Laporan ini menyajikan analisis korelasi Spearman (Spearman’s rank correlation) untuk mempelajari kekuatan dan arah hubungan antara dua variabel, yaitu Tingkat Kepuasan Kerja dan Produktivitas Karyawan, menggunakan data bangkitan (simulasi) yang dibuat di RStudio.
Informasi Dataset: Dataset simulasi ini dibangkitkan dengan
set.seed(123)sebanyak 40 observasi dari dua variabel: 1.kepuasan_kerja: Skor kepuasan kerja karyawan (skala ordinal 1–10), dibangkitkan secara acak. 2.produktivitas: Skor produktivitas karyawan, dibentuk agar memiliki hubungan monotonik tidak sepenuhnya linear terhadapkepuasan_kerjaditambah galat acak, sehingga lebih tepat dianalisis menggunakan korelasi non-parametrik (Spearman) dibandingkan korelasi Pearson.
Korelasi Spearman (dilambangkan \(\rho\) atau \(r_s\)) adalah ukuran statistik non-parametrik yang digunakan untuk mengevaluasi kekuatan dan arah hubungan monotonik antara dua variabel. Berbeda dengan korelasi Pearson yang mensyaratkan hubungan linear dan data berskala interval/rasio dengan distribusi normal, korelasi Spearman bekerja berdasarkan peringkat (rank) data sehingga:
Secara matematis, koefisien korelasi Spearman dirumuskan sebagai:
\[ \rho = 1 - \frac{6 \sum_{i=1}^{n} d_i^2}{n(n^2 - 1)} \]
dengan \(\displaystyle d_i\) adalah selisih peringkat antara pasangan pengamatan ke-\(i\) pada kedua variabel, dan \(\displaystyle n\) adalah jumlah pasangan observasi. Formulasi ini setara dengan koefisien korelasi Pearson yang dihitung terhadap peringkat dari data asli, bukan nilai mentahnya.
Nilai \(\rho\) berkisar antara \(-1\) hingga \(+1\), dengan pedoman interpretasi umum sebagai berikut:
| Rentang \(|\rho|\) | Kekuatan Hubungan |
|---|---|
| 0,00 – 0,19 | Sangat lemah |
| 0,20 – 0,39 | Lemah |
| 0,40 – 0,59 | Sedang |
| 0,60 – 0,79 | Kuat |
| 0,80 – 1,00 | Sangat kuat |
Tanda positif menunjukkan hubungan searah (semakin tinggi nilai satu variabel, semakin tinggi pula variabel lainnya), sedangkan tanda negatif menunjukkan hubungan berlawanan arah.
\[ \begin{aligned} H_0 &: \rho = 0 \quad \text{(tidak terdapat hubungan monotonik antar variabel)} \\ H_1 &: \rho \neq 0 \quad \text{(terdapat hubungan monotonik antar variabel)} \end{aligned} \]
Keputusan diambil dengan membandingkan \(p\text{-value}\) terhadap taraf signifikansi \(\alpha = 0{,}05\): jika \(p\text{-value} < \alpha\), maka \(H_0\) ditolak.
# Membangkitkan data simulasi
set.seed(123)
n <- 40
kepuasan_kerja <- round(runif(n, min = 1, max = 10), 1)
# Membentuk hubungan monotonik (tidak sepenuhnya linear) + galat acak
produktivitas <- round(20 + 5 * sqrt(kepuasan_kerja) * kepuasan_kerja^0.3 +
rnorm(n, mean = 0, sd = 3), 1)
data_sim <- data.frame(
responden = 1:n,
kepuasan_kerja = kepuasan_kerja,
produktivitas = produktivitas
)
Berikut disajikan struktur data serta 10 baris pertama dari dataset simulasi:
str(data_sim)
## 'data.frame': 40 obs. of 3 variables:
## $ responden : int 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 ...
## $ kepuasan_kerja: num 3.6 8.1 4.7 8.9 9.5 1.4 5.8 9 6 5.1 ...
## $ produktivitas : num 30.7 46 34.2 46.6 48.4 21.5 42.9 49.5 37.6 42.2 ...
kable(head(data_sim, 10), caption = "10 Baris Pertama Data Simulasi")
| responden | kepuasan_kerja | produktivitas |
|---|---|---|
| 1 | 3.6 | 30.7 |
| 2 | 8.1 | 46.0 |
| 3 | 4.7 | 34.2 |
| 4 | 8.9 | 46.6 |
| 5 | 9.5 | 48.4 |
| 6 | 1.4 | 21.5 |
| 7 | 5.8 | 42.9 |
| 8 | 9.0 | 49.5 |
| 9 | 6.0 | 37.6 |
| 10 | 5.1 | 42.2 |
ringkasan <- data.frame(
Variabel = c("Kepuasan Kerja", "Produktivitas"),
Minimum = c(min(data_sim$kepuasan_kerja), min(data_sim$produktivitas)),
Maksimum = c(max(data_sim$kepuasan_kerja), max(data_sim$produktivitas)),
Rata2 = round(c(mean(data_sim$kepuasan_kerja), mean(data_sim$produktivitas)), 2),
Median = c(median(data_sim$kepuasan_kerja), median(data_sim$produktivitas)),
SD = round(c(sd(data_sim$kepuasan_kerja), sd(data_sim$produktivitas)), 2)
)
kable(ringkasan, caption = "Ringkasan Statistika Deskriptif")
| Variabel | Minimum | Maksimum | Rata2 | Median | SD |
|---|---|---|---|---|---|
| Kepuasan Kerja | 1.2 | 9.9 | 6.08 | 6.25 | 2.67 |
| Produktivitas | 21.5 | 57.8 | 40.88 | 41.80 | 8.33 |
plot(
data_sim$kepuasan_kerja, data_sim$produktivitas,
xlab = "Kepuasan Kerja (Skala 1-10)",
ylab = "Produktivitas",
main = "Diagram Pencar: Kepuasan Kerja vs Produktivitas",
pch = 19,
col = "#2c3e50"
)
lines(lowess(data_sim$kepuasan_kerja, data_sim$produktivitas), col = "#e74c3c", lwd = 2)
grid()
Garis merah pada diagram di atas merupakan garis pemulusan lowess yang membantu memvisualisasikan pola hubungan monotonik (tidak harus berbentuk garis lurus) antara kedua variabel.
par(mfrow = c(1, 2))
boxplot(data_sim$kepuasan_kerja, main = "Kepuasan Kerja", col = "#a8dadc")
boxplot(data_sim$produktivitas, main = "Produktivitas", col = "#f4a261")
par(mfrow = c(1, 1))
Sebelum menentukan metode korelasi yang digunakan, dilakukan uji normalitas Shapiro-Wilk pada kedua variabel untuk menilai kelayakan penggunaan korelasi Pearson.
sw_kepuasan <- shapiro.test(data_sim$kepuasan_kerja)
sw_produktivitas <- shapiro.test(data_sim$produktivitas)
sw_kepuasan
##
## Shapiro-Wilk normality test
##
## data: data_sim$kepuasan_kerja
## W = 0.9418, p-value = 0.03979
sw_produktivitas
##
## Shapiro-Wilk normality test
##
## data: data_sim$produktivitas
## W = 0.97929, p-value = 0.6633
Diperoleh \(p\text{-value}\) variabel kepuasan kerja sebesar \(\displaystyle 0.0398\) dan variabel produktivitas sebesar \(\displaystyle 0.6633\). Mengingat hubungan antar variabel bersifat monotonik namun tidak sepenuhnya linear (lihat pola pada diagram pencar), maka korelasi Spearman dipilih sebagai metode yang lebih sesuai dibandingkan korelasi Pearson.
Korelasi Spearman dihitung berdasarkan peringkat (rank) dari masing-masing variabel. Berikut contoh 10 baris pertama data beserta peringkatnya:
data_sim$rank_kepuasan <- rank(data_sim$kepuasan_kerja)
data_sim$rank_produktivitas <- rank(data_sim$produktivitas)
kable(
head(data_sim[, c("responden", "kepuasan_kerja", "rank_kepuasan",
"produktivitas", "rank_produktivitas")], 10),
caption = "Contoh Peringkat (Rank) Data"
)
| responden | kepuasan_kerja | rank_kepuasan | produktivitas | rank_produktivitas |
|---|---|---|---|---|
| 1 | 3.6 | 9.5 | 30.7 | 5.0 |
| 2 | 8.1 | 29.0 | 46.0 | 27.0 |
| 3 | 4.7 | 13.0 | 34.2 | 9.5 |
| 4 | 8.9 | 31.0 | 46.6 | 28.0 |
| 5 | 9.5 | 36.0 | 48.4 | 32.0 |
| 6 | 1.4 | 2.5 | 21.5 | 1.0 |
| 7 | 5.8 | 17.0 | 42.9 | 22.0 |
| 8 | 9.0 | 32.5 | 49.5 | 35.0 |
| 9 | 6.0 | 19.0 | 37.6 | 15.0 |
| 10 | 5.1 | 14.5 | 42.2 | 21.0 |
uji_spearman <- cor.test(
data_sim$kepuasan_kerja,
data_sim$produktivitas,
method = "spearman",
exact = FALSE
)
uji_spearman
##
## Spearman's rank correlation rho
##
## data: data_sim$kepuasan_kerja and data_sim$produktivitas
## S = 611.23, p-value < 2.2e-16
## alternative hypothesis: true rho is not equal to 0
## sample estimates:
## rho
## 0.9426614
Diperoleh koefisien korelasi Spearman \(\displaystyle \rho = 0.9427\), statistik uji \(\displaystyle S = 611.23\), dan \(\displaystyle p\text{-value} = < 0.001\).
Arah Hubungan
Koefisien korelasi bernilai \(\displaystyle
\rho = 0.9427\) yang bertanda positif,
menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat kepuasan kerja karyawan,
semakin tinggi pula produktivitasnya (hubungan searah/monotonik
naik).
Kekuatan Hubungan
Berdasarkan pedoman interpretasi pada Tabel kekuatan hubungan di bagian
Dasar Teori, nilai \(\displaystyle |\rho| =
0.9427\) tergolong dalam kategori hubungan yang
kuat antara kepuasan kerja dan produktivitas
karyawan.
Signifikansi Statistik
Nilai \(\displaystyle p\text{-value} = <
0.001 < 0{,}05\), sehingga \(\displaystyle H_0\) ditolak. Artinya,
hubungan monotonik antara kepuasan kerja dan produktivitas karyawan
signifikan secara statistik pada taraf nyata \(\alpha = 5\%\), dan bukan terjadi karena
kebetulan (by chance).
Catatan
Perlu diperhatikan bahwa korelasi tidak menyiratkan hubungan
sebab-akibat (correlation does not imply causation). Nilai
\(\rho\) hanya menggambarkan kekuatan
dan arah hubungan monotonik, bukan mekanisme kausal antara kedua
variabel.
| Ukuran | Nilai |
|---|---|
| Koefisien Korelasi Spearman (\(\rho\)) | 0.9427 |
| Statistik Uji (\(S\)) | 611.23 |
| \(p\text{-value}\) | < 0.001 |
| Kekuatan Hubungan | Kuat |
| Arah Hubungan | Positif |
| Keputusan pada \(\alpha = 5\%\) | Tolak \(H_0\) (signifikan) |