Data Preprocessing Menggunakan RStudio

Identitas Praktikum

Komponen Keterangan
Mata kuliah Data Mining
Pertemuan 03
Topik Data Preprocessing
Perangkat lunak R dan RStudio
Alokasi waktu 2 SKS / 100 menit
Acuan utama Han, Kamber, dan Pei (2012), Bab 3

Capaian Praktikum

Setelah menyelesaikan praktikum, mahasiswa mampu:

  • menjelaskan kondisi data yang membuat preprocessing perlu dilakukan;
  • mengidentifikasi masalah pada kualitas data menggunakan R;
  • melakukan data cleaning secara sistematis;
  • memilih dan menerapkan cara yang tepat untuk menangani missing values;
  • mendeteksi dan mengevaluasi adanya outlier pada data;
  • melakukan transformasi pada atribut numerik; dan
  • menggabungkan dua sumber data serta memeriksa kesesuaian hasil penggabungannya.

Skenario Praktikum

Sebuah perusahaan e-commerce ingin melakukan analisis terhadap pelanggan. Data yang digunakan berasal dari dua sumber, yaitu:

  • data pelanggan, yang berisi informasi seperti identitas pelanggan, usia, kota, pendapatan, dan status pelanggan;
  • data transaksi, yang berisi jumlah transaksi dan total pembelian setiap pelanggan.

Sebelum digunakan untuk analisis, data perlu diproses terlebih dahulu karena masih terdapat beberapa masalah, seperti missing values, kategori yang tidak konsisten, data duplikat, nilai ekstrem (outlier), serta perbedaan nama identifier antara kedua sumber data. Oleh karena itu, mahasiswa diminta untuk melakukan preprocessing hingga menghasilkan satu dataset yang bersih dan siap digunakan untuk analisis.

Prinsip utama: Data tidak boleh dibersihkan hanya karena ada nilai yang terlihat aneh. Setiap perubahan pada data harus memiliki alasan, aturan yang jelas, dan dicatat dengan baik.

Persiapan RStudio

Membuat proyek

  • Buka RStudio.
  • Pilih File → New Project → New Directory → New Project.
  • Beri nama proyek, misalnya praktikum_preprocessing.
  • Simpan file ini di dalam folder proyek.
  • Klik Knit untuk menghasilkan HTML.

Memeriksa lingkungan kerja

getwd()
## [1] "C:/Users/user/Downloads"
R.version.string
## [1] "R version 4.5.1 (2025-06-13 ucrt)"

Modul ini menggunakan fungsi dasar R sehingga dapat dijalankan tanpa memasang paket tambahan.

Membangun Dataset Praktikum

Jalankan kode berikut. Dataset sengaja dibuat “kotor” agar seluruh tahap preprocessing dapat dipraktikkan.

pelanggan_raw <- data.frame(
  customer_id = c("C001", "C002", "C003", "C004", "C005", "C006",
                  "C007", "C008", "C009", "C010", "C010", "C011"),
  nama = c("Ani", "Budi", "Citra", "Dodi", "Eka", "Fani",
           "Gilang", "Hana", "Indra", "Joko", "Joko", "Kiki"),
  usia = c(21, 25, 23, 150, 27, NA, 31, 29, 22, 35, 35, 28),
  pendapatan = c(4500000, NA, 5200000, 4800000, 4900000, 5100000,
                 500000000, 4700000, 4600000, 5300000, 5300000, NA),
  kota = c("Pekanbaru", " PKU", "PEKANBARU", "Dumai", "pekanbaru",
           "DUMAI", "Pekanbaru ", "Siak", "PKU", "Dumai", "Dumai", NA),
  status = c("Aktif", "aktif", "ACTIVE", "A", "Tidak Aktif", "nonaktif",
             "Aktif", "AKTIF", "A", "Tidak aktif", "Tidak aktif", "Aktif"),
  stringsAsFactors = FALSE
)

transaksi_raw <- data.frame(
  cust_id = c("C001", "C002", "C003", "C004", "C005", "C006",
              "C007", "C008", "C009", "C010", "C012"),
  jumlah_transaksi = c(5, 3, 7, 2, 6, 4, 20, 5, 3, 8, 1),
  total_purchase = c(1500000, 900000, 2700000, 600000, 2100000, 1300000,
                     25000000, 1700000, 800000, 3200000, 250000),
  stringsAsFactors = FALSE
)

pelanggan_raw
##    customer_id   nama usia pendapatan       kota      status
## 1         C001    Ani   21    4.5e+06  Pekanbaru       Aktif
## 2         C002   Budi   25         NA        PKU       aktif
## 3         C003  Citra   23    5.2e+06  PEKANBARU      ACTIVE
## 4         C004   Dodi  150    4.8e+06      Dumai           A
## 5         C005    Eka   27    4.9e+06  pekanbaru Tidak Aktif
## 6         C006   Fani   NA    5.1e+06      DUMAI    nonaktif
## 7         C007 Gilang   31    5.0e+08 Pekanbaru        Aktif
## 8         C008   Hana   29    4.7e+06       Siak       AKTIF
## 9         C009  Indra   22    4.6e+06        PKU           A
## 10        C010   Joko   35    5.3e+06      Dumai Tidak aktif
## 11        C010   Joko   35    5.3e+06      Dumai Tidak aktif
## 12        C011   Kiki   28         NA       <NA>       Aktif
transaksi_raw
##    cust_id jumlah_transaksi total_purchase
## 1     C001                5        1.5e+06
## 2     C002                3        9.0e+05
## 3     C003                7        2.7e+06
## 4     C004                2        6.0e+05
## 5     C005                6        2.1e+06
## 6     C006                4        1.3e+06
## 7     C007               20        2.5e+07
## 8     C008                5        1.7e+06
## 9     C009                3        8.0e+05
## 10    C010                8        3.2e+06
## 11    C012                1        2.5e+05

Bagian I — Konsep Data Preprocessing

Memahami struktur data

Sebelum melakukan perubahan, periksa struktur, dimensi, tipe atribut, dan beberapa observasi awal.

dim(pelanggan_raw)
## [1] 12  6
names(pelanggan_raw)
## [1] "customer_id" "nama"        "usia"        "pendapatan"  "kota"       
## [6] "status"
str(pelanggan_raw)
## 'data.frame':    12 obs. of  6 variables:
##  $ customer_id: chr  "C001" "C002" "C003" "C004" ...
##  $ nama       : chr  "Ani" "Budi" "Citra" "Dodi" ...
##  $ usia       : num  21 25 23 150 27 NA 31 29 22 35 ...
##  $ pendapatan : num  4.5e+06 NA 5.2e+06 4.8e+06 4.9e+06 5.1e+06 5.0e+08 4.7e+06 4.6e+06 5.3e+06 ...
##  $ kota       : chr  "Pekanbaru" " PKU" "PEKANBARU" "Dumai" ...
##  $ status     : chr  "Aktif" "aktif" "ACTIVE" "A" ...
head(pelanggan_raw)
##   customer_id  nama usia pendapatan      kota      status
## 1        C001   Ani   21    4500000 Pekanbaru       Aktif
## 2        C002  Budi   25         NA       PKU       aktif
## 3        C003 Citra   23    5200000 PEKANBARU      ACTIVE
## 4        C004  Dodi  150    4800000     Dumai           A
## 5        C005   Eka   27    4900000 pekanbaru Tidak Aktif
## 6        C006  Fani   NA    5100000     DUMAI    nonaktif
summary(pelanggan_raw)
##  customer_id            nama                usia          pendapatan       
##  Length:12          Length:12          Min.   : 21.00   Min.   :  4500000  
##  Class :character   Class :character   1st Qu.: 24.00   1st Qu.:  4725000  
##  Mode  :character   Mode  :character   Median : 28.00   Median :  5000000  
##                                        Mean   : 38.73   Mean   : 54440000  
##                                        3rd Qu.: 33.00   3rd Qu.:  5275000  
##                                        Max.   :150.00   Max.   :500000000  
##                                        NA's   :1        NA's   :2          
##      kota              status         
##  Length:12          Length:12         
##  Class :character   Class :character  
##  Mode  :character   Mode  :character  
##                                       
##                                       
##                                       
## 

Mengukur kualitas awal

Enam dimensi kualitas data yang dibahas oleh Han, Kamber, dan Pei terdiri dari accuracy, completeness, consistency, timeliness, believability, dan interpretability. Namun, tidak semua dimensi bisa diperiksa hanya berdasarkan isi dataset. Contohnya, accuracy membutuhkan data pembanding atau kondisi sebenarnya, sedangkan timeliness berkaitan dengan waktu dan keterbaruan data.

# Banyak missing value per atribut
colSums(is.na(pelanggan_raw))
## customer_id        nama        usia  pendapatan        kota      status 
##           0           0           1           2           1           0
# Persentase missing value per atribut
round(colMeans(is.na(pelanggan_raw)) * 100, 2)
## customer_id        nama        usia  pendapatan        kota      status 
##        0.00        0.00        8.33       16.67        8.33        0.00
# Banyak baris duplikat penuh
sum(duplicated(pelanggan_raw))
## [1] 1
# Banyak customer_id yang berulang
sum(duplicated(pelanggan_raw$customer_id))
## [1] 1
# Kategori yang tercatat pada atribut kota dan status
sort(unique(pelanggan_raw$kota))
## [1] " PKU"       "Dumai"      "DUMAI"      "pekanbaru"  "Pekanbaru" 
## [6] "PEKANBARU"  "Pekanbaru " "PKU"        "Siak"
sort(unique(pelanggan_raw$status))
## [1] "A"           "ACTIVE"      "aktif"       "Aktif"       "AKTIF"      
## [6] "nonaktif"    "Tidak aktif" "Tidak Aktif"
# Rentang atribut numerik
range(pelanggan_raw$usia, na.rm = TRUE)
## [1]  21 150
range(pelanggan_raw$pendapatan, na.rm = TRUE)
## [1] 4.5e+06 5.0e+08

Membuat fungsi ringkasan kualitas

audit_data <- function(data) {
  data.frame(
    atribut = names(data),
    tipe = sapply(data, function(x) class(x)[1]),
    jumlah_missing = sapply(data, function(x) sum(is.na(x))),
    persen_missing = round(sapply(data, function(x) mean(is.na(x)) * 100), 2),
    jumlah_unik = sapply(data, function(x) length(unique(x))),
    row.names = NULL
  )
}

audit_awal <- audit_data(pelanggan_raw)
audit_awal
##       atribut      tipe jumlah_missing persen_missing jumlah_unik
## 1 customer_id character              0           0.00          11
## 2        nama character              0           0.00          11
## 3        usia   numeric              1           8.33          11
## 4  pendapatan   numeric              2          16.67          10
## 5        kota character              1           8.33          10
## 6      status character              0           0.00           8

Interpretasi: hasil audit belum menjadi keputusan untuk melakukan cleaning. Audit hanya digunakan untuk melihat bagian data yang memiliki masalah dan perlu diperiksa lebih lanjut sebelum dilakukan perubahan.

Bagian II — Implementasi Data Cleaning

Membuat salinan kerja

Pertahankan data mentah agar setiap perubahan dapat dilacak.

pelanggan <- pelanggan_raw

Membersihkan spasi dan kapitalisasi

# Menghapus spasi di awal dan akhir
pelanggan$kota <- trimws(pelanggan$kota)
pelanggan$status <- trimws(pelanggan$status)

# Menyeragamkan huruf menjadi kecil untuk proses pencocokan
pelanggan$kota <- tolower(pelanggan$kota)
pelanggan$status <- tolower(pelanggan$status)

sort(unique(pelanggan$kota))
## [1] "dumai"     "pekanbaru" "pku"       "siak"
sort(unique(pelanggan$status))
## [1] "a"           "active"      "aktif"       "nonaktif"    "tidak aktif"

Menyeragamkan kategori

Standardisasi dilakukan menggunakan aturan domain. Dalam praktik nyata, aturan perlu dikonfirmasi melalui kamus data atau pemilik data.

# Standardisasi kota
pelanggan$kota[pelanggan$kota %in% c("pku", "pekanbaru")] <- "Pekanbaru"
pelanggan$kota[pelanggan$kota == "dumai"] <- "Dumai"
pelanggan$kota[pelanggan$kota == "siak"] <- "Siak"

# Standardisasi status
pelanggan$status[pelanggan$status %in% c("aktif", "active", "a")] <- "Aktif"
pelanggan$status[pelanggan$status %in% c("tidak aktif", "nonaktif")] <- "Tidak Aktif"

sort(unique(pelanggan$kota))
## [1] "Dumai"     "Pekanbaru" "Siak"
sort(unique(pelanggan$status))
## [1] "Aktif"       "Tidak Aktif"

Mendeteksi dan menghapus duplikasi

# Menampilkan seluruh baris dengan customer_id yang berulang
pelanggan[duplicated(pelanggan$customer_id) |
          duplicated(pelanggan$customer_id, fromLast = TRUE), ]
##    customer_id nama usia pendapatan  kota      status
## 10        C010 Joko   35    5300000 Dumai Tidak Aktif
## 11        C010 Joko   35    5300000 Dumai Tidak Aktif
# Mempertahankan kemunculan pertama untuk customer_id yang identik
pelanggan <- pelanggan[!duplicated(pelanggan$customer_id), ]
rownames(pelanggan) <- NULL

dim(pelanggan)
## [1] 11  6

Catatan: menghapus duplikasi hanya aman jika setiap customer_id memang harus mewakili satu pelanggan. Jika satu pelanggan boleh memiliki banyak baris, tindakan ini justru salah.

Memeriksa aturan domain

# Kandidat usia tidak valid berdasarkan aturan bisnis 15-100 tahun
pelanggan[pelanggan$usia < 15 | pelanggan$usia > 100, ]
##    customer_id nama usia pendapatan  kota status
## 4         C004 Dodi  150    4800000 Dumai  Aktif
## NA        <NA> <NA>   NA         NA  <NA>   <NA>
# Kandidat pendapatan tidak valid jika bernilai negatif
pelanggan[pelanggan$pendapatan < 0, ]
##      customer_id nama usia pendapatan kota status
## NA          <NA> <NA>   NA         NA <NA>   <NA>
## NA.1        <NA> <NA>   NA         NA <NA>   <NA>

Nilai usia 150 melanggar aturan domain. Misalkan pemeriksaan terhadap formulir asli menunjukkan bahwa nilai yang benar adalah 50.

pelanggan$usia[pelanggan$customer_id == "C004"] <- 50

Membuat log perubahan

log_perubahan <- data.frame(
  tahap = c("Standardisasi", "Standardisasi", "Deduplikasi", "Koreksi domain"),
  atribut = c("kota", "status", "customer_id", "usia"),
  tindakan = c(
    "PKU dan variasi kapital menjadi Pekanbaru",
    "ACTIVE/A menjadi Aktif; nonaktif menjadi Tidak Aktif",
    "Menghapus kemunculan kedua C010",
    "Usia C004 dikoreksi dari 150 menjadi 50 berdasarkan sumber asli"
  ),
  stringsAsFactors = FALSE
)

log_perubahan
##            tahap     atribut
## 1  Standardisasi        kota
## 2  Standardisasi      status
## 3    Deduplikasi customer_id
## 4 Koreksi domain        usia
##                                                          tindakan
## 1                       PKU dan variasi kapital menjadi Pekanbaru
## 2            ACTIVE/A menjadi Aktif; nonaktif menjadi Tidak Aktif
## 3                                 Menghapus kemunculan kedua C010
## 4 Usia C004 dikoreksi dari 150 menjadi 50 berdasarkan sumber asli

Bagian III — Penanganan Missing Values

Mengidentifikasi lokasi nilai hilang

colSums(is.na(pelanggan))
## customer_id        nama        usia  pendapatan        kota      status 
##           0           0           1           2           1           0
# Baris yang memiliki sedikitnya satu missing value
pelanggan[!complete.cases(pelanggan), ]
##    customer_id nama usia pendapatan      kota      status
## 2         C002 Budi   25         NA Pekanbaru       Aktif
## 6         C006 Fani   NA    5100000     Dumai Tidak Aktif
## 11        C011 Kiki   28         NA      <NA>       Aktif

Strategi 1: menghapus baris

Kode berikut hanya mendemonstrasikan strategi. Kita tidak langsung mengganti objek pelanggan.

pelanggan_complete <- pelanggan[complete.cases(pelanggan), ]
nrow(pelanggan)
## [1] 11
nrow(pelanggan_complete)
## [1] 8

Pertanyaan: berapa persen data yang hilang jika seluruh baris tidak lengkap dihapus?

round((1 - nrow(pelanggan_complete) / nrow(pelanggan)) * 100, 2)
## [1] 27.27

Strategi 2: imputasi mean dan median

Pendapatan memiliki nilai ekstrem. Bandingkan mean dan median sebelum menentukan imputasi.

mean_pendapatan <- mean(pelanggan$pendapatan, na.rm = TRUE)
median_pendapatan <- median(pelanggan$pendapatan, na.rm = TRUE)

mean_pendapatan
## [1] 59900000
median_pendapatan
## [1] 4900000

Karena distribusi pendapatan cukup miring akibat adanya nilai 500 juta, median lebih cocok digunakan karena lebih stabil dan tidak terlalu dipengaruhi oleh nilai ekstrem.

pelanggan$pendapatan_imputasi <- pelanggan$pendapatan
pelanggan$pendapatan_imputasi[is.na(pelanggan$pendapatan_imputasi)] <-
  median_pendapatan

# Imputasi usia dengan median
median_usia <- median(pelanggan$usia, na.rm = TRUE)
pelanggan$usia_imputasi <- pelanggan$usia
pelanggan$usia_imputasi[is.na(pelanggan$usia_imputasi)] <- median_usia

pelanggan[, c("customer_id", "usia", "usia_imputasi",
              "pendapatan", "pendapatan_imputasi")]
##    customer_id usia usia_imputasi pendapatan pendapatan_imputasi
## 1         C001   21          21.0    4.5e+06             4.5e+06
## 2         C002   25          25.0         NA             4.9e+06
## 3         C003   23          23.0    5.2e+06             5.2e+06
## 4         C004   50          50.0    4.8e+06             4.8e+06
## 5         C005   27          27.0    4.9e+06             4.9e+06
## 6         C006   NA          27.5    5.1e+06             5.1e+06
## 7         C007   31          31.0    5.0e+08             5.0e+08
## 8         C008   29          29.0    4.7e+06             4.7e+06
## 9         C009   22          22.0    4.6e+06             4.6e+06
## 10        C010   35          35.0    5.3e+06             5.3e+06
## 11        C011   28          28.0         NA             4.9e+06

Strategi 3: imputasi nilai kategorik

Nilai kota yang kosong tidak selalu harus diisi menggunakan modus. Dalam latihan ini, nilai yang hilang akan diberi kategori “Tidak diketahui” agar informasi yang tidak tersedia tetap terlihat dan tidak menimbulkan asumsi yang salah.

pelanggan$kota_imputasi <- pelanggan$kota
pelanggan$kota_imputasi[is.na(pelanggan$kota_imputasi)] <- "Tidak diketahui"

table(pelanggan$kota_imputasi, useNA = "ifany")
## 
##           Dumai       Pekanbaru            Siak Tidak diketahui 
##               3               6               1               1

Menambahkan indikator missing

Indikator digunakan untuk tetap menyimpan informasi bahwa suatu nilai sebelumnya merupakan nilai yang hilang.

pelanggan$pendapatan_missing <- as.integer(is.na(pelanggan$pendapatan))
table(pelanggan$pendapatan_missing)
## 
## 0 1 
## 9 2

Membandingkan distribusi sebelum dan sesudah imputasi

par(mfrow = c(1, 2))
hist(pelanggan$pendapatan,
     main = "Sebelum Imputasi",
     xlab = "Pendapatan", col = "skyblue", breaks = 8)
hist(pelanggan$pendapatan_imputasi,
     main = "Sesudah Imputasi Median",
     xlab = "Pendapatan", col = "lightgreen", breaks = 8)

par(mfrow = c(1, 1))

Imputasi dapat mengubah distribusi dan mengecilkan variasi. Karena itu, evaluasi tidak berhenti setelah semua NA hilang.

Bagian IV — Penanganan Outlier

Visualisasi dengan boxplot

boxplot(pelanggan$pendapatan_imputasi,
        horizontal = TRUE,
        col = "lightblue",
        main = "Boxplot Pendapatan",
        xlab = "Pendapatan")

Menghitung batas IQR

q1 <- quantile(pelanggan$pendapatan_imputasi, 0.25)
q3 <- quantile(pelanggan$pendapatan_imputasi, 0.75)
iqr <- IQR(pelanggan$pendapatan_imputasi)

batas_bawah <- q1 - 1.5 * iqr
batas_atas <- q3 + 1.5 * iqr

c(Q1 = q1, Q3 = q3, IQR = iqr,
  batas_bawah = batas_bawah,
  batas_atas = batas_atas)
##          Q1.25%          Q3.75%             IQR batas_bawah.25%  batas_atas.75% 
##         4750000         5150000          400000         4150000         5750000

Menandai kandidat outlier

pelanggan$outlier_pendapatan <-
  pelanggan$pendapatan_imputasi < batas_bawah |
  pelanggan$pendapatan_imputasi > batas_atas

pelanggan[pelanggan$outlier_pendapatan,
          c("customer_id", "nama", "pendapatan_imputasi")]
##   customer_id   nama pendapatan_imputasi
## 7        C007 Gilang               5e+08

Mengevaluasi tindakan

Nilai 500 juta tidak langsung dianggap sebagai kesalahan atau dihapus. Ada beberapa kemungkinan yang perlu dipertimbangkan:

Kesalahan input: nilai dapat diperbaiki jika nilai yang benar bisa dipastikan. Nilai valid tetapi ekstrem: nilai tetap dipertahankan atau ditangani dengan metode yang lebih tahan terhadap nilai ekstrem. Berasal dari kelompok berbeda: data dapat dipisahkan jika pelanggan korporasi tercampur dengan pelanggan ritel.

Dalam praktikum ini, nilai 500 juta tetap dipertahankan. Selain itu, dibuat variabel winsorized untuk melihat dan membandingkan pengaruh metode tersebut terhadap data.

pelanggan$pendapatan_winsor <- pmin(
  pmax(pelanggan$pendapatan_imputasi, batas_bawah),
  batas_atas
)

pelanggan[pelanggan$outlier_pendapatan,
          c("customer_id", "pendapatan_imputasi", "pendapatan_winsor")]
##   customer_id pendapatan_imputasi pendapatan_winsor
## 7        C007               5e+08           5750000

Winsorizing adalah demonstrasi tambahan. Terapkan hanya jika sesuai dengan tujuan analisis dan dokumentasikan bahwa nilai ekstrem telah dibatasi.

Bagian V — Transformasi Data

Normalisasi min-maks

Rumus untuk rentang \([0,1]\) adalah

\[ x' = \frac{x-\min(x)}{\max(x)-\min(x)}. \]

minmax <- function(x) {
  if (all(is.na(x))) return(rep(NA_real_, length(x)))
  rentang <- max(x, na.rm = TRUE) - min(x, na.rm = TRUE)
  if (rentang == 0) return(rep(0, length(x)))
  (x - min(x, na.rm = TRUE)) / rentang
}

pelanggan$usia_minmax <- minmax(pelanggan$usia_imputasi)
pelanggan$pendapatan_minmax <- minmax(pelanggan$pendapatan_imputasi)

pelanggan[, c("customer_id", "usia", "usia_minmax",
              "pendapatan_imputasi", "pendapatan_minmax")]
##    customer_id usia usia_minmax pendapatan_imputasi pendapatan_minmax
## 1         C001   21  0.00000000             4.5e+06      0.0000000000
## 2         C002   25  0.13793103             4.9e+06      0.0008072654
## 3         C003   23  0.06896552             5.2e+06      0.0014127144
## 4         C004   50  1.00000000             4.8e+06      0.0006054490
## 5         C005   27  0.20689655             4.9e+06      0.0008072654
## 6         C006   NA  0.22413793             5.1e+06      0.0012108981
## 7         C007   31  0.34482759             5.0e+08      1.0000000000
## 8         C008   29  0.27586207             4.7e+06      0.0004036327
## 9         C009   22  0.03448276             4.6e+06      0.0002018163
## 10        C010   35  0.48275862             5.3e+06      0.0016145308
## 11        C011   28  0.24137931             4.9e+06      0.0008072654

Normalisasi z-score

\[ z = \frac{x-\bar{x}}{s}. \]

pelanggan$usia_z <- as.numeric(scale(pelanggan$usia_imputasi))
pelanggan$pendapatan_z <- as.numeric(scale(pelanggan$pendapatan_imputasi))

round(pelanggan[, c("usia_z", "pendapatan_z")], 3)
##    usia_z pendapatan_z
## 1  -0.984       -0.304
## 2  -0.489       -0.301
## 3  -0.737       -0.299
## 4   2.604       -0.302
## 5  -0.242       -0.301
## 6  -0.180       -0.300
## 7   0.253        3.015
## 8   0.006       -0.303
## 9  -0.860       -0.303
## 10  0.748       -0.299
## 11 -0.118       -0.301

Decimal scaling

decimal_scale <- function(x) {
  maks <- max(abs(x), na.rm = TRUE)
  if (maks == 0) return(x)
  j <- ceiling(log10(maks + 1))
  x / (10 ^ j)
}

pelanggan$pendapatan_decimal <-
  decimal_scale(pelanggan$pendapatan_imputasi)

range(pelanggan$pendapatan_decimal, na.rm = TRUE)
## [1] 0.0045 0.5000

Membandingkan metode transformasi

transformasi <- pelanggan[, c(
  "customer_id", "pendapatan_imputasi", "pendapatan_minmax",
  "pendapatan_z", "pendapatan_decimal"
)]

transformasi
##    customer_id pendapatan_imputasi pendapatan_minmax pendapatan_z
## 1         C001             4.5e+06      0.0000000000   -0.3041235
## 2         C002             4.9e+06      0.0008072654   -0.3014440
## 3         C003             5.2e+06      0.0014127144   -0.2994343
## 4         C004             4.8e+06      0.0006054490   -0.3021138
## 5         C005             4.9e+06      0.0008072654   -0.3014440
## 6         C006             5.1e+06      0.0012108981   -0.3001042
## 7         C007             5.0e+08      1.0000000000    3.0151095
## 8         C008             4.7e+06      0.0004036327   -0.3027837
## 9         C009             4.6e+06      0.0002018163   -0.3034536
## 10        C010             5.3e+06      0.0016145308   -0.2987645
## 11        C011             4.9e+06      0.0008072654   -0.3014440
##    pendapatan_decimal
## 1              0.0045
## 2              0.0049
## 3              0.0052
## 4              0.0048
## 5              0.0049
## 6              0.0051
## 7              0.5000
## 8              0.0047
## 9              0.0046
## 10             0.0053
## 11             0.0049

Dampak outlier terhadap normalisasi

pelanggan$pendapatan_winsor_minmax <- minmax(pelanggan$pendapatan_winsor)

plot(pelanggan$pendapatan_minmax,
     pelanggan$pendapatan_winsor_minmax,
     pch = 19, col = "navy",
     xlab = "Min-maks Data Asli",
     ylab = "Min-maks Data Winsorized",
     main = "Dampak Penanganan Outlier terhadap Normalisasi")
abline(0, 1, col = "red", lty = 2)

Interpretasi: outlier dapat menekan sebagian besar nilai min-maks ke rentang yang sangat sempit. Inilah alasan deteksi outlier perlu dilakukan sebelum memilih transformasi.

Bagian VI — Integrasi Data

Memeriksa kunci pada kedua sumber

sum(duplicated(pelanggan$customer_id))
## [1] 0
sum(duplicated(transaksi_raw$cust_id))
## [1] 0
setdiff(pelanggan$customer_id, transaksi_raw$cust_id)
## [1] "C011"
setdiff(transaksi_raw$cust_id, pelanggan$customer_id)
## [1] "C012"

Hasil setdiff() menunjukkan pelanggan yang tidak memiliki transaksi dan transaksi yang tidak memiliki pasangan data pelanggan.

Menyelaraskan nama identifier

transaksi <- transaksi_raw
names(transaksi)[names(transaksi) == "cust_id"] <- "customer_id"

Melakukan left join dengan merge()

data_terintegrasi <- merge(
  pelanggan,
  transaksi,
  by = "customer_id",
  all.x = TRUE
)

data_terintegrasi[, c(
  "customer_id", "nama", "jumlah_transaksi", "total_purchase"
)]
##    customer_id   nama jumlah_transaksi total_purchase
## 1         C001    Ani                5        1.5e+06
## 2         C002   Budi                3        9.0e+05
## 3         C003  Citra                7        2.7e+06
## 4         C004   Dodi                2        6.0e+05
## 5         C005    Eka                6        2.1e+06
## 6         C006   Fani                4        1.3e+06
## 7         C007 Gilang               20        2.5e+07
## 8         C008   Hana                5        1.7e+06
## 9         C009  Indra                3        8.0e+05
## 10        C010   Joko                8        3.2e+06
## 11        C011   Kiki               NA             NA

all.x = TRUE mempertahankan seluruh pelanggan meskipun tidak memiliki pasangan transaksi.

Memvalidasi hasil integrasi

# Apakah jumlah baris berubah secara tidak wajar?
c(sebelum = nrow(pelanggan), sesudah = nrow(data_terintegrasi))
## sebelum sesudah 
##      11      11
# Apakah customer_id tetap unik?
sum(duplicated(data_terintegrasi$customer_id))
## [1] 0
# Missing value baru akibat tidak ditemukan pasangan transaksi
colSums(is.na(data_terintegrasi[, c("jumlah_transaksi", "total_purchase")]))
## jumlah_transaksi   total_purchase 
##                1                1
# Pelanggan tanpa pasangan transaksi
data_terintegrasi[is.na(data_terintegrasi$jumlah_transaksi),
                  c("customer_id", "nama")]
##    customer_id nama
## 11        C011 Kiki

Mengisi nol atau mempertahankan NA?

NA pada transaksi dapat berarti dua hal berbeda:

  • pelanggan benar-benar belum pernah bertransaksi; atau
  • data transaksi pelanggan tidak tersedia atau gagal dipadankan.

Nilai hanya boleh diubah menjadi 0 jika definisinya sudah dikonfirmasi.

# Contoh jika telah dikonfirmasi bahwa NA berarti belum pernah bertransaksi
data_terintegrasi$jumlah_transaksi_final <- data_terintegrasi$jumlah_transaksi
data_terintegrasi$total_purchase_final <- data_terintegrasi$total_purchase

data_terintegrasi$jumlah_transaksi_final[
  is.na(data_terintegrasi$jumlah_transaksi_final)
] <- 0

data_terintegrasi$total_purchase_final[
  is.na(data_terintegrasi$total_purchase_final)
] <- 0

Dataset Akhir dan Evaluasi

Memilih atribut akhir

data_final <- data_terintegrasi[, c(
  "customer_id", "nama", "usia_imputasi", "kota_imputasi", "status",
  "pendapatan_imputasi", "pendapatan_missing", "outlier_pendapatan",
  "usia_minmax", "pendapatan_minmax", "jumlah_transaksi_final",
  "total_purchase_final"
)]

names(data_final)[names(data_final) == "kota_imputasi"] <- "kota"
names(data_final)[names(data_final) == "usia_imputasi"] <- "usia"

data_final
##    customer_id   nama usia            kota      status pendapatan_imputasi
## 1         C001    Ani 21.0       Pekanbaru       Aktif             4.5e+06
## 2         C002   Budi 25.0       Pekanbaru       Aktif             4.9e+06
## 3         C003  Citra 23.0       Pekanbaru       Aktif             5.2e+06
## 4         C004   Dodi 50.0           Dumai       Aktif             4.8e+06
## 5         C005    Eka 27.0       Pekanbaru Tidak Aktif             4.9e+06
## 6         C006   Fani 27.5           Dumai Tidak Aktif             5.1e+06
## 7         C007 Gilang 31.0       Pekanbaru       Aktif             5.0e+08
## 8         C008   Hana 29.0            Siak       Aktif             4.7e+06
## 9         C009  Indra 22.0       Pekanbaru       Aktif             4.6e+06
## 10        C010   Joko 35.0           Dumai Tidak Aktif             5.3e+06
## 11        C011   Kiki 28.0 Tidak diketahui       Aktif             4.9e+06
##    pendapatan_missing outlier_pendapatan usia_minmax pendapatan_minmax
## 1                   0              FALSE  0.00000000      0.0000000000
## 2                   1              FALSE  0.13793103      0.0008072654
## 3                   0              FALSE  0.06896552      0.0014127144
## 4                   0              FALSE  1.00000000      0.0006054490
## 5                   0              FALSE  0.20689655      0.0008072654
## 6                   0              FALSE  0.22413793      0.0012108981
## 7                   0               TRUE  0.34482759      1.0000000000
## 8                   0              FALSE  0.27586207      0.0004036327
## 9                   0              FALSE  0.03448276      0.0002018163
## 10                  0              FALSE  0.48275862      0.0016145308
## 11                  1              FALSE  0.24137931      0.0008072654
##    jumlah_transaksi_final total_purchase_final
## 1                       5              1.5e+06
## 2                       3              9.0e+05
## 3                       7              2.7e+06
## 4                       2              6.0e+05
## 5                       6              2.1e+06
## 6                       4              1.3e+06
## 7                      20              2.5e+07
## 8                       5              1.7e+06
## 9                       3              8.0e+05
## 10                      8              3.2e+06
## 11                      0              0.0e+00

Audit akhir

audit_akhir <- audit_data(data_final)
audit_akhir
##                   atribut      tipe jumlah_missing persen_missing jumlah_unik
## 1             customer_id character              0              0          11
## 2                    nama character              0              0          11
## 3                    usia   numeric              0              0          11
## 4                    kota character              0              0           4
## 5                  status character              0              0           2
## 6     pendapatan_imputasi   numeric              0              0           9
## 7      pendapatan_missing   integer              0              0           2
## 8      outlier_pendapatan   logical              0              0           2
## 9             usia_minmax   numeric              0              0          11
## 10      pendapatan_minmax   numeric              0              0           9
## 11 jumlah_transaksi_final   numeric              0              0           9
## 12   total_purchase_final   numeric              0              0          11
sum(duplicated(data_final$customer_id))
## [1] 0
colSums(is.na(data_final))
##            customer_id                   nama                   usia 
##                      0                      0                      0 
##                   kota                 status    pendapatan_imputasi 
##                      0                      0                      0 
##     pendapatan_missing     outlier_pendapatan            usia_minmax 
##                      0                      0                      0 
##      pendapatan_minmax jumlah_transaksi_final   total_purchase_final 
##                      0                      0                      0

Membandingkan kondisi sebelum dan sesudah

perbandingan <- data.frame(
  indikator = c(
    "Jumlah baris",
    "Duplikasi customer_id",
    "Total missing value",
    "Kategori kota unik",
    "Kategori status unik"
  ),
  sebelum = c(
    nrow(pelanggan_raw),
    sum(duplicated(pelanggan_raw$customer_id)),
    sum(is.na(pelanggan_raw)),
    length(unique(pelanggan_raw$kota)),
    length(unique(pelanggan_raw$status))
  ),
  sesudah = c(
    nrow(data_final),
    sum(duplicated(data_final$customer_id)),
    sum(is.na(data_final)),
    length(unique(data_final$kota)),
    length(unique(data_final$status))
  )
)

perbandingan
##               indikator sebelum sesudah
## 1          Jumlah baris      12      11
## 2 Duplikasi customer_id       1       0
## 3   Total missing value       4       0
## 4    Kategori kota unik      10       4
## 5  Kategori status unik       8       2

Menyimpan hasil

write.csv(data_final,
          "data_pelanggan_setelah_preprocessing.csv",
          row.names = FALSE)

write.csv(log_perubahan,
          "log_perubahan_preprocessing.csv",
          row.names = FALSE)

Pertanyaan Refleksi

_Apakah data yang tidak memiliki missing value selalu berarti lebih baik? -Mengapa nilai outlier tidak seharusnya langsung dihapus? -Bagaimana proses preprocessing bisa menyebabkan munculnya bias pada data? -Mengapa nilai atau parameter untuk imputasi dan transformasi sebaiknya ditentukan berdasarkan data training? -Apa saja risiko yang dapat terjadi jika identifier pada saat menggabungkan data tidak bersifat unik?

Ringkasan

Bisa dibuat lebih sederhana dan lebih seperti bahasa mahasiswa:

Alur yang sudah dilakukan:

  • memahami kondisi dan struktur data sebelum dibersihkan;
  • memperbaiki kategori yang tidak konsisten, data duplikat, dan nilai yang tidak sesuai;
  • menangani missing values dengan tetap menunjukkan bahwa ada data yang tidak tersedia;
  • mendeteksi dan mengevaluasi nilai outlier;
  • melakukan transformasi pada data numerik; dan
  • menggabungkan data dari beberapa sumber serta mengecek kembali hasilnya.

Preprocessing bukan hanya tentang menjalankan kode, tetapi juga melibatkan proses pengambilan keputusan. R digunakan untuk menjalankan proses tersebut, sedangkan kualitas hasilnya bergantung pada pemahaman terhadap data, tujuan analisis, serta pencatatan setiap perubahan yang dilakukan.

Daftar Pustaka

Han, J., Kamber, M., & Pei, J. (2012). Data Mining: Concepts and Techniques (3rd ed.). Morgan Kaufmann. Chapter 3: Data Preprocessing.