# Membuat matriks dengan angka acak
data_2x2 <- matrix(c(18, 12, # Laki-laki (Ya = 18, Tidak = 12)
14, 16), # Perempuan (Ya = 14, Tidak = 16)
nrow = 2,
byrow = TRUE)
# Menambahkan nama baris dan kolom
rownames(data_2x2) <- c("Laki-laki", "Perempuan")
colnames(data_2x2) <- c("Ya", "Tidak")
# Mengubah ke bentuk tabel kontingensi
tabel_2x2 <- as.table(data_2x2)
# Menampilkan hasil
print(tabel_2x2)
## Ya Tidak
## Laki-laki 18 12
## Perempuan 14 16
# Membuat matriks dengan angka acak
data_5x2 <- matrix(c(8, 22, # TP
12, 18, # SD
15, 15, # SMP
25, 10, # SMA
20, 5), # PT
nrow = 5,
byrow = TRUE)
# Menambahkan nama baris dan kolom
rownames(data_5x2) <- c("TP", "SD", "SMP", "SMA", "PT")
colnames(data_5x2) <- c("Ya", "Tidak")
# Mengubah ke bentuk tabel kontingensi
tabel_5x2 <- as.table(data_5x2)
# Menampilkan hasil
print(tabel_5x2)
## Ya Tidak
## TP 8 22
## SD 12 18
## SMP 15 15
## SMA 25 10
## PT 20 5
# Uji hubungan JK dan SPJK
chisq.test(tabel_2x2)
##
## Pearson's Chi-squared test with Yates' continuity correction
##
## data: tabel_2x2
## X-squared = 0.60268, df = 1, p-value = 0.4376
# Uji hubungan TP dan SPJK
chisq.test(tabel_5x2)
##
## Pearson's Chi-squared test
##
## data: tabel_5x2
## X-squared = 22.596, df = 4, p-value = 0.0001525