Nama: Daffa Aqyla Purnama
NIM: 3337260083
Kelas: B26
Dosen: Miftahus Sholihin, M.Si.
Tim IT kampus Untirta mencatat kecepatan unduh (Mbps) dari 25 titik akses WiFi yang dipilih secara acak, untuk menduga rata-rata kecepatan unduh SELURUH titik akses (populasi). Data: data_wifi <- c(18.2, 21.5, 19.8, 23.1, 17.6, 20.4, 22.9, 16.8, 19.1, 24.3, 18.7, 21.0, 20.2, 17.9, 23.6, 19.4, 22.1, 18.0, 20.9, 21.7, 16.5, 19.9, 23.4, 18.3, 21.2)
Soal:
data_wifi <- c(18.2, 21.5, 19.8, 23.1, 17.6, 20.4, 22.9, 16.8, 19.1, 24.3,
18.7, 21.0, 20.2, 17.9, 23.6, 19.4, 22.1, 18.0, 20.9, 21.7,
16.5, 19.9, 23.4, 18.3, 21.2)
mean(data_wifi)
## [1] 20.26
sd(data_wifi)
## [1] 2.217732
Hasil: Mean = 20.26 Mbps Standar Deviasi = 2.217732 Mbps
t.test(data_wifi, conf.level = 0.95)
##
## One Sample t-test
##
## data: data_wifi
## t = 45.677, df = 24, p-value < 2.2e-16
## alternative hypothesis: true mean is not equal to 0
## 95 percent confidence interval:
## 19.34457 21.17543
## sample estimates:
## mean of x
## 20.26
Estimasi bahwa rata-rata kecepatan unduh seluruh titik akses di kampus berada antara sekitar 19,34 Mbps - 21,18 Mbps, dengan tingkat kepercayaan 95%.
t.test(data_wifi, conf.level = 0.90)$conf.int
## [1] 19.50114 21.01886
## attr(,"conf.level")
## [1] 0.9
t.test(data_wifi, conf.level = 0.99)$conf.int
## [1] 19.01943 21.50057
## attr(,"conf.level")
## [1] 0.99
Semakin tinggi tingkat kepercayaan, semakin lebar intervalnya.
Dari datanya:
90%: lebar sekitar 1,52 Mbps
99%: lebar sekitar 2,48 Mbps
Pada tingkat kepercayaan 90%, interval lebih sempit, sedangkan pada 99% interval lebih lebar. Hal ini terjadi karena tingkat kepercayaan yang lebih tinggi membutuhkan rentang nilai yang lebih luas agar lebih yakin bahwa rata-rata populasi berada dalam interval tersebut.
Margin of Error sebesar 0,92 Mbps menunjukan bahwa rata-rata kecepatan unduh WiFi kampus yang diestimasi sebesar 20,26 Mbps dapat memiliki selisih sekitar 0,92 Mbps dari rata-rata populasi sebenarnya.
Galat Tipe I terjadi jika kampus menyimpulkan bahwa rata-rata kecepatan WiFi tidak memenuhi standar minimum 20 Mbps, padahal sebenarnya rata-rata populasi sudah memenuhi standar. Risiko dari kesalahan ini adalah kampus dapat melakukan perbaikan atau pengeluaran yang sebenarnya tidak diperlukan.
Galat Tipe II terjadi jika kampus menyimpulkan bahwa rata-rata kecepatan WiFi sudah memenuhi standar minimum 20 Mbps, padahal sebenarnya rata-rata populasi kurang dari 20 Mbps. Risiko dari kesalahan ini adalah kampus tidak melakukan perbaikan yang diperlukan sehingga kualitas layanan WiFi tetap di bawah standar.