ANALISIS DERET WAKTU
Pada analisis ini digunakan data tentang suhu udara rata-rata bulanan Kota Cilegon periode Januari 2023???Desember 2024. Analisis dilakukan untuk melihat pola dari waktu ke waktu dan mengetahui apakah data cenderung stasioner?, dengan melihat rata-rata, variansi, ACF, serta uji \(r_k\) dan Box-Pierce.
# 1. Input data & buat objek ts (time series)
suhu <- c(27.8, 27.9, 28.3, 28.9, 29.1, 28.6, 28.0, 28.1, 28.4, 28.7, 28.2, 27.9, # 2023
28.0, 28.1, 28.6, 29.2, 29.4, 28.8, 28.2, 28.3, 28.6, 28.9, 28.4, 28.1) # 2024
suhu_ts <- ts(suhu, start = c(2023, 1), frequency = 12)
# Plot runtun waktu
plot(suhu_ts, type = "o", col = "navy",
xlab = "Waktu(Tahun)", ylab = "Suhu(°C)",
main = "Runtun Waktu Suhu Udara Bulanan Kota Cilegon (2023-2024)")
Interpretasi: Data suhu diubah menjadi objek
ts dengan frequency = 12 karena data bersifat
bulanan. Grafik menunjukkan suhu naik dari Januari sampai puncak sekitar
bulan Mei (± 29,1???29,4°C), lalu turun lagi sampai akhir tahun (±
27,9???28,1°C). Kenaikan-penurunan ini terulang di tahun 2024, dengan
pola yang mirip tahun 2023. Sehingga terdapat indikasi pola musiman
tahunan.
# 2. Rata-rata dan variansi per tahun
tahun <- rep(2023:2024, each = 12)
mean_tahunan <- tapply(suhu, tahun, mean)
var_tahunan <- tapply(suhu, tahun, var)
mean_tahunan## 2023 2024
## 28.325 28.550
## 2023 2024
## 0.1784091 0.2045455
Interpretasi: Rata-rata suhu tahun 2023 sebesar 28,325°C dan tahun 2024 sebesar 28,550°C, dengan selisih hanya 0,225°C. Variansinya juga relatif berdekatan, yaitu 0,178 dan 0,205. Jadi, rata-rata dan variansi suhu terlihat relatif stabil antar tahun.
Interpretasi: ACF menunjukkan nilai positif yang cukup
tinggi pada lag 1, negatif pada lag 3, kemudian kembali positif pada lag
12. Pola ini bukan turun cepat ke nol, bukan juga turun lambat/linear.
Ini pola berulang secara periodik, mencerminkan siklus musiman tahunan
pada suhu Kota cilegon.
## [1] 0.4000833
# Menentukan ACF yang signifikan
acf_suhu <- acf(suhu_ts, lag.max = 12, plot = FALSE)
nilai_acf <- as.numeric(acf_suhu$acf[-1])
hasil_signifikansi <- data.frame(
Lag = 1:12,
ACF = round(nilai_acf, 3),
Batas_95 = round(batas, 3),
Signifikansi = abs(nilai_acf) > batas
)
hasil_signifikansi## Lag ACF Batas_95 Signifikansi
## 1 1 0.541 0.4 TRUE
## 2 2 -0.195 0.4 FALSE
## 3 3 -0.499 0.4 TRUE
## 4 4 -0.250 0.4 FALSE
## 5 5 0.126 0.4 FALSE
## 6 6 0.175 0.4 FALSE
## 7 7 -0.056 0.4 FALSE
## 8 8 -0.290 0.4 FALSE
## 9 9 -0.310 0.4 FALSE
## 10 10 -0.034 0.4 FALSE
## 11 11 0.307 0.4 FALSE
## 12 12 0.430 0.4 TRUE
##
## Box-Pierce test
##
## data: suhu
## X-squared = 27.653, df = 12, p-value = 0.006215
Interpretasi: Batas signifikansi 95% dengan n = 24, batas signifikansi \(r_k\) adalah \(\pm 1{,}96/\sqrt{24} = \pm 0{,}4001\). Dari tabel diatas, lag yang melewati batas ini (Signifikansi = FALSE) cuman lag 1 (0,541), lag 3 (-0,499), sama lag 12 (0,430), sisanya ga signifikan. Ini konsisten sama pola periodik yang muncul di ACF yaitu kuat di lag 1, berbalik di lag 3, dan muncul lagi di lag 12.
Untuk uji Box-Pierce, nilai \(Q = 27{,}653 > \chi^2_{12;\,0{,}05} = 21{,}03\) dengan p-value \(= 0{,}006215\) (\(< 0{,}05\)), sehingga tolak \(H_0\). Artinya, terdapat autokorelasi yang signifikan dan data bukan white noise.
KESIMPULAN AKHIR
Dari hasil analisis, rata-rata dan variansi suhu pada tahun 2023 dan
2024 terlihat cukup stabil, sehingga data cenderung stasioner lemah.
Namun, dari ACF masih terlihat adanya autokorelasi pada lag 1, 3, dam
12, dengan lag 12 menunjukkan pola musiman tahunan. Hasil uji Box-Pierce
juga menunjukkan p-value 0,006215 < 0,05, sehingga data bukan
white noise. Jadi, data suhu Kota Cilegon
cenderung stasioner lemah, tetapi masih mempunyai
autokorelasi dan pola musiman tahunan.