Setelah menyelesaikan praktikum, mahasiswa mampu:
Dataset sengaja dibuat “kotor” agar seluruh tahap preprocessing dapat dipraktikkan.
pelanggan_raw <- data.frame(
customer_id = c("C001", "C002", "C003", "C004", "C005", "C006",
"C007", "C008", "C009", "C010", "C010", "C011"),
nama = c("Ani", "Budi", "Citra", "Dodi", "Eka", "Fani",
"Gilang", "Hana", "Indra", "Joko", "Joko", "Kiki"),
usia = c(21, 25, 23, 150, 27, NA, 31, 29, 22, 35, 35, 28),
pendapatan = c(4500000, NA, 5200000, 4800000, 4900000, 5100000,
500000000, 4700000, 4600000, 5300000, 5300000, NA),
kota = c("Pekanbaru", " PKU", "PEKANBARU", "Dumai", "pekanbaru",
"DUMAI", "Pekanbaru ", "Siak", "PKU", "Dumai", "Dumai", NA),
status = c("Aktif", "aktif", "ACTIVE", "A", "Tidak Aktif", "nonaktif",
"Aktif", "AKTIF", "A", "Tidak aktif", "Tidak aktif", "Aktif"),
stringsAsFactors = FALSE
)
transaksi_raw <- data.frame(
cust_id = c("C001", "C002", "C003", "C004", "C005", "C006",
"C007", "C008", "C009", "C010", "C012"),
jumlah_transaksi = c(5, 3, 7, 2, 6, 4, 20, 5, 3, 8, 1),
total_purchase = c(1500000, 900000, 2700000, 600000, 2100000, 1300000,
25000000, 1700000, 800000, 3200000, 250000),
stringsAsFactors = FALSE
)
pelanggan_raw
transaksi_raw
Sebelum melakukan perubahan, periksa struktur, dimensi, tipe atribut, dan beberapa observasi awal.
dim(pelanggan_raw)
## [1] 12 6
names(pelanggan_raw)
## [1] "customer_id" "nama" "usia" "pendapatan" "kota"
## [6] "status"
str(pelanggan_raw)
## 'data.frame': 12 obs. of 6 variables:
## $ customer_id: chr "C001" "C002" "C003" "C004" ...
## $ nama : chr "Ani" "Budi" "Citra" "Dodi" ...
## $ usia : num 21 25 23 150 27 NA 31 29 22 35 ...
## $ pendapatan : num 4.5e+06 NA 5.2e+06 4.8e+06 4.9e+06 5.1e+06 5.0e+08 4.7e+06 4.6e+06 5.3e+06 ...
## $ kota : chr "Pekanbaru" " PKU" "PEKANBARU" "Dumai" ...
## $ status : chr "Aktif" "aktif" "ACTIVE" "A" ...
head(pelanggan_raw)
summary(pelanggan_raw)
## customer_id nama usia pendapatan
## Length:12 Length:12 Min. : 21.00 Min. : 4500000
## Class :character Class :character 1st Qu.: 24.00 1st Qu.: 4725000
## Mode :character Mode :character Median : 28.00 Median : 5000000
## Mean : 38.73 Mean : 54440000
## 3rd Qu.: 33.00 3rd Qu.: 5275000
## Max. :150.00 Max. :500000000
## NA's :1 NA's :2
## kota status
## Length:12 Length:12
## Class :character Class :character
## Mode :character Mode :character
##
##
##
##
# Banyak missing value per atribut
colSums(is.na(pelanggan_raw))
## customer_id nama usia pendapatan kota status
## 0 0 1 2 1 0
# Persentase missing value per atribut
round(colMeans(is.na(pelanggan_raw)) * 100, 2)
## customer_id nama usia pendapatan kota status
## 0.00 0.00 8.33 16.67 8.33 0.00
# Banyak baris duplikat penuh
sum(duplicated(pelanggan_raw))
## [1] 1
# Banyak customer_id yang berulang
sum(duplicated(pelanggan_raw$customer_id))
## [1] 1
# Kategori pada atribut kota dan status
sort(unique(pelanggan_raw$kota))
## [1] " PKU" "Dumai" "DUMAI" "pekanbaru" "Pekanbaru"
## [6] "PEKANBARU" "Pekanbaru " "PKU" "Siak"
sort(unique(pelanggan_raw$status))
## [1] "A" "ACTIVE" "aktif" "Aktif" "AKTIF"
## [6] "nonaktif" "Tidak aktif" "Tidak Aktif"
# Rentang atribut numerik
range(pelanggan_raw$usia, na.rm = TRUE)
## [1] 21 150
range(pelanggan_raw$pendapatan, na.rm = TRUE)
## [1] 4.5e+06 5.0e+08
audit_data <- function(data) {
data.frame(
atribut = names(data),
tipe = sapply(data, function(x) class(x)[1]),
jumlah_missing = sapply(data, function(x) sum(is.na(x))),
persen_missing = round(
sapply(data, function(x) mean(is.na(x)) * 100), 2
),
jumlah_unik = sapply(data, function(x) length(unique(x))),
row.names = NULL
)
}
audit_awal <- audit_data(pelanggan_raw)
audit_awal
Pertahankan data mentah agar setiap perubahan dapat dilacak.
pelanggan <- pelanggan_raw
# Menghapus spasi di awal dan akhir
pelanggan$kota <- trimws(pelanggan$kota)
pelanggan$status <- trimws(pelanggan$status)
# Menyeragamkan huruf menjadi kecil untuk proses pencocokan
pelanggan$kota <- tolower(pelanggan$kota)
pelanggan$status <- tolower(pelanggan$status)
sort(unique(pelanggan$kota))
## [1] "dumai" "pekanbaru" "pku" "siak"
sort(unique(pelanggan$status))
## [1] "a" "active" "aktif" "nonaktif" "tidak aktif"
# Standardisasi kota
pelanggan$kota[pelanggan$kota %in% c("pku", "pekanbaru")] <- "Pekanbaru"
pelanggan$kota[pelanggan$kota == "dumai"] <- "Dumai"
pelanggan$kota[pelanggan$kota == "siak"] <- "Siak"
# Standardisasi status
pelanggan$status[pelanggan$status %in% c("aktif", "active", "a")] <- "Aktif"
pelanggan$status[pelanggan$status %in% c("tidak aktif", "nonaktif")] <- "Tidak Aktif"
sort(unique(pelanggan$kota))
## [1] "Dumai" "Pekanbaru" "Siak"
sort(unique(pelanggan$status))
## [1] "Aktif" "Tidak Aktif"
# Menampilkan seluruh baris dengan customer_id yang berulang
pelanggan[
duplicated(pelanggan$customer_id) |
duplicated(pelanggan$customer_id, fromLast = TRUE),
]
# Mempertahankan kemunculan pertama
pelanggan <- pelanggan[!duplicated(pelanggan$customer_id), ]
rownames(pelanggan) <- NULL
dim(pelanggan)
## [1] 11 6
Penghapusan duplikasi hanya aman jika setiap
customer_idmemang harus mewakili satu pelanggan.
Aturan latihan untuk usia adalah 15–100 tahun.
# Kandidat usia tidak valid
pelanggan[pelanggan$usia < 15 | pelanggan$usia > 100, ]
# Kandidat pendapatan negatif
pelanggan[pelanggan$pendapatan < 0, ]
Pada contoh modul, usia C004 yang bernilai 150 dikoreksi menjadi 50 berdasarkan sumber asli.
pelanggan$usia[pelanggan$customer_id == "C004"] <- 50
log_perubahan <- data.frame(
tahap = c(
"Standardisasi",
"Standardisasi",
"Deduplikasi",
"Koreksi domain"
),
atribut = c(
"kota",
"status",
"customer_id",
"usia"
),
tindakan = c(
"PKU dan variasi kapital menjadi Pekanbaru",
"ACTIVE/A menjadi Aktif; nonaktif menjadi Tidak Aktif",
"Menghapus kemunculan kedua C010",
"Usia C004 dikoreksi dari 150 menjadi 50 berdasarkan sumber asli"
),
stringsAsFactors = FALSE
)
log_perubahan
colSums(is.na(pelanggan))
## customer_id nama usia pendapatan kota status
## 0 0 1 2 1 0
# Baris yang memiliki sedikitnya satu missing value
pelanggan[!complete.cases(pelanggan), ]
Kode berikut hanya mendemonstrasikan strategi.
pelanggan_complete <- pelanggan[complete.cases(pelanggan), ]
nrow(pelanggan)
## [1] 11
nrow(pelanggan_complete)
## [1] 8
# Persentase baris yang hilang
round(
(1 - nrow(pelanggan_complete) / nrow(pelanggan)) * 100,
2
)
## [1] 27.27
Pendapatan memiliki nilai ekstrem, sehingga mean dan median dibandingkan terlebih dahulu.
mean_pendapatan <- mean(pelanggan$pendapatan, na.rm = TRUE)
median_pendapatan <- median(pelanggan$pendapatan, na.rm = TRUE)
mean_pendapatan
## [1] 59900000
median_pendapatan
## [1] 4900000
# Imputasi pendapatan dengan median
pelanggan$pendapatan_imputasi <- pelanggan$pendapatan
pelanggan$pendapatan_imputasi[
is.na(pelanggan$pendapatan_imputasi)
] <- median_pendapatan
# Imputasi usia dengan median
median_usia <- median(pelanggan$usia, na.rm = TRUE)
pelanggan$usia_imputasi <- pelanggan$usia
pelanggan$usia_imputasi[
is.na(pelanggan$usia_imputasi)
] <- median_usia
pelanggan[, c(
"customer_id", "usia", "usia_imputasi",
"pendapatan", "pendapatan_imputasi"
)]
Untuk latihan ini, nilai kota yang hilang diberi kategori eksplisit
Tidak diketahui.
pelanggan$kota_imputasi <- pelanggan$kota
pelanggan$kota_imputasi[
is.na(pelanggan$kota_imputasi)
] <- "Tidak diketahui"
table(pelanggan$kota_imputasi, useNA = "ifany")
##
## Dumai Pekanbaru Siak Tidak diketahui
## 3 6 1 1
pelanggan$pendapatan_missing <- as.integer(
is.na(pelanggan$pendapatan)
)
table(pelanggan$pendapatan_missing)
##
## 0 1
## 9 2
par(mfrow = c(1, 2))
hist(
pelanggan$pendapatan,
main = "Sebelum Imputasi",
xlab = "Pendapatan",
breaks = 8
)
hist(
pelanggan$pendapatan_imputasi,
main = "Sesudah Imputasi Median",
xlab = "Pendapatan",
breaks = 8
)
par(mfrow = c(1, 1))
boxplot(
pelanggan$pendapatan_imputasi,
horizontal = TRUE,
main = "Boxplot Pendapatan",
xlab = "Pendapatan"
)
q1 <- quantile(pelanggan$pendapatan_imputasi, 0.25)
q3 <- quantile(pelanggan$pendapatan_imputasi, 0.75)
iqr <- IQR(pelanggan$pendapatan_imputasi)
batas_bawah <- q1 - 1.5 * iqr
batas_atas <- q3 + 1.5 * iqr
c(
Q1 = q1,
Q3 = q3,
IQR = iqr,
batas_bawah = batas_bawah,
batas_atas = batas_atas
)
## Q1.25% Q3.75% IQR batas_bawah.25% batas_atas.75%
## 4750000 5150000 400000 4150000 5750000
pelanggan$outlier_pendapatan <-
pelanggan$pendapatan_imputasi < batas_bawah |
pelanggan$pendapatan_imputasi > batas_atas
pelanggan[
pelanggan$outlier_pendapatan,
c("customer_id", "nama", "pendapatan_imputasi")
]
Nilai ekstrem tidak otomatis dihapus. Pada modul ini, nilai 500 juta dipertahankan dan dibuat versi winsorized untuk membandingkan dampaknya.
pelanggan$pendapatan_winsor <- pmin(
pmax(pelanggan$pendapatan_imputasi, batas_bawah),
batas_atas
)
pelanggan[
pelanggan$outlier_pendapatan,
c(
"customer_id",
"pendapatan_imputasi",
"pendapatan_winsor"
)
]
Rumus:
\[ x' = \frac{x-\min(x)}{\max(x)-\min(x)} \]
minmax <- function(x) {
if (all(is.na(x))) {
return(rep(NA_real_, length(x)))
}
rentang <- max(x, na.rm = TRUE) - min(x, na.rm = TRUE)
if (rentang == 0) {
return(rep(0, length(x)))
}
(x - min(x, na.rm = TRUE)) / rentang
}
pelanggan$usia_minmax <- minmax(pelanggan$usia_imputasi)
pelanggan$pendapatan_minmax <- minmax(pelanggan$pendapatan_imputasi)
pelanggan[, c(
"customer_id",
"usia",
"usia_minmax",
"pendapatan_imputasi",
"pendapatan_minmax"
)]
\[ z = \frac{x-\bar{x}}{s} \]
pelanggan$usia_z <- as.numeric(
scale(pelanggan$usia_imputasi)
)
pelanggan$pendapatan_z <- as.numeric(
scale(pelanggan$pendapatan_imputasi)
)
round(
pelanggan[, c("usia_z", "pendapatan_z")],
3
)
decimal_scale <- function(x) {
maks <- max(abs(x), na.rm = TRUE)
if (maks == 0) {
return(x)
}
j <- ceiling(log10(maks + 1))
x / (10 ^ j)
}
pelanggan$pendapatan_decimal <-
decimal_scale(pelanggan$pendapatan_imputasi)
range(
pelanggan$pendapatan_decimal,
na.rm = TRUE
)
## [1] 0.0045 0.5000
transformasi <- pelanggan[, c(
"customer_id",
"pendapatan_imputasi",
"pendapatan_minmax",
"pendapatan_z",
"pendapatan_decimal"
)]
transformasi
pelanggan$pendapatan_winsor_minmax <-
minmax(pelanggan$pendapatan_winsor)
plot(
pelanggan$pendapatan_minmax,
pelanggan$pendapatan_winsor_minmax,
pch = 19,
xlab = "Min–maks Data Asli",
ylab = "Min–maks Data Winsorized",
main = "Dampak Penanganan Outlier terhadap Normalisasi"
)
abline(0, 1, lty = 2)
sum(duplicated(pelanggan$customer_id))
## [1] 0
sum(duplicated(transaksi_raw$cust_id))
## [1] 0
setdiff(pelanggan$customer_id, transaksi_raw$cust_id)
## [1] "C011"
setdiff(transaksi_raw$cust_id, pelanggan$customer_id)
## [1] "C012"
transaksi <- transaksi_raw
names(transaksi)[
names(transaksi) == "cust_id"
] <- "customer_id"
merge()data_terintegrasi <- merge(
pelanggan,
transaksi,
by = "customer_id",
all.x = TRUE
)
data_terintegrasi[, c(
"customer_id",
"nama",
"jumlah_transaksi",
"total_purchase"
)]
Untuk pelanggan yang tidak mempunyai transaksi pada sumber transaksi, modul menggunakan nilai 0 pada variabel transaksi akhir.
data_terintegrasi$jumlah_transaksi_final <-
data_terintegrasi$jumlah_transaksi
data_terintegrasi$total_purchase_final <-
data_terintegrasi$total_purchase
data_terintegrasi$jumlah_transaksi_final[
is.na(data_terintegrasi$jumlah_transaksi_final)
] <- 0
data_terintegrasi$total_purchase_final[
is.na(data_terintegrasi$total_purchase_final)
] <- 0
data_final <- data_terintegrasi[, c(
"customer_id",
"nama",
"usia_imputasi",
"kota_imputasi",
"status",
"pendapatan_imputasi",
"pendapatan_missing",
"outlier_pendapatan",
"usia_minmax",
"pendapatan_minmax",
"jumlah_transaksi_final",
"total_purchase_final"
)]
names(data_final)[
names(data_final) == "kota_imputasi"
] <- "kota"
names(data_final)[
names(data_final) == "usia_imputasi"
] <- "usia"
data_final
audit_akhir <- audit_data(data_final)
audit_akhir
sum(duplicated(data_final$customer_id))
## [1] 0
colSums(is.na(data_final))
## customer_id nama usia
## 0 0 0
## kota status pendapatan_imputasi
## 0 0 0
## pendapatan_missing outlier_pendapatan usia_minmax
## 0 0 0
## pendapatan_minmax jumlah_transaksi_final total_purchase_final
## 0 0 0
perbandingan <- data.frame(
indikator = c(
"Jumlah baris",
"Duplikasi customer_id",
"Total missing value",
"Kategori kota unik",
"Kategori status unik"
),
sebelum = c(
nrow(pelanggan_raw),
sum(duplicated(pelanggan_raw$customer_id)),
sum(is.na(pelanggan_raw)),
length(unique(pelanggan_raw$kota)),
length(unique(pelanggan_raw$status))
),
sesudah = c(
nrow(data_final),
sum(duplicated(data_final$customer_id)),
sum(is.na(data_final)),
length(unique(data_final$kota)),
length(unique(data_final$status))
)
)
perbandingan
write.csv(
data_final,
"data_pelanggan_setelah_preprocessing.csv",
row.names = FALSE
)
write.csv(
log_perubahan,
"log_perubahan_preprocessing.csv",
row.names = FALSE
)
Alur yang dilakukan adalah:
Preprocessing merupakan proses pengambilan keputusan. Kode R menjalankan keputusan tersebut; kualitas hasil tetap bergantung pada pemahaman data, tujuan analisis, dan dokumentasi perubahan.
Han, J., Kamber, M., & Pei, J. (2012). Data Mining: Concepts and Techniques (3rd ed.). Morgan Kaufmann. Chapter 3: Data Preprocessing.