Tim IT kampus Untirta mencatat kecepatan unduh (Mbps) dari 25 titik akses WIFI yang dipilih secara acak, untuk menduga rata-rata kecepatan unduh SELURUH titik akses (populasi).
Data Sampel (Mbps): 18.2, 21.5, 19.8, 23.1, 17.6, 20.4, 22.9, 16.8, 19.1, 24.3, 18.7, 21.0, 20.2, 17.9, 23.6, 19.4, 22.1, 18.0, 20.9, 21.7, 16.5, 19.9, 23.4, 18.3, 21.2
Instruksi: Masukkan data ke RStudio sebagai vektor, lalu hitung estimasi titik (rata-rata) dan standar deviasi kecepatan unduh menggunakan
mean()dansd().
data_wifi <- c(18.2, 21.5, 19.8, 23.1, 17.6, 20.4, 22.9, 16.8, 19.1, 24.3,
18.7, 21.0, 20.2, 17.9, 23.6, 19.4, 22.1, 18.0, 20.9, 21.7,
16.5, 19.9, 23.4, 18.3, 21.2)
print(data_wifi)
## [1] 18.2 21.5 19.8 23.1 17.6 20.4 22.9 16.8 19.1 24.3 18.7 21.0 20.2 17.9 23.6
## [16] 19.4 22.1 18.0 20.9 21.7 16.5 19.9 23.4 18.3 21.2
rata_rata <- mean(data_wifi)
standar_deviasi <- sd(data_wifi)
cat("Rata-rata:", rata_rata, "Mbps")
## Rata-rata: 20.26 Mbps
cat("Standar Deviasi:", standar_deviasi, "Mbps")
## Standar Deviasi: 2.217732 Mbps
Kesimpulan: Berdasarkan perhitungan statistik deskriptif dari 25 sampel titik akses, diperoleh estimasi titik rata-rata kecepatan unduh sebesar 20,26 Mbps. Nilai standar deviasi sampel tercatat sebesar 2,22 Mbps, yang mengindikasikan bahwa variasi kecepatan internet antar titik di kampus relatif kecil dan stabil di sekitar angka rata-ratanya.
Instruksi: Hitung interval kepercayaan 95% untuk rata-rata kecepatan unduh SELURUH titik akses di kampus menggunakan RStudio (
t.test()atau perhitungan manual denganqt()).
Cara 1: Perhitungan Manual dengan
qt()
xbar <- mean(data_wifi)
n <- length(data_wifi)
simpanganBaku <- sd(data_wifi)
se <- simpanganBaku / sqrt(n)
tScore <- qt(p = 0.975, df = n - 1)
marginOfError <- tScore * se
batasBawah <- xbar - marginOfError
batasAtas <- xbar + marginOfError
cat("Batas Bawah =", batasBawah, "Mbps | Batas Atas =", batasAtas, "Mbps")
## Batas Bawah = 19.34457 Mbps | Batas Atas = 21.17543 Mbps
Cara 2: Menggunakan fungsi t.test()
hasilTest <- t.test(data_wifi, conf.level = 0.95)
print(hasilTest)
##
## One Sample t-test
##
## data: data_wifi
## t = 45.677, df = 24, p-value < 2.2e-16
## alternative hypothesis: true mean is not equal to 0
## 95 percent confidence interval:
## 19.34457 21.17543
## sample estimates:
## mean of x
## 20.26
Kesimpulan: Melalui perhitungan interval kepercayaan
95% (baik menggunakan rumus manual maupun fungsi t.test()),
didapatkan margin of error sebesar kurang lebih 0,91
Mbps yang menghasilkan batas bawah 19,34 Mbps
dan batas atas 21,17 Mbps.
Artinya, kita memiliki tingkat keyakinan 95% bahwa kecepatan unduh rata-rata untuk seluruh titik akses WiFi di kampus secara aktual berada di dalam rentang kecepatan 19,34 Mbps hingga 21,17 Mbps.
Instruksi: Hitung dan bandingkan pula interval kepercayaan 90% dan 99% untuk data yang sama. Jelaskan pengaruh perubahan tingkat kepercayaan terhadap lebar interval.
Interval Kepercayaan 90%
alpha_90 <- 1 - (0.1 / 2)
t_score_90 <- qt(p = alpha_90, df = n - 1)
E_90 <- t_score_90 * se
batasBawah_90 <- xbar - E_90
batasAtas_90 <- xbar + E_90
cat("Interval 90%: [", batasBawah_90, ",", batasAtas_90, "]")
## Interval 90%: [ 19.50114 , 21.01886 ]
Interval Kepercayaan 99%
alpha_99 <- 1 - (0.01 / 2)
t_score_99 <- qt(p = alpha_99, df = n - 1)
E_99 <- t_score_99 * se
batasBawah_99 <- xbar - E_99
batasAtas_99 <- xbar + E_99
cat("Interval 99%: [", batasBawah_99, ",", batasAtas_99, "]")
## Interval 99%: [ 19.01943 , 21.50057 ]
Interpretasi Hasil dan Perbandingan:
Analisis Pengaruh Tingkat Kepercayaan: Semakin tinggi tingkat kepercayaan (dari 90%, 95%, ke 99%), lebar interval kepercayaan yang dihasilkan akan semakin lebar (rentang antara batas bawah dan batas atas semakin jauh). Hal ini menunjukkan adanya kompromi (trade-off) antara tingkat kepastian dan presisi. Untuk bisa sangat yakin (99%) bahwa rata-rata populasi sebenarnya berhasil tertangkap di dalam rentang tebakan, kita terpaksa memperlebar ruang toleransi (margin of error) tersebut.
Instruksi: Jelaskan arti margin of error yang diperoleh dalam konteks kasus ini (kecepatan unduh WiFi kampus).
Dalam konteks kecepatan jaringan kampus Untirta, Margin of Error (Batas Toleransi Kesalahan) yang diperoleh (sekitar 0,915 Mbps untuk interval 95%) adalah angka yang menunjukkan seberapa jauh rata-rata sampel dari 25 titik WiFi (20,26 Mbps) diperkirakan bisa meleset dari rata-rata kecepatan seluruh titik WiFi di kampus.
Artinya, karena Tim IT tidak mengukur seluruh router secara menyeluruh, tebakan 20,26 Mbps ini memiliki ruang toleransi pergeseran sebesar ±0,915 Mbps. Semakin kecil margin of error ini, semakin presisi data sampel tersebut mewakili kondisi jaringan di seluruh kampus.
Instruksi: Jika manajemen kampus harus memutuskan “apakah kecepatan WiFi sudah memenuhi standar minimum 20 Mbps” berdasarkan sampel ini, jelaskan risiko Galat Tipe I dan Tipe II yang mungkin terjadi.
Untuk mengambil keputusan ini menggunakan pengujian standar, kita rumuskan hipotesisnya sebagai berikut:
Uji Statistik menggunakan R:
uji_hipotesis <- t.test(data_wifi, mu = 20, alternative = "greater", conf.level = 0.95)
print(uji_hipotesis)
##
## One Sample t-test
##
## data: data_wifi
## t = 0.58618, df = 24, p-value = 0.2816
## alternative hypothesis: true mean is greater than 20
## 95 percent confidence interval:
## 19.50114 Inf
## sample estimates:
## mean of x
## 20.26
Berdasarkan output di atas (p-value = 0.2831 > alpha 0.05), kita Gagal Menolak \(H_0\). Secara statistik, sampel ini belum memberikan cukup bukti untuk menyatakan bahwa rata-rata kecepatan WiFi seluruh kampus secara meyakinkan sudah di atas 20 Mbps.
Dalam konteks pengujian standar hipotesis di atas, berikut adalah risiko Galat (Error) yang bisa terjadi: