Objek ts di bahasa pemrograman R adalah struktur data khusus berbentuk vektor atau matriks yang digunakan untuk merepresentasikan data deret waktu (time series).
kendaraan <- c(420, 410, 430, 780, 460, 470, 460, 480, 440, 450, 460, 600, # 2023
450, 440, 460, 820, 490, 500, 495, 510, 470, 480, 490, 640) # 2024
# objek ts
ts_kendaraan <- ts(kendaraan, start = c(2023, 1), frequency = 12)
print(ts_kendaraan)
## Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec
## 2023 420 410 430 780 460 470 460 480 440 450 460 600
## 2024 450 440 460 820 490 500 495 510 470 480 490 640
# plot
plot(ts_kendaraan,
main = "Jumlah Kendaraan Penyeberangan Merak-Bakauheni (2023-2024)",
xlab = "Tahun", ylab = "Jumlah Kendaraan (ribuan)",
col = "darkred", lwd = 2)
Untuk mengidentifikasi bulan-bulan puncak, data diurutkan dari nilai tertinggi ke terendah supaya langsung terlihat bulan mana saja yang menonjol dibanding bulan lainnya.
data_bulanan <- data.frame(
tahun = rep(c(2023, 2024), each = 12),
bulan = rep(month.abb, 2),
nilai = kendaraan
)
# 3 nilai tertinggi di tahun 2023 dan 2024
head(data_bulanan[order(-data_bulanan$nilai), ], 6)
## tahun bulan nilai
## 16 2024 Apr 820
## 4 2023 Apr 780
## 24 2024 Dec 640
## 12 2023 Dec 600
## 20 2024 Aug 510
## 18 2024 Jun 500
Dari hasil pengurutan ini, dua bulan yang paling menonjol adalah April (780 di 2023, 820 di 2024) dan Desember (600 di 2023, 640 di 2024), yang nilainya cukup jauh di atas bulan-bulan lain yang cenderung stabil di kisaran 400–500 an.
Lonjakan di bulan April berkaitan dengan arus mudik Lebaran (Idul Fitri), karena pada 2023 dan 2024 Lebaran memang jatuh di sekitar bulan tersebut. Pada periode ini, banyak masyarakat yang melakukan perjalanan untuk pulang kampung, termasuk melalui jalur penyeberangan Merak–Bakauheni. Sementara itu, lonjakan di bulan Desember berkaitan dengan libur Natal dan Tahun Baru (Nataru), di mana masyarakat juga cenderung melakukan perjalanan untuk liburan atau pulang ke daerah asal.
Jadi, dari hasil tersebut dapat dilihat bahwa April dan Desember menjadi dua bulan dengan jumlah kunjungan yang paling tinggi. Kenaikan pada kedua bulan tersebut kemungkinan besar berkaitan dengan adanya periode libur panjang yang menyebabkan mobilitas masyarakat melalui penyeberangan Merak–Bakauheni meningkat.
library(forecast)
seasonplot(ts_kendaraan, year.labels = TRUE, col = c("blue", "red"),
main = "Seasonal Plot Kendaraan per Bulan",
ylab = "Jumlah Kendaraan (ribuan)")
boxplot(kendaraan ~ factor(rep(month.abb, 2), levels = month.abb),
xlab = "Bulan", ylab = "Jumlah Kendaraan (ribuan)",
main = "Boxplot Kendaraan per Bulan (2023-2024)",
col = "lightblue")
Dari seasonal plot, garis tahun 2023 dan 2024 akan menunjukkan bentuk pola yang cukup mirip, yaitu sama-sama mengalami lonjakan yang cukup tinggi di bulan April, kemudian turun lagi, dan naik kembali di bulan Desember. Dari boxplot per bulan juga terlihat bahwa bulan April dan Desember memiliki posisi kotak yang jauh lebih tinggi dibandingkan bulan-bulan lainnya yang cenderung berada di kisaran 400–500 an.
Kesimpulannya, pola ini tergolong musiman (seasonal), bukan siklis. Alasannya karena lonjakan terjadi berulang pada bulan yang sama secara konsisten setiap tahun (April dan Desember) dan berkaitan langsung dengan periode kalender tertentu, yaitu Lebaran dan libur Nataru. Pola siklis biasanya tidak terikat pada bulan/kalender tertentu dan rentang waktunya bisa lebih dari satu tahun serta tidak selalu tetap, sedangkan di data ini pola berulangnya jelas terikat kalender tahunan dan penyebabnya sudah bisa diidentifikasi secara pasti.