Data Preprocessing Menggunakan RStudio

Identitas Praktikum

Komponen Keterangan
Mata kuliah Data Mining
Pertemuan 03
Topik Data Preprocessing
Perangkat lunak R dan RStudio
Alokasi waktu 2 SKS / 100 menit
Acuan utama Han, Kamber, dan Pei (2012), Bab 3

Capaian Praktikum

Setelah menyelesaikan praktikum, mahasiswa mampu:

  1. Menjelaskan kondisi data yang menyebabkan preprocessing diperlukan;
  2. Mengidentifikasi masalah kualitas data menggunakan R;
  3. Menerapkan data cleaning secara sistematis;
  4. Memilih dan menerapkan strategi penanganan missing values;
  5. Mendeteksi serta mengevaluasi outlier;
  6. Melakukan transformasi atribut numerik; dan
  7. Mengintegrasikan dua sumber data serta memvalidasi hasilnya.

Skenario Praktikum

Sebuah perusahaan e-commerce akan melakukan analisis pelanggan. Data berasal dari dua sumber:

  • data pelanggan, yang memuat identitas, usia, kota, pendapatan, dan status pelanggan;
  • data transaksi, yang memuat jumlah transaksi dan total pembelian.

Data belum dapat langsung digunakan karena mengandung nilai hilang, kategori tidak konsisten, duplikasi, nilai ekstrem, dan perbedaan nama identifier. Mahasiswa diminta menyiapkan data tersebut sampai menjadi satu dataset analisis yang bersih.

Prinsip utama: jangan membersihkan data hanya karena sebuah nilai terlihat aneh. Setiap perubahan harus memiliki alasan, aturan, dan catatan.

Persiapan RStudio

Membuat proyek

  1. Buka RStudio.
  2. Pilih File → New Project → New Directory → New Project.
  3. Beri nama proyek, misalnya praktikum_preprocessing.
  4. Simpan file ini di dalam folder proyek.
  5. Klik Knit untuk menghasilkan HTML.

Memeriksa lingkungan kerja

getwd()
## [1] "C:/Users/LENOVO/Downloads"
R.version.string
## [1] "R version 4.4.2 (2024-10-31 ucrt)"

Modul ini menggunakan fungsi dasar R sehingga dapat dijalankan tanpa memasang paket tambahan.

Membangun Dataset Praktikum

Jalankan kode berikut. Dataset sengaja dibuat “kotor” agar seluruh tahap preprocessing dapat dipraktikkan.

pelanggan_raw <- data.frame(
  customer_id = c("C001", "C002", "C003", "C004", "C005", "C006",
                  "C007", "C008", "C009", "C010", "C010", "C011"),
  nama = c("Ani", "Budi", "Citra", "Dodi", "Eka", "Fani",
           "Gilang", "Hana", "Indra", "Joko", "Joko", "Kiki"),
  usia = c(21, 25, 23, 150, 27, NA, 31, 29, 22, 35, 35, 28),
  pendapatan = c(4500000, NA, 5200000, 4800000, 4900000, 5100000,
                 500000000, 4700000, 4600000, 5300000, 5300000, NA),
  kota = c("Pekanbaru", " PKU", "PEKANBARU", "Dumai", "pekanbaru",
           "DUMAI", "Pekanbaru ", "Siak", "PKU", "Dumai", "Dumai", NA),
  status = c("Aktif", "aktif", "ACTIVE", "A", "Tidak Aktif", "nonaktif",
             "Aktif", "AKTIF", "A", "Tidak aktif", "Tidak aktif", "Aktif"),
  stringsAsFactors = FALSE
)

transaksi_raw <- data.frame(
  cust_id = c("C001", "C002", "C003", "C004", "C005", "C006",
              "C007", "C008", "C009", "C010", "C012"),
  jumlah_transaksi = c(5, 3, 7, 2, 6, 4, 20, 5, 3, 8, 1),
  total_purchase = c(1500000, 900000, 2700000, 600000, 2100000, 1300000,
                     25000000, 1700000, 800000, 3200000, 250000),
  stringsAsFactors = FALSE
)

pelanggan_raw
transaksi_raw

Bagian I — Konsep Data Preprocessing

Memahami struktur data

Sebelum melakukan perubahan, periksa struktur, dimensi, tipe atribut, dan beberapa observasi awal.

dim(pelanggan_raw)
## [1] 12  6
names(pelanggan_raw)
## [1] "customer_id" "nama"        "usia"        "pendapatan"  "kota"       
## [6] "status"
str(pelanggan_raw)
## 'data.frame':    12 obs. of  6 variables:
##  $ customer_id: chr  "C001" "C002" "C003" "C004" ...
##  $ nama       : chr  "Ani" "Budi" "Citra" "Dodi" ...
##  $ usia       : num  21 25 23 150 27 NA 31 29 22 35 ...
##  $ pendapatan : num  4.5e+06 NA 5.2e+06 4.8e+06 4.9e+06 5.1e+06 5.0e+08 4.7e+06 4.6e+06 5.3e+06 ...
##  $ kota       : chr  "Pekanbaru" " PKU" "PEKANBARU" "Dumai" ...
##  $ status     : chr  "Aktif" "aktif" "ACTIVE" "A" ...
head(pelanggan_raw)
summary(pelanggan_raw)
##  customer_id            nama                usia          pendapatan       
##  Length:12          Length:12          Min.   : 21.00   Min.   :  4500000  
##  Class :character   Class :character   1st Qu.: 24.00   1st Qu.:  4725000  
##  Mode  :character   Mode  :character   Median : 28.00   Median :  5000000  
##                                        Mean   : 38.73   Mean   : 54440000  
##                                        3rd Qu.: 33.00   3rd Qu.:  5275000  
##                                        Max.   :150.00   Max.   :500000000  
##                                        NA's   :1        NA's   :2          
##      kota              status         
##  Length:12          Length:12         
##  Class :character   Class :character  
##  Mode  :character   Mode  :character  
##                                       
##                                       
##                                       
## 

Mengukur kualitas awal

Enam dimensi kualitas data yang dibahas Han, Kamber, dan Pei meliputi accuracy, completeness, consistency, timeliness, believability, dan interpretability. Tidak semua dimensi dapat dihitung hanya dari isi tabel. Misalnya, accuracy memerlukan pembanding terhadap kondisi sebenarnya dan timeliness membutuhkan informasi waktu pemutakhiran.

Pemeriksaan awal berikut berfokus pada masalah yang dapat dideteksi dari dataset.

colSums(is.na(pelanggan_raw))
## customer_id        nama        usia  pendapatan        kota      status 
##           0           0           1           2           1           0
round(colMeans(is.na(pelanggan_raw)) * 100, 2)
## customer_id        nama        usia  pendapatan        kota      status 
##        0.00        0.00        8.33       16.67        8.33        0.00
sum(duplicated(pelanggan_raw))
## [1] 1
sum(duplicated(pelanggan_raw$customer_id))
## [1] 1
sort(unique(pelanggan_raw$kota))
## [1] " PKU"       "Dumai"      "DUMAI"      "pekanbaru"  "Pekanbaru" 
## [6] "PEKANBARU"  "Pekanbaru " "PKU"        "Siak"
sort(unique(pelanggan_raw$status))
## [1] "A"           "ACTIVE"      "aktif"       "Aktif"       "AKTIF"      
## [6] "nonaktif"    "Tidak aktif" "Tidak Aktif"
range(pelanggan_raw$usia, na.rm = TRUE)
## [1]  21 150
range(pelanggan_raw$pendapatan, na.rm = TRUE)
## [1] 4.5e+06 5.0e+08

Membuat fungsi ringkasan kualitas

audit_data <- function(data) {
  data.frame(
    atribut = names(data),
    tipe = sapply(data, function(x) class(x)[1]),
    jumlah_missing = sapply(data, function(x) sum(is.na(x))),
    persen_missing = round(sapply(data, function(x) mean(is.na(x)) * 100), 2),
    jumlah_unik = sapply(data, function(x) length(unique(x))),
    row.names = NULL
  )
}

audit_awal <- audit_data(pelanggan_raw)
audit_awal

Interpretasi: hasil audit bukan keputusan cleaning. Audit hanya memberi sinyal atribut mana yang perlu diperiksa lebih lanjut.

Bagian II — Implementasi Data Cleaning

Membuat salinan kerja

Pertahankan data mentah agar setiap perubahan dapat dilacak.

pelanggan <- pelanggan_raw

Membersihkan spasi dan kapitalisasi

pelanggan$kota <- trimws(pelanggan$kota)
pelanggan$status <- trimws(pelanggan$status)

pelanggan$kota <- tolower(pelanggan$kota)
pelanggan$status <- tolower(pelanggan$status)

sort(unique(pelanggan$kota))
## [1] "dumai"     "pekanbaru" "pku"       "siak"
sort(unique(pelanggan$status))
## [1] "a"           "active"      "aktif"       "nonaktif"    "tidak aktif"

Menyeragamkan kategori

Standardisasi dilakukan menggunakan aturan domain. Dalam praktik nyata, aturan perlu dikonfirmasi melalui kamus data atau pemilik data.

pelanggan$kota[pelanggan$kota %in% c("pku", "pekanbaru")] <- "Pekanbaru"
pelanggan$kota[pelanggan$kota == "dumai"] <- "Dumai"
pelanggan$kota[pelanggan$kota == "siak"] <- "Siak"

pelanggan$status[pelanggan$status %in% c("aktif", "active", "a")] <- "Aktif"
pelanggan$status[pelanggan$status %in% c("tidak aktif", "nonaktif")] <- "Tidak Aktif"

sort(unique(pelanggan$kota))
## [1] "Dumai"     "Pekanbaru" "Siak"
sort(unique(pelanggan$status))
## [1] "Aktif"       "Tidak Aktif"

Mendeteksi dan menghapus duplikasi

pelanggan[duplicated(pelanggan$customer_id) |
          duplicated(pelanggan$customer_id, fromLast = TRUE), ]
pelanggan <- pelanggan[!duplicated(pelanggan$customer_id), ]
rownames(pelanggan) <- NULL

dim(pelanggan)
## [1] 11  6

Catatan: menghapus duplikasi hanya aman jika setiap customer_id memang harus mewakili satu pelanggan. Jika satu pelanggan boleh memiliki banyak baris, tindakan ini justru salah.

Memeriksa aturan domain

pelanggan[pelanggan$usia < 15 | pelanggan$usia > 100, ]
pelanggan[pelanggan$pendapatan < 0, ]

Nilai usia 150 melanggar aturan domain. Misalkan pemeriksaan terhadap formulir asli menunjukkan bahwa nilai yang benar adalah 50.

pelanggan$usia[pelanggan$customer_id == "C004"] <- 50

Membuat log perubahan

log_perubahan <- data.frame(
  tahap = c("Standardisasi", "Standardisasi", "Deduplikasi", "Koreksi domain"),
  atribut = c("kota", "status", "customer_id", "usia"),
  tindakan = c(
    "PKU dan variasi kapital menjadi Pekanbaru",
    "ACTIVE/A menjadi Aktif; nonaktif menjadi Tidak Aktif",
    "Menghapus kemunculan kedua C010",
    "Usia C004 dikoreksi dari 150 menjadi 50 berdasarkan sumber asli"
  ),
  stringsAsFactors = FALSE
)

log_perubahan

Bagian III — Penanganan Missing Values

Mengidentifikasi lokasi nilai hilang

colSums(is.na(pelanggan))
## customer_id        nama        usia  pendapatan        kota      status 
##           0           0           1           2           1           0
pelanggan[!complete.cases(pelanggan), ]

Strategi 1: menghapus baris

pelanggan_complete <- pelanggan[complete.cases(pelanggan), ]
nrow(pelanggan)
## [1] 11
nrow(pelanggan_complete)
## [1] 8

Pertanyaan: berapa persen data yang hilang jika seluruh baris tidak lengkap dihapus?

round((1 - nrow(pelanggan_complete) / nrow(pelanggan)) * 100, 2)
## [1] 27.27

Strategi 2: imputasi mean dan median

Pendapatan memiliki nilai ekstrem. Bandingkan mean dan median sebelum menentukan imputasi.

mean_pendapatan <- mean(pelanggan$pendapatan, na.rm = TRUE)
median_pendapatan <- median(pelanggan$pendapatan, na.rm = TRUE)

mean_pendapatan
## [1] 59900000
median_pendapatan
## [1] 4900000

Karena distribusi pendapatan sangat miring akibat nilai 500 juta, median lebih stabil untuk contoh ini.

pelanggan$pendapatan_imputasi <- pelanggan$pendapatan
pelanggan$pendapatan_imputasi[is.na(pelanggan$pendapatan_imputasi)] <-
  median_pendapatan

median_usia <- median(pelanggan$usia, na.rm = TRUE)
pelanggan$usia_imputasi <- pelanggan$usia
pelanggan$usia_imputasi[is.na(pelanggan$usia_imputasi)] <- median_usia

pelanggan[, c("customer_id", "usia", "usia_imputasi",
              "pendapatan", "pendapatan_imputasi")]

Strategi 3: imputasi nilai kategorik

Nilai kota yang hilang tidak selalu tepat diisi dengan modus. Untuk latihan ini kita gunakan kategori eksplisit Tidak diketahui agar ketidakpastian tidak disembunyikan.

pelanggan$kota_imputasi <- pelanggan$kota
pelanggan$kota_imputasi[is.na(pelanggan$kota_imputasi)] <- "Tidak diketahui"

table(pelanggan$kota_imputasi, useNA = "ifany")
## 
##           Dumai       Pekanbaru            Siak Tidak diketahui 
##               3               6               1               1

Menambahkan indikator missing

pelanggan$pendapatan_missing <- as.integer(is.na(pelanggan$pendapatan))
table(pelanggan$pendapatan_missing)
## 
## 0 1 
## 9 2

Membandingkan distribusi sebelum dan sesudah imputasi

par(mfrow = c(1, 2))

hist(
  pelanggan$pendapatan,
  main = "Sebelum Imputasi",
  xlab = "Pendapatan",
  col = "skyblue",
  breaks = 8
)

hist(
  pelanggan$pendapatan_imputasi,
  main = "Sesudah Imputasi Median",
  xlab = "Pendapatan",
  col = "lightgreen",
  breaks = 8
)

par(mfrow = c(1, 1))

Imputasi dapat mengubah distribusi dan mengecilkan variasi. Karena itu, evaluasi tidak berhenti setelah semua NA hilang.

Bagian IV — Penanganan Outlier

Visualisasi dengan boxplot

boxplot(
  pelanggan$pendapatan_imputasi,
  horizontal = TRUE,
  col = "lightblue",
  main = "Boxplot Pendapatan",
  xlab = "Pendapatan"
)

Menghitung batas IQR

q1 <- quantile(pelanggan$pendapatan_imputasi, 0.25)
q3 <- quantile(pelanggan$pendapatan_imputasi, 0.75)
iqr <- IQR(pelanggan$pendapatan_imputasi)

batas_bawah <- q1 - 1.5 * iqr
batas_atas <- q3 + 1.5 * iqr

c(
  Q1 = q1,
  Q3 = q3,
  IQR = iqr,
  batas_bawah = batas_bawah,
  batas_atas = batas_atas
)
##          Q1.25%          Q3.75%             IQR batas_bawah.25%  batas_atas.75% 
##         4750000         5150000          400000         4150000         5750000

Menandai kandidat outlier

pelanggan$outlier_pendapatan <-
  pelanggan$pendapatan_imputasi < batas_bawah |
  pelanggan$pendapatan_imputasi > batas_atas

pelanggan[
  pelanggan$outlier_pendapatan,
  c("customer_id", "nama", "pendapatan_imputasi")
]

Mengevaluasi tindakan

Nilai 500 juta tidak otomatis dihapus. Pertimbangkan tiga kemungkinan:

  1. Kesalahan input: koreksi jika nilai benar dapat diverifikasi.
  2. Observasi valid tetapi ekstrem: pertahankan atau gunakan metode robust.
  3. Populasi berbeda: pisahkan segmen apabila pelanggan korporasi tercampur dengan pelanggan ritel.

Pada modul ini, nilai dipertahankan dan dibuat variabel versi winsorized hanya untuk membandingkan dampak metode.

pelanggan$pendapatan_winsor <- pmin(
  pmax(
    pelanggan$pendapatan_imputasi,
    batas_bawah
  ),
  batas_atas
)

pelanggan[
  pelanggan$outlier_pendapatan,
  c(
    "customer_id",
    "pendapatan_imputasi",
    "pendapatan_winsor"
  )
]

Winsorizing adalah demonstrasi tambahan. Terapkan hanya jika sesuai dengan tujuan analisis dan dokumentasikan bahwa nilai ekstrem telah dibatasi.

Bagian V — Transformasi Data

Normalisasi min–maks

Rumus untuk rentang \([0,1]\) adalah

\[ x' = \frac{x-\min(x)}{\max(x)-\min(x)}. \]

minmax <- function(x) {

  if (all(is.na(x)))
    return(rep(NA_real_, length(x)))

  rentang <-
    max(x, na.rm = TRUE) -
    min(x, na.rm = TRUE)

  if (rentang == 0)
    return(rep(0, length(x)))

  (x - min(x, na.rm = TRUE)) / rentang
}

pelanggan$usia_minmax <-
  minmax(pelanggan$usia_imputasi)

pelanggan$pendapatan_minmax <-
  minmax(pelanggan$pendapatan_imputasi)

pelanggan[
  ,
  c(
    "customer_id",
    "usia",
    "usia_minmax",
    "pendapatan_imputasi",
    "pendapatan_minmax"
  )
]

Normalisasi z-score

\[ z = \frac{x-\bar{x}}{s}. \]

pelanggan$usia_z <-
  as.numeric(
    scale(pelanggan$usia_imputasi)
  )

pelanggan$pendapatan_z <-
  as.numeric(
    scale(pelanggan$pendapatan_imputasi)
  )

round(
  pelanggan[
    ,
    c("usia_z", "pendapatan_z")
  ],
  3
)

Decimal scaling

decimal_scale <- function(x) {

  maks <-
    max(
      abs(x),
      na.rm = TRUE
    )

  if (maks == 0)
    return(x)

  j <-
    ceiling(
      log10(maks + 1)
    )

  x / (10 ^ j)
}

pelanggan$pendapatan_decimal <-
  decimal_scale(
    pelanggan$pendapatan_imputasi
  )

range(
  pelanggan$pendapatan_decimal,
  na.rm = TRUE
)
## [1] 0.0045 0.5000

Membandingkan metode transformasi

transformasi <- pelanggan[
  ,
  c(
    "customer_id",
    "pendapatan_imputasi",
    "pendapatan_minmax",
    "pendapatan_z",
    "pendapatan_decimal"
  )
]

transformasi

Dampak outlier terhadap normalisasi

pelanggan$pendapatan_winsor_minmax <-
  minmax(
    pelanggan$pendapatan_winsor
  )

plot(
  pelanggan$pendapatan_minmax,
  pelanggan$pendapatan_winsor_minmax,
  pch = 19,
  col = "navy",
  xlab = "Min–maks Data Asli",
  ylab = "Min–maks Data Winsorized",
  main = "Dampak Penanganan Outlier terhadap Normalisasi"
)

abline(
  0,
  1,
  col = "red",
  lty = 2
)

Interpretasi: outlier dapat menekan sebagian besar nilai min–maks ke rentang yang sangat sempit. Inilah alasan deteksi outlier perlu dilakukan sebelum memilih transformasi.

Bagian VI — Integrasi Data

Memeriksa kunci pada kedua sumber

sum(
  duplicated(
    pelanggan$customer_id
  )
)
## [1] 0
sum(
  duplicated(
    transaksi_raw$cust_id
  )
)
## [1] 0
setdiff(
  pelanggan$customer_id,
  transaksi_raw$cust_id
)
## [1] "C011"
setdiff(
  transaksi_raw$cust_id,
  pelanggan$customer_id
)
## [1] "C012"

Hasil setdiff() menunjukkan pelanggan yang tidak memiliki transaksi dan transaksi yang tidak memiliki pasangan data pelanggan.

Menyelaraskan nama identifier

transaksi <- transaksi_raw

names(transaksi)[
  names(transaksi) == "cust_id"
] <- "customer_id"

Melakukan left join dengan merge()

data_terintegrasi <- merge(
  pelanggan,
  transaksi,
  by = "customer_id",
  all.x = TRUE
)

data_terintegrasi[
  ,
  c(
    "customer_id",
    "nama",
    "jumlah_transaksi",
    "total_purchase"
  )
]

all.x = TRUE mempertahankan seluruh pelanggan meskipun tidak memiliki pasangan transaksi.

Memvalidasi hasil integrasi

c(
  sebelum = nrow(pelanggan),
  sesudah = nrow(data_terintegrasi)
)
## sebelum sesudah 
##      11      11
sum(
  duplicated(
    data_terintegrasi$customer_id
  )
)
## [1] 0
colSums(
  is.na(
    data_terintegrasi[
      ,
      c(
        "jumlah_transaksi",
        "total_purchase"
      )
    ]
  )
)
## jumlah_transaksi   total_purchase 
##                1                1
data_terintegrasi[
  is.na(
    data_terintegrasi$jumlah_transaksi
  ),
  c(
    "customer_id",
    "nama"
  )
]

Mengisi nol atau mempertahankan NA?

NA pada transaksi dapat berarti dua hal berbeda:

  • pelanggan benar-benar belum pernah bertransaksi; atau
  • data transaksi pelanggan tidak tersedia atau gagal dipadankan.

Nilai hanya boleh diubah menjadi 0 jika definisinya sudah dikonfirmasi.

data_terintegrasi$jumlah_transaksi_final <-
  data_terintegrasi$jumlah_transaksi

data_terintegrasi$total_purchase_final <-
  data_terintegrasi$total_purchase

data_terintegrasi$jumlah_transaksi_final[
  is.na(
    data_terintegrasi$jumlah_transaksi_final
  )
] <- 0

data_terintegrasi$total_purchase_final[
  is.na(
    data_terintegrasi$total_purchase_final
  )
] <- 0

Dataset Akhir dan Evaluasi

Memilih atribut akhir

data_final <- data_terintegrasi[
  ,
  c(
    "customer_id",
    "nama",
    "usia_imputasi",
    "kota_imputasi",
    "status",
    "pendapatan_imputasi",
    "pendapatan_missing",
    "outlier_pendapatan",
    "usia_minmax",
    "pendapatan_minmax",
    "jumlah_transaksi_final",
    "total_purchase_final"
  )
]

names(data_final)[
  names(data_final) == "kota_imputasi"
] <- "kota"

names(data_final)[
  names(data_final) == "usia_imputasi"
] <- "usia"

data_final

Audit akhir

audit_akhir <- audit_data(data_final)
audit_akhir
sum(
  duplicated(
    data_final$customer_id
  )
)
## [1] 0
colSums(
  is.na(data_final)
)
##            customer_id                   nama                   usia 
##                      0                      0                      0 
##                   kota                 status    pendapatan_imputasi 
##                      0                      0                      0 
##     pendapatan_missing     outlier_pendapatan            usia_minmax 
##                      0                      0                      0 
##      pendapatan_minmax jumlah_transaksi_final   total_purchase_final 
##                      0                      0                      0

Membandingkan kondisi sebelum dan sesudah

perbandingan <- data.frame(
  indikator = c(
    "Jumlah baris",
    "Duplikasi customer_id",
    "Total missing value",
    "Kategori kota unik",
    "Kategori status unik"
  ),

  sebelum = c(
    nrow(pelanggan_raw),
    sum(
      duplicated(
        pelanggan_raw$customer_id
      )
    ),
    sum(
      is.na(pelanggan_raw)
    ),
    length(
      unique(
        pelanggan_raw$kota
      )
    ),
    length(
      unique(
        pelanggan_raw$status
      )
    )
  ),

  sesudah = c(
    nrow(data_final),
    sum(
      duplicated(
        data_final$customer_id
      )
    ),
    sum(
      is.na(data_final)
    ),
    length(
      unique(
        data_final$kota
      )
    ),
    length(
      unique(
        data_final$status
      )
    )
  )
)

perbandingan

Menyimpan hasil

write.csv(
  data_final,
  "data_pelanggan_setelah_preprocessing.csv",
  row.names = FALSE
)

write.csv(
  log_perubahan,
  "log_perubahan_preprocessing.csv",
  row.names = FALSE
)

Pertanyaan Refleksi

  1. Apakah dataset tanpa missing value selalu lebih berkualitas?
  2. Mengapa outlier tidak boleh otomatis dihapus?
  3. Bagaimana preprocessing dapat menimbulkan bias?
  4. Mengapa parameter imputasi dan transformasi seharusnya dihitung dari data pelatihan?
  5. Apa risiko integrasi data jika identifier tidak unik?

Ringkasan

Alur yang telah dilakukan adalah:

  1. Memahami struktur dan kualitas awal data;
  2. Membersihkan kategori, duplikasi, dan pelanggaran domain;
  3. Menangani missing values tanpa menyembunyikan ketidakpastian;
  4. Mendeteksi dan mengevaluasi outlier;
  5. Mentransformasikan atribut numerik; dan
  6. Mengintegrasikan data serta memvalidasi hasilnya.

Preprocessing merupakan proses pengambilan keputusan. Kode R hanya menjalankan keputusan tersebut; kualitas hasil tetap bergantung pada pemahaman data, tujuan analisis, dan dokumentasi perubahan.

Daftar Pustaka

Han, J., Kamber, M., & Pei, J. (2012). Data Mining: Concepts and Techniques (3rd ed.). Morgan & Kaufmann. Chapter 3: Data Preprocessing.