Dalam dunia e-commerce, data profil pengguna dan riwayat transaksi umumnya disimpan dalam basis data yang terpisah. Ketika data ini diekstrak untuk kebutuhan pemodelan atau analisis lanjutan, kita sering kali dihadapkan pada masalah kualitas data mentah (raw data). Kendala yang umum ditemukan meliputi kekosongan data (missing values), kesalahan input yang tidak logis, duplikasi observasi, hingga format penulisan teks yang tidak konsisten.
Apabila data yang belum dibersihkan ini langsung diproses, hasil analisis statistik yang diperoleh kemungkinan besar akan bias atau tidak akurat. Oleh karena itu, dimulai dari audit awal, pembersihan data, penanganan nilai ekstrem (outliers), transformasi skala, hingga integrasi data untuk menghasilkan dataset yang valid dan terstandardisasi.
Sebelum memulai pengolahan, penting untuk memverifikasi direktori kerja dan versi R ang digunakan guna memastikan reproduksibilitas kode di kemudian hari.
getwd()
## [1] "D:/Semester 5"
R.version.string
## [1] "R version 4.6.0 (2026-04-24 ucrt)"
Makna: Output di atas mengonfirmasi lokasi folder tempat proyek ini berjalan dan versi komputasi R yang aktif. Seluruh proses di bawah ini murni menggunakan paket dasar (base R).
Kita mendefinisikan dua kerangka data: pelanggan_raw
(profil demografis) dan transaksi_raw (perilaku
pembelian).
pelanggan_raw <- data.frame(
customer_id = c("C001", "C002", "C003", "C004", "C005", "C006", "C007", "C008", "C009", "C010", "C010", "C011"),
nama = c("Ani", "Budi", "Citra", "Dodi", "Eka", "Fani", "Gilang", "Hana", "Indra", "Joko", "Joko", "Kiki"),
usia = c(21, 25, 23, 150, 27, NA, 31, 29, 22, 35, 35, 28),
pendapatan = c(4500000, NA, 5200000, 4800000, 4900000, 5100000, 500000000, 4700000, 4600000, 5300000, 5300000, NA),
kota = c("Pekanbaru", " PKU", "PEKANBARU", "Dumai", "pekanbaru", "DUMAI", "Pekanbaru ", "Siak", "PKU", "Dumai", "Dumai", NA),
status = c("Aktif", "aktif", "ACTIVE", "A", "Tidak Aktif", "nonaktif", "Aktif", "AKTIF", "A", "Tidak aktif", "Tidak aktif", "Aktif"),
stringsAsFactors = FALSE
)
transaksi_raw <- data.frame(
cust_id = c("C001", "C002", "C003", "C004", "C005", "C006", "C007", "C008", "C009", "C010", "C012"),
jumlah_transaksi = c(5, 3, 7, 2, 6, 4, 20, 5, 3, 8, 1),
total_purchase = c(1500000, 900000, 2700000, 600000, 2100000, 1300000, 25000000, 1700000, 800000, 3200000, 250000),
stringsAsFactors = FALSE
)
pelanggan_raw
## customer_id nama usia pendapatan kota status
## 1 C001 Ani 21 4.5e+06 Pekanbaru Aktif
## 2 C002 Budi 25 NA PKU aktif
## 3 C003 Citra 23 5.2e+06 PEKANBARU ACTIVE
## 4 C004 Dodi 150 4.8e+06 Dumai A
## 5 C005 Eka 27 4.9e+06 pekanbaru Tidak Aktif
## 6 C006 Fani NA 5.1e+06 DUMAI nonaktif
## 7 C007 Gilang 31 5.0e+08 Pekanbaru Aktif
## 8 C008 Hana 29 4.7e+06 Siak AKTIF
## 9 C009 Indra 22 4.6e+06 PKU A
## 10 C010 Joko 35 5.3e+06 Dumai Tidak aktif
## 11 C010 Joko 35 5.3e+06 Dumai Tidak aktif
## 12 C011 Kiki 28 NA <NA> Aktif
transaksi_raw
## cust_id jumlah_transaksi total_purchase
## 1 C001 5 1.5e+06
## 2 C002 3 9.0e+05
## 3 C003 7 2.7e+06
## 4 C004 2 6.0e+05
## 5 C005 6 2.1e+06
## 6 C006 4 1.3e+06
## 7 C007 20 2.5e+07
## 8 C008 5 1.7e+06
## 9 C009 3 8.0e+05
## 10 C010 8 3.2e+06
## 11 C012 1 2.5e+05
Makna: Dataset mentah telah berhasil dimuat. Jika diperhatikan sekilas, terdapat beberapa inkonsistensi pada data pelanggan, seperti perbedaan format penulisan nama kota dan status. Selain itu, terdapat data usia yang tidak logis (150 tahun), yang perlu ditangani pada tahap selanjutnya.
Langkah pertama adalah melakukan pengecekan struktur tipe data dan melihat ringkasan deskriptifnya.
dim(pelanggan_raw)
## [1] 12 6
names(pelanggan_raw)
## [1] "customer_id" "nama" "usia" "pendapatan" "kota"
## [6] "status"
str(pelanggan_raw)
## 'data.frame': 12 obs. of 6 variables:
## $ customer_id: chr "C001" "C002" "C003" "C004" ...
## $ nama : chr "Ani" "Budi" "Citra" "Dodi" ...
## $ usia : num 21 25 23 150 27 NA 31 29 22 35 ...
## $ pendapatan : num 4.5e+06 NA 5.2e+06 4.8e+06 4.9e+06 5.1e+06 5.0e+08 4.7e+06 4.6e+06 5.3e+06 ...
## $ kota : chr "Pekanbaru" " PKU" "PEKANBARU" "Dumai" ...
## $ status : chr "Aktif" "aktif" "ACTIVE" "A" ...
head(pelanggan_raw)
## customer_id nama usia pendapatan kota status
## 1 C001 Ani 21 4500000 Pekanbaru Aktif
## 2 C002 Budi 25 NA PKU aktif
## 3 C003 Citra 23 5200000 PEKANBARU ACTIVE
## 4 C004 Dodi 150 4800000 Dumai A
## 5 C005 Eka 27 4900000 pekanbaru Tidak Aktif
## 6 C006 Fani NA 5100000 DUMAI nonaktif
summary(pelanggan_raw)
## customer_id nama usia pendapatan
## Length :12 Length :12 Min. : 21.00 Min. : 4500000
## N.unique :11 N.unique :11 1st Qu.: 24.00 1st Qu.: 4725000
## N.blank : 0 N.blank : 0 Median : 28.00 Median : 5000000
## Min.nchar: 4 Min.nchar: 3 Mean : 38.73 Mean : 54440000
## Max.nchar: 4 Max.nchar: 6 3rd Qu.: 33.00 3rd Qu.: 5275000
## Max. :150.00 Max. :500000000
## NAs :1 NAs :2
## kota status
## Length :12 Length :12
## N.unique : 9 N.unique : 8
## N.blank : 0 N.blank : 0
## Min.nchar: 3 Min.nchar: 1
## Max.nchar:10 Max.nchar:11
## NAs : 1
##
Makna: Fungsi str() membantu kita
memverifikasi bahwa tipe data untuk setiap kolom sudah tepat (karakter
atau numerik). Melalui ringkasan summary(), kita dapat
melihat adanya indikasi nilai ekstrem, yakni nilai maksimum usia yang
mencapai 150 dan pendapatan yang menyentuh angka 500 juta. Hal ini
merupakan sinyal bahwa distribusi data kita kemungkinan besar menceng
(skewed).
Selanjutnya, kita akan mengevaluasi jumlah missing value dan konsistensi kategori.
# Banyak missing value per atribut
colSums(is.na(pelanggan_raw))
## customer_id nama usia pendapatan kota status
## 0 0 1 2 1 0
# Persentase missing value per atribut
round(colMeans(is.na(pelanggan_raw)) * 100, 2)
## customer_id nama usia pendapatan kota status
## 0.00 0.00 8.33 16.67 8.33 0.00
# Banyak baris duplikat penuh
sum(duplicated(pelanggan_raw))
## [1] 1
# Banyak customer_id yang berulang
sum(duplicated(pelanggan_raw$customer_id))
## [1] 1
# Kategori yang tercatat pada atribut kota dan status
sort(unique(pelanggan_raw$kota))
## [1] " PKU" "Dumai" "DUMAI" "pekanbaru" "Pekanbaru"
## [6] "PEKANBARU" "Pekanbaru " "PKU" "Siak"
sort(unique(pelanggan_raw$status))
## [1] "A" "ACTIVE" "aktif" "Aktif" "AKTIF"
## [6] "nonaktif" "Tidak aktif" "Tidak Aktif"
# Rentang atribut numerik
range(pelanggan_raw$usia, na.rm = TRUE)
## [1] 21 150
range(pelanggan_raw$pendapatan, na.rm = TRUE)
## [1] 4.5e+06 5.0e+08
Untuk mempermudah pelaporan, kita buat fungsi kustom
audit_data yang memetakan metrik permasalahan per
variabel.
audit_data <- function(data) {
data.frame(
atribut = names(data),
tipe = sapply(data, function(x) class(x)[1]),
jumlah_missing = sapply(data, function(x) sum(is.na(x))),
persen_missing = round(sapply(data, function(x) mean(is.na(x)) * 100), 2),
jumlah_unik = sapply(data, function(x) length(unique(x))),
row.names = NULL
)
}
audit_awal <- audit_data(pelanggan_raw)
audit_awal
## atribut tipe jumlah_missing persen_missing jumlah_unik
## 1 customer_id character 0 0.00 11
## 2 nama character 0 0.00 11
## 3 usia numeric 1 8.33 11
## 4 pendapatan numeric 2 16.67 10
## 5 kota character 1 8.33 10
## 6 status character 0 0.00 8
Makna: Audit ini membuktikan tingginya noise
kategorik. Atribut kota memiliki 10 entitas unik padahal
secara geografis jumlah kotanya lebih sedikit, ini murni akibat
inkonsistensi spasi dan huruf kapital. Terdapat juga persentase data
kosong terbesar pada kolom pendapatan (16.67%).
Pembersihan teks (penghapusan whitespace berlebih dan konversi huruf kecil) diperlukan sebagai syarat mutlak sebelum melakukan standardisasi nilai (pengelompokan).
pelanggan <- pelanggan_raw
# Menghapus spasi di awal dan akhir
pelanggan$kota <- trimws(pelanggan$kota)
pelanggan$status <- trimws(pelanggan$status)
# Menyeragamkan huruf menjadi kecil untuk proses pencocokan
pelanggan$kota <- tolower(pelanggan$kota)
pelanggan$status <- tolower(pelanggan$status)
sort(unique(pelanggan$kota))
## [1] "dumai" "pekanbaru" "pku" "siak"
sort(unique(pelanggan$status))
## [1] "a" "active" "aktif" "nonaktif" "tidak aktif"
Sekarang kita lakukan standardisasi berdasarkan aturan business domain.
# Standardisasi kota
pelanggan$kota[pelanggan$kota %in% c("pku", "pekanbaru")] <- "Pekanbaru"
pelanggan$kota[pelanggan$kota == "dumai"] <- "Dumai"
pelanggan$kota[pelanggan$kota == "siak"] <- "Siak"
# Standardisasi status
pelanggan$status[pelanggan$status %in% c("aktif", "active", "a")] <- "Aktif"
pelanggan$status[pelanggan$status %in% c("tidak aktif", "nonaktif")] <- "Tidak Aktif"
sort(unique(pelanggan$kota))
## [1] "Dumai" "Pekanbaru" "Siak"
sort(unique(pelanggan$status))
## [1] "Aktif" "Tidak Aktif"
Selanjutnya adalah resolusi duplikasi rekaman (redundansi). Jika ada satu customer_id yang berulang dengan riwayat informasi yang persis sama, ini akan menimbulkan pembobotan ganda saat pengujian analitik, sehingga salah satunya wajib dieliminasi.
# Menampilkan seluruh baris dengan customer_id yang berulang
pelanggan[duplicated(pelanggan$customer_id) | duplicated(pelanggan$customer_id, fromLast = TRUE), ]
## customer_id nama usia pendapatan kota status
## 10 C010 Joko 35 5300000 Dumai Tidak Aktif
## 11 C010 Joko 35 5300000 Dumai Tidak Aktif
# Mempertahankan kemunculan pertama untuk customer_id yang identik
pelanggan <- pelanggan[!duplicated(pelanggan$customer_id), ]
rownames(pelanggan) <- NULL
dim(pelanggan)
## [1] 11 6
Memeriksa dan mengoreksi nilai yang melanggar hukum logika data (domain rule violation).
# Kandidat usia tidak valid berdasarkan aturan bisnis 15–100 tahun
pelanggan[pelanggan$usia < 15 | pelanggan$usia > 100, ]
## customer_id nama usia pendapatan kota status
## 4 C004 Dodi 150 4800000 Dumai Aktif
## NA <NA> <NA> NA NA <NA> <NA>
# Kandidat pendapatan tidak valid jika bernilai negatif
pelanggan[pelanggan$pendapatan < 0, ]
## customer_id nama usia pendapatan kota status
## NA <NA> <NA> NA NA <NA> <NA>
## NA.1 <NA> <NA> NA NA <NA> <NA>
# Mengoreksi nilai usia berdasarkan verifikasi berkas formulir asli
pelanggan$usia[pelanggan$customer_id == "C004"] <- 50
Kita merekam setiap jejak rekayasa data ini ke dalam log agar proses preprocessing dapat diaudit dan dipertanggungjawabkan.
log_perubahan <- data.frame(
tahap = c("Standardisasi", "Standardisasi", "Deduplikasi", "Koreksi domain"),
atribut = c("kota", "status", "customer_id", "usia"),
tindakan = c(
"PKU dan variasi kapital menjadi Pekanbaru",
"ACTIVE/A menjadi Aktif; nonaktif menjadi Tidak Aktif",
"Menghapus kemunculan kedua C010",
"Usia C004 dikoreksi dari 150 menjadi 50 berdasarkan sumber asli"
),
stringsAsFactors = FALSE
)
log_perubahan
## tahap atribut
## 1 Standardisasi kota
## 2 Standardisasi status
## 3 Deduplikasi customer_id
## 4 Koreksi domain usia
## tindakan
## 1 PKU dan variasi kapital menjadi Pekanbaru
## 2 ACTIVE/A menjadi Aktif; nonaktif menjadi Tidak Aktif
## 3 Menghapus kemunculan kedua C010
## 4 Usia C004 dikoreksi dari 150 menjadi 50 berdasarkan sumber asli
Makna Bagian II: Penghapusan redundansi data memastikan bahwa hasil akhir analisis tidak akan bias terhadap observasi yang terinput secara berulang. Standardisasi level faktor juga akan membuat model lebih akurat membaca bobot parameter setiap kelompok.
Kekosongan data dapat ditangani dengan menghapus baris (listwise deletion) atau menebak nilainya menggunakan metode pendekatan statis (imputasi parameter sentral).
# Mengidentifikasi lokasi nilai hilang
colSums(is.na(pelanggan))
## customer_id nama usia pendapatan kota status
## 0 0 1 2 1 0
# Baris yang memiliki sedikitnya satu missing value
pelanggan[!complete.cases(pelanggan), ]
## customer_id nama usia pendapatan kota status
## 2 C002 Budi 25 NA Pekanbaru Aktif
## 6 C006 Fani NA 5100000 Dumai Tidak Aktif
## 11 C011 Kiki 28 NA <NA> Aktif
Jika kita menghapus seluruh observasi yang tidak lengkap, terjadi pengurangan dimensi sampel yang cukup drastis:
pelanggan_complete <- pelanggan[complete.cases(pelanggan), ]
round((1 - nrow(pelanggan_complete) / nrow(pelanggan)) * 100, 2)
## [1] 27.27
Menghapus 27.27% data menyebabkan hilangnya banyak informasi potensial. Karena itu, digunakan metode imputasi. Khusus untuk atribut pendapatan yang sangat terdistorsi oleh satu nilai ekstrem (500 juta), kita membandingkan nilai mean dan median.
mean_pendapatan <- mean(pelanggan$pendapatan, na.rm = TRUE)
median_pendapatan <- median(pelanggan$pendapatan, na.rm = TRUE)
mean_pendapatan
## [1] 59900000
median_pendapatan
## [1] 4900000
Karena mean ikut terseret menjadi sangat besar (hampir 60 juta), estimasi ini rentan bias. Median (sekitar 4,9 juta) dipilih karena memiliki sifat ketahanan yang tinggi (robust) terhadap distribusi yang skewed.
# Imputasi pendapatan dengan median
pelanggan$pendapatan_imputasi <- pelanggan$pendapatan
pelanggan$pendapatan_imputasi[is.na(pelanggan$pendapatan_imputasi)] <- median_pendapatan
# Imputasi usia dengan median
median_usia <- median(pelanggan$usia, na.rm = TRUE)
pelanggan$usia_imputasi <- pelanggan$usia
pelanggan$usia_imputasi[is.na(pelanggan$usia_imputasi)] <- median_usia
# Imputasi kategorik
pelanggan$kota_imputasi <- pelanggan$kota
pelanggan$kota_imputasi[is.na(pelanggan$kota_imputasi)] <- "Tidak diketahui"
# Membuat flag untuk melacak baris mana yang sebelumnya di-imputasi
pelanggan$pendapatan_missing <- as.integer(is.na(pelanggan$pendapatan))
table(pelanggan$pendapatan_missing)
##
## 0 1
## 9 2
Mari bandingkan bentuk sebaran distribusinya melalui histogram.
par(mfrow = c(1, 2))
hist(pelanggan$pendapatan,
main = "Sebelum Imputasi",
xlab = "Pendapatan", col = "skyblue", breaks = 8)
hist(pelanggan$pendapatan_imputasi,
main = "Sesudah Imputasi Median",
xlab = "Pendapatan", col = "lightgreen", breaks = 8)
par(mfrow = c(1, 1))
Makna: Imputasi nilai menggunakan median menjaga
pemusatan data (tendensi sentral) tetap realistis di kelas mayoritas.
Penggunaan matriks variabel indikator dummy
(pendapatan_missing) juga sangat berguna jika kita ingin
memastikan bahwa proses tebakan kita ini tidak menghasilkan kesalahan
spesifikasi sistematis saat dilibatkan ke dalam fungsi regresi.
Deteksi pencilan (outlier) dilakukan dengan metode non-parametrik (berbasis rentang kuartil / Interquartile Range).
boxplot(pelanggan$pendapatan_imputasi,
horizontal = TRUE,
col = "lightblue",
main = "Boxplot Pendapatan",
xlab = "Pendapatan")
# Menghitung pagar IQR
q1 <- quantile(pelanggan$pendapatan_imputasi, 0.25)
q3 <- quantile(pelanggan$pendapatan_imputasi, 0.75)
iqr <- IQR(pelanggan$pendapatan_imputasi)
batas_bawah <- q1 - 1.5 * iqr
batas_atas <- q3 + 1.5 * iqr
c(Q1 = q1, Q3 = q3, IQR = iqr, batas_bawah = batas_bawah, batas_atas = batas_atas)
## Q1.25% Q3.75% IQR batas_bawah.25% batas_atas.75%
## 4750000 5150000 400000 4150000 5750000
Identifikasi baris data yang melewati ambang batas tersebut:
pelanggan$outlier_pendapatan <-
pelanggan$pendapatan_imputasi < batas_bawah |
pelanggan$pendapatan_imputasi > batas_atas
pelanggan[pelanggan$outlier_pendapatan, c("customer_id", "nama", "pendapatan_imputasi")]
## customer_id nama pendapatan_imputasi
## 7 C007 Gilang 5e+08
Salah satu cara menangani outlier yang ingin dipertahankan (bukan dihapus) adalah dengan melakukan operasi pemangkasan batas (winsorizing).
pelanggan$pendapatan_winsor <- pmin(
pmax(pelanggan$pendapatan_imputasi, batas_bawah),
batas_atas
)
pelanggan[pelanggan$outlier_pendapatan, c("customer_id", "pendapatan_imputasi", "pendapatan_winsor")]
## customer_id pendapatan_imputasi pendapatan_winsor
## 7 C007 5e+08 5750000
Makna: Metode batasan matematis IQR berhasil menemukan anomali ekstrem (500 juta) dan menariknya paksa turun menempel pada batas_atas wajar (5,75 juta). Proses winsorizing mencegah satu titik amatan dominan merusak kestabilan varians data secara keseluruhan.
Transformasi rentang numerik penting untuk menghilangkan perbedaan ekuivalensi unit satuan.
Normalisasi min–maks (Pemetaan ulang sebaran absolut menjadi rasio 0 hingga 1).
minmax <- function(x) {
if (all(is.na(x))) return(rep(NA_real_, length(x)))
rentang <- max(x, na.rm = TRUE) - min(x, na.rm = TRUE)
if (rentang == 0) return(rep(0, length(x)))
(x - min(x, na.rm = TRUE)) / rentang
}
pelanggan$usia_minmax <- minmax(pelanggan$usia_imputasi)
pelanggan$pendapatan_minmax <- minmax(pelanggan$pendapatan_imputasi)
Normalisasi z-score (Membawa rata-rata matriks menjadi 0 dan ragam menjadi 1).
pelanggan$usia_z <- as.numeric(scale(pelanggan$usia_imputasi))
pelanggan$pendapatan_z <- as.numeric(scale(pelanggan$pendapatan_imputasi))
Decimal scaling
decimal_scale <- function(x) {
maks <- max(abs(x), na.rm = TRUE)
if (maks == 0) return(x)
j <- ceiling(log10(maks + 1))
x / (10 ^ j)
}
pelanggan$pendapatan_decimal <- decimal_scale(pelanggan$pendapatan_imputasi)
Perbandingan hasil dari ketiga metrik transformasi:
transformasi <- pelanggan[, c(
"customer_id", "pendapatan_imputasi", "pendapatan_minmax",
"pendapatan_z", "pendapatan_decimal"
)]
transformasi
## customer_id pendapatan_imputasi pendapatan_minmax pendapatan_z
## 1 C001 4.5e+06 0.0000000000 -0.3041235
## 2 C002 4.9e+06 0.0008072654 -0.3014440
## 3 C003 5.2e+06 0.0014127144 -0.2994343
## 4 C004 4.8e+06 0.0006054490 -0.3021138
## 5 C005 4.9e+06 0.0008072654 -0.3014440
## 6 C006 5.1e+06 0.0012108981 -0.3001042
## 7 C007 5.0e+08 1.0000000000 3.0151095
## 8 C008 4.7e+06 0.0004036327 -0.3027837
## 9 C009 4.6e+06 0.0002018163 -0.3034536
## 10 C010 5.3e+06 0.0016145308 -0.2987645
## 11 C011 4.9e+06 0.0008072654 -0.3014440
## pendapatan_decimal
## 1 0.0045
## 2 0.0049
## 3 0.0052
## 4 0.0048
## 5 0.0049
## 6 0.0051
## 7 0.5000
## 8 0.0047
## 9 0.0046
## 10 0.0053
## 11 0.0049
Kita evaluasi secara visual efek fatal jika sebuah observasi anomali belum di-winsorize lalu dipaksa masuk ke dalam fungsi Min-Maks.
pelanggan$pendapatan_winsor_minmax <- minmax(pelanggan$pendapatan_winsor)
plot(pelanggan$pendapatan_minmax,
pelanggan$pendapatan_winsor_minmax,
pch = 19, col = "navy",
xlab = "Min–maks Data Asli",
ylab = "Min–maks Data Winsorized",
main = "Dampak Penanganan Outlier terhadap Normalisasi")
abline(0, 1, col = "red", lty = 2)
Makna: Output grafik secara kuat menegaskan bahwa nilai 500 juta menyebabkan semua rentang sampel yang sehat terhimpit mati mendatar (flattened) di dekat angka nol pada sumbu X. Transformasi ini menjadi bukti visual mengapa analisis sensitivitas kualitas distribusi (deteksi outlier) bersifat wajib dikerjakan sebelum skala fitur.
Pada fase ini, dilakukan penyatuan matriks (join) antara data
perilaku transaksi (transaksi_raw) dengan profil utama
(pelanggan).
# Memeriksa kunci (key) pada kedua sumber
sum(duplicated(pelanggan$customer_id))
## [1] 0
sum(duplicated(transaksi_raw$cust_id))
## [1] 0
setdiff(pelanggan$customer_id, transaksi_raw$cust_id)
## [1] "C011"
setdiff(transaksi_raw$cust_id, pelanggan$customer_id)
## [1] "C012"
Langkah relasional dengan metode penggabungan Left Join:
transaksi <- transaksi_raw
names(transaksi)[names(transaksi) == "cust_id"] <- "customer_id"
data_terintegrasi <- merge(
pelanggan,
transaksi,
by = "customer_id",
all.x = TRUE
)
data_terintegrasi[, c("customer_id", "nama", "jumlah_transaksi", "total_purchase")]
## customer_id nama jumlah_transaksi total_purchase
## 1 C001 Ani 5 1.5e+06
## 2 C002 Budi 3 9.0e+05
## 3 C003 Citra 7 2.7e+06
## 4 C004 Dodi 2 6.0e+05
## 5 C005 Eka 6 2.1e+06
## 6 C006 Fani 4 1.3e+06
## 7 C007 Gilang 20 2.5e+07
## 8 C008 Hana 5 1.7e+06
## 9 C009 Indra 3 8.0e+05
## 10 C010 Joko 8 3.2e+06
## 11 C011 Kiki NA NA
Uji kros-cek paska-penggabungan:
c(sebelum = nrow(pelanggan), sesudah = nrow(data_terintegrasi))
## sebelum sesudah
## 11 11
sum(duplicated(data_terintegrasi$customer_id))
## [1] 0
# Pelanggan tanpa pasangan transaksi (menyisakan entri NA baru)
data_terintegrasi[is.na(data_terintegrasi$jumlah_transaksi), c("customer_id", "nama")]
## customer_id nama
## 11 C011 Kiki
# Resolusi NA dengan nilai statis 0 (diasumsikan belum pernah transaksi sama sekali)
data_terintegrasi$jumlah_transaksi_final <- data_terintegrasi$jumlah_transaksi
data_terintegrasi$total_purchase_final <- data_terintegrasi$total_purchase
data_terintegrasi$jumlah_transaksi_final[is.na(data_terintegrasi$jumlah_transaksi_final)] <- 0
data_terintegrasi$total_purchase_final[is.na(data_terintegrasi$total_purchase_final)] <- 0
Makna: Sistem irisan all.x = TRUE
mencegah baris C011 lenyap (berbeda jika memakai matriks inner join).
Nilai kekosongan yang tercipta ditambal secara sadar menggunakan 0,
mendefinisikan logika bahwa ketiadaan riwayat tabel sama dengan nominal
belanja nol rupiah.
Tahap pembersihan telah rampung. Sub-set dari seluruh fitur turunan diekstraksi ke dalam satu tabel final yang definitif.
data_final <- data_terintegrasi[, c(
"customer_id", "nama", "usia_imputasi", "kota_imputasi", "status",
"pendapatan_imputasi", "pendapatan_missing", "outlier_pendapatan",
"usia_minmax", "pendapatan_minmax", "jumlah_transaksi_final",
"total_purchase_final"
)]
names(data_final)[names(data_final) == "kota_imputasi"] <- "kota"
names(data_final)[names(data_final) == "usia_imputasi"] <- "usia"
data_final
## customer_id nama usia kota status pendapatan_imputasi
## 1 C001 Ani 21.0 Pekanbaru Aktif 4.5e+06
## 2 C002 Budi 25.0 Pekanbaru Aktif 4.9e+06
## 3 C003 Citra 23.0 Pekanbaru Aktif 5.2e+06
## 4 C004 Dodi 50.0 Dumai Aktif 4.8e+06
## 5 C005 Eka 27.0 Pekanbaru Tidak Aktif 4.9e+06
## 6 C006 Fani 27.5 Dumai Tidak Aktif 5.1e+06
## 7 C007 Gilang 31.0 Pekanbaru Aktif 5.0e+08
## 8 C008 Hana 29.0 Siak Aktif 4.7e+06
## 9 C009 Indra 22.0 Pekanbaru Aktif 4.6e+06
## 10 C010 Joko 35.0 Dumai Tidak Aktif 5.3e+06
## 11 C011 Kiki 28.0 Tidak diketahui Aktif 4.9e+06
## pendapatan_missing outlier_pendapatan usia_minmax pendapatan_minmax
## 1 0 FALSE 0.00000000 0.0000000000
## 2 1 FALSE 0.13793103 0.0008072654
## 3 0 FALSE 0.06896552 0.0014127144
## 4 0 FALSE 1.00000000 0.0006054490
## 5 0 FALSE 0.20689655 0.0008072654
## 6 0 FALSE 0.22413793 0.0012108981
## 7 0 TRUE 0.34482759 1.0000000000
## 8 0 FALSE 0.27586207 0.0004036327
## 9 0 FALSE 0.03448276 0.0002018163
## 10 0 FALSE 0.48275862 0.0016145308
## 11 1 FALSE 0.24137931 0.0008072654
## jumlah_transaksi_final total_purchase_final
## 1 5 1.5e+06
## 2 3 9.0e+05
## 3 7 2.7e+06
## 4 2 6.0e+05
## 5 6 2.1e+06
## 6 4 1.3e+06
## 7 20 2.5e+07
## 8 5 1.7e+06
## 9 3 8.0e+05
## 10 8 3.2e+06
## 11 0 0.0e+00
# Audit akhir
audit_akhir <- audit_data(data_final)
audit_akhir
## atribut tipe jumlah_missing persen_missing jumlah_unik
## 1 customer_id character 0 0 11
## 2 nama character 0 0 11
## 3 usia numeric 0 0 11
## 4 kota character 0 0 4
## 5 status character 0 0 2
## 6 pendapatan_imputasi numeric 0 0 9
## 7 pendapatan_missing integer 0 0 2
## 8 outlier_pendapatan logical 0 0 2
## 9 usia_minmax numeric 0 0 11
## 10 pendapatan_minmax numeric 0 0 9
## 11 jumlah_transaksi_final numeric 0 0 9
## 12 total_purchase_final numeric 0 0 11
colSums(is.na(data_final))
## customer_id nama usia
## 0 0 0
## kota status pendapatan_imputasi
## 0 0 0
## pendapatan_missing outlier_pendapatan usia_minmax
## 0 0 0
## pendapatan_minmax jumlah_transaksi_final total_purchase_final
## 0 0 0
Untuk melihat komparasi rasio pemulihan data dan pencapaian
kebersihan data, kita proyeksikan perbandingan matrik ukuran ke dalam
variabel perbandingan.
perbandingan <- data.frame(
indikator = c(
"Jumlah baris",
"Duplikasi customer_id",
"Total missing value",
"Kategori kota unik",
"Kategori status unik"
),
sebelum = c(
nrow(pelanggan_raw),
sum(duplicated(pelanggan_raw$customer_id)),
sum(is.na(pelanggan_raw)),
length(unique(pelanggan_raw$kota)),
length(unique(pelanggan_raw$status))
),
sesudah = c(
nrow(data_final),
sum(duplicated(data_final$customer_id)),
sum(is.na(data_final)),
length(unique(data_final$kota)),
length(unique(data_final$status))
)
)
perbandingan
## indikator sebelum sesudah
## 1 Jumlah baris 12 11
## 2 Duplikasi customer_id 1 0
## 3 Total missing value 4 0
## 4 Kategori kota unik 10 4
## 5 Kategori status unik 8 2
# Mengekspor hasil
write.csv(data_final, "data_pelanggan_setelah_preprocessing.csv", row.names = FALSE)
write.csv(log_perubahan, "log_perubahan_preprocessing.csv", row.names = FALSE)
Makna Keseluruhan: Kerangka data akhir kini telah disterilkan sepenuhnya; baris ganda dinetralkan, anomali terminimalisir dampaknya, dan tidak terdapat lagi kekosongan observasi. Hasil ekspor CSV (Comma Separated Values) siap didistribusikan sebagai bahan input model probabilistik atau simulasi statistik turunan lainnya.
pendapatan_missing) sangat bermanfaat bagi analitik yang
butuh melacak riwayat komputasi tebakan data.