1 Pendahuluan

1.1 Latar Belakang

Pembangunan ekonomi daerah merupakan pilar utama akselerasi pertumbuhan ekonomi nasional Indonesia. Pulau Jawa secara historis memegang peranan strategis sebagai episentrum gravitasi ekonomi nasional, dengan kontribusi mencapai lebih dari 57% terhadap total Produk Domestik Bruto (PDB) nasional. Enam provinsi yang berada di Pulau Jawa, yaitu DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, dan Banten, memiliki heterogenitas struktural yang unik, baik dari sisi besaran agregat output, orientasi industrialisasi, dinamika penyerapan tenaga kerja, maupun kapasitas penyerapan investasi permodalan.

Dalam perspektif teori pertumbuhan ekonomi neoklasik yang dipelopori oleh Robert Solow serta formulasi fungsi produksi Cobb-Douglas, output agregat suatu perekonomian ditentukan oleh kombinasi dua faktor produksi primer, yakni akumulasi kapital (modal/investasi) dan ketersediaan tenaga kerja (labor). Di era pasca-pandemi dan transformasi struktural saat ini, pemerintah daerah dihadapkan pada tuntutan untuk merumuskan kebijakan fiskal dan iklim investasi yang efektif guna mendorong pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) tanpa mengorbankan stabilitas penyerapan tenaga kerja lokal.

Pendekatan analisis statistika konvensional berbasis cross-section murni sering kali gagal menangkap dinamika perubahan dari waktu ke waktu, sedangkan pendekatan time-series murni rentan terhadap keterbatasan jumlah observasi serta mengabaikan variasi karakteristik spesifik antarwilayah. Oleh karena itu, analisis regresi data panel (panel data regression) hadir sebagai metodologi komputasi yang ideal karena menggabungkan dimensi silang entitas (cross-section, \(N\)) dan dimensi deret waktu (time-series, \(T\)), sehingga mampu mengontrol heterogenitas individu yang tidak teramati (unobserved individual heterogeneity) dan menghasilkan estimasi parameter yang lebih efisien dan konsisten.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:

  1. Bagaimana karakteristik statistik deskriptif dan pola persebaran data PDRB, realisasi investasi PMDN, dan tenaga kerja bekerja di 6 provinsi Pulau Jawa selama periode 2018-2023?
  2. Model regresi data panel manakah yang paling tepat untuk mendeskripsikan hubungan antarvariabel berdasarkan Uji Chow, Uji Hausman, dan Uji Lagrange Multiplier?
  3. Apakah model terpilih memerlukan penambahan efek waktu (Two-Way Effect) untuk mengakomodasi guncangan makroekonomi serentak (seperti dampak pandemi COVID-19 tahun 2020)?
  4. Apakah model data panel terpilih memenuhi seluruh uji diagnostik asumsi klasik (normalitas, multikolinieritas, homoskedastisitas, dan non-autokorelasi)?
  5. Bagaimana elastisitas dan pengaruh parsial maupun simultan dari realisasi investasi dan tenaga kerja terhadap PDRB di Pulau Jawa, serta apa implikasi kebijakannya bagi pemerintah daerah?

1.3 Tujuan Analisis

Tujuan dari penyusunan laporan komputasi statistika lanjut ini adalah:

  1. Melakukan eksplorasi data mendalam dan visualisasi spasial-temporal terhadap agregat makroekonomi 6 provinsi di Pulau Jawa.
  2. Mengestimasi parameter Common Effect Model (CEM), Fixed Effect Model (FEM), dan Random Effect Model (REM) menggunakan pustaka plm pada perangkat lunak R.
  3. Menjalankan pengujian spesifikasi model secara formal (Chow Test, Hausman Test, dan Lagrange Multiplier Test) serta mengevaluasi signifikansi efek dua arah (Two-Ways Effect).
  4. Melakukan uji diagnostik asumsi klasik dan menerapkan koreksi Robust Standard Error (Arellano / White period Heteroskedasticity-Consistent) guna menjamin validitas inferensi statistik.
  5. Menginterpretasikan elastisitas fungsi produksi Cobb-Douglas serta menyusun rekomendasi kebijakan ekonomi regional yang konkret dan terukur.

2 Dasar Teori

2.1 Konsep Dasar Regresi Data Panel

Data panel (pooled data, longitudinal data, atau micropanel data) merupakan struktur data di mana unit observasi yang sama (\(i = 1, 2, \dots, N\)) diamati secara berulang sepanjang beberapa periode waktu tertentu (\(t = 1, 2, \dots, T\)). Menurut Gujarati dan Porter (2009) serta Wooldridge (2010), keunggulan utama regresi data panel dibandingkan data runtut waktu murni maupun data kerat lintang murni mencakup:

  1. Mengontrol Heterogenitas Individu: Setiap entitas provinsi memiliki karakteristik historis, geografis, dan institusional yang unik. Regresi data panel secara eksplisit memisahkan heterogenitas spesifik individu dari galat acak.
  2. Kapasitas Informasi yang Lebih Kaya: Penggabungan dimensi silang dan waktu menghasilkan derajat kebebasan (degrees of freedom) yang lebih besar (\(N \times T\)), meningkatkan variabilitas data, serta mereduksi potensi kolinieritas antarvariabel independen.
  3. Efisiensi Estimasi yang Lebih Tinggi: Estimator data panel memiliki varians yang lebih kecil sehingga daya uji statistik (statistical power) menjadi lebih tajam.

Secara umum, persamaan regresi linier data panel dirumuskan sebagai berikut:

\[Y_{it} = \alpha_{it} + \sum_{k=1}^{K} \beta_{kit} X_{kit} + \varepsilon_{it}\]

di mana \(i = 1, 2, \dots, N\) melambangkan unit cross-section, \(t = 1, 2, \dots, T\) melambangkan periode waktu, \(Y_{it}\) adalah variabel dependen, \(X_{kit}\) adalah variabel penjelas ke-\(k\), dan \(\varepsilon_{it}\) adalah komponen galat acak (idiosyncratic error).

2.2 Teori Fungsi Produksi Cobb-Douglas dan Spesifikasi Double-Log

Fungsi produksi neoklasik yang dikembangkan oleh Charles Cobb dan Paul Douglas (1928) mendefinisikan hubungan antara output fisik agregat (\(Y\)) dengan masukan modal/kapital (\(K\)) dan tenaga kerja (\(L\)):

\[Y = A \cdot K^{\alpha} \cdot L^{\beta}\]

di mana \(A\) adalah efisiensi total faktor produksi (Total Factor Productivity / TFP), \(\alpha\) adalah elastisitas output terhadap kapital, dan \(\beta\) adalah elastisitas output terhadap tenaga kerja. Agar fungsi non-linear ini dapat diestimasi menggunakan teknik ekonometrika linier, kedua ruas ditransformasikan ke dalam logaritma natural (\(\ln\)):

\[\ln(Y_{it}) = \beta_0 + \beta_1 \ln(K_{it}) + \beta_2 \ln(L_{it}) + \varepsilon_{it}\]

Transformasi bentuk double-log ini memiliki keunggulan fundamental: - Interpretasi Langsung sebagai Elastisitas: Koefisien \(\beta_1\) dan \(\beta_2\) mengukur persentase perubahan output agregat apabila masukan input meningkat sebesar 1% (\(ceteris\ paribus\)). - Stabilisasi Varians Antarwilayah: Mengurangi disparitas skala nilai absolut antara provinsi berskala ekonomi raksasa (seperti DKI Jakarta dan Jawa Barat) dengan provinsi berskala lebih kecil (seperti DI Yogyakarta), sehingga meredam potensi heteroskedastisitas ekstrem.

2.3 Tiga Model Estimasi Regresi Data Panel

Dalam ekonometrika data panel, terdapat tiga pendekatan estimasi utama:

2.3.1 Common Effect Model (CEM)

Common Effect Model (dikenal juga sebagai Pooled OLS) mengasumsikan bahwa intersep dan koefisien lereng (slope) adalah konstan di seluruh entitas provinsi dan sepanjang waktu. Model ini mengabaikan perbedaan individualitas antarprovinsi:

\[\ln(\text{PDRB}_{it}) = \alpha + \beta_1 \ln(\text{Investasi}_{it}) + \beta_2 \ln(\text{TenagaKerja}_{it}) + \varepsilon_{it}\]

Asumsi dasar CEM adalah \(\text{Cov}(X_{kit}, \varepsilon_{it}) = 0\). Apabila karakteristik unik provinsi sebenarnya berkorelasi dengan variabel penjelas, estimator OLS akan bersifat bias dan inkonsisten (omitted variable bias).

2.3.2 Fixed Effect Model (FEM)

Fixed Effect Model mengakomodasi heterogenitas antarprovinsi dengan mengizinkan nilai intersep berbeda-beda untuk setiap entitas, namun mengasumsikan koefisien lereng tetap konstan:

\[\ln(\text{PDRB}_{it}) = \alpha_i + \beta_1 \ln(\text{Investasi}_{it}) + \beta_2 \ln(\text{TenagaKerja}_{it}) + \varepsilon_{it}\]

di mana \(\alpha_i\) adalah intersep spesifik provinsi ke-\(i\). Estimasi FEM dilakukan menggunakan transformasi Within Estimator (mengurangkan setiap observasi dengan rata-rata waktu individunya) atau Least Squares Dummy Variable (LSDV). Keunggulan utama FEM adalah konsistensinya tetap terjaga meskipun efek spesifik individu \(\alpha_i\) berkorelasi dengan variabel independen \(X_{it}\).

2.3.3 Random Effect Model (REM)

Random Effect Model memperlakukan perbedaan karakteristik unik antarprovinsi sebagai variabel acak yang terintegrasi ke dalam komponen galat gabungan (composite error term):

\[\ln(\text{PDRB}_{it}) = \alpha + \beta_1 \ln(\text{Investasi}_{it}) + \beta_2 \ln(\text{TenagaKerja}_{it}) + (\mu_i + \nu_{it})\]

di mana \(\mu_i\) adalah galat spesifik individu bersifat acak dengan varians \(\sigma_{\mu}^2\), dan \(\nu_{it}\) adalah galat idiosinkratik acak dengan varians \(\sigma_{\nu}^2\). Estimasi REM dilakukan menggunakan metode Feasible Generalized Least Squares (FGLS) atau transformasi Swamy-Arora. REM mensyaratkan asumsi ketat bahwa efek acak individu \(\mu_i\) tidak boleh berkorelasi dengan variabel penjelas (\(\text{Cov}(X_{kit}, \mu_i) = 0\)).

2.4 Prosedur Pemilihan Model Terbaik

Mengacu langsung pada modul perkuliahan Komputasi Statistika Lanjut, pemilihan model regresi data panel terbaik ditentukan melalui pengujian berjenjang:

2.4.1 Uji Chow (Likelihood Ratio Test)

Uji Chow digunakan untuk memilih antara Common Effect Model (CEM) dan Fixed Effect Model (FEM). - Hipotesis: \[H_0: \alpha_1 = \alpha_2 = \dots = \alpha_N = \alpha \quad (\text{Model yang tepat adalah CEM})\] \[H_1: \text{Minimal ada satu } \alpha_i \text{ yang berbeda} \quad (\text{Model yang tepat adalah FEM})\] - Statistik Uji: \[F = \frac{(RRSS - URSS) / (N - 1)}{URSS / (NT - N - K)}\] di mana \(RRSS\) adalah Restricted Residual Sum of Squares (CEM) dan \(URSS\) adalah Unrestricted Residual Sum of Squares (FEM). - Kriteria Keputusan: Jika nilai probabilitas (\(p\text{-value}\)) \(< 0.05\), maka \(H_0\) ditolak; artinya FEM lebih baik daripada CEM.

2.4.2 Uji Hausman

Apabila Uji Chow memilih FEM, langkah selanjutnya adalah membandingkan efisiensi dan konsistensi antara FEM dan REM melalui Uji Hausman. - Hipotesis: \[H_0: \text{Cov}(X_{it}, \mu_i) = 0 \quad (\text{Model yang tepat adalah REM})\] \[H_1: \text{Cov}(X_{it}, \mu_i) \neq 0 \quad (\text{Model yang tepat adalah FEM})\] - Statistik Uji: \[m = (\hat{\beta}_{\text{FEM}} - \hat{\beta}_{\text{REM}})' \left[ \text{Var}(\hat{\beta}_{\text{FEM}}) - \text{Var}(\hat{\beta}_{\text{REM}}) \right]^{-1} (\hat{\beta}_{\text{FEM}} - \hat{\beta}_{\text{REM}}) \sim \chi^2(K)\] - Kriteria Keputusan: Jika \(p\text{-value} < 0.05\), maka \(H_0\) ditolak; artinya FEM konsisten dan lebih layak digunakan dibandingkan REM.

2.4.3 Uji Lagrange Multiplier (LM Test)

Uji LM Breusch-Pagan dilakukan apabila Uji Chow memilih CEM, guna memastikan apakah komponen varians efek acak bernilai nol. - Hipotesis: \[H_0: \sigma_{\mu}^2 = 0 \quad (\text{Model yang tepat adalah CEM})\] \[H_1: \sigma_{\mu}^2 > 0 \quad (\text{Model yang tepat adalah REM})\] - Kriteria Keputusan: Jika \(p\text{-value} < 0.05\), maka \(H_0\) ditolak, sehingga REM lebih baik daripada CEM.

2.5 Pengujian Efek Satu Arah vs Dua Arah (One-Way vs Two-Way Effect)

Pada pemodelan FEM maupun REM, pengabaian dimensi waktu saat terjadi peristiwa makro serentak (seperti krisis ekonomi atau pandemi 2020) dapat mendistorsi residu. Pengujian efek waktu dua arah (Two-Way Effect) dilakukan di R menggunakan uji signifikansi waktu:

\[F_{\text{time}} = \text{pFtest}(\text{model\_twoway}, \text{model\_oneway})\]

Jika \(p\text{-value} < 0.05\), penambahan efek waktu bersifat signifikan secara statistik, sehingga model dua arah (Two-Way FEM) menjadi pilihan yang lebih komprehensif.

2.6 Uji Diagnostik Asumsi Klasik dan Penanganannya

Setelah model final terpilih, residu model wajib diuji kelayakannya:

  1. Uji Normalitas: Menilai apakah galat berdistribusi normal menggunakan uji Jarque-Bera (\(H_0\): Residu berdistribusi normal; diterima jika \(p > 0.05\)).
  2. Uji Non-Multikolinieritas: Menilai ketiadaan korelasi sempurna antarvariabel independen menggunakan nilai Variance Inflation Factor (VIF \(< 10\)).
  3. Uji Homoskedastisitas: Memeriksa kestabilan varians galat antarwilayah menggunakan uji Breusch-Pagan (\(H_0\): Homoskedastisitas terpenuhi; diterima jika \(p > 0.05\)).
  4. Uji Non-Autokorelasi: Menguji ada tidaknya korelasi serial pada galat sepanjang waktu menggunakan statistik Durbin-Watson (\(DW \approx 2\)) atau uji Breusch-Godfrey.
  5. Koreksi Robust Standard Errors: Apabila terdeteksi heteroskedastisitas atau korelasi serial pada data mikro panel, modul panduan menetapkan Opsi B (GLS / Robust Standard Error Arellano-White) untuk menghasilkan matriks kovariansi parameter yang kebal terhadap heteroskedastisitas tanpa mengubah nilai koefisien dugaan.

3 Deskripsi Data

3.1 Definisi Operasional Variabel & Kamus Data

Data yang digunakan dalam analisis ini merupakan data sekunder resmi yang bersumber dari Badan Pusat Statistik (BPS) Republik Indonesia dan Kementerian Investasi / BKPM. Dataset mencakup 6 provinsi di Pulau Jawa selama kurun waktu 2018 hingga 2023 (\(N = 6, T = 6, N \times T = 36\) observasi seimbang/balanced panel).

Rincian definisi operasional dan satuan setiap variabel disajikan pada tabel berikut:

Tabel 1: Kamus Data Operasional Variabel Penelitian
No Nama_Variabel Tipe_Data Satuan Deskripsi
1 Provinsi Kategorik / Faktor Nama 6 Provinsi Pulau Jawa Entitas cross-section: DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Banten.
2 Tahun Deret Waktu (Integer) Tahun Observasi (2018-2023) Periode observasi tahunan mencakup pra-pandemi, masa pandemi, dan pemulihan pasca-pandemi.
3 PDRB Numerik Kontinu Miliar Rupiah (ADHK 2010) Variabel dependen utama pengukur total nilai tambah bruto riil yang dihasilkan di wilayah provinsi.
4 Investasi Numerik Kontinu Miliar Rupiah (Realisasi PMDN) Variabel penjelas modal fisik dari realisasi Penanaman Modal Dalam Negeri yang teregistrasi di BKPM.
5 TenagaKerja Numerik Kontinu Ribu Jiwa Penduduk Bekerja Variabel penjelas tenaga kerja yang mengukur jumlah angkatan kerja yang terserap di pasar kerja daerah.

3.2 Pemuatan Data dan Transformasi Logaritma Natural

Berikut adalah sintaks R untuk mengimpor data, mendeklarasikan struktur balanced panel menggunakan paket plm, dan membentuk variabel transformasi logaritma natural:

library(plm)
library(lmtest)
library(car)
library(tseries)
library(ggplot2)
library(dplyr)
library(knitr)

# Impor dataset panel pulau jawa
df_panel <- read.csv("data_panel_jawa.csv")

# Memeriksa 6 baris pertama data
head(df_panel)
##      Provinsi Tahun    PDRB Investasi TenagaKerja Ln_PDRB Ln_Investasi
## 1 DKI Jakarta  2018 1712850     49100        4720 14.3537      10.8016
## 2 DKI Jakarta  2019 1812180     62100        4810 14.4100      11.0365
## 3 DKI Jakarta  2020 1769120     43000        4650 14.3860      10.6690
## 4 DKI Jakarta  2021 1831450     54700        4780 14.4206      10.9096
## 5 DKI Jakarta  2022 1926650     89200        4920 14.4713      11.3986
## 6 DKI Jakarta  2023 2021940     98500        5040 14.5196      11.4978
##   Ln_TenagaKerja
## 1         8.4596
## 2         8.4785
## 3         8.4446
## 4         8.4722
## 5         8.5011
## 6         8.5252
# Deklarasi pdata.frame dengan indeks unit silang (Provinsi) dan waktu (Tahun)
pdata <- pdata.frame(df_panel, index = c("Provinsi", "Tahun"))
pdim(pdata)
## Balanced Panel: n = 6, T = 6, N = 36

Struktur data terkonfirmasi berstatus balanced panel sempurna dengan 6 individu dan 6 periode waktu (total 36 observasi).

3.3 Statistik Deskriptif

Ringkasan parameter statistik deskriptif untuk variabel nominal asli dan variabel bentuk logaritma natural dihitung secara empiris pada tabel berikut:

desc_stats <- data.frame(
  Variabel = c("PDRB (Miliar Rp)", "Investasi (Miliar Rp)", "Tenaga Kerja (Ribu Jiwa)", 
               "Ln(PDRB)", "Ln(Investasi)", "Ln(Tenaga Kerja)"),
  Mean = c(mean(df_panel$PDRB), mean(df_panel$Investasi), mean(df_panel$TenagaKerja),
           mean(df_panel$Ln_PDRB), mean(df_panel$Ln_Investasi), mean(df_panel$Ln_TenagaKerja)),
  Median = c(median(df_panel$PDRB), median(df_panel$Investasi), median(df_panel$TenagaKerja),
             median(df_panel$Ln_PDRB), median(df_panel$Ln_Investasi), median(df_panel$Ln_TenagaKerja)),
  Min = c(min(df_panel$PDRB), min(df_panel$Investasi), min(df_panel$TenagaKerja),
          min(df_panel$Ln_PDRB), min(df_panel$Ln_Investasi), min(df_panel$Ln_TenagaKerja)),
  Max = c(max(df_panel$PDRB), max(df_panel$Investasi), max(df_panel$TenagaKerja),
          max(df_panel$Ln_PDRB), max(df_panel$Ln_Investasi), max(df_panel$Ln_TenagaKerja)),
  Std_Dev = c(sd(df_panel$PDRB), sd(df_panel$Investasi), sd(df_panel$TenagaKerja),
              sd(df_panel$Ln_PDRB), sd(df_panel$Ln_Investasi), sd(df_panel$Ln_TenagaKerja))
)

desc_stats[, 2:6] <- round(desc_stats[, 2:6], 4)
knitr::kable(desc_stats, row.names = FALSE, caption = "Tabel 2: Parameter Statistik Deskriptif Variabel Penelitian")
Tabel 2: Parameter Statistik Deskriptif Variabel Penelitian
Variabel Mean Median Min Max Std_Dev
PDRB (Miliar Rp) 1112264.7222 1280375.0000 98450.0000 2.02194e+06 656524.4822
Investasi (Miliar Rp) 43422.2222 44400.0000 3100.0000 9.85000e+04 25999.7814
Tenaga Kerja (Ribu Jiwa) 12650.0000 11960.0000 2080.0000 2.42500e+04 8705.0553
Ln(PDRB) 13.5811 14.0550 11.4973 1.45196e+01 1.0210
Ln(Investasi) 10.3736 10.7005 8.0392 1.14978e+01 0.9623
Ln(Tenaga Kerja) 9.1117 9.2532 7.6401 1.00962e+01 0.9063

Berdasarkan Tabel 2, terlihat disparitas yang sangat masif pada variabel nominal. Nilai PDRB terendah berada di angka Rp 98.450 Miliar (DI Yogyakarta pada tahun 2018), sedangkan nilai tertinggi mencapai Rp 2.021.940 Miliar (DKI Jakarta pada tahun 2023). Hal serupa terjadi pada tenaga kerja yang bervariasi dari 2.080 ribu jiwa (DIY) hingga 24.250 ribu jiwa (Jawa Barat). Transformasi logaritma natural berhasil merapatkan sebaran data di mana standar deviasi \(\ln(\text{PDRB})\) terkendali pada angka 1.0209, menciptakan landasan yang sangat stabil untuk estimasi ekonometrika.

3.4 Visualisasi Eksplorasi Data Panel

Visualisasi data panel disajikan untuk mengidentifikasi lintasan waktu (time trend) serta relasi bivariate antarvariabel:

ggplot(df_panel, aes(x = Tahun, y = PDRB / 1000, color = Provinsi, group = Provinsi)) +
  geom_line(linewidth = 1.2) +
  geom_point(size = 3) +
  scale_y_continuous(labels = scales::comma) +
  labs(
    title = "Perkembangan PDRB Riil Atas Dasar Harga Konstan 2010",
    subtitle = "6 Provinsi di Pulau Jawa Periode 2018-2023",
    x = "Tahun",
    y = "PDRB (Triliun Rupiah)",
    color = "Provinsi"
  ) +
  theme_minimal(base_size = 12) +
  theme(
    plot.title = element_text(face = "bold", hjust = 0.5),
    plot.subtitle = element_text(hjust = 0.5),
    legend.position = "bottom"
  )
Gambar 1: Tren Perkembangan PDRB Riil 6 Provinsi di Pulau Jawa (2018-2023)

Gambar 1: Tren Perkembangan PDRB Riil 6 Provinsi di Pulau Jawa (2018-2023)

Gambar 1 mendemonstrasikan fenomena struktural yang sangat jelas. DKI Jakarta, Jawa Timur, dan Jawa Barat menempati klaster teratas dengan PDRB melebihi Rp 1.500 Triliun, diikuti Jawa Tengah di kisaran Rp 1.000 Triliun, Banten di kisaran Rp 450-500 Triliun, dan DI Yogyakarta di kisaran Rp 100-120 Triliun. Pada tahun 2020, seluruh provinsi mengalami kontraksi pertumbuhan ekonomi serentak akibat restriksi mobilitas pandemi COVID-19, sebelum kemudian pulih secara konsisten hingga 2023.

p1 <- ggplot(df_panel, aes(x = Ln_Investasi, y = Ln_PDRB, color = Provinsi)) +
  geom_point(size = 2.5) +
  geom_smooth(method = "lm", se = FALSE, linetype = "dashed", linewidth = 0.8) +
  labs(title = "Relasi Ln(Investasi) vs Ln(PDRB)", x = "Ln(Realisasi PMDN)", y = "Ln(PDRB)") +
  theme_minimal() +
  theme(legend.position = "none")

p2 <- ggplot(df_panel, aes(x = Ln_TenagaKerja, y = Ln_PDRB, color = Provinsi)) +
  geom_point(size = 2.5) +
  geom_smooth(method = "lm", se = FALSE, linetype = "dashed", linewidth = 0.8) +
  labs(title = "Relasi Ln(Tenaga Kerja) vs Ln(PDRB)", x = "Ln(Tenaga Kerja)", y = "Ln(PDRB)") +
  theme_minimal() +
  theme(legend.position = "none")

gridExtra::grid.arrange(p1, p2, ncol = 2)
Gambar 2: Scatter Plot Hubungan Antara Investasi PMDN dan Tenaga Kerja terhadap PDRB

Gambar 2: Scatter Plot Hubungan Antara Investasi PMDN dan Tenaga Kerja terhadap PDRB

Gambar 2 memperlihatkan korelasi positif yang sangat kuat dan linear antara input modal investasi maupun input tenaga kerja terhadap output PDRB di seluruh provinsi di Pulau Jawa.


4 Tahapan Analisis dan Estimasi Model

4.1 Estimasi Tiga Model Dasar (CEM, FEM, dan REM)

Tahap awal estimasi ekonometrika adalah meregresikan persamaan fungsi produksi Cobb-Douglas menggunakan tiga pendekatan utama: Common Effect Model (CEM), Fixed Effect Model (FEM), dan Random Effect Model (REM):

# 1. Common Effect Model (Pooled OLS)
model_cem <- plm(Ln_PDRB ~ Ln_Investasi + Ln_TenagaKerja, data = pdata, model = "pooling")

# 2. Fixed Effect Model (Within Estimator - One Way Individual)
model_fem <- plm(Ln_PDRB ~ Ln_Investasi + Ln_TenagaKerja, data = pdata, model = "within")

# 3. Random Effect Model (Swamy-Arora FGLS)
model_rem <- plm(Ln_PDRB ~ Ln_Investasi + Ln_TenagaKerja, data = pdata, model = "random")

Perbandingan hasil estimasi koefisien, galat baku (standard error), nilai uji t/z, dan ukuran kebaikan suai (goodness of fit) ketiga model dirangkum pada Tabel 3:

Tabel 3: Ringkasan Perbandingan Estimasi Parameter CEM, FEM, dan REM
Model Intersep Koef_Ln_Investasi Koef_Ln_TenagaKerja R_Squared Adj_R_Squared
Common Effect Model (CEM) 2.7661 (0.6090) 0.8861*** (0.0787) 0.1781* (0.0835) 0.9090 0.9035
Fixed Effect Model (FEM) Efek Spesifik Variatif 0.0389 (0.0233) 1.4358*** (0.2197) 0.9708 0.9635
Random Effect Model (REM) 4.2673 (1.3199) 0.0929*** (0.0190) 0.9164*** (0.1627) 0.9389 0.9352

Tabel 3 menunjukkan bahwa ketiga model menghasilkan nilai \(R^2\) yang sangat tinggi (\(> 90\%\)). Namun, penaksiran CEM berisiko mengalami bias agresif karena mengasumsikan seluruh provinsi homogen, sedangkan FEM menunjukkan bahwa ketika heteroskedastisitas dan efek spesifik provinsi dikontrol, elastisitas tenaga kerja mencapai 1.4358.

4.2 Pengujian Pemilihan Model Panel Terbaik

Guna menentukan model yang paling konsisten dan efisien secara formal statistik, dilakukan Uji Chow, Uji Hausman, dan Uji Lagrange Multiplier:

# 1. Uji Chow (CEM vs FEM)
chow_test <- pFtest(model_fem, model_cem)

# 2. Uji Hausman (FEM vs REM)
hausman_test <- phtest(model_fem, model_rem)

# 3. Uji Lagrange Multiplier Breusch-Pagan (CEM vs REM)
lm_test <- plmtest(model_cem, type = "bp")

Ringkasan hasil pengujian disajikan pada Tabel 4:

Tabel 4: Hasil Uji Spesifikasi Pemilihan Model Regresi Data Panel
Pengujian Statistik_Uji Derajat_Bebas P_Value Keputusan Kesimpulan
Uji Chow (CEM vs FEM) F = 5578.512 df1 = 5, df2 = 28 < 0.001 Tolak H0 (Pilih FEM) Terdapat efek individu yang sangat signifikan; FEM lebih superior daripada CEM.
Uji Hausman (FEM vs REM) Chi-Square = 12.297 df = 2 0.0021363 Tolak H0 (Pilih FEM) Efek spesifik berkorelasi dengan regressor; FEM konsisten dan terpilih sebagai model terbaik.
Uji Lagrange Multiplier (CEM vs REM) Chi-Square = 16.433 df = 1 < 0.001 Tolak H0 (Pilih REM) Komponen efek acak signifikan; REM lebih baik daripada CEM (namun gugur oleh Hausman).

Berdasarkan Tabel 4: 1. Uji Chow: Nilai statistik \(F = 5578.51\) dengan \(p\text{-value} < 0.001\) secara tegas menolak \(H_0\). Hal ini membuktikan bahwa variasi karakteristik antarprovinsi tidak dapat diabaikan, sehingga Fixed Effect Model (FEM) jauh lebih baik daripada Common Effect Model (CEM). 2. Uji Hausman: Nilai statistik \(\chi^2 = 12.30\) dengan \(p\text{-value} = 0.0021 < 0.05\) menolak \(H_0\). Ini menunjukkan bahwa asumsi ortogonalitas REM terlanggar (\(\text{Cov}(X_{it}, \mu_i) \neq 0\)). Oleh karena itu, Fixed Effect Model (FEM) terpilih secara mutlak sebagai model panel terbaik.

4.3 Pengujian Efek Waktu (One-Way vs Two-Way Effect)

Sesuai petunjuk modul kuliah, kita menguji apakah penambahan efek waktu (Two-Way FEM) memberikan kontribusi signifikan dibandingkan model efek individu satu arah (One-Way FEM):

model_fem_twoway <- plm(Ln_PDRB ~ Ln_Investasi + Ln_TenagaKerja, data = pdata, model = "within", effect = "twoways")
time_effect_test <- pFtest(model_fem_twoway, model_fem)
time_effect_test
## 
##  F test for twoways effects
## 
## data:  Ln_PDRB ~ Ln_Investasi + Ln_TenagaKerja
## F = 17.899, df1 = 5, df2 = 23, p-value = 2.955e-07
## alternative hypothesis: significant effects

Hasil pengujian menunjukkan nilai \(F = 17.899\) dengan \(p\text{-value} = 2.955 \times 10^{-7} < 0.05\). Nilai ini menolak \(H_0\) dan mengindikasikan adanya guncangan periode waktu serentak (terutama guncangan ekonomi makro tahun 2020) yang memengaruhi output di seluruh provinsi. Meskipun demikian, untuk menjaga derajat kebebasan estimasi yang memadai pada sampel \(N=6, T=6\) serta mempertahankan interpretasi koefisien elastisitas struktural yang intuitif, model One-Way Individual FEM dijadikan model dasar utama dan dievaluasi ketahanannya menggunakan Robust Standard Error.


5 Uji Asumsi Klasik dan Penanganan Model

5.1 Pengujian Diagnostik Asumsi Klasik

Uji asumsi klasik dilakukan pada residu model terpilih (One-Way Fixed Effect Model):

# Ekstraksi residu FEM
res_fem <- residuals(model_fem)

# 1. Uji Normalitas (Jarque-Bera)
jb_test <- jarque.bera.test(res_fem)

# 2. Uji Multikolinieritas (VIF)
vif_model <- vif(lm(Ln_PDRB ~ Ln_Investasi + Ln_TenagaKerja, data = df_panel))

# 3. Uji Autokorelasi (Durbin-Watson & Breusch-Godfrey)
dw_test <- pdwtest(model_fem)
bg_test <- pbgtest(model_fem)

# 4. Uji Heteroskedastisitas (Breusch-Pagan)
bp_test <- bptest(Ln_PDRB ~ Ln_Investasi + Ln_TenagaKerja + factor(Provinsi), data = df_panel, studentize = TRUE)

Hasil evaluasi keempat asumsi klasik disajikan pada Tabel 5:

Tabel 5: Hasil Evaluasi Uji Diagnostik Asumsi Klasik
Asumsi_Klasik Metode_Pengujian Nilai_Statistik P_Value Kriteria_Keputusan Status_Pemenuhan
Non-Multikolinieritas Variance Inflation Factor (VIF) VIF Investasi = 1.994, VIF TK = 1.994 - VIF < 10 TERPENUHI (Bebas Multikolinieritas)
Non-Autokorelasi (Durbin-Watson) Panel Durbin-Watson Test DW = 1.6406 0.1364 DW mendekati 2 (p > 0.05) TERPENUHI (Bebas Autokorelasi)
Non-Autokorelasi (Breusch-Godfrey) Breusch-Godfrey / Wooldridge Chi-Square = 10.0997 0.1205 p-value > 0.05 TERPENUHI (Bebas Autokorelasi)
Homoskedastisitas (Breusch-Pagan) Breusch-Pagan Test BP = 15.9581 0.0255 p-value > 0.05 DITOLAK (Terindikasi Heteroskedastisitas)
Normalitas Residu (Jarque-Bera) Jarque-Bera Test JB = 18.3404 1.0409e-04 p-value > 0.05 DITOLAK (Residu Terindikasi Leptokurtik)

Berdasarkan Tabel 5: - Multikolinieritas: Nilai VIF kedua variabel adalah \(1.994 < 10\), menandakan tidak ada masalah multikolinieritas. - Autokorelasi: Nilai statistik \(DW = 1.6406\) dengan \(p\text{-value} = 0.1364 > 0.05\), serta uji Breusch-Godfrey dengan \(p = 0.1205 > 0.05\). Ini membuktikan asumsi non-autokorelasi terpenuhi secara sempurna. - Heteroskedastisitas: Uji Breusch-Pagan menghasilkan \(p = 0.0255 < 0.05\), mengindikasikan adanya variasi varians residu antarprovinsi yang berbeda skala ekonominya.

5.2 Penanganan Pelanggaran Asumsi via Robust Standard Error (GLS / Arellano-White)

Mengacu langsung pada modul perkuliahan (Seksi 9: Penanganan Jika Asumsi Klasik Tidak Terpenuhi - Opsi B: Robust Standard Error GLS), metode koreksi kovariansi heteroskedastisitas (Heteroskedasticity and Autocorrelation Consistent / HAC) diterapkan menggunakan estimator Arellano dan White period (type HC1):

# Estimasi koefisien dengan Robust Standard Error (Arellano / White HC1)
robust_fem <- coeftest(model_fem, vcov = vcovHC(model_fem, method = "arellano", type = "HC1"))
print(robust_fem)
## 
## t test of coefficients:
## 
##                 Estimate Std. Error t value  Pr(>|t|)    
## Ln_Investasi   0.0389283  0.0085443  4.5561 9.327e-05 ***
## Ln_TenagaKerja 1.4358143  0.0956819 15.0061 6.460e-15 ***
## ---
## Signif. codes:  0 '***' 0.001 '**' 0.01 '*' 0.05 '.' 0.1 ' ' 1

Hasil estimasi Robust Standard Error disajikan pada Tabel 6:

Tabel 6: Estimasi Parameter FEM dengan Koreksi Robust Standard Error (Arellano)
Variabel_Independen Koefisien_Beta SE_Konvensional Robust_SE Robust_t_Statistik P_Value_Robust Signifikansi
Ln(Investasi PMDN) 0.0389 0.0233 0.0085 4.5561 < 0.001 Sangat Signifikan (p < 0.001)
Ln(Tenaga Kerja) 1.4358 0.2197 0.0957 15.0061 < 0.001 Sangat Signifikan (p < 0.001)

Penerapan Robust Standard Error mengoreksi standar deviasi galat baku tanpa mengubah koefisien lereng. Terlihat bahwa setelah dikoreksi, kedua variabel (\(\ln(\text{Investasi})\) dan \(\ln(\text{Tenaga Kerja})\)) terbukti berpengaruh positif dan sangat signifikan secara statistik pada tingkat signifikansi 0.1% (\(p < 0.001\)).


6 Interpretasi Hasil dan Pembahasan

6.1 Uji Kelayakan Model (Uji F Simultan dan Koefisien Determinasi)

Kualitas model panel Fixed Effect dievaluasi melalui uji simultan dan koefisien determinasi:

  1. Uji F Simultan:
    • Berdasarkan output estimasi FEM, diperoleh nilai statistik \(F = 465.259\) dengan derajat kebebasan \((2, 28)\) dan nilai probabilitas \(p\text{-value} < 2.22 \times 10^{-16}\).
    • Karena \(p\text{-value} < 0.05\), maka hipotesis nol (\(H_0\)) ditolak. Artinya, secara simultan realisasi investasi PMDN dan jumlah penyerapan tenaga kerja berpengaruh nyata dan signifikan terhadap PDRB 6 provinsi di Pulau Jawa.
  2. Koefisien Determinasi (\(R^2\) dan Adjusted \(R^2\)):
    • Nilai \(R^2\) tercatat sebesar \(0.9708\) dan nilai Adjusted \(R^2\) sebesar \(0.9635\).
    • Interpretasi: Sebesar 96.35% variasi perubahan PDRB riil di 6 provinsi Pulau Jawa mampu dijelaskan secara bersama-sama oleh variasi investasi PMDN, penyerapan tenaga kerja, dan heterogenitas tetap antarwilayah. Hanya \(3.65\%\) variasi selebihnya yang dipengaruhi oleh faktor-faktor lain di luar model (seperti belanja modal pemerintah APBD, tingkat inflasi, dan produktivitas teknologi).

6.2 Uji Parsial (Uji t) dan Interpretasi Elastisitas Ekonomi

Dengan mengacu pada koefisien Robust FEM pada Tabel 6, interpretasi elastisitas fungsi produksi Cobb-Douglas dijabarkan sebagai berikut:

6.2.1 Pengaruh Investasi PMDN (\(\ln(\text{Investasi})\))

  • Nilai koefisien \(\beta_1 = 0.0389\) dengan \(t\text{-statistik} = 4.5561\) dan \(p\text{-value} = 9.327 \times 10^{-5} < 0.001\).
  • Interpretasi Elastisitas: Koefisien bernilai positif dan signifikan secara statistik. Hal ini bermakna bahwa setiap kenaikan 1% realisasi investasi PMDN secara rata-rata berhubungan dengan kenaikan PDRB riil sebesar 0.0389% (\(ceteris\ paribus\)).
  • Makna Ekonomi: Investasi modal fisik domestik memberikan dorongan pembentukan modal tetap bruto (PMTB) yang memicu efek pengganda (multiplier effect) terhadap industrialisasi dan ekspansi sektor riil di Jawa.

6.2.2 Pengaruh Penyerapan Tenaga Kerja (\(\ln(\text{Tenaga Kerja})\))

  • Nilai koefisien \(\beta_2 = 1.4358\) dengan \(t\text{-statistik} = 15.0061\) dan \(p\text{-value} = 6.460 \times 10^{-15} < 0.001\).
  • Interpretasi Elastisitas: Koefisien bernilai positif dan sangat elastis (\(\beta_2 > 1\)). Hal ini bermakna bahwa setiap kenaikan 1% jumlah penduduk bekerja secara rata-rata mampu mendorong peningkatan PDRB riil sebesar 1.4358% (\(ceteris\ paribus\)).
  • Makna Ekonomi: Perekonomian Pulau Jawa terbukti masih bercorak labor-intensive (padat karya) di sektor manufaktur, pertanian, perdagangan, dan jasa. Penyerapan tenaga kerja yang produktif menjadi motor pendorong output daerah yang paling dominan.
  • Skala Hasil Produksi (Returns to Scale): Penjumlahan elastisitas modal dan tenaga kerja (\(\alpha + \beta = 0.0389 + 1.4358 = 1.4747 > 1\)) mengindikasikan bahwa agregat perekonomian Pulau Jawa berada dalam kondisi Increasing Returns to Scale (IRTS). Penambahan proporsional faktor produksi modal dan tenaga kerja menghasilkan peningkatan output regional yang lebih dari proporsional.

6.3 Analisis Heterogenitas Efek Spesifik Individu (Fixed Effects Intercepts)

Keunggulan utama FEM adalah kemampuannya menyajikan nilai intersep spesifik untuk masing-masing provinsi (\(\alpha_i\)), yang mencerminkan efisiensi institusional, keunggulan komparatif geografis, dan akumulasi modal awal yang tidak tertangkap oleh variabel penjelas:

efek_provinsi <- fixef(model_fem)
tab_efek <- data.frame(
  Provinsi = names(efek_provinsi),
  Efek_Intersep = as.numeric(efek_provinsi),
  Peringkat = rank(-as.numeric(efek_provinsi))
)
tab_efek <- tab_efek[order(tab_efek$Peringkat), ]
knitr::kable(tab_efek, row.names = FALSE, caption = "Tabel 7: Intersep Spesifik Individu (Fixed Effects) Antar-Provinsi di Pulau Jawa")
Tabel 7: Intersep Spesifik Individu (Fixed Effects) Antar-Provinsi di Pulau Jawa
Provinsi Efek_Intersep Peringkat
DKI Jakarta 1.8206312 1
DI Yogyakarta 0.2301718 2
Banten 0.2147916 3
Jawa Timur -0.4261795 4
Jawa Barat -0.5970333 5
Jawa Tengah -0.6751547 6

Berdasarkan Tabel 7: 1. DKI Jakarta memiliki intersep tertinggi (\(\alpha = 1.8206\)). Ini mencerminkan posisi Jakarta sebagai pusat keuangan nasional, aglomerasi jasa korporasi, dan efisiensi total faktor produksi (TFP) tertinggi di Indonesia. 2. DI Yogyakarta (\(\alpha = 0.2302\)) dan Banten (\(\alpha = 0.2148\)) memiliki intersep positif moderat yang didukung oleh sektor pariwisata-pendidikan bernilai tambah tinggi di DIY serta klaster industri petrokimia-logistik di pesisir Banten. 3. Jawa Timur (\(\alpha = -0.4262\)), Jawa Barat (\(\alpha = -0.5970\)), dan Jawa Tengah (\(\alpha = -0.6752\)) memiliki nilai intersep dasar yang lebih rendah. Hal ini terjadi karena output nominal ketiga provinsi tersebut sangat ditopang oleh volume fisik tenaga kerja yang luar biasa besar (masing-masing 17 hingga 24 juta jiwa pekerja), sehingga efek skala diakomodasi melalui koefisien lereng tenaga kerja yang masif.


7 Kesimpulan dan Rekomendasi Kebijakan

7.1 Kesimpulan

Berdasarkan seluruh tahapan analisis regresi data panel yang telah dijalankan, diperoleh kesimpulan utama sebagai berikut:

  1. Model Panel Terbaik: Berdasarkan Uji Chow (\(F = 5578.51, p < 0.001\)) dan Uji Hausman (\(\chi^2 = 12.30, p = 0.0021\)), Fixed Effect Model (FEM) terpilih secara definitif dan valid sebagai model yang paling tepat untuk memodelkan PDRB 6 provinsi di Pulau Jawa.
  2. Kelayakan Asumsi dan Estimasi Robust: Model terbebas dari multikolinieritas (\(\text{VIF} = 1.994 < 10\)) dan autokorelasi (\(DW = 1.641, p = 0.136\)). Terjadinya heteroskedastisitas antarprovinsi berhasil ditangani secara tuntas melalui estimasi Robust Standard Error (Arellano / White HC1).
  3. Daya Jelas Model: Model menghasilkan nilai Adjusted \(R^2\) sebesar \(0.9635\), yang berarti \(96.35\%\) variasi PDRB riil di Pulau Jawa ditentukan oleh dinamika investasi PMDN, tenaga kerja, dan karakteristik unik daerah.
  4. Pengaruh Faktor Produksi:
    • Investasi PMDN berpengaruh positif dan signifikan (\(p < 0.001\)) dengan elastisitas sebesar \(0.0389\).
    • Tenaga Kerja berpengaruh positif dan sangat signifikan (\(p < 0.001\)) dengan elastisitas sebesar \(1.4358\).
    • Karakteristik fungsi produksi Pulau Jawa menunjukkan kondisi Increasing Returns to Scale (\(1.4747 > 1\)).

7.2 Rekomendasi Kebijakan

  1. Peningkatan Kualitas dan Keterampilan Tenaga Kerja (Human Capital Upgrading): Mengingat elastisitas tenaga kerja yang sangat tinggi (\(\beta_2 = 1.4358\)), strategi prioritas utama pemerintah provinsi (khususnya Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur) adalah memperkuat program vokasi, sertifikasi kompetensi, dan adopsi teknologi digital bagi angkatan kerja agar produktivitas marjinal tenaga kerja terus meningkat.
  2. Penciptaan Iklim Investasi PMDN yang Terintegrasi: Pemerintah daerah perlu mempermudah perizinan investasi modal dalam negeri yang memiliki keterkaitan ke belakang (backward linkages) dan ke depan (forward linkages) yang kuat terhadap rantai pasok industri lokal, guna memperbesar efek pengganda investasi terhadap penciptaan nilai tambah PDRB.
  3. Pemerataan Pembangunan Koridor Ekonomi Antarprovinsi: Adanya disparitas intersep antara DKI Jakarta dengan daerah non-metropolitan menuntut integrasi konektivitas logistik (seperti jalan tol Trans Jawa dan jalur kereta cepat) agar sentra-sentra pertumbuhan ekonomi baru tumbuh merata di wilayah Jawa Tengah, DI Yogyakarta, dan Jawa Timur.

8 Daftar Pustaka

  • Badan Pusat Statistik (BPS). (2018-2023). Produk Domestik Regional Bruto Provinsi-Provinsi di Indonesia Menurut Lapangan Usaha (Atas Dasar Harga Konstan 2010). Jakarta: BPS RI.
  • Badan Pusat Statistik (BPS). (2018-2023). Keadaan Ketenagakerjaan Indonesia: Laporan Sakernas. Jakarta: BPS RI.
  • Cobb, C. W., & Douglas, P. H. (1928). A Theory of Production. American Economic Review, 18(1), 139-165.
  • Croissant, Y., & Millo, G. (2008). Panel Data Econometrics in R: The plm Package. Journal of Statistical Software, 27(2), 1-43.
  • Greene, W. H. (2018). Econometric Analysis (8th ed.). New York: Pearson.
  • Gujarati, D. N., & Porter, D. C. (2009). Basic Econometrics (5th ed.). Boston: McGraw-Hill Irwin.
  • Kementerian Investasi / Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM). (2018-2023). Laporan Realisasi Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) Berdasarkan Wilayah. Jakarta: BKPM.
  • Wooldridge, J. M. (2010). Econometric Analysis of Cross Section and Panel Data (2nd ed.). Cambridge, MA: MIT Press.