Asuransi kendaraan bermotor merupakan salah satu bidang penting dalam industri asuransi umum karena berkaitan langsung dengan pengelolaan risiko kerugian akibat kecelakaan, kerusakan, maupun kejadian lain pada kendaraan. Dalam praktiknya, klaim asuransi tidak hanya dinilai dari apakah klaim terjadi atau tidak, tetapi juga dari tingkat keparahan klaim. Keparahan klaim menggambarkan besar kecilnya nilai kerugian yang harus dibayarkan oleh perusahaan asuransi.
Pada penelitian ini, keparahan klaim asuransi mobil dikelompokkan menjadi tiga kategori berurutan, yaitu Rendah, Sedang, dan Tinggi. Karena kategori tersebut memiliki tingkatan, maka pendekatan yang digunakan adalah Ordinal Logistic Regression. Metode ini sesuai karena mampu menganalisis variabel respon berbentuk kategori ordinal dan menjelaskan faktor-faktor yang meningkatkan atau menurunkan kecenderungan klaim masuk ke kategori keparahan yang lebih tinggi.
Inti penelitian ini adalah mengetahui faktor risiko apa saja yang berkaitan dengan klaim asuransi mobil yang lebih parah. Hasil analisis diharapkan dapat membantu perusahaan asuransi dalam segmentasi risiko, pemilahan klaim sejak dini, dan penentuan prioritas investigasi klaim.
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dataset publik
Auto Insurance Claims dengan nama file
insurance_claims.csv. Dataset ini tersedia pada Kaggle
melalui halaman Auto Insurance Claims Data: https://www.kaggle.com/datasets/buntyshah/auto-insurance-claims-data.
Dataset berisi informasi klaim asuransi mobil yang mencakup identitas polis, karakteristik pemegang polis, informasi insiden, nilai klaim, serta indikasi fraud. Unit analisis dalam penelitian ini adalah satu baris data klaim asuransi mobil.
| Komponen | Keterangan |
|---|---|
| Nama dataset | Auto Insurance Claims Data |
| Nama file | insurance_claims.csv |
| Sumber | Kaggle |
| Jumlah observasi | 1.000 klaim |
| Jumlah kolom awal | 40 variabel |
| Unit analisis | Satu klaim asuransi mobil |
| Fokus penelitian | Kategori keparahan klaim asuransi mobil |
| Metode utama | Ordinal Logistic Regression |
Agar penelitian lebih jelas, beberapa informasi data yang menjadi dasar analisis ditampilkan secara eksplisit sebagai berikut.
| Informasi Data | Hasil |
|---|---|
| Jumlah klaim yang dianalisis | 1.000 klaim |
| Rata-rata total klaim | USD 52.761,94 |
| Simpangan baku total klaim | USD 26.401,53 |
| Nilai klaim minimum | USD 100 |
| Nilai klaim maksimum | USD 114.920 |
| Rata-rata usia pemegang polis | 38,95 tahun |
| Rata-rata lama menjadi nasabah | 203,95 bulan |
| Rata-rata premi tahunan | USD 1.256,41 |
| Rata-rata deductible | USD 1.136,00 |
| Rata-rata jumlah kendaraan terlibat | 1,84 kendaraan |
| Rata-rata jumlah cedera tubuh | 0,99 |
| Rata-rata jumlah saksi | 1,49 |
Kategori keparahan klaim dibentuk berdasarkan nilai
total_claim_amount. Pembagian kategori dilakukan
menggunakan tertil empiris, sehingga data terbagi relatif seimbang ke
dalam tiga kategori.
| Kategori Keparahan | Batas Nilai Total Klaim | Frekuensi | Persentase |
|---|---|---|---|
| Rendah | ≤ USD 49.390 | 334 | 33,4% |
| Sedang | USD 49.400 – USD 65.560 | 333 | 33,3% |
| Tinggi | ≥ USD 65.780 | 333 | 33,3% |
Pembagian tertil dipilih agar kategori Rendah, Sedang, dan Tinggi memiliki jumlah observasi yang relatif seimbang. Hal ini membantu model karena tidak ada kategori respon yang terlalu dominan.
Grafik berikut memperlihatkan bahwa kategori keparahan klaim sudah terbagi hampir seimbang. Visualisasi ini penting untuk menunjukkan bahwa model tidak didominasi oleh satu kategori respon saja.
Distribusi kategori keparahan klaim
Berdasarkan latar belakang dan karakteristik data, rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.
Tujuan penelitian ini adalah:
Secara akademik, penelitian ini bermanfaat sebagai penerapan metode regresi logistik ordinal pada kasus data kategori di bidang asuransi. Secara praktis, hasil penelitian dapat digunakan sebagai dasar untuk memahami karakteristik klaim yang berpotensi masuk ke kategori keparahan lebih tinggi.
Bagi perusahaan asuransi, hasil analisis ini dapat membantu dalam:
Metode penelitian ini memliki alurnya sendiri, Alur tersebut digunakan agar pembaca dapat mengikuti proses penelitian dari awal sampai akhir. Tahap pertama adalah memahami data. Dalam dataset ini, satu baris data berarti satu klaim asuransi mobil. Jadi, setiap baris tidak dibaca sebagai satu perusahaan atau satu kelompok, tetapi sebagai satu kasus klaim.
Setelah itu, variabel total_claim_amount atau total
nilai klaim diubah menjadi kategori keparahan klaim, yaitu
Rendah, Sedang, dan
Tinggi. Perubahan ini dilakukan karena tujuan
penelitian bukan hanya melihat angka klaim, tetapi ingin mengetahui
faktor apa saja yang membuat klaim cenderung masuk ke kategori yang
lebih parah.
Tahap berikutnya adalah memilih variabel prediktor, yaitu variabel yang diduga dapat menjelaskan keparahan klaim. Variabel yang digunakan mewakili beberapa aspek: karakteristik nasabah, karakteristik polis, karakteristik insiden, dan status klaim. Variabel yang terlalu dekat dengan jawaban akhir tidak digunakan agar model tidak “menebak dari bocoran jawaban”.
Analisis kemudian dilanjutkan dengan tabel kontingensi, grafik, dan uji asosiasi awal untuk melihat pola data sebelum model utama dibuat. Setelah itu digunakan Ordinal Logistic Regression karena variabel respon memiliki urutan Rendah < Sedang < Tinggi. Hasil model dibaca menggunakan odds ratio agar arah dan besar pengaruh setiap variabel lebih mudah dipahami.
Bagian ini dibuat agar istilah statistik dalam laporan lebih mudah dipahami.
| Istilah | Arti sederhana dalam penelitian ini |
|---|---|
total_claim_amount |
Total nilai uang klaim yang diajukan dalam satu kasus klaim asuransi mobil. |
severity_level |
Kategori keparahan klaim yang dibuat dari
total_claim_amount, yaitu Rendah, Sedang, dan Tinggi. |
| Tertil | Cara membagi data menjadi tiga kelompok yang jumlahnya relatif seimbang. Dalam laporan ini, tertil dipakai untuk membentuk kategori Rendah, Sedang, dan Tinggi. |
| Variabel prediktor | Variabel penjelas yang diduga memengaruhi keparahan klaim, misalnya jumlah kendaraan, cedera tubuh, kerusakan properti, dan fraud. |
| Dummy variable | Variabel kategori yang diubah menjadi angka 0 dan 1 agar bisa masuk ke model. Contoh: laki-laki = 1 dan perempuan = 0. |
| Odds ratio (OR) | Ukuran kecenderungan. OR > 1 berarti variabel meningkatkan kecenderungan klaim masuk kategori lebih parah. OR < 1 berarti kecenderungannya menurun. |
| Data leakage | Kondisi ketika model memakai informasi yang terlalu dekat dengan
jawaban akhir. Contohnya, injury_claim,
property_claim, dan vehicle_claim tidak
dipakai karena merupakan bagian dari total klaim. |
| Complete separation | Kondisi ketika suatu kategori variabel hampir selalu atau selalu
jatuh pada satu kategori respon tertentu. Akibatnya, model sulit membuat
estimasi yang stabil. Dalam laporan ini, incident_type
tidak dipakai karena beberapa jenis insiden selalu masuk kategori
Rendah. |
| Proportional odds | Asumsi bahwa pengaruh prediktor dianggap sama pada setiap batas kategori, yaitu Rendah vs Sedang/Tinggi dan Rendah/Sedang vs Tinggi. |
| Uji Brant | Uji untuk mengecek apakah asumsi proportional odds terpenuhi atau tidak. |
| Partial proportional odds model | Model lanjutan yang dipakai jika hanya sebagian variabel melanggar asumsi proportional odds. Variabel yang melanggar boleh punya pengaruh berbeda pada setiap batas kategori. |
| Pseudo R-square | Ukuran kecocokan model pada regresi logistik. Ini bukan R-square biasa seperti pada regresi linear. |
| AIC dan BIC | Ukuran untuk membandingkan model. Nilai yang lebih kecil biasanya menunjukkan model yang relatif lebih baik jika dibandingkan dengan model lain. |
Data yang digunakan adalah data sekunder berupa dataset publik Auto Insurance Claims Data yang diperoleh dari Kaggle. Dataset ini berisi 1.000 observasi klaim asuransi mobil dengan 40 variabel awal. Informasi di dalamnya mencakup data polis, karakteristik pemegang polis, karakteristik insiden, nilai klaim, dan status indikasi fraud. Dengan demikian, dataset ini sesuai untuk penelitian karena memuat informasi yang dibutuhkan untuk menjelaskan variasi tingkat keparahan klaim.
Secara statistik, data ini termasuk data observasional dan bersifat cross-sectional, karena setiap observasi menggambarkan satu kejadian klaim pada satu waktu pengamatan. Unit analisisnya adalah satu klaim asuransi mobil, bukan individu secara umum dan bukan perusahaan asuransi. Artinya, setiap baris data dibaca sebagai satu kasus klaim yang memiliki atribut tertentu, seperti usia pemegang polis, jumlah kendaraan terlibat, cedera tubuh, kerusakan properti, serta apakah klaim tersebut terindikasi fraud.
Mengapa data ini membantu tujuan penelitian?
Data ini membantu penelitian karena memiliki tiga komponen utama yang dibutuhkan untuk model statistik:
Dengan struktur data tersebut, penelitian dapat menjawab tujuan
utama, yaitu mengidentifikasi faktor risiko yang meningkatkan
kecenderungan klaim berada pada kategori keparahan yang lebih tinggi.
Misalnya, variabel number_of_vehicles_involved membantu
menjelaskan kompleksitas insiden, bodily_injuries membantu
menggambarkan dampak cedera, property_damage menunjukkan
adanya kerusakan tambahan, dan fraud_reported memberikan
informasi apakah klaim memiliki indikasi kecurangan.
Data ini sesuai dianalisis menggunakan Ordinal Logistic Regression karena variabel respon yang dibentuk memiliki urutan alami. Kategori Rendah < Sedang < Tinggi menunjukkan tingkatan keparahan klaim. Oleh karena itu, metode yang digunakan harus mampu mempertahankan informasi urutan tersebut.
Regresi logistik biner tidak digunakan karena variabel respon memiliki tiga kategori, bukan dua kategori. Regresi logistik multinomial juga tidak dijadikan model utama karena metode tersebut memperlakukan kategori sebagai kelompok yang tidak berurutan, padahal dalam penelitian ini urutan Rendah, Sedang, dan Tinggi memiliki makna substantif. Dengan demikian, Ordinal Logistic Regression menjadi pilihan yang lebih sesuai karena mampu mengakomodasi struktur data kategori yang berjenjang.
Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan rancangan observasional. Data yang digunakan bersifat cross-sectional, karena setiap observasi merepresentasikan satu klaim asuransi pada dataset yang dianalisis.
Pendekatan yang digunakan adalah analisis statistik inferensial melalui Ordinal Logistic Regression. Model ini digunakan karena variabel respon berupa kategori keparahan klaim yang memiliki urutan, yaitu:
Rendah < Sedang < Tinggi
Variabel dalam penelitian ini dibagi menjadi dua bagian, yaitu variabel respon dan variabel prediktor. Variabel respon adalah variabel yang ingin dijelaskan, sedangkan variabel prediktor adalah variabel yang digunakan untuk menjelaskan atau memengaruhi respon.
Bahasa sederhananya:
| Nama Asli di Dataset | Nama dalam Laporan/Model | Arti Variabel | Cara Membaca | Alasan Dipakai |
|---|---|---|---|---|
total_claim_amount |
severity_level |
Total nilai klaim yang kemudian diubah menjadi kategori keparahan klaim. | Klaim dibagi menjadi Rendah, Sedang, dan Tinggi. | Menjadi variabel respon karena penelitian ingin menjelaskan tingkat keparahan klaim. |
age |
age |
Usia pemegang polis. | Misalnya 35 berarti nasabah berusia 35 tahun. | Dipakai untuk melihat apakah usia berkaitan dengan tingkat keparahan klaim. |
months_as_customer |
tenure_yr |
Lama seseorang menjadi nasabah asuransi. | Data asli dalam bulan, lalu diubah menjadi tahun. Contoh: 120 bulan = 10 tahun. | Diubah ke tahun agar lebih mudah diinterpretasikan. |
policy_annual_premium |
premium100 |
Premi tahunan yang dibayar pemegang polis. | Dibaca per USD 100. | Dipakai untuk melihat apakah besar premi berkaitan dengan keparahan klaim. |
policy_deductable |
deduct500 |
Deductible, yaitu biaya awal yang ditanggung pemegang polis sebelum asuransi membayar klaim. | Dibaca per USD 500. | Dipakai karena deductible dapat menggambarkan struktur polis dan risiko klaim. |
number_of_vehicles_involved |
number_of_vehicles_involved |
Jumlah kendaraan yang terlibat dalam insiden. | Nilai 1 berarti satu kendaraan; nilai 3 berarti tiga kendaraan terlibat. | Dipakai karena semakin banyak kendaraan, potensi kerugian klaim bisa semakin besar. |
bodily_injuries |
bodily_injuries |
Jumlah cedera tubuh akibat insiden. | Nilai 0 berarti tidak ada cedera; nilai 2 berarti terdapat dua cedera tubuh. | Dipakai karena cedera tubuh dapat meningkatkan nilai klaim. |
witnesses |
witnesses |
Jumlah saksi dalam kejadian klaim. | Nilai 0 berarti tidak ada saksi; nilai 2 berarti ada dua saksi. | Dipakai untuk melihat apakah jumlah saksi berkaitan dengan tingkat keparahan klaim. |
insured_sex |
male |
Jenis kelamin pemegang polis. | Diubah menjadi dummy: 1 = laki-laki, 0 = perempuan. | Diubah menjadi angka agar dapat dimasukkan ke model regresi. |
insured_education_level |
edu_tinggi |
Tingkat pendidikan pemegang polis. | Diubah menjadi dummy: 1 = pendidikan tinggi S2 ke atas, 0 = selainnya. | Dipakai untuk melihat apakah pendidikan berkaitan dengan keparahan klaim. |
property_damage |
propdmg |
Status apakah insiden menyebabkan kerusakan properti. | Diubah menjadi dummy: 1 = ada kerusakan properti, 0 = tidak/unknown. | Dipakai karena kerusakan properti dapat menambah nilai kerugian klaim. |
fraud_reported |
fraud |
Status apakah klaim dilaporkan memiliki indikasi kecurangan. | Diubah menjadi dummy: 1 = terindikasi fraud, 0 = tidak fraud. | Dipakai karena klaim yang terindikasi fraud dapat berkaitan dengan klaim yang lebih besar atau lebih mencurigakan. |
Tidak semua variabel dalam dataset awal dipakai dalam model. Pemilihan variabel dilakukan agar model tetap relevan, mudah diinterpretasikan, dan tidak menggunakan variabel yang terlalu dekat dengan jawaban akhir.
| Variabel Asli | Dipakai sebagai | Maksudnya | Alasan Sederhana |
|---|---|---|---|
age |
age |
Usia pemegang polis. | Usia dapat mewakili profil dasar nasabah. |
months_as_customer |
tenure_yr |
Lama menjadi nasabah. | Dibaca dalam tahun agar lebih mudah dipahami. |
policy_annual_premium |
premium100 |
Premi tahunan. | Dibaca per USD 100 agar efeknya tidak terlalu kecil. |
policy_deductable |
deduct500 |
Besar deductible. | Dibaca per USD 500 agar interpretasinya lebih praktis. |
number_of_vehicles_involved |
sama | Jumlah kendaraan dalam insiden. | Insiden dengan lebih banyak kendaraan biasanya lebih kompleks. |
bodily_injuries |
sama | Jumlah cedera tubuh. | Cedera tubuh dapat meningkatkan biaya klaim. |
witnesses |
sama | Jumlah saksi. | Saksi dapat berkaitan dengan karakteristik kejadian klaim. |
insured_sex |
male |
Jenis kelamin. | Diubah menjadi 0/1 agar bisa digunakan dalam model. |
insured_education_level |
edu_tinggi |
Pendidikan tinggi atau bukan. | Diubah menjadi 0/1 agar model lebih sederhana. |
property_damage |
propdmg |
Ada atau tidaknya kerusakan properti. | Kerusakan properti dapat memperbesar nilai klaim. |
fraud_reported |
fraud |
Klaim terindikasi fraud atau tidak. | Fraud penting karena dapat berkaitan dengan klaim bernilai tinggi. |
| Variabel | Alasan Tidak Digunakan dalam Bahasa Sederhana |
|---|---|
policy_number |
Nomor polis hanya identitas. Variabel ini tidak menjelaskan besar kecilnya klaim. |
insured_zip |
Kode pos terlalu spesifik dan lebih mirip identitas lokasi. |
incident_location |
Lokasi kejadian terlalu detail sehingga sulit dimasukkan langsung ke model. |
injury_claim, property_claim,
vehicle_claim |
Ketiganya adalah bagian penyusun total_claim_amount.
Jika dipakai, model seperti diberi “bocoran jawaban”. Ini disebut
data leakage atau kebocoran informasi. |
incident_type |
Tidak dipakai karena beberapa jenis insiden selalu masuk kategori klaim Rendah. Kondisi ini dapat menyebabkan complete separation, yaitu model sulit mengestimasi pengaruh variabel dengan stabil. |
collision_type,
police_report_available |
Memiliki nilai tidak lengkap atau tanda tanya cukup banyak. |
auto_make, auto_model,
incident_city, incident_state |
Memiliki terlalu banyak kategori, sehingga model bisa menjadi terlalu rumit dan sulit diinterpretasikan. |
Catatan penting tentang complete separation
Complete separation terjadi ketika suatu kategori prediktor terlalu “sempurna” memisahkan kategori respon. Misalnya, jika suatu jenis insiden selalu masuk kategori klaim Rendah dan tidak pernah masuk Sedang atau Tinggi, maka model kesulitan menghitung pengaruhnya secara stabil. Karena itu, variabel seperti ini lebih aman tidak dimasukkan ke model utama.
Variabel respon severity_level dibentuk dari
total_claim_amount. Nilai total klaim dibagi menjadi tiga
kategori berdasarkan tertil empiris:
Pembentukan ini dilakukan karena keparahan klaim secara konseptual merepresentasikan besar kecilnya kerugian. Karena kategori yang terbentuk memiliki urutan, maka analisis yang sesuai adalah regresi logistik ordinal.
Kenapa modelnya bukan regresi linear biasa?
Karena variabel yang dijelaskan bukan angka kontinu, tetapi kategori berurutan: Rendah, Sedang, Tinggi. Kalau memakai regresi linear, kategori tersebut seolah-olah dianggap angka biasa, padahal jarak antara Rendah ke Sedang belum tentu sama dengan jarak Sedang ke Tinggi.
Teknik analisis yang digunakan adalah Ordinal Logistic Regression dengan pendekatan proportional odds model. Model ini digunakan untuk melihat bagaimana prediktor memengaruhi kecenderungan klaim berada pada kategori keparahan yang lebih tinggi.
Interpretasi utama dilakukan menggunakan odds ratio (OR). Aturan interpretasinya adalah:
| Nilai Odds Ratio | Interpretasi |
|---|---|
| OR = 1 | Tidak ada perubahan kecenderungan masuk kategori keparahan lebih tinggi. |
| OR > 1 | Meningkatkan odds klaim berada pada kategori keparahan lebih tinggi. |
| OR < 1 | Menurunkan odds klaim berada pada kategori keparahan lebih tinggi. |
Tahapan analisis dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.
Dataset yang dianalisis terdiri dari 1.000 klaim asuransi mobil. Kategori keparahan klaim dibentuk secara relatif seimbang, sehingga masing-masing kategori memiliki jumlah observasi yang hampir sama.
| Kategori Keparahan | Frekuensi | Persentase | Rata-rata Total Klaim |
|---|---|---|---|
| Rendah | 334 | 33,4% | USD 21.972 |
| Sedang | 333 | 33,3% | USD 57.906 |
| Tinggi | 333 | 33,3% | USD 78.500 |
Tabel tersebut menunjukkan bahwa pembagian kategori berhasil memisahkan nilai klaim menjadi tiga tingkat yang berbeda. Kategori Rendah memiliki rata-rata klaim paling kecil, sedangkan kategori Tinggi memiliki rata-rata klaim paling besar.
Grafik ini menunjukkan perbedaan nilai klaim rata-rata pada setiap kategori. Semakin tinggi kategori keparahan, semakin besar rata-rata nilai total klaimnya.
Rata-rata total klaim menurut kategori keparahan
Ringkasan variabel numerik yang digunakan dalam analisis ditampilkan pada tabel berikut.
| Variabel | Rerata | Simpangan Baku | Minimum | Maksimum |
|---|---|---|---|---|
| Usia pemegang polis | 38,95 | 9,14 | 19 | 64 |
| Lama menjadi nasabah | 203,95 bulan | 115,11 bulan | 0 | 479 |
| Premi tahunan | USD 1.256,41 | USD 244,17 | USD 433 | USD 2.048 |
| Deductible | USD 1.136,00 | USD 611,86 | USD 500 | USD 2.000 |
| Jumlah kendaraan terlibat | 1,84 | 1,02 | 1 | 4 |
| Jumlah cedera tubuh | 0,99 | 0,82 | 0 | 2 |
| Jumlah saksi | 1,49 | 1,11 | 0 | 3 |
| Total klaim | USD 52.761,94 | USD 26.401,53 | USD 100 | USD 114.920 |
Komposisi variabel kategorik yang digunakan dalam penelitian ditampilkan sebagai berikut.
| Variabel / Kategori | Frekuensi | Persentase |
|---|---|---|
| Jenis kelamin: Perempuan | 537 | 53,7% |
| Jenis kelamin: Laki-laki | 463 | 46,3% |
| Pendidikan tinggi S2+ | 573 | 57,3% |
| Kerusakan properti: Ya | 302 | 30,2% |
| Indikasi fraud: Ya | 247 | 24,7% |
Tabel kontingensi digunakan untuk melihat sebaran frekuensi silang
antara kategori keparahan klaim dengan faktor risiko tertentu. Karena
variabel respon severity_level berbentuk kategori ordinal,
tabel kontingensi dapat membantu memberikan gambaran awal sebelum hasil
regresi logistik ordinal diinterpretasikan.
Tabel kontingensi tidak menggantikan model regresi logistik ordinal. Tabel ini berfungsi sebagai analisis deskriptif awal untuk melihat pola hubungan antarvariabel kategori. Interpretasi utama tetap menggunakan odds ratio dari model ordinal logistic regression.
| Indikasi Fraud | Rendah | Sedang | Tinggi | Total |
|---|---|---|---|---|
| Tidak | 283 | 238 | 232 | 753 |
| Ya | 51 | 95 | 101 | 247 |
| Total | 334 | 333 | 333 | 1.000 |
| Indikasi Fraud | Rendah | Sedang | Tinggi |
|---|---|---|---|
| Tidak | 37,6% | 31,6% | 30,8% |
| Ya | 20,6% | 38,5% | 40,9% |
Pada klaim yang tidak terindikasi fraud, proporsi terbesar berada pada kategori Rendah, yaitu 37,6%. Sebaliknya, pada klaim yang terindikasi fraud, proporsi terbesar berada pada kategori Tinggi, yaitu 40,9%. Pola ini mendukung hasil model bahwa indikasi fraud berkaitan dengan kecenderungan klaim masuk kategori keparahan lebih tinggi.
| Kerusakan Properti | Rendah | Sedang | Tinggi | Total |
|---|---|---|---|---|
| Tidak/Unknown | 244 | 238 | 216 | 698 |
| Ya | 90 | 95 | 117 | 302 |
| Total | 334 | 333 | 333 | 1.000 |
| Kerusakan Properti | Rendah | Sedang | Tinggi |
|---|---|---|---|
| Tidak/Unknown | 35,0% | 34,1% | 30,9% |
| Ya | 29,8% | 31,5% | 38,7% |
Pada klaim dengan kerusakan properti, proporsi kategori Tinggi mencapai 38,7%, lebih besar dibanding klaim tanpa kerusakan properti atau unknown yang sebesar 30,9%. Hal ini menunjukkan bahwa adanya kerusakan properti cenderung berkaitan dengan klaim yang lebih berat.
| Jumlah Kendaraan Terlibat | Rendah | Sedang | Tinggi | Total |
|---|---|---|---|---|
| 1 kendaraan | 249 | 159 | 173 | 581 |
| 2 kendaraan | 3 | 14 | 13 | 30 |
| 3 kendaraan | 75 | 149 | 134 | 358 |
| 4 kendaraan | 7 | 11 | 13 | 31 |
| Total | 334 | 333 | 333 | 1.000 |
| Jumlah Kendaraan Terlibat | Rendah | Sedang | Tinggi |
|---|---|---|---|
| 1 kendaraan | 42,9% | 27,4% | 29,8% |
| 2 kendaraan | 10,0% | 46,7% | 43,3% |
| 3 kendaraan | 20,9% | 41,6% | 37,4% |
| 4 kendaraan | 22,6% | 35,5% | 41,9% |
Insiden yang hanya melibatkan satu kendaraan lebih banyak berada pada kategori Rendah. Sebaliknya, ketika jumlah kendaraan bertambah, proporsi kategori Sedang dan Tinggi menjadi lebih besar. Pola ini sejalan dengan hasil model bahwa jumlah kendaraan yang terlibat merupakan faktor signifikan terhadap keparahan klaim.
| Jumlah Cedera Tubuh | Rendah | Sedang | Tinggi | Total |
|---|---|---|---|---|
| 0 | 120 | 115 | 105 | 340 |
| 1 | 122 | 104 | 102 | 328 |
| 2 | 92 | 114 | 126 | 332 |
| Total | 334 | 333 | 333 | 1.000 |
| Jumlah Cedera Tubuh | Rendah | Sedang | Tinggi |
|---|---|---|---|
| 0 | 35,3% | 33,8% | 30,9% |
| 1 | 37,2% | 31,7% | 31,1% |
| 2 | 27,7% | 34,3% | 38,0% |
Klaim dengan dua cedera tubuh memiliki proporsi kategori Tinggi sebesar 38,0%, lebih besar dibanding klaim tanpa cedera tubuh yang sebesar 30,9%. Ini menunjukkan bahwa semakin besar dampak cedera, klaim cenderung bergeser ke kategori keparahan yang lebih tinggi.
Berdasarkan tabel kontingensi, pola awal yang terlihat adalah klaim cenderung lebih berat apabila terdapat indikasi fraud, kerusakan properti, jumlah kendaraan yang terlibat lebih banyak, dan jumlah cedera tubuh lebih besar. Pola deskriptif ini konsisten dengan hasil model regresi logistik ordinal, di mana keempat variabel tersebut terbukti signifikan meningkatkan odds klaim berada pada kategori keparahan yang lebih tinggi.
Sebelum model utama diinterpretasikan, dilakukan pemeriksaan asosiasi awal antara beberapa prediktor dengan kategori keparahan klaim. Hasilnya menunjukkan bahwa:
| Variabel | Hasil Asosiasi Awal | Interpretasi |
|---|---|---|
| Jumlah kendaraan yang terlibat | Kruskal–Wallis H = 51,80; p < 0,001 | Berasosiasi kuat dengan keparahan klaim. |
| Indikasi fraud | χ² = 24,27; p < 0,001; Cramer’s V = 0,156 | Berasosiasi signifikan dengan keparahan klaim. |
| Jenis insiden | Cramer’s V = 0,466 | Asosiasi kuat, tetapi tidak dimasukkan ke model karena masalah complete separation atau pemisahan sempurna. |
| Usia, jenis kelamin, pendidikan, premi, deductible, lama nasabah, saksi | p > 0,05 | Tidak menunjukkan asosiasi bivariat yang signifikan. |
Hasil asosiasi awal memberi gambaran bahwa karakteristik insiden lebih menonjol dibanding karakteristik demografis. Jumlah kendaraan yang terlibat dan indikasi fraud sudah terlihat kuat sejak tahap deskriptif.
Model regresi logistik ordinal diestimasi menggunakan 11 variabel prediktor. Hasil model menunjukkan bahwa model signifikan secara keseluruhan dibanding model tanpa prediktor.
| Ukuran Model | Hasil |
|---|---|
| Likelihood ratio chi-square | 66,72 |
| Derajat bebas | 11 |
| p-value model keseluruhan | < 0,001 |
| McFadden pseudo R-square | 0,030 |
| Cox–Snell pseudo R-square | 0,065 |
| Nagelkerke pseudo R-square | 0,073 |
| AIC | 2.156,5 |
| BIC | 2.220,3 |
| Akurasi klasifikasi | 43,2% |
Model signifikan secara keseluruhan karena p-value < 0,001. Artinya, secara bersama-sama variabel prediktor memiliki informasi yang berguna untuk menjelaskan kategori keparahan klaim. Namun, nilai pseudo R-square relatif rendah, sehingga model hanya menjelaskan sebagian kecil variasi keparahan klaim.
Tabel berikut menyajikan hasil utama model regresi logistik ordinal. Tabel ini hanya menampilkan hasil akhir estimasi, bukan proses perhitungannya.
| Prediktor | Koefisien (β) | SE | Wald z | p-value | OR (95% CI) | Keputusan |
|---|---|---|---|---|---|---|
| Usia | 0,025 | 0,016 | 1,53 | 0,126 | 1,025 (0,99–1,06) | Tidak signifikan |
| Lama nasabah | −0,012 | 0,016 | −0,75 | 0,451 | 0,988 (0,96–1,02) | Tidak signifikan |
| Premi tahunan per USD 100 | 0,006 | 0,025 | 0,24 | 0,813 | 1,006 (0,96–1,06) | Tidak signifikan |
| Deductible per USD 500 | 0,012 | 0,048 | 0,24 | 0,807 | 1,012 (0,92–1,11) | Tidak signifikan |
| Jumlah kendaraan terlibat | 0,311 | 0,058 | 5,33 | < 0,001 | 1,365 (1,22–1,53) | Signifikan |
| Jumlah cedera tubuh | 0,165 | 0,072 | 2,29 | 0,022 | 1,179 (1,02–1,36) | Signifikan |
| Jumlah saksi | −0,029 | 0,053 | −0,55 | 0,581 | 0,971 (0,88–1,08) | Tidak signifikan |
| Jenis kelamin laki-laki | −0,116 | 0,119 | −0,98 | 0,329 | 0,890 (0,71–1,12) | Tidak signifikan |
| Pendidikan tinggi S2+ | 0,092 | 0,119 | 0,77 | 0,440 | 1,097 (0,87–1,39) | Tidak signifikan |
| Kerusakan properti | 0,312 | 0,130 | 2,41 | 0,016 | 1,366 (1,06–1,76) | Signifikan |
| Indikasi fraud | 0,584 | 0,137 | 4,27 | < 0,001 | 1,793 (1,37–2,34) | Signifikan |
Grafik berikut mempermudah pembacaan hasil model. Garis putus-putus pada OR = 1 menjadi batas netral. Variabel dengan titik di atas 1 cenderung meningkatkan odds klaim masuk ke kategori keparahan yang lebih tinggi.
Odds ratio dan interval kepercayaan 95% pada model ordinal
Berdasarkan hasil model, terdapat empat variabel yang berpengaruh signifikan terhadap kategori keparahan klaim, yaitu jumlah kendaraan yang terlibat, jumlah cedera tubuh, kerusakan properti, dan indikasi fraud.
Nilai odds ratio untuk jumlah kendaraan yang terlibat adalah 1,365 dengan p-value < 0,001. Artinya, setiap tambahan satu kendaraan yang terlibat dalam insiden meningkatkan odds klaim berada pada kategori keparahan yang lebih tinggi sebesar 36,5%, dengan asumsi variabel lain tetap.
Secara substantif, semakin banyak kendaraan yang terlibat dalam kecelakaan, maka insiden cenderung semakin kompleks dan potensi kerugian klaim semakin besar.
Nilai odds ratio untuk jumlah cedera tubuh adalah 1,179 dengan p-value = 0,022. Artinya, setiap tambahan satu cedera tubuh meningkatkan odds klaim masuk ke kategori keparahan yang lebih tinggi sebesar 17,9%.
Secara substantif, klaim yang melibatkan cedera tubuh cenderung lebih berat karena dapat menambah komponen kerugian dan memperbesar biaya klaim.
Nilai odds ratio untuk kerusakan properti adalah 1,366 dengan p-value = 0,016. Artinya, klaim yang memiliki kerusakan properti mempunyai odds 36,6% lebih tinggi untuk masuk ke kategori keparahan yang lebih tinggi dibanding klaim tanpa kerusakan properti.
Secara substantif, adanya kerusakan properti menunjukkan bahwa dampak insiden tidak hanya terbatas pada kendaraan utama, tetapi juga dapat melibatkan kerugian lain.
Nilai odds ratio untuk indikasi fraud adalah 1,793 dengan p-value < 0,001. Artinya, klaim yang terindikasi fraud memiliki odds 79,3% lebih tinggi untuk masuk ke kategori keparahan yang lebih tinggi dibanding klaim yang tidak terindikasi fraud.
Secara substantif, fraud menjadi faktor risiko paling kuat dalam model. Klaim dengan indikasi fraud perlu mendapat perhatian khusus karena berkaitan dengan potensi klaim bernilai lebih besar.
Variabel usia, lama menjadi nasabah, premi tahunan, deductible, jumlah saksi, jenis kelamin, dan pendidikan tinggi tidak signifikan pada taraf 5%. Artinya, dalam data ini belum terdapat bukti statistik yang cukup bahwa variabel-variabel tersebut memengaruhi kategori keparahan klaim.
| Variabel Tidak Signifikan | Interpretasi Singkat |
|---|---|
| Usia | Tidak terbukti berpengaruh signifikan terhadap keparahan klaim. |
| Lama menjadi nasabah | Lama hubungan nasabah tidak cukup menjelaskan kategori klaim. |
| Premi tahunan | Premi tidak terbukti signifikan dalam menjelaskan keparahan klaim. |
| Deductible | Besaran deductible tidak signifikan pada model ini. |
| Jumlah saksi | Jumlah saksi tidak terbukti memengaruhi tingkat keparahan klaim. |
| Jenis kelamin | Tidak terdapat bukti bahwa laki-laki dan perempuan berbeda signifikan dalam tingkat keparahan klaim. |
| Pendidikan tinggi | Tingkat pendidikan tinggi tidak terbukti signifikan terhadap keparahan klaim. |
Secara umum, hasil ini menunjukkan bahwa keparahan klaim lebih banyak dijelaskan oleh karakteristik insiden dibanding karakteristik demografis pemegang polis.
Asumsi proportional odds diuji menggunakan uji Brant. Hasil uji menunjukkan bahwa asumsi proportional odds tidak sepenuhnya terpenuhi secara keseluruhan.
| Pengujian | Statistik | Derajat Bebas | p-value | Keputusan |
|---|---|---|---|---|
| Uji Brant omnibus | 29,83 | 11 | 0,002 | Asumsi proportional odds tidak sepenuhnya terpenuhi |
| Uji rasio likelihood terhadap model multinomial | 30,60 | 11 | 0,001 | Terdapat indikasi pelanggaran asumsi |
Pemeriksaan per variabel menunjukkan bahwa pelanggaran terutama terjadi pada dua variabel berikut.
| Variabel | χ² | p-value | Interpretasi |
|---|---|---|---|
| Jumlah kendaraan terlibat | 19,05 | < 0,001 | Melanggar asumsi proportional odds |
| Indikasi fraud | 5,13 | 0,024 | Melanggar asumsi proportional odds |
Grafik berikut menampilkan p-value uji Brant untuk setiap prediktor. Garis putus-putus menunjukkan batas 0,05. Variabel dengan p-value di bawah 0,05 mengindikasikan pelanggaran asumsi proportional odds.
p-value uji Brant per variabel
Sementara itu, variabel lain memiliki p-value > 0,05 sehingga efeknya dapat dianggap relatif konstan antar batas kategori keparahan.
Karena terdapat pelanggaran asumsi proportional odds pada jumlah kendaraan yang terlibat dan indikasi fraud, koefisien tunggal dari model ordinal standar sebaiknya dipahami sebagai pengaruh rata-rata lintas ambang, bukan pengaruh yang sepenuhnya sama pada setiap batas kategori.
Sebagai tindak lanjut dari pelanggaran asumsi proportional odds, digunakan pendekatan partial proportional odds model. Model ini membebaskan efek variabel yang melanggar asumsi, yaitu jumlah kendaraan yang terlibat dan indikasi fraud, agar memiliki odds ratio berbeda pada setiap ambang kategori.
| Prediktor | Ambang Kategori | OR | 95% CI | p-value | Interpretasi |
|---|---|---|---|---|---|
| Indikasi fraud | Rendah → Sedang/Tinggi | 1,700 | 1,30–2,20 | 0,001 | Fraud meningkatkan odds masuk kategori Sedang/Tinggi sebesar 70%. |
| Indikasi fraud | Rendah/Sedang → Tinggi | 1,850 | 1,40–2,40 | 0,0005 | Fraud meningkatkan odds masuk kategori Tinggi sebesar 85%. |
| Jumlah kendaraan terlibat | Rendah → Sedang/Tinggi | 1,330 | 1,18–1,54 | 0,0001 | Tambahan satu kendaraan meningkatkan odds masuk Sedang/Tinggi sebesar 33%. |
| Jumlah kendaraan terlibat | Rendah/Sedang → Tinggi | 1,390 | 1,22–1,60 | 0,0001 | Tambahan satu kendaraan meningkatkan odds masuk Tinggi sebesar 39%. |
| Jumlah cedera tubuh | Seluruh ambang | 1,179 | 1,02–1,36 | 0,022 | Efek cedera tubuh konstan antar kategori. |
| Kerusakan properti | Seluruh ambang | 1,366 | 1,06–1,76 | 0,016 | Efek kerusakan properti konstan antar kategori. |
Grafik ini menunjukkan bahwa efek indikasi fraud dan jumlah kendaraan yang terlibat tidak sama pada setiap ambang kategori. Efek keduanya meningkat ketika ambang yang dilihat adalah kategori Tinggi.
Odds ratio model partial proportional odds pada setiap ambang kategori
Hasil partial proportional odds model menunjukkan bahwa efek fraud dan jumlah kendaraan bersifat progresif. Artinya, pengaruh keduanya lebih kuat ketika model membedakan klaim Tinggi dari klaim Rendah/Sedang.
Kemampuan klasifikasi model dilihat dari akurasi prediksi kategori keparahan klaim. Model menghasilkan akurasi sebesar 43,2%, lebih tinggi daripada tebakan acak seimbang sebesar 33,3%.
| Ukuran | Nilai | Interpretasi |
|---|---|---|
| Akurasi model | 43,2% | Model lebih baik daripada tebakan acak seimbang. |
| Garis dasar tebakan acak | 33,3% | Acuan karena terdapat tiga kategori yang relatif seimbang. |
| Kelas dengan akurasi paling baik | Rendah | Sebanyak 223 dari 334 klaim Rendah terklasifikasi tepat. |
| Kelas paling sulit dibedakan | Sedang | Kelas Sedang cenderung sulit dibedakan dari kelas Tinggi. |
Grafik berikut membandingkan akurasi model dengan tebakan acak seimbang. Karena terdapat tiga kategori dengan proporsi hampir sama, tebakan acak seimbang memiliki acuan sekitar 33,3%.
Perbandingan akurasi model dan tebakan acak seimbang
Nilai pseudo R-square yang relatif rendah menunjukkan bahwa masih banyak variasi keparahan klaim yang belum dijelaskan oleh prediktor yang tersedia. Hal ini wajar karena keparahan klaim dapat dipengaruhi oleh faktor lain, misalnya kondisi teknis kendaraan, jenis kerusakan secara detail, perilaku pengemudi, lokasi kejadian, dan proses investigasi klaim.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor yang paling berperan dalam menjelaskan keparahan klaim adalah karakteristik insiden, bukan karakteristik demografis pemegang polis. Jumlah kendaraan yang terlibat, cedera tubuh, kerusakan properti, dan indikasi fraud menjadi faktor utama yang meningkatkan kecenderungan klaim masuk ke kategori keparahan yang lebih tinggi.
Dalam konteks asuransi, temuan ini penting karena perusahaan tidak cukup hanya melihat profil dasar pemegang polis seperti usia, jenis kelamin, atau pendidikan. Perusahaan juga perlu memberi perhatian lebih besar pada kondisi kejadian klaim. Klaim yang melibatkan banyak kendaraan, cedera tubuh, kerusakan properti, atau indikasi fraud sebaiknya diprioritaskan dalam proses pemeriksaan dan penanganan.
Berdasarkan hasil regresi logistik ordinal, model signifikan secara keseluruhan dengan nilai likelihood ratio chi-square sebesar 66,72 dan p-value < 0,001. Artinya, variabel prediktor secara bersama-sama memiliki pengaruh terhadap kategori keparahan klaim asuransi mobil.
Dari sebelas prediktor yang dianalisis, terdapat empat variabel yang signifikan pada taraf 5%, yaitu:
Keempat variabel tersebut memiliki odds ratio lebih dari 1, sehingga meningkatkan kecenderungan klaim berada pada kategori keparahan yang lebih tinggi.
Secara substantif, klaim asuransi mobil cenderung menjadi lebih parah apabila melibatkan lebih banyak kendaraan, terdapat cedera tubuh, terdapat kerusakan properti, dan klaim tersebut terindikasi fraud. Faktor demografis seperti usia, jenis kelamin, dan pendidikan tidak terbukti signifikan dalam penelitian ini.
Dengan demikian, hasil analisis menunjukkan bahwa tingkat keparahan klaim lebih banyak ditentukan oleh karakteristik insiden dan indikasi fraud dibandingkan karakteristik dasar pemegang polis.
Hasil penelitian ini memiliki beberapa implikasi praktis bagi perusahaan asuransi.
Segmentasi risiko klaim
Klaim dengan jumlah kendaraan terlibat lebih banyak, adanya cedera
tubuh, dan kerusakan properti perlu diprioritaskan sebagai klaim yang
berpotensi lebih parah.
Pemilahan klaim sejak dini
Klaim yang memiliki indikator risiko tinggi dapat langsung diarahkan ke
jalur pemeriksaan lebih cepat.
Pengetatan investigasi fraud
Karena fraud memiliki odds ratio tertinggi, klaim dengan indikasi fraud
perlu diberi perhatian khusus dalam proses investigasi.
Evaluasi kebijakan premi
Faktor insiden dapat menjadi bahan pertimbangan dalam penilaian risiko
dan pengembangan kebijakan premi berbasis risiko.
Penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan. Pertama, nilai pseudo R-square relatif rendah, sehingga model belum menjelaskan seluruh variasi keparahan klaim. Kedua, terdapat pelanggaran parsial asumsi proportional odds pada variabel jumlah kendaraan dan indikasi fraud. Ketiga, dataset belum memuat beberapa informasi teknis yang mungkin penting, seperti kondisi kendaraan, riwayat mengemudi, tingkat kerusakan kendaraan secara detail, dan kondisi jalan saat kejadian.
Dataset: insurance_claims.csv.(https://www.kaggle.com/datasets/buntyshah/auto-insurance-claims-data)
Referensi metode utama:
Klugman, S. A., Panjer, H. H., & Willmot, G. E. (2019). Loss Models: From Data to Decisions (5th ed.). Hoboken, NJ: John Wiley & Sons.
Frees, E. W. (2010). Regression Modeling with Actuarial and Financial Applications. Cambridge: Cambridge Uni-versity Press.
de Jong, P., & Heller, G. Z. (2008). Generalized Linear Models for Insurance Data. Cambridge: Cambridge University Press.
Ohlsson, E., & Johansson, B. (2010). Non-Life Insurance Pricing with Generalized Linear Models. Berlin: Springer.
McCullagh, P. (1980). Regression models for ordinal data. Journal of the Royal Statistical Society: Series B, 42(2), 109–142.
Agresti, A. (2010). Analysis of Ordinal Categorical Data (2nd ed.). Hoboken, NJ: John Wiley & Sons.
Hosmer, D. W., Lemeshow, S., & Sturdivant, R. X. (2013). Applied Logistic Regression (3rd ed.). Hoboken, NJ: John Wiley & Sons.
Long, J. S. (1997). Regression Models for Categorical and Limited Dependent Variables. Thousand Oaks, CA: Sage Publications.
Brant, R. (1990). Assessing proportionality in the proportional odds model for ordinal logistic regression. Biometrics, 46(4), 1171–1178.
Fullerton, A. S., & Xu, J. (2016). Ordered Regression Models: Parallel, Partial, and Non-Parallel Alternatives. Boca Raton, FL: CRC Press.
Williams, R. (2016). Understanding and interpreting generalized ordered logit models. The Journal of Mathemati-cal Sociology, 40(1), 7–20.
Anderson, D., Feldblum, S., Modlin, C., Schirmacher, D., Schirmacher, E., & Thandi, N. (2007). A practitioner’s guide to generalized linear models. Casualty Actuarial Society Discussion Paper Program, 1–116.
David, M. (2015). Auto insurance premium calculation using generalized linear models. Procedia Economics and Finance, 20, 147–156.
McFadden, D. (1974). Conditional logit analysis of qualitative choice behavior. In P. Zarembka (Ed.), Frontiers in Econometrics (pp. 105–142). New York: Academic Press.