Analisis ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara
kecepatan mobil (speed) dengan
jarak pengereman (dist) menggunakan metode
regresi linear sederhana.
Variabel yang digunakan adalah:
speed: kecepatan mobil (mil/jam), sebagai variabel
prediktor.dist: jarak pengereman (kaki), sebagai variabel
respon.Model regresi linear yang digunakan adalah:
\[ dist_i = \beta_0 + \beta_1 speed_i + \epsilon_i \]
Data yang digunakan adalah dataset cars yang merupakan
dataset bawaan R. Dataset ini terdiri dari 50 observasi
dan 2 variabel, yaitu speed sebagai
variabel prediktor dan dist sebagai variabel respon.
head(cars)
## speed dist
## 1 4 2
## 2 4 10
## 3 7 4
## 4 7 22
## 5 8 16
## 6 9 10
str(cars)
## 'data.frame': 50 obs. of 2 variables:
## $ speed: num 4 4 7 7 8 9 10 10 10 11 ...
## $ dist : num 2 10 4 22 16 10 18 26 34 17 ...
summary(cars)
## speed dist
## Min. : 4.0 Min. : 2.00
## 1st Qu.:12.0 1st Qu.: 26.00
## Median :15.0 Median : 36.00
## Mean :15.4 Mean : 42.98
## 3rd Qu.:19.0 3rd Qu.: 56.00
## Max. :25.0 Max. :120.00
Hubungan antara kecepatan (speed) dan jarak pengereman
(dist) dapat dilihat melalui scatter plot.
plot(
cars$speed,
cars$dist,
main = "Hubungan Speed dan Dist",
xlab = "Speed (mil/jam)",
ylab = "Stopping Distance (kaki)",
pch = 19
)
Berdasarkan scatter plot, terlihat adanya kecenderungan hubungan
positif antara speed dan dist. Artinya,
semakin tinggi kecepatan mobil, semakin besar pula jarak yang dibutuhkan
untuk berhenti.
Model regresi linear sederhana dibentuk dengan dist
sebagai respon dan speed sebagai prediktor.
model <- lm(dist ~ speed, data = cars)
summary(model)
##
## Call:
## lm(formula = dist ~ speed, data = cars)
##
## Residuals:
## Min 1Q Median 3Q Max
## -29.069 -9.525 -2.272 9.215 43.201
##
## Coefficients:
## Estimate Std. Error t value Pr(>|t|)
## (Intercept) -17.5791 6.7584 -2.601 0.0123 *
## speed 3.9324 0.4155 9.464 1.49e-12 ***
## ---
## Signif. codes: 0 '***' 0.001 '**' 0.01 '*' 0.05 '.' 0.1 ' ' 1
##
## Residual standard error: 15.38 on 48 degrees of freedom
## Multiple R-squared: 0.6511, Adjusted R-squared: 0.6438
## F-statistic: 89.57 on 1 and 48 DF, p-value: 1.49e-12
coef(model)
## (Intercept) speed
## -17.579095 3.932409
Untuk menampilkan koefisien secara otomatis:
intercept <- coef(model)[1]
slope <- coef(model)[2]
intercept
## (Intercept)
## -17.57909
slope
## speed
## 3.932409
Berdasarkan hasil estimasi, model regresi linear yang diperoleh adalah:
\[ \widehat{dist} = -17.579 + 3.932\,speed \]
atau:
dist_hat = -17.579 + 3.932(speed)
Nilai intersep sebesar -17.579 menunjukkan bahwa
secara matematis, ketika speed = 0 mil/jam, nilai prediksi
dist adalah sekitar -17.579 kaki.
Interpretasi ini tidak memiliki makna praktis karena jarak pengereman
tidak mungkin bernilai negatif dan kondisi speed = 0 tidak
menjadi fokus hubungan pada data.
Koefisien speed sebesar 3.932
menunjukkan bahwa setiap kenaikan kecepatan sebesar 1
mil/jam diperkirakan akan meningkatkan jarak pengereman sebesar
sekitar 3.932 kaki, dengan asumsi hubungan linear.
Dengan demikian, terdapat hubungan positif antara kecepatan mobil dan jarak pengereman.
Hipotesis yang digunakan untuk menguji signifikansi koefisien regresi adalah:
summary(model)$coefficients
## Estimate Std. Error t value Pr(>|t|)
## (Intercept) -17.579095 6.7584402 -2.601058 1.231882e-02
## speed 3.932409 0.4155128 9.463990 1.489836e-12
Berdasarkan hasil pengujian, p-value untuk variabel
speed sangat kecil (p < 0.001). Oleh
karena itu, \(H_0\) ditolak.
Dengan demikian, speed berpengaruh secara
signifikan terhadap dist pada model regresi
linear.
summary(model)$r.squared
## [1] 0.6510794
Nilai koefisien determinasi (\(R^2\)) adalah sekitar 0.651.
Artinya, sekitar 65.1% variasi jarak pengereman
(dist) dapat dijelaskan oleh kecepatan mobil
(speed) melalui model regresi linear. Sisanya,
sekitar 34.9%, dijelaskan oleh faktor lain yang tidak dimasukkan dalam
model.
plot(
cars$speed,
cars$dist,
main = "Regresi Linear Speed terhadap Dist",
xlab = "Speed (mil/jam)",
ylab = "Stopping Distance (kaki)",
pch = 19
)
abline(model, lwd = 2)
Garis regresi menunjukkan kecenderungan meningkat, sehingga
peningkatan speed diikuti dengan peningkatan
dist.
Asumsi dasar regresi linear dapat diperiksa melalui grafik diagnostik.
par(mfrow = c(2, 2))
plot(model)
par(mfrow = c(1, 1))
Grafik diagnostik dapat digunakan untuk mengevaluasi:
Berdasarkan analisis regresi linear sederhana pada dataset
cars, diperoleh model:
\[ \boxed{\widehat{dist} = -17.579 + 3.932\,speed} \]
Model menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif dan signifikan
antara kecepatan mobil (speed) dan jarak pengereman
(dist). Setiap kenaikan kecepatan sebesar 1 mil/jam
diperkirakan meningkatkan jarak pengereman sekitar 3.932 kaki.
Nilai \(R^2\) sebesar 65.1% menunjukkan bahwa model mampu menjelaskan sekitar 65.1% variasi jarak pengereman.