suhu_cilegon<-c(
27.8, 27.9, 28.3, 28.9, 29.1, 28.6,
28.0, 28.1, 28.4, 28.7, 28.2, 27.9,
28.0, 28.1, 28.6, 29.2, 29.4, 28.8,
28.2, 28.3, 28.6, 28.9, 28.4, 28.1
)
ts_sc<-ts(suhu_cilegon,start=c(2023,1),frequency = 12)
print(ts_sc)
## Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec
## 2023 27.8 27.9 28.3 28.9 29.1 28.6 28.0 28.1 28.4 28.7 28.2 27.9
## 2024 28.0 28.1 28.6 29.2 29.4 28.8 28.2 28.3 28.6 28.9 28.4 28.1
plot(ts_sc,
main = "Runtun Waktu Suhu Rata-Rata Bulanan Kota Cilegon 2023-2024",
ylab = "Suhu Rataan",
xlab = "Tahun",
col = "red" ,
lwd = 2)
Berdasarkan grafik runtun waktu, perubahan suhu rata-rata bulanan selama 2023 - 2024 mengalami fluktuasi dari waktu ke waktu. Suhu cenderung meningkat di beberapa bulan tertentu dan kemudian menurun pada beberapa bulan berikutnya.
tahun<-rep(2023:2024, each = 12)
tapply(suhu_cilegon, tahun, mean); tapply(suhu_cilegon, tahun, var)
## 2023 2024
## 28.325 28.550
## 2023 2024
## 0.1784091 0.2045455
Berdasarkan hasil yang ditampilkan, rata-rata suhu pada 2023 adalah \(28,325^oC\), sedangkan pada tahun 2024 suhu rataan adalah \(28,550^oC\), suhu rata-rata mengalami peningkatan sebesar \(0,225\). Sementara untuk variansi pada tahun 2023 sebesar \(0,1784\) dan variansi pada tahun 2024 sebesar \(0,204\). Penyebaran suhu dapat dikatakan relatif stabil dikarenakan perbedaan rata-rata dan variansi tiap tahun relatif kecil.
acf(ts_sc, lag.max = 12)
Berdasarkan hasil plot ACF hingga lag 12, pola yang ditunjukkan mengindikasikan ketergantungan antarobservasi pada beberapa lag dan indikasi pola yang berulang pada periode 12 bulan. Sehingga pola ACF ini termasuk berulang periodik
library("tseries")
## Registered S3 method overwritten by 'quantmod':
## method from
## as.zoo.data.frame zoo
## a. Uji Signifikansi
acf_sc<-acf(ts_sc, lag.max = 12, plot = F)
n<-length(suhu_cilegon)
batas<-1.96/sqrt(n)
cat("Batas Signifikansi 95% :",batas,"\n")
## Batas Signifikansi 95% : 0.4000833
acf_sc<-as.numeric(acf_sc$acf)[-1]
hasil_acf<-data.frame(
Lag = 1:12,
ACF = acf_sc,
Signifikan = abs(acf_sc)>batas
)
hasil_acf
## Lag ACF Signifikan
## 1 1 0.54051342 TRUE
## 2 2 -0.19464434 FALSE
## 3 3 -0.49941185 TRUE
## 4 4 -0.25034597 FALSE
## 5 5 0.12631470 FALSE
## 6 6 0.17471630 FALSE
## 7 7 -0.05587462 FALSE
## 8 8 -0.28951010 FALSE
## 9 9 -0.30974952 FALSE
## 10 10 -0.03355937 FALSE
## 11 11 0.30739690 FALSE
## 12 12 0.43025187 TRUE
## b. Box-Pierce
Box.test(suhu_cilegon, lag = 12, type ="Box-Pierce")
##
## Box-Pierce test
##
## data: suhu_cilegon
## X-squared = 27.653, df = 12, p-value = 0.006215
## c. Uji ADF
adf.test(ts_sc)
##
## Augmented Dickey-Fuller Test
##
## data: ts_sc
## Dickey-Fuller = -2.6421, Lag order = 2, p-value = 0.3278
## alternative hypothesis: stationary
Berdasarkan hasil Uji ADF (p-value=0,3278), data suhu kota cilegon termasuk tidak stasioner dalam rata-rata. Meskipun rata-rata dan variansi tahunan relatif stabil secara deskriptif, struktur autokorelasi musiman yang signifikan menyebabkan data ini belum dikatakan sebagai deret waktu yang stationer