🌄 Jawa Barat 📍 GWR 🗺️ Analisis Spasial 🌸 Indeks Kesehatan

Sampurasun! Laporan ini menyajikan pemodelan spasial Indeks Kesehatan kabupaten/kota di Jawa Barat tahun 2024 menggunakan pendekatan Geographically Weighted Regression (GWR). Analisis ini dibuat untuk melihat apakah faktor-faktor kesehatan memiliki pengaruh yang sama di seluruh wilayah, atau justru berbeda antar kabupaten/kota.

1 Pendahuluan

1.1 Latar Belakang

Provinsi Jawa Barat merupakan salah satu provinsi dengan jumlah penduduk terbesar di Indonesia. Besarnya jumlah penduduk tersebut menjadikan isu kesehatan sebagai salah satu aspek penting dalam pembangunan daerah. Kondisi kesehatan masyarakat berhubungan dengan kualitas hidup, produktivitas, dan kesejahteraan penduduk. Oleh karena itu, pemerataan capaian kesehatan antarwilayah perlu menjadi perhatian dalam upaya pembangunan kesehatan di Provinsi Jawa Barat.

Capaian kesehatan masyarakat dapat digambarkan melalui Indeks Kesehatan. Indeks ini menunjukkan kondisi kesehatan penduduk pada suatu wilayah, di mana nilai indeks yang lebih tinggi mencerminkan capaian kesehatan yang relatif lebih baik. Namun, nilai Indeks Kesehatan antar kabupaten/kota di Jawa Barat tidak selalu sama. Perbedaan tersebut dapat terjadi karena setiap wilayah memiliki karakteristik yang berbeda, baik dari sisi ketersediaan fasilitas kesehatan, kondisi lingkungan, perilaku hidup sehat, maupun permasalahan gizi masyarakat.

Beberapa faktor yang berkaitan dengan kondisi kesehatan masyarakat di antaranya adalah jumlah balita bergizi kurang, jumlah desa/kelurahan yang memiliki sarana kesehatan apotek, persentase penduduk usia 15–24 tahun yang merokok, dan persentase rumah tangga yang memiliki akses terhadap sanitasi layak. Jumlah balita bergizi kurang menunjukkan masih adanya permasalahan pemenuhan gizi pada kelompok usia rentan. Ketersediaan apotek menggambarkan kemudahan akses masyarakat terhadap sarana kesehatan. Perilaku merokok pada usia muda dapat menjadi faktor risiko kesehatan jangka panjang, sedangkan akses sanitasi layak mencerminkan kualitas lingkungan tempat tinggal masyarakat.

Perbedaan kondisi kesehatan antarwilayah tidak cukup hanya dilihat secara umum, karena kabupaten/kota yang berdekatan dapat memiliki pola kesehatan yang saling berkaitan. Dalam analisis regresi global seperti Ordinary Least Squares (OLS), pengaruh setiap faktor dianggap sama untuk seluruh wilayah. Padahal, pengaruh suatu faktor terhadap Indeks Kesehatan dapat berbeda antara satu kabupaten/kota dengan kabupaten/kota lainnya. Oleh karena itu, diperlukan metode yang mampu mempertimbangkan aspek lokasi dalam analisis.

Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini menggunakan metode Geographically Weighted Regression (GWR) untuk memodelkan faktor-faktor yang berkaitan dengan Indeks Kesehatan kabupaten/kota di Jawa Barat tahun 2024. GWR digunakan karena mampu menghasilkan koefisien lokal pada setiap wilayah, sehingga dapat menunjukkan apakah pengaruh jumlah balita bergizi kurang, ketersediaan apotek, perilaku merokok usia muda, dan sanitasi layak berbeda antar kabupaten/kota. Hasil analisis ini diharapkan dapat memberikan gambaran yang lebih spesifik mengenai kondisi kesehatan di Jawa Barat, sehingga dapat menjadi bahan pertimbangan dalam perencanaan kebijakan kesehatan yang lebih sesuai dengan kondisi masing-masing wilayah.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang tersebut, rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.

  1. Bagaimana gambaran kondisi Indeks Kesehatan kabupaten/kota di Provinsi Jawa Barat tahun 2024?
  2. Faktor apa saja yang berkaitan dengan perbedaan Indeks Kesehatan antar kabupaten/kota di Jawa Barat?
  3. Apakah pengaruh faktor-faktor kesehatan tersebut berbeda antarwilayah sehingga perlu dilihat berdasarkan kondisi lokal masing-masing kabupaten/kota?

1.3 Tujuan Analisis

Tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut.

  1. Menggambarkan kondisi Indeks Kesehatan kabupaten/kota di Provinsi Jawa Barat tahun 2024.
  2. Mengidentifikasi faktor-faktor yang berkaitan dengan perbedaan kondisi kesehatan antar kabupaten/kota.
  3. Mengetahui perbedaan pengaruh faktor kesehatan pada setiap wilayah agar hasil analisis dapat memberikan gambaran yang lebih sesuai dengan kondisi lokal kabupaten/kota di Jawa Barat.

1.4 Batasan Masalah

Agar penelitian lebih terarah, batasan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.

  1. Unit analisis yang digunakan adalah kabupaten/kota di Provinsi Jawa Barat.
  2. Data yang dianalisis merupakan data tahun 2024.
  3. Variabel dependen dalam penelitian ini adalah Indeks Kesehatan.
  4. Variabel independen yang digunakan meliputi jumlah balita bergizi kurang, jumlah desa/kelurahan yang memiliki sarana kesehatan apotek, persentase penduduk usia 15–24 tahun yang merokok dalam sebulan terakhir, dan persentase rumah tangga yang memiliki akses terhadap sanitasi layak.
  5. Data spasial yang digunakan berupa shapefile batas administrasi kabupaten/kota di Provinsi Jawa Barat.
  6. Penelitian ini mencakup 27 kabupaten/kota di Provinsi Jawa Barat karena data spasial yang digunakan telah memuat Kabupaten Pangandaran sebagai unit wilayah tersendiri.
  7. Metode analisis yang digunakan adalah Ordinary Least Squares (OLS) sebagai model regresi global dan Geographically Weighted Regression (GWR) sebagai model regresi lokal berbasis wilayah.
  8. Hasil analisis digunakan untuk melihat pola hubungan dan variasi pengaruh antarwilayah, sehingga tidak dimaksudkan sebagai bukti hubungan sebab-akibat secara langsung.

2 Data dan Sumber Penelitian

## Data CSV yang digunakan: /Users/auroaurellias/Desktop/S2/Semester 2/Analisis Spasial/UAS/data_spasial_jabar_2024_clean.csv
## # A tibble: 27 × 6
##    Kabupaten_Kota Y_Indeks_Kesehatan X1_Balita_Gizi_Kurang X2_Apotek
##    <chr>                       <dbl>                 <dbl>     <dbl>
##  1 Bogor                        80.2                  8127       202
##  2 Sukabumi                     80.1                  8341       124
##  3 Cianjur                      78.4                  3069       106
##  4 Bandung                      83.9                  9102       167
##  5 Garut                        80.4                  6398       151
##  6 Tasikmalaya                  77.5                  3804       108
##  7 Ciamis                       81.3                  2332        88
##  8 Kuningan                     83.9                  3138        99
##  9 Cirebon                      81.6                  8571       204
## 10 Majalengka                   78.9                  3316       118
## # ℹ 17 more rows
## # ℹ 2 more variables: X3_Merokok_15_24 <dbl>, X4_Sanitasi_Layak <dbl>

Data penelitian berasal dari publikasi resmi BPS Provinsi Jawa Barat dan Open Data Jabar. Data yang digunakan mencakup Indeks Kesehatan, jumlah balita bergizi kurang, jumlah desa/kelurahan yang memiliki apotek, persentase penduduk usia 15–24 tahun yang merokok, serta persentase rumah tangga dengan akses sanitasi layak pada tahun 2024.

Variabel yang digunakan adalah sebagai berikut.

Variabel Penelitian
Kode Variabel Satuan
Y Indeks Kesehatan Kabupaten/Kota di Jawa Barat Tahun 2024 Indeks
X1 Jumlah Balita Bergizi Kurang Tahun 2024 Orang
X2 Jumlah Desa/Kelurahan yang Memiliki Sarana Kesehatan Apotek Tahun 2024 Desa/Kelurahan
X3 Persentase Penduduk Usia 15–24 Tahun yang Merokok dalam Sebulan Terakhir Tahun 2024 Persen
X4 Persentase Rumah Tangga yang Memiliki Akses terhadap Sanitasi Layak Tahun 2024 Persen

3 Pengolahan Data Spasial

## Shapefile yang digunakan: /Users/auroaurellias/Desktop/S2/Semester 2/Analisis Spasial/UAS/Dashboard_UAS_Jabar_Pink/Batas Kabupaten Jawa Barat (extract.me)/Batas_Kabupaten_Jawa_Barat.shp
## Kolom kode wilayah pada shapefile yang digunakan: KDPKAB
## Kolom wilayah pada CSV yang digunakan: Kabupaten_Kota
## Wilayah pada data tabular yang belum cocok dengan shapefile:
## # A tibble: 0 × 1
## # ℹ 1 variable: Kabupaten_Kota <chr>
## Wilayah pada shapefile yang belum cocok dengan data tabular:
## [1] Kabupaten_Kota
## <0 rows> (or 0-length row.names)

Jumlah wilayah yang digunakan dalam analisis adalah 27 kabupaten/kota. Pada versi revisi ini, data spasial menggunakan shapefile batas kabupaten/kota Jawa Barat yang memuat Kabupaten Pangandaran, sehingga analisis dapat dilakukan pada 27 kabupaten/kota apabila seluruh nama wilayah berhasil cocok dengan data tabular.

4 Analisis Deskriptif

Statistik Deskriptif Variabel Penelitian
Variabel Minimum Rata_rata Maksimum
Y - Indeks Kesehatan 77.52 81.940 86.34
X1 - Balita Gizi Kurang 407.00 3521.963 9102.00
X2 - Apotek 15.00 95.889 204.00
X3 - Merokok Usia 15–24 9.25 13.400 18.06
X4 - Sanitasi Layak 45.88 75.703 99.08

Berdasarkan tabel deskriptif, Indeks Kesehatan memiliki nilai minimum sebesar 77.52 pada Tasikmalaya dan maksimum sebesar 86.34 pada Kota Bekasi. Hal ini menunjukkan adanya perbedaan capaian kesehatan antarwilayah di Jawa Barat.

5 Peta Sebaran Variabel

5.1 Peta Indeks Kesehatan

Interpretasi: Peta Indeks Kesehatan memperlihatkan bahwa kondisi kesehatan antar kabupaten/kota tidak merata. Wilayah dengan warna lebih pekat memiliki Indeks Kesehatan lebih tinggi, sedangkan warna lebih muda menunjukkan Indeks Kesehatan lebih rendah. Nilai tertinggi terdapat pada Kota Bekasi, sedangkan nilai terendah terdapat pada Tasikmalaya.

5.2 Peta X1: Jumlah Balita Bergizi Kurang

Interpretasi: Jumlah balita bergizi kurang paling tinggi terdapat pada Bandung sebanyak 9102 orang, sedangkan nilai terendah terdapat pada Pangandaran sebanyak 407 orang. Perbedaan ini menunjukkan bahwa persoalan gizi balita tidak tersebar merata di seluruh wilayah.

5.3 Peta X2: Jumlah Desa/Kelurahan yang Memiliki Apotek

Interpretasi: Wilayah dengan jumlah desa/kelurahan yang memiliki apotek lebih tinggi ditunjukkan oleh warna lebih pekat. Jumlah tertinggi terdapat pada Cirebon, sedangkan jumlah terendah terdapat pada Kota Cimahi. Variabel ini menggambarkan salah satu aspek ketersediaan sarana kesehatan di masyarakat.

5.4 Peta X3: Persentase Penduduk Usia 15–24 Tahun yang Merokok

Interpretasi: Persentase penduduk usia 15–24 tahun yang merokok tertinggi terdapat pada Purwakarta sebesar 18.06%, sedangkan yang terendah terdapat pada Pangandaran sebesar 9.25%. Variabel ini penting karena kebiasaan merokok pada usia muda dapat berhubungan dengan kualitas kesehatan jangka panjang.

5.5 Peta X4: Persentase Rumah Tangga dengan Sanitasi Layak

Interpretasi: Persentase rumah tangga dengan akses sanitasi layak tertinggi terdapat pada Kota Bekasi sebesar 99.08%, sedangkan yang terendah terdapat pada Kota Sukabumi sebesar 45.88%. Sanitasi layak merupakan faktor lingkungan yang penting dalam mendukung kesehatan masyarakat.

6 Metode Analisis

6.1 Ordinary Least Squares (OLS)

Regresi OLS digunakan sebagai model global. Model ini menghasilkan satu koefisien untuk seluruh wilayah, sehingga pengaruh setiap variabel dianggap sama untuk semua kabupaten/kota.

Model OLS yang digunakan adalah:

\[ Y_i = \beta_0 + \beta_1X_{1i} + \beta_2X_{2i} + \beta_3X_{3i} + \beta_4X_{4i} + \varepsilon_i \]

6.2 Moran’s I

Moran’s I digunakan untuk melihat apakah terdapat pola spasial pada Indeks Kesehatan. Jika Moran’s I signifikan, maka wilayah yang berdekatan cenderung memiliki nilai yang mirip atau membentuk pola tertentu. Uji ini penting dilakukan sebelum menggunakan pendekatan spasial, karena dapat menunjukkan apakah unsur lokasi perlu dipertimbangkan dalam pemodelan.

Rumus Moran’s I adalah sebagai berikut:

\[ I = \frac{n}{S_0} \frac{\sum_{i=1}^{n}\sum_{j=1}^{n}w_{ij}(x_i-\bar{x})(x_j-\bar{x})} {\sum_{i=1}^{n}(x_i-\bar{x})^2} \]

Keterangan:

  • \(I\) adalah nilai indeks Moran;
  • \(n\) adalah jumlah wilayah pengamatan;
  • \(w_{ij}\) adalah elemen matriks pembobot spasial antara wilayah ke-\(i\) dan wilayah ke-\(j\);
  • \(x_i\) dan \(x_j\) adalah nilai variabel pada wilayah ke-\(i\) dan ke-\(j\);
  • \(\bar{x}\) adalah rata-rata nilai variabel;
  • \(S_0\) adalah jumlah seluruh bobot spasial, yaitu \(S_0 = \sum_i\sum_j w_{ij}\).

Nilai Moran’s I yang positif menunjukkan bahwa wilayah yang berdekatan cenderung memiliki nilai yang mirip, sedangkan nilai negatif menunjukkan bahwa wilayah berdekatan cenderung memiliki nilai yang berbeda. Jika p-value kurang dari 0,05, maka pola spasial dianggap signifikan.

6.3 Geographically Weighted Regression (GWR)

GWR merupakan pengembangan regresi yang memperbolehkan koefisien berbeda antarwilayah. Dengan demikian, model ini dapat menunjukkan pengaruh lokal pada setiap kabupaten/kota. Jika OLS menghasilkan satu persamaan untuk seluruh wilayah, maka GWR menghasilkan persamaan lokal yang disesuaikan dengan posisi geografis masing-masing wilayah.

Model GWR yang digunakan adalah:

\[ Y_i = \beta_0(u_i,v_i) + \beta_1(u_i,v_i)X_{1i} + \beta_2(u_i,v_i)X_{2i} + \beta_3(u_i,v_i)X_{3i} + \beta_4(u_i,v_i)X_{4i} + \varepsilon_i \]

Keterangan:

  • \(Y_i\) adalah Indeks Kesehatan pada wilayah ke-\(i\);
  • \(X_{1i}\) sampai \(X_{4i}\) adalah variabel independen pada wilayah ke-\(i\);
  • \((u_i,v_i)\) adalah koordinat lokasi wilayah ke-\(i\);
  • \(\beta_0(u_i,v_i)\) adalah intersep lokal;
  • \(\beta_k(u_i,v_i)\) adalah koefisien lokal variabel ke-\(k\) pada wilayah ke-\(i\);
  • \(\varepsilon_i\) adalah galat atau error model.

6.3.1 Kernel dan Bandwidth

Dalam GWR, wilayah yang lebih dekat dengan lokasi pengamatan diberi bobot yang lebih besar dibandingkan wilayah yang lebih jauh. Bobot tersebut ditentukan menggunakan fungsi kernel dan bandwidth. Kernel berfungsi sebagai pembobot jarak, sedangkan bandwidth menentukan sejauh mana wilayah sekitar ikut memengaruhi estimasi koefisien lokal.

Salah satu fungsi kernel yang umum digunakan adalah kernel Gaussian, dengan bentuk:

\[ w_{ij} = \exp\left(-\frac{d_{ij}^{2}}{2b^{2}}\right) \]

Selain itu, kernel bi-square dapat dituliskan sebagai:

\[ w_{ij} = \begin{cases} \left(1-\left(\frac{d_{ij}}{b}\right)^2\right)^2, & d_{ij} < b \\ 0, & d_{ij} \geq b \end{cases} \]

Keterangan:

  • \(w_{ij}\) adalah bobot spasial antara wilayah ke-\(i\) dan ke-\(j\);
  • \(d_{ij}\) adalah jarak antara wilayah ke-\(i\) dan ke-\(j\);
  • \(b\) adalah bandwidth.

Bandwidth dapat berbentuk fixed atau adaptive. Fixed bandwidth menggunakan jarak yang sama untuk seluruh wilayah, sedangkan adaptive bandwidth menyesuaikan jumlah tetangga pada setiap wilayah. Pemilihan kernel dan bandwidth terbaik dalam penelitian ini dilakukan dengan membandingkan nilai AIC dan R-square, di mana model yang lebih baik memiliki AIC lebih kecil dan R-square lebih besar.

7 Hasil Regresi Global OLS

Estimasi Parameter Model OLS
Variabel Estimate Std. Error t value Pr(>&#124;t&#124;)
(Intercept) 77.30087 4.07430 18.97280 0.00000
X1_Balita_Gizi_Kurang 0.00024 0.00031 0.78170 0.44272
X2_Apotek -0.01624 0.01420 -1.14371 0.26504
X3_Merokok_15_24 0.13403 0.19117 0.70110 0.49059
X4_Sanitasi_Layak 0.04691 0.02880 1.62882 0.11759
Ringkasan Kinerja Model OLS
Ukuran Nilai
AIC 125.8626
R-square 0.1572
Adjusted R-square 0.0040
p-value F-statistic 0.4158

Interpretasi OLS: Nilai R-square model OLS sebesar 0.1572 menunjukkan bahwa variabel X1–X4 mampu menjelaskan sekitar 15.72% variasi Indeks Kesehatan. Secara teori, OLS hanya menangkap hubungan rata-rata seluruh wilayah. Jika koefisien tidak signifikan secara global, hal tersebut tidak langsung berarti variabel tidak penting sama sekali, karena pengaruhnya mungkin berbeda pada setiap wilayah. Oleh karena itu, analisis dilanjutkan dengan GWR untuk menangkap kemungkinan variasi lokal.

8 Uji Asumsi Model OLS

Hasil Uji Asumsi Model OLS
Asumsi Metode P_Value Kesimpulan
Normalitas residual Shapiro-Wilk 0.3838 Terpenuhi
Heteroskedastisitas Breusch-Pagan 0.6897 Tidak terindikasi heteroskedastisitas
Autokorelasi non-spasial Durbin-Watson 0.3556 Tidak terindikasi autokorelasi non-spasial
Hasil Uji Multikolinearitas
Variabel VIF Kesimpulan
X1_Balita_Gizi_Kurang 3.2656 Tidak ada multikolinearitas serius
X2_Apotek 3.0648 Tidak ada multikolinearitas serius
X3_Merokok_15_24 1.3145 Tidak ada multikolinearitas serius
X4_Sanitasi_Layak 1.2668 Tidak ada multikolinearitas serius

Interpretasi uji asumsi: Residual model OLS memenuhi asumsi normalitas apabila p-value Shapiro-Wilk lebih besar dari 0,05. Uji Breusch-Pagan digunakan untuk melihat apakah terdapat heteroskedastisitas; p-value lebih besar dari 0,05 menunjukkan bahwa varians residual relatif homogen. Nilai VIF yang lebih kecil dari 5 menunjukkan tidak terdapat masalah multikolinearitas serius antarvariabel independen.

9 Uji Autokorelasi Spasial Moran’s I

Hasil Uji Moran’s I
Matriks_Pembobot Moran_I P_Value Kesimpulan
Queen Contiguity 0.2986 0.0082 Terdapat autokorelasi spasial
Rook Contiguity 0.2986 0.0082 Terdapat autokorelasi spasial
Residual OLS Queen 0.2297 0.0274 Residual masih berpola spasial

Interpretasi Moran’s I: Nilai Moran’s I yang positif menunjukkan bahwa wilayah berdekatan cenderung memiliki Indeks Kesehatan yang mirip. Jika p-value kurang dari 0,05, maka terdapat autokorelasi spasial yang signifikan. Hasil pada residual OLS juga penting karena menunjukkan apakah model global masih meninggalkan pola spasial. Apabila residual OLS signifikan, maka penggunaan model lokal seperti GWR menjadi semakin relevan.

10 Pemilihan Kernel dan Bandwidth GWR

## Adaptive bandwidth (number of nearest neighbours): 24 AICc value: 129.2846 
## Adaptive bandwidth (number of nearest neighbours): 23 AICc value: 129.2818 
## Adaptive bandwidth (number of nearest neighbours): 21 AICc value: 129.5005 
## Adaptive bandwidth (number of nearest neighbours): 23 AICc value: 129.2818
## Adaptive bandwidth (number of nearest neighbours): 24 AICc value: 132.728 
## Adaptive bandwidth (number of nearest neighbours): 23 AICc value: 133.5066 
## Adaptive bandwidth (number of nearest neighbours): 26 AICc value: 131.8902 
## Adaptive bandwidth (number of nearest neighbours): 26 AICc value: 131.8902
## Adaptive bandwidth (number of nearest neighbours): 24 AICc value: 131.0717 
## Adaptive bandwidth (number of nearest neighbours): 23 AICc value: 131.708 
## Adaptive bandwidth (number of nearest neighbours): 26 AICc value: 130.5725 
## Adaptive bandwidth (number of nearest neighbours): 26 AICc value: 130.5725
## Fixed bandwidth: 143929.2 AICc value: 129.5687 
## Fixed bandwidth: 88970.91 AICc value: 131.5557 
## Fixed bandwidth: 177895.3 AICc value: 129.5633 
## Fixed bandwidth: 198887.4 AICc value: 129.61 
## Fixed bandwidth: 164921.4 AICc value: 129.5452 
## Fixed bandwidth: 156903.1 AICc value: 129.5434 
## Fixed bandwidth: 151947.5 AICc value: 129.5479 
## Fixed bandwidth: 159965.8 AICc value: 129.5429 
## Fixed bandwidth: 161858.6 AICc value: 129.5434 
## Fixed bandwidth: 158795.9 AICc value: 129.5429
## Fixed bandwidth: 143929.2 AICc value: 138.6657 
## Fixed bandwidth: 88970.91 AICc value: 212.5693 
## Fixed bandwidth: 177895.3 AICc value: 133.8372 
## Fixed bandwidth: 198887.4 AICc value: 132.49 
## Fixed bandwidth: 211861.3 AICc value: 131.6695 
## Fixed bandwidth: 219879.6 AICc value: 131.1963 
## Fixed bandwidth: 224835.2 AICc value: 130.9339 
## Fixed bandwidth: 227897.9 AICc value: 130.7849 
## Fixed bandwidth: 229790.8 AICc value: 130.6978 
## Fixed bandwidth: 230960.7 AICc value: 130.6458 
## Fixed bandwidth: 231683.7 AICc value: 130.6145 
## Fixed bandwidth: 232130.5 AICc value: 130.5954 
## Fixed bandwidth: 232406.7 AICc value: 130.5836 
## Fixed bandwidth: 232577.4 AICc value: 130.5765 
## Fixed bandwidth: 232682.8 AICc value: 130.572 
## Fixed bandwidth: 232748 AICc value: 130.5693 
## Fixed bandwidth: 232788.3 AICc value: 130.5676 
## Fixed bandwidth: 232813.2 AICc value: 130.5666 
## Fixed bandwidth: 232828.6 AICc value: 130.5659 
## Fixed bandwidth: 232838.1 AICc value: 130.5655 
## Fixed bandwidth: 232844 AICc value: 130.5653 
## Fixed bandwidth: 232847.6 AICc value: 130.5651 
## Fixed bandwidth: 232849.9 AICc value: 130.565
## Fixed bandwidth: 143929.2 AICc value: 136.5683 
## Fixed bandwidth: 88970.91 AICc value: 207.9811 
## Fixed bandwidth: 177895.3 AICc value: 132.4906 
## Fixed bandwidth: 198887.4 AICc value: 131.676 
## Fixed bandwidth: 211861.3 AICc value: 131.1415 
## Fixed bandwidth: 219879.6 AICc value: 130.7806 
## Fixed bandwidth: 224835.2 AICc value: 130.5595 
## Fixed bandwidth: 227897.9 AICc value: 130.4271 
## Fixed bandwidth: 229790.8 AICc value: 130.3476 
## Fixed bandwidth: 230960.7 AICc value: 130.2995 
## Fixed bandwidth: 231683.7 AICc value: 130.2702 
## Fixed bandwidth: 232130.5 AICc value: 130.2522 
## Fixed bandwidth: 232406.7 AICc value: 130.2412 
## Fixed bandwidth: 232577.4 AICc value: 130.2344 
## Fixed bandwidth: 232682.8 AICc value: 130.2302 
## Fixed bandwidth: 232748 AICc value: 130.2276 
## Fixed bandwidth: 232788.3 AICc value: 130.226 
## Fixed bandwidth: 232813.2 AICc value: 130.225 
## Fixed bandwidth: 232828.6 AICc value: 130.2244 
## Fixed bandwidth: 232838.1 AICc value: 130.224 
## Fixed bandwidth: 232844 AICc value: 130.2238 
## Fixed bandwidth: 232847.6 AICc value: 130.2237 
## Fixed bandwidth: 232849.9 AICc value: 130.2236
Perbandingan Kernel dan Bandwidth GWR
Kernel AIC AICc R_Square Bandwidth
Adaptive gaussian 115.5789 129.2818 0.2791 23.0
Adaptive bisquare 105.1670 131.8902 0.5692 26.0
Adaptive tricube 106.3097 130.5725 0.5416 26.0
Fixed gaussian 115.6944 129.5429 0.2774 158795.9
Fixed bisquare 112.6417 130.5650 0.3847 232849.9
Fixed tricube 113.9549 130.2236 0.3421 232849.9

Interpretasi pemilihan kernel: Kernel dan bandwidth menentukan seberapa besar pengaruh wilayah sekitar terhadap estimasi lokal suatu kabupaten/kota. Model yang lebih baik ditandai oleh nilai AIC yang lebih kecil dan R-square yang lebih besar. Berdasarkan hasil perbandingan, kernel terbaik berdasarkan AIC terkecil adalah Adaptive bisquare dengan bandwidth sebesar 26, AIC sebesar 105.167, dan R-square sebesar 0.5692. Artinya, model tersebut paling efisien dalam menjelaskan variasi Indeks Kesehatan dengan mempertimbangkan struktur lokal wilayah.

11 Model GWR Final

## Adaptive bandwidth (number of nearest neighbours): 24 AICc value: 132.728 
## Adaptive bandwidth (number of nearest neighbours): 23 AICc value: 133.5066 
## Adaptive bandwidth (number of nearest neighbours): 26 AICc value: 131.8902 
## Adaptive bandwidth (number of nearest neighbours): 26 AICc value: 131.8902
Perbandingan Model OLS dan GWR
Model AIC R_Square
OLS 125.8626 0.1572
GWR 105.1670 0.5692

Interpretasi model GWR: Model GWR menghasilkan R-square sebesar 0.5692, lebih tinggi dibandingkan R-square OLS sebesar 0.1572. Nilai AIC GWR sebesar 105.167 juga lebih kecil dibandingkan AIC OLS sebesar 125.8626. Secara teori, AIC yang lebih kecil menunjukkan model yang lebih baik dengan mempertimbangkan ketepatan model dan kompleksitasnya. Dengan demikian, GWR lebih sesuai dibandingkan OLS dalam menjelaskan Indeks Kesehatan karena mampu menangkap perbedaan pengaruh antarwilayah.

12 Koefisien Lokal GWR

Koefisien Lokal Model GWR
Kabupaten_Kota Intercept X1_Balita_Gizi_Kurang X2_Apotek X3_Merokok_15_24 X4_Sanitasi_Layak Local_R2
Bogor 85.50040 0.00031 -0.02800 -0.33582 0.04774 0.77436
Sukabumi 86.44736 0.00027 -0.02570 -0.42759 0.05219 0.74651
Cianjur 86.62774 0.00031 -0.02564 -0.42013 0.04456 0.62606
Bandung 86.45160 0.00037 -0.02152 -0.28155 0.00525 0.53972
Garut 79.02814 0.00022 -0.00831 0.08275 0.02087 0.50886
Tasikmalaya 76.61691 0.00010 -0.00276 0.20416 0.02887 0.45755
Ciamis 76.58057 0.00004 -0.00059 0.22508 0.02643 0.41187
Kuningan 77.21438 0.00002 -0.00030 0.21212 0.02144 0.38439
Cirebon 78.15701 0.00002 -0.00098 0.18477 0.01514 0.38494
Majalengka 79.22075 0.00007 -0.00282 0.13827 0.00980 0.45428
Sumedang 81.82497 0.00014 -0.00670 0.03184 -0.00281 0.49916
Indramayu 82.83930 0.00011 -0.00666 0.03565 -0.01337 0.50479
Subang 86.73306 0.00036 -0.02285 -0.18238 -0.00971 0.57505
Purwakarta 85.99263 0.00038 -0.02814 -0.28146 0.02575 0.61167
Karawang 85.06543 0.00037 -0.02917 -0.23353 0.03138 0.70254
Bekasi 84.92825 0.00035 -0.02921 -0.25839 0.03954 0.76352
Bandung Barat 86.86997 0.00036 -0.02680 -0.35583 0.02612 0.58302
Pangandaran 75.54982 0.00003 0.00018 0.25892 0.03321 0.42243
Kota Bogor 85.56051 0.00031 -0.02795 -0.33932 0.04747 0.76541
Kota Sukabumi 86.29566 0.00030 -0.02674 -0.39872 0.04796 0.69778
Kota Bandung 88.17747 0.00034 -0.02166 -0.30746 -0.01052 0.54360
Kota Cirebon 78.17074 0.00002 -0.00099 0.18443 0.01505 0.38461
Kota Bekasi 85.02755 0.00033 -0.02895 -0.28076 0.04306 0.77880
Kota Depok 85.22282 0.00032 -0.02849 -0.30872 0.04625 0.78551
Kota Cimahi 87.41083 0.00037 -0.02496 -0.32949 0.00937 0.56075
Kota Tasikmalaya 76.78518 0.00008 -0.00201 0.20719 0.02659 0.44564
Kota Banjar 76.11847 0.00002 0.00024 0.24437 0.02894 0.39857

Interpretasi koefisien lokal: Koefisien lokal menunjukkan bahwa pengaruh variabel tidak sama di seluruh wilayah. Koefisien positif berarti kenaikan variabel tersebut berkaitan dengan kenaikan Indeks Kesehatan pada wilayah tertentu. Sebaliknya, koefisien negatif berarti kenaikan variabel tersebut berkaitan dengan penurunan Indeks Kesehatan pada wilayah tertentu. Namun, interpretasi ini tetap bersifat hubungan statistik, bukan hubungan sebab-akibat mutlak.

13 Peta Koefisien Lokal GWR

13.1 Peta Koefisien X1

Interpretasi: Koefisien X1 menunjukkan bagaimana hubungan jumlah balita bergizi kurang dengan Indeks Kesehatan berbeda antarwilayah. Koefisien tertinggi terdapat pada Purwakarta, sedangkan koefisien terendah terdapat pada Kuningan. Jika koefisien bernilai positif, maka peningkatan jumlah balita bergizi kurang berkaitan dengan kenaikan Indeks Kesehatan pada model lokal, tetapi hasil ini perlu ditafsirkan hati-hati karena X1 merupakan data jumlah dan dapat dipengaruhi oleh ukuran penduduk.

13.2 Peta Koefisien X2

Interpretasi: Koefisien X2 menggambarkan hubungan lokal antara jumlah desa/kelurahan yang memiliki apotek dan Indeks Kesehatan. Koefisien tertinggi terdapat pada Kota Banjar, sedangkan koefisien terendah terdapat pada Bekasi. Apabila koefisien negatif, maka secara lokal peningkatan jumlah apotek tidak selalu diikuti oleh peningkatan Indeks Kesehatan. Hal ini dapat terjadi karena jumlah apotek belum tentu menggambarkan kualitas atau pemerataan akses kesehatan secara keseluruhan.

13.3 Peta Koefisien X3

Interpretasi: Koefisien X3 menunjukkan bahwa hubungan perilaku merokok usia muda dengan Indeks Kesehatan tidak seragam di seluruh wilayah. Koefisien tertinggi terdapat pada Pangandaran, sedangkan koefisien terendah terdapat pada Sukabumi. Dalam konteks kesehatan, koefisien positif atau negatif perlu dibaca bersama kondisi wilayah lain, karena variabel merokok dapat berkaitan dengan faktor sosial, ekonomi, dan perilaku kesehatan yang lebih luas.

13.4 Peta Koefisien X4

Interpretasi: Koefisien X4 menunjukkan hubungan lokal antara sanitasi layak dan Indeks Kesehatan. Koefisien tertinggi terdapat pada Sukabumi, sedangkan koefisien terendah terdapat pada Indramayu. Jika koefisien bernilai positif, maka semakin tinggi persentase rumah tangga dengan sanitasi layak cenderung berkaitan dengan Indeks Kesehatan yang lebih tinggi pada wilayah tersebut.

14 Pembahasan Umum

Hasil OLS menunjukkan bahwa model global memiliki kemampuan penjelasan yang terbatas. Hal ini terlihat dari nilai R-square OLS yang relatif rendah. Meskipun uji asumsi OLS secara umum terpenuhi, hasil Moran’s I menunjukkan adanya pola spasial pada Indeks Kesehatan dan residual OLS. Artinya, lokasi wilayah perlu dipertimbangkan dalam pemodelan.

Model GWR memberikan hasil yang lebih baik dibandingkan OLS berdasarkan nilai AIC yang lebih rendah dan R-square yang lebih tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa hubungan antara faktor-faktor kesehatan dan Indeks Kesehatan tidak bersifat sama di seluruh wilayah. Dengan kata lain, setiap kabupaten/kota memiliki karakteristik lokal yang dapat memengaruhi kekuatan dan arah hubungan antarvariabel.

Secara umum, hasil ini menunjukkan bahwa kebijakan kesehatan sebaiknya tidak hanya dibuat secara seragam untuk seluruh wilayah. Pemerintah daerah perlu mempertimbangkan kondisi lokal, seperti wilayah dengan sanitasi rendah, wilayah dengan jumlah balita bergizi kurang tinggi, atau wilayah dengan perilaku merokok usia muda yang tinggi.

15 Kesimpulan

15.1 Kesimpulan Statistik

  1. Model OLS menghasilkan R-square sebesar 0.1572 dan AIC sebesar 125.8626.
  2. Hasil Moran’s I menunjukkan adanya autokorelasi spasial pada Indeks Kesehatan dan residual OLS, sehingga penggunaan pendekatan spasial dapat dipertimbangkan.
  3. Kernel terbaik untuk model GWR berdasarkan AIC terkecil adalah Adaptive bisquare dengan bandwidth 26.
  4. Model GWR menghasilkan R-square sebesar 0.5692 dan AIC sebesar 105.167.
  5. Berdasarkan perbandingan AIC dan R-square, model GWR lebih baik dibandingkan OLS dalam memodelkan Indeks Kesehatan kabupaten/kota di Jawa Barat tahun 2024.

15.2 Kesimpulan Umum

Secara umum, Indeks Kesehatan kabupaten/kota di Jawa Barat tahun 2024 memiliki pola yang berbeda antarwilayah. Faktor seperti gizi balita, ketersediaan apotek, perilaku merokok usia muda, dan sanitasi layak tidak memberikan pengaruh yang sama di setiap daerah. Oleh karena itu, hasil analisis ini menekankan pentingnya pendekatan kebijakan kesehatan yang lebih memperhatikan kondisi lokal masing-masing kabupaten/kota.

Inti hasil: Model GWR lebih sesuai dibandingkan OLS karena mampu menangkap variasi lokal antarwilayah. Artinya, faktor kesehatan di Jawa Barat tidak cukup dilihat sebagai satu pola rata-rata provinsi, tetapi perlu dilihat berdasarkan karakteristik setiap kabupaten/kota.

16 Daftar Pustaka

Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Barat. (2024). Indeks Kesehatan Kabupaten/Kota di Jawa Barat. BPS Provinsi Jawa Barat.

Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Barat. (2024). Jumlah Desa/Kelurahan yang Memiliki Sarana Kesehatan Menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Jawa Barat. BPS Provinsi Jawa Barat.

Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Barat. (2024). Persentase Penduduk Usia 15 Tahun ke Atas yang Merokok dalam Sebulan Terakhir Menurut Kabupaten/Kota dan Kelompok Umur di Provinsi Jawa Barat. BPS Provinsi Jawa Barat.

Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Barat. (2024). Persentase Rumah Tangga yang Memiliki Akses terhadap Sanitasi Layak. BPS Provinsi Jawa Barat.

Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat. (2024). Jumlah Balita Bergizi Kurang Berdasarkan Kabupaten/Kota di Jawa Barat. Open Data Jabar.

Fotheringham, A. S., Brunsdon, C., & Charlton, M. (2002). Geographically Weighted Regression: The Analysis of Spatially Varying Relationships. John Wiley & Sons.

Anselin, L. (1988). Spatial Econometrics: Methods and Models. Kluwer Academic Publishers.

Tobler, W. R. (1970). A computer movie simulating urban growth in the Detroit region. Economic Geography, 46(sup1), 234–240.