Members

ANALISIS KOMPARATIF DAN EVALUASI AKURASI PERAMALAN HARGA
KOMODITAS SEMBAKO ANTARA HARGA AKTUAL DAN HASIL PERAMALAN
BERDASARKAN POLA GAP, KORELASI, DAN MUSIMAN MENGGUNAKAN
METODE SARIMA DI PASAR MOJOSARI DAN PASAR KEDUNGMALING,
KABUPATEN MOJOKERTO

Pembimbing Lapangan: Vri Nensy Yanurwati

Whirdyana Shalfa Ayubi

NIM: 52240010

Detail

Program Studi Sains Data · Fakultas Digital, Desain dan Bisnis
Institut Teknologi Sains Bandung 2026

DATASET

## Column

Validasi & Cleaning Dataset

Validasi & Cleaning Dataset
Data Mojosari
12.444
baris observasi
Data Kedungmaling
15.738
baris observasi
Komoditas Fokus
29
sebelum cleaning
Dataset Final
28
komoditas setelah cleaning
Validasi Dataset
Komoditas Fokus (29 Komoditas)
Hasil Pencocokan Dataset
Pemeriksaan Missing Value
Cleaning Dataset Final

Dataset Final Pasar Mojosari

Dataset Final Pasar Kedungmaling

EXPLORATORY DATA ANALYSIS (EDA)

## Column

Statistik & Ringkasan Gap

Eksplorasi Perbedaan Harga Antar Pasar
Analisis perbedaan harga antara Pasar Mojosari dan Pasar Kedungmaling berdasarkan gap harga dalam rupiah dan persentase.
Observasi Gap
10.248
pasangan harga yang dibandingkan
Rata-rata Gap Harga
Rp 607
Mojosari - Kedungmaling
Rata-rata Gap Persentase
0,39%
terhadap harga Kedungmaling
Komoditas Dianalisis
28
setelah cleaning
Rumus yang Digunakan
Gap (Rp) = Harga Mojosari - Harga Kedungmaling
Selisih harga harian antar pasar. Bernilai positif jika Mojosari lebih mahal, negatif jika Kedungmaling lebih mahal.
Gap (%) = (Gap Rp / Harga Kedungmaling) x 100%
Persentase gap dihitung terhadap harga Kedungmaling (dijadikan basis pembanding), bukan terhadap rata-rata kedua pasar. Selisih Rp yang sama bisa berarti persentase berbeda tergantung level harga komoditasnya -- gap Rp1.000 pada cabai jauh lebih besar dampaknya dibanding gap Rp1.000 pada beras.
Gap Absolut = |Gap Rp| dan |Gap %|
Nilai mutlak dipakai KHUSUS untuk mengurutkan (ranking) komoditas, misalnya Top 10 gap terbesar/terkecil. Gap bisa berganti arah dari hari ke hari; kalau dirata-rata tanpa nilai absolut, gap yang berlawanan arah bisa saling meniadakan sehingga komoditas yang sebenarnya sering berbeda harga cukup besar malah terlihat kecil rata-ratanya. Nilai absolut memastikan yang diukur adalah BESARNYA perbedaan harga, terlepas dari pasar mana yang lebih mahal.
2.1.1 Ringkasan Gap per Komoditas
Komoditas diurutkan berdasarkan rata-rata gap absolut persentase terbesar.
Interpretasi: Komoditas dengan gap absolut persentase terbesar adalah Tomat Merah (24,77%), sedangkan yang paling seragam harganya antar pasar adalah Ikan Tuna (1,6%). Rata-rata gap absolut seluruh komoditas adalah 9,4%, menunjukkan tingkat disparitas harga secara umum antar kedua pasar.
2.1.2 Top 10 Gap Terbesar & Terkecil
Komoditas paling bermasalah/berbeda harga (kiri) dibandingkan komoditas dengan harga paling seragam antar pasar (kanan).
TOP 10 GAP TERBESAR
TOP 10 GAP TERKECIL
Interpretasi: Grafik kiri (Top 10 Gap Terbesar) menyoroti komoditas yang berisiko menimbulkan disparitas harga signifikan antar pasar dan perlu jadi prioritas pemantauan distribusi. Grafik kanan (Top 10 Gap Terkecil) menunjukkan komoditas yang harganya relatif seragam di kedua pasar, sehingga bisa dijadikan acuan bahwa distribusi untuk komoditas tersebut sudah cukup merata.
2.1.3 Arah Perbedaan Harga
Gap positif menunjukkan harga Mojosari lebih mahal, sedangkan gap negatif menunjukkan harga Kedungmaling lebih mahal.
Mojosari Lebih Mahal
11
komoditas
Kedungmaling Lebih Mahal
17
komoditas
Harga Sama
0
komoditas
Interpretasi: Dari 28 komoditas yang dianalisis, 11 komoditas rata-rata lebih mahal di Pasar Mojosari dan 17 komoditas lebih mahal di Pasar Kedungmaling. Hal ini menunjukkan tidak ada satu pasar yang secara konsisten menjadi acuan harga lebih tinggi untuk seluruh komoditas -- arah gap bersifat spesifik per komoditas.

Dinamika & Korelasi

Eksplorasi Kesamaan Pergerakan Harga
Analisis seberapa mirip pola pergerakan harga antara Pasar Mojosari dan Pasar Kedungmaling, mencakup kualitas data, kekuatan korelasi, dan fokus khusus komoditas sembako utama.
Komoditas Flat/Hampir Flat
13 / 28
minimal 1 pasar nyaris tidak bergerak
Kemiripan Sangat Kuat
0
komoditas (korelasi ≥ 0,80)
Kemiripan Kuat
0
komoditas (korelasi 0,60–0,79)
Pergerakan Harga & Gap — 6 Komoditas Fokus
Sebelum masuk ke deteksi flat/stagnan secara numerik, berikut bukti visual pergerakan harga dan tren gap-nya. Pola yang datar/rata di salah satu garis biasanya menandakan data harga yang berhenti diperbarui — inilah yang diuji secara formal pada bagian berikutnya.
2.2.1 Deteksi Komoditas Flat/Stagnan
Komoditas dengan variasi harga sangat kecil (CV < 1%) atau nyaris nol di salah satu pasar — penting diketahui sebelum bicara korelasi, karena data flat bisa menyesatkan hasil perhitungan.
2.2.2 Ringkasan Gap & Kemiripan Pola
Satu tabel gabungan: variasi harga (CV), gap, korelasi level harga, korelasi pola perubahan, proporsi arah pergerakan yang sama, dan kategori kekuatan kemiripan.
2.2.3 Ranking — Pola Paling Mirip (Top 10)
Diurutkan berdasarkan korelasi pola perubahan harga tertinggi — menjawab langsung komoditas mana yang pergerakan harganya paling sinkron.
2.2.4 Ranking — Komoditas Sembako Utama
Fokus pada 9 komoditas sembako inti, diurutkan berdasarkan variasi harga rata-rata (CV) tertinggi ke terendah.

Pola Waktu & Seasonality — Kandidat Kuat dari EDA

Kekuatan Seasonality & Periode Perubahan Signifikan

Lanjutan analisis pola waktu: seberapa kuat pola musiman mingguan tiap komoditas, serta bulan-bulan dengan perubahan harga paling tajam.

C. Kekuatan Seasonality

Dihitung dari data harian dengan periode mingguan (s=7) memakai metode Hyndman: skor mendekati 1 berarti pola mingguan sangat kuat dan berulang, mendekati 0 berarti nyaris tidak ada pola musiman.

D. Identifikasi Periode Perubahan Signifikan

Top 15 perubahan harga bulanan (month-over-month) terbesar di seluruh komoditas dan kedua pasar — dasar kuantitatif untuk menelusuri penyebab kenaikan/penurunan harga yang tajam.

PERSIAPAN DATA UNTUK PEMODELAN

## Persiapan Data

Screening & Validasi Data

Persiapan Data untuk SARIMA

Screening kandidat dan validasi struktur time series

3.1

Screening Kandidat

Tabel dan grafik berikut mengurutkan enam komoditas fokus berdasarkan seberapa kuat pola musimannya, diukur melalui skor seasonality (rata-rata nilai seasonality pada pasar Mojosari dan Kedungmaling) serta CV rata-rata sebagai indikator dinamika harga secara umum. Semakin tinggi skor seasonality suatu komoditas, semakin jelas pola berulang yang dimilikinya sepanjang periode observasi — informasi ini akan digunakan untuk menentukan seberapa besar komponen musiman perlu diperhitungkan pada model SARIMA masing-masing komoditas.

Petunjuk membaca tabel:
Korelasi Pola Bulanan — seberapa mirip pola naik-turun harga antar bulan dari tahun ke tahun (semakin mendekati 1, semakin berulang polanya).
Seasonality Mojosari / Kedungmaling — besarnya komponen musiman pada masing-masing pasar.
Skor Seasonality — rata-rata dari kedua pasar, menjadi dasar pengurutan dan kategori kekuatan musiman (badge berwarna).
CV Rata-Rata — tingkat fluktuasi harga secara umum (bukan khusus musiman); semakin tinggi, semakin volatil harganya.
Gap Simetris Rata-Rata (%) — selisih harga antar pasar; nilai besar berarti disparitas harga antar pasar cukup tinggi.
Korelasi Harga — kemiripan pergerakan harga aktual antar pasar sepanjang periode observasi.

Rank Komoditas Korelasi
Pola Bulanan
Seasonality
Mojosari
Seasonality
Kedungmaling
CV
Rata-Rata
Gap Simetris
Rata-Rata (%)
Korelasi
Harga
Skor
Seasonality
Kategori
Musiman
1 Cabe Rawit Merah 0.990812 33.921580 35.705117 37.381841 11.879407 0.936129 34.813349 Sangat Kuat
2 Bawang Merah 0.705381 8.512892 11.578621 12.099926 8.856637 0.668189 10.045756 Kuat
3 Telur Ayam Ras 0.828654 6.201450 4.588203 5.823242 3.993873 0.717200 5.394827 Sedang
4 Minyak Goreng Kemasan Premium 0.983052 4.303703 4.301076 4.495865 9.910732 0.942991 4.302390 Lemah
5 Beras Premium -0.443846 4.898815 1.587960 3.642293 8.067813 -0.474245 3.243387 Lemah
6 Gula Kristal Putih 0.983294 1.799434 4.236422 3.168440 2.685298 0.918665 3.017928 Lemah

Interpretasi: Cabe Rawit Merah menempati peringkat tertinggi dengan skor seasonality 34.81 (kategori “Sangat Kuat”), menunjukkan pola musiman yang paling kuat dan berulang dibanding komoditas fokus lainnya — cocok disorot sebagai komoditas dengan risiko fluktuasi harga musiman paling besar. Sebaliknya, Gula Kristal Putih memiliki skor seasonality paling rendah (3.02), yang berarti pergerakan harganya relatif lebih stabil dan kurang dipengaruhi pola musiman tertentu.

Cabe Rawit Merah juga merupakan komoditas dengan CV rata-rata tertinggi (37.38%). Artinya, pola musiman yang kuat pada komoditas ini sejalan dengan tingkat fluktuasi harga yang juga paling besar, sehingga menjadi prioritas utama untuk pemodelan SARIMA dengan komponen musiman penuh.

Perlu menjadi catatan khusus: Beras Premium menunjukkan korelasi pola bulanan dan/atau korelasi harga yang bernilai negatif, yang mengindikasikan arah pergerakan harga antar tahun atau antar pasar tidak konsisten. Untuk komoditas ini, skor seasonality sebaiknya tidak dijadikan acuan tunggal — perlu dikonfirmasi lebih lanjut lewat plot deret waktu langsung sebelum menentukan parameter musiman (P, D, Q, s) pada SARIMA.

Perbedaan skor dan kategori inilah yang menjadi dasar seberapa penting komponen musiman diperhitungkan saat membangun model SARIMA untuk masing-masing komoditas — komoditas berkategori “Sangat Kuat” / “Kuat” umumnya membutuhkan orde musiman (P, D, Q, s) yang lebih besar dibanding komoditas berkategori “Sedang” / “Lemah”.

3.2

Validasi Struktur Time Series

Sebelum data digunakan untuk pemodelan time series, struktur tanggalnya perlu diperiksa terlebih dahulu untuk memastikan tidak ada bolong (gap) pencatatan yang signifikan. Pemeriksaan ini mencakup rentang waktu data, jumlah total observasi, jumlah tanggal unik, kelengkapan tanggal, serta pola jarak antar tanggal yang tercatat.

Kenapa validasi ini penting? Model SARIMA mengasumsikan data tercatat pada interval waktu yang teratur (misalnya harian tanpa jeda). Jika terdapat banyak tanggal yang hilang, pola musiman yang terdeteksi bisa bias atau bahkan tidak terbaca dengan baik oleh model. Bagian ini memastikan struktur data cukup rapat sebelum masuk ke tahap pembentukan model, dan memberi rekomendasi bila ditemukan gap yang perlu ditangani.

Tanggal Minimum

12-08-2025

Tanggal Maksimum

12-08-2026

Jumlah Observasi

10.248

Jumlah Tanggal Unik

366

Rentang Hari Kalender

366

Kelengkapan Tanggal

100.0%

Jarak Antar Tanggal Frekuensi
0 9.882
1 365

Hasil: Rentang data adalah dari 12-08-2025 sampai 12-08-2026, dengan total 10.248 observasi yang mencakup 366 tanggal unik dari 366 hari kalender pada rentang tersebut (rata-rata sekitar 28.0 pencatatan setiap tanggal, berasal dari kombinasi seluruh komoditas dan pasar yang dipantau).

Pola transisi yang paling sering muncul adalah jarak 0 hari (96.4% dari seluruh transisi), yang wajar terjadi karena beberapa komoditas dan pasar dicatat pada tanggal yang sama. Jika dilihat hanya pada transisi antar tanggal yang berbeda, interval yang paling sering muncul adalah 1 hari (3.6% dari seluruh transisi), yang menunjukkan pencatatan data dilakukan secara harian.

Data Siap Digunakan
Kelengkapan tanggal pada rentang ini mencapai 100.0%, tergolong sangat lengkap. Data historis dapat langsung digunakan sebagai dasar pembentukan model SARIMA tanpa penanganan gap tambahan yang signifikan.

Finalisasi & Seasonal Decomposition

Persiapan Data untuk SARIMA

Kriteria pemilihan komoditas fokus serta pola tren dan musiman harga

3.3 Kriteria & Finalisasi 6 Komoditas Fokus

Sebelum masuk ke tahap peramalan, setiap komoditas perlu dipastikan layak untuk dimodelkan. Tabel di bawah menunjukkan hasil penyaringan komoditas berdasarkan kelengkapan data pada kedua pasar dan tingkat dinamika harganya. Komoditas yang harganya benar-benar datar (tidak pernah berubah) pada salah satu pasar dikeluarkan karena tidak memiliki pola yang bisa dipelajari oleh model peramalan.

Kriteria yang digunakan:
1. Merupakan bahan pokok/sembako yang relevan dipantau (sudah disaring pada tahap awal).
2. Data pada kedua pasar lengkap dan konsisten (bukan FLAT TOTAL).
3. Memiliki dinamika harga yang cukup tinggi, diukur dari CV_Rata_Rata (koefisien variasi rata-rata) — semakin tinggi CV, semakin banyak pergerakan harga yang bisa dipelajari model.
Enam komoditas fokus yang terpilih: Beras Premium, Gula Kristal Putih, Minyak Goreng Kemasan Premium, Bawang Merah, Telur Ayam Ras, dan Cabe Rawit Merah.

Komoditas CV Mojosari CV Kedungmaling CV Rata-Rata Status Mojosari Status Kedungmaling Fokus SARIMA
Cabe Rawit Merah 36.067231 38.696452 37.381841 BERVARIASI BERVARIASI YA
Tomat Merah 17.510484 32.313149 24.911817 BERVARIASI BERVARIASI TIDAK
Cabe Merah Besar 19.400096 30.388132 24.894114 BERVARIASI BERVARIASI TIDAK
BUNCIS 14.011923 25.426705 19.719314 BERVARIASI BERVARIASI TIDAK
WORTEL 13.776410 17.942390 15.859400 BERVARIASI BERVARIASI TIDAK
Bawang Merah 9.670653 14.529199 12.099926 BERVARIASI BERVARIASI YA
KOL/KUBIS 3.880921 13.676963 8.778942 BERVARIASI BERVARIASI TIDAK
Bawang Putih Sinco/Honan 6.719065 9.073369 7.896217 BERVARIASI BERVARIASI TIDAK
KENTANG 4.773385 8.189926 6.481656 BERVARIASI BERVARIASI TIDAK
Daging Ayam Ras 5.195820 6.462727 5.829273 BERVARIASI BERVARIASI TIDAK
Telur Ayam Ras 6.274268 5.372215 5.823242 BERVARIASI BERVARIASI YA
Ikan Bandeng 7.429143 1.613614 4.521379 BERVARIASI BERVARIASI TIDAK
Minyak Goreng Kemasan Premium 4.474276 4.517454 4.495865 BERVARIASI BERVARIASI YA
Beras Premium 5.618438 1.666148 3.642293 BERVARIASI BERVARIASI YA
Gula Kristal Putih 1.887382 4.449497 3.168440 BERVARIASI BERVARIASI YA
3.4 Seasonal Decomposition Formal

Grafik berikut memecah pergerakan harga harian setiap komoditas fokus menjadi dua komponen utama yang berguna untuk membaca kondisi pasar: Trend memperlihatkan arah pergerakan harga dalam jangka panjang (naik, turun, atau stabil), sedangkan Seasonal memperlihatkan pola berulang mingguan, misalnya kecenderungan harga naik menjelang akhir pekan lalu kembali turun di awal minggu. Baris Observed adalah data harga asli sebelum dipecah, sehingga bisa dibandingkan langsung dengan hasil Trend dan Seasonal di bawahnya. Panel Residual (sisa acak yang tidak terjelaskan oleh Trend maupun Seasonal) tidak ditampilkan di sini agar fokus pembacaan tetap pada pola tren dan musiman yang akan menjadi dasar penentuan model SARIMA.

Metode: Dekomposisi additive dengan periode musiman 7 hari digunakan karena pola belanja masyarakat umumnya berulang dalam siklus mingguan (hari kerja vs akhir pekan). Data harga yang hilang diinterpolasi secara linear agar deret waktu tetap kontinu, dan proses dekomposisi dilakukan secara terpisah untuk setiap kombinasi komoditas dan pasar agar karakteristik masing-masing dapat terlihat dengan tepat.

Cara membaca tiap kartu grafik: Perhatikan garis Trend — jika cenderung naik dari kiri ke kanan berarti harga menguat sepanjang periode, jika menurun berarti melemah. Perhatikan juga rentang naik-turun garis Seasonal — semakin lebar rentangnya, semakin kuat pola mingguan yang berulang (misalnya harga rutin naik di hari tertentu). Kotak hijau di bawah tiap grafik berisi ringkasan otomatis dari kedua hal ini untuk mempercepat interpretasi saat presentasi.

Interpretasi: Tren harga Beras Premium di pasar Mojosari naik sekitar 18.7% sepanjang periode pengamatan. Pola musiman mingguan tergolong lemah dengan rentang fluktuasi sekitar Rp37 (0.3% dari rata-rata harga Rp13.665), menandakan pergerakan harga mingguan cenderung acak, bukan pola musiman yang jelas.
Interpretasi: Tren harga Beras Premium di pasar Kedungmaling turun sekitar 3.3% sepanjang periode pengamatan. Pola musiman mingguan tergolong lemah dengan rentang fluktuasi sekitar Rp8 (0.1% dari rata-rata harga Rp14.794), menandakan pergerakan harga mingguan cenderung acak, bukan pola musiman yang jelas.
Interpretasi: Tren harga Gula Kristal Putih di pasar Mojosari naik sekitar 3.3% sepanjang periode pengamatan. Pola musiman mingguan tergolong lemah dengan rentang fluktuasi sekitar Rp23 (0.1% dari rata-rata harga Rp16.625), menandakan pergerakan harga mingguan cenderung acak, bukan pola musiman yang jelas.
Interpretasi: Tren harga Gula Kristal Putih di pasar Kedungmaling naik sekitar 9.4% sepanjang periode pengamatan. Pola musiman mingguan tergolong lemah dengan rentang fluktuasi sekitar Rp25 (0.1% dari rata-rata harga Rp16.619), menandakan pergerakan harga mingguan cenderung acak, bukan pola musiman yang jelas.
Interpretasi: Tren harga Minyak Goreng Kemasan Premium di pasar Mojosari naik sekitar 10.5% sepanjang periode pengamatan. Pola musiman mingguan tergolong lemah dengan rentang fluktuasi sekitar Rp28 (0.1% dari rata-rata harga Rp19.764), menandakan pergerakan harga mingguan cenderung acak, bukan pola musiman yang jelas.
Interpretasi: Tren harga Minyak Goreng Kemasan Premium di pasar Kedungmaling naik sekitar 9.5% sepanjang periode pengamatan. Pola musiman mingguan tergolong lemah dengan rentang fluktuasi sekitar Rp33 (0.2% dari rata-rata harga Rp21.825), menandakan pergerakan harga mingguan cenderung acak, bukan pola musiman yang jelas.
Interpretasi: Tren harga Bawang Merah di pasar Mojosari turun sekitar 26.2% sepanjang periode pengamatan. Pola musiman mingguan tergolong lemah dengan rentang fluktuasi sekitar Rp187 (0.6% dari rata-rata harga Rp33.825), menandakan pergerakan harga mingguan cenderung acak, bukan pola musiman yang jelas.
Interpretasi: Tren harga Bawang Merah di pasar Kedungmaling turun sekitar 35.7% sepanjang periode pengamatan. Pola musiman mingguan tergolong lemah dengan rentang fluktuasi sekitar Rp448 (1.3% dari rata-rata harga Rp33.339), menandakan pergerakan harga mingguan cenderung acak, bukan pola musiman yang jelas.
Interpretasi: Tren harga Telur Ayam Ras di pasar Mojosari turun sekitar 10.5% sepanjang periode pengamatan. Pola musiman mingguan tergolong lemah dengan rentang fluktuasi sekitar Rp27 (0.1% dari rata-rata harga Rp27.060), menandakan pergerakan harga mingguan cenderung acak, bukan pola musiman yang jelas.
Interpretasi: Tren harga Telur Ayam Ras di pasar Kedungmaling turun sekitar 9.7% sepanjang periode pengamatan. Pola musiman mingguan tergolong lemah dengan rentang fluktuasi sekitar Rp146 (0.5% dari rata-rata harga Rp27.675), menandakan pergerakan harga mingguan cenderung acak, bukan pola musiman yang jelas.
Interpretasi: Tren harga Cabe Rawit Merah di pasar Mojosari naik sekitar 27.4% sepanjang periode pengamatan. Pola musiman mingguan tergolong lemah dengan rentang fluktuasi sekitar Rp795 (1.7% dari rata-rata harga Rp48.117), menandakan pergerakan harga mingguan cenderung acak, bukan pola musiman yang jelas.
Interpretasi: Tren harga Cabe Rawit Merah di pasar Kedungmaling naik sekitar 82.9% sepanjang periode pengamatan. Pola musiman mingguan tergolong sedang dengan rentang fluktuasi sekitar Rp1.577 (3.2% dari rata-rata harga Rp48.842), menandakan ada hari-hari tertentu dalam seminggu dengan kecenderungan harga lebih tinggi/rendah secara konsisten.

Stasioneritas & Identifikasi Model

3.5 & 3.6 — Stasioneritas & Identifikasi Model

Pengujian dilakukan pada enam komoditas fokus di Pasar Mojosari dan Pasar Kedungmaling. Stasioneritas diperiksa menggunakan ADF dan KPSS, kemudian pola autokorelasi setelah first differencing digunakan untuk membantu identifikasi model.

3.5 — Uji Stasioneritas

Sebelum masuk ke pemodelan SARIMA, setiap deret harga perlu dipastikan sudah stasioner terlebih dahulu — artinya rata-rata dan variansnya relatif stabil sepanjang waktu, tidak terus naik, turun, atau berubah-ubah pola secara sistematis. ADF dan KPSS digunakan secara bersamaan karena keduanya menguji arah hipotesis yang berlawanan, sehingga keputusan yang dihasilkan lebih dapat diandalkan. Pada taraf signifikansi 5%, data dinyatakan stasioner apabila ADF menghasilkan p-value < 0,05 dan KPSS menghasilkan p-value > 0,05.

Komoditas Pasar ADF Statistic ADF p-value KPSS Statistic KPSS p-value Keputusan
Beras Premium Mojosari -2.1867 0.4981 3.6900 0.0100 Tidak Stasioner
Beras Premium Kedungmaling -2.1036 0.5332 5.0112 0.0100 Tidak Stasioner
Gula Kristal Putih Mojosari -2.8079 0.2359 4.8083 0.0100 Tidak Stasioner
Gula Kristal Putih Kedungmaling -2.1036 0.5332 5.0112 0.0100 Tidak Stasioner
Minyak Goreng Kemasan Premium Mojosari -1.9935 0.5797 5.3206 0.0100 Tidak Stasioner
Minyak Goreng Kemasan Premium Kedungmaling -2.1036 0.5332 5.0112 0.0100 Tidak Stasioner
Bawang Merah Mojosari -2.3898 0.4124 0.6860 0.0148 Tidak Stasioner
Bawang Merah Kedungmaling -2.3106 0.4458 0.2176 0.1000 Tidak Stasioner
Telur Ayam Ras Mojosari -1.6805 0.7118 2.1053 0.0100 Tidak Stasioner
Telur Ayam Ras Kedungmaling -2.5971 0.3249 2.2145 0.0100 Tidak Stasioner
Cabe Rawit Merah Mojosari -2.1858 0.4985 1.6426 0.0100 Tidak Stasioner
Cabe Rawit Merah Kedungmaling -2.4483 0.3877 2.0810 0.0100 Tidak Stasioner

Ringkasan: Dari total 12 kombinasi komoditas-pasar, 0 dinyatakan Stasioner dan 12 Tidak Stasioner pada level data asli. Deret yang belum stasioner inilah yang membutuhkan first differencing (d = 1) sebelum masuk ke tahap identifikasi model pada bagian 3.6 di bawah.

Interpretasi: ADF memiliki hipotesis nol bahwa data tidak stasioner, sedangkan KPSS memiliki hipotesis nol bahwa data justru stasioner — sehingga apabila kedua uji saling mendukung, kesimpulan menjadi lebih meyakinkan. Apabila hasilnya “Tidak Stasioner”, artinya deret harga komoditas tersebut masih memiliki tren atau perubahan varians yang perlu dihilangkan melalui differencing sebelum dapat dimasukkan ke model SARIMA — proses inilah yang mendasari analisis ACF dan PACF pada bagian berikutnya.

3.6 — ACF & PACF Setelah First Differencing

Setelah first differencing (d = 1) diterapkan untuk menghilangkan tren, ACF (Autocorrelation Function) dan PACF (Partial Autocorrelation Function) digunakan untuk melihat seberapa besar harga pada suatu hari masih dipengaruhi oleh harga pada hari-hari sebelumnya. Analisis dilakukan hingga lag ke-40 agar pola mingguan maupun bulanan dapat tertangkap dengan baik. Setiap pasar ditampilkan dengan dua grafik berdampingan agar ACF dan PACF mudah dibandingkan secara langsung.

Cara membaca cepat: perhatikan pada lag berapa saja titik melewati garis putus-putus (batas signifikansi). Kotak biru di bawah tiap grafik berisi kandidat orde AR (p) / MA (q) otomatis berdasarkan pola tersebut, sebagai titik awal sebelum diuji lebih lanjut pada tahap pemodelan SARIMA.

Beras Premium
Pasar Mojosari
Interpretasi (Beras Premium — Mojosari): Ditemukan 0 lag signifikan pada ACF dan 0 lag signifikan pada PACF (dari total 40 lag yang diuji). Pola mengarah pada White Noise. Tidak ada lag signifikan pada ACF maupun PACF — deret setelah differencing mendekati white noise, model sederhana (mis. ARIMA(0,1,0)) mungkin sudah memadai.
Pasar Kedungmaling
Interpretasi (Beras Premium — Kedungmaling): Ditemukan 0 lag signifikan pada ACF dan 0 lag signifikan pada PACF (dari total 40 lag yang diuji). Pola mengarah pada White Noise. Tidak ada lag signifikan pada ACF maupun PACF — deret setelah differencing mendekati white noise, model sederhana (mis. ARIMA(0,1,0)) mungkin sudah memadai.
Gula Kristal Putih
Pasar Mojosari
Interpretasi (Gula Kristal Putih — Mojosari): Ditemukan 3 lag signifikan pada ACF dan 4 lag signifikan pada PACF (dari total 40 lag yang diuji). Pola mengarah pada ARMA. Pola campuran terdeteksi — kandidat awal AR(p ≈ 8) dan MA(q ≈ 4) perlu dikonfirmasi lebih lanjut.
Pasar Kedungmaling
Interpretasi (Gula Kristal Putih — Kedungmaling): Ditemukan 0 lag signifikan pada ACF dan 0 lag signifikan pada PACF (dari total 40 lag yang diuji). Pola mengarah pada White Noise. Tidak ada lag signifikan pada ACF maupun PACF — deret setelah differencing mendekati white noise, model sederhana (mis. ARIMA(0,1,0)) mungkin sudah memadai.
Minyak Goreng Kemasan Premium
Pasar Mojosari
Interpretasi (Minyak Goreng Kemasan Premium — Mojosari): Ditemukan 3 lag signifikan pada ACF dan 3 lag signifikan pada PACF (dari total 40 lag yang diuji). Pola mengarah pada ARMA. Pola campuran terdeteksi — kandidat awal AR(p ≈ 0) dan MA(q ≈ 0) perlu dikonfirmasi lebih lanjut.
Pasar Kedungmaling
Interpretasi (Minyak Goreng Kemasan Premium — Kedungmaling): Ditemukan 0 lag signifikan pada ACF dan 0 lag signifikan pada PACF (dari total 40 lag yang diuji). Pola mengarah pada White Noise. Tidak ada lag signifikan pada ACF maupun PACF — deret setelah differencing mendekati white noise, model sederhana (mis. ARIMA(0,1,0)) mungkin sudah memadai.
Bawang Merah
Pasar Mojosari
Interpretasi (Bawang Merah — Mojosari): Ditemukan 4 lag signifikan pada ACF dan 4 lag signifikan pada PACF (dari total 40 lag yang diuji). Pola mengarah pada ARMA. Pola campuran terdeteksi — kandidat awal AR(p ≈ 10) dan MA(q ≈ 10) perlu dikonfirmasi lebih lanjut.
Pasar Kedungmaling
Interpretasi (Bawang Merah — Kedungmaling): Ditemukan 1 lag signifikan pada ACF dan 1 lag signifikan pada PACF (dari total 40 lag yang diuji). Pola mengarah pada ARMA. Pola campuran terdeteksi — kandidat awal AR(p ≈ 2) dan MA(q ≈ 2) perlu dikonfirmasi lebih lanjut.
Telur Ayam Ras
Pasar Mojosari
Interpretasi (Telur Ayam Ras — Mojosari): Ditemukan 2 lag signifikan pada ACF dan 1 lag signifikan pada PACF (dari total 40 lag yang diuji). Pola mengarah pada ARMA. Pola campuran terdeteksi — kandidat awal AR(p ≈ 0) dan MA(q ≈ 0) perlu dikonfirmasi lebih lanjut.
Pasar Kedungmaling
Interpretasi (Telur Ayam Ras — Kedungmaling): Ditemukan 6 lag signifikan pada ACF dan 6 lag signifikan pada PACF (dari total 40 lag yang diuji). Pola mengarah pada ARMA. Baik ACF maupun PACF meluruh secara bertahap — mengindikasikan kombinasi ARMA/ARIMA, kandidat p dan q perlu diuji lebih lanjut (mis. lewat auto.arima).
Cabe Rawit Merah
Pasar Mojosari
Interpretasi (Cabe Rawit Merah — Mojosari): Ditemukan 3 lag signifikan pada ACF dan 2 lag signifikan pada PACF (dari total 40 lag yang diuji). Pola mengarah pada ARMA. Pola campuran terdeteksi — kandidat awal AR(p ≈ 0) dan MA(q ≈ 0) perlu dikonfirmasi lebih lanjut.
Pasar Kedungmaling
Interpretasi (Cabe Rawit Merah — Kedungmaling): Ditemukan 4 lag signifikan pada ACF dan 3 lag signifikan pada PACF (dari total 40 lag yang diuji). Pola mengarah pada ARMA. Pola campuran terdeteksi — kandidat awal AR(p ≈ 7) dan MA(q ≈ 7) perlu dikonfirmasi lebih lanjut.

Panduan membaca grafik: Titik (spike) pada ACF atau PACF yang melewati garis putus-putus (batas kepercayaan) menunjukkan autokorelasi yang signifikan secara statistik pada lag tersebut. Sebagai panduan awal: apabila PACF terputus tajam setelah lag tertentu sementara ACF meluruh perlahan, ini mengarah pada kandidat orde AR (p); sebaliknya, apabila ACF terputus tajam sementara PACF meluruh perlahan, ini mengarah pada kandidat orde MA (q). Jika keduanya meluruh secara bertahap, kemungkinan diperlukan kombinasi AR dan MA (ARMA). Pola inilah yang menjadi titik awal penentuan kandidat model SARIMA yang akan diuji lebih lanjut pada tahap pemodelan berikutnya. Kandidat p/q otomatis pada tiap kartu di atas bersifat indikatif awal dan tetap perlu dikonfirmasi lewat evaluasi model (AIC/BIC, uji residual).

PEMODELAN SARIMA & FORECASTING

## Pemodelan SARIMA

Skrining Stagnan & Train-Test Split

4.1 Skrining Stagnan & Train-Test Split

Sebelum pemodelan SARIMA dilakukan, setiap pasangan komoditas dan pasar perlu dipastikan datanya masih aktif diperbarui, kemudian dibagi menjadi data latih (train) dan data uji (test) agar performa model dapat dievaluasi secara objektif pada data yang belum pernah “dilihat” model sebelumnya.

A. Skrining Stagnan Seluruh Deret

Skrining dilakukan pada 60 hari terakhir dari seluruh deret waktu. Pasangan dengan standar deviasi harga ≤ 1 × 10-6 pada periode tersebut dikategorikan sebagai data yang sudah berhenti diperbarui, dan dikecualikan dari forecasting karena tidak lagi memiliki pola pergerakan yang bisa dipelajari model.

Komoditas Pasar Std. 60 Hari Terakhir Status
Bawang Merah Mojosari 3.8732e+03 LAYAK DIFORECAST
Bawang Merah Kedungmaling 5.4002e+03 LAYAK DIFORECAST
Beras Premium Mojosari 2.5211e+02 LAYAK DIFORECAST
Beras Premium Kedungmaling 0.0000e+00 DIKECUALIKAN
Cabe Rawit Merah Mojosari 6.1760e+03 LAYAK DIFORECAST
Cabe Rawit Merah Kedungmaling 6.7781e+03 LAYAK DIFORECAST
Gula Kristal Putih Mojosari 4.1496e+01 LAYAK DIFORECAST
Gula Kristal Putih Kedungmaling 0.0000e+00 DIKECUALIKAN
Minyak Goreng Kemasan Premium Mojosari 8.0815e+01 LAYAK DIFORECAST
Minyak Goreng Kemasan Premium Kedungmaling 0.0000e+00 DIKECUALIKAN
Telur Ayam Ras Mojosari 1.1022e+03 LAYAK DIFORECAST
Telur Ayam Ras Kedungmaling 1.0383e+03 LAYAK DIFORECAST
9

Pasangan Layak Diforecast

3

Pasangan Dikecualikan

12

Total Pasangan

Interpretasi: Dari total 12 pasangan yang diperiksa, 9 dinyatakan layak diforecast dan 3 dikecualikan karena harganya tidak lagi berubah (stagnan) pada 60 hari terakhir, yaitu: Beras Premium (Kedungmaling), Gula Kristal Putih (Kedungmaling), Minyak Goreng Kemasan Premium (Kedungmaling). Pasangan yang dikecualikan ini tidak diikutkan pada tahap train-test split maupun pemodelan SARIMA berikutnya.

B. Train-Test Split 80:20

Hanya pasangan yang lolos skrining stagnan yang digunakan untuk pemodelan SARIMA. Data dibagi secara berurutan menurut waktu menjadi 80% training (bagian awal deret, dipakai model untuk belajar pola) dan 20% testing (bagian akhir deret, disisihkan untuk menguji seberapa akurat hasil peramalan model dibanding data yang sebenarnya terjadi).

Komoditas Pasar Total Train (80%) Test (20%) Missing Train Missing Test
Bawang Merah Mojosari 366 292 74 0 0
Bawang Merah Kedungmaling 366 292 74 0 0
Beras Premium Mojosari 366 292 74 0 0
Cabe Rawit Merah Mojosari 366 292 74 0 0
Cabe Rawit Merah Kedungmaling 366 292 74 0 0
Gula Kristal Putih Mojosari 366 292 74 0 0
Minyak Goreng Kemasan Premium Mojosari 366 292 74 0 0
Telur Ayam Ras Mojosari 366 292 74 0 0
Telur Ayam Ras Kedungmaling 366 292 74 0 0

Interpretasi: Setiap pasangan yang lolos skrining dibagi dengan proporsi yang sama, misalnya untuk baris pertama pada tabel: 292 hari digunakan sebagai data training dan 74 hari sebagai data testing. Tidak ditemukan data hilang (missing) pada seluruh hasil pembagian, sehingga data siap digunakan langsung untuk pemodelan.

Output 4.1: Objek bab4_data_split menyimpan data full, train, dan test untuk setiap pasangan yang lolos skrining. Data ini digunakan sebagai input untuk 4.2 Grid Search & Pemilihan Model SARIMA.

C. Plot Pembagian Data Train & Data Test

Visualisasi 9 pasangan komoditas-pasar (dari total 12 kombinasi) yang lolos skrining stagnan, menunjukkan periode Train (biru) dan Test (oranye) pada masing-masing deret waktu.

Cara membaca: setiap grafik di bawah memiliki sumbu Y (Harga dalam Rupiah) tersendiri karena rentang harga tiap komoditas berbeda jauh — jangan membandingkan skala absolut antar grafik secara langsung. Fokuskan pembacaan pada pola naik-turun harga, serta titik peralihan warna dari biru (Train) ke oranye (Test).

Total 366 observasi dibagi menjadi 292 hari data training (biru) dan 74 hari data testing (oranye).
Total 366 observasi dibagi menjadi 292 hari data training (biru) dan 74 hari data testing (oranye).
Total 366 observasi dibagi menjadi 292 hari data training (biru) dan 74 hari data testing (oranye).
Total 366 observasi dibagi menjadi 292 hari data training (biru) dan 74 hari data testing (oranye).
Total 366 observasi dibagi menjadi 292 hari data training (biru) dan 74 hari data testing (oranye).
Total 366 observasi dibagi menjadi 292 hari data training (biru) dan 74 hari data testing (oranye).
Total 366 observasi dibagi menjadi 292 hari data training (biru) dan 74 hari data testing (oranye).
Total 366 observasi dibagi menjadi 292 hari data training (biru) dan 74 hari data testing (oranye).
Total 366 observasi dibagi menjadi 292 hari data training (biru) dan 74 hari data testing (oranye).

Grid Search & Pemilihan Model

4.2 Grid Search & Pemilihan Model SARIMA

Setiap pasangan komoditas-pasar yang lolos skrining pada 4.1 dicoba dengan berbagai kombinasi parameter SARIMA pada data training. Model dibandingkan lewat AIC/BIC dan diuji kelayakan residualnya (Ljung-Box) sebelum satu model terbaik dipilih secara otomatis untuk masing-masing pasangan.

A. Pembentukan Kandidat Model SARIMA

Model SARIMA memiliki dua bagian parameter: non-musiman (p, d, q) yang menangkap pola jangka pendek, dan musiman (P, D, Q) pada periode s = 7 hari yang menangkap pola mingguan berulang. Kombinasi dari kedua kelompok parameter ini menghasilkan 16 kandidat model yang dicoba pada data train setiap pasangan komoditas-pasar — semakin banyak kombinasi yang dicoba, semakin besar peluang menemukan model yang paling pas dengan pola data.

4
Kombinasi Non-Musiman (p,d,q)
4
Kombinasi Musiman (P,D,Q)
16
Total Kandidat per Pasangan

B. Grid Search — Top 3 Kandidat per Pasangan

Menampilkan 3 kandidat terbaik dari seluruh kombinasi yang dicoba, diurutkan berdasarkan: lulus tidaknya uji Ljung-Box terlebih dahulu, kemudian BIC terendah, lalu AIC terendah. Seluruh hasil grid search tersimpan pada objek bab42_hasil_grid untuk ditelusuri lebih lanjut bila diperlukan.

Cara membaca: badge LULUS pada kolom Ljung-Box berarti residual model tersebut sudah bersih dari autokorelasi (tidak ada pola yang tersisa untuk dipelajari lagi) — ini pertanda model sudah cukup menangkap pola data. Badge TIDAK LULUS berarti masih ada pola tersisa yang belum tertangkap model, meski AIC/BIC-nya mungkin rendah.

Komoditas Pasar Order (p,d,q) Seasonal (P,D,Q,s) AIC BIC Ljung-Box
Bawang Merah Kedungmaling (0,1,0) (1,0,0,7) 5115.86 5123.21 LULUS
Bawang Merah Kedungmaling (0,1,0) (0,0,1,7) 5116.47 5123.82 LULUS
Bawang Merah Kedungmaling (1,1,1) (0,0,0,7) 5114.57 5125.59 LULUS
Bawang Merah Mojosari (0,1,0) (0,0,0,7) 4715.22 4718.89 LULUS
Bawang Merah Mojosari (1,1,0) (0,0,0,7) 4717.22 4724.56 LULUS
Bawang Merah Mojosari (0,1,1) (0,0,0,7) 4717.22 4724.56 LULUS
Beras Premium Mojosari (0,1,0) (0,0,0,7) 3662.67 3666.35 LULUS
Beras Premium Mojosari (0,1,0) (0,0,1,7) 3664.67 3672.02 LULUS
Beras Premium Mojosari (0,1,0) (1,0,0,7) 3664.67 3672.02 LULUS
Cabe Rawit Merah Kedungmaling (0,1,0) (0,0,1,7) 5626.41 5633.76 LULUS
Cabe Rawit Merah Kedungmaling (0,1,0) (1,0,0,7) 5626.47 5633.82 LULUS
Cabe Rawit Merah Kedungmaling (0,1,0) (0,0,0,7) 5632.22 5635.89 LULUS
Cabe Rawit Merah Mojosari (0,1,0) (0,0,0,7) 5663.72 5667.39 LULUS
Cabe Rawit Merah Mojosari (0,1,0) (1,0,0,7) 5665.41 5672.75 LULUS
Cabe Rawit Merah Mojosari (0,1,0) (0,0,1,7) 5665.42 5672.76 LULUS
Gula Kristal Putih Mojosari (0,1,0) (0,0,0,7) 3314.84 3318.51 TIDAK LULUS
Gula Kristal Putih Mojosari (0,1,0) (0,0,1,7) 3316.75 3324.1 TIDAK LULUS
Gula Kristal Putih Mojosari (0,1,0) (1,0,0,7) 3316.75 3324.1 TIDAK LULUS
Minyak Goreng Kemasan Premium Mojosari (0,1,0) (0,0,0,7) 3365.35 3369.03 LULUS
Minyak Goreng Kemasan Premium Mojosari (0,1,0) (0,0,1,7) 3366.96 3374.3 LULUS
Minyak Goreng Kemasan Premium Mojosari (0,1,0) (1,0,0,7) 3366.97 3374.31 LULUS
Telur Ayam Ras Kedungmaling (0,1,0) (0,0,0,7) 4227.62 4231.29 TIDAK LULUS
Telur Ayam Ras Kedungmaling (0,1,0) (0,0,1,7) 4229.62 4236.96 TIDAK LULUS
Telur Ayam Ras Kedungmaling (0,1,0) (1,0,0,7) 4229.62 4236.96 TIDAK LULUS
Telur Ayam Ras Mojosari (0,1,0) (1,0,0,7) 3833.84 3841.19 LULUS
Telur Ayam Ras Mojosari (0,1,0) (0,0,1,7) 3834.69 3842.04 LULUS
Telur Ayam Ras Mojosari (0,1,0) (0,0,0,7) 3838.7 3842.38 LULUS

C. Perbandingan AIC & BIC

AIC dan BIC adalah ukuran seberapa baik model menyeimbangkan kecocokan terhadap data dengan kompleksitasnya — semakin rendah nilainya, semakin baik model tersebut. BIC memberi penalti lebih besar untuk model yang rumit dibanding AIC, sehingga dijadikan acuan utama dalam pemilihan model final pada bagian E.

Cara membaca: setiap panel mewakili satu pasangan komoditas-pasar, dengan 3 model kandidat dan sepasang bar AIC (biru) & BIC (oranye) untuk masing-masing. Jika ketiga kandidat pada satu panel memiliki tinggi bar yang mirip, artinya pemilihan model untuk pasangan tersebut tidak terlalu sensitif terhadap kombinasi parameter — model mana pun dari ketiganya kemungkinan memberi hasil yang setara.

D. Uji Ljung-Box — Model Final

Menguji apakah residual model final bersifat white noise (tidak ada autokorelasi tersisa) pada lag 7, 14, dan 21 hari. Jika residual masih memiliki pola pada salah satu lag ini, artinya model belum sepenuhnya menangkap informasi dalam data dan interval prediksi peramalan berpotensi meleset dari yang seharusnya.

Komoditas Pasar Model Lag p-value Status
Bawang Merah Kedungmaling SARIMA(0,1,0)(1,0,0)[7] 7 0.1353 LULUS
Bawang Merah Kedungmaling SARIMA(0,1,0)(1,0,0)[7] 14 0.3412 LULUS
Bawang Merah Kedungmaling SARIMA(0,1,0)(1,0,0)[7] 21 0.6618 LULUS
Bawang Merah Mojosari SARIMA(0,1,0)(0,0,0)[7] 7 1.0000 LULUS
Bawang Merah Mojosari SARIMA(0,1,0)(0,0,0)[7] 14 1.0000 LULUS
Bawang Merah Mojosari SARIMA(0,1,0)(0,0,0)[7] 21 0.9587 LULUS
Beras Premium Mojosari SARIMA(0,1,0)(0,0,0)[7] 7 0.9721 LULUS
Beras Premium Mojosari SARIMA(0,1,0)(0,0,0)[7] 14 1.0000 LULUS
Beras Premium Mojosari SARIMA(0,1,0)(0,0,0)[7] 21 1.0000 LULUS
Cabe Rawit Merah Kedungmaling SARIMA(0,1,0)(0,0,1)[7] 7 0.5586 LULUS
Cabe Rawit Merah Kedungmaling SARIMA(0,1,0)(0,0,1)[7] 14 0.6863 LULUS
Cabe Rawit Merah Kedungmaling SARIMA(0,1,0)(0,0,1)[7] 21 0.6298 LULUS
Cabe Rawit Merah Mojosari SARIMA(0,1,0)(0,0,0)[7] 7 0.9845 LULUS
Cabe Rawit Merah Mojosari SARIMA(0,1,0)(0,0,0)[7] 14 0.9867 LULUS
Cabe Rawit Merah Mojosari SARIMA(0,1,0)(0,0,0)[7] 21 0.8473 LULUS
Gula Kristal Putih Mojosari SARIMA(0,1,0)(0,0,0)[7] 7 0.0000 TIDAK LULUS
Gula Kristal Putih Mojosari SARIMA(0,1,0)(0,0,0)[7] 14 0.0009 TIDAK LULUS
Gula Kristal Putih Mojosari SARIMA(0,1,0)(0,0,0)[7] 21 0.0059 TIDAK LULUS
Minyak Goreng Kemasan Premium Mojosari SARIMA(0,1,0)(0,0,0)[7] 7 0.9998 LULUS
Minyak Goreng Kemasan Premium Mojosari SARIMA(0,1,0)(0,0,0)[7] 14 0.9806 LULUS
Minyak Goreng Kemasan Premium Mojosari SARIMA(0,1,0)(0,0,0)[7] 21 0.5564 LULUS
Telur Ayam Ras Kedungmaling SARIMA(0,1,0)(0,0,0)[7] 7 0.9153 LULUS
Telur Ayam Ras Kedungmaling SARIMA(0,1,0)(0,0,0)[7] 14 0.9783 LULUS
Telur Ayam Ras Kedungmaling SARIMA(0,1,0)(0,0,0)[7] 21 0.0023 TIDAK LULUS
Telur Ayam Ras Mojosari SARIMA(0,1,0)(1,0,0)[7] 7 1.0000 LULUS
Telur Ayam Ras Mojosari SARIMA(0,1,0)(1,0,0)[7] 14 0.9999 LULUS
Telur Ayam Ras Mojosari SARIMA(0,1,0)(1,0,0)[7] 21 1.0000 LULUS

Interpretasi: Dari 9 pasangan, 7 model final residualnya bersih dari autokorelasi (white noise) di semua lag, sedangkan 2 model masih menyisakan sedikit autokorelasi, yaitu pada pasangan: Gula Kristal Putih (Mojosari), Telur Ayam Ras (Kedungmaling). Hasil forecasting pada pasangan ini tetap bisa digunakan, namun perlu dibaca lebih hati-hati karena interval prediksinya berpotensi under-estimate.

E. Pemilihan Model SARIMA Final

Model final dipilih otomatis untuk tiap pasangan: prioritas pertama adalah model yang lulus uji Ljung-Box dengan BIC terendah di antara yang lulus. Jika tidak ada kandidat yang lulus sama sekali, sistem menggunakan model dengan BIC terendah dari seluruh kandidat sebagai solusi terbaik yang tersedia (fallback), dan status ini ditandai secara eksplisit agar dapat dibaca dengan hati-hati.

Komoditas Pasar Order (p,d,q) Seasonal (P,D,Q,s) AIC BIC Pemilihan
Bawang Merah Kedungmaling (0,1,0) (1,0,0,7) 5115.86 5123.21 LULUS LJUNG-BOX
Bawang Merah Mojosari (0,1,0) (0,0,0,7) 4715.22 4718.89 LULUS LJUNG-BOX
Beras Premium Mojosari (0,1,0) (0,0,0,7) 3662.67 3666.35 LULUS LJUNG-BOX
Cabe Rawit Merah Kedungmaling (0,1,0) (0,0,1,7) 5626.41 5633.76 LULUS LJUNG-BOX
Cabe Rawit Merah Mojosari (0,1,0) (0,0,0,7) 5663.72 5667.39 LULUS LJUNG-BOX
Gula Kristal Putih Mojosari (0,1,0) (0,0,0,7) 3314.84 3318.51 FALLBACK (BIC)
Minyak Goreng Kemasan Premium Mojosari (0,1,0) (0,0,0,7) 3365.35 3369.03 LULUS LJUNG-BOX
Telur Ayam Ras Kedungmaling (0,1,0) (0,0,0,7) 4227.62 4231.29 FALLBACK (BIC)
Telur Ayam Ras Mojosari (0,1,0) (1,0,0,7) 3833.84 3841.19 LULUS LJUNG-BOX

Ringkasan: 7 dari 9 pasangan mendapat model final yang lulus uji Ljung-Box, dan 2 pasangan menggunakan model fallback (BIC terendah tanpa lulus Ljung-Box). Objek bab42_model_final menyimpan spesifikasi model SARIMA final per pasangan ini, digunakan sebagai input untuk forecasting dan evaluasi pada sub-bab berikutnya.

Walk-Forward Forecast & Evaluasi

4.3 Walk-Forward Forecast & Evaluasi

Setelah model SARIMA final ditentukan pada 4.2, akurasinya perlu diuji dengan cara yang meniru kondisi pemakaian nyata: model dievaluasi lewat skema walk-forward (rolling origin), lalu hasilnya divisualisasikan sebagai aktual vs forecast dan forecast dengan rentang ketidakpastian (confidence interval) 95%.

A. Walk-Forward Forecast

Model di-refit ulang tiap 5 hari memakai seluruh data yang tersedia sampai titik itu, lalu dipakai untuk forecast 5 hari ke depan, sebelum di-refit lagi dengan data terbaru. Pendekatan ini lebih realistis dibanding forecast statis satu kali untuk seluruh periode test, karena mencerminkan bagaimana model akan benar-benar dipakai di lapangan — terus diperbarui seiring data baru masuk.

9
Pasangan Dievaluasi
9
MAPE ≤ 10%
0
MAPE > 10%

Interpretasi: Rata-rata MAPE seluruh pasangan adalah 2.35%. Model paling akurat ada pada Beras Premium - Mojosari dengan MAPE 0.05%, sedangkan yang paling perlu diperhatikan ada pada Cabe Rawit Merah - Kedungmaling dengan MAPE 8.01%. Sebagai acuan umum, MAPE di bawah 10% dianggap tergolong akurat untuk peramalan harga komoditas.

B. Perbandingan Aktual vs Forecast

Setiap komoditas ditampilkan sebagai satu grafik tersendiri dengan sumbu Y (Harga Rp) masing-masing, karena skala harga antar komoditas berbeda jauh. Jika kedua pasar tersedia, warna membedakan pasar (garis solid = Aktual, putus-putus = Forecast). Jika hanya satu pasar yang tersedia, warna dialihkan untuk membedakan Aktual vs Forecast secara langsung agar tetap mudah dibaca.

Cara membaca: semakin rapat garis solid dan putus-putus pada warna yang sama/berpasangan, semakin akurat forecast model. Perhatikan juga apakah pola musiman mingguan pada garis aktual tertangkap oleh garis forecast.

Akurasi forecast per pasar: Kedungmaling (MAPE 3.42%), Mojosari (MAPE 1.42%).
Akurasi forecast per pasar: Mojosari (MAPE 0.05%).
Akurasi forecast per pasar: Kedungmaling (MAPE 8.01%), Mojosari (MAPE 4.28%).
Akurasi forecast per pasar: Mojosari (MAPE 0.07%).
Akurasi forecast per pasar: Mojosari (MAPE 0.21%).
Akurasi forecast per pasar: Kedungmaling (MAPE 1.70%), Mojosari (MAPE 2.04%).
C. Evaluasi Akurasi Forecast

MAE dan RMSE mengukur besar kesalahan forecast dalam satuan Rupiah (semakin kecil semakin baik), sedangkan MAPE mengukur kesalahan dalam persentase relatif terhadap harga aktual sehingga bisa dibandingkan antar komoditas dengan skala harga berbeda. MAPE di bawah 10% dianggap akurasi yang baik untuk peramalan harga komoditas.

Komoditas Pasar Model MAE RMSE MAPE (%) Status
Bawang Merah Kedungmaling SARIMA(0,1,0)(1,0,0)[7] 1223.02 2056.25 3.42 BAIK
Bawang Merah Mojosari SARIMA(0,1,0)(0,0,0)[7] 452.16 1461.73 1.42 BAIK
Beras Premium Mojosari SARIMA(0,1,0)(0,0,0)[7] 6.76 58.12 0.05 BAIK
Cabe Rawit Merah Kedungmaling SARIMA(0,1,0)(0,0,1)[7] 3821.23 7119.69 8.01 BAIK
Cabe Rawit Merah Mojosari SARIMA(0,1,0)(0,0,0)[7] 1973.51 3964.3 4.28 BAIK
Gula Kristal Putih Mojosari SARIMA(0,1,0)(0,0,0)[7] 12.43 30.18 0.07 BAIK
Minyak Goreng Kemasan Premium Mojosari SARIMA(0,1,0)(0,0,0)[7] 43.65 86.14 0.21 BAIK
Telur Ayam Ras Kedungmaling SARIMA(0,1,0)(0,0,0)[7] 432.43 854.24 1.7 BAIK
Telur Ayam Ras Mojosari SARIMA(0,1,0)(1,0,0)[7] 493.16 809.84 2.04 BAIK
D. Perbandingan MAPE

Ringkasan visual MAPE seluruh pasangan komoditas–pasar, diurutkan dari yang paling akurat. Garis putus-putus merah menandai ambang 10%.

Cara membaca: bar biru (MAPE ≤ 10%) menandai pasangan dengan akurasi baik; bar oranye (MAPE > 10%) menandai pasangan yang forecast-nya kurang akurat dan sebaiknya digunakan dengan lebih hati-hati, atau dipertimbangkan untuk dicoba ulang dengan kombinasi parameter SARIMA lain.

E. Forecast dengan Confidence Interval 95%

Selain titik forecast, ditampilkan juga rentang ketidakpastian 95% (area terarsir) dari model tunggal yang di-fit sekali pada seluruh data train. Setiap pasangan komoditas-pasar ditampilkan sebagai grafik tersendiri dengan sumbu Y masing-masing.

Cara membaca: semakin banyak titik aktual (garis hitam) yang berada di dalam area biru terarsir, semakin baik model menangkap ketidakpastian yang sebenarnya. Persentase cakupan (coverage) dihitung otomatis di bawah tiap grafik.

97.3% titik aktual berada di dalam rentang confidence interval 95%.
87.8% titik aktual berada di dalam rentang confidence interval 95%.
100.0% titik aktual berada di dalam rentang confidence interval 95%.
75.7% titik aktual berada di dalam rentang confidence interval 95%. Cakupan ini tergolong rendah, menandakan rentang ketidakpastian model mungkin terlalu sempit dibanding fluktuasi harga yang sebenarnya terjadi.
98.6% titik aktual berada di dalam rentang confidence interval 95%.
100.0% titik aktual berada di dalam rentang confidence interval 95%.
100.0% titik aktual berada di dalam rentang confidence interval 95%.
100.0% titik aktual berada di dalam rentang confidence interval 95%.
89.2% titik aktual berada di dalam rentang confidence interval 95%.

Output 4.3: Objek bab43_hasil_evaluasi dan bab43_hasil_forecast menyimpan hasil evaluasi akurasi dan detail forecast harian untuk seluruh pasangan yang layak diforecast.

HASIL & RINGKASAN

## Column

Ringkasan Akhir

Perbandingan Komoditas Sembako di Kedua Pasar Terbesar di Kabupaten Mojokerto
Pasar Mojosari vs Pasar Kedungmaling
6
Komoditas Fokus
0.07
Rata-Rata Korelasi Pola (r)
2.4%
Rata-Rata MAPE
9/9
Model Akurat
Tabel Hasil Pemodelan SARIMA Final
Order model & akurasi forecast tiap pasangan komoditas-pasar (diurutkan MAPE terbaik).
Komoditas Pasar Order SARIMA MAPE Akurasi
Beras Premium Mojosari (0,1,0)(0,0,0)7 0.05% Baik
Gula Kristal Putih Mojosari (0,1,0)(0,0,0)7 0.07% Baik
Minyak Goreng Kemasan Premium Mojosari (0,1,0)(0,0,0)7 0.21% Baik
Bawang Merah Mojosari (0,1,0)(0,0,0)7 1.42% Baik
Telur Ayam Ras Kedungmaling (0,1,0)(0,0,0)7 1.7% Baik
Telur Ayam Ras Mojosari (0,1,0)(1,0,0)7 2.04% Baik
Bawang Merah Kedungmaling (0,1,0)(1,0,0)7 3.42% Baik
Cabe Rawit Merah Mojosari (0,1,0)(0,0,0)7 4.28% Baik
Cabe Rawit Merah Kedungmaling (0,1,0)(0,0,1)7 8.01% Baik
Kesimpulan

Perbandingan 6 komoditas sembako fokus di Pasar Mojosari dan Pasar Kedungmaling menunjukkan tiga hal. Pertama, terdapat perbedaan harga (gap) yang nyata namun tidak seragam arahnya: 2 komoditas lebih mahal di Mojosari dan 4 di Kedungmaling, dengan gap terbesar pada Cabe Rawit Merah. Kedua, kedua pasar tidak terintegrasi – rata-rata korelasi pola pergerakan harian hanya r = 0.07, dengan 6 dari 6 komoditas berkategori lemah/independen, artinya perubahan harga di satu pasar umumnya tidak diikuti pasar lain. Ketiga, independensi ini tidak menghalangi peramalan: model SARIMA yang dibangun (tabel di atas) mencapai akurasi baik (MAPE ≤ 10%) pada 9 dari 9 pasangan, dengan performa terbaik pada Beras Premium – Mojosari (MAPE 0.05%), karena SARIMA memprediksi dari pola historis tiap pasar sendiri, bukan dari hubungan antar pasar. Sebanyak 3 dari 12 pasangan tidak diikutkan karena data harga berhenti diperbarui.

Saran
Pemerintah / Diskominfo
  • Intervensi harga sebaiknya per pasar, karena keduanya bergerak independen.
  • Prioritaskan pemantauan pada Cabe Rawit Merah (gap harga terbesar).
  • Perbaiki sistem pemutakhiran data agar tidak ada lagi pasangan data beku.
Pedagang / Pengelola Pasar
  • Keputusan harga sebaiknya mengacu kondisi pasokan lokal, bukan mengikuti pasar sebelah.
  • Gap harga konsisten pada komoditas tertentu perlu ditelusuri penyebabnya (distribusi/pemasok).
Pengembangan Model
  • Evaluasi ulang parameter untuk model MAPE > 10%: tidak ada.
  • Tambahkan data multi-tahun untuk validasi seasonality tahunan.