Pembangunan ekonomi daerah merupakan pilar utama akselerasi pertumbuhan ekonomi nasional Indonesia. Pulau Jawa secara historis memegang peranan strategis sebagai episentrum gravitasi ekonomi nasional, dengan kontribusi mencapai lebih dari 57% terhadap total Produk Domestik Bruto (PDB) nasional. Enam provinsi yang berada di Pulau Jawa, yaitu DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, dan Banten, memiliki heterogenitas struktural yang unik, baik dari sisi besaran agregat output, orientasi industrialisasi, dinamika penyerapan tenaga kerja, maupun kapasitas penyerapan investasi permodalan.
Dalam perspektif teori pertumbuhan ekonomi neoklasik yang dipelopori oleh Robert Solow serta formulasi fungsi produksi Cobb-Douglas, output agregat suatu perekonomian ditentukan oleh kombinasi dua faktor produksi primer, yakni akumulasi kapital (modal/investasi) dan ketersediaan tenaga kerja (labor). Di era pasca-pandemi dan transformasi struktural saat ini, pemerintah daerah dihadapkan pada tuntutan untuk merumuskan kebijakan fiskal dan iklim investasi yang efektif guna mendorong pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) tanpa mengorbankan stabilitas penyerapan tenaga kerja lokal.
Pendekatan analisis statistika konvensional berbasis cross-section murni sering kali gagal menangkap dinamika perubahan dari waktu ke waktu, sedangkan pendekatan time-series murni rentan terhadap keterbatasan jumlah observasi serta mengabaikan variasi karakteristik spesifik antarwilayah. Oleh karena itu, analisis regresi data panel (panel data regression) hadir sebagai metodologi komputasi yang ideal karena menggabungkan dimensi silang entitas (cross-section, \(N\)) dan dimensi deret waktu (time-series, \(T\)), sehingga mampu mengontrol heterogenitas individu yang tidak teramati (unobserved individual heterogeneity) dan menghasilkan estimasi parameter yang lebih efisien dan konsisten.
Berdasarkan latar belakang di atas, rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:
Tujuan dari penyusunan laporan komputasi statistika lanjut ini adalah:
plm pada perangkat lunak R.Data panel (pooled data, longitudinal data, atau micropanel data) merupakan struktur data di mana unit observasi yang sama (\(i = 1, 2, \dots, N\)) diamati secara berulang sepanjang beberapa periode waktu tertentu (\(t = 1, 2, \dots, T\)). Menurut Gujarati dan Porter (2009) serta Wooldridge (2010), keunggulan utama regresi data panel dibandingkan data runtut waktu murni maupun data kerat lintang murni mencakup:
Secara umum, persamaan regresi linier data panel dirumuskan sebagai berikut:
\[Y_{it} = \alpha_{it} + \sum_{k=1}^{K} \beta_{kit} X_{kit} + \varepsilon_{it}\]
di mana \(i = 1, 2, \dots, N\) melambangkan unit cross-section, \(t = 1, 2, \dots, T\) melambangkan periode waktu, \(Y_{it}\) adalah variabel dependen, \(X_{kit}\) adalah variabel penjelas ke-\(k\), dan \(\varepsilon_{it}\) adalah komponen galat acak (idiosyncratic error).
Fungsi produksi neoklasik yang dikembangkan oleh Charles Cobb dan Paul Douglas (1928) mendefinisikan hubungan antara output fisik agregat (\(Y\)) dengan masukan modal/kapital (\(K\)) dan tenaga kerja (\(L\)):
\[Y = A \cdot K^{\alpha} \cdot L^{\beta}\]
di mana \(A\) adalah efisiensi total faktor produksi (Total Factor Productivity / TFP), \(\alpha\) adalah elastisitas output terhadap kapital, dan \(\beta\) adalah elastisitas output terhadap tenaga kerja. Agar fungsi non-linear ini dapat diestimasi menggunakan teknik ekonometrika linier, kedua ruas ditransformasikan ke dalam logaritma natural (\(\ln\)):
\[\ln(Y_{it}) = \beta_0 + \beta_1 \ln(K_{it}) + \beta_2 \ln(L_{it}) + \varepsilon_{it}\]
Transformasi bentuk double-log ini memiliki keunggulan fundamental: - Interpretasi Langsung sebagai Elastisitas: Koefisien \(\beta_1\) dan \(\beta_2\) mengukur persentase perubahan output agregat apabila masukan input meningkat sebesar 1% (\(ceteris\ paribus\)). - Stabilisasi Varians Antarwilayah: Mengurangi disparitas skala nilai absolut antara provinsi berskala ekonomi raksasa (seperti DKI Jakarta dan Jawa Barat) dengan provinsi berskala lebih kecil (seperti DI Yogyakarta), sehingga meredam potensi heteroskedastisitas ekstrem.
Dalam ekonometrika data panel, terdapat tiga pendekatan estimasi utama:
Common Effect Model (dikenal juga sebagai Pooled OLS) mengasumsikan bahwa intersep dan koefisien lereng (slope) adalah konstan di seluruh entitas provinsi dan sepanjang waktu. Model ini mengabaikan perbedaan individualitas antarprovinsi:
\[\ln(\text{PDRB}_{it}) = \alpha + \beta_1 \ln(\text{Investasi}_{it}) + \beta_2 \ln(\text{TenagaKerja}_{it}) + \varepsilon_{it}\]
Asumsi dasar CEM adalah \(\text{Cov}(X_{kit}, \varepsilon_{it}) = 0\). Apabila karakteristik unik provinsi sebenarnya berkorelasi dengan variabel penjelas, estimator OLS akan bersifat bias dan inkonsisten (omitted variable bias).
Fixed Effect Model mengakomodasi heterogenitas antarprovinsi dengan mengizinkan nilai intersep berbeda-beda untuk setiap entitas, namun mengasumsikan koefisien lereng tetap konstan:
\[\ln(\text{PDRB}_{it}) = \alpha_i + \beta_1 \ln(\text{Investasi}_{it}) + \beta_2 \ln(\text{TenagaKerja}_{it}) + \varepsilon_{it}\]
di mana \(\alpha_i\) adalah intersep spesifik provinsi ke-\(i\). Estimasi FEM dilakukan menggunakan transformasi Within Estimator (mengurangkan setiap observasi dengan rata-rata waktu individunya) atau Least Squares Dummy Variable (LSDV). Keunggulan utama FEM adalah konsistensinya tetap terjaga meskipun efek spesifik individu \(\alpha_i\) berkorelasi dengan variabel independen \(X_{it}\).
Random Effect Model memperlakukan perbedaan karakteristik unik antarprovinsi sebagai variabel acak yang terintegrasi ke dalam komponen galat gabungan (composite error term):
\[\ln(\text{PDRB}_{it}) = \alpha + \beta_1 \ln(\text{Investasi}_{it}) + \beta_2 \ln(\text{TenagaKerja}_{it}) + (\mu_i + \nu_{it})\]
di mana \(\mu_i\) adalah galat spesifik individu bersifat acak dengan varians \(\sigma_{\mu}^2\), dan \(\nu_{it}\) adalah galat idiosinkratik acak dengan varians \(\sigma_{\nu}^2\). Estimasi REM dilakukan menggunakan metode Feasible Generalized Least Squares (FGLS) atau transformasi Swamy-Arora. REM mensyaratkan asumsi ketat bahwa efek acak individu \(\mu_i\) tidak boleh berkorelasi dengan variabel penjelas (\(\text{Cov}(X_{kit}, \mu_i) = 0\)).
Mengacu langsung pada modul perkuliahan Komputasi Statistika Lanjut, pemilihan model regresi data panel terbaik ditentukan melalui pengujian berjenjang:
Uji Chow digunakan untuk memilih antara Common Effect Model (CEM) dan Fixed Effect Model (FEM). - Hipotesis: \[H_0: \alpha_1 = \alpha_2 = \dots = \alpha_N = \alpha \quad (\text{Model yang tepat adalah CEM})\] \[H_1: \text{Minimal ada satu } \alpha_i \text{ yang berbeda} \quad (\text{Model yang tepat adalah FEM})\] - Statistik Uji: \[F = \frac{(RRSS - URSS) / (N - 1)}{URSS / (NT - N - K)}\] di mana \(RRSS\) adalah Restricted Residual Sum of Squares (CEM) dan \(URSS\) adalah Unrestricted Residual Sum of Squares (FEM). - Kriteria Keputusan: Jika nilai probabilitas (\(p\text{-value}\)) \(< 0.05\), maka \(H_0\) ditolak; artinya FEM lebih baik daripada CEM.
Apabila Uji Chow memilih FEM, langkah selanjutnya adalah membandingkan efisiensi dan konsistensi antara FEM dan REM melalui Uji Hausman. - Hipotesis: \[H_0: \text{Cov}(X_{it}, \mu_i) = 0 \quad (\text{Model yang tepat adalah REM})\] \[H_1: \text{Cov}(X_{it}, \mu_i) \neq 0 \quad (\text{Model yang tepat adalah FEM})\] - Statistik Uji: \[m = (\hat{\beta}_{\text{FEM}} - \hat{\beta}_{\text{REM}})' \left[ \text{Var}(\hat{\beta}_{\text{FEM}}) - \text{Var}(\hat{\beta}_{\text{REM}}) \right]^{-1} (\hat{\beta}_{\text{FEM}} - \hat{\beta}_{\text{REM}}) \sim \chi^2(K)\] - Kriteria Keputusan: Jika \(p\text{-value} < 0.05\), maka \(H_0\) ditolak; artinya FEM konsisten dan lebih layak digunakan dibandingkan REM.
Uji LM Breusch-Pagan dilakukan apabila Uji Chow memilih CEM, guna memastikan apakah komponen varians efek acak bernilai nol. - Hipotesis: \[H_0: \sigma_{\mu}^2 = 0 \quad (\text{Model yang tepat adalah CEM})\] \[H_1: \sigma_{\mu}^2 > 0 \quad (\text{Model yang tepat adalah REM})\] - Kriteria Keputusan: Jika \(p\text{-value} < 0.05\), maka \(H_0\) ditolak, sehingga REM lebih baik daripada CEM.
Pada pemodelan FEM maupun REM, pengabaian dimensi waktu saat terjadi peristiwa makro serentak (seperti krisis ekonomi atau pandemi 2020) dapat mendistorsi residu. Pengujian efek waktu dua arah (Two-Way Effect) dilakukan di R menggunakan uji signifikansi waktu:
\[F_{\text{time}} = \text{pFtest}(\text{model\_twoway}, \text{model\_oneway})\]
Jika \(p\text{-value} < 0.05\), penambahan efek waktu bersifat signifikan secara statistik, sehingga model dua arah (Two-Way FEM) menjadi pilihan yang lebih komprehensif.
Setelah model final terpilih, residu model wajib diuji kelayakannya:
Data yang digunakan dalam analisis ini merupakan data sekunder resmi yang bersumber dari Badan Pusat Statistik (BPS) Republik Indonesia dan Kementerian Investasi / BKPM. Dataset mencakup 6 provinsi di Pulau Jawa selama kurun waktu 2018 hingga 2023 (\(N = 6, T = 6, N \times T = 36\) observasi seimbang/balanced panel).
Rincian definisi operasional dan satuan setiap variabel disajikan pada tabel berikut:
| No | Nama_Variabel | Tipe_Data | Satuan | Deskripsi |
|---|---|---|---|---|
| 1 | Provinsi | Kategorik / Faktor | Nama 6 Provinsi Pulau Jawa | Entitas cross-section: DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Banten. |
| 2 | Tahun | Deret Waktu (Integer) | Tahun Observasi (2018-2023) | Periode observasi tahunan mencakup pra-pandemi, masa pandemi, dan pemulihan pasca-pandemi. |
| 3 | PDRB | Numerik Kontinu | Miliar Rupiah (ADHK 2010) | Variabel dependen utama pengukur total nilai tambah bruto riil yang dihasilkan di wilayah provinsi. |
| 4 | Investasi | Numerik Kontinu | Miliar Rupiah (Realisasi PMDN) | Variabel penjelas modal fisik dari realisasi Penanaman Modal Dalam Negeri yang teregistrasi di BKPM. |
| 5 | TenagaKerja | Numerik Kontinu | Ribu Jiwa Penduduk Bekerja | Variabel penjelas tenaga kerja yang mengukur jumlah angkatan kerja yang terserap di pasar kerja daerah. |
Berikut adalah sintaks R untuk mengimpor data, mendeklarasikan
struktur balanced panel menggunakan paket plm, dan
membentuk variabel transformasi logaritma natural:
library(plm)
library(lmtest)
library(car)
library(tseries)
library(ggplot2)
library(dplyr)
library(knitr)
# Impor dataset panel pulau jawa
df_panel <- read.csv("data_panel_jawa.csv")
# Memeriksa 6 baris pertama data
head(df_panel)## Provinsi Tahun PDRB Investasi TenagaKerja Ln_PDRB Ln_Investasi
## 1 DKI Jakarta 2018 1712850 49100 4720 14.3537 10.8016
## 2 DKI Jakarta 2019 1812180 62100 4810 14.4100 11.0365
## 3 DKI Jakarta 2020 1769120 43000 4650 14.3860 10.6690
## 4 DKI Jakarta 2021 1831450 54700 4780 14.4206 10.9096
## 5 DKI Jakarta 2022 1926650 89200 4920 14.4713 11.3986
## 6 DKI Jakarta 2023 2021940 98500 5040 14.5196 11.4978
## Ln_TenagaKerja
## 1 8.4596
## 2 8.4785
## 3 8.4446
## 4 8.4722
## 5 8.5011
## 6 8.5252
# Deklarasi pdata.frame dengan indeks unit silang (Provinsi) dan waktu (Tahun)
pdata <- pdata.frame(df_panel, index = c("Provinsi", "Tahun"))
pdim(pdata)## Balanced Panel: n = 6, T = 6, N = 36
Struktur data terkonfirmasi berstatus balanced panel sempurna dengan 6 individu dan 6 periode waktu (total 36 observasi).
Ringkasan parameter statistik deskriptif untuk variabel nominal asli dan variabel bentuk logaritma natural dihitung secara empiris pada tabel berikut:
desc_stats <- data.frame(
Variabel = c("PDRB (Miliar Rp)", "Investasi (Miliar Rp)", "Tenaga Kerja (Ribu Jiwa)",
"Ln(PDRB)", "Ln(Investasi)", "Ln(Tenaga Kerja)"),
Mean = c(mean(df_panel$PDRB), mean(df_panel$Investasi), mean(df_panel$TenagaKerja),
mean(df_panel$Ln_PDRB), mean(df_panel$Ln_Investasi), mean(df_panel$Ln_TenagaKerja)),
Median = c(median(df_panel$PDRB), median(df_panel$Investasi), median(df_panel$TenagaKerja),
median(df_panel$Ln_PDRB), median(df_panel$Ln_Investasi), median(df_panel$Ln_TenagaKerja)),
Min = c(min(df_panel$PDRB), min(df_panel$Investasi), min(df_panel$TenagaKerja),
min(df_panel$Ln_PDRB), min(df_panel$Ln_Investasi), min(df_panel$Ln_TenagaKerja)),
Max = c(max(df_panel$PDRB), max(df_panel$Investasi), max(df_panel$TenagaKerja),
max(df_panel$Ln_PDRB), max(df_panel$Ln_Investasi), max(df_panel$Ln_TenagaKerja)),
Std_Dev = c(sd(df_panel$PDRB), sd(df_panel$Investasi), sd(df_panel$TenagaKerja),
sd(df_panel$Ln_PDRB), sd(df_panel$Ln_Investasi), sd(df_panel$Ln_TenagaKerja))
)
desc_stats[, 2:6] <- round(desc_stats[, 2:6], 4)
knitr::kable(desc_stats, row.names = FALSE, caption = "Tabel 2: Parameter Statistik Deskriptif Variabel Penelitian")| Variabel | Mean | Median | Min | Max | Std_Dev |
|---|---|---|---|---|---|
| PDRB (Miliar Rp) | 1112264.7222 | 1280375.0000 | 98450.0000 | 2.02194e+06 | 656524.4822 |
| Investasi (Miliar Rp) | 43422.2222 | 44400.0000 | 3100.0000 | 9.85000e+04 | 25999.7814 |
| Tenaga Kerja (Ribu Jiwa) | 12650.0000 | 11960.0000 | 2080.0000 | 2.42500e+04 | 8705.0553 |
| Ln(PDRB) | 13.5811 | 14.0550 | 11.4973 | 1.45196e+01 | 1.0210 |
| Ln(Investasi) | 10.3736 | 10.7005 | 8.0392 | 1.14978e+01 | 0.9623 |
| Ln(Tenaga Kerja) | 9.1117 | 9.2532 | 7.6401 | 1.00962e+01 | 0.9063 |
Berdasarkan Tabel 2, terlihat disparitas yang sangat masif pada variabel nominal. Nilai PDRB terendah berada di angka Rp 98.450 Miliar (DI Yogyakarta pada tahun 2018), sedangkan nilai tertinggi mencapai Rp 2.021.940 Miliar (DKI Jakarta pada tahun 2023). Hal serupa terjadi pada tenaga kerja yang bervariasi dari 2.080 ribu jiwa (DIY) hingga 24.250 ribu jiwa (Jawa Barat). Transformasi logaritma natural berhasil merapatkan sebaran data di mana standar deviasi \(\ln(\text{PDRB})\) terkendali pada angka 1.0209, menciptakan landasan yang sangat stabil untuk estimasi ekonometrika.
Visualisasi data panel disajikan untuk mengidentifikasi lintasan waktu (time trend) serta relasi bivariate antarvariabel:
ggplot(df_panel, aes(x = Tahun, y = PDRB / 1000, color = Provinsi, group = Provinsi)) +
geom_line(linewidth = 1.2) +
geom_point(size = 3) +
scale_y_continuous(labels = scales::comma) +
labs(
title = "Perkembangan PDRB Riil Atas Dasar Harga Konstan 2010",
subtitle = "6 Provinsi di Pulau Jawa Periode 2018-2023",
x = "Tahun",
y = "PDRB (Triliun Rupiah)",
color = "Provinsi"
) +
theme_minimal(base_size = 12) +
theme(
plot.title = element_text(face = "bold", hjust = 0.5),
plot.subtitle = element_text(hjust = 0.5),
legend.position = "bottom"
)Gambar 1: Tren Perkembangan PDRB Riil 6 Provinsi di Pulau Jawa (2018-2023)
Gambar 1 mendemonstrasikan fenomena struktural yang sangat jelas. DKI Jakarta, Jawa Timur, dan Jawa Barat menempati klaster teratas dengan PDRB melebihi Rp 1.500 Triliun, diikuti Jawa Tengah di kisaran Rp 1.000 Triliun, Banten di kisaran Rp 450-500 Triliun, dan DI Yogyakarta di kisaran Rp 100-120 Triliun. Pada tahun 2020, seluruh provinsi mengalami kontraksi pertumbuhan ekonomi serentak akibat restriksi mobilitas pandemi COVID-19, sebelum kemudian pulih secara konsisten hingga 2023.
p1 <- ggplot(df_panel, aes(x = Ln_Investasi, y = Ln_PDRB, color = Provinsi)) +
geom_point(size = 2.5) +
geom_smooth(method = "lm", se = FALSE, linetype = "dashed", linewidth = 0.8) +
labs(title = "Relasi Ln(Investasi) vs Ln(PDRB)", x = "Ln(Realisasi PMDN)", y = "Ln(PDRB)") +
theme_minimal() +
theme(legend.position = "none")
p2 <- ggplot(df_panel, aes(x = Ln_TenagaKerja, y = Ln_PDRB, color = Provinsi)) +
geom_point(size = 2.5) +
geom_smooth(method = "lm", se = FALSE, linetype = "dashed", linewidth = 0.8) +
labs(title = "Relasi Ln(Tenaga Kerja) vs Ln(PDRB)", x = "Ln(Tenaga Kerja)", y = "Ln(PDRB)") +
theme_minimal() +
theme(legend.position = "none")
gridExtra::grid.arrange(p1, p2, ncol = 2)Gambar 2: Scatter Plot Hubungan Antara Investasi PMDN dan Tenaga Kerja terhadap PDRB
Gambar 2 memperlihatkan korelasi positif yang sangat kuat dan linear antara input modal investasi maupun input tenaga kerja terhadap output PDRB di seluruh provinsi di Pulau Jawa.
Tahap awal estimasi ekonometrika adalah meregresikan persamaan fungsi produksi Cobb-Douglas menggunakan tiga pendekatan utama: Common Effect Model (CEM), Fixed Effect Model (FEM), dan Random Effect Model (REM):
# 1. Common Effect Model (Pooled OLS)
model_cem <- plm(Ln_PDRB ~ Ln_Investasi + Ln_TenagaKerja, data = pdata, model = "pooling")
# 2. Fixed Effect Model (Within Estimator - One Way Individual)
model_fem <- plm(Ln_PDRB ~ Ln_Investasi + Ln_TenagaKerja, data = pdata, model = "within")
# 3. Random Effect Model (Swamy-Arora FGLS)
model_rem <- plm(Ln_PDRB ~ Ln_Investasi + Ln_TenagaKerja, data = pdata, model = "random")Perbandingan hasil estimasi koefisien, galat baku (standard error), nilai uji t/z, dan ukuran kebaikan suai (goodness of fit) ketiga model dirangkum pada Tabel 3:
| Model | Intersep | Koef_Ln_Investasi | Koef_Ln_TenagaKerja | R_Squared | Adj_R_Squared |
|---|---|---|---|---|---|
| Common Effect Model (CEM) | 2.7661 (0.6090) | 0.8861*** (0.0787) | 0.1781* (0.0835) | 0.9090 | 0.9035 |
| Fixed Effect Model (FEM) | Efek Spesifik Variatif | 0.0389 (0.0233) | 1.4358*** (0.2197) | 0.9708 | 0.9635 |
| Random Effect Model (REM) | 4.2673 (1.3199) | 0.0929*** (0.0190) | 0.9164*** (0.1627) | 0.9389 | 0.9352 |
Tabel 3 menunjukkan bahwa ketiga model menghasilkan nilai \(R^2\) yang sangat tinggi (\(> 90\%\)). Namun, penaksiran CEM berisiko mengalami bias agresif karena mengasumsikan seluruh provinsi homogen, sedangkan FEM menunjukkan bahwa ketika heteroskedastisitas dan efek spesifik provinsi dikontrol, elastisitas tenaga kerja mencapai 1.4358.
Guna menentukan model yang paling konsisten dan efisien secara formal statistik, dilakukan Uji Chow, Uji Hausman, dan Uji Lagrange Multiplier:
# 1. Uji Chow (CEM vs FEM)
chow_test <- pFtest(model_fem, model_cem)
# 2. Uji Hausman (FEM vs REM)
hausman_test <- phtest(model_fem, model_rem)
# 3. Uji Lagrange Multiplier Breusch-Pagan (CEM vs REM)
lm_test <- plmtest(model_cem, type = "bp")Ringkasan hasil pengujian disajikan pada Tabel 4:
| Pengujian | Statistik_Uji | Derajat_Bebas | P_Value | Keputusan | Kesimpulan |
|---|---|---|---|---|---|
| Uji Chow (CEM vs FEM) | F = 5578.512 | df1 = 5, df2 = 28 | < 0.001 | Tolak H0 (Pilih FEM) | Terdapat efek individu yang sangat signifikan; FEM lebih superior daripada CEM. |
| Uji Hausman (FEM vs REM) | Chi-Square = 12.297 | df = 2 | 0.0021363 | Tolak H0 (Pilih FEM) | Efek spesifik berkorelasi dengan regressor; FEM konsisten dan terpilih sebagai model terbaik. |
| Uji Lagrange Multiplier (CEM vs REM) | Chi-Square = 16.433 | df = 1 | < 0.001 | Tolak H0 (Pilih REM) | Komponen efek acak signifikan; REM lebih baik daripada CEM (namun gugur oleh Hausman). |
Berdasarkan Tabel 4: 1. Uji Chow: Nilai statistik \(F = 5578.51\) dengan \(p\text{-value} < 0.001\) secara tegas menolak \(H_0\). Hal ini membuktikan bahwa variasi karakteristik antarprovinsi tidak dapat diabaikan, sehingga Fixed Effect Model (FEM) jauh lebih baik daripada Common Effect Model (CEM). 2. Uji Hausman: Nilai statistik \(\chi^2 = 12.30\) dengan \(p\text{-value} = 0.0021 < 0.05\) menolak \(H_0\). Ini menunjukkan bahwa asumsi ortogonalitas REM terlanggar (\(\text{Cov}(X_{it}, \mu_i) \neq 0\)). Oleh karena itu, Fixed Effect Model (FEM) terpilih secara mutlak sebagai model panel terbaik.
Sesuai petunjuk modul kuliah, kita menguji apakah penambahan efek waktu (Two-Way FEM) memberikan kontribusi signifikan dibandingkan model efek individu satu arah (One-Way FEM):
model_fem_twoway <- plm(Ln_PDRB ~ Ln_Investasi + Ln_TenagaKerja, data = pdata, model = "within", effect = "twoways")
time_effect_test <- pFtest(model_fem_twoway, model_fem)
time_effect_test##
## F test for twoways effects
##
## data: Ln_PDRB ~ Ln_Investasi + Ln_TenagaKerja
## F = 17.899, df1 = 5, df2 = 23, p-value = 2.955e-07
## alternative hypothesis: significant effects
Hasil pengujian menunjukkan nilai \(F = 17.899\) dengan \(p\text{-value} = 2.955 \times 10^{-7} < 0.05\). Nilai ini menolak \(H_0\) dan mengindikasikan adanya guncangan periode waktu serentak (terutama guncangan ekonomi makro tahun 2020) yang memengaruhi output di seluruh provinsi. Meskipun demikian, untuk menjaga derajat kebebasan estimasi yang memadai pada sampel \(N=6, T=6\) serta mempertahankan interpretasi koefisien elastisitas struktural yang intuitif, model One-Way Individual FEM dijadikan model dasar utama dan dievaluasi ketahanannya menggunakan Robust Standard Error.
Uji asumsi klasik dilakukan pada residu model terpilih (One-Way Fixed Effect Model):
# Ekstraksi residu FEM
res_fem <- residuals(model_fem)
# 1. Uji Normalitas (Jarque-Bera)
jb_test <- jarque.bera.test(res_fem)
# 2. Uji Multikolinieritas (VIF)
vif_model <- vif(lm(Ln_PDRB ~ Ln_Investasi + Ln_TenagaKerja, data = df_panel))
# 3. Uji Autokorelasi (Durbin-Watson & Breusch-Godfrey)
dw_test <- pdwtest(model_fem)
bg_test <- pbgtest(model_fem)
# 4. Uji Heteroskedastisitas (Breusch-Pagan)
bp_test <- bptest(Ln_PDRB ~ Ln_Investasi + Ln_TenagaKerja + factor(Provinsi), data = df_panel, studentize = TRUE)Hasil evaluasi keempat asumsi klasik disajikan pada Tabel 5:
| Asumsi_Klasik | Metode_Pengujian | Nilai_Statistik | P_Value | Kriteria_Keputusan | Status_Pemenuhan |
|---|---|---|---|---|---|
| Non-Multikolinieritas | Variance Inflation Factor (VIF) | VIF Investasi = 1.994, VIF TK = 1.994 | - | VIF < 10 | TERPENUHI (Bebas Multikolinieritas) |
| Non-Autokorelasi (Durbin-Watson) | Panel Durbin-Watson Test | DW = 1.6406 | 0.1364 | DW mendekati 2 (p > 0.05) | TERPENUHI (Bebas Autokorelasi) |
| Non-Autokorelasi (Breusch-Godfrey) | Breusch-Godfrey / Wooldridge | Chi-Square = 10.0997 | 0.1205 | p-value > 0.05 | TERPENUHI (Bebas Autokorelasi) |
| Homoskedastisitas (Breusch-Pagan) | Breusch-Pagan Test | BP = 15.9581 | 0.0255 | p-value > 0.05 | DITOLAK (Terindikasi Heteroskedastisitas) |
| Normalitas Residu (Jarque-Bera) | Jarque-Bera Test | JB = 18.3404 | 1.0409e-04 | p-value > 0.05 | DITOLAK (Residu Terindikasi Leptokurtik) |
Berdasarkan Tabel 5: - Multikolinieritas: Nilai VIF kedua variabel adalah \(1.994 < 10\), menandakan tidak ada masalah multikolinieritas. - Autokorelasi: Nilai statistik \(DW = 1.6406\) dengan \(p\text{-value} = 0.1364 > 0.05\), serta uji Breusch-Godfrey dengan \(p = 0.1205 > 0.05\). Ini membuktikan asumsi non-autokorelasi terpenuhi secara sempurna. - Heteroskedastisitas: Uji Breusch-Pagan menghasilkan \(p = 0.0255 < 0.05\), mengindikasikan adanya variasi varians residu antarprovinsi yang berbeda skala ekonominya.
Mengacu langsung pada modul perkuliahan (Seksi 9: Penanganan Jika Asumsi Klasik Tidak Terpenuhi - Opsi B: Robust Standard Error GLS), metode koreksi kovariansi heteroskedastisitas (Heteroskedasticity and Autocorrelation Consistent / HAC) diterapkan menggunakan estimator Arellano dan White period (type HC1):
# Estimasi koefisien dengan Robust Standard Error (Arellano / White HC1)
robust_fem <- coeftest(model_fem, vcov = vcovHC(model_fem, method = "arellano", type = "HC1"))
print(robust_fem)##
## t test of coefficients:
##
## Estimate Std. Error t value Pr(>|t|)
## Ln_Investasi 0.0389283 0.0085443 4.5561 9.327e-05 ***
## Ln_TenagaKerja 1.4358143 0.0956819 15.0061 6.460e-15 ***
## ---
## Signif. codes: 0 '***' 0.001 '**' 0.01 '*' 0.05 '.' 0.1 ' ' 1
Hasil estimasi Robust Standard Error disajikan pada Tabel 6:
| Variabel_Independen | Koefisien_Beta | SE_Konvensional | Robust_SE | Robust_t_Statistik | P_Value_Robust | Signifikansi |
|---|---|---|---|---|---|---|
| Ln(Investasi PMDN) | 0.0389 | 0.0233 | 0.0085 | 4.5561 | < 0.001 | Sangat Signifikan (p < 0.001) |
| Ln(Tenaga Kerja) | 1.4358 | 0.2197 | 0.0957 | 15.0061 | < 0.001 | Sangat Signifikan (p < 0.001) |
Penerapan Robust Standard Error mengoreksi standar deviasi galat baku tanpa mengubah koefisien lereng. Terlihat bahwa setelah dikoreksi, kedua variabel (\(\ln(\text{Investasi})\) dan \(\ln(\text{Tenaga Kerja})\)) terbukti berpengaruh positif dan sangat signifikan secara statistik pada tingkat signifikansi 0.1% (\(p < 0.001\)).
Kualitas model panel Fixed Effect dievaluasi melalui uji simultan dan koefisien determinasi:
Dengan mengacu pada koefisien Robust FEM pada Tabel 6, interpretasi elastisitas fungsi produksi Cobb-Douglas dijabarkan sebagai berikut:
Keunggulan utama FEM adalah kemampuannya menyajikan nilai intersep spesifik untuk masing-masing provinsi (\(\alpha_i\)), yang mencerminkan efisiensi institusional, keunggulan komparatif geografis, dan akumulasi modal awal yang tidak tertangkap oleh variabel penjelas:
efek_provinsi <- fixef(model_fem)
tab_efek <- data.frame(
Provinsi = names(efek_provinsi),
Efek_Intersep = as.numeric(efek_provinsi),
Peringkat = rank(-as.numeric(efek_provinsi))
)
tab_efek <- tab_efek[order(tab_efek$Peringkat), ]
knitr::kable(tab_efek, row.names = FALSE, caption = "Tabel 7: Intersep Spesifik Individu (Fixed Effects) Antar-Provinsi di Pulau Jawa")| Provinsi | Efek_Intersep | Peringkat |
|---|---|---|
| DKI Jakarta | 1.8206312 | 1 |
| DI Yogyakarta | 0.2301718 | 2 |
| Banten | 0.2147916 | 3 |
| Jawa Timur | -0.4261795 | 4 |
| Jawa Barat | -0.5970333 | 5 |
| Jawa Tengah | -0.6751547 | 6 |
Berdasarkan Tabel 7: 1. DKI Jakarta memiliki intersep tertinggi (\(\alpha = 1.8206\)). Ini mencerminkan posisi Jakarta sebagai pusat keuangan nasional, aglomerasi jasa korporasi, dan efisiensi total faktor produksi (TFP) tertinggi di Indonesia. 2. DI Yogyakarta (\(\alpha = 0.2302\)) dan Banten (\(\alpha = 0.2148\)) memiliki intersep positif moderat yang didukung oleh sektor pariwisata-pendidikan bernilai tambah tinggi di DIY serta klaster industri petrokimia-logistik di pesisir Banten. 3. Jawa Timur (\(\alpha = -0.4262\)), Jawa Barat (\(\alpha = -0.5970\)), dan Jawa Tengah (\(\alpha = -0.6752\)) memiliki nilai intersep dasar yang lebih rendah. Hal ini terjadi karena output nominal ketiga provinsi tersebut sangat ditopang oleh volume fisik tenaga kerja yang luar biasa besar (masing-masing 17 hingga 24 juta jiwa pekerja), sehingga efek skala diakomodasi melalui koefisien lereng tenaga kerja yang masif.
Berdasarkan seluruh tahapan analisis regresi data panel yang telah dijalankan, diperoleh kesimpulan utama sebagai berikut: