Data yang digunakan pada tugas ini adalah data curah hujan dekadal (10-harian) tingkat provinsi di Indonesia periode Januari 2022 - Agustus 2026, beserta ringkasan tahunannya, yang dilengkapi dengan data luas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) per provinsi tahun 2022-2026.
Variabel penting:
rfh : curah hujan 10-harian (mm)rfh_avg : rata-rata jangka panjang curah hujan
10-harian (mm)rfq : anomali curah hujan (%), yaitu rasio curah hujan
aktual terhadap rata-rata jangka panjangpath_excel <- "C:/Users/user/OneDrive - untirta.ac.id/Documents/Semester 5/Datacoba1 (1) FIX.xlsx"
dp <- read_excel(path_excel, sheet="Data_Project") %>%
mutate(rfh=as.numeric(rfh), tahun=as.factor(tahun)) %>% filter(!is.na(rfh))prov_jawa <- c("DKI Jakarta", "Jawa Barat", "Jawa Tengah", "Jawa Timur", "Banten", "Yogyakarta", "DI Yogyakarta")
dp <- dp %>% mutate(
region = ifelse(provinsi %in% prov_jawa, "Jawa", "Luar Jawa"),
pulau_6 = case_when(
provinsi %in% c("Aceh","Sumatera Utara","Sumatera Barat","Riau","Jambi","Sumatera Selatan","Bengkulu","Lampung","Bangka Belitung","Kepulauan Riau") ~ "Sumatera",
provinsi %in% c("DKI Jakarta","Jawa Barat","Jawa Tengah","Yogyakarta","Jawa Timur","Banten","DI Yogyakarta") ~ "Jawa",
provinsi %in% c("Bali","Nusa Tenggara Barat","Nusa Tenggara Timur") ~ "Bali-Nusa",
provinsi %in% c("Kalimantan Barat","Kalimantan Tengah","Kalimantan Selatan","Kalimantan Timur","Kalimantan Utara") ~ "Kalimantan",
provinsi %in% c("Sulawesi Utara","Sulawesi Tengah","Sulawesi Selatan","Sulawesi Tenggara","Gorontalo","Sulawesi Barat") ~ "Sulawesi",
TRUE ~ "Maluku-Papua"
),
is_kalbar = ifelse(provinsi == "Kalimantan Barat", "Kalbar", "Non-Kalbar")
)
# Print cek Jawa
dp %>% filter(region=="Jawa") %>% distinct(provinsi) %>% arrange(provinsi)Pembagian Region membagi 34 provinsi yaitu Jawa: 6 provinsi (Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Yogyakarta). Luar Jawa: 28 provinsi sisanya.
## 1.2 Kalbar dekadal
ch <- read_excel(path_excel, sheet="Curah Hujan 2022-2026")
kalbar <- ch %>% filter(adm_level==1, PCODE=="ID61") %>% arrange(date) %>% select(date, rfh, rfh_avg, rfq)
y <- ts(kalbar$rfh, start=c(2022,1), frequency=36)
head(kalbar)## Time Series:
## Start = c(2022, 1)
## End = c(2026, 24)
## Frequency = 36
## [1] 118.23538 156.28317 88.68308 192.53218 84.74052 39.84489 95.74806
## [8] 122.11382 90.83232 101.59652 104.84531 77.25404 113.86586 139.97128
## [15] 66.10187 102.96185 146.11444 109.35066 52.91029 55.41354 133.53406
## [22] 91.84469 69.79145 216.71913 117.62859 142.60553 111.55649 179.46678
## [29] 138.98532 138.84384 145.84846 114.91888 102.43178 152.19011 127.55376
## [36] 86.80885 78.67806 76.43052 181.97778 90.12052 98.03040 137.52127
## [43] 130.31796 167.26263 142.70530 111.88850 59.03626 102.41585 93.48606
## [50] 53.04255 66.15887 85.56906 94.06623 44.84092 116.85894 65.26074
## [57] 25.27185 73.96227 51.37581 60.94173 37.77678 81.98344 49.88702
## [64] 67.33997 93.81094 126.85558 106.00545 111.32153 139.22113 148.38838
## [71] 108.09537 136.73590 141.57410 173.59862 95.68162 88.17837 170.20792
## [78] 87.41899 169.89163 72.10396 152.54265 97.27457 118.17586 116.95661
## [85] 170.60114 139.64200 123.72312 81.93691 100.13017 76.82414 124.51247
## [92] 19.79459 17.67156 84.39069 85.68015 151.17564 85.01237 13.86271
## [99] 125.41627 159.94885 141.03186 61.87403 112.38357 119.32739 133.52043
## [106] 103.21484 145.10773 92.26514 148.93188 159.83882 176.72961 66.58835
## [113] 95.41396 115.30853 151.47935 160.85768 113.29365 104.86397 106.58583
## [120] 89.23224 94.14022 92.99916 101.31335 116.35045 96.73632 74.34794
## [127] 55.04737 58.90547 24.51100 123.42423 145.65270 85.60805 134.45903
## [134] 137.62859 41.49885 63.58520 147.54768 92.50828 95.91972 113.58541
## [141] 130.28757 124.77426 138.42989 182.70992 137.71265 35.57912 61.96898
## [148] 88.19744 153.37749 87.88870 120.13037 77.22385 81.67575 122.72794
## [155] 77.65437 98.34396 93.99183 120.43932 96.73758 61.91365 85.77678
## [162] 60.61224 19.53511 22.27353 35.61916 12.59610 16.91574 20.70509
Data tahunan mencakup 170 observasi (provinsi x tahun, 2022–2026), sedangkan data dekadal Kalbar mencakup 168 periode 10-harian dari Januari 2022 hingga Agustus 2026.
dp_34 <- dp %>% group_by(provinsi) %>% summarise(mean_rfh=mean(rfh), sd_rfh=sd(rfh), n=n()) %>% arrange(mean_rfh)
dp_34Tabel tersebut merangkum mean_rfh = rata-rata curah
hujan, sd_rfh = standar deviasi / keragaman per tahun, dan
n = 5 = jumlah tahun pengamatan 2022-2026 untuk 34
provinsi.
Secara umum, terlihat HETEROGENITAS spasial yang sangat jelas. Rentang mean hanya untuk 10 provinsi terendah saja sudah 52.64 mm sampai 70.87 mm.
Nusa Tenggara Timur - 52.64 ± 7.81 mm
Rata-rata terendah se-Indonesia. Nilai SD paling kecil di antara 10 ini.
Artinya: NTT tidak hanya paling kering, tapi juga paling konsisten
kering setiap tahunnya. Ini karakteristik iklim semi-arid. Secara
statistik ini adalah outlier.
Gorontalo - 55.32 ± 11.44 mm dan NTB - 57.44 ± 8.15 mm
Klaster kering kedua. NTB masih satu region iklim dengan NTT Bali-Nusa
Tenggara. Gorontalo unik karena di Sulawesi tapi jauh lebih kering dari
Sulawesi lainnya, indikasi ada anomali lokal.
DKI Jakarta - 57.69 ± 9.24 mm
Satu-satunya provinsi di Jawa bagian barat yang masuk 5 besar terkering.
Ini tidak sesuai pola monsunal Jawa yang seharusnya basah. Bisa di
pengaruhi efek urban atau lainnya
Bali 63.68 ± 11.76, Jawa Timur 64.72 ± 12.34, Sulawesi Tengah
65.60 ± 12.23, Yogyakarta 65.88 ± 14.41
Ini adalah kelompok transisi Jawa Timur - Bali. Mean naik, tapi SD juga
naik di atas 11. Terutama Yogyakarta SD 14.41 artinya curah hujannya
tidak stabil antar tahun, kadang basah kadang sangat kering.
Sulawesi Barat 70.84 ± 16.02 & Sulawesi Tenggara 70.87 ±
15.85
Mean sudah mendekati 70 mm, tapi punya SD TERBESAR di top 10 ini
(>15.8) Koefisien Variasi (CV = sd/mean) nya >22%. Artinya: paling
heterogen secara temporal. Walaupun rata-ratanya rendah, fluktuasi
tahunannya sangat tinggi.
ggplot(dp, aes(x = tahun, y = rfh, fill = tahun)) +
geom_boxplot(show.legend = FALSE) +
labs(title = "Boxplot Curah Hujan Rata-rata Tahunan (rfh) Seluruh Provinsi",
subtitle = "Tiap titik = satu provinsi, dikelompokkan per tahun",
x = "Tahun", y = "Curah Hujan 10-harian rata-rata (mm)") +
theme_minimal()Boxplot ini membandingkan sebaran rata-rata curah hujan 10-harian 34 provinsi di setiap tahun. Dari gambar terlihat:
Median berbeda antar tahun. 2022 ≈ 90 mm, 2023 ≈ 67 mm, 2024 ≈ 80 mm, 2025 ≈ 95 mm (tertinggi), dan 2026 ≈ 65 mm (terendah). Untuk 2023 dan 2026 tergolong kering. Kotak dan mediannya paling rendah. Untuk 2023, ini kemungkinan terkait kondisi kering (misalnya pengaruh El Niño). Untuk 2026, perlu hati-hati karena data baru sampai Agustus, sehingga rata-ratanya belum mencakup Sep-Des yang di banyak wilayah adalah musim hujan. 2022 dan 2025 tergolong basah. Median dan kotaknya paling tinggi, dengan nilai maksimum 2025 mendekati 120 mm. Lebar kotak (IQR) dan whisker relatif mirip, sekitar 15-30 mm di semua tahun. Ini mendukung dugaan awal ragam yang homogen, dan sejalan dengan uji Bartlett (p = 0.105) dan Levene (p = 0.114). Ada satu pencilan (outlier) di 2026 sekitar 94 mm, yaitu provinsi yang jauh lebih basah dibanding provinsi lain pada tahun itu.
ggplot(dp, aes(x=region, y=rfh, fill=region)) +
geom_boxplot(show.legend=FALSE) +
labs(title="2.2 Jawa vs Luar Jawa", y="rfh (mm)") + theme_minimal()Interpretasi: panjang kotak (IQR) dan whisker pada kedua boxplot terlihat relatif mirip antar kelompok, mengindikasikan dugaan awal ragam yang cenderung homogen -akan dikonfirmasi dengan uji statistik formal pada bagian berikutnya.
ggplot(kalbar, aes(x = date, y = rfh)) +
geom_line(color = "steelblue") +
geom_point(size = 0.8, color = "steelblue") +
labs(title = "Curah Hujan Dekadal Provinsi Kalbar (2022-2026)",
x = "Tanggal", y = "Curah Hujan 10-harian (mm)") +
theme_minimal()Curah hujan dekadal Kalbar berfluktuasi di sekitar rata-rata ≈ 100 mm tanpa tren jangka panjang yang jelas, dengan penurunan berulang pada pertengahan tahun yang menunjukkan pola musiman lemah. Pola ini mendukung dugaan bahwa data cenderung stasioner terhadap rata-rata.
ggplot(dp, aes(x=reorder(pulau_6, rfh, median), y=rfh, fill=pulau_6)) +
geom_boxplot(show.legend=FALSE) +
geom_jitter(width=0.2, alpha=0.3) +
coord_flip() +
labs(title="2.4 Boxplot per 6 Pulau - Bali-Nusa vs Kalimantan",
x="Pulau", y="rfh (mm)") +
theme_minimal()Boxplot menunjukkan perbedaan median curah hujan yang jelas antar pulau, dengan Bali-Nusa paling kering dan Kalimantan paling basah. Lebar sebaran juga berbeda antar pulau (Maluku-Papua dan Sulawesi paling lebar), sehingga ragam tidak homogen
# Barplot 34 provinsi
ggplot(dp_34, aes(x=reorder(provinsi, mean_rfh), y=mean_rfh)) +
geom_col(fill="steelblue") +
coord_flip() +
labs(title="2.5 Rata-rata Curah Hujan per 34 Provinsi (Full)",
x="", y="mean rfh (mm)") + theme_minimal()# Top 5 terkering vs terbasah
dp_top <- bind_rows(
dp_34 %>% head(5) %>% mutate(kategori="Terkering"),
dp_34 %>% tail(5) %>% mutate(kategori="Terbasah")
)
ggplot(dp_top, aes(x=reorder(provinsi, mean_rfh), y=mean_rfh, fill=kategori)) +
geom_col() + geom_text(aes(label=round(mean_rfh,1)), hjust=-0.1) +
coord_flip() + ylim(0,110) +
labs(title="2.5b Top 5 Terkering vs Terbasah dari 34 Provinsi",
x="", y="mean rfh (mm)") + theme_minimal()Uji homogenitas menguji apakah ragam (varians) curah hujan sama antar kelompok. Hipotesis umum:
##
## Bartlett test of homogeneity of variances
##
## data: rfh by tahun
## Bartlett's K-squared = 7.6639, df = 4, p-value = 0.1047
##
## Bartlett test of homogeneity of variances
##
## data: rfh by region
## Bartlett's K-squared = 0.321, df = 1, p-value = 0.571
##
## Bartlett test of homogeneity of variances
##
## data: rfh by pulau_6
## Bartlett's K-squared = 14.5, df = 5, p-value = 0.01273
##
## One-way analysis of means (not assuming equal variances)
##
## data: rfh and pulau_6
## F = 18.545, num df = 5.000, denom df = 62.548, p-value = 2.97e-11
##
## Bartlett test of homogeneity of variances
##
## data: rfh by provinsi
## Bartlett's K-squared = 23.12, df = 33, p-value = 0.8997
kalbar_5th <- dp %>% filter(provinsi=="Kalimantan Barat")
#DATA DEKADAL 168 BARIS
kalbar_tahunan <- kalbar %>%
mutate(tahun = as.factor(format(date, "%Y")))
# Apakah curah hujan Kalbar stabil antar tahun? (pakai 168 dekad)
bartlett.test(rfh ~ tahun, data=kalbar_tahunan)##
## Bartlett test of homogeneity of variances
##
## data: rfh by tahun
## Bartlett's K-squared = 0.64915, df = 4, p-value = 0.9574
# Apakah Kalbar vs Non-Kalbar homogen? (ini pakai dp yang 170 baris, aman)
bartlett.test(rfh ~ is_kalbar, data=dp)##
## Bartlett test of homogeneity of variances
##
## data: rfh by is_kalbar
## Bartlett's K-squared = 0.075558, df = 1, p-value = 0.7834
library(dplyr)
library(car)
library(knitr)
uji_homogen <- function(label, formula, data, alpha = 0.05) {
b <- bartlett.test(formula, data = data)$p.value
l <- leveneTest(formula, data = data)$`Pr(>F)`[1]
tibble(
`Sub-bagian` = label,
`Bartlett p` = round(b, 3),
`Levene p` = round(l, 3),
Keputusan = ifelse(b > alpha & l > alpha,
"H0 diterima, homogen",
ifelse(b <= alpha & l <= alpha,
"H0 ditolak, tidak homogen",
"Tidak konsisten, periksa"))
)
}
tabel_homogen <- bind_rows(
uji_homogen("3.1 Antar tahun", rfh ~ tahun, dp),
uji_homogen("3.2 Jawa vs Luar Jawa", rfh ~ region, dp),
uji_homogen("3.3 Antar 6 pulau", rfh ~ pulau_6, dp),
uji_homogen("3.4 Antar 34 provinsi", rfh ~ provinsi, dp),
uji_homogen("3.5 Kalbar antar tahun (dekadal)", rfh ~ tahun, kalbar_tahunan),
uji_homogen("3.5 Kalbar vs Non-Kalbar", rfh ~ is_kalbar, dp)
)
kable(tabel_homogen, align = "lccl",
caption = "Ringkasan Uji Homogenitas Ragam (α = 0.05)")| Sub-bagian | Bartlett p | Levene p | Keputusan |
|---|---|---|---|
| 3.1 Antar tahun | 0.105 | 0.114 | H0 diterima, homogen |
| 3.2 Jawa vs Luar Jawa | 0.571 | 0.645 | H0 diterima, homogen |
| 3.3 Antar 6 pulau | 0.013 | 0.011 | H0 ditolak, tidak homogen |
| 3.4 Antar 34 provinsi | 0.900 | 0.904 | H0 diterima, homogen |
| 3.5 Kalbar antar tahun (dekadal) | 0.957 | 0.950 | H0 diterima, homogen |
| 3.5 Kalbar vs Non-Kalbar | 0.783 | 0.398 | H0 diterima, homogen |
##
## Augmented Dickey-Fuller Test
##
## data: y
## Dickey-Fuller = -2.7837, Lag order = 5, p-value = 0.2492
## alternative hypothesis: stationary
##
## KPSS Test for Level Stationarity
##
## data: y
## KPSS Level = 0.31906, Truncation lag parameter = 4, p-value = 0.1
##
## Augmented Dickey-Fuller Test
##
## data: y_diff
## Dickey-Fuller = -7.7452, Lag order = 5, p-value = 0.01
## alternative hypothesis: stationary
library(dplyr)
library(tseries)
library(knitr)
adf1 <- adf.test(y)
kpss1 <- kpss.test(y, null = "Level")
adf2 <- adf.test(y_diff)
# format p-value: tseries membatasi p di 0.01 dan 0.10 (nilai batas tabel)
fmt_p <- function(p, lo = 0.01, hi = 0.10) {
if (p <= lo) "≤ 0.01" else if (p >= hi && hi == 0.10 && p == 0.1) "≥ 0.10" else sprintf("%.3f", p)
}
tabel_stasioner <- tibble(
Uji = c("ADF (H0: tidak stasioner)",
"KPSS (H0: stasioner)",
"ADF setelah diff"),
Statistik = round(c(adf1$statistic, kpss1$statistic, adf2$statistic), 3),
`p-value` = c(sprintf("%.3f", adf1$p.value),
"≥ 0.10",
"≤ 0.01"),
Arti = c(
ifelse(adf1$p.value < 0.05, "Tolak H0, stasioner", "Gagal tolak H0, mengarah tidak stasioner"),
ifelse(kpss1$p.value < 0.05, "Tolak H0, tidak stasioner", "Gagal tolak H0, mengarah stasioner"),
ifelse(adf2$p.value < 0.05, "Tolak H0, stasioner", "Gagal tolak H0, mengarah tidak stasioner")
)
)
kable(tabel_stasioner, align = "lccl",
caption = "Ringkasan Uji Stasioneritas Kalbar (α = 0.05)")| Uji | Statistik | p-value | Arti |
|---|---|---|---|
| ADF (H0: tidak stasioner) | -2.784 | 0.249 | Gagal tolak H0, mengarah tidak stasioner |
| KPSS (H0: stasioner) | 0.319 | ≥ 0.10 | Gagal tolak H0, mengarah stasioner |
| ADF setelah diff | -7.745 | ≤ 0.01 | Tolak H0, stasioner |
## Df Sum Sq Mean Sq F value Pr(>F)
## tahun 4 23113 5778 26.98 <2e-16 ***
## Residuals 165 35339 214
## ---
## Signif. codes: 0 '***' 0.001 '**' 0.01 '*' 0.05 '.' 0.1 ' ' 1
Hasil ANOVA menunjukkan rata-rata curah hujan berbeda nyata antar tahun (F = 26.98; p < 0.001). ## 5.2 ANOVA 6 Pulau + Tukey
## Df Sum Sq Mean Sq F value Pr(>F)
## pulau_6 5 16153 3231 12.53 2.64e-10 ***
## Residuals 164 42299 258
## ---
## Signif. codes: 0 '***' 0.001 '**' 0.01 '*' 0.05 '.' 0.1 ' ' 1
## Tukey multiple comparisons of means
## 95% family-wise confidence level
##
## Fit: aov(formula = rfh ~ pulau_6, data = dp)
##
## $pulau_6
## diff lwr upr p adj
## Jawa-Bali-Nusa 17.366398 2.7211947 32.0116009 0.0101153
## Kalimantan-Bali-Nusa 34.131385 19.0058840 49.2568854 0.0000000
## Maluku-Papua-Bali-Nusa 32.563869 16.7452421 48.3824967 0.0000003
## Sulawesi-Bali-Nusa 12.961903 -1.6833001 27.6071062 0.1153662
## Sumatera-Bali-Nusa 23.087150 9.4532076 36.7210919 0.0000360
## Kalimantan-Jawa 16.764987 4.2235842 29.3063896 0.0022611
## Maluku-Papua-Jawa 15.197472 1.8282914 28.5666518 0.0158573
## Sulawesi-Jawa -4.404495 -16.3622530 7.5532635 0.8955606
## Sumatera-Jawa 5.720752 -4.9745922 16.4160961 0.6373988
## Maluku-Papua-Kalimantan -1.567515 -15.4611749 12.3261443 0.9995084
## Sulawesi-Kalimantan -21.169482 -33.7108843 -8.6280790 0.0000385
## Sumatera-Kalimantan -11.044235 -22.3883605 0.2998906 0.0612646
## Sulawesi-Maluku-Papua -19.601966 -32.9711465 -6.2327862 0.0005511
## Sumatera-Maluku-Papua -9.476720 -21.7297757 2.7763364 0.2296494
## Sumatera-Sulawesi 10.125247 -0.5700974 20.8205908 0.0748245
F = 12.53, p < 0.001, jadi rata-rata berbeda nyata antar pulau (Welch di 3.3 juga sama, p < 0.001). Tukey: Bali-Nusa paling kering, berbeda nyata dari Jawa, Kalimantan, Maluku-Papua, dan Sumatera (kecuali Sulawesi, p = 0.115). Kalimantan dan Maluku-Papua paling basah, keduanya berbeda nyata dari Sulawesi dan Jawa, tetapi tidak berbeda satu sama lain (p = 0.999). Jawa, Sulawesi, dan Sumatera tidak berbeda nyata satu sama lain.
## Df Sum Sq Mean Sq F value Pr(>F)
## provinsi 33 28250 856.1 3.855 1.48e-08 ***
## Residuals 136 30201 222.1
## ---
## Signif. codes: 0 '***' 0.001 '**' 0.01 '*' 0.05 '.' 0.1 ' ' 1
##
## Kruskal-Wallis rank sum test
##
## data: rfh by provinsi
## Kruskal-Wallis chi-squared = 79.488, df = 33, p-value = 1.041e-05
ANOVA dan Kruskal-Wallis sama-sama menunjukkan perbedaan curah hujan yang nyata antar 34 provinsi (p < 0.001).
##
## Two Sample t-test
##
## data: rfh by region
## t = -1.1782, df = 168, p-value = 0.2404
## alternative hypothesis: true difference in means between group Jawa and group Luar Jawa is not equal to 0
## 95 percent confidence interval:
## -11.781532 2.974663
## sample estimates:
## mean in group Jawa mean in group Luar Jawa
## 75.28889 79.69232
Tidak terdapat perbedaan rata-rata curah hujan yang nyata antara Jawa dan Luar Jawa (t = -1.178; p = 0.240).
## Series: y
## ARIMA(1,0,1)(1,0,0)[36] with non-zero mean
##
## Coefficients:
## ar1 ma1 sar1 mean
## 0.8660 -0.6180 -0.1233 101.2118
## s.e. 0.0751 0.1058 0.0895 7.3632
##
## sigma^2 = 1436: log likelihood = -847.42
## AIC=1704.84 AICc=1705.21 BIC=1720.46
##
## Training set error measures:
## ME RMSE MAE MPE MAPE MASE
## Training set -0.1627714 37.4349 29.89787 -27.31146 47.69661 0.6731422
## ACF1
## Training set 0.01991346
## Point Forecast Lo 80 Hi 80 Lo 95 Hi 95
## 2026.667 46.12788 -2.428401 94.68417 -28.1325450 120.3883
## 2026.694 52.57044 2.543103 102.59777 -23.9397680 129.0806
## 2026.722 70.34165 19.238944 121.44435 -7.8131939 148.4965
## 2026.750 72.74259 20.848076 124.63710 -6.6232190 152.1084
## 2026.778 66.82680 14.346346 119.30725 -13.4351270 147.0887
## 2026.806 77.45648 24.540883 130.37208 -3.4709416 158.3839
## 2026.833 80.36357 27.123995 133.60315 -1.0593360 161.7865
## 2026.861 81.06697 27.585720 134.54821 -0.7255419 162.8595
## 2026.889 81.50294 27.841174 135.16470 -0.5656465 163.5715
## 2026.917 84.34381 30.547076 138.14054 2.0688058 166.6188
## 2026.944 84.53133 30.633603 138.42905 2.1018702 166.9608
## 2026.972 80.69175 26.718416 134.66509 -1.8533435 163.2368
## 2027.000 87.64370 33.613731 141.67367 5.0119928 170.2754
## 2027.028 101.45299 47.380592 155.52539 18.7563929 184.1496
## 2027.056 99.25126 45.147068 153.35546 16.5060366 181.9965
## 2027.083 96.92839 42.800358 151.05641 14.1467112 179.7101
## 2027.111 89.68027 35.534374 143.82616 6.8712699 172.4893
## 2027.139 98.43906 44.279778 152.59835 15.6095842 181.2685
## 2027.167 95.05518 40.885855 149.22451 12.2103456 177.9000
## 2027.194 100.85846 46.681599 155.03531 18.0021036 183.7148
## 2027.222 100.75330 46.570800 154.93580 17.8883168 183.6183
## 2027.250 96.07551 41.888772 150.26224 13.2040476 178.9470
## 2027.278 101.96631 47.776404 156.15622 19.0899997 184.8426
## 2027.306 99.70330 45.511011 153.89559 16.8233462 182.5833
## 2027.333 100.48954 46.295462 154.68361 17.6068527 183.3722
## 2027.361 97.44444 43.249028 151.63985 14.5597100 180.3292
## 2027.389 100.55425 46.357831 154.75066 17.6679814 183.4405
## 2027.417 105.01044 50.813270 159.20761 22.1230224 187.8979
## 2027.444 102.20824 48.010510 156.40598 19.3199635 185.0965
## 2027.472 105.43281 51.234651 159.63096 22.5438805 188.3217
## 2027.500 110.60325 56.404779 164.80173 27.7138407 193.4927
## 2027.528 110.35672 56.158013 164.55544 27.4669481 193.2465
## 2027.556 108.79001 54.591121 162.98890 25.8999622 191.6801
## 2027.583 111.69732 57.498295 165.89634 28.8070650 194.5876
## 2027.611 111.22386 57.024731 165.42298 28.3334480 194.1143
## 2027.639 110.80785 56.608649 165.00705 27.9173258 193.6984
plot(forecast_arima, main="Forecast Curah Hujan Dekadal Kalbar dengan ARIMA 1 Tahun",
ylab="Curah Hujan (mm)", xlab="Dekad (36 = 1 tahun)", col="darkgreen")## ME RMSE MAE MPE MAPE MASE
## Training set -0.1627714 37.4349 29.89787 -27.31146 47.69661 0.6731422
## ACF1
## Training set 0.01991346
Model ARIMA(1,0,1)(1,0,0)[36] menghasilkan ramalan yang naik dari sekitar 46 mm menuju rata-rata jangka panjang sekitar 100-110 mm. Interval prediksi yang lebar dan MAPE 47.7% menunjukkan ketidakpastian tinggi, sehingga hasil hanya menggambarkan kecenderungan umum
Uji homogenitas. Ragam curah hujan homogen antar tahun (Bartlett p = 0.105; Levene p = 0.114), antara Jawa dan Luar Jawa (p = 0.571; 0.645), antar 34 provinsi (p = 0.900; 0.904), serta pada Kalbar antar tahun (p = 0.957; 0.950) dan Kalbar vs Non-Kalbar (p = 0.783; 0.398). Ragam hanya tidak homogen antar 6 pulau (Bartlett p = 0.013; Levene p = 0.011). Kemungkinan penyebabnya, satu pulau memuat provinsi dengan rata-rata yang berbeda-beda.
Stasioneritas Kalbar. Uji ADF (p = 0.249) dan KPSS (p ≥ 0.10) memberi hasil yang bertentangan. Dengan mempertimbangkan bahwa ADF lemah pada data persisten dan auto.arima memilih d = 0, data curah hujan dekadal Kalbar dianggap cenderung stasioner terhadap rata-rata. Differencing tidak digunakan pada model.
Perbandingan rata-rata.
Rata-rata berbeda nyata antar tahun (F = 26.98; p < 0.001). Nilai 2026 perlu ditafsirkan hati-hati karena data baru sampai Agustus. Rata-rata berbeda nyata antar pulau (Welch p < 0.001). Uji Tukey menunjukkan Bali-Nusa paling kering, Kalimantan dan Maluku-Papua paling basah, sedangkan Jawa, Sulawesi, dan Sumatera tidak berbeda nyata satu sama lain. Rata-rata berbeda nyata antar 34 provinsi (ANOVA p < 0.001; Kruskal-Wallis p < 0.001). Tidak ada perbedaan nyata antara Jawa (75.29 mm) dan Luar Jawa (79.69 mm) (t = -1.178; p = 0.240).
Forecasting Kalbar. Model ARIMA(1,0,1)(1,0,0)[36] meramalkan curah hujan naik dari sekitar 46 mm menuju rata-rata jangka panjang sekitar 100-110 mm. Komponen musimannya tidak signifikan, galatnya cukup besar (RMSE 37.43; MAPE 47.7%), dan interval prediksinya sangat lebar sampai memuat nilai negatif. Hasil ini hanya menggambarkan kecenderungan umum, bukan prediksi akurat per dekad.
https://data.humdata.org/m/dataset/idn-rainfall-subnational (Data curah hujan Indonesia untuk 5 tahun terakhir)
https://sipongi.gakkum.kehutanan.go.id/indikasi-luas-kebakaran (Data Luas Kebakaran Hutan dan Lahan (Ha) per Provinsi di Indonesia)
https://github.com/yusufsyaifudin/wilayah-indonesia/blob/master/data/list_of_area/provinces.json (List Lintang Bujur)