Data Preprocessing Menggunakan RStudio
Identitas Praktikum
| Komponen | Keterangan |
|---|---|
| Mata kuliah | Data Mining |
| Pertemuan | 03 |
| Topik | Data Preprocessing |
| Perangkat lunak | R dan RStudio |
| Alokasi waktu | 2 SKS / 100 menit |
| Acuan utama | Han, Kamber, dan Pei (2012), Bab 3 |
Capaian Praktikum
Setelah menyelesaikan praktikum, mahasiswa mampu:
- menjelaskan kondisi data yang menyebabkan preprocessing diperlukan;
- mengidentifikasi masalah kualitas data menggunakan R;
- menerapkan data cleaning secara sistematis;
- memilih dan menerapkan strategi penanganan missing values;
- mendeteksi serta mengevaluasi outlier;
- melakukan transformasi atribut numerik; dan
- mengintegrasikan dua sumber data serta memvalidasi hasilnya.
Skenario Praktikum
Sebuah perusahaan e-commerce akan melakukan analisis pelanggan. Data berasal dari dua sumber:
- data pelanggan, yang memuat identitas, usia, kota, pendapatan, dan status pelanggan;
- data transaksi, yang memuat jumlah transaksi dan total pembelian.
Data belum dapat langsung digunakan karena mengandung nilai hilang, kategori tidak konsisten, duplikasi, nilai ekstrem, dan perbedaan nama identifier. Mahasiswa diminta menyiapkan data tersebut sampai menjadi satu dataset analisis yang bersih.
Prinsip utama: jangan membersihkan data hanya karena sebuah nilai terlihat aneh. Setiap perubahan harus memiliki alasan, aturan, dan catatan.
Persiapan RStudio
Membuat proyek
- Buka RStudio.
- Pilih File → New Project → New Directory → New Project.
- Beri nama proyek, misalnya
praktikum_preprocessing. - Simpan file ini di dalam folder proyek.
- Klik Knit untuk menghasilkan HTML.
Membangun Dataset Praktikum
Jalankan kode berikut. Dataset sengaja dibuat “kotor” agar seluruh tahap preprocessing dapat dipraktikkan.
pelanggan_raw <- data.frame(
customer_id = c("C001", "C002", "C003", "C004", "C005", "C006",
"C007", "C008", "C009", "C010", "C010", "C011"),
nama = c("Ani", "Budi", "Citra", "Dodi", "Eka", "Fani",
"Gilang", "Hana", "Indra", "Joko", "Joko", "Kiki"),
usia = c(21, 25, 23, 150, 27, NA, 31, 29, 22, 35, 35, 28),
pendapatan = c(4500000, NA, 5200000, 4800000, 4900000, 5100000,
500000000, 4700000, 4600000, 5300000, 5300000, NA),
kota = c("Pekanbaru", " PKU", "PEKANBARU", "Dumai", "pekanbaru",
"DUMAI", "Pekanbaru ", "Siak", "PKU", "Dumai", "Dumai", NA),
status = c("Aktif", "aktif", "ACTIVE", "A", "Tidak Aktif", "nonaktif",
"Aktif", "AKTIF", "A", "Tidak aktif", "Tidak aktif", "Aktif"),
stringsAsFactors = FALSE
)
transaksi_raw <- data.frame(
cust_id = c("C001", "C002", "C003", "C004", "C005", "C006",
"C007", "C008", "C009", "C010", "C012"),
jumlah_transaksi = c(5, 3, 7, 2, 6, 4, 20, 5, 3, 8, 1),
total_purchase = c(1500000, 900000, 2700000, 600000, 2100000, 1300000,
25000000, 1700000, 800000, 3200000, 250000),
stringsAsFactors = FALSE
)
pelanggan_raw## customer_id nama usia pendapatan kota status
## 1 C001 Ani 21 4500000 Pekanbaru Aktif
## 2 C002 Budi 25 NA PKU aktif
## 3 C003 Citra 23 5200000 PEKANBARU ACTIVE
## 4 C004 Dodi 150 4800000 Dumai A
## 5 C005 Eka 27 4900000 pekanbaru Tidak Aktif
## 6 C006 Fani NA 5100000 DUMAI nonaktif
## 7 C007 Gilang 31 500000000 Pekanbaru Aktif
## 8 C008 Hana 29 4700000 Siak AKTIF
## 9 C009 Indra 22 4600000 PKU A
## 10 C010 Joko 35 5300000 Dumai Tidak aktif
## 11 C010 Joko 35 5300000 Dumai Tidak aktif
## 12 C011 Kiki 28 NA <NA> Aktif
## cust_id jumlah_transaksi total_purchase
## 1 C001 5 1500000
## 2 C002 3 900000
## 3 C003 7 2700000
## 4 C004 2 600000
## 5 C005 6 2100000
## 6 C006 4 1300000
## 7 C007 20 25000000
## 8 C008 5 1700000
## 9 C009 3 800000
## 10 C010 8 3200000
## 11 C012 1 250000
Bagian I — Konsep Data Preprocessing
Memahami struktur data
Sebelum melakukan perubahan, periksa struktur, dimensi, tipe atribut, dan beberapa observasi awal.
## [1] 12 6
## [1] "customer_id" "nama" "usia" "pendapatan" "kota"
## [6] "status"
## 'data.frame': 12 obs. of 6 variables:
## $ customer_id: chr "C001" "C002" "C003" "C004" ...
## $ nama : chr "Ani" "Budi" "Citra" "Dodi" ...
## $ usia : num 21 25 23 150 27 NA 31 29 22 35 ...
## $ pendapatan : num 4500000 NA 5200000 4800000 4900000 5100000 500000000 4700000 4600000 5300000 ...
## $ kota : chr "Pekanbaru" " PKU" "PEKANBARU" "Dumai" ...
## $ status : chr "Aktif" "aktif" "ACTIVE" "A" ...
## customer_id nama usia pendapatan kota status
## 1 C001 Ani 21 4500000 Pekanbaru Aktif
## 2 C002 Budi 25 NA PKU aktif
## 3 C003 Citra 23 5200000 PEKANBARU ACTIVE
## 4 C004 Dodi 150 4800000 Dumai A
## 5 C005 Eka 27 4900000 pekanbaru Tidak Aktif
## 6 C006 Fani NA 5100000 DUMAI nonaktif
## customer_id nama usia pendapatan
## Length:12 Length:12 Min. : 21.00 Min. : 4500000
## Class :character Class :character 1st Qu.: 24.00 1st Qu.: 4725000
## Mode :character Mode :character Median : 28.00 Median : 5000000
## Mean : 38.73 Mean : 54440000
## 3rd Qu.: 33.00 3rd Qu.: 5275000
## Max. :150.00 Max. :500000000
## NA's :1 NA's :2
## kota status
## Length:12 Length:12
## Class :character Class :character
## Mode :character Mode :character
##
##
##
##
Mengukur kualitas awal
Enam dimensi kualitas data yang dibahas Han, Kamber, dan Pei meliputi accuracy, completeness, consistency, timeliness, believability, dan interpretability. Tidak semua dimensi dapat dihitung hanya dari isi tabel. Misalnya, accuracy memerlukan pembanding terhadap kondisi sebenarnya dan timeliness membutuhkan informasi waktu pemutakhiran.
Pemeriksaan awal berikut berfokus pada masalah yang dapat dideteksi dari dataset.
## customer_id nama usia pendapatan kota status
## 0 0 1 2 1 0
## customer_id nama usia pendapatan kota status
## 0.00 0.00 8.33 16.67 8.33 0.00
## [1] 1
## [1] 1
## [1] " PKU" "Dumai" "DUMAI" "pekanbaru" "Pekanbaru"
## [6] "PEKANBARU" "Pekanbaru " "PKU" "Siak"
## [1] "A" "ACTIVE" "aktif" "Aktif" "AKTIF"
## [6] "nonaktif" "Tidak aktif" "Tidak Aktif"
## [1] 21 150
## [1] 4500000 500000000
Membuat fungsi ringkasan kualitas
audit_data <- function(data) {
data.frame(
atribut = names(data),
tipe = sapply(data, function(x) class(x)[1]),
jumlah_missing = sapply(data, function(x) sum(is.na(x))),
persen_missing = round(sapply(data, function(x) mean(is.na(x)) * 100), 2),
jumlah_unik = sapply(data, function(x) length(unique(x))),
row.names = NULL
)
}
audit_awal <- audit_data(pelanggan_raw)
audit_awal## atribut tipe jumlah_missing persen_missing jumlah_unik
## 1 customer_id character 0 0.00 11
## 2 nama character 0 0.00 11
## 3 usia numeric 1 8.33 11
## 4 pendapatan numeric 2 16.67 10
## 5 kota character 1 8.33 10
## 6 status character 0 0.00 8
Interpretasi: hasil audit bukan keputusan cleaning. Audit hanya memberi sinyal atribut mana yang perlu diperiksa lebih lanjut.
Bagian II — Implementasi Data Cleaning
Membuat salinan kerja
Pertahankan data mentah agar setiap perubahan dapat dilacak.
Membersihkan spasi dan kapitalisasi
# Menghapus spasi di awal dan akhir
pelanggan$kota <- trimws(pelanggan$kota)
pelanggan$status <- trimws(pelanggan$status)
# Menyeragamkan huruf menjadi kecil untuk proses pencocokan
pelanggan$kota <- tolower(pelanggan$kota)
pelanggan$status <- tolower(pelanggan$status)
sort(unique(pelanggan$kota))## [1] "dumai" "pekanbaru" "pku" "siak"
## [1] "a" "active" "aktif" "nonaktif" "tidak aktif"
Menyeragamkan kategori
Standardisasi dilakukan menggunakan aturan domain. Dalam praktik nyata, aturan perlu dikonfirmasi melalui kamus data atau pemilik data.
# Standardisasi kota
pelanggan$kota[pelanggan$kota %in% c("pku", "pekanbaru")] <- "Pekanbaru"
pelanggan$kota[pelanggan$kota == "dumai"] <- "Dumai"
pelanggan$kota[pelanggan$kota == "siak"] <- "Siak"
# Standardisasi status
pelanggan$status[pelanggan$status %in% c("aktif", "active", "a")] <- "Aktif"
pelanggan$status[pelanggan$status %in% c("tidak aktif", "nonaktif")] <- "Tidak Aktif"
sort(unique(pelanggan$kota))## [1] "Dumai" "Pekanbaru" "Siak"
## [1] "Aktif" "Tidak Aktif"
Mendeteksi dan menghapus duplikasi
# Menampilkan seluruh baris dengan customer_id yang berulang
pelanggan[duplicated(pelanggan$customer_id) |
duplicated(pelanggan$customer_id, fromLast = TRUE), ]## customer_id nama usia pendapatan kota status
## 10 C010 Joko 35 5300000 Dumai Tidak Aktif
## 11 C010 Joko 35 5300000 Dumai Tidak Aktif
# Mempertahankan kemunculan pertama untuk customer_id yang identik
pelanggan <- pelanggan[!duplicated(pelanggan$customer_id), ]
rownames(pelanggan) <- NULL
dim(pelanggan)## [1] 11 6
Catatan: menghapus duplikasi hanya aman jika setiap
customer_idmemang harus mewakili satu pelanggan. Jika satu pelanggan boleh memiliki banyak baris, tindakan ini justru salah.
Memeriksa aturan domain
# Kandidat usia tidak valid berdasarkan aturan bisnis 15–100 tahun
pelanggan[pelanggan$usia < 15 | pelanggan$usia > 100, ]## customer_id nama usia pendapatan kota status
## 4 C004 Dodi 150 4800000 Dumai Aktif
## NA <NA> <NA> NA NA <NA> <NA>
## customer_id nama usia pendapatan kota status
## NA <NA> <NA> NA NA <NA> <NA>
## NA.1 <NA> <NA> NA NA <NA> <NA>
Nilai usia 150 melanggar aturan domain. Misalkan pemeriksaan terhadap formulir asli menunjukkan bahwa nilai yang benar adalah 50.
Membuat log perubahan
log_perubahan <- data.frame(
tahap = c("Standardisasi", "Standardisasi", "Deduplikasi", "Koreksi domain"),
atribut = c("kota", "status", "customer_id", "usia"),
tindakan = c(
"PKU dan variasi kapital menjadi Pekanbaru",
"ACTIVE/A menjadi Aktif; nonaktif menjadi Tidak Aktif",
"Menghapus kemunculan kedua C010",
"Usia C004 dikoreksi dari 150 menjadi 50 berdasarkan sumber asli"
),
stringsAsFactors = FALSE
)
log_perubahan## tahap atribut
## 1 Standardisasi kota
## 2 Standardisasi status
## 3 Deduplikasi customer_id
## 4 Koreksi domain usia
## tindakan
## 1 PKU dan variasi kapital menjadi Pekanbaru
## 2 ACTIVE/A menjadi Aktif; nonaktif menjadi Tidak Aktif
## 3 Menghapus kemunculan kedua C010
## 4 Usia C004 dikoreksi dari 150 menjadi 50 berdasarkan sumber asli
Bagian III — Penanganan Missing Values
Mengidentifikasi lokasi nilai hilang
## customer_id nama usia pendapatan kota status
## 0 0 1 2 1 0
## customer_id nama usia pendapatan kota status
## 2 C002 Budi 25 NA Pekanbaru Aktif
## 6 C006 Fani NA 5100000 Dumai Tidak Aktif
## 11 C011 Kiki 28 NA <NA> Aktif
Strategi 1: menghapus baris
Kode berikut hanya mendemonstrasikan strategi. Kita tidak langsung
mengganti objek pelanggan.
## [1] 11
## [1] 8
Pertanyaan: berapa persen data yang hilang jika seluruh baris tidak lengkap dihapus?
## [1] 27.27
Strategi 2: imputasi mean dan median
Pendapatan memiliki nilai ekstrem. Bandingkan mean dan median sebelum menentukan imputasi.
mean_pendapatan <- mean(pelanggan$pendapatan, na.rm = TRUE)
median_pendapatan <- median(pelanggan$pendapatan, na.rm = TRUE)
mean_pendapatan## [1] 59900000
## [1] 4900000
Karena distribusi pendapatan sangat miring akibat nilai 500 juta, median lebih stabil untuk contoh ini.
pelanggan$pendapatan_imputasi <- pelanggan$pendapatan
pelanggan$pendapatan_imputasi[is.na(pelanggan$pendapatan_imputasi)] <-
median_pendapatan
# Imputasi usia dengan median
median_usia <- median(pelanggan$usia, na.rm = TRUE)
pelanggan$usia_imputasi <- pelanggan$usia
pelanggan$usia_imputasi[is.na(pelanggan$usia_imputasi)] <- median_usia
pelanggan[, c("customer_id", "usia", "usia_imputasi",
"pendapatan", "pendapatan_imputasi")]## customer_id usia usia_imputasi pendapatan pendapatan_imputasi
## 1 C001 21 21.0 4500000 4500000
## 2 C002 25 25.0 NA 4900000
## 3 C003 23 23.0 5200000 5200000
## 4 C004 50 50.0 4800000 4800000
## 5 C005 27 27.0 4900000 4900000
## 6 C006 NA 27.5 5100000 5100000
## 7 C007 31 31.0 500000000 500000000
## 8 C008 29 29.0 4700000 4700000
## 9 C009 22 22.0 4600000 4600000
## 10 C010 35 35.0 5300000 5300000
## 11 C011 28 28.0 NA 4900000
Strategi 3: imputasi nilai kategorik
Nilai kota yang hilang tidak selalu tepat diisi dengan modus. Untuk
latihan ini kita gunakan kategori eksplisit Tidak diketahui
agar ketidakpastian tidak disembunyikan.
pelanggan$kota_imputasi <- pelanggan$kota
pelanggan$kota_imputasi[is.na(pelanggan$kota_imputasi)] <- "Tidak diketahui"
table(pelanggan$kota_imputasi, useNA = "ifany")##
## Dumai Pekanbaru Siak Tidak diketahui
## 3 6 1 1
Menambahkan indikator missing
Indikator dapat mempertahankan informasi bahwa suatu nilai awalnya hilang.
pelanggan$pendapatan_missing <- as.integer(is.na(pelanggan$pendapatan))
table(pelanggan$pendapatan_missing)##
## 0 1
## 9 2
Membandingkan distribusi sebelum dan sesudah imputasi
par(mfrow = c(1, 2))
hist(pelanggan$pendapatan,
main = "Sebelum Imputasi",
xlab = "Pendapatan", col = "skyblue", breaks = 8)
hist(pelanggan$pendapatan_imputasi,
main = "Sesudah Imputasi Median",
xlab = "Pendapatan", col = "lightgreen", breaks = 8)Imputasi dapat mengubah distribusi dan mengecilkan variasi. Karena itu, evaluasi tidak berhenti setelah semua
NAhilang.
Bagian IV — Penanganan Outlier
Visualisasi dengan boxplot
boxplot(pelanggan$pendapatan_imputasi,
horizontal = TRUE,
col = "lightblue",
main = "Boxplot Pendapatan",
xlab = "Pendapatan")Menghitung batas IQR
q1 <- quantile(pelanggan$pendapatan_imputasi, 0.25)
q3 <- quantile(pelanggan$pendapatan_imputasi, 0.75)
iqr <- IQR(pelanggan$pendapatan_imputasi)
batas_bawah <- q1 - 1.5 * iqr
batas_atas <- q3 + 1.5 * iqr
c(Q1 = q1, Q3 = q3, IQR = iqr,
batas_bawah = batas_bawah,
batas_atas = batas_atas)## Q1.25% Q3.75% IQR batas_bawah.25% batas_atas.75%
## 4750000 5150000 400000 4150000 5750000
Menandai kandidat outlier
pelanggan$outlier_pendapatan <-
pelanggan$pendapatan_imputasi < batas_bawah |
pelanggan$pendapatan_imputasi > batas_atas
pelanggan[pelanggan$outlier_pendapatan,
c("customer_id", "nama", "pendapatan_imputasi")]## customer_id nama pendapatan_imputasi
## 7 C007 Gilang 500000000
Mengevaluasi tindakan
Nilai 500 juta tidak otomatis dihapus. Pertimbangkan tiga kemungkinan:
- Kesalahan input: koreksi jika nilai benar dapat diverifikasi.
- Observasi valid tetapi ekstrem: pertahankan atau gunakan metode robust.
- Populasi berbeda: pisahkan segmen apabila pelanggan korporasi tercampur dengan pelanggan ritel.
Pada modul ini, nilai dipertahankan dan dibuat variabel versi winsorized hanya untuk membandingkan dampak metode.
pelanggan$pendapatan_winsor <- pmin(
pmax(pelanggan$pendapatan_imputasi, batas_bawah),
batas_atas
)
pelanggan[pelanggan$outlier_pendapatan,
c("customer_id", "pendapatan_imputasi", "pendapatan_winsor")]## customer_id pendapatan_imputasi pendapatan_winsor
## 7 C007 500000000 5750000
Winsorizing adalah demonstrasi tambahan. Terapkan hanya jika sesuai dengan tujuan analisis dan dokumentasikan bahwa nilai ekstrem telah dibatasi.
Bagian V — Transformasi Data
Normalisasi min–maks
Rumus untuk rentang \([0,1]\) adalah
\[ x' = \frac{x-\min(x)}{\max(x)-\min(x)}. \]
minmax <- function(x) {
if (all(is.na(x))) return(rep(NA_real_, length(x)))
rentang <- max(x, na.rm = TRUE) - min(x, na.rm = TRUE)
if (rentang == 0) return(rep(0, length(x)))
(x - min(x, na.rm = TRUE)) / rentang
}
pelanggan$usia_minmax <- minmax(pelanggan$usia_imputasi)
pelanggan$pendapatan_minmax <- minmax(pelanggan$pendapatan_imputasi)
pelanggan[, c("customer_id", "usia", "usia_minmax",
"pendapatan_imputasi", "pendapatan_minmax")]## customer_id usia usia_minmax pendapatan_imputasi pendapatan_minmax
## 1 C001 21 0.00000000 4500000 0.0000000000
## 2 C002 25 0.13793103 4900000 0.0008072654
## 3 C003 23 0.06896552 5200000 0.0014127144
## 4 C004 50 1.00000000 4800000 0.0006054490
## 5 C005 27 0.20689655 4900000 0.0008072654
## 6 C006 NA 0.22413793 5100000 0.0012108981
## 7 C007 31 0.34482759 500000000 1.0000000000
## 8 C008 29 0.27586207 4700000 0.0004036327
## 9 C009 22 0.03448276 4600000 0.0002018163
## 10 C010 35 0.48275862 5300000 0.0016145308
## 11 C011 28 0.24137931 4900000 0.0008072654
Normalisasi z-score
\[ z = \frac{x-\bar{x}}{s}. \]
pelanggan$usia_z <- as.numeric(scale(pelanggan$usia_imputasi))
pelanggan$pendapatan_z <- as.numeric(scale(pelanggan$pendapatan_imputasi))
round(pelanggan[, c("usia_z", "pendapatan_z")], 3)## usia_z pendapatan_z
## 1 -0.984 -0.304
## 2 -0.489 -0.301
## 3 -0.737 -0.299
## 4 2.604 -0.302
## 5 -0.242 -0.301
## 6 -0.180 -0.300
## 7 0.253 3.015
## 8 0.006 -0.303
## 9 -0.860 -0.303
## 10 0.748 -0.299
## 11 -0.118 -0.301
Decimal scaling
decimal_scale <- function(x) {
maks <- max(abs(x), na.rm = TRUE)
if (maks == 0) return(x)
j <- ceiling(log10(maks + 1))
x / (10 ^ j)
}
pelanggan$pendapatan_decimal <-
decimal_scale(pelanggan$pendapatan_imputasi)
range(pelanggan$pendapatan_decimal, na.rm = TRUE)## [1] 0.0045 0.5000
Membandingkan metode transformasi
transformasi <- pelanggan[, c(
"customer_id", "pendapatan_imputasi", "pendapatan_minmax",
"pendapatan_z", "pendapatan_decimal"
)]
transformasi## customer_id pendapatan_imputasi pendapatan_minmax pendapatan_z
## 1 C001 4500000 0.0000000000 -0.3041235
## 2 C002 4900000 0.0008072654 -0.3014440
## 3 C003 5200000 0.0014127144 -0.2994343
## 4 C004 4800000 0.0006054490 -0.3021138
## 5 C005 4900000 0.0008072654 -0.3014440
## 6 C006 5100000 0.0012108981 -0.3001042
## 7 C007 500000000 1.0000000000 3.0151095
## 8 C008 4700000 0.0004036327 -0.3027837
## 9 C009 4600000 0.0002018163 -0.3034536
## 10 C010 5300000 0.0016145308 -0.2987645
## 11 C011 4900000 0.0008072654 -0.3014440
## pendapatan_decimal
## 1 0.0045
## 2 0.0049
## 3 0.0052
## 4 0.0048
## 5 0.0049
## 6 0.0051
## 7 0.5000
## 8 0.0047
## 9 0.0046
## 10 0.0053
## 11 0.0049
Dampak outlier terhadap normalisasi
pelanggan$pendapatan_winsor_minmax <- minmax(pelanggan$pendapatan_winsor)
plot(pelanggan$pendapatan_minmax,
pelanggan$pendapatan_winsor_minmax,
pch = 19, col = "navy",
xlab = "Min–maks Data Asli",
ylab = "Min–maks Data Winsorized",
main = "Dampak Penanganan Outlier terhadap Normalisasi")
abline(0, 1, col = "red", lty = 2)Interpretasi: outlier dapat menekan sebagian besar nilai min–maks ke rentang yang sangat sempit. Inilah alasan deteksi outlier perlu dilakukan sebelum memilih transformasi.
Bagian VI — Integrasi Data
Memeriksa kunci pada kedua sumber
## [1] 0
## [1] 0
## [1] "C011"
## [1] "C012"
Hasil setdiff() menunjukkan pelanggan yang tidak
memiliki transaksi dan transaksi yang tidak memiliki pasangan data
pelanggan.
Menyelaraskan nama identifier
Melakukan left join dengan merge()
data_terintegrasi <- merge(
pelanggan,
transaksi,
by = "customer_id",
all.x = TRUE
)
data_terintegrasi[, c(
"customer_id", "nama", "jumlah_transaksi", "total_purchase"
)]## customer_id nama jumlah_transaksi total_purchase
## 1 C001 Ani 5 1500000
## 2 C002 Budi 3 900000
## 3 C003 Citra 7 2700000
## 4 C004 Dodi 2 600000
## 5 C005 Eka 6 2100000
## 6 C006 Fani 4 1300000
## 7 C007 Gilang 20 25000000
## 8 C008 Hana 5 1700000
## 9 C009 Indra 3 800000
## 10 C010 Joko 8 3200000
## 11 C011 Kiki NA NA
all.x = TRUE mempertahankan seluruh pelanggan meskipun
tidak memiliki pasangan transaksi.
Memvalidasi hasil integrasi
# Apakah jumlah baris berubah secara tidak wajar?
c(sebelum = nrow(pelanggan), sesudah = nrow(data_terintegrasi))## sebelum sesudah
## 11 11
## [1] 0
# Missing value baru akibat tidak ditemukan pasangan transaksi
colSums(is.na(data_terintegrasi[, c("jumlah_transaksi", "total_purchase")]))## jumlah_transaksi total_purchase
## 1 1
# Pelanggan tanpa pasangan transaksi
data_terintegrasi[is.na(data_terintegrasi$jumlah_transaksi),
c("customer_id", "nama")]## customer_id nama
## 11 C011 Kiki
Mengisi nol atau mempertahankan NA?
NA pada transaksi dapat berarti dua hal berbeda:
- pelanggan benar-benar belum pernah bertransaksi; atau
- data transaksi pelanggan tidak tersedia atau gagal dipadankan.
Nilai hanya boleh diubah menjadi 0 jika definisinya sudah dikonfirmasi.
# Contoh jika telah dikonfirmasi bahwa NA berarti belum pernah bertransaksi
data_terintegrasi$jumlah_transaksi_final <- data_terintegrasi$jumlah_transaksi
data_terintegrasi$total_purchase_final <- data_terintegrasi$total_purchase
data_terintegrasi$jumlah_transaksi_final[
is.na(data_terintegrasi$jumlah_transaksi_final)
] <- 0
data_terintegrasi$total_purchase_final[
is.na(data_terintegrasi$total_purchase_final)
] <- 0Dataset Akhir dan Evaluasi
Memilih atribut akhir
data_final <- data_terintegrasi[, c(
"customer_id", "nama", "usia_imputasi", "kota_imputasi", "status",
"pendapatan_imputasi", "pendapatan_missing", "outlier_pendapatan",
"usia_minmax", "pendapatan_minmax", "jumlah_transaksi_final",
"total_purchase_final"
)]
names(data_final)[names(data_final) == "kota_imputasi"] <- "kota"
names(data_final)[names(data_final) == "usia_imputasi"] <- "usia"
data_final## customer_id nama usia kota status pendapatan_imputasi
## 1 C001 Ani 21.0 Pekanbaru Aktif 4500000
## 2 C002 Budi 25.0 Pekanbaru Aktif 4900000
## 3 C003 Citra 23.0 Pekanbaru Aktif 5200000
## 4 C004 Dodi 50.0 Dumai Aktif 4800000
## 5 C005 Eka 27.0 Pekanbaru Tidak Aktif 4900000
## 6 C006 Fani 27.5 Dumai Tidak Aktif 5100000
## 7 C007 Gilang 31.0 Pekanbaru Aktif 500000000
## 8 C008 Hana 29.0 Siak Aktif 4700000
## 9 C009 Indra 22.0 Pekanbaru Aktif 4600000
## 10 C010 Joko 35.0 Dumai Tidak Aktif 5300000
## 11 C011 Kiki 28.0 Tidak diketahui Aktif 4900000
## pendapatan_missing outlier_pendapatan usia_minmax pendapatan_minmax
## 1 0 FALSE 0.00000000 0.0000000000
## 2 1 FALSE 0.13793103 0.0008072654
## 3 0 FALSE 0.06896552 0.0014127144
## 4 0 FALSE 1.00000000 0.0006054490
## 5 0 FALSE 0.20689655 0.0008072654
## 6 0 FALSE 0.22413793 0.0012108981
## 7 0 TRUE 0.34482759 1.0000000000
## 8 0 FALSE 0.27586207 0.0004036327
## 9 0 FALSE 0.03448276 0.0002018163
## 10 0 FALSE 0.48275862 0.0016145308
## 11 1 FALSE 0.24137931 0.0008072654
## jumlah_transaksi_final total_purchase_final
## 1 5 1500000
## 2 3 900000
## 3 7 2700000
## 4 2 600000
## 5 6 2100000
## 6 4 1300000
## 7 20 25000000
## 8 5 1700000
## 9 3 800000
## 10 8 3200000
## 11 0 0
Audit akhir
## atribut tipe jumlah_missing persen_missing jumlah_unik
## 1 customer_id character 0 0 11
## 2 nama character 0 0 11
## 3 usia numeric 0 0 11
## 4 kota character 0 0 4
## 5 status character 0 0 2
## 6 pendapatan_imputasi numeric 0 0 9
## 7 pendapatan_missing integer 0 0 2
## 8 outlier_pendapatan logical 0 0 2
## 9 usia_minmax numeric 0 0 11
## 10 pendapatan_minmax numeric 0 0 9
## 11 jumlah_transaksi_final numeric 0 0 9
## 12 total_purchase_final numeric 0 0 11
## [1] 0
## customer_id nama usia
## 0 0 0
## kota status pendapatan_imputasi
## 0 0 0
## pendapatan_missing outlier_pendapatan usia_minmax
## 0 0 0
## pendapatan_minmax jumlah_transaksi_final total_purchase_final
## 0 0 0
Membandingkan kondisi sebelum dan sesudah
perbandingan <- data.frame(
indikator = c(
"Jumlah baris",
"Duplikasi customer_id",
"Total missing value",
"Kategori kota unik",
"Kategori status unik"
),
sebelum = c(
nrow(pelanggan_raw),
sum(duplicated(pelanggan_raw$customer_id)),
sum(is.na(pelanggan_raw)),
length(unique(pelanggan_raw$kota)),
length(unique(pelanggan_raw$status))
),
sesudah = c(
nrow(data_final),
sum(duplicated(data_final$customer_id)),
sum(is.na(data_final)),
length(unique(data_final$kota)),
length(unique(data_final$status))
)
)
perbandingan## indikator sebelum sesudah
## 1 Jumlah baris 12 11
## 2 Duplikasi customer_id 1 0
## 3 Total missing value 4 0
## 4 Kategori kota unik 10 4
## 5 Kategori status unik 8 2
Pertanyaan Refleksi
- Apakah dataset tanpa missing value selalu lebih berkualitas?
- Mengapa outlier tidak boleh otomatis dihapus?
- Bagaimana preprocessing dapat menimbulkan bias?
- Mengapa parameter imputasi dan transformasi seharusnya dihitung dari data pelatihan?
- Apa risiko integrasi data jika identifier tidak unik?
Ringkasan
Alur yang telah dilakukan adalah:
- memahami struktur dan kualitas awal data;
- membersihkan kategori, duplikasi, dan pelanggaran domain;
- menangani missing values tanpa menyembunyikan ketidakpastian;
- mendeteksi dan mengevaluasi outlier;
- mentransformasikan atribut numerik; dan
- mengintegrasikan data serta memvalidasi hasilnya.
Preprocessing merupakan proses pengambilan keputusan. Kode R hanya menjalankan keputusan tersebut; kualitas hasil tetap bergantung pada pemahaman data, tujuan analisis, dan dokumentasi perubahan.
Daftar Pustaka
Han, J., Kamber, M., & Pei, J. (2012). Data Mining: Concepts and Techniques (3rd ed.). Morgan Kaufmann. Chapter 3: Data Preprocessing.