0.5
## [1] 2 4 6
Operator pembagian digunakan untuk membagi nilai dalam satu variabel dengan nilai dalam variabel lainnya.
A = c(4,8,12)
B = c(2,2,2)
A/B
## [1] 2 4 6
Operator ^ digunakan untuk perpangkatan.
A = c(3,6,1)
B = c(2,2,0)
A^B
## [1] 9 36 1
Operator %% digunakan untuk mendapatkan sisa hasil
pembagian.
A = c(5,2,7)
B = c(3,2,6)
C = A%%B
C
## [1] 2 0 1
Fungsi length() digunakan untuk mengetahui jumlah elemen
yang tersimpan atau terkandung dalam sebuah variabel.
Misalkan variabel A menyimpan nilai 100, 70, 80, 55, 80,
70, dan 80.
A = c(100,70,80,55,80,70,80)
length(A)
## [1] 7
Fungsi sort() digunakan untuk mengurutkan data.
Misalkan variabel A menyimpan nilai 70, 80, 50, 25, 100,
dan 60.
A = c(70,80,50,25,100,60)
sort(A)
## [1] 25 50 60 70 80 100
Fungsi diff() digunakan untuk menghitung selisih antara
nilai yang berurutan.
Misalkan diberikan data 100, 50, 70, 80, dan 60. Selisihnya adalah:
Kode R yang digunakan adalah sebagai berikut.
A = c(100,50,70,80,60)
diff(A)
## [1] -50 20 10 -20
Fungsi sum() digunakan untuk menjumlahkan seluruh nilai
data.
Misalkan variabel A menyimpan nilai 50, 60, 70, dan
80.
A = c(50,60,70,80)
sum(A)
## [1] 260
Fungsi sqrt() digunakan untuk menghitung nilai akar
pangkat dua dari suatu bilangan.
Sebagai contoh, akar pangkat dua dari 81 adalah 9.
sqrt(81)
## [1] 9
Fungsi max() digunakan untuk menentukan nilai maksimum
dalam suatu data.
Misalkan diberikan data 10, 25, 90, 75, 95, dan 57.
A = c(10,25,90,75,95,57)
max(A)
## [1] 95
Fungsi min() digunakan untuk menentukan nilai minimum
dalam suatu data.
A = c(10,25,90,75,95,57)
min(A)
## [1] 10
exp merupakan singkatan dari exponential atau
eksponensial. Nilai eksponensial adalah 2,71828182845…
Contoh penggunaan fungsi exp() dalam R adalah sebagai
berikut.
exp(1)
## [1] 2.718282
exp(2)
## [1] 7.389056
Pi atau π mempunyai nilai sekitar 3,141593.
Nilai pi dapat ditampilkan menggunakan perintah berikut.
pi
## [1] 3.141593
Fungsi options() dapat digunakan untuk mengatur jumlah
digit angka yang ditampilkan.
Misalkan hanya ingin ditampilkan 3 digit angka dari nilai pi.
options(digits=3)
pi
## [1] 3.14
Fungsi seq() dapat digunakan untuk menampilkan urutan
nilai.
Misalkan ingin ditampilkan nilai dari 1 sampai 10.
seq(from=1, to=10)
## [1] 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
Misalkan ingin ditampilkan 4 buah nilai, dimulai dari 2, kemudian 2.5, 3, dan 3.5, dengan jarak 0.5.
seq(from=2, by=0.5, length.out=4)
## [1] 2.0 2.5 3.0 3.5
Contoh berikut digunakan untuk menampilkan nilai-nilai dengan jarak 3, dimulai dari angka 2 sampai 30. Nilai yang dihasilkan adalah 2, 5, 8, 11, 14, 17, 20, 23, 26, dan 29.
panggil = function(x,y,z)
{
a = x;
print(a);
for(i in x:z)
{
a = a+y;
if(a>z)
{
break;
}
print(a);
}
}
panggil(2,3,30)
## [1] 2
## [1] 5
## [1] 8
## [1] 11
## [1] 14
## [1] 17
## [1] 20
## [1] 23
## [1] 26
## [1] 29
Fungsi table() digunakan untuk menyajikan data dalam
bentuk tabel.
Misalkan variabel A menyimpan data berikut.
A = c(10, 10, 30, 10, 30, 10, 10, 40, 40, 70, 90, 70, 80, 60, 60, 90)
table(A)
## A
## 10 30 40 60 70 80 90
## 5 2 2 2 2 1 2
Penyajian data juga dapat dilakukan dengan menampilkan informasi proporsi.
A = c(10, 10, 30, 10, 30, 10, 10, 40, 40, 70, 90, 70, 80, 60, 60, 90)
table(A)/length(A)
## A
## 10 30 40 60 70 80 90
## 0.3125 0.1250 0.1250 0.1250 0.1250 0.0625 0.1250
Sebagai contoh lain, terdapat survei terhadap 10 orang untuk melihat apakah seseorang terkena insomnia atau tidak. Data yang diperoleh adalah ya, tidak, ya, ya, ya, ya, tidak, ya, tidak, ya.
hasil = c("ya", "tidak", "ya", "ya", "ya", "ya", "tidak", "ya", "tidak", "ya")
table(hasil)
## hasil
## tidak ya
## 3 7
Data tersebut juga dapat disajikan dalam bentuk proporsi.
hasil = c("ya", "tidak", "ya", "ya", "ya", "ya", "tidak", "ya", "tidak", "ya")
table(hasil)/length(hasil)
## hasil
## tidak ya
## 0.3 0.7
Fungsi factor() digunakan untuk mengetahui keragaman
level atau faktor dalam suatu data.
Misalkan diberikan data ikan dan udang.
A = c("ikan", "ikan", "udang", "ikan", "udang", "ikan", "ikan", "udang")
factor(A)
## [1] ikan ikan udang ikan udang ikan ikan udang
## Levels: ikan udang
Berdasarkan data tersebut terdapat dua faktor, yaitu ikan dan udang.
Contoh berikutnya menggunakan data sarjana, diploma, dan pengangguran.
A = c("sarjana", "diploma", "sarjana", "pengangguran", "sarjana", "diploma",
"diploma", "pengangguran")
factor(A)
## [1] sarjana diploma sarjana pengangguran sarjana
## [6] diploma diploma pengangguran
## Levels: diploma pengangguran sarjana
Berdasarkan data tersebut terdapat tiga faktor, yaitu sarjana, diploma, dan pengangguran.
Fungsi barplot() digunakan untuk menyajikan data dalam
bentuk diagram batang.
Misalkan variabel A menyimpan data 10, 10, 10, 10, 20,
20, 30, 30, 30, 30, 30, dan 30.
A = c(10, 10, 10, 10, 20, 20, 30, 30, 30, 30, 30, 30)
barplot(table(A))
Pada data tersebut, nilai 10 mempunyai frekuensi 4, nilai 20 mempunyai frekuensi 2, dan nilai 30 mempunyai frekuensi 6.
Grafik batang juga dapat disajikan dalam bentuk proporsi.
A = c(10, 10, 10, 10, 20, 20, 30, 30, 30, 30, 30, 30)
barplot(table(A)/length(A))
Fungsi plot() dapat digunakan untuk memplot data.
Misalkan variabel A menyimpan data 10, 10, 10, 10, 10,
20, 20, 20, 30, 30, dan 40. Fungsi table() digunakan
terlebih dahulu untuk mengetahui frekuensi masing-masing nilai.
A = c(10,10,10,10,10,20,20,20,30,30,40)
table(A)
## A
## 10 20 30 40
## 5 3 2 1
Berdasarkan data tersebut, nilai 10 muncul sebanyak 5, nilai 20 sebanyak 3, nilai 30 sebanyak 2, dan nilai 40 sebanyak 1.
Untuk memplot nilai dan frekuensi, digunakan kode berikut.
nilai = c(10,20,30,40)
frekuensi = c(5,3,2,1)
plot(nilai,frekuensi)
Sebagai alternatif, data juga dapat diplot secara langsung
menggunakan plot(table(A)).
A = c(10,10,10,10,10,20,20,20,30,30,40)
plot(table(A))