Ringkasan Laporan: Laporan ini membangun dan mengevaluasi model regresi linear sederhana untuk memprediksi volume kayu (
Volume) pohon ceri berdasarkan diameter batangnya (Girth), lengkap dengan eksplorasi data, pengujian signifikansi model, dan pemeriksaan asumsi klasik.
Kayu merupakan salah satu hasil hutan yang bernilai ekonomis tinggi dan banyak dimanfaatkan dalam industri konstruksi, mebel, hingga bahan bakar. Dalam praktik kehutanan, pengukuran volume kayu suatu pohon secara langsung (misalnya dengan menebang pohon) membutuhkan biaya, waktu, dan tenaga yang tidak sedikit, serta bersifat merusak (destruktif). Oleh karena itu, dibutuhkan suatu pendekatan statistika yang memungkinkan estimasi volume kayu tanpa harus menebang pohon, yaitu dengan memanfaatkan variabel lain yang lebih mudah diukur di lapangan, seperti diameter batang.
Diameter batang pohon (girth) merupakan variabel yang
relatif mudah dan cepat diukur menggunakan pita ukur, tanpa merusak
pohon. Jika terdapat hubungan yang kuat antara diameter batang dan
volume kayu, maka model regresi dapat digunakan untuk memprediksi volume
kayu suatu pohon hanya berdasarkan pengukuran diameternya. Laporan ini
menggunakan dataset trees bawaan R sebagai studi kasus
untuk membangun dan mengevaluasi model regresi linear sederhana antara
diameter batang (Girth) dan volume kayu
(Volume).
Berdasarkan latar belakang di atas, permasalahan yang dikaji dalam laporan ini dirumuskan sebagai berikut:
Girth) dengan volume kayu (Volume) pada pohon
ceri?Girth dalam
menjelaskan keragaman Volume?Tujuan dari analisis dalam laporan ini adalah:
Girth dan
Volume secara deskriptif dan visual.Girth
(prediktor) dan Volume (respon).Regresi linear sederhana adalah metode statistika yang digunakan untuk memodelkan hubungan antara satu variabel respon (Y) dengan satu variabel prediktor (X) yang diasumsikan bersifat linear. Model umum regresi linear sederhana dituliskan sebagai:
\[Y_i = \beta_0 + \beta_1 X_i + \varepsilon_i\]
dengan:
Parameter \(\beta_0\) dan \(\beta_1\) diestimasi menggunakan metode kuadrat terkecil (Ordinary Least Squares/OLS), yang meminimumkan jumlah kuadrat residual. Kebaikan model dievaluasi antara lain melalui koefisien determinasi (\(R^2\)), uji signifikansi parameter (uji-t), dan uji signifikansi model secara keseluruhan (uji-F), serta pemeriksaan asumsi klasik (linearitas, normalitas residual, homoskedastisitas, dan non-autokorelasi).
Data yang digunakan adalah dataset bawaan R, yaitu
trees, yang berisi hasil pengukuran 31 pohon ceri
(black cherry trees): diameter batang (Girth,
dalam inci), tinggi pohon (Height, dalam feet), dan volume
kayu yang dihasilkan (Volume, dalam kaki kubik). Pada
laporan ini, Volume diposisikan sebagai variabel respon dan
Girth sebagai variabel prediktor.
## 'data.frame': 31 obs. of 3 variables:
## $ Girth : num 8.3 8.6 8.8 10.5 10.7 10.8 11 11 11.1 11.2 ...
## $ Height: num 70 65 63 72 81 83 66 75 80 75 ...
## $ Volume: num 10.3 10.3 10.2 16.4 18.8 19.7 15.6 18.2 22.6 19.9 ...
Output str() di atas menunjukkan bahwa dataset
trees terdiri dari 31 observasi (baris)
dan 3 variabel numerik (kolom): Girth,
Height, dan Volume, tanpa ada variabel
kategorik. Tidak ditemukan indikasi missing value pada struktur data
ini, sehingga data dapat langsung digunakan tanpa tahap pembersihan
(data cleaning) tambahan.
## Girth Height Volume
## Min. : 8.30 Min. :63 Min. :10.20
## 1st Qu.:11.05 1st Qu.:72 1st Qu.:19.40
## Median :12.90 Median :76 Median :24.20
## Mean :13.25 Mean :76 Mean :30.17
## 3rd Qu.:15.25 3rd Qu.:80 3rd Qu.:37.30
## Max. :20.60 Max. :87 Max. :77.00
Fungsi summary() menampilkan lima ringkasan angka
(five-number summary) beserta rata-rata untuk setiap variabel.
Dari sini dapat dilihat gambaran awal rentang nilai Girth
dan Volume, termasuk apakah rata-rata (mean) dan
median berbeda jauh — yang menjadi indikasi awal kemencengan
(skewness) distribusi data.
# Tabel ringkasan yang lebih rapi dan informatif, dilengkapi kableExtra bila tersedia
tabel_ringkasan <- data.frame(
Statistik = c("Minimum", "Q1", "Median", "Mean", "Q3", "Maximum", "Std. Dev"),
Girth = c(min(trees$Girth), quantile(trees$Girth, 0.25), median(trees$Girth),
round(mean(trees$Girth), 2), quantile(trees$Girth, 0.75),
max(trees$Girth), round(sd(trees$Girth), 2)),
Volume = c(min(trees$Volume), quantile(trees$Volume, 0.25), median(trees$Volume),
round(mean(trees$Volume), 2), quantile(trees$Volume, 0.75),
max(trees$Volume), round(sd(trees$Volume), 2))
)
if (requireNamespace("kableExtra", quietly = TRUE)) {
library(kableExtra)
knitr::kable(
tabel_ringkasan,
caption = "Ringkasan Statistik Deskriptif Variabel Girth dan Volume",
align = "lcc"
) %>%
kable_styling(bootstrap_options = c("striped", "hover", "condensed"),
full_width = FALSE, position = "center") %>%
row_spec(0, bold = TRUE, background = "#40916c", color = "white")
} else {
knitr::kable(
tabel_ringkasan,
caption = "Ringkasan Statistik Deskriptif Variabel Girth dan Volume",
align = "lcc"
)
}| Statistik | Girth | Volume |
|---|---|---|
| Minimum | 8.30 | 10.20 |
| Q1 | 11.05 | 19.40 |
| Median | 12.90 | 24.20 |
| Mean | 13.25 | 30.17 |
| Q3 | 15.25 | 37.30 |
| Maximum | 20.60 | 77.00 |
| Std. Dev | 3.14 | 16.44 |
Tabel di atas mempermudah perbandingan langsung antara
Girth dan Volume pada setiap ukuran statistik.
Selisih yang cukup besar antara Mean dan Median pada
kedua variabel mengonfirmasi adanya sedikit kemencengan distribusi,
sebagaimana juga akan terlihat pada visualisasi histogram berikut.
Eksplorasi visual dilakukan secara bertahap: dimulai dari sebaran tiap variabel secara individu (histogram dan boxplot), dilanjutkan dengan hubungan antar variabel (scatter plot dan pairs plot), sehingga pola data dapat dipahami secara lebih menyeluruh sebelum masuk ke tahap pemodelan.
par(mfrow = c(1, 2))
# Histogram Girth dengan kurva densitas
hist(trees$Girth, freq = FALSE, main = "Distribusi Girth",
xlab = "Girth / Diameter Batang (inci)", col = "lightgreen", border = "white")
lines(density(trees$Girth), col = "darkgreen", lwd = 2)
rug(trees$Girth, col = "darkgreen")
# Histogram Volume dengan kurva densitas
hist(trees$Volume, freq = FALSE, main = "Distribusi Volume",
xlab = "Volume Kayu (kaki kubik)", col = "lightyellow", border = "white")
lines(density(trees$Volume), col = "orange4", lwd = 2)
rug(trees$Volume, col = "orange4")Kurva densitas berwarna pada histogram membantu melihat bentuk
sebaran data secara lebih halus dibandingkan histogram biasa, sedangkan
rug() di bagian bawah menunjukkan posisi setiap titik data.
Terlihat bahwa Girth dan Volume sama-sama
cenderung menjulur ke kanan (right-skewed), yang wajar untuk
data ukuran biologis seperti diameter dan volume pohon.
par(mfrow = c(1, 2))
boxplot(trees$Girth, main = "Boxplot Girth", ylab = "Girth (inci)",
col = "lightgreen", horizontal = FALSE)
boxplot(trees$Volume, main = "Boxplot Volume", ylab = "Volume (kaki kubik)",
col = "lightyellow", horizontal = FALSE)Boxplot digunakan untuk mengidentifikasi kemungkinan adanya nilai pencilan (outlier) pada masing-masing variabel berdasarkan aturan 1.5×IQR. Adanya pencilan yang ekstrem berpotensi memengaruhi hasil estimasi model regresi, sehingga penting untuk diperiksa sejak tahap eksplorasi.
plot(trees$Girth, trees$Volume,
main = "Scatter Plot: Diameter Batang vs Volume Kayu",
xlab = "Girth / Diameter Batang (inci)", ylab = "Volume Kayu (kaki kubik)",
pch = 19, col = "darkgreen")
# Garis tren linear (regresi awal) untuk melihat pola hubungan
abline(lm(Volume ~ Girth, data = trees), col = "red", lwd = 2, lty = 2)
# Garis tren non-parametrik (LOESS) sebagai pembanding kelinearan
lines(lowess(trees$Girth, trees$Volume), col = "blue", lwd = 2)
legend("topleft",
legend = c("Garis Regresi Linear", "Garis Tren LOESS"),
col = c("red", "blue"), lty = c(2, 1), lwd = 2, bty = "n", cex = 0.8)Garis regresi linear (merah, putus-putus) dan garis tren LOESS (biru) ditampilkan bersamaan untuk mengecek asumsi linearitas secara visual: jika kedua garis relatif berimpit, maka hubungan linear merupakan pendekatan yang wajar untuk data ini.
# Fungsi tambahan untuk menampilkan koefisien korelasi pada panel atas
panel.cor <- function(x, y, digits = 2, cex.cor = 1.3, ...) {
usr <- par("usr"); on.exit(par(usr = usr))
par(usr = c(0, 1, 0, 1))
r <- cor(x, y)
txt <- paste0("r = ", formatC(r, digits = digits, format = "f"))
text(0.5, 0.5, txt, cex = cex.cor * abs(r) + 0.6, col = "darkblue")
}
pairs(trees,
main = "Pairs Plot: Girth, Height, dan Volume",
pch = 19, col = "darkgreen",
lower.panel = panel.smooth,
upper.panel = panel.cor)Meskipun analisis regresi pada laporan ini difokuskan pada
Girth sebagai prediktor tunggal, pairs plot di atas
menampilkan seluruh variabel dalam dataset trees
(Girth, Height, Volume)
sekaligus. Panel bawah menampilkan scatter plot dengan garis pemulus
(smooth line), sedangkan panel atas menampilkan koefisien
korelasi Pearson antar pasangan variabel. Eksplorasi ini berguna untuk
memastikan bahwa Girth memang merupakan prediktor yang
paling relevan secara linear terhadap Volume, dibandingkan
Height.
Rangkuman hasil eksplorasi visual:
Girth dan Volume
cenderung positif dan linear: semakin besar diameter
batang pohon, semakin besar pula volume kayu yang dihasilkan.Girth
yang besar, mengindikasikan kemungkinan hubungan yang tidak sepenuhnya
linear sempurna, namun pendekatan linear masih cukup representatif untuk
rentang data yang ada.Bagian ini menjelaskan tahapan inti analisis regresi secara berurutan: mulai dari pengukuran keeratan hubungan (korelasi), pembentukan model, penulisan persamaan regresi, hingga pemeriksaan kelayakan model melalui uji asumsi klasik.
## [1] 0.9671194
Nilai korelasi Pearson di atas mengukur keeratan hubungan
linear antara Girth dan
Volume, dengan rentang nilai -1 sampai 1. Nilai korelasi
sebesar 0.967 menunjukkan hubungan yang sangat kuat dan
positif antara kedua variabel (semakin mendekati 1, semakin
kuat hubungan linear positifnya). Hasil ini memperkuat dugaan awal dari
scatter plot bahwa Girth layak digunakan sebagai prediktor
Volume dalam model regresi linear.
##
## Call:
## lm(formula = Volume ~ Girth, data = trees)
##
## Residuals:
## Min 1Q Median 3Q Max
## -8.065 -3.107 0.152 3.495 9.587
##
## Coefficients:
## Estimate Std. Error t value Pr(>|t|)
## (Intercept) -36.9435 3.3651 -10.98 7.62e-12 ***
## Girth 5.0659 0.2474 20.48 < 2e-16 ***
## ---
## Signif. codes: 0 '***' 0.001 '**' 0.01 '*' 0.05 '.' 0.1 ' ' 1
##
## Residual standard error: 4.252 on 29 degrees of freedom
## Multiple R-squared: 0.9353, Adjusted R-squared: 0.9331
## F-statistic: 419.4 on 1 and 29 DF, p-value: < 2.2e-16
Fungsi lm() digunakan untuk mengestimasi parameter model
regresi dengan metode kuadrat terkecil (OLS), sedangkan
summary() menampilkan ringkasan lengkap hasil estimasi,
meliputi nilai Estimate, Std. Error,
t value, Pr(>|t|) untuk setiap
koefisien, serta Multiple R-squared dan
F-statistic untuk model secara keseluruhan. Dua nilai
terakhir inilah yang mendasari dua uji hipotesis berikut.
Uji-t: Signifikansi Koefisien Girth
Uji-t digunakan untuk menguji apakah variabel Girth
secara individual berpengaruh signifikan terhadap
Volume.
| Komponen | Keterangan |
|---|---|
| Hipotesis Nol (\(H_0\)) | \(\beta_1 = 0\) (Girth tidak berpengaruh signifikan terhadap Volume) |
| Hipotesis Alternatif (\(H_1\)) | \(\beta_1 \neq 0\) (Girth berpengaruh signifikan terhadap Volume) |
| Taraf Signifikansi (\(\alpha\)) | 0.05 |
| Statistik Uji | t-hitung = 20.478 |
| p-value | < 1e-04 |
| Keputusan | Tolak \(H_0\) (karena p-value < 0.05) |
| Kesimpulan | Girth berpengaruh signifikan terhadap Volume. |
Uji-F: Signifikansi Model Secara Keseluruhan
Uji-F digunakan untuk menguji apakah model regresi (dalam hal ini
diwakili oleh variabel Girth) secara keseluruhan signifikan
dalam menjelaskan Volume.
| Komponen | Keterangan |
|---|---|
| Hipotesis Nol (\(H_0\)) | \(\beta_1 = 0\) (model tidak signifikan menjelaskan Volume) |
| Hipotesis Alternatif (\(H_1\)) | Minimal ada satu \(\beta_j \neq 0\) (model signifikan menjelaskan Volume) |
| Taraf Signifikansi (\(\alpha\)) | 0.05 |
| Statistik Uji | F-hitung = 419.36 (df1 = 1, df2 = 29) |
| p-value | < 1e-04 |
| Keputusan | Tolak \(H_0\) (karena p-value < 0.05) |
| Kesimpulan | Model regresi signifikan secara keseluruhan. |
Berdasarkan hasil estimasi, persamaan regresi umum adalah:
\[\hat{Y} = \hat{\beta}_0 + \hat{\beta}_1 X\]
dengan nilai koefisien hasil estimasi model:
## (Intercept) Girth
## -36.943459 5.065856
Kedua nilai di atas masing-masing merupakan estimasi intersep (\(\hat{\beta}_0\)) dan slope (\(\hat{\beta}_1\)) yang langsung diambil dari
objek model, sehingga persamaan berikut akan otomatis
menyesuaikan bila data berubah:
Sehingga model akhirnya (nilai diambil otomatis dari output di atas):
\[\hat{Volume} = -36.943 + 5.066 \times Girth\]
plot(trees$Girth, trees$Volume,
main = "Garis Regresi: Volume ~ Girth",
xlab = "Girth / Diameter Batang (inci)", ylab = "Volume Kayu (kaki kubik)",
pch = 19, col = "darkgreen")
abline(model, col = "red", lwd = 2)
# Pita kepercayaan 95% untuk garis regresi (interval keyakinan rata-rata prediksi)
girth_seq <- seq(min(trees$Girth), max(trees$Girth), length.out = 100)
pred_ci <- predict(model, newdata = data.frame(Girth = girth_seq),
interval = "confidence", level = 0.95)
lines(girth_seq, pred_ci[, "lwr"], col = "red", lty = 3)
lines(girth_seq, pred_ci[, "upr"], col = "red", lty = 3)
legend("topleft", legend = c("Garis Regresi", "Pita Kepercayaan 95%"),
col = c("red", "red"), lty = c(1, 3), lwd = c(2, 1), bty = "n", cex = 0.8)Garis merah utuh menunjukkan garis regresi hasil estimasi, sedangkan
dua garis putus-putus di sekitarnya adalah pita kepercayaan
95% untuk nilai rata-rata prediksi Volume pada
setiap nilai Girth. Semakin sempit pita tersebut, semakin
presisi model dalam mengestimasi rata-rata Volume pada
rentang Girth yang bersangkutan (biasanya pita paling
sempit di sekitar nilai tengah data dan melebar di kedua ujungnya).
Empat asumsi klasik regresi linear — linearitas, homoskedastisitas,
normalitas residual, dan tidak adanya observasi berpengaruh berlebihan
(leverage) — diperiksa satu per satu menggunakan empat
diagnostic plot bawaan plot.lm() di bawah ini.
Penjelasan tiap panel:
##
## Shapiro-Wilk normality test
##
## data: residuals(model)
## W = 0.97889, p-value = 0.7811
Uji Shapiro-Wilk digunakan sebagai pelengkap kuantitatif dari plot Normal Q-Q di atas, untuk menguji normalitas residual secara formal.
| Komponen | Keterangan |
|---|---|
| Hipotesis Nol (\(H_0\)) | Residual model menyebar normal |
| Hipotesis Alternatif (\(H_1\)) | Residual model tidak menyebar normal |
| Taraf Signifikansi (\(\alpha\)) | 0.05 |
| Statistik Uji | W = 0.9789 |
| p-value | 0.7811 |
| Keputusan | Gagal tolak \(H_0\) (karena p-value \(\geq\) 0.05) |
| Kesimpulan | Residual model dapat dianggap menyebar normal. |
Girth
(lihat Tabel Ringkasan Uji-t Koefisien Girth) jauh lebih kecil dari
0.05, artinya variabel Girth berpengaruh signifikan
terhadap Volume.summary(model))
menunjukkan proporsi keragaman Volume yang dapat dijelaskan
oleh variabel Girth, didukung oleh hasil uji-F pada Tabel
Ringkasan Uji-F Model yang menunjukkan model signifikan secara
keseluruhan.(Catatan: nilai-nilai numerik pada poin di atas sudah diambil
otomatis dari summary(model) dan
shapiro.test() menggunakan inline code R, sehingga akan
selalu sesuai dengan hasil terbaru setiap kali dokumen ini di-knit
ulang. Anda tetap dapat menambahkan narasi tambahan sesuai
kebutuhan.)
Berdasarkan analisis regresi linear sederhana antara diameter batang
(Girth) dan volume kayu (Volume) pada data
trees, diperoleh model regresi yang signifikan secara
statistik, dengan arah hubungan positif — semakin besar diameter batang
pohon, semakin besar volume kayu yang dihasilkan. Model ini dapat
digunakan sebagai dasar prediksi sederhana volume kayu berdasarkan
pengukuran diameter batang, dengan tetap memperhatikan hasil pemeriksaan
asumsi klasik yang telah dilakukan.