Data kecepatan unduh dari 25 titik akses WiFi dimasukkan sebagai berikut.
data_wifi <- c(
18.2, 21.5, 19.8, 23.1, 17.6,
20.4, 22.9, 16.8, 19.1, 24.3,
18.7, 21.0, 20.2, 17.9, 23.6,
19.4, 22.1, 18.0, 20.9, 21.7,
16.5, 19.9, 23.4, 18.3, 21.2
)
n <- length(data_wifi)
xbar <- mean(data_wifi)
s <- sd(data_wifi)
round(c(
Jumlah_data = n,
Rata_rata = xbar,
Standar_deviasi = s
), 3)
## Jumlah_data Rata_rata Standar_deviasi
## 25.000 20.260 2.218
Berdasarkan 25 titik akses WiFi yang dipilih secara acak, estimasi titik rata-rata kecepatan unduh adalah 20,260 Mbps. Standar deviasi sampelnya adalah 2,218 Mbps.
Hal ini menunjukkan bahwa kecepatan unduh antar-titik akses memiliki variasi sekitar 2,218 Mbps dari rata-rata 20,260 Mbps.
Interval kepercayaan 95% dihitung menggunakan fungsi
t.test().
hasil_t <- t.test(data_wifi, conf.level = 0.95)
hasil_t
##
## One Sample t-test
##
## data: data_wifi
## t = 45.677, df = 24, p-value < 2.2e-16
## alternative hypothesis: true mean is not equal to 0
## 95 percent confidence interval:
## 19.34457 21.17543
## sample estimates:
## mean of x
## 20.26
Berdasarkan hasil perhitungan, interval kepercayaan 95% untuk rata-rata kecepatan unduh seluruh titik akses WiFi kampus adalah [19,345; 21,175] Mbps.
Dengan tingkat kepercayaan 95%, rata-rata kecepatan unduh seluruh titik akses WiFi kampus diperkirakan berada antara 19,345 Mbps dan 21,175 Mbps.
se <- s / sqrt(n)
buat_ci <- function(confidence_level) {
alpha <- 1 - confidence_level
t_kritis <- qt(1 - alpha / 2, df = n - 1)
ME <- t_kritis * se
c(
Confidence_Level = confidence_level,
Margin_of_Error = ME,
Lower = xbar - ME,
Upper = xbar + ME
)
}
hasil_ci <- rbind(
`90%` = buat_ci(0.90),
`95%` = buat_ci(0.95),
`99%` = buat_ci(0.99)
)
round(hasil_ci, 3)
## Confidence_Level Margin_of_Error Lower Upper
## 90% 0.90 0.759 19.501 21.019
## 95% 0.95 0.915 19.345 21.175
## 99% 0.99 1.241 19.019 21.501
Berdasarkan hasil perhitungan, interval kepercayaan 90% adalah [19,501; 21,019] Mbps, interval kepercayaan 95% adalah [19,345; 21,175] Mbps, dan interval kepercayaan 99% adalah [19,019; 21,501] Mbps.
Terlihat bahwa semakin tinggi tingkat kepercayaan, semakin lebar interval yang dihasilkan. Hal ini karena tingkat kepercayaan yang lebih tinggi memerlukan rentang yang lebih luas agar peluang prosedur menghasilkan interval yang memuat rata-rata populasi menjadi lebih tinggi.
ME_95 <- hasil_t$conf.int[2] - xbar
round(ME_95, 3)
## [1] 0.915
Margin of error yang diperoleh sebesar 0,915 Mbps. Nilai ini menunjukkan tingkat ketidakpastian pada estimasi rata-rata kecepatan unduh WiFi kampus. Berdasarkan sampel, rata-rata kecepatan unduh adalah 20,260 Mbps, tetapi rata-rata sebenarnya dari seluruh titik akses diperkirakan dapat berbeda sekitar 0,915 Mbps ke atas atau ke bawah. Oleh karena itu, interval kepercayaan 95% berada pada rentang 19,345 Mbps hingga 21,175 Mbps.
Hipotesis yang digunakan adalah:
uji_20 <- t.test(data_wifi, mu = 20, alternative = "greater")
uji_20
##
## One Sample t-test
##
## data: data_wifi
## t = 0.58618, df = 24, p-value = 0.2816
## alternative hypothesis: true mean is greater than 20
## 95 percent confidence interval:
## 19.50114 Inf
## sample estimates:
## mean of x
## 20.26
Berdasarkan uji t satu sampel dengan taraf signifikansi 5%, diperoleh p-value sebesar 0,2816. Karena p-value lebih besar dari 0,05, keputusan yang diambil adalah gagal menolak H₀. Artinya, meskipun rata-rata sampel sebesar 20,260 Mbps, belum terdapat bukti statistik yang cukup kuat untuk menyatakan bahwa rata-rata kecepatan unduh seluruh titik akses WiFi kampus lebih dari 20 Mbps.
Risiko Galat Tipe I terjadi apabila kampus menyimpulkan bahwa rata-rata kecepatan WiFi sudah lebih dari 20 Mbps, padahal kenyataannya rata-rata sebenarnya tidak melebihi 20 Mbps. Konsekuensinya, kampus mungkin tidak melakukan perbaikan jaringan padahal standar layanan belum terpenuhi.
Risiko Galat Tipe II terjadi apabila kampus gagal menyimpulkan bahwa rata-rata kecepatan WiFi lebih dari 20 Mbps, padahal sebenarnya rata-rata tersebut memang lebih dari 20 Mbps. Konsekuensinya, kampus dapat melakukan evaluasi atau peningkatan jaringan yang sebenarnya belum diperlukan.