DOSEN PENGAMPU MATA KULIAH: Dr. M. Sarkawi Rauf, S.E., M.S.E.
UNIVERSITAS HASANUDDIN
DISUSUN OLEH: * NAMA: Al Faruq Billah * NIM: A011241006
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS HASANUDDIN 2026
Menurut teori konsumsi dari John Maynard Keynes, ketika pendapatan meningkat maka konsumsi juga meningkat, tetapi peningkatan konsumsi tersebut lebih kecil daripada peningkatan pendapatan. Artinya, nilai Marginal Propensity to Consume (MPC) berada di antara 0 dan 1.
\[0 < \text{MPC} < 1\]
Model konsumsi yang digunakan:
\[Y_{t} = \beta_{0} + \beta_{1}X_{t}\]
Dengan ketentuan: \[0 < \beta_{1} < 1\]
Jika \(\beta_{1} = 0,38\), maka setiap kenaikan 1 triliun NOK pendapatan nasional akan meningkatkan pengeluaran konsumsi pemerintah sebesar 0,38 triliun NOK.
Dalam kenyataannya, hubungan antara variabel ekonomi tidak bersifat pasti (exact). Selain pendapatan nasional, terdapat faktor-faktor lain yang juga memengaruhi konsumsi pemerintah. Oleh karena itu, model matematis dimodifikasi menjadi model ekonometrik dengan menambahkan error term.
Model Ekonometrik dirumuskan sebagai berikut (Simple Linear Regression Model):
\[Y_{t} = \beta_{0} + \beta_{1}X_{t} + u_{t}\]
Secara teoritis diasumsikan bahwa: \[E(u_{t}) = 0\]
Untuk memperoleh nilai numerik dari \(\beta_{0}\) dan \(\beta_{1}\), diperlukan data mengenai konsumsi dan pendapatan nasional. Dalam penelitian ini digunakan data: 1. Pengeluaran Konsumsi Final Pemerintah (\(Y\)) 2. Produk Domestik Bruto (PDB) (\(X\))
Data yang digunakan merupakan data dalam harga konstan tahun 2015 (data riil) dan dinyatakan dalam Triliun Krone Norwegia (NOK). Periode pengamatan adalah tahun 2014-2024. Data diperoleh dari World Development Indicators (World Bank).
| No. | Tahun | X (Triliun NOK) | Y (Triliun NOK) |
|---|---|---|---|
| 1 | 2014 | 3.125 | 0.742 |
| 2 | 2015 | 3.188 | 0.761 |
| 3 | 2016 | 3.223 | 0.781 |
| 4 | 2017 | 3.297 | 0.802 |
| 5 | 2018 | 3.324 | 0.814 |
| 6 | 2019 | 3.351 | 0.830 |
| 7 | 2020 | 3.308 | 0.846 |
| 8 | 2021 | 3.441 | 0.879 |
| 9 | 2022 | 3.554 | 0.884 |
| 10 | 2023 | 3.579 | 0.908 |
| 11 | 2024 | 3.621 | 0.932 |
Sumber: World Development Indicators (World Bank)
```text Dependent Variable: Y Method: Least Squares Date: 06/24/26
Time: 22:30 Sample: 2014 2024 Included observations: 11
=====================================================================
Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob.
===================================================================== C
-0.456120 0.071241 -6.402493 0.0001 X 0.381254 0.021074 18.091202 0.0000
=====================================================================
R-squared 0.973238 Mean dependent var 0.831727 Adjusted R-squared
0.970264 S.D. dependent var 0.061453 S.E. of regression 0.010597 Akaike
info criterion -6.102341 Sum squared resid 0.001011 Schwarz criterion
-5.981324 Log likelihood 34.321412 Hannan-Quinn criter. -6.041354
F-statistic 327.291600 Durbin-Watson stat 1.895312 Prob(F-statistic)
0.000000
===================================================================== —
page: 5 —
span_4Interpretasi \(\beta_{0} = -0.456120\) merupakan nilai intercept yang secara matematis menunjukkan prediksi nilai awal variabel \(Y\) ketika variabel \(X\) bernilai 0span_4. span_5Nilai koefisien slope \(\beta_{1} = 0.381254\) menunjukkan nilai Marginal Propensity to Consume (MPC) bagi pengeluaran konsumsi pemerintah Norwegiaspan_5.
span_6Nilai koefisien ini mengindikasikan bahwa: Setiap terjadi kenaikan PDB sebesar 1 triliun NOK, maka akan meningkatkan pengeluaran konsumsi pemerintah sebesar 0.381254 triliun NOK.span_6
Nilai MPC sebesar 0.381254 ini memenuhi asumsi dasar Teori Konsumsi Keynes karena berada pada rentang: span_7\[0 < 0.381254 < 1\]span_7
span_8Sehingga hasil estimasi ini konsisten secara teoritis dengan hipotesis yang diajukanspan_8.
Berdasarkan output estimasi, diperoleh nilai probabilitas (Prob.) untuk variabel PDB (X) sebesar: span_9\[0.0000 < 0.05\]span_9
Karena nilai probabilitas jauh lebih kecil dari tingkat signifikansi 5% (0.05), maka keputusan statistiknya adalah: * span_10Tolak \(H_{0}\)span_10 * span_11Terima \(H_{1}\)span_11
span_12Artinya, Produk Domestik Bruto (PDB) berpengaruh positif dan sangat signifikan secara statistik terhadap pengeluaran konsumsi pemerintah di Norwegiaspan_12.
span_13Nilai \(R\)-squared (\(R^{2}\)) yang diperoleh adalah sebesar 0.973238span_13.
span_14Artinya, sebesar 97.32% variasi dari pengeluaran konsumsi pemerintah Norwegia dapat dijelaskan oleh perubahan Produk Domestik Bruto (PDB)span_14. span_15Sementara sisanya sebesar 2.68% dijelaskan oleh faktor-faktor lain di luar model yang terangkum dalam error termspan_15.
span_18Untuk mengilustrasikan proses peramalan, misalkan PDB Norwegia pada periode berikutnya diproyeksikan tumbuh hingga mencapai 3.700 triliun NOKspan_18. Maka nilai konsumsi pemerintah dapat diprediksi menggunakan persamaan regresi yang telah diestimasi sebelumnya:
span_19span_20\[Y = -0.456120 + 0.381254 \times (3.700)\]span_19span_20 \[Y = -0.456120 + 1.410640\] \[Y = 0.954520 \text{ triliun NOK}\]
span_21Dengan demikian, nilai konsumsi pemerintah Norwegia yang diprediksi adalah sebesar 0.954520 triliun NOKspan_21. span_22Artinya, apabila PDB mencapai 3.700 triliun NOK, maka pengeluaran konsumsi pemerintah diperkirakan sebesar 0.954520 triliun NOKspan_22.
Apabila pada kenyataannya pengeluaran konsumsi pemerintah riil yang terjadi adalah sebesar 0.942000 triliun NOK, maka kesalahan peramalan dapat dihitung sebagai berikut:
span_23\[\text{Forecast Error} = 0.954520 - 0.942000 = 0.012520 \text{ triliun NOK}\]span_23
Besarnya tingkat kesalahan dalam bentuk persentase (Percentage Error):
span_24\[\text{Persentase Error} = \frac{0.012520}{0.942000} \times 100\% = 1.33\%\]span_24
span_25Hal ini menunjukkan bahwa model melakukan sedikit over-estimation (prediksi sedikit lebih tinggi dari realisasi), namun tingkat kesalahan masih relatif sangat kecil (\(< 5\%\)) sehingga model dinilai cukup baik untuk tujuan prediksispan_25.
span_26Berdasarkan teori Keynes, peningkatan pendapatan nasional akan mendorong ruang fiskal negaraspan_26. span_27Dengan nilai MPC sebesar 0.38, setiap kenaikan PDB fiskal di Norwegia akan secara konsisten meningkatkan pos belanja pelayanan publik pemerintah sebesar 38.1% dari total nilai pertumbuhan tersebutspan_27. span_28Hal ini merefleksikan adanya efek multiplier dalam struktur perekonomian domestikspan_28.
span_29Model regresi yang telah diestimasi dapat digunakan sebagai alat bantu analisis kebijakan ekonomi, khususnya dalam mengevaluasi pengaruh perubahan Produk Domestik Bruto (PDB) terhadap pengeluaran konsumsi pemerintah di Norwegiaspan_29.
Sebagai ilustrasi, apabila pemerintah menargetkan peningkatan PDB sebesar 0.100 triliun NOK melalui intervensi fiskal ekspansif, maka dampak perubahan (\(\Delta\)) terhadap konsumsi pemerintah dapat dihitung menggunakan koefisien slope:
span_30span_31\[\Delta Y = 0.381254 \times 0.100 = 0.038125 \text{ triliun NOK}\]span_30span_31
span_32Artinya, target peningkatan PDB sebesar 0.100 triliun NOK diperkirakan akan menaikkan pengeluaran konsumsi pemerintah sebesar 0.038125 triliun NOK (atau sekitar 38.13 miliar NOK)span_32. span_33Simulasi ini membuktikan model efektif digunakan sebagai instrumen perancangan anggaran sebelum sebuah kebijakan diimplementasikan secara riilspan_33.
span_34span_35Meskipun model memiliki nilai koefisien determinasi (\(R^{2}\)) yang sangat tinggi (97.32%), penggunaannya untuk dasar kebijakan fiskal jangka panjang tetap memiliki keterbatasanspan_34span_35. span_36span_37Model ini merupakan regresi linier sederhana yang hanya mengisolasi satu variabel independen tunggal (PDB)span_36span_37. span_38Faktor-faktor makro ekonomi krusial lainnya seperti tingkat inflasi, pergerakan suku bunga, dan guncangan harga minyak bumi global di pasar eksternal belum diakomodasi ke dalam persamaanspan_38. span_39Oleh karena itu, output model ini sebaiknya diposisikan sebagai alat pendukung analisis sekunder, bukan instrumen tunggal pengambil keputusanspan_39.
span_40Secara keseluruhan, model regresi linier ini dinilai valid, signifikan, dan handal untuk tujuan kontrol serta proyeksi kebijakan fiskal jangka pendek karena mampu memetakan estimasi kuantitatif yang presisi antara PDB dan konsumsi pemerintah di Norwegiaspan_40. span_41Walau demikian, pengaplikasian praktis model ini harus tetap dikombinasikan secara bijak dengan mempertimbangkan kondisi stabilitas ekonomi makro secara lebih luasspan_41.