Tugas 2 - Analisis Deret Waktu
Data suhu udara rata-rata bulanan Kota Cilegon periode Januari 2023 - Desember 2024 (Celcius):
## Warning: package 'knitr' was built under R version 4.4.3
data_suhu <- data.frame(
Tahun = rep(c(2023, 2024), each = 12),
Bulan = rep(month.abb, 2),
Suhu = c(
27.8, 27.9, 28.3, 28.9, 29.1, 28.6, 28.0, 28.1, 28.4, 28.7, 28.2, 27.9,
28.0, 28.1, 28.6, 29.2, 29.4, 28.8, 28.2, 28.3, 28.6, 28.9, 28.4, 28.1
)
)
kable(data_suhu)| Tahun | Bulan | Suhu |
|---|---|---|
| 2023 | Jan | 27.8 |
| 2023 | Feb | 27.9 |
| 2023 | Mar | 28.3 |
| 2023 | Apr | 28.9 |
| 2023 | May | 29.1 |
| 2023 | Jun | 28.6 |
| 2023 | Jul | 28.0 |
| 2023 | Aug | 28.1 |
| 2023 | Sep | 28.4 |
| 2023 | Oct | 28.7 |
| 2023 | Nov | 28.2 |
| 2023 | Dec | 27.9 |
| 2024 | Jan | 28.0 |
| 2024 | Feb | 28.1 |
| 2024 | Mar | 28.6 |
| 2024 | Apr | 29.2 |
| 2024 | May | 29.4 |
| 2024 | Jun | 28.8 |
| 2024 | Jul | 28.2 |
| 2024 | Aug | 28.3 |
| 2024 | Sep | 28.6 |
| 2024 | Oct | 28.9 |
| 2024 | Nov | 28.4 |
| 2024 | Dec | 28.1 |
1. Membuat Objek Time Series dan Plot Runtun Waktu
a. Objek Time Series
## Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec
## 2023 27.8 27.9 28.3 28.9 29.1 28.6 28.0 28.1 28.4 28.7 28.2 27.9
## 2024 28.0 28.1 28.6 29.2 29.4 28.8 28.2 28.3 28.6 28.9 28.4 28.1
b. Plot Runtun Waktu
plot(data_ts,
main = "Suhu Udara Rata-rata Bulanan Kota Cilegon",
xlab = "Tahun",
ylab = "Suhu Udara (C)",
col = "blue",
lwd = 2
)
text(time(data_ts), data_ts,
labels = data_ts,
pos = 3,
cex = 0.7
)Berdasarkan grafik runtun waktu, suhu udara rata-rata bulanan Kota Cilegon tahun 2023 hingga 2024 mengalami fluktuasi dari waktu ke waktu. Rata-rata bulanan dengan suhu tertinggi setiap tahunnya yaitu berada pada bulan Mei. Grafik tersebut memperlihatkan adanya pola musiman tahunan, meskipun di tahun 2024 rata-rata setiap bulannya mengalami kenaikan dari tahun sebelumnya.
2. Hitung Rata-rata dan Variansi Data /tahun
a. Rata-rata
## 2023 2024
## 28.325 28.550
Rata-rata mengalami peningkatan dengan selisih 0.255°C
b. Variansi Data
## 2023 2024
## 0.1784091 0.2045455
Variansi juga mengalami peningkatan dari 0.1784 menjadi 0.2045.
Berdasarkan rata-rata dan variansi suhu antara tahun 2023 dan 2024, keduanya memiliki perbedaan yang relatif kecil, sehingga data dapat dikatakan relatif stabil.
3. Hitung dan Plot ACF hingga lag 12
## , , 1
##
## [,1]
## [1,] 1.00000000
## [2,] 0.54051342
## [3,] -0.19464434
## [4,] -0.49941185
## [5,] -0.25034597
## [6,] 0.12631470
## [7,] 0.17471630
## [8,] -0.05587462
## [9,] -0.28951010
## [10,] -0.30974952
## [11,] -0.03355937
## [12,] 0.30739690
## [13,] 0.43025187
plot(ACF,
xaxt = "n",
main = "ACF Suhu Udara Kota Cilegon",
xlab = "Lag (k)")
axis(1,
at = 0:12/12,
labels = 0:12)Pola ACF menunjukkan pola berulang secara periodik. Nilai ACF pada lag 1 (0.54051342) dan lag 12 (0.43025187) memiliki nilai positif yang cukup tinggi, sedangkan pada lag 3 (-0.49941185) nilainya negatif cukup kuat. Pola ini berfluktuasi antara positif dan negatif hingga kembali meningkat pada lag 12, sehingga diindikasikan adanya pola musiman tahunan.
4. Terapkan Uji Signifikansi rk dan Box-Pierce
a. rk
- Hipotesis
H0: 𝜌k = 0 (tidak ada autokorelasi)
H1: 𝜌k ≠ 0 (ada autokorelasi)
- Taraf signifikansi
α = 5% = 0.05
Selang kepercayaan:
\[ -1.96\sqrt{\frac{1}{n}} < \rho_k < 1.96\sqrt{\frac{1}{n}} \]
## [1] 0.4000833
Batas selang kepercayaannya adalah -0.4000833 < \(\rho_k\) < 0.4000833
- Uji signifikansi
## [1] 0.54051342 -0.19464434 -0.49941185 -0.25034597 0.12631470 0.17471630
## [7] -0.05587462 -0.28951010 -0.30974952 -0.03355937 0.30739690 0.43025187
hasil <- data.frame(
Lag = 1:12,
rk = rk,
Keputusan = ifelse(abs(rk) > batas,
"Signifikan",
"Tidak signifikan")
)
hasil## Lag rk Keputusan
## 1 1 0.54051342 Signifikan
## 2 2 -0.19464434 Tidak signifikan
## 3 3 -0.49941185 Signifikan
## 4 4 -0.25034597 Tidak signifikan
## 5 5 0.12631470 Tidak signifikan
## 6 6 0.17471630 Tidak signifikan
## 7 7 -0.05587462 Tidak signifikan
## 8 8 -0.28951010 Tidak signifikan
## 9 9 -0.30974952 Tidak signifikan
## 10 10 -0.03355937 Tidak signifikan
## 11 11 0.30739690 Tidak signifikan
## 12 12 0.43025187 Signifikan
- Keputusan
Lag 1 (Signifikan): suhu bulan sekarang berkaitan dengan suhu 1 bulan sebelumnya. \[ 0.54051342 > 0.4000833 \]
Lag 3 (Signifikan): suhu bulan sekarang berkaitan dengan suhu 3 bulan sebelumnya. \[ -0.49941185 < -0.4000833 \]
Lag 12 (Signifikan): suhu bulan sekarang berkaitan dengan suhu 12 bulan sebelumnya. \[ 0.43025187 > 0.4000833 \]
- Kesimpulan
Berdasarkan uji signifikansi rk pada taraf nyata 5%, nilai autokorelasi yang signifikan terdapat pada lag 1, lag 3, dan lag 12. Nilai ACF pada lag 1 dan 12 lebih besar dari batas atas selang kepercayaan, sedangkan nilai ACF pada lag 3 lebih kecil dari batas bawah. Hal ini menunjukkan bahwa data terdapat autokorelasi karena adanya ketergantungan nilai suhu antarwaktu, serta adanya indikasi pola musiman tahunan pada lag 12.
b. Box-Pierce
- Hipotesis
H0: data bersifat white noise (tidak berautokorelasi)
- Taraf signifikansi
α = 5% = 0.05
- Uji signifikansi
##
## Box-Pierce test
##
## data: data_suhu$Suhu
## X-squared = 27.653, df = 12, p-value = 0.006215
- Keputusan
Tolak H0 jika p-value < 0.05
- Kesimpulan
Hasil perhitungan Box-Pierce memperoleh nilai X-squared = 27.653. Karena p-value (0.006215) < 0.05, maka H0 ditolak. Artinya data tidak bersifat white noise (terdapat autokorelasi) yang signifikan sampai lag 12.
c. Uji Dickey Fuller
- Hipotesis
H0: \(\delta \geq 0\) (tidak stasioner)
H1: \(\delta < 0\) (stasioner)
- Taraf signifikansi
α = 5% = 0.05
- Uji Signifikansi
## Warning: package 'tseries' was built under R version 4.4.3
## Registered S3 method overwritten by 'quantmod':
## method from
## as.zoo.data.frame zoo
##
## Augmented Dickey-Fuller Test
##
## data: data_suhu$Suhu
## Dickey-Fuller = -2.6421, Lag order = 2, p-value = 0.3278
## alternative hypothesis: stationary
- Keputusan
Tolak H0 jika p-value < 0.05
- Kesimpulan
Hasil uji Dickey Fuller memperoleh nilai ADF = -2.6421 dengan nilai p-value 0.3278. Karena p-value > 0.05, maka H0 gagal ditolak. Artinya, belum terdapat cukup bukti untuk menyatakan bahwa data bersifat stasioner, sehingga berdasarkan uji ADF data suhu tidak stasioner.