Nama: Mahdayani Putri
Yunizar
NPM: 14072025004
Ketahanan pangan merupakan salah satu indikator penting dalam pembangunan wilayah. Indeks Ketahanan Pangan merupakan ukuran dari beberapa indikator yang menghasilkan nilai komposit untuk mencerminkan status ketahanan pangan suatu wilayah. Ketahanan pangan juga berperan penting dalam pembangunan berkelanjutan karena berkaitan dengan ketersediaan pangan, keseimbangan ekonomi, pencegahan kemiskinan, dan pengurangan ketimpangan sosial (Badan Pangan Nasional, 2025).
Wilayah Papua memiliki karakteristik geografis yang kompleks, meliputi wilayah pesisir, kepulauan, dataran rendah, dan wilayah pegunungan yang relatif sulit dijangkau. Kondisi geografis tersebut dapat menyebabkan perbedaan capaian ketahanan pangan antar kabupaten/kota. Penelitian Hastuti & Yulianto (2024) menunjukkan bahwa Papua dan Papua Barat termasuk wilayah dengan Indeks Ketahanan Pangan rendah, serta terdapat kecenderungan wilayah dengan kategori IKP tinggi berdekatan dengan wilayah kategori tinggi, sedangkan wilayah dengan kategori rendah juga cenderung berdekatan dengan wilayah kategori rendah.
Pendekatan spasial diperlukan karena nilai suatu variabel pada satu wilayah dapat berkaitan dengan nilai variabel pada wilayah sekitarnya. Hastuti & Yulianto (2024) menjelaskan bahwa spatial dependency menunjukkan adanya hubungan antar lokasi objek penelitian, sehingga kondisi Indeks Ketahanan Pangan pada suatu wilayah dapat berhubungan dengan kondisi wilayah sekitarnya.
Penelitian ini menggunakan pendekatan Spatial Econometrics dengan model utama Spatial Durbin Model (SDM). Model SDM dipilih karena dapat memasukkan pengaruh variabel dependen wilayah tetangga melalui komponen \(WY\) dan pengaruh variabel independen wilayah tetangga melalui komponen \(WX\). Elhorst (2010) menegaskan bahwa Spatial Durbin Model penting dalam spatial econometrics karena memungkinkan pembahasan efek tidak langsung sebagai dasar untuk menguji ada atau tidaknya spatial spillover.
Penelitian ini memiliki beberapa rumusan masalah sebagai berikut.
Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan sebaran spasial IKP kabupaten/kota di Wilayah Papua tahun 2024, membentuk matriks bobot spasial \(W\), menguji autokorelasi spasial menggunakan Moran’s I, mengestimasi Spatial Durbin Model, serta menginterpretasikan efek langsung, efek tidak langsung, dan efek total dari variabel penjelas terhadap IKP.
Data yang digunakan dalam penelitian ini merupakan data sekunder tahun 2024 dengan unit observasi sebanyak 42 kabupaten/kota di Wilayah Papua. Variabel dependen dalam penelitian ini adalah Indeks Ketahanan Pangan. Variabel independen meliputi Umur Harapan Hidup, Rata-rata Lama Sekolah, prevalensi stunting, persentase penduduk miskin, dan log PDRB per kapita. Pemilihan variabel tersebut merujuk pada penelitian Hastuti & Yulianto (2024), yang menggunakan variabel kesehatan, stunting, kemiskinan, pengangguran, dan pendidikan dalam analisis spasial terhadap Indeks Ketahanan Pangan di Papua dan Papua Barat.
Data IKP diperoleh dari publikasi Badan Pangan Nasional. Data UHH, RLS, persentase penduduk miskin, dan PDRB per kapita diperoleh dari Badan Pusat Statistik. Data prevalensi balita stunting diperoleh dari Survei Status Gizi Indonesia tahun 2024. Data batas administrasi kabupaten/kota diperoleh dari geoBoundaries ADM2 Indonesia.
| Simbol | Variabel | Keterangan | Satuan |
|---|---|---|---|
| Y | IKP | Indeks Ketahanan Pangan kabupaten/kota | Indeks |
| X1 | UHH | Umur Harapan Hidup saat lahir | Tahun |
| X2 | RLS | Rata-rata Lama Sekolah | Tahun |
| X3 | Stunting | Prevalensi balita stunting | Persen |
| X4 | Kemiskinan | Persentase penduduk miskin | Persen |
| X5 | Log PDRB | Logaritma natural PDRB per kapita | Log ribu rupiah |
Matriks bobot spasial \(W\) digunakan untuk merepresentasikan hubungan kedekatan antarwilayah. Hastuti & Yulianto (2024) menjelaskan bahwa matriks bobot spasial menggambarkan kedekatan atau hubungan antar lokasi pengamatan, dengan informasi kedekatan yang dapat dibentuk berdasarkan hubungan ketetanggaan atau jarak. Matriks \(W\) dalam penelitian ini dibentuk menggunakan K-Nearest Neighbors dengan \(k = 4\). Pembobot KNN dipilih karena Wilayah Papua memiliki karakteristik geografis yang kompleks, terdiri atas wilayah daratan, kepulauan, dan pegunungan, sehingga hubungan spasial lebih sesuai dibangun berdasarkan kedekatan jarak antar pusat wilayah.
Matriks bobot spasial kemudian disimetriskan dan distandardisasi per baris atau row-standardized. Standardisasi baris dilakukan agar total bobot pada setiap wilayah bernilai satu, sehingga pengaruh spasial dari wilayah tetangga dapat diinterpretasikan sebagai rata-rata tertimbang dari wilayah sekitar.
Moran’s I digunakan untuk menguji apakah nilai IKP antarwilayah memiliki pola spasial atau tersebar secara acak. Hastuti & Yulianto (2024) menjelaskan bahwa Moran’s I digunakan untuk mendeteksi pola spatial dependency, yaitu kondisi ketika nilai suatu variabel pada satu wilayah berkaitan dengan nilai variabel pada wilayah sekitarnya. Apabila p-value Moran’s I lebih kecil dari 0,05, maka terdapat autokorelasi spasial yang signifikan.
Rumus Moran’s I adalah:
\[I = \frac{n}{S_0} \frac{\sum_{i=1}^{n}\sum_{j=1}^{n} w_{ij}(x_i-\bar{x})(x_j-\bar{x})} {\sum_{i=1}^{n}(x_i-\bar{x})^2}\]
dengan \(n\) adalah jumlah wilayah, \(w_{ij}\) adalah elemen matriks bobot spasial, \(x_i\) adalah nilai IKP wilayah ke-i, \(\bar{x}\) adalah rata-rata IKP, dan \(S_0\) adalah jumlah seluruh elemen bobot spasial.
Model utama dalam penelitian ini adalah Spatial Durbin Model. Model SDM digunakan karena mampu memasukkan pengaruh spasial dari variabel dependen dan variabel independen wilayah tetangga. Elhorst (2014) menjelaskan bahwa model ekonometrika spasial perlu diperhatikan bukan hanya dari sisi spesifikasi dan estimasi, tetapi juga dari interpretasi efek spasialnya. Spatial Durbin Model sesuai digunakan ketika peneliti ingin melihat pengaruh variabel pada wilayah itu sendiri sekaligus potensi spillover dari wilayah tetangga.
Bentuk umum Spatial Durbin Model adalah:
\[Y = \rho WY + X\beta + WX\theta + \varepsilon\]
Komponen \(WY\) menunjukkan spatial lag dari variabel dependen, sedangkan \(WX\) menunjukkan spatial lag dari variabel independen. Komponen \(\rho\) menunjukkan koefisien dependensi spasial pada variabel dependen, \(\beta\) menunjukkan koefisien pengaruh variabel independen pada wilayah itu sendiri, dan \(\theta\) menunjukkan koefisien pengaruh variabel independen dari wilayah tetangga.
Model ini memungkinkan interpretasi direct effect, indirect effect, dan total effect. LeSage & Pace (2009) menjelaskan bahwa interpretasi model spasial tidak cukup hanya berdasarkan koefisien regresi, karena perubahan pada suatu wilayah dapat memengaruhi wilayah lain melalui struktur spasial. Direct effect menunjukkan pengaruh variabel pada wilayah itu sendiri, indirect effect menunjukkan pengaruh tidak langsung atau spillover dari wilayah tetangga, sedangkan total effect merupakan gabungan direct effect dan indirect effect.
Data terdiri atas 42 kabupaten/kota di Wilayah Papua. Peta IKP digunakan untuk melihat sebaran spasial ketahanan pangan. Secara umum, wilayah seperti Kabupaten Merauke, Kabupaten Mimika, Kota Jayapura, dan Kota Sorong memiliki IKP relatif tinggi. Sebaliknya, beberapa wilayah pegunungan seperti Kabupaten Intan Jaya, Nduga, Lanny Jaya, Tolikara, Paniai, dan Mamberamo Tengah memiliki IKP relatif rendah.
Gambar 1. Peta IKP Wilayah Papua Tahun 2024
Interpretasi Gambar 1. Gambar 1 menunjukkan bahwa wilayah dengan IKP rendah cenderung terkonsentrasi pada wilayah pegunungan. Pola ini mengindikasikan adanya ketimpangan spasial dalam capaian ketahanan pangan.
Matriks bobot spasial dibentuk menggunakan KNN k = 4 dan disimetriskan sehingga hubungan ketetanggaan lebih stabil. Terdapat 42 wilayah dengan 216 hubungan tetangga. Bobot kemudian distandardisasi per baris agar total bobot setiap wilayah bernilai satu.
| Komponen | Nilai |
|---|---|
| Jenis pembobot | K-Nearest Neighbors |
| Nilai k | 4 |
| Jumlah wilayah | 42 |
| Jumlah hubungan tetangga | 216 |
| Rata-rata jumlah tetangga | 5,142857 |
| Jumlah tetangga minimum | 4 |
| Jumlah tetangga maksimum | 8 |
| Standardisasi bobot | Row-standardized |
Interpretasi Tabel 2. Matriks bobot spasial KNN k = 4 menghasilkan rata-rata jumlah tetangga sebesar 5,142857. Jumlah tetangga minimum adalah 4, sedangkan jumlah tetangga maksimum adalah 8.
Pengujian autokorelasi spasial dilakukan menggunakan Moran’s I guna mengetahui apakah nilai Indeks Ketahanan Pangan antar kabupaten/kota di Wilayah Papua membentuk pola spasial atau tersebar secara acak. Hasil uji Moran’s I pada variabel IKP disajikan pada Tabel 3.
| Statistik | Nilai |
|---|---|
| Moran’s I | 0,133022578 |
| Expected value | -0,024390244 |
| Variance | 0,008428964 |
| Standard deviate | 1,7146 |
| p-value | 0,043213 |
Interpretasi Tabel 3. Nilai Moran’s I sebesar 0,1330 dengan p-value 0,043213. Karena p-value lebih kecil dari 0,05, maka terdapat autokorelasi spasial positif yang signifikan pada IKP kabupaten/kota di Wilayah Papua tahun 2024.
Estimasi Spatial Durbin Model dilakukan guna menganalisis pengaruh UHH, RLS, stunting, kemiskinan, dan log PDRB terhadap IKP dengan mempertimbangkan keterkaitan spasial antarwilayah. Model ini memasukkan pengaruh variabel independen pada wilayah itu sendiri serta pengaruh variabel independen dari wilayah tetangga melalui komponen lag spasial. Hasil estimasi Spatial Durbin Model disajikan pada Tabel 4.
| Variabel | Koefisien | p-value | Interpretasi |
|---|---|---|---|
| Intercept | 39,45990 | < 0,001 | Signifikan |
| UHH | 3,25514 | 0,054737 | Signifikan lemah 10% |
| RLS | 2,80884 | 0,389897 | Tidak signifikan |
| Stunting | -2,53256 | 0,233390 | Tidak signifikan |
| Kemiskinan | -12,19208 | < 0,001 | Negatif signifikan |
| Log PDRB | 0,69366 | 0,772729 | Tidak signifikan |
| Lag UHH | 0,70438 | 0,859364 | Tidak signifikan |
| Lag RLS | 0,65203 | 0,927052 | Tidak signifikan |
| Lag Stunting | -0,90505 | 0,873337 | Tidak signifikan |
| Lag Kemiskinan | 7,44431 | 0,091726 | Signifikan lemah 10% |
| Lag Log PDRB | 0,62765 | 0,904470 | Tidak signifikan |
Interpretasi Tabel 4. Hasil estimasi SDM menunjukkan bahwa kemiskinan memiliki koefisien sebesar -12,19208 dengan p-value < 0,001. Artinya, kemiskinan berpengaruh negatif signifikan terhadap IKP. Nilai rho model SDM sebesar 0,090264 dengan p-value 0,697606.
Hasil Spatial Durbin Model tidak hanya dilihat dari koefisien estimasi, tetapi juga melalui efek langsung, efek tidak langsung, dan efek total. Efek langsung menunjukkan pengaruh variabel terhadap IKP pada wilayah itu sendiri, sedangkan efek tidak langsung menunjukkan kemungkinan pengaruh spillover dari wilayah tetangga. Ringkasan efek spasial SDM disajikan pada Tabel 5.
| Variabel | Direct | p-Direct | Indirect | p-Indirect | Total | p-Total |
|---|---|---|---|---|---|---|
| UHH | 3,2734782 | 0,054423 | 1,0789121 | 0,809784 | 4,3523903 | 0,402262 |
| RLS | 2,8254721 | 0,385331 | 0,9787877 | 0,911237 | 3,8042598 | 0,680328 |
| Stunting | -2,5533801 | 0,250443 | -1,2253013 | 0,860892 | -3,7786814 | 0,659148 |
| Kemiskinan | -12,0755603 | < 0,001 | 6,8567263 | 0,137430 | -5,2188340 | 0,279781 |
| Log PDRB | 0,7063411 | 0,810597 | 0,7460693 | 0,897612 | 1,4524104 | 0,839318 |
Peta prediksi SDM digunakan untuk melihat nilai IKP yang diperkirakan oleh model berdasarkan variabel penjelas dan struktur spasial. Peta residual digunakan untuk melihat apakah masih terdapat pola kesalahan model yang mengelompok secara spasial.
plot_map(papua_sf, "prediksi_sdm", "Peta Prediksi IKP Berdasarkan Spatial Durbin Model", "Prediksi IKP")Gambar 2. Peta Prediksi IKP SDM
Interpretasi Gambar 2. Gambar 2 menunjukkan pola prediksi IKP berdasarkan model SDM. Secara umum, wilayah dengan karakteristik sosial ekonomi lebih baik cenderung memiliki prediksi IKP lebih tinggi, sedangkan wilayah pegunungan dengan kemiskinan tinggi cenderung memiliki prediksi IKP lebih rendah.
plot_map(papua_sf, "residual_sdm", "Peta Residual Spatial Durbin Model", "Residual", residual = TRUE)Gambar 3. Peta Residual SDM
Interpretasi Gambar 3. Gambar 3 menunjukkan sebaran residual dari hasil estimasi Spatial Durbin Model. Residual positif mengindikasikan bahwa nilai IKP aktual lebih tinggi dibandingkan nilai prediksi model, sedangkan residual negatif menunjukkan bahwa nilai IKP aktual lebih rendah dibandingkan nilai prediksi model. Secara visual, residual menyebar pada berbagai wilayah tanpa membentuk pengelompokan spasial yang sangat jelas.
Pengujian lanjutan terhadap residual dilakukan menggunakan Moran’s I residual guna memastikan ada atau tidaknya autokorelasi spasial yang masih tersisa pada kesalahan model. Hasil pengujian tersebut disajikan pada Tabel 6.
| Statistik | Nilai |
|---|---|
| Moran’s I residual | 0,032950548 |
| Expected value | -0,024390244 |
| Variance | 0,007970653 |
| p-value | 0,260349 |
Interpretasi Tabel 6. Hasil Moran’s I residual SDM menunjukkan nilai sebesar 0,032950548 dengan p-value 0,260349. Karena p-value lebih besar dari 0,05, residual SDM tidak memiliki autokorelasi spasial yang signifikan.
Penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan. Pertama, data yang digunakan merupakan data cross-section tahun 2024, sehingga belum menggambarkan perubahan ketahanan pangan dari waktu ke waktu. Kedua, variabel yang digunakan terbatas pada UHH, RLS, stunting, kemiskinan, dan log PDRB per kapita. Ketiga, matriks bobot spasial menggunakan KNN k = 4, sehingga hasil dapat berbeda apabila menggunakan pembobot lain seperti queen contiguity, rook contiguity, atau inverse distance.
Penelitian ini menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi IKP kabupaten/kota di Wilayah Papua tahun 2024 menggunakan Spatial Durbin Model. Output yang dihasilkan meliputi peta variabel, matriks bobot spasial W, Moran’s I, estimasi model, dan interpretasi efek spasial.
Hasil Moran’s I menunjukkan nilai sebesar 0,1330 dengan p-value 0,043213. Karena p-value lebih kecil dari 0,05, maka terdapat autokorelasi spasial positif yang signifikan pada IKP.
Hasil estimasi SDM menunjukkan bahwa persentase penduduk miskin berpengaruh negatif signifikan terhadap IKP. Koefisien kemiskinan sebesar -12,19208 dengan p-value < 0,001. Hasil efek spasial menunjukkan bahwa direct effect kemiskinan sebesar -12,0755603 dan signifikan. Namun, indirect effect kemiskinan tidak signifikan, sehingga belum terdapat bukti kuat bahwa kemiskinan wilayah tetangga memberikan efek spillover yang signifikan terhadap IKP.
Secara umum, ketahanan pangan kabupaten/kota di Wilayah Papua tahun 2024 lebih kuat dipengaruhi oleh karakteristik internal wilayah, terutama kemiskinan dan kondisi kesehatan penduduk, dibandingkan oleh pengaruh wilayah tetangga. Oleh karena itu, kebijakan peningkatan ketahanan pangan perlu diarahkan pada penurunan kemiskinan, peningkatan kesehatan masyarakat, perbaikan akses layanan dasar, dan prioritas intervensi pada wilayah pegunungan dengan IKP rendah.
Badan Pangan Nasional. (2025). Statistik Ketahanan Pangan 2024 (K. A. Bowo, Ed.). Pusat Data dan Informasi Pangan Badan Pangan Nasional.
Elhorst, J. P. (2010). Applied spatial econometrics: raising the bar. Spatial Economic Analysis, 5(1), 9–28.
Elhorst, J. P. (2014). Spatial econometrics: from cross-sectional data to spatial panels (Vol. 479). Springer.
Hastuti, D. S., & Yulianto, S. (2024). Factors affecting the resilience index food in Papua Province and West Papua Province using a spatial model approach. J Statistika: Jurnal Ilmiah Teori dan Aplikasi Statistika, 17(1), 635–644.
LeSage, J., & Pace, R. K. (2009). Introduction to spatial econometrics. Chapman and Hall/CRC.
Peta variabel tambahan ditempatkan pada lampiran karena bagian utama makalah difokuskan pada peta IKP, peta prediksi IKP, dan peta residual SDM.
Gambar A1. Peta UHH Wilayah Papua 2024
Gambar A2. Peta RLS Wilayah Papua 2024
plot_map(papua_sf, "stunting", "Peta Stunting Kabupaten/Kota di Wilayah Papua Tahun 2024", "Stunting")Gambar A3. Peta Stunting Wilayah Papua 2024
plot_map(papua_sf, "persentase_penduduk_miskin", "Peta Kemiskinan Kabupaten/Kota di Wilayah Papua Tahun 2024", "Kemiskinan")Gambar A4. Peta Kemiskinan Wilayah Papua 2024
plot_map(papua_sf, "log_pdrb", "Peta Log PDRB Kabupaten/Kota di Wilayah Papua Tahun 2024", "Log PDRB")Gambar A5. Peta Log PDRB Wilayah Papua 2024
Bagian ini menampilkan output tambahan secara langsung dari objek hasil analisis R. Output tidak hanya ditulis sebagai nama file, tetapi ditampilkan dalam bentuk tabel dan output teks.
Tabel berikut menampilkan matriks bobot spasial \(W\) yang dibentuk menggunakan K-Nearest Neighbors dengan \(k = 4\), kemudian disimetriskan dan distandardisasi per baris.
| Wilayah | W1 | W2 | W3 | W4 | W5 | W6 | W7 | W8 | W9 | W10 | W11 | W12 | W13 | W14 | W15 | W16 | W17 | W18 | W19 | W20 | W21 | W22 | W23 | W24 | W25 | W26 | W27 | W28 | W29 | W30 | W31 | W32 | W33 | W34 | W35 | W36 | W37 | W38 | W39 | W40 | W41 | W42 |
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Kabupaten Manokwari | 0.0000 | 0.0000 | 0.1667 | 0.0000 | 0.0000 | 0.1667 | 0.1667 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.1667 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.1667 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.1667 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 |
| Kabupaten Fakfak | 0.0000 | 0.0000 | 0.2500 | 0.2500 | 0.2500 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.2500 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 |
| Kabupaten Teluk Bintuni | 0.1429 | 0.1429 | 0.0000 | 0.1429 | 0.1429 | 0.1429 | 0.1429 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.1429 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 |
| Kabupaten Teluk Wondama | 0.0000 | 0.2500 | 0.2500 | 0.0000 | 0.2500 | 0.2500 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 |
| Kabupaten Kaimana | 0.0000 | 0.2500 | 0.2500 | 0.2500 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.2500 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 |
| Kabupaten Manokwari Selatan | 0.2000 | 0.0000 | 0.2000 | 0.2000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.2000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.2000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 |
| Kabupaten Pegunungan Arfak | 0.2500 | 0.0000 | 0.2500 | 0.0000 | 0.0000 | 0.2500 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.2500 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 |
| Kabupaten Sorong | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.2000 | 0.2000 | 0.2000 | 0.2000 | 0.2000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 |
| Kabupaten Sorong Selatan | 0.0000 | 0.1667 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.1667 | 0.0000 | 0.1667 | 0.1667 | 0.1667 | 0.1667 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 |
| Kabupaten Raja Ampat | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.2500 | 0.2500 | 0.0000 | 0.0000 | 0.2500 | 0.2500 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 |
| Kabupaten Tambrauw | 0.1667 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.1667 | 0.1667 | 0.1667 | 0.0000 | 0.0000 | 0.1667 | 0.1667 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 |
| Kabupaten Maybrat | 0.0000 | 0.0000 | 0.1667 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.1667 | 0.1667 | 0.1667 | 0.1667 | 0.0000 | 0.1667 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 |
| Kota Sorong | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.2000 | 0.2000 | 0.2000 | 0.2000 | 0.2000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 |
| Kabupaten Jayapura | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.2500 | 0.2500 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.2500 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.2500 | 0.0000 | 0.0000 |
| Kabupaten Kepulauan Yapen | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.2500 | 0.0000 | 0.0000 | 0.2500 | 0.2500 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.2500 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 |
| Kabupaten Biak Numfor | 0.2500 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.2500 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.2500 | 0.2500 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 |
| Kabupaten Sarmi | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.2000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.2000 | 0.2000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.2000 | 0.2000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 |
| Kabupaten Keerom | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.2500 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.2500 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.2500 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.2500 | 0.0000 | 0.0000 |
| Kabupaten Waropen | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.1667 | 0.1667 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.1667 | 0.0000 | 0.1667 | 0.0000 | 0.1667 | 0.0000 | 0.1667 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 |
| Kabupaten Supiori | 0.2500 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.2500 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.2500 | 0.2500 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 |
| Kabupaten Mamberamo Raya | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.2500 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.2500 | 0.0000 | 0.0000 | 0.2500 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.2500 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 |
| Kota Jayapura | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.2500 | 0.0000 | 0.0000 | 0.2500 | 0.2500 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.2500 | 0.0000 | 0.0000 |
| Kabupaten Merauke | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.2500 | 0.2500 | 0.2500 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.2500 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 |
| Kabupaten Boven Digoel | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.2500 | 0.0000 | 0.2500 | 0.2500 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.2500 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 |
| Kabupaten Mappi | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.2500 | 0.2500 | 0.0000 | 0.2500 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.2500 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 |
| Kabupaten Asmat | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.1667 | 0.1667 | 0.1667 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.1667 | 0.0000 | 0.1667 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.1667 |
| Kabupaten Nabire | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.2000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.2000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.2000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.2000 | 0.2000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 |
| Kabupaten Puncak Jaya | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.2000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.2000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.2000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.2000 | 0.2000 |
| Kabupaten Paniai | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.1429 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.1429 | 0.0000 | 0.0000 | 0.1429 | 0.1429 | 0.1429 | 0.1429 | 0.1429 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 |
| Kabupaten Mimika | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.2500 | 0.0000 | 0.2500 | 0.0000 | 0.2500 | 0.2500 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 |
| Kabupaten Puncak | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.1667 | 0.0000 | 0.1667 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.1667 | 0.1667 | 0.1667 | 0.0000 | 0.0000 | 0.1667 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 |
| Kabupaten Dogiyai | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.2000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.2000 | 0.0000 | 0.2000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.2000 | 0.2000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 |
| Kabupaten Intan Jaya | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.1429 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.1429 | 0.0000 | 0.1429 | 0.1429 | 0.1429 | 0.1429 | 0.0000 | 0.1429 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 |
| Kabupaten Deiyai | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.2500 | 0.2500 | 0.0000 | 0.2500 | 0.2500 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 |
| Kabupaten Jayawijaya | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.1250 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.1250 | 0.1250 | 0.1250 | 0.1250 | 0.1250 | 0.1250 | 0.1250 |
| Kabupaten Pegunungan Bintang | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.1667 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.1667 | 0.1667 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.1667 | 0.0000 | 0.1667 | 0.0000 | 0.0000 | 0.1667 | 0.0000 | 0.0000 |
| Kabupaten Yahukimo | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.1667 | 0.1667 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.1667 | 0.1667 | 0.0000 | 0.0000 | 0.1667 | 0.1667 | 0.0000 | 0.0000 |
| Kabupaten Tolikara | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.1429 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.1429 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.1429 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.1429 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.1429 | 0.0000 | 0.1429 | 0.1429 |
| Kabupaten Mamberamo Tengah | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.1667 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.1667 | 0.0000 | 0.1667 | 0.1667 | 0.0000 | 0.1667 | 0.1667 | 0.0000 |
| Kabupaten Yalimo | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.1429 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.1429 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.1429 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.1429 | 0.1429 | 0.1429 | 0.0000 | 0.1429 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 |
| Kabupaten Lanny Jaya | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.2000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.2000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.2000 | 0.2000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.2000 |
| Kabupaten Nduga | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.2000 | 0.0000 | 0.2000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.2000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.2000 | 0.0000 | 0.0000 | 0.2000 | 0.0000 |
Tabel berikut menampilkan daftar tetangga setiap kabupaten/kota berdasarkan pembobot spasial yang digunakan dalam model.
| Wilayah | Jumlah Tetangga | Tetangga |
|---|---|---|
| Kabupaten Manokwari | 6 | Kabupaten Teluk Bintuni, Kabupaten Manokwari Selatan, Kabupaten Pegunungan Arfak, Kabupaten Tambrauw, Kabupaten Biak Numfor, Kabupaten Supiori |
| Kabupaten Fakfak | 4 | Kabupaten Teluk Bintuni, Kabupaten Teluk Wondama, Kabupaten Kaimana, Kabupaten Sorong Selatan |
| Kabupaten Teluk Bintuni | 7 | Kabupaten Manokwari, Kabupaten Fakfak, Kabupaten Teluk Wondama, Kabupaten Kaimana, Kabupaten Manokwari Selatan, Kabupaten Pegunungan Arfak, Kabupaten Maybrat |
| Kabupaten Teluk Wondama | 4 | Kabupaten Fakfak, Kabupaten Teluk Bintuni, Kabupaten Kaimana, Kabupaten Manokwari Selatan |
| Kabupaten Kaimana | 4 | Kabupaten Fakfak, Kabupaten Teluk Bintuni, Kabupaten Teluk Wondama, Kabupaten Dogiyai |
| Kabupaten Manokwari Selatan | 5 | Kabupaten Manokwari, Kabupaten Teluk Bintuni, Kabupaten Teluk Wondama, Kabupaten Pegunungan Arfak, Kabupaten Supiori |
| Kabupaten Pegunungan Arfak | 4 | Kabupaten Manokwari, Kabupaten Teluk Bintuni, Kabupaten Manokwari Selatan, Kabupaten Tambrauw |
| Kabupaten Sorong | 5 | Kabupaten Sorong Selatan, Kabupaten Raja Ampat, Kabupaten Tambrauw, Kabupaten Maybrat, Kota Sorong |
| Kabupaten Sorong Selatan | 6 | Kabupaten Fakfak, Kabupaten Sorong, Kabupaten Raja Ampat, Kabupaten Tambrauw, Kabupaten Maybrat, Kota Sorong |
| Kabupaten Raja Ampat | 4 | Kabupaten Sorong, Kabupaten Sorong Selatan, Kabupaten Maybrat, Kota Sorong |
| Kabupaten Tambrauw | 6 | Kabupaten Manokwari, Kabupaten Pegunungan Arfak, Kabupaten Sorong, Kabupaten Sorong Selatan, Kabupaten Maybrat, Kota Sorong |
| Kabupaten Maybrat | 6 | Kabupaten Teluk Bintuni, Kabupaten Sorong, Kabupaten Sorong Selatan, Kabupaten Raja Ampat, Kabupaten Tambrauw, Kota Sorong |
| Kota Sorong | 5 | Kabupaten Sorong, Kabupaten Sorong Selatan, Kabupaten Raja Ampat, Kabupaten Tambrauw, Kabupaten Maybrat |
| Kabupaten Jayapura | 4 | Kabupaten Sarmi, Kabupaten Keerom, Kota Jayapura, Kabupaten Yalimo |
| Kabupaten Kepulauan Yapen | 4 | Kabupaten Biak Numfor, Kabupaten Waropen, Kabupaten Supiori, Kabupaten Nabire |
| Kabupaten Biak Numfor | 4 | Kabupaten Manokwari, Kabupaten Kepulauan Yapen, Kabupaten Waropen, Kabupaten Supiori |
| Kabupaten Sarmi | 5 | Kabupaten Jayapura, Kabupaten Mamberamo Raya, Kota Jayapura, Kabupaten Tolikara, Kabupaten Mamberamo Tengah |
| Kabupaten Keerom | 4 | Kabupaten Jayapura, Kota Jayapura, Kabupaten Pegunungan Bintang, Kabupaten Yalimo |
| Kabupaten Waropen | 6 | Kabupaten Kepulauan Yapen, Kabupaten Biak Numfor, Kabupaten Nabire, Kabupaten Paniai, Kabupaten Puncak, Kabupaten Intan Jaya |
| Kabupaten Supiori | 4 | Kabupaten Manokwari, Kabupaten Manokwari Selatan, Kabupaten Kepulauan Yapen, Kabupaten Biak Numfor |
| Kabupaten Mamberamo Raya | 4 | Kabupaten Sarmi, Kabupaten Puncak Jaya, Kabupaten Puncak, Kabupaten Tolikara |
| Kota Jayapura | 4 | Kabupaten Jayapura, Kabupaten Sarmi, Kabupaten Keerom, Kabupaten Yalimo |
| Kabupaten Merauke | 4 | Kabupaten Boven Digoel, Kabupaten Mappi, Kabupaten Asmat, Kabupaten Pegunungan Bintang |
| Kabupaten Boven Digoel | 4 | Kabupaten Merauke, Kabupaten Mappi, Kabupaten Asmat, Kabupaten Pegunungan Bintang |
| Kabupaten Mappi | 4 | Kabupaten Merauke, Kabupaten Boven Digoel, Kabupaten Asmat, Kabupaten Yahukimo |
| Kabupaten Asmat | 6 | Kabupaten Merauke, Kabupaten Boven Digoel, Kabupaten Mappi, Kabupaten Jayawijaya, Kabupaten Yahukimo, Kabupaten Nduga |
| Kabupaten Nabire | 5 | Kabupaten Kepulauan Yapen, Kabupaten Waropen, Kabupaten Paniai, Kabupaten Dogiyai, Kabupaten Intan Jaya |
| Kabupaten Puncak Jaya | 5 | Kabupaten Mamberamo Raya, Kabupaten Puncak, Kabupaten Tolikara, Kabupaten Lanny Jaya, Kabupaten Nduga |
| Kabupaten Paniai | 7 | Kabupaten Waropen, Kabupaten Nabire, Kabupaten Mimika, Kabupaten Puncak, Kabupaten Dogiyai, Kabupaten Intan Jaya, Kabupaten Deiyai |
| Kabupaten Mimika | 4 | Kabupaten Paniai, Kabupaten Puncak, Kabupaten Intan Jaya, Kabupaten Deiyai |
| Kabupaten Puncak | 6 | Kabupaten Waropen, Kabupaten Mamberamo Raya, Kabupaten Puncak Jaya, Kabupaten Paniai, Kabupaten Mimika, Kabupaten Intan Jaya |
| Kabupaten Dogiyai | 5 | Kabupaten Kaimana, Kabupaten Nabire, Kabupaten Paniai, Kabupaten Intan Jaya, Kabupaten Deiyai |
| Kabupaten Intan Jaya | 7 | Kabupaten Waropen, Kabupaten Nabire, Kabupaten Paniai, Kabupaten Mimika, Kabupaten Puncak, Kabupaten Dogiyai, Kabupaten Deiyai |
| Kabupaten Deiyai | 4 | Kabupaten Paniai, Kabupaten Mimika, Kabupaten Dogiyai, Kabupaten Intan Jaya |
| Kabupaten Jayawijaya | 8 | Kabupaten Asmat, Kabupaten Pegunungan Bintang, Kabupaten Yahukimo, Kabupaten Tolikara, Kabupaten Mamberamo Tengah, Kabupaten Yalimo, Kabupaten Lanny Jaya, Kabupaten Nduga |
| Kabupaten Pegunungan Bintang | 6 | Kabupaten Keerom, Kabupaten Merauke, Kabupaten Boven Digoel, Kabupaten Jayawijaya, Kabupaten Yahukimo, Kabupaten Yalimo |
| Kabupaten Yahukimo | 6 | Kabupaten Mappi, Kabupaten Asmat, Kabupaten Jayawijaya, Kabupaten Pegunungan Bintang, Kabupaten Mamberamo Tengah, Kabupaten Yalimo |
| Kabupaten Tolikara | 7 | Kabupaten Sarmi, Kabupaten Mamberamo Raya, Kabupaten Puncak Jaya, Kabupaten Jayawijaya, Kabupaten Mamberamo Tengah, Kabupaten Lanny Jaya, Kabupaten Nduga |
| Kabupaten Mamberamo Tengah | 6 | Kabupaten Sarmi, Kabupaten Jayawijaya, Kabupaten Yahukimo, Kabupaten Tolikara, Kabupaten Yalimo, Kabupaten Lanny Jaya |
| Kabupaten Yalimo | 7 | Kabupaten Jayapura, Kabupaten Keerom, Kota Jayapura, Kabupaten Jayawijaya, Kabupaten Pegunungan Bintang, Kabupaten Yahukimo, Kabupaten Mamberamo Tengah |
| Kabupaten Lanny Jaya | 5 | Kabupaten Puncak Jaya, Kabupaten Jayawijaya, Kabupaten Tolikara, Kabupaten Mamberamo Tengah, Kabupaten Nduga |
| Kabupaten Nduga | 5 | Kabupaten Asmat, Kabupaten Puncak Jaya, Kabupaten Jayawijaya, Kabupaten Tolikara, Kabupaten Lanny Jaya |
Output berikut merupakan hasil uji autokorelasi spasial Moran’s I pada variabel IKP.
Output berikut merupakan ringkasan hasil estimasi Spatial Durbin Model.
Call:spatialreg::lagsarlm(formula = formula_sdm, data = data_model,
listw = listw, type = "mixed", method = "eigen", zero.policy = TRUE)
Residuals:
Min 1Q Median 3Q Max
-17.61787 -5.49423 -0.76858 4.36936 25.85130
Type: mixed
Coefficients: (asymptotic standard errors)
Estimate Std. Error z value Pr(>|z|)
(Intercept) 39.45990 10.19675 3.8699 0.0001089
z_uhh 3.25514 1.69454 1.9210 0.0547374
z_rls 2.80884 3.26684 0.8598 0.3898971
z_stunting -2.53256 2.12521 -1.1917 0.2333897
z_kemiskinan -12.19208 2.59732 -4.6941 0.000002678
z_log_pdrb 0.69366 2.40182 0.2888 0.7727289
lag.z_uhh 0.70438 3.97545 0.1772 0.8593643
lag.z_rls 0.65203 7.12178 0.0916 0.9270517
lag.z_stunting -0.90505 5.67708 -0.1594 0.8733372
lag.z_kemiskinan 7.44431 4.41442 1.6864 0.0917258
lag.z_log_pdrb 0.62765 5.22970 0.1200 0.9044705
Rho: 0.090264, LR test value: 0.11209, p-value: 0.73778
Asymptotic standard error: 0.23231
z-value: 0.38855, p-value: 0.69761
Wald statistic: 0.15097, p-value: 0.69761
Log likelihood: -147.0778 for mixed model
ML residual variance (sigma squared): 64.341, (sigma: 8.0213)
Number of observations: 42
Number of parameters estimated: 13
AIC: 320.16, (AIC for lm: 318.27)
LM test for residual autocorrelation
test value: 6.7389, p-value: 0.0094335Output berikut menampilkan direct effect, indirect effect, dan total effect dari model SDM.
Impact measures (mixed, exact):
Direct Indirect Total
z_uhh dy/dx 3.2734782 1.0789121 4.352390
z_rls dy/dx 2.8254721 0.9787877 3.804260
z_stunting dy/dx -2.5533801 -1.2253013 -3.778681
z_kemiskinan dy/dx -12.0755603 6.8567263 -5.218834
z_log_pdrb dy/dx 0.7063411 0.7460693 1.452410
========================================================
Simulation results ( variance matrix):
========================================================
Simulated standard errors
Direct Indirect Total
z_uhh dy/dx 1.677363 4.820667 5.237288
z_rls dy/dx 3.345622 8.710712 9.406060
z_stunting dy/dx 2.238306 7.232734 8.705419
z_kemiskinan dy/dx 2.518075 4.735848 4.728116
z_log_pdrb dy/dx 2.534894 6.319338 7.006439
Simulated z-values:
Direct Indirect Total
z_uhh dy/dx 1.9234565 0.2407041 0.8375880
z_rls dy/dx 0.8681154 0.1114790 0.4120160
z_stunting dy/dx -1.1492732 -0.1752382 -0.4410903
z_kemiskinan dy/dx -4.8231160 1.4854296 -1.0808112
z_log_pdrb dy/dx 0.2396553 0.1286785 0.2027655
Simulated p-values:
Direct Indirect Total
z_uhh dy/dx 0.054423 0.80978 0.40226
z_rls dy/dx 0.385331 0.91124 0.68033
z_stunting dy/dx 0.250443 0.86089 0.65915
z_kemiskinan dy/dx 0.0000014133 0.13743 0.27978
z_log_pdrb dy/dx 0.810597 0.89761 0.83932Output berikut merupakan hasil uji Moran’s I terhadap residual model SDM.
Tabel berikut menampilkan nilai IKP aktual, hasil prediksi model SDM, dan residual untuk setiap kabupaten/kota.
| No | Wilayah | IKP | Prediksi SDM | Residual SDM | UHH | RLS | Stunting | Kemiskinan | Log PDRB |
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| 1 | Kabupaten Manokwari | 71,81 | 65,7474 | 6,0626 | 69,80 | 8,67 | 23,50 | 18,45 | 10,9198 |
| 2 | Kabupaten Fakfak | 48,20 | 57,2398 | -9,0398 | 69,16 | 9,32 | 21,00 | 20,86 | 11,1560 |
| 3 | Kabupaten Teluk Bintuni | 43,12 | 45,0079 | -1,8879 | 62,04 | 8,67 | 22,30 | 26,99 | 13,2621 |
| 4 | Kabupaten Teluk Wondama | 36,76 | 36,6471 | 0,1129 | 61,08 | 7,38 | 29,20 | 28,47 | 10,6149 |
| 5 | Kabupaten Kaimana | 48,19 | 65,8079 | -17,6179 | 65,86 | 8,97 | 20,20 | 14,41 | 10,7460 |
| 6 | Kabupaten Manokwari Selatan | 74,91 | 49,0587 | 25,8513 | 68,26 | 7,17 | 26,40 | 26,83 | 10,1745 |
| 7 | Kabupaten Pegunungan Arfak | 35,53 | 34,5949 | 0,9351 | 67,84 | 5,72 | 39,30 | 31,76 | 9,0667 |
| 8 | Kabupaten Sorong | 50,88 | 46,3880 | 4,4920 | 67,12 | 8,74 | 25,10 | 25,71 | 11,5243 |
| 9 | Kabupaten Sorong Selatan | 40,39 | 55,8861 | -15,4961 | 67,14 | 7,76 | 31,30 | 17,83 | 10,6331 |
| 10 | Kabupaten Raja Ampat | 54,42 | 55,9566 | -1,5366 | 65,56 | 8,40 | 37,40 | 15,83 | 10,9781 |
| 11 | Kabupaten Tambrauw | 45,92 | 29,2927 | 16,6273 | 61,35 | 5,89 | 37,90 | 29,88 | 9,1826 |
| 12 | Kabupaten Maybrat | 41,27 | 37,4254 | 3,8446 | 65,97 | 7,44 | 30,70 | 29,18 | 9,8070 |
| 13 | Kota Sorong | 76,32 | 70,3958 | 5,9242 | 71,97 | 11,57 | 29,30 | 13,67 | 10,9571 |
| 14 | Kabupaten Jayapura | 66,89 | 67,7798 | -0,8898 | 68,08 | 10,57 | 22,50 | 11,60 | 11,0811 |
| 15 | Kabupaten Kepulauan Yapen | 46,80 | 54,3646 | -7,5646 | 69,83 | 9,71 | 33,50 | 25,69 | 10,2026 |
| 16 | Kabupaten Biak Numfor | 49,23 | 60,2907 | -11,0607 | 68,97 | 10,55 | 20,60 | 23,46 | 10,1732 |
| 17 | Kabupaten Sarmi | 63,07 | 62,2927 | 0,7773 | 67,38 | 9,61 | 31,60 | 14,05 | 10,7742 |
| 18 | Kabupaten Keerom | 54,21 | 59,3987 | -5,1887 | 67,44 | 8,58 | 24,40 | 15,84 | 10,4501 |
| 19 | Kabupaten Waropen | 47,38 | 48,8379 | -1,4579 | 67,11 | 9,42 | 22,30 | 29,85 | 10,6965 |
| 20 | Kabupaten Supiori | 32,69 | 29,8249 | 2,8651 | 66,93 | 9,21 | 37,50 | 37,72 | 10,4482 |
| 21 | Kabupaten Mamberamo Raya | 23,09 | 30,2742 | -7,1842 | 58,71 | 6,49 | 33,80 | 30,29 | 10,2702 |
| 22 | Kota Jayapura | 78,35 | 72,7905 | 5,5595 | 71,41 | 12,07 | 24,10 | 10,72 | 11,0187 |
| 23 | Kabupaten Merauke | 84,07 | 71,2957 | 12,7743 | 67,77 | 9,37 | 18,50 | 10,19 | 10,8102 |
| 24 | Kabupaten Boven Digoel | 43,19 | 48,7861 | -5,5961 | 61,21 | 9,42 | 30,20 | 19,24 | 10,8224 |
| 25 | Kabupaten Mappi | 35,44 | 41,1586 | -5,7186 | 66,01 | 7,16 | 29,90 | 25,70 | 9,8165 |
| 26 | Kabupaten Asmat | 45,99 | 37,7072 | 8,2828 | 59,36 | 5,82 | 28,30 | 24,50 | 9,6344 |
| 27 | Kabupaten Nabire | 66,97 | 59,7838 | 7,1862 | 69,02 | 10,42 | 21,70 | 24,00 | 10,7796 |
| 28 | Kabupaten Puncak Jaya | 24,19 | 26,4601 | -2,2701 | 66,04 | 4,42 | 36,30 | 35,94 | 8,4138 |
| 29 | Kabupaten Paniai | 22,27 | 30,8165 | -8,5465 | 67,38 | 4,81 | 29,60 | 37,07 | 9,5579 |
| 30 | Kabupaten Mimika | 83,64 | 79,6385 | 4,0015 | 73,06 | 10,72 | 28,40 | 14,18 | 12,5317 |
| 31 | Kabupaten Puncak | 30,12 | 22,7596 | 7,3604 | 66,53 | 2,39 | 42,50 | 37,49 | 8,8982 |
| 32 | Kabupaten Dogiyai | 31,37 | 31,7139 | -0,3439 | 66,50 | 4,98 | 55,80 | 30,03 | 8,9371 |
| 33 | Kabupaten Intan Jaya | 14,14 | 15,8965 | -1,7565 | 66,18 | 3,28 | 48,40 | 41,42 | 8,6493 |
| 34 | Kabupaten Deiyai | 21,35 | 23,6710 | -2,3210 | 66,07 | 3,29 | 30,60 | 39,01 | 9,0584 |
| 35 | Kabupaten Jayawijaya | 30,40 | 26,6267 | 3,7733 | 60,65 | 5,99 | 41,30 | 32,28 | 9,8806 |
| 36 | Kabupaten Pegunungan Bintang | 25,07 | 29,6518 | -4,5818 | 65,17 | 3,51 | 41,40 | 28,95 | 9,8521 |
| 37 | Kabupaten Yahukimo | 25,62 | 27,5539 | -1,9339 | 66,55 | 4,35 | 37,70 | 33,82 | 8,4251 |
| 38 | Kabupaten Tolikara | 22,83 | 28,8586 | -6,0286 | 66,53 | 3,69 | 46,40 | 31,22 | 8,4845 |
| 39 | Kabupaten Mamberamo Tengah | 21,51 | 22,1573 | -0,6473 | 64,18 | 3,70 | 42,00 | 35,27 | 9,6656 |
| 40 | Kabupaten Yalimo | 37,80 | 30,7140 | 7,0860 | 66,12 | 3,55 | 35,10 | 30,02 | 9,0107 |
| 41 | Kabupaten Lanny Jaya | 21,33 | 29,6211 | -8,2911 | 66,62 | 3,83 | 35,40 | 34,12 | 8,8016 |
| 42 | Kabupaten Nduga | 17,10 | 13,6567 | 3,4433 | 55,74 | 1,92 | 36,00 | 36,28 | 8,9846 |
Ringkasan berikut memuat ukuran utama dari proses analisis spasial.
| Output | Nilai |
|---|---|
| Jumlah wilayah tergabung | 42 |
| Jumlah hubungan tetangga | 216 |
| Rata-rata jumlah tetangga | 5,142857 |
| Moran’s I IKP | 0,133022578 |
| p-value Moran’s I IKP | 0,043213 |
| Rho SDM | 0,090264 |
| p-value rho SDM | 0,697606 |
| Moran’s I residual SDM | 0,032950548 |
| p-value Moran residual SDM | 0,260349 |
Script lengkap analisis Spatial Durbin Model ditampilkan pada lampiran ini. Script ini memuat seluruh tahapan analisis, mulai dari pemanggilan package, pembacaan data, penggabungan data atribut dengan GeoJSON, pembentukan matriks bobot spasial, pengujian Moran’s I, estimasi Spatial Durbin Model, perhitungan efek spasial, pembuatan peta, hingga penyimpanan output hasil analisis.
# ============================================================
# ANALISIS SPASIAL IKP WILAYAH PAPUA 2024
# Metode utama: Spatial Durbin Model (SDM)
# Nama: Mahdayani Putri Yunizar
# NPM : 14072025004
# ============================================================
# 1. Package: memuat package yang dibutuhkan
packages <- c(
"readxl", "readr", "janitor", "sf", "dplyr", "stringr", "ggplot2",
"spdep", "spatialreg", "tibble", "tidyr", "tools", "grid"
)
new_packages <- setdiff(packages, rownames(installed.packages()))
if (length(new_packages) > 0) install.packages(new_packages, dependencies = TRUE)
invisible(lapply(packages, library, character.only = TRUE))
options(scipen = 999)
set.seed(123)
# 2. Fungsi bantu: membersihkan data dan membuat key wilayah
clean_number <- function(x) {
if (is.numeric(x)) return(x)
x <- as.character(x) |> stringr::str_squish() |> stringr::str_replace_all("\\s+", "")
if (any(stringr::str_detect(x, ","), na.rm = TRUE)) {
x <- x |> stringr::str_replace_all("\\.", "") |> stringr::str_replace_all(",", ".")
}
as.numeric(x)
}
make_region_key <- function(x) {
x |>
as.character() |>
stringr::str_squish() |>
stringr::str_replace("^Kabupaten\\s+", "") |>
stringr::str_to_lower() |>
stringr::str_replace_all("[^a-z0-9]", "")
}
read_attribute_data <- function(path) {
ext <- tolower(tools::file_ext(path))
if (ext %in% c("xlsx", "xls")) {
readxl::read_excel(path, sheet = 1) |> janitor::clean_names()
} else if (ext == "csv") {
readr::read_csv(path, show_col_types = FALSE) |> janitor::clean_names()
} else {
stop("File data harus berformat .xlsx, .xls, atau .csv")
}
}
plot_map <- function(data, var, title, legend_title, file_name, residual = FALSE) {
scale_fill <- if (residual) {
ggplot2::scale_fill_gradient2(
na.value = "grey85",
guide = guide_colorbar(
title.position = "top", title.hjust = 0.5,
barwidth = grid::unit(8, "cm"), barheight = grid::unit(0.45, "cm")
)
)
} else {
ggplot2::scale_fill_viridis_c(
option = "C", na.value = "grey85",
guide = guide_colorbar(
title.position = "top", title.hjust = 0.5,
barwidth = grid::unit(8, "cm"), barheight = grid::unit(0.45, "cm")
)
)
}
p <- ggplot2::ggplot(data) +
ggplot2::geom_sf(ggplot2::aes(fill = .data[[var]]), color = "white", linewidth = 0.25) +
scale_fill +
ggplot2::coord_sf(xlim = c(128.8, 141.6), ylim = c(-9.6, 1.4), expand = FALSE) +
ggplot2::labs(title = title, fill = legend_title, caption = "Sumber: data sekunder tahun 2024, diolah.") +
ggplot2::theme_minimal(base_size = 12) +
ggplot2::theme(
plot.title = ggplot2::element_text(color = "#2f5f88", face = "bold", size = 14, hjust = 0.5),
plot.caption = ggplot2::element_text(color = "#5f7180", size = 9, hjust = 0),
legend.position = "bottom",
legend.title = ggplot2::element_text(face = "bold", size = 10),
legend.text = ggplot2::element_text(size = 9),
axis.title = ggplot2::element_blank(),
axis.text = ggplot2::element_blank(),
axis.ticks = ggplot2::element_blank(),
panel.grid = ggplot2::element_blank(),
plot.margin = ggplot2::margin(15, 20, 15, 20)
)
print(p)
ggplot2::ggsave(file.path("output_peta", file_name), p, width = 12, height = 7.2, dpi = 300)
invisible(p)
}
# 3. Input data: memilih file data atribut dan file GeoJSON
message("Pilih file data atribut (.xlsx/.xls/.csv)")
file_data <- file.choose()
message("Pilih file GeoJSON batas wilayah")
file_geojson <- file.choose()
# 4. Baca data atribut: membaca dan merapikan data penelitian
data_ikp <- read_attribute_data(file_data)
names(data_ikp) <- names(data_ikp) |>
stringr::str_replace("^log_pdrb.*$", "log_pdrb") |>
stringr::str_replace("^log_pdrb_per_kapita.*$", "log_pdrb") |>
stringr::str_replace("^presentase_penduduk_miskin$", "persentase_penduduk_miskin") |>
stringr::str_replace("^persen_penduduk_miskin$", "persentase_penduduk_miskin") |>
stringr::str_replace("^penduduk_miskin$", "persentase_penduduk_miskin")
if (!"log_pdrb" %in% names(data_ikp) && "pdrb" %in% names(data_ikp)) {
data_ikp <- data_ikp |> dplyr::mutate(pdrb = clean_number(pdrb), log_pdrb = log(pdrb))
}
required_vars <- c("no", "wilayah", "ikp", "uhh", "rls", "stunting", "persentase_penduduk_miskin", "log_pdrb")
missing_vars <- setdiff(required_vars, names(data_ikp))
if (length(missing_vars) > 0) stop(paste("Kolom belum tersedia:", paste(missing_vars, collapse = ", ")))
data_ikp <- data_ikp |>
dplyr::mutate(
no = clean_number(no),
ikp = clean_number(ikp),
uhh = clean_number(uhh),
rls = clean_number(rls),
stunting = clean_number(stunting),
persentase_penduduk_miskin = clean_number(persentase_penduduk_miskin),
log_pdrb = clean_number(log_pdrb),
wilayah = stringr::str_squish(wilayah),
nama_key = make_region_key(wilayah)
) |>
dplyr::arrange(no)
# 5. Baca data spasial: membaca GeoJSON dan membuat key wilayah
geo <- sf::st_read(file_geojson, quiet = TRUE) |> sf::st_make_valid()
geo_name_col <- dplyr::case_when(
"shapeName" %in% names(geo) ~ "shapeName",
"shape_name" %in% names(geo) ~ "shape_name",
TRUE ~ names(geo)[names(geo) != attr(geo, "sf_column")][1]
)
geo <- geo |>
dplyr::mutate(nama_key = make_region_key(.data[[geo_name_col]]))
# 6. Join data: menggabungkan data atribut dengan batas wilayah
cek_tidak_match <- dplyr::anti_join(data_ikp, sf::st_drop_geometry(geo), by = "nama_key")
if (nrow(cek_tidak_match) > 0) {
print(cek_tidak_match |> dplyr::select(wilayah, nama_key))
stop("Ada nama wilayah yang belum cocok antara data atribut dan GeoJSON")
}
papua_sf <- geo |>
dplyr::inner_join(data_ikp, by = "nama_key") |>
dplyr::arrange(no)
message("Jumlah wilayah tergabung: ", nrow(papua_sf))
if (nrow(papua_sf) != 42) warning("Jumlah wilayah bukan 42. Periksa kembali data dan GeoJSON.")
# 7. Peta variabel: menyimpan peta IKP dan variabel penjelas
dir.create("output_peta", showWarnings = FALSE)
plot_map(papua_sf, "ikp", "Peta IKP Kabupaten/Kota di Wilayah Papua Tahun 2024", "IKP", "peta_ikp.png")
plot_map(papua_sf, "uhh", "Peta UHH Kabupaten/Kota di Wilayah Papua Tahun 2024", "UHH", "peta_uhh.png")
plot_map(papua_sf, "rls", "Peta RLS Kabupaten/Kota di Wilayah Papua Tahun 2024", "RLS", "peta_rls.png")
plot_map(papua_sf, "stunting", "Peta Stunting Kabupaten/Kota di Wilayah Papua Tahun 2024", "Stunting", "peta_stunting.png")
plot_map(papua_sf, "persentase_penduduk_miskin", "Peta Kemiskinan Kabupaten/Kota di Wilayah Papua Tahun 2024", "Kemiskinan", "peta_kemiskinan.png")
plot_map(papua_sf, "log_pdrb", "Peta Log PDRB Kabupaten/Kota di Wilayah Papua Tahun 2024", "Log PDRB", "peta_log_pdrb.png")
# 8. Bobot spasial: membentuk matriks W KNN k = 4
papua_proj <- sf::st_transform(papua_sf, 3857)
coords <- sf::st_coordinates(sf::st_point_on_surface(sf::st_geometry(papua_proj)))
nb_knn <- spdep::knn2nb(spdep::knearneigh(coords, k = 4), row.names = papua_sf$wilayah)
nb_use <- spdep::make.sym.nb(nb_knn)
listw <- spdep::nb2listw(nb_use, style = "W", zero.policy = TRUE)
W_matrix <- spdep::listw2mat(listw)
write.csv(W_matrix, "matriks_bobot_W_SDM_Papua_2024.csv")
neighbor_table <- data.frame(
wilayah = papua_sf$wilayah,
jumlah_tetangga = spdep::card(nb_use),
tetangga = sapply(nb_use, function(x) paste(papua_sf$wilayah[x], collapse = ", "))
)
write.csv(neighbor_table, "daftar_tetangga_SDM_Papua_2024.csv", row.names = FALSE)
# 9. Moran's I: menguji autokorelasi spasial IKP
moran_ikp <- spdep::moran.test(papua_sf$ikp, listw, zero.policy = TRUE)
print(moran_ikp)
capture.output(print(moran_ikp), file = "hasil_moran_IKP_SDM_Papua_2024.txt")
png("moran_plot_IKP_SDM_Papua_2024.png", width = 1000, height = 750)
spdep::moran.plot(papua_sf$ikp, listw, labels = papua_sf$wilayah, pch = 19, main = "Moran Plot IKP Wilayah Papua 2024", zero.policy = TRUE)
dev.off()
# 10. Model SDM: menyiapkan variabel z-score dan estimasi model
papua_sf <- papua_sf |>
dplyr::mutate(
z_uhh = as.numeric(scale(uhh)),
z_rls = as.numeric(scale(rls)),
z_stunting = as.numeric(scale(stunting)),
z_kemiskinan = as.numeric(scale(persentase_penduduk_miskin)),
z_log_pdrb = as.numeric(scale(log_pdrb))
)
data_model <- sf::st_drop_geometry(papua_sf)
formula_sdm <- ikp ~ z_uhh + z_rls + z_stunting + z_kemiskinan + z_log_pdrb
model_sdm <- spatialreg::lagsarlm(
formula_sdm,
data = data_model,
listw = listw,
type = "mixed",
method = "eigen",
zero.policy = TRUE
)
print(summary(model_sdm))
capture.output(summary(model_sdm), file = "hasil_estimasi_SDM_Papua_2024.txt")
coef_sdm <- as.data.frame(coef(summary(model_sdm))) |>
tibble::rownames_to_column("variabel")
write.csv(coef_sdm, "tabel_estimasi_SDM_Papua_2024.csv", row.names = FALSE)
# 11. Efek spasial: menghitung direct, indirect, dan total effect
effect_sdm <- spatialreg::impacts(model_sdm, listw = listw, R = 999)
print(summary(effect_sdm, zstats = TRUE, short = TRUE))
capture.output(summary(effect_sdm, zstats = TRUE, short = TRUE), file = "hasil_efek_spasial_SDM_Papua_2024.txt")
# 12. Prediksi dan residual: menghitung hasil model dan Moran residual
papua_sf$prediksi_sdm <- as.numeric(suppressMessages(suppressWarnings(fitted(model_sdm))))
papua_sf$residual_sdm <- as.numeric(residuals(model_sdm))
moran_res_sdm <- spdep::moran.test(papua_sf$residual_sdm, listw, zero.policy = TRUE)
print(moran_res_sdm)
capture.output(print(moran_res_sdm), file = "hasil_moran_residual_SDM_Papua_2024.txt")
# 13. Peta hasil model: menyimpan peta prediksi dan residual SDM
plot_map(papua_sf, "prediksi_sdm", "Peta Prediksi IKP Berdasarkan Spatial Durbin Model", "Prediksi IKP", "peta_prediksi_sdm.png")
plot_map(papua_sf, "residual_sdm", "Peta Residual Spatial Durbin Model", "Residual", "peta_residual_sdm.png", residual = TRUE)
# 14. Simpan hasil: menyimpan data hasil dan ringkasan output
dir.create("output_hasil", showWarnings = FALSE)
data_hasil <- papua_sf |>
sf::st_drop_geometry() |>
dplyr::select(
no, wilayah, ikp, uhh, rls, stunting,
persentase_penduduk_miskin, log_pdrb,
prediksi_sdm, residual_sdm
)
write.csv(
data_hasil,
file = file.path("output_hasil", "data_hasil_SDM_Papua_2024.csv"),
row.names = FALSE
)
summary_output <- tibble::tibble(
output = c(
"Jumlah wilayah",
"Jumlah hubungan tetangga",
"Rata-rata tetangga",
"Moran's I IKP",
"p-value Moran's I IKP",
"Rho SDM",
"p-value rho SDM",
"Moran's I residual SDM",
"p-value residual SDM"
),
nilai = c(
nrow(papua_sf),
sum(spdep::card(nb_use)),
mean(spdep::card(nb_use)),
unname(moran_ikp$estimate[["Moran I statistic"]]),
moran_ikp$p.value,
model_sdm$rho,
summary(model_sdm)$Wald1$p.value,
unname(moran_res_sdm$estimate[["Moran I statistic"]]),
moran_res_sdm$p.value
)
)
write.csv(
summary_output,
file = file.path("output_hasil", "ringkasan_output_SDM_Papua_2024.csv"),
row.names = FALSE
)
message("Analisis selesai. Output tersimpan di folder: output_hasil")