title: “Tugas Statistika Pert.2” author: “Dhafi (337260055)” date: “2026-09-18” output: html_document

# Masukkan data
data_wifi <- c(18.2, 21.5, 19.8, 23.1, 17.6, 20.4, 22.9, 16.8, 19.1, 24.3,
               18.7, 21.0, 20.2, 17.9, 23.6, 19.4, 22.1, 18.0, 20.9, 21.7,
               16.5, 19.9, 23.4, 18.3, 21.2)

# Hitung Rata-rata dan Standar Deviasi
mean_wifi <- mean(data_wifi)
sd_wifi <- sd(data_wifi)

mean_wifi
## [1] 20.26
sd_wifi
## [1] 2.217732
# Menggunakan fungsi t.test langsung
t.test(data_wifi, conf.level = 0.95)
## 
##  One Sample t-test
## 
## data:  data_wifi
## t = 45.677, df = 24, p-value < 2.2e-16
## alternative hypothesis: true mean is not equal to 0
## 95 percent confidence interval:
##  19.34457 21.17543
## sample estimates:
## mean of x 
##     20.26
# Interval Kepercayaan 90%
ic_90 <- t.test(data_wifi, conf.level = 0.90)$conf.int

# Interval Kepercayaan 95%
ic_95 <- t.test(data_wifi, conf.level = 0.95)$conf.int

# Interval Kepercayaan 99%
ic_99 <- t.test(data_wifi, conf.level = 0.99)$conf.int

# Menampilkan Hasil
ic_90
## [1] 19.50114 21.01886
## attr(,"conf.level")
## [1] 0.9
ic_95
## [1] 19.34457 21.17543
## attr(,"conf.level")
## [1] 0.95
ic_99
## [1] 19.01943 21.50057
## attr(,"conf.level")
## [1] 0.99

Penjelasan Nomor 3 (Pengaruh Tingkat Kepercayaan): Semakin tinggi tingkat kepercayaan (dari 90% naik ke 95% lalu ke 99%), maka lebar interval akan semakin lebar. Logikanya, untuk mendapatkan tingkat kepastian yang lebih tinggi bahwa nilai rata-rata populasi berada di dalam perkiraan, rentang tebakan kita harus dibuat lebih luas.

Penjelasan Nomor 4 (Arti Margin of Error): Margin of Error menunjukkan seberapa besar batas maksimum selisih/variasi yang wajar antara rata-rata kecepatan WiFi dari 25 titik sampel yang diukur dengan rata-rata kecepatan WiFi di seluruh titik kampus Untirta yang sebenarnya. Semakin kecil Margin of Error, semakin akurat estimasi sampel kita menggambarkan kondisi WiFi kampus sesungguhnya.

Penjelasan Nomor 5 (Risiko Galat Tipe I dan Tipe II): 1. Galat Tipe I (\(\alpha\)): Manajemen menyimpulkan bahwa WiFi kampus sudah memenuhi standar (\(\ge 20\text{ Mbps}\)), padahal kondisi sebenarnya belum memenuhi standar (\(< 20\text{ Mbps}\)). * Risiko: Kampus tidak melakukan perbaikan, sehingga mahasiswa dan staf tetap mengalami koneksi WiFi yang lambat. 2. Galat Tipe II (\(\beta\)): Manajemen menyimpulkan bahwa WiFi kampus belum memenuhi standar (\(< 20\text{ Mbps}\)), padahal kondisi sebenarnya sudah memenuhi standar (\(\ge 20\text{ Mbps}\)). * Risiko: Kampus membuang anggaran secara sia-sia untuk membeli peralatan jaringan baru, padahal kualitas WiFi sebenarnya sudah memadai.