MODEL ESTIMASI MAKROEKONOMI · ANALISIS DATA KATEGORI · STATISTIKA UNPAD

Analisis Asosiasi Tiga Arah
Kurs USD/IDR · IHSG · BI Rate

Analisis hubungan simultan antara kurs USD/IDR, IHSG, dan BI Rate menggunakan model log-linear pada data tahun 2010–2026

195 Bulan Data
9 Kandidat GLM
2×2×3 Grid Kontingensi
3.32× Odds Ratio Final
Intan Maharani · 140610240038
Raisa Nur Anida Fauzi · 140610240052
scroll

Mengapa Tiga Variabel Ini Saling Terkait?

Sebagai negara dengan ekonomi terbuka (open economy), Indonesia rentan terhadap volatilitas global. Nilai tukar (Kurs), pasar modal (IHSG), dan kebijakan moneter suku bunga acuan (BI Rate) bergerak dalam sistem dinamis yang saling terikat.

📉
Taper Tantrum · 2013
Kebijakan pengetatan likuiditas mendadak oleh Fed memicu arus keluar modal dari negara berkembang, termasuk Indonesia. Akibatnya, Rupiah melemah dan IHSG mengalami tekanan yang cukup besar.
🦠
Pandemi COVID-19 · 2020
Perlambatan ekonomi akibat pandemi mendorong Bank Indonesia menurunkan BI Rate untuk mendukung aktivitas ekonomi dan menjaga likuiditas di pasar keuangan.
🏛️
Higher for Longer · 2024
Tingginya suku bunga di Amerika Serikat membuat tekanan terhadap Rupiah tetap kuat. Untuk menjaga stabilitas nilai tukar dan arus modal, Bank Indonesia menaikkan BI Rate.

Memahami Hubungan Tiga Indikator Ekonomit
Menganalisis keterkaitan antara Kurs USD/IDR, IHSG, dan BI Rate untuk mengetahui bagaimana perubahan pada satu indikator berhubungan dengan kondisi pasar keuangan Indonesia.
Relevan bagi Jutaan Investor dan Masyarakat
Dengan lebih dari 13 juta investor saham domestik, pergerakan IHSG, nilai tukar, dan suku bunga tidak hanya berdampak pada pelaku pasar, tetapi juga dapat memengaruhi nilai investasi, daya beli, dan aktivitas ekonomi masyarakat.

01
Mengidentifikasi Hubungan Kurs, IHSG, dan BI Rate
Menganalisis apakah ketiga indikator ekonomi tersebut saling berkaitan serta bagaimana pola hubungan yang terbentuk selama periode 2010–2026.
02
Menentukan Model Terbaik
Memilih model statistik yang paling baik dalam menjelaskan hubungan antara Kurs USD/IDR, IHSG, dan BI Ratemenggunakan p-value Goodness-of-Fit, AIC/BIC, dan LRT.
03
Menghitung Odds Ratio Bersyarat
Mengetahui bagaimana peluang penurunan IHSG berubah ketika Rupiah melemah pada kondisi suku bunga yang berbeda.
04
Memberikan Insight bagi Kebijakan dan Investasi
Menggunakan model statistik untuk menyumbangkan masukan strategis bagi yang relevan dalam membuat kebijakan, investor, dan jutaan masyarakat yang berinvestasi di pasar modal.

Pembentukan Variabel Kategorik

Data bulanan periode 2010–2026 dikategorikan berdasarkan arah perubahan month-over-month (MoM) untuk membentuk tabel kontingensi 2×2×3 yang digunakan dalam analisis log-linear.

X
Kurs USD/IDR
Menggambarkan kekuatan nilai Rupiah terhadap Dolar AS. Diukur melalui erubahan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS dibandingkan bulan sebelumnya.
✦ Menguat (≤ 0%) ✦ Melemah (> 0%)
72 Bulan Menguat
123 Bulan Melemah
63.1% Melemah MoM
Y
IHSG (Indeks Saham)
Menggambarkan kondisi pasar saham Indonesia. Dalam penelitian ini, diukur melalui perubahan nilai IHSG dibandingkan bulan sebelumnya.
✦ Naik (≥ 0%) ✦ Turun (< 0%)
130 Bulan Naik
65 Bulan Turun
66.7% Tren Naik
Z
BI Rate (Suku Bunga)
Mencerminkan perubahan kebijakan suku bunga Bank Indonesia. Dikategorikan berdasarkan perubahan bulanan (month-over-month).
✦ Naik (> 0) ✦ Stabil (= 0) ✦ Turun (< 0)
40 Bulan Naik
103 Bulan Stabil
52 Bulan Turun
Struktur Data Penelitian
Data bulanan periode Januari 2010 hingga April 2026 dikategorikan berdasarkan arah perubahannya dan disusun ke dalam tabel kontingensi tiga dimensi berukuran 2 × 2 × 3. Setelah proses pengolahan data, diperoleh 195 pengamatan yang digunakan untuk menganalisis hubungan antara Kurs USD/IDR, IHSG, dan BI Rate.

Model Matematika Log-Linear Tiga Arah

Model log-linear digunakan untuk mengidentifikasi pola keterkaitan antara ketiga variabel secara bersamaan melalui analisis frekuensi pada tabel kontingensi tiga dimensi. Metode ini memungkinkan pengujian hubungan antarvariabel secara simultan tanpa membedakan variabel respons dan variabel penjelas.

ln(μijk) = λ + λXi + λYj + λZk + λXYij + λXZik + λYZjk + λXYZijk
Efek Utama (Main Effects)
λ, λX, λY, λZ — mewakili distribusi marginal masing-masing variabel secara terisolasi.
Interaksi 2 Arah (Asosiasi Parsial)
λXY, λXZ, λYZ — mengukur kekuatan asosiasi linear antara dua variabel tertentu.
Interaksi 3 Arah (Trivariat)
λXYZ — mengukur apakah kekuatan asosiasi dua arah dimodifikasi oleh tingkat level variabel ketiga.

Notasi Model Nama Model Maksud Asosiasi Makro
[X][Y][Z]Mutually IndependentKurs, IHSG, dan Kebijakan Suku Bunga bergerak bebas tanpa saling mempengaruhi
[X][YZ]Joint IndependentNilai tukar Rupiah independen terhadap pasar saham dan suku bunga acuan
[Y][XZ]Joint IndependentIHSG independen terhadap dinamika interaksi moneter Kurs dan BI Rate
[Z][XY]Joint IndependentSuku bunga acuan independen terhadap guncangan pasar modal dan nilai tukar
[XY][XZ]Conditional Independent ★IHSG dan BI Rate independen bersyarat, dimediasi penuh oleh Kurs Rupiah
[XY][YZ]Conditional IndependentKurs dan BI Rate independen bersyarat, dimediasi penuh oleh pergerakan IHSG
[XZ][YZ]Conditional IndependentKurs dan IHSG independen bersyarat, dimediasi penuh oleh tingkat suku bunga
[XY][XZ][YZ]Homogeneous AssociationSeluruh variabel saling berinteraksi secara berpasangan dengan odds ratio konstan
[XYZ]Saturated (Referensi)Memasukkan seluruh interaksi, fitted values persis sama dengan observasi asli
Goodness-of-Fit (G² & X²)
Uji kesesuaian Likelihood Ratio dan Pearson Chi-Square. Model dianggap fit jika p-value > 0.05 (H₀ gagal ditolak).
Kriteria Informasi (AIC & BIC)
Mengukur efisiensi model. Memberikan penalti bagi model dengan parameter terlalu banyak. **Nilai terkecil = terbaik.**
Sequential LRT (Uji Rasio)
Membandingkan perbedaan deviance (ΔG²) antar model hierarkis. Menentukan signifikansi parameter interaksi tambahan.

Analisis Deskriptif & Pola Sebaran

63.1% Rupiah Melemah
66.7% IHSG Bullish
52.8% BI Rate Stabil
36 Bulan Dominan (Menguat-Naik-Stabil)
📈 Pola Utama: Tekanan Depresiasi Kurs
Saat mata uang Rupiah menguat terhadap Dolar AS, kemungkinan IHSG mengalami penurunan bulanan sangat kecil yaitu sebesar 18.1%. Namun, saat Rupiah melemah, probabilitas kemerosotan indeks langsung melonjak tinggi menjadi 42.3%.
Rupiah Menguat (n=72)
IHSG Naik 81.9%
Turun 18.1%
Rupiah Melemah (n=123)
IHSG Naik 57.7%
IHSG Turun 42.3%

Kalkulasi Odds Ratio (OR) parsial antara Kurs dan IHSG dihitung terpisah untuk setiap strata BI Rate demi membuktikan efek bias bivariat:

BI Rate Naik
OR = 0.77
0.765
BI Rate Stabil
OR = 4.21
4.208
BI Rate Turun
OR = 10.29 (Sangat Signifikan)
10.286
⚠️ Justifikasi Model Tiga Arah
Odds Ratio teramati melompat drastis dari 0.77 → 4.21 → 10.29 seiring berubahnya strata suku bunga. Ini membuktikan bahwa korelasi Kurs-IHSG sangat dinamis dan dipengaruhi oleh instrumen moneter BI Rate. Model log-linear tiga arah wajib digunakan untuk mendapatkan parameter estimasi yang tidak bias.

Menemukan Model Optimal

Evaluasi hierarkis dijalankan untuk menyeleksi model terbaik dengan membandingkan nilai deviance (G²) dan kriteria penalti informasi.

Notasi Model G² (Deviance) X² (Pearson) db p-value (G²) AIC BIC Keputusan Uji
[X][Y][Z]25.04822.48770.00186.78389.208Ditolak
[X][YZ]20.99619.53250.00186.73190.126Ditolak
[Y][XZ]21.44318.77650.00187.17890.572Ditolak
[Z][XY]12.37710.98860.05476.11279.021Batas Fit
[XY][XZ] ★8.7729.75940.06776.50780.386MODEL TERPILIH
[XY][YZ]8.3257.76740.08076.06079.939Kandidat Fit
[XZ][YZ]17.39115.69930.00187.12691.491Ditolak
[XY][XZ][YZ]5.5185.76320.06377.25382.102Kandidat Fit
[XYZ] Saturated00075.73581.554Model Jenuh
01
Interaksi Trivariat (XYZ) — Tidak signifikan
Homogeneous vs Saturated: ΔG² = 5.518, p = 0.063 > 0.05. Interaksi tiga arah tidak signifikan secara statistik, dapat dipangkas.
02
Interaksi YZ (IHSG × BI Rate) — Tidak singifikan
[XY][XZ] vs Homogeneous: ΔG² = 3.254, p = 0.197 > 0.05. Suku interaksi IHSG-BI Rate tidak signifikan, sehingga ditiadakan.
03
Interaksi XZ (Kurs × BI Rate) — Dipertahankan secara Teoretis
[XY][YZ] vs Homogeneous: ΔG² = 2.807, p = 0.246 > 0.05. Walau secara statistik di atas 0.05, interaksi ini wajib dipertahankan karena perannya yang vital dalam transmisi moneter kebijakan nilai tukar.
04
Interaksi XY (Kurs × IHSG) — WAJIB DIPERTAHANKAN
[XZ][YZ] vs Homogeneous: ΔG² = 11.874, p = 0.001 < 0.01. H₀ ditolak sangat keras. Interaksi Kurs-IHSG adalah pilar krusial model.
✅ Model Terpilih Akhir: [XY][XZ]
Model log-linear independensi bersyarat [XY][XZ] terbukti fit secara statistik (G² = 8.772, p = 0.067). Model ini mampu menerangkan struktur asosiasi makroekonomi dengan jumlah parameter paling efisien (parsimoni).
ln(μijk) = λ + λXi + λYj + λZk + λXYij + λXZik
Hilangnya suku λYZ dan λXYZ menandakan variabel Y (IHSG) dan Z (BI Rate) bersifat independen bersyarat diberikan informasi Kurs (X)

Estimasi Koefisien Model [XY][XZ]

Parameter Pengamatan Korelasi (β) exp(β) (Odds Ratio) CI 95% Bawah CI 95% Atas p-value Signifikansi
Konstanta Model (λ)2.10358.1944.36815.374<0.001*** (Sangat Signifikan)
Kurs: Melemah (λX2)0.74822.1131.0094.4270.0470* (Signifikan)
IHSG: Turun (λY2)−1.51260.2200.1210.402<0.001*** (Sangat Signifikan)
BI Rate: Stabil (λZ2)1.45864.3002.1618.557<0.001*** (Sangat Signifikan)
BI Rate: Turun (λZ3)0.64191.9000.8844.0860.1000ns (Tidak Signifikan)
Interaksi XY (Melemah×Turun) ★1.20123.3241.6526.6870.0010** (Sangat Signifikan)
Interaksi XZ (Melemah×Stabil)−0.76550.4650.2061.0520.0660ns (Batas)
Interaksi XZ (Melemah×Turun)−0.54650.5790.2331.4400.2400ns (Tidak Signifikan)
🎯 Koefisien Asosiasi Bersyarat: exp(λXY) = 3.324
Ketika variabel BI Rate dikontrol, kecenderungan terjadinya pelemahan Rupiah berpasangan dengan koreksi IHSG adalah 3.32 kali lebih sering dibandingkan saat terjadi penguatan mata uang Rupiah. Hal ini terbukti signifikan pada taraf nyata α = 1%.

Pearson Residuals terstandar mengukur deviasi antara nilai observasi riil dan estimasi model. Ambang batas kritis ±2 menandai wilayah kegagalan fiting (anomali).

SelKurs (X)IHSG (Y)BI Rate (Z)Observed (n)Fitted (μ)Std. Residual (r)Kualitas Fit
S1MenguatNaikNaik58.194−2.830Anomali Outlier
S2MenguatNaikStabil3635.236+0.477Fit Sangat Baik
S3MenguatNaikTurun1815.569+1.690Fit Baik
S4MenguatTurunNaik51.806+2.830Anomali Outlier
S5MenguatTurunStabil77.764−0.477Fit Sangat Baik
S6MenguatTurunTurun13.431−1.690Fit Baik
S7MelemahNaikNaik1817.317+0.334Fit Sangat Baik
S8MelemahNaikStabil3434.632−0.354Fit Sangat Baik
S9MelemahNaikTurun1919.050−0.030Fit Sempurna
S10MelemahTurunNaik1212.684−0.551Fit Sangat Baik
S11MelemahTurunStabil2625.366+0.354Fit Sangat Baik
S12MelemahTurunTurun1413.953+0.030Fit Sempurna
Analisis Dampak Kenaikan BI Rate
Kedua sel dengan residual terbesar (S1 dan S4) muncul pada strata BI Rate Naik. Temuan ini menunjukkan bahwa ketika terjadi kenaikan BI Rate, pola hubungan antara Kurs dan IHSG cenderung berbeda dibandingkan kondisi lainnya. Dengan kata lain, perubahan suku bunga acuan dapat memengaruhi dinamika pasar sehingga hubungan Kurs dan IHSG tidak selalu mengikuti pola rata-rata yang ditangkap model.

Apa Makna Struktur Asosiasi [XY][XZ]?

Terpilihnya model independensi bersyarat log-linear mengungkapkan kerangka kerja mediasi moneter yang menarik dalam ekonomi makro Indonesia.

Kebijakan Moneter
BI Rate (Z)
λXZ (Asosiasi)
β = -0.77 (Stabil)
Mediator Transmisi
Kurs Rupiah (X)
λXY (Asosiasi Kuat)
β = +1.20 (OR = 3.32)
Sektor Keuangan
IHSG (Y)
Tidak Ada Transmisi Langsung (λYZ = 0)
Y dan Z Independen Bersyarat
1. Kurs Rupiah Sebagai Mediator Penuh
Dalam model `[XY][XZ]`, interaksi langsung (IHSG × BI Rate) bernilai nol. Hal ini berkonsekuensi teoritis bahwa **BI Rate tidak memengaruhi IHSG secara langsung**. Seluruh dampak kebijakan moneter suku bunga acuan terhadap fluktuasi pasar modal ditransmisikan secara penuh (dimediasi) melalui stabilitas nilai tukar Rupiah (Kurs).
2. Efek Asosiasi Homogen (Common OR = 3.32)
Kekuatan korelasi Kurs-IHSG bersifat konstan di setiap tingkatan kebijakan suku bunga Bank Indonesia. Terlepas dari apakah BI Rate sedang dipotong, ditahan, atau dinaikkan, pelemahan mata uang Rupiah secara konsisten mengerek risiko kemerosotan IHSG sebesar 3.32 kali lipat lebih tinggi.
3. Volatilitas Saat Kenaikan Suku Bunga
Nilai residual ekstrem pada saat BI Rate Naik membuktikan adanya kejutan moneter (monetary shock). Keputusan menaikkan suku bunga acuan seringkali menimbulkan distorsi psikologis jangka pendek pada aliran modal asing, yang mendistorsi korelasi log-linear normal historis.
4. Implikasi Bagi Bank Indonesia & Investor
Bagi bank sentral, menjaga volatilitas nilai tukar (*triple intervention*) merupakan kunci fundamental utama sebelum mengharapkan dampak positif pelonggaran moneter terhadap pasar saham. Bagi investor, bobot portofolio saham harus defensif ketika Rupiah melemah, tanpa memandang arah BI Rate.

Konklusi Riset Kelompok 10

Kajian asosiasi log-linear tiga arah pada data bulanan periode 2010–2026 menyimpulkan temuan berikut:

01
Efek Depresiasi Rupiah Dominan Terhadap IHSG
Korelasi dua arah Kurs-IHSG sangat signifikan. Pelemahan Rupiah MoM meningkatkan risiko penurunan bulanan IHSG secara kuat sebesar 3.32 kali lipat secara homogen di seluruh strata moneter.
02
Monetary Transmission Melalui Jalur Kurs
Model `[XY][XZ]` membuktikan **independensi bersyarat** antara IHSG dan BI Rate. Kebijakan suku bunga tidak mengendalikan indeks saham secara langsung, melainkan harus melalui stabilitas nilai tukar terlebih dahulu.
03
Hubungan Kurs dan IHSG Tetap Konsisten
Baik saat BI Rate turun, tetap, maupun naik, hubungan antara Kurs dan IHSG tidak banyak berubah. Ini menunjukkan bahwa pergerakan nilai tukar tetap menjadi faktor penting bagi pasar modal Indonesia.
04
Guncangan Kejutan Moneter Jangka Pendek
Penyimpangan model yang terjadi khusus pada periode BI Rate Naik mengindikasikan adanya dampak jangka pendek dari kebijakan kenaikan suku bunga yang memengaruhi pola hubungan antarvariabel.