Nama: Gibran Daffa Atallah
NIM: 3337260122
Tim IT kampus Untirta mencatat kecepatan unduh (Mbps) dari 25 titik akses WiFi yang dipilih secara acak, untuk menduga rata-rata kecepatan unduh SELURUH titik akses (populasi).
Data yang didapat ialah:
18.2, 21.5, 19.8, 23.1, 17.6, 20.4, 22.9, 16.8, 19.1, 24.3, 18.7, 21.0,
20.2, 17.9, 23.6, 19.4, 22.1, 18.0, 20.9, 21.7, 16.5, 19.9, 23.4, 18.3,
21.2
Carilah:
mean() dan
sd().t.test() atau
perhitungan manual menggunakan qt().Sebelum memulai, data tersebut diubah menjadi vektor dan disimpan ke
variabel bernama data.
cl <- 0.95
data <- c(18.2, 21.5, 19.8, 23.1, 17.6, 20.4, 22.9, 16.8, 19.1, 24.3,
18.7, 21.0, 20.2, 17.9, 23.6, 19.4, 22.1, 18.0, 20.9, 21.7,
16.5, 19.9, 23.4, 18.3, 21.2)
data_n <- length(data)
data
## [1] 18.2 21.5 19.8 23.1 17.6 20.4 22.9 16.8 19.1 24.3 18.7 21.0 20.2 17.9 23.6
## [16] 19.4 22.1 18.0 20.9 21.7 16.5 19.9 23.4 18.3 21.2
data_n
## [1] 25
Rata-rata dapat dicari menggunakan fungsi mean(), dan
simpangan baku dapat dicari menggunakan fungsi sd().
data_mean <- mean(data)
data_sd <- sd(data)
c(mean=data_mean, sd=data_sd)
## mean sd
## 20.260000 2.217732
Interval kepercayaan dapat dicari dengan 2 metode, pertama
menggunakan metode manual dengan cara mencari setiap variabel
satu-persatu, salah satunya dengan fungsi qt, atau langsung
menggunakan fungsi t.test().
qt()Menghitung standard error dan margin of error
dengan qt().
alpha <- 1 - cl
df <- data_n - 1
c(alpha=alpha, df=df)
## alpha df
## 0.05 24.00
data_se <- data_sd / sqrt(data_n)
data_E <- data_se * qt(1 - alpha / 2, df=df)
c(se=data_se, E=data_E)
## se E
## 0.4435463 0.9154346
Menghitung batas bawah (lower) dan atas (upper) interval kepercayaan.
data_ci_qt <- c(lower = data_mean - data_E,
upper = data_mean + data_E)
data_ci_qt
## lower upper
## 19.34457 21.17543
t.test()Langsung mencari interval kepercayaan menggunakan
t.test().
data_t.test <- t.test(data, conf.level = 0.95)
data_t.test
##
## One Sample t-test
##
## data: data
## t = 45.677, df = 24, p-value < 2.2e-16
## alternative hypothesis: true mean is not equal to 0
## 95 percent confidence interval:
## 19.34457 21.17543
## sample estimates:
## mean of x
## 20.26
data_ci_t.test <- data_t.test$conf.int
data_ci_t.test
## [1] 19.34457 21.17543
## attr(,"conf.level")
## [1] 0.95
Bisa dilihat bahwa hasil perhitungan interval kepercayaan menggunakan
qt() dan t.test() sama, yaitu
19.34457 untuk batas bawah dan 21.17543 untuk
batas atas, yang bisa ditulis menjadi [19.34, 21.18].
t.test_90 <- t.test(data, conf.level=0.9)
data_ci_90 <- round(t.test_90$conf.int, 2)
data_ci_90
## [1] 19.50 21.02
## attr(,"conf.level")
## [1] 0.9
Interval kepercayaan sudah didapat pada soal sebelumnya, yaitu
[19.34, 21.18].
data_ci_95 <- round(data_ci_t.test, 2)
data_ci_95
## [1] 19.34 21.18
## attr(,"conf.level")
## [1] 0.95
t.test_99 <- t.test(data, conf.level=0.99)
data_ci_99 <- round(t.test_99$conf.int, 2)
data_ci_99
## [1] 19.02 21.50
## attr(,"conf.level")
## [1] 0.99
Bisa dilihat dari hasil perhitungan interval kepercayaan untuk 90%, 95%, dan 99%, bahwa semakin tinggi tingkat kepercayaan (confidence level), semakin besar pula lebar interval kepercayaan.
Untuk membuktikannya bisa dilihat dari hasil dibawah ini.
c(range_90 = data_ci_90[2] - data_ci_90[1],
range_95 = data_ci_95[2] - data_ci_95[1],
range_99 = data_ci_99[2] - data_ci_99[1])
## range_90 range_95 range_99
## 1.52 1.84 2.48
Bisa dilihat dari kode diatas bahwa semakin besar confidence level, semakin lebar jarak interval kepercayaan. Hal ini karena semakin besar confidence level, maka semakin besar pula nilai kritis yang digunakan untuk margin of error, hal ini karena confidence level yang tinggi berusaha menampung data sebanyak dan seakurat mungkin.
Margin of error (batas kesalahan) adalah setengah lebar interval kepercayaan. Dalam kata lain, margin of error adalah estimasi kesalahan perhitungan rata-rata sampel yang mungkin terjadi dari rata-rata asli populasi. Dalam konteks kasus ini, rata-rata kecepatan wifi 20.26 Mbps dengan menggunakan interval kepercayaan 95%, mungkin meleset hingga ±0.92 Mbps dari rata-rata keseluruhan/populasi, yang artinya rata-rata yang sebenarnya mungkin berada diantara 19.34 Mbps hingga 21.18 Mbps.
Pada galat tipe I, manajemen gagal menyimpulkan bahwa kecepatan WiFi
memenuhi standar minimum 20 Mbps (< 20 Mbps), padahal
sebenarnya memenuhi (>= 20 Mbps).
Risikonya manajemen menganggap belum ada bukti bahwa WiFi memenuhi standar minimum 20 Mbps, sehingga kampus melakukan peningkatan yang tidak diperlukan, memakan waktu, uang, dan tenaga.
Pada galat tipe II, manajemen menyimpulkan bahwa kecepatan WiFi
memenuhi standar minimum 20 Mbps (>= 20 Mbps), padahal
sebenarnya tidak memenuhi (< 20 Mbps).
Risikonya manajemen menganggap kecepatan WiFi sudah memenuhi standar, padahal sebenarnya belum, sehingga tidak dilakukan peningkatan, merugikan pihak yang menggunakan Wifi kampus karena kecepatannya tidak sesuai dengan apa yang dikatakan.