Data Preprocessing Menggunakan RStudio

Identitas Praktikum

Komponen Keterangan
Mata kuliah Data Mining
Pertemuan 03
Topik Data Preprocessing
Software R dan RStudio
Alokasi waktu 2 SKS / 100 menit
Acuan utama Han, Kamber, dan Pei (2012), Bab 3

Capaian Praktikum

Setelah mengikuti seluruh rangkaian praktikum, mahasiswa diharapkan memiliki kemampuan untuk:

  1. menjelaskan kondisi data yang menyebabkan preprocessing diperlukan;
  2. mengidentifikasi masalah kualitas data menggunakan R;
  3. menerapkan data cleaning secara sistematis;
  4. memilih dan menerapkan strategi penanganan missing values;
  5. mendeteksi serta mengevaluasi outlier;
  6. melakukan transformasi atribut numerik; dan
  7. mengintegrasikan dua sumber data serta memvalidasi hasilnya.

Skenario Praktikum

Sebuah perusahaan e-commerce ingin melakukan analisis terhadap pelanggan dengan memanfaatkan data yang berasal dari dua sumber berikut:

  • data pelanggan, yang berisi informasi identitas, usia, kota, pendapatan, serta status pelanggan;
  • data transaksi, yang memuat informasi mengenai jumlah transaksi dan total nilai pembelian.

Data tersebut belum siap digunakan secara langsung karena masih terdapat beberapa permasalahan, seperti nilai hilang, penulisan kategori yang tidak seragam, data duplikat, nilai yang sangat ekstrem, serta perbedaan penamaan identifier. Tugas pada praktikum ini adalah menyiapkan dan memperbaiki data hingga terbentuk satu dataset yang layak digunakan untuk analisis.

Prinsip utama: suatu nilai tidak boleh langsung diubah atau dihapus hanya karena tampak tidak biasa. Setiap tindakan preprocessing harus didasarkan pada alasan yang jelas, aturan yang dapat dipertanggungjawabkan, serta dokumentasi perubahan.

Persiapan RStudio

Membuat proyek

  1. Buka RStudio.
  2. Pilih File → New Project → New Directory → New Project.
  3. Beri nama proyek, misalnya praktikum_preprocessing.
  4. Simpan file ini di dalam folder proyek.
  5. Klik Knit untuk menghasilkan HTML.

Memeriksa lingkungan kerja

getwd()
## [1] "C:/Users/User/Downloads"
R.version.string
## [1] "R version 4.5.1 (2025-06-13 ucrt)"

Seluruh tahapan dalam modul ini menggunakan fungsi bawaan R, sehingga praktikum dapat dijalankan tanpa perlu menginstal paket tambahan.

Membangun Dataset Praktikum

Jalankan kode berikut untuk membentuk dataset praktikum. Data sengaja dibuat mengandung berbagai permasalahan agar setiap tahapan preprocessing dapat dipelajari dan diterapkan.

pelanggan_raw <- data.frame(
  customer_id = c("C001", "C002", "C003", "C004", "C005", "C006",
                  "C007", "C008", "C009", "C010", "C010", "C011"),
  nama = c("Ani", "Budi", "Citra", "Dodi", "Eka", "Fani",
           "Gilang", "Hana", "Indra", "Joko", "Joko", "Kiki"),
  usia = c(21, 25, 23, 150, 27, NA, 31, 29, 22, 35, 35, 28),
  pendapatan = c(4500000, NA, 5200000, 4800000, 4900000, 5100000,
                 500000000, 4700000, 4600000, 5300000, 5300000, NA),
  kota = c("Pekanbaru", " PKU", "PEKANBARU", "Dumai", "pekanbaru",
           "DUMAI", "Pekanbaru ", "Siak", "PKU", "Dumai", "Dumai", NA),
  status = c("Aktif", "aktif", "ACTIVE", "A", "Tidak Aktif", "nonaktif",
             "Aktif", "AKTIF", "A", "Tidak aktif", "Tidak aktif", "Aktif"),
  stringsAsFactors = FALSE
)

transaksi_raw <- data.frame(
  cust_id = c("C001", "C002", "C003", "C004", "C005", "C006",
              "C007", "C008", "C009", "C010", "C012"),
  jumlah_transaksi = c(5, 3, 7, 2, 6, 4, 20, 5, 3, 8, 1),
  total_purchase = c(1500000, 900000, 2700000, 600000, 2100000, 1300000,
                     25000000, 1700000, 800000, 3200000, 250000),
  stringsAsFactors = FALSE
)

pelanggan_raw
##    customer_id   nama usia pendapatan       kota      status
## 1         C001    Ani   21    4500000  Pekanbaru       Aktif
## 2         C002   Budi   25         NA        PKU       aktif
## 3         C003  Citra   23    5200000  PEKANBARU      ACTIVE
## 4         C004   Dodi  150    4800000      Dumai           A
## 5         C005    Eka   27    4900000  pekanbaru Tidak Aktif
## 6         C006   Fani   NA    5100000      DUMAI    nonaktif
## 7         C007 Gilang   31  500000000 Pekanbaru        Aktif
## 8         C008   Hana   29    4700000       Siak       AKTIF
## 9         C009  Indra   22    4600000        PKU           A
## 10        C010   Joko   35    5300000      Dumai Tidak aktif
## 11        C010   Joko   35    5300000      Dumai Tidak aktif
## 12        C011   Kiki   28         NA       <NA>       Aktif
transaksi_raw
##    cust_id jumlah_transaksi total_purchase
## 1     C001                5        1500000
## 2     C002                3         900000
## 3     C003                7        2700000
## 4     C004                2         600000
## 5     C005                6        2100000
## 6     C006                4        1300000
## 7     C007               20       25000000
## 8     C008                5        1700000
## 9     C009                3         800000
## 10    C010                8        3200000
## 11    C012                1         250000

Bagian I — Konsep Data Preprocessing

Memahami struktur data

Sebelum data diperbaiki atau diubah, terlebih dahulu perlu dilakukan pemeriksaan terhadap ukuran dataset, struktur data, tipe setiap atribut, serta beberapa baris awal sebagai gambaran kondisi data.

dim(pelanggan_raw)
## [1] 12  6
names(pelanggan_raw)
## [1] "customer_id" "nama"        "usia"        "pendapatan"  "kota"       
## [6] "status"
str(pelanggan_raw)
## 'data.frame':    12 obs. of  6 variables:
##  $ customer_id: chr  "C001" "C002" "C003" "C004" ...
##  $ nama       : chr  "Ani" "Budi" "Citra" "Dodi" ...
##  $ usia       : num  21 25 23 150 27 NA 31 29 22 35 ...
##  $ pendapatan : num  4500000 NA 5200000 4800000 4900000 5100000 500000000 4700000 4600000 5300000 ...
##  $ kota       : chr  "Pekanbaru" " PKU" "PEKANBARU" "Dumai" ...
##  $ status     : chr  "Aktif" "aktif" "ACTIVE" "A" ...
head(pelanggan_raw)
##   customer_id  nama usia pendapatan      kota      status
## 1        C001   Ani   21    4500000 Pekanbaru       Aktif
## 2        C002  Budi   25         NA       PKU       aktif
## 3        C003 Citra   23    5200000 PEKANBARU      ACTIVE
## 4        C004  Dodi  150    4800000     Dumai           A
## 5        C005   Eka   27    4900000 pekanbaru Tidak Aktif
## 6        C006  Fani   NA    5100000     DUMAI    nonaktif
summary(pelanggan_raw)
##  customer_id            nama                usia          pendapatan       
##  Length:12          Length:12          Min.   : 21.00   Min.   :  4500000  
##  Class :character   Class :character   1st Qu.: 24.00   1st Qu.:  4725000  
##  Mode  :character   Mode  :character   Median : 28.00   Median :  5000000  
##                                        Mean   : 38.73   Mean   : 54440000  
##                                        3rd Qu.: 33.00   3rd Qu.:  5275000  
##                                        Max.   :150.00   Max.   :500000000  
##                                        NA's   :1        NA's   :2          
##      kota              status         
##  Length:12          Length:12         
##  Class :character   Class :character  
##  Mode  :character   Mode  :character  
##                                       
##                                       
##                                       
## 

Mengukur kualitas awal

Menurut Han, Kamber, dan Pei, kualitas data dapat ditinjau melalui enam dimensi, yaitu accuracy, completeness, consistency, timeliness, believability, dan interpretability. Namun, tidak seluruh dimensi tersebut dapat dinilai hanya berdasarkan tabel yang tersedia. Sebagai contoh, accuracy memerlukan data pembanding yang merepresentasikan kondisi sebenarnya, sedangkan timeliness membutuhkan informasi mengenai waktu pembaruan data.

Pemeriksaan awal pada bagian ini difokuskan pada berbagai masalah kualitas yang masih dapat dikenali secara langsung dari dataset.

# Banyak missing value per atribut
colSums(is.na(pelanggan_raw))
## customer_id        nama        usia  pendapatan        kota      status 
##           0           0           1           2           1           0
# Persentase missing value per atribut
round(colMeans(is.na(pelanggan_raw)) * 100, 2)
## customer_id        nama        usia  pendapatan        kota      status 
##        0.00        0.00        8.33       16.67        8.33        0.00
# Banyak baris duplikat penuh
sum(duplicated(pelanggan_raw))
## [1] 1
# Banyak customer_id yang berulang
sum(duplicated(pelanggan_raw$customer_id))
## [1] 1
# Kategori yang tercatat pada atribut kota dan status
sort(unique(pelanggan_raw$kota))
## [1] " PKU"       "Dumai"      "DUMAI"      "pekanbaru"  "Pekanbaru" 
## [6] "PEKANBARU"  "Pekanbaru " "PKU"        "Siak"
sort(unique(pelanggan_raw$status))
## [1] "A"           "ACTIVE"      "aktif"       "Aktif"       "AKTIF"      
## [6] "nonaktif"    "Tidak aktif" "Tidak Aktif"
# Rentang atribut numerik
range(pelanggan_raw$usia, na.rm = TRUE)
## [1]  21 150
range(pelanggan_raw$pendapatan, na.rm = TRUE)
## [1]   4500000 500000000

Membuat fungsi ringkasan kualitas

audit_data <- function(data) {
  data.frame(
    atribut = names(data),
    tipe = sapply(data, function(x) class(x)[1]),
    jumlah_missing = sapply(data, function(x) sum(is.na(x))),
    persen_missing = round(sapply(data, function(x) mean(is.na(x)) * 100), 2),
    jumlah_unik = sapply(data, function(x) length(unique(x))),
    row.names = NULL
  )
}

audit_awal <- audit_data(pelanggan_raw)
audit_awal
##       atribut      tipe jumlah_missing persen_missing jumlah_unik
## 1 customer_id character              0           0.00          11
## 2        nama character              0           0.00          11
## 3        usia   numeric              1           8.33          11
## 4  pendapatan   numeric              2          16.67          10
## 5        kota character              1           8.33          10
## 6      status character              0           0.00           8

Interpretasi: hasil audit tidak langsung menentukan tindakan pembersihan data. Audit berfungsi sebagai petunjuk untuk menunjukkan atribut mana yang perlu dianalisis lebih lanjut.

Bagian II — Implementasi Data Cleaning

Membuat salinan kerja

Data mentah sebaiknya tetap disimpan agar seluruh perubahan yang dilakukan selama preprocessing dapat ditelusuri kembali.

pelanggan <- pelanggan_raw

Membersihkan spasi dan kapitalisasi

# Menghapus spasi di awal dan akhir
pelanggan$kota <- trimws(pelanggan$kota)
pelanggan$status <- trimws(pelanggan$status)

# Menyeragamkan huruf menjadi kecil untuk proses pencocokan
pelanggan$kota <- tolower(pelanggan$kota)
pelanggan$status <- tolower(pelanggan$status)

sort(unique(pelanggan$kota))
## [1] "dumai"     "pekanbaru" "pku"       "siak"
sort(unique(pelanggan$status))
## [1] "a"           "active"      "aktif"       "nonaktif"    "tidak aktif"

Menyeragamkan kategori

Penyeragaman kategori dilakukan berdasarkan aturan yang sesuai dengan domain data. Dalam penerapan nyata, aturan tersebut sebaiknya diverifikasi melalui kamus data atau dikonfirmasi kepada pihak yang memahami dan memiliki data.

# Standardisasi kota
pelanggan$kota[pelanggan$kota %in% c("pku", "pekanbaru")] <- "Pekanbaru"
pelanggan$kota[pelanggan$kota == "dumai"] <- "Dumai"
pelanggan$kota[pelanggan$kota == "siak"] <- "Siak"

# Standardisasi status
pelanggan$status[pelanggan$status %in% c("aktif", "active", "a")] <- "Aktif"
pelanggan$status[pelanggan$status %in% c("tidak aktif", "nonaktif")] <- "Tidak Aktif"

sort(unique(pelanggan$kota))
## [1] "Dumai"     "Pekanbaru" "Siak"
sort(unique(pelanggan$status))
## [1] "Aktif"       "Tidak Aktif"

Mendeteksi dan menghapus duplikasi

# Menampilkan seluruh baris dengan customer_id yang berulang
pelanggan[duplicated(pelanggan$customer_id) |
          duplicated(pelanggan$customer_id, fromLast = TRUE), ]
##    customer_id nama usia pendapatan  kota      status
## 10        C010 Joko   35    5300000 Dumai Tidak Aktif
## 11        C010 Joko   35    5300000 Dumai Tidak Aktif
# Mempertahankan kemunculan pertama untuk customer_id yang identik
pelanggan <- pelanggan[!duplicated(pelanggan$customer_id), ]
rownames(pelanggan) <- NULL

dim(pelanggan)
## [1] 11  6

Catatan: penghapusan data duplikat hanya tepat dilakukan apabila setiap customer_id memang dirancang untuk mewakili satu pelanggan. Jika satu pelanggan secara valid dapat memiliki lebih dari satu baris data, maka penghapusan tersebut justru dapat menyebabkan hilangnya informasi.

Memeriksa aturan domain

# Kandidat usia tidak valid berdasarkan aturan bisnis 15–100 tahun
pelanggan[pelanggan$usia < 15 | pelanggan$usia > 100, ]
##    customer_id nama usia pendapatan  kota status
## 4         C004 Dodi  150    4800000 Dumai  Aktif
## NA        <NA> <NA>   NA         NA  <NA>   <NA>
# Kandidat pendapatan tidak valid jika bernilai negatif
pelanggan[pelanggan$pendapatan < 0, ]
##      customer_id nama usia pendapatan kota status
## NA          <NA> <NA>   NA         NA <NA>   <NA>
## NA.1        <NA> <NA>   NA         NA <NA>   <NA>

Nilai usia 150 tidak sesuai dengan aturan yang ditetapkan pada domain data. Misalnya, setelah dilakukan pengecekan terhadap formulir sumber, diketahui bahwa nilai yang seharusnya tercatat adalah 50.

pelanggan$usia[pelanggan$customer_id == "C004"] <- 50

Membuat log perubahan

log_perubahan <- data.frame(
  tahap = c("Standardisasi", "Standardisasi", "Deduplikasi", "Koreksi domain"),
  atribut = c("kota", "status", "customer_id", "usia"),
  tindakan = c(
    "PKU dan variasi kapital menjadi Pekanbaru",
    "ACTIVE/A menjadi Aktif; nonaktif menjadi Tidak Aktif",
    "Menghapus kemunculan kedua C010",
    "Usia C004 dikoreksi dari 150 menjadi 50 berdasarkan sumber asli"
  ),
  stringsAsFactors = FALSE
)

log_perubahan
##            tahap     atribut
## 1  Standardisasi        kota
## 2  Standardisasi      status
## 3    Deduplikasi customer_id
## 4 Koreksi domain        usia
##                                                          tindakan
## 1                       PKU dan variasi kapital menjadi Pekanbaru
## 2            ACTIVE/A menjadi Aktif; nonaktif menjadi Tidak Aktif
## 3                                 Menghapus kemunculan kedua C010
## 4 Usia C004 dikoreksi dari 150 menjadi 50 berdasarkan sumber asli

Bagian III — Penanganan Missing Values

Mengidentifikasi lokasi nilai hilang

colSums(is.na(pelanggan))
## customer_id        nama        usia  pendapatan        kota      status 
##           0           0           1           2           1           0
# Baris yang memiliki sedikitnya satu missing value
pelanggan[!complete.cases(pelanggan), ]
##    customer_id nama usia pendapatan      kota      status
## 2         C002 Budi   25         NA Pekanbaru       Aktif
## 6         C006 Fani   NA    5100000     Dumai Tidak Aktif
## 11        C011 Kiki   28         NA      <NA>       Aktif

Strategi 1: menghapus baris

Kode berikut digunakan hanya untuk memperlihatkan penerapan strategi penghapusan baris. Objek pelanggan yang digunakan dalam analisis utama tidak langsung diganti.

pelanggan_complete <- pelanggan[complete.cases(pelanggan), ]
nrow(pelanggan)
## [1] 11
nrow(pelanggan_complete)
## [1] 8

Pertanyaan untuk dipertimbangkan: seberapa besar proporsi data yang akan hilang apabila semua baris yang tidak lengkap langsung dihapus?

round((1 - nrow(pelanggan_complete) / nrow(pelanggan)) * 100, 2)
## [1] 27.27

Strategi 2: imputasi mean dan median

Variabel pendapatan mengandung nilai yang sangat ekstrem. Oleh karena itu, nilai mean dan median perlu dibandingkan terlebih dahulu sebelum menentukan metode imputasi yang paling sesuai.

mean_pendapatan <- mean(pelanggan$pendapatan, na.rm = TRUE)
median_pendapatan <- median(pelanggan$pendapatan, na.rm = TRUE)

mean_pendapatan
## [1] 59900000
median_pendapatan
## [1] 4900000

Pada contoh ini, keberadaan nilai pendapatan sebesar 500 juta membuat distribusi data menjadi sangat menceng. Dalam kondisi tersebut, median menjadi ukuran yang lebih stabil untuk digunakan sebagai dasar imputasi.

pelanggan$pendapatan_imputasi <- pelanggan$pendapatan
pelanggan$pendapatan_imputasi[is.na(pelanggan$pendapatan_imputasi)] <-
  median_pendapatan

# Imputasi usia dengan median
median_usia <- median(pelanggan$usia, na.rm = TRUE)
pelanggan$usia_imputasi <- pelanggan$usia
pelanggan$usia_imputasi[is.na(pelanggan$usia_imputasi)] <- median_usia

pelanggan[, c("customer_id", "usia", "usia_imputasi",
              "pendapatan", "pendapatan_imputasi")]
##    customer_id usia usia_imputasi pendapatan pendapatan_imputasi
## 1         C001   21          21.0    4500000             4500000
## 2         C002   25          25.0         NA             4900000
## 3         C003   23          23.0    5200000             5200000
## 4         C004   50          50.0    4800000             4800000
## 5         C005   27          27.0    4900000             4900000
## 6         C006   NA          27.5    5100000             5100000
## 7         C007   31          31.0  500000000           500000000
## 8         C008   29          29.0    4700000             4700000
## 9         C009   22          22.0    4600000             4600000
## 10        C010   35          35.0    5300000             5300000
## 11        C011   28          28.0         NA             4900000

Strategi 3: imputasi nilai kategorik

Nilai kota yang hilang tidak selalu tepat jika langsung digantikan dengan kategori yang paling sering muncul. Dalam praktikum ini digunakan kategori eksplisit Tidak diketahui agar informasi mengenai ketidakpastian data tetap terlihat.

pelanggan$kota_imputasi <- pelanggan$kota
pelanggan$kota_imputasi[is.na(pelanggan$kota_imputasi)] <- "Tidak diketahui"

table(pelanggan$kota_imputasi, useNA = "ifany")
## 
##           Dumai       Pekanbaru            Siak Tidak diketahui 
##               3               6               1               1

Menambahkan indikator missing

Variabel indikator digunakan untuk mempertahankan informasi bahwa suatu nilai pada awalnya memang tidak tersedia.

pelanggan$pendapatan_missing <- as.integer(is.na(pelanggan$pendapatan))
table(pelanggan$pendapatan_missing)
## 
## 0 1 
## 9 2

Membandingkan distribusi sebelum dan sesudah imputasi

par(mfrow = c(1, 2))
hist(pelanggan$pendapatan,
     main = "Sebelum Imputasi",
     xlab = "Pendapatan", col = "skyblue", breaks = 8)
hist(pelanggan$pendapatan_imputasi,
     main = "Sesudah Imputasi Median",
     xlab = "Pendapatan", col = "lightgreen", breaks = 8)

par(mfrow = c(1, 1))

Proses imputasi berpotensi mengubah bentuk distribusi data dan mengurangi tingkat variasinya. Oleh sebab itu, pemeriksaan kualitas data tidak cukup dilakukan hanya dengan memastikan seluruh nilai NA telah terisi.

Bagian IV — Penanganan Outlier

Visualisasi dengan boxplot

boxplot(pelanggan$pendapatan_imputasi,
        horizontal = TRUE,
        col = "lightblue",
        main = "Boxplot Pendapatan",
        xlab = "Pendapatan")

Menghitung batas IQR

q1 <- quantile(pelanggan$pendapatan_imputasi, 0.25)
q3 <- quantile(pelanggan$pendapatan_imputasi, 0.75)
iqr <- IQR(pelanggan$pendapatan_imputasi)

batas_bawah <- q1 - 1.5 * iqr
batas_atas <- q3 + 1.5 * iqr

c(Q1 = q1, Q3 = q3, IQR = iqr,
  batas_bawah = batas_bawah,
  batas_atas = batas_atas)
##          Q1.25%          Q3.75%             IQR batas_bawah.25%  batas_atas.75% 
##         4750000         5150000          400000         4150000         5750000

Menandai kandidat outlier

pelanggan$outlier_pendapatan <-
  pelanggan$pendapatan_imputasi < batas_bawah |
  pelanggan$pendapatan_imputasi > batas_atas

pelanggan[pelanggan$outlier_pendapatan,
          c("customer_id", "nama", "pendapatan_imputasi")]
##   customer_id   nama pendapatan_imputasi
## 7        C007 Gilang           500000000

Mengevaluasi tindakan

Nilai sebesar 500 juta tidak serta-merta harus dihapus. Sebelum mengambil tindakan, terdapat tiga kemungkinan yang perlu dipertimbangkan:

  1. Kesalahan input: nilai dapat diperbaiki apabila nilai yang benar dapat diverifikasi dari sumber yang dapat dipercaya.
  2. Observasi valid tetapi ekstrem: nilai dapat dipertahankan atau dianalisis menggunakan metode yang lebih robust terhadap nilai ekstrem.
  3. Populasi berbeda: data dapat dipisahkan ke dalam kelompok yang berbeda apabila, misalnya, pelanggan korporasi tercampur dengan pelanggan ritel.

Dalam modul ini, nilai ekstrem tetap dipertahankan. Selain itu, dibuat pula variabel versi winsorized semata-mata untuk melihat perbedaan hasil dan dampak dari metode tersebut.

pelanggan$pendapatan_winsor <- pmin(
  pmax(pelanggan$pendapatan_imputasi, batas_bawah),
  batas_atas
)

pelanggan[pelanggan$outlier_pendapatan,
          c("customer_id", "pendapatan_imputasi", "pendapatan_winsor")]
##   customer_id pendapatan_imputasi pendapatan_winsor
## 7        C007           500000000           5750000

Winsorizing pada bagian ini hanya digunakan sebagai ilustrasi tambahan. Metode tersebut sebaiknya diterapkan apabila benar-benar relevan dengan tujuan analisis, dan setiap pembatasan terhadap nilai ekstrem harus dicatat dengan jelas.

Bagian V — Transformasi Data

Normalisasi min–maks

Rumus untuk rentang \([0,1]\) adalah

\[ x' = \frac{x-\min(x)}{\max(x)-\min(x)}. \]

minmax <- function(x) {
  if (all(is.na(x))) return(rep(NA_real_, length(x)))
  rentang <- max(x, na.rm = TRUE) - min(x, na.rm = TRUE)
  if (rentang == 0) return(rep(0, length(x)))
  (x - min(x, na.rm = TRUE)) / rentang
}

pelanggan$usia_minmax <- minmax(pelanggan$usia_imputasi)
pelanggan$pendapatan_minmax <- minmax(pelanggan$pendapatan_imputasi)

pelanggan[, c("customer_id", "usia", "usia_minmax",
              "pendapatan_imputasi", "pendapatan_minmax")]
##    customer_id usia usia_minmax pendapatan_imputasi pendapatan_minmax
## 1         C001   21  0.00000000             4500000      0.0000000000
## 2         C002   25  0.13793103             4900000      0.0008072654
## 3         C003   23  0.06896552             5200000      0.0014127144
## 4         C004   50  1.00000000             4800000      0.0006054490
## 5         C005   27  0.20689655             4900000      0.0008072654
## 6         C006   NA  0.22413793             5100000      0.0012108981
## 7         C007   31  0.34482759           500000000      1.0000000000
## 8         C008   29  0.27586207             4700000      0.0004036327
## 9         C009   22  0.03448276             4600000      0.0002018163
## 10        C010   35  0.48275862             5300000      0.0016145308
## 11        C011   28  0.24137931             4900000      0.0008072654

Normalisasi z-score

\[ z = \frac{x-\bar{x}}{s}. \]

pelanggan$usia_z <- as.numeric(scale(pelanggan$usia_imputasi))
pelanggan$pendapatan_z <- as.numeric(scale(pelanggan$pendapatan_imputasi))

round(pelanggan[, c("usia_z", "pendapatan_z")], 3)
##    usia_z pendapatan_z
## 1  -0.984       -0.304
## 2  -0.489       -0.301
## 3  -0.737       -0.299
## 4   2.604       -0.302
## 5  -0.242       -0.301
## 6  -0.180       -0.300
## 7   0.253        3.015
## 8   0.006       -0.303
## 9  -0.860       -0.303
## 10  0.748       -0.299
## 11 -0.118       -0.301

Decimal scaling

decimal_scale <- function(x) {
  maks <- max(abs(x), na.rm = TRUE)
  if (maks == 0) return(x)
  j <- ceiling(log10(maks + 1))
  x / (10 ^ j)
}

pelanggan$pendapatan_decimal <-
  decimal_scale(pelanggan$pendapatan_imputasi)

range(pelanggan$pendapatan_decimal, na.rm = TRUE)
## [1] 0.0045 0.5000

Membandingkan metode transformasi

transformasi <- pelanggan[, c(
  "customer_id", "pendapatan_imputasi", "pendapatan_minmax",
  "pendapatan_z", "pendapatan_decimal"
)]

transformasi
##    customer_id pendapatan_imputasi pendapatan_minmax pendapatan_z
## 1         C001             4500000      0.0000000000   -0.3041235
## 2         C002             4900000      0.0008072654   -0.3014440
## 3         C003             5200000      0.0014127144   -0.2994343
## 4         C004             4800000      0.0006054490   -0.3021138
## 5         C005             4900000      0.0008072654   -0.3014440
## 6         C006             5100000      0.0012108981   -0.3001042
## 7         C007           500000000      1.0000000000    3.0151095
## 8         C008             4700000      0.0004036327   -0.3027837
## 9         C009             4600000      0.0002018163   -0.3034536
## 10        C010             5300000      0.0016145308   -0.2987645
## 11        C011             4900000      0.0008072654   -0.3014440
##    pendapatan_decimal
## 1              0.0045
## 2              0.0049
## 3              0.0052
## 4              0.0048
## 5              0.0049
## 6              0.0051
## 7              0.5000
## 8              0.0047
## 9              0.0046
## 10             0.0053
## 11             0.0049

Dampak outlier terhadap normalisasi

pelanggan$pendapatan_winsor_minmax <- minmax(pelanggan$pendapatan_winsor)

plot(pelanggan$pendapatan_minmax,
     pelanggan$pendapatan_winsor_minmax,
     pch = 19, col = "navy",
     xlab = "Min–maks Data Asli",
     ylab = "Min–maks Data Winsorized",
     main = "Dampak Penanganan Outlier terhadap Normalisasi")
abline(0, 1, col = "red", lty = 2)

Interpretasi: keberadaan outlier dapat menyebabkan sebagian besar nilai hasil normalisasi min–maks terkonsentrasi pada rentang yang sangat sempit. Karena itu, outlier perlu diperiksa terlebih dahulu sebelum menentukan metode transformasi yang akan digunakan.

Bagian VI — Integrasi Data

Memeriksa kunci pada kedua sumber

sum(duplicated(pelanggan$customer_id))
## [1] 0
sum(duplicated(transaksi_raw$cust_id))
## [1] 0
setdiff(pelanggan$customer_id, transaksi_raw$cust_id)
## [1] "C011"
setdiff(transaksi_raw$cust_id, pelanggan$customer_id)
## [1] "C012"

Hasil dari setdiff() digunakan untuk menunjukkan pelanggan yang belum memiliki data transaksi serta data transaksi yang tidak menemukan pasangan pada data pelanggan.

Menyelaraskan nama identifier

transaksi <- transaksi_raw
names(transaksi)[names(transaksi) == "cust_id"] <- "customer_id"

Melakukan left join dengan merge()

data_terintegrasi <- merge(
  pelanggan,
  transaksi,
  by = "customer_id",
  all.x = TRUE
)

data_terintegrasi[, c(
  "customer_id", "nama", "jumlah_transaksi", "total_purchase"
)]
##    customer_id   nama jumlah_transaksi total_purchase
## 1         C001    Ani                5        1500000
## 2         C002   Budi                3         900000
## 3         C003  Citra                7        2700000
## 4         C004   Dodi                2         600000
## 5         C005    Eka                6        2100000
## 6         C006   Fani                4        1300000
## 7         C007 Gilang               20       25000000
## 8         C008   Hana                5        1700000
## 9         C009  Indra                3         800000
## 10        C010   Joko                8        3200000
## 11        C011   Kiki               NA             NA

Pengaturan all.x = TRUE memastikan seluruh data pelanggan tetap dipertahankan, termasuk pelanggan yang tidak memiliki pasangan data transaksi.

Memvalidasi hasil integrasi

# Apakah jumlah baris berubah secara tidak wajar?
c(sebelum = nrow(pelanggan), sesudah = nrow(data_terintegrasi))
## sebelum sesudah 
##      11      11
# Apakah customer_id tetap unik?
sum(duplicated(data_terintegrasi$customer_id))
## [1] 0
# Missing value baru akibat tidak ditemukan pasangan transaksi
colSums(is.na(data_terintegrasi[, c("jumlah_transaksi", "total_purchase")]))
## jumlah_transaksi   total_purchase 
##                1                1
# Pelanggan tanpa pasangan transaksi
data_terintegrasi[is.na(data_terintegrasi$jumlah_transaksi),
                  c("customer_id", "nama")]
##    customer_id nama
## 11        C011 Kiki

Mengisi nol atau mempertahankan NA?

Nilai NA pada informasi transaksi dapat memiliki dua interpretasi yang berbeda:

  • pelanggan memang belum pernah melakukan transaksi; atau
  • data transaksi pelanggan tidak tersedia atau proses pemadanan data tidak berhasil.

Nilai NA hanya dapat diubah menjadi 0 apabila makna dari nilai tersebut telah dipastikan dan dikonfirmasi.

# Contoh jika telah dikonfirmasi bahwa NA berarti belum pernah bertransaksi
data_terintegrasi$jumlah_transaksi_final <- data_terintegrasi$jumlah_transaksi
data_terintegrasi$total_purchase_final <- data_terintegrasi$total_purchase

data_terintegrasi$jumlah_transaksi_final[
  is.na(data_terintegrasi$jumlah_transaksi_final)
] <- 0

data_terintegrasi$total_purchase_final[
  is.na(data_terintegrasi$total_purchase_final)
] <- 0

Dataset Akhir dan Evaluasi

Memilih atribut akhir

data_final <- data_terintegrasi[, c(
  "customer_id", "nama", "usia_imputasi", "kota_imputasi", "status",
  "pendapatan_imputasi", "pendapatan_missing", "outlier_pendapatan",
  "usia_minmax", "pendapatan_minmax", "jumlah_transaksi_final",
  "total_purchase_final"
)]

names(data_final)[names(data_final) == "kota_imputasi"] <- "kota"
names(data_final)[names(data_final) == "usia_imputasi"] <- "usia"

data_final
##    customer_id   nama usia            kota      status pendapatan_imputasi
## 1         C001    Ani 21.0       Pekanbaru       Aktif             4500000
## 2         C002   Budi 25.0       Pekanbaru       Aktif             4900000
## 3         C003  Citra 23.0       Pekanbaru       Aktif             5200000
## 4         C004   Dodi 50.0           Dumai       Aktif             4800000
## 5         C005    Eka 27.0       Pekanbaru Tidak Aktif             4900000
## 6         C006   Fani 27.5           Dumai Tidak Aktif             5100000
## 7         C007 Gilang 31.0       Pekanbaru       Aktif           500000000
## 8         C008   Hana 29.0            Siak       Aktif             4700000
## 9         C009  Indra 22.0       Pekanbaru       Aktif             4600000
## 10        C010   Joko 35.0           Dumai Tidak Aktif             5300000
## 11        C011   Kiki 28.0 Tidak diketahui       Aktif             4900000
##    pendapatan_missing outlier_pendapatan usia_minmax pendapatan_minmax
## 1                   0              FALSE  0.00000000      0.0000000000
## 2                   1              FALSE  0.13793103      0.0008072654
## 3                   0              FALSE  0.06896552      0.0014127144
## 4                   0              FALSE  1.00000000      0.0006054490
## 5                   0              FALSE  0.20689655      0.0008072654
## 6                   0              FALSE  0.22413793      0.0012108981
## 7                   0               TRUE  0.34482759      1.0000000000
## 8                   0              FALSE  0.27586207      0.0004036327
## 9                   0              FALSE  0.03448276      0.0002018163
## 10                  0              FALSE  0.48275862      0.0016145308
## 11                  1              FALSE  0.24137931      0.0008072654
##    jumlah_transaksi_final total_purchase_final
## 1                       5              1500000
## 2                       3               900000
## 3                       7              2700000
## 4                       2               600000
## 5                       6              2100000
## 6                       4              1300000
## 7                      20             25000000
## 8                       5              1700000
## 9                       3               800000
## 10                      8              3200000
## 11                      0                    0

Audit akhir

audit_akhir <- audit_data(data_final)
audit_akhir
##                   atribut      tipe jumlah_missing persen_missing jumlah_unik
## 1             customer_id character              0              0          11
## 2                    nama character              0              0          11
## 3                    usia   numeric              0              0          11
## 4                    kota character              0              0           4
## 5                  status character              0              0           2
## 6     pendapatan_imputasi   numeric              0              0           9
## 7      pendapatan_missing   integer              0              0           2
## 8      outlier_pendapatan   logical              0              0           2
## 9             usia_minmax   numeric              0              0          11
## 10      pendapatan_minmax   numeric              0              0           9
## 11 jumlah_transaksi_final   numeric              0              0           9
## 12   total_purchase_final   numeric              0              0          11
sum(duplicated(data_final$customer_id))
## [1] 0
colSums(is.na(data_final))
##            customer_id                   nama                   usia 
##                      0                      0                      0 
##                   kota                 status    pendapatan_imputasi 
##                      0                      0                      0 
##     pendapatan_missing     outlier_pendapatan            usia_minmax 
##                      0                      0                      0 
##      pendapatan_minmax jumlah_transaksi_final   total_purchase_final 
##                      0                      0                      0

Membandingkan kondisi sebelum dan sesudah

perbandingan <- data.frame(
  indikator = c(
    "Jumlah baris",
    "Duplikasi customer_id",
    "Total missing value",
    "Kategori kota unik",
    "Kategori status unik"
  ),
  sebelum = c(
    nrow(pelanggan_raw),
    sum(duplicated(pelanggan_raw$customer_id)),
    sum(is.na(pelanggan_raw)),
    length(unique(pelanggan_raw$kota)),
    length(unique(pelanggan_raw$status))
  ),
  sesudah = c(
    nrow(data_final),
    sum(duplicated(data_final$customer_id)),
    sum(is.na(data_final)),
    length(unique(data_final$kota)),
    length(unique(data_final$status))
  )
)

perbandingan
##               indikator sebelum sesudah
## 1          Jumlah baris      12      11
## 2 Duplikasi customer_id       1       0
## 3   Total missing value       4       0
## 4    Kategori kota unik      10       4
## 5  Kategori status unik       8       2

Menyimpan hasil

write.csv(data_final,
          "data_pelanggan_setelah_preprocessing.csv",
          row.names = FALSE)

write.csv(log_perubahan,
          "log_perubahan_preprocessing.csv",
          row.names = FALSE)

Pertanyaan Refleksi

  1. Apakah dataset tanpa missing value selalu lebih berkualitas?
  2. Mengapa outlier tidak boleh otomatis dihapus?
  3. Bagaimana preprocessing dapat menimbulkan bias?
  4. Mengapa parameter imputasi dan transformasi seharusnya dihitung dari data pelatihan?
  5. Apa risiko integrasi data jika identifier tidak unik?

Ringkasan

Secara umum, tahapan preprocessing yang telah dilakukan dapat dirangkum sebagai berikut:

  1. memeriksa struktur data serta menilai kondisi kualitas data pada tahap awal;
  2. membersihkan ketidakkonsistenan kategori, menangani duplikasi, dan memeriksa pelanggaran terhadap aturan domain;
  3. menangani missing values dengan tetap mempertahankan informasi mengenai ketidakpastian yang ada;
  4. mengidentifikasi dan mengevaluasi keberadaan outlier;
  5. melakukan transformasi pada atribut numerik; serta
  6. menggabungkan beberapa sumber data dan melakukan validasi terhadap hasil integrasinya.

Data preprocessing pada dasarnya merupakan rangkaian proses pengambilan keputusan. Kode R berperan sebagai alat untuk menerapkan keputusan tersebut, sedangkan kualitas hasil akhirnya tetap ditentukan oleh pemahaman terhadap data, kesesuaian dengan tujuan analisis, serta kelengkapan dokumentasi setiap perubahan.

Daftar Pustaka

Han, J., Kamber, M., & Pei, J. (2012). Data Mining: Concepts and Techniques (3rd ed.). Morgan Kaufmann. Chapter 3: Data Preprocessing.