Analisis Model Log-Linear pada Hubungan Wilayah dan Tingkat Pendidikan
terhadap Pengangguran Terbuka di Bandung Tahun 2025
Syahid Fattahul Ihsan¹, Muhammad Zihan Fadillah²
¹ Affiliation 1; syahid24002@mail.unpad.ac.id
² Affiliation 2; muhammad24274@mail.unpad.ac.id
knitr::opts_chunk$set(echo = TRUE, warning = FALSE, message = FALSE, fig.align = "center", fig.width = 8.5, fig.height = 5.2)
packages <- c("dplyr", "ggplot2", "knitr", "kableExtra", "broom", "scales")
installed <- rownames(installed.packages())
for (p in packages) { if (!(p %in% installed)) install.packages(p) }
library(dplyr); library(ggplot2); library(knitr); library(kableExtra); library(broom); library(scales)
## Warning: package 'dplyr' was built under R version 4.5.3
##
## Attaching package: 'dplyr'
## The following objects are masked from 'package:stats':
##
## filter, lag
## The following objects are masked from 'package:base':
##
## intersect, setdiff, setequal, union
## Warning: package 'ggplot2' was built under R version 4.5.3
## Warning: package 'kableExtra' was built under R version 4.5.3
##
## Attaching package: 'kableExtra'
## The following object is masked from 'package:dplyr':
##
## group_rows
nice_kable <- function(x, caption = NULL, digits = 4, full_width = FALSE, color = "#0B3C5D") {
kable(x, caption = caption, digits = digits, align = "c") %>%
kable_styling(full_width = full_width, bootstrap_options = c("striped", "hover", "condensed", "responsive"), position = "center") %>%
row_spec(0, bold = TRUE, color = "white", background = color)
}
format_id <- function(x, digits = 2) format(round(x, digits), big.mark = ".", decimal.mark = ",", scientific = FALSE, trim = TRUE)
Abstract
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara wilayah
(Kabupaten Bandung dan Kota Bandung) dan tingkat pendidikan terhadap
pola pengangguran terbuka menggunakan pendekatan model log-linear. Data
mencakup 228.163 pengangguran terbuka yang diklasifikasikan ke dalam
lima kategori pendidikan: SD ke Bawah, SMP, SMA Umum, SMA Kejuruan, dan
Diploma/PT. Penelitian ini akan membuat 5 model yakni model Null, model
efek Wilayah, model efek Tingkat Pendidikan, model Independensi, dan
model Saturasi. Perbandingan model menggunakan statistik uji Likelihood
Ratio G² dan Pearson X², AIC dan BIC. Hasil menunjukkan bahwa model
independensi ditolak secara signifikan (G² = 21.384,77; df = 4; p <
0,0001), artinya terdapat interaksi antara wilayah dan tingkat
pendidikan. Berdasarkan seluruh model, model saturated terpilih sebagai
model yang paling sesuai. Odds ratio pada seluruh kategori pendidikan
selain Diploma/PT bernilai lebih besar dari 1 artinya kelompok
pendidikan menengah dan bawah secara relatif lebih dominan di Kabupaten
Bandung dibandingkan Kota Bandung. Hal ini menunjukan kebijakan
ketenagakerjaan perlu dirancang secara berbeda untuk masing-masing
wilayah, dengan mempertimbangkan karakteristik distribusi tingkat
pendidikan angkatan kerja setempat.
Keywords: model log-linear; tabel kontingensi;
pengangguran terbuka; pendidikan; residual standar; odds ratio.
1. Pendahuluan
Pengangguran terbuka merupakan salah satu indikator utama dalam
mengukur kondisi ketenagakerjaan suatu wilayah. Berdasarkan data Badan
Pusat Statistik, tingkat pengangguran terbuka (TPT) di Indonesia pada
Agustus 2023 mencapai 5,32%, dengan jumlah penganggur sebesar 7,86 juta
orang [1]. Jawa Barat sendiri merupakan Provinsi dengan TPT tertinggi di
antara provinsi-provinsi lainnya, dengan TPT sebesar 7,89% pada Februari
2023 yang kemudian menurun menjadi 6,91% pada Februari 2024 [2]. Kondisi
ini menjadikan Jawa Barat, khususnya wilayah Bandung, sebagai objek yang
relevan untuk dilakukan analisis.
Perbedaan karakteristik antara Kabupaten Bandung dan Kota Bandung
mencerminkan dua struktur ekonomi yang berbeda dalam satu kawasan. Kota
Bandung sebagai pusat pendidikan tinggi dan aktivitas ekonomi perkotaan
memiliki konsentrasi angkatan kerja terdidik yang tinggi, sementara
Kabupaten Bandung lebih banyak bertumpu pada sektor industri manufaktur
dan informal. Perbedaan ini mengakibatkan distribusi pengangguran
terbuka yang beragam antara kedua wilayah, terutama jika dilihat menurut
jenjang pendidikan tenaga kerja. Jibril, Susilo, dan Sakti (2022)
menunjukkan bahwa faktor lokasi atau unsur spasial memegang peranan
signifikan dalam menjelaskan variasi tingkat pengangguran terbuka
antarwilayah di Indonesia, sehingga pendekatan yang mempertimbangkan
keragaman wilayah sangat diperlukan dalam analisis ketenagakerjaan
[3].
Hubungan antara tingkat pendidikan dan pengangguran tidak bersifat
linier. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa peningkatan tingkat
pendidikan tidak selalu diikuti dengan penurunan pengangguran, bahkan
pada beberapa kondisi justru mendorong kenaikan pengangguran terbuka di
kalangan tenaga kerja terdidik akibat ketidaksesuaian keterampilan
(skills mismatch) dengan kebutuhan pasar kerja [4]. Haryanto dan Wibowo
(2022) menegaskan bahwa faktor tingkat pendidikan merupakan salah satu
variabel penting yang memengaruhi jumlah pengangguran di Indonesia;
pemodelan yang tepat terhadap data pengangguran sebagai data cacah
(count data) memerlukan pendekatan statistik berbasis distribusi Poisson
yang mampu menangkap keragaman struktur data tersebut [5].
Analisis data kategorik, khususnya melalui model log-linear,
merupakan pendekatan statistik yang tepat untuk memodelkan hubungan
antara dua atau lebih variabel kategorik dalam tabel kontingensi. Model
log-linear memungkinkan peneliti untuk menguji ada tidaknya asosiasi
antar variabel sekaligus mengidentifikasi komponen interaksi yang
menjelaskan pola frekuensi pada setiap sel tabel. Satria, Imro’ah, dan
Huda (2023) menerapkan model log-linear dua arah pada data kategorik
untuk menganalisis hubungan antara variabel wilayah dan variabel
respons, dengan menggunakan uji Chi-Square dan uji rasio likelihood
sebagai kriteria pemilihan model [6].
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis interaksi antara wilayah
(Kabupaten Bandung dan Kota Bandung) dengan tingkat pendidikan terhadap
jumlah pengangguran terbuka menggunakan model log-linear. Melalui
pendekatan dua arah , penelitian ini mengevaluasi model-model yang
dibentuk untuk menentukan struktur hubungan yang paling sesuai dengan
data. Hasil analisis diharapkan dapat memberikan informasi yang berguna
dalam menyusun kebijakan dalam menangani masalah tingginya
pengangguran.
2. Material dan Metode
2.1. Data
Data yang digunakan dalam penelitian ini merupakan data pengangguran
terbuka menurut tingkat pendidikan di Kabupaten Bandung dan Kota
Bandung. Variabel yang diamati meliputi wilayah (dua kategori: Kabupaten
Bandung dan Kota Bandung) dan tingkat pendidikan (lima kategori: SD ke
Bawah, SMP, SMA Umum, SMA Kejuruan, dan Diploma/PT). Total frekuensi
pengangguran yang dianalisis adalah 228.163 orang. Data berasal dari
Open data Jabar [7].
data <- data.frame(
Wilayah = c(rep("Kabupaten Bandung", 5), rep("Kota Bandung", 5)),
Pendidikan = rep(c("SD ke Bawah", "SMP", "SMA Umum", "SMA Kejuruan", "Diploma/PT"), 2),
Freq = c(18433, 25153, 43658, 36838, 4775, 8477, 11871, 23569, 34997, 20392)
)
data$Wilayah <- factor(data$Wilayah, levels = c("Kabupaten Bandung", "Kota Bandung"))
data$Pendidikan <- factor(data$Pendidikan, levels = c("Diploma/PT", "SD ke Bawah", "SMP", "SMA Umum", "SMA Kejuruan"))
tab <- xtabs(Freq ~ Wilayah + Pendidikan, data = data)
tab
## Pendidikan
## Wilayah Diploma/PT SD ke Bawah SMP SMA Umum SMA Kejuruan
## Kabupaten Bandung 4775 18433 25153 43658 36838
## Kota Bandung 20392 8477 11871 23569 34997
nice_kable(addmargins(tab), caption = "Table 1. Tabel kontingensi pengangguran terbuka menurut tingkat pendidikan dan wilayah.", digits = 0, color = "#1D6FA5")
Table 1. Tabel kontingensi pengangguran terbuka menurut tingkat
pendidikan dan wilayah.
|
|
Diploma/PT
|
SD ke Bawah
|
SMP
|
SMA Umum
|
SMA Kejuruan
|
Sum
|
|
Kabupaten Bandung
|
4775
|
18433
|
25153
|
43658
|
36838
|
128857
|
|
Kota Bandung
|
20392
|
8477
|
11871
|
23569
|
34997
|
99306
|
|
Sum
|
25167
|
26910
|
37024
|
67227
|
71835
|
228163
|
2.2. Metode Analisis
Metode analisis yang digunakan adalah model log-linear dua arah untuk
data kategorik. Log-linear memodelkan log dari harapan frekuensi sel
sebagai kombinasi efek baris, kolom, dan interaksi, sehingga pola
asosiasi bisa dijelaskan secara rinci [8].
2.3. Model
Model log-linear digunakan untuk memodelkan frekuensi sel dalam tabel
kontingensi dua arah. Diberikan tabel dengan baris i dan kolom j, Model
yang dapat dibuat adalah sebagai berikut :
- Model Null
\[
log(\mu_{ij}) = \lambda
\]
- Model Efek Wilayah
\[
log(\mu_{ij}) = \lambda + \lambda_i^X
\]
- Model Efek Pendidikan
\[
log(\mu_{ij}) = \lambda + \lambda_j^Y
\]
- Model Independent
\[
log(\mu_{ij}) = \lambda + \lambda_i^X + \lambda_j^Y
\]
- Model Saturated
\[
log(\mu_{ij}) = \lambda + \lambda_i^X + \lambda_j^Y + \lambda_{ij}^{XY}
\]
2.4. Tahapan Analisis
2.4.1. Statistika Deskriptif
Statistika deskriptif adalah ilmu statistik yang bertujuan
mengumpulkan, mengolah, menyaji, dan menganalisis data kuantitatif
secara deskriptif untuk menyederhanakan data dan memudahkan pembaca
menangkap informasi [9]. Komponen statistik deskriptif meliputi
penyajian data (tabel/grafik), ukuran pemusatan, ukuran letak, ukuran
penyebaran, dan distribusi data. Semua ini dipakai untuk merangkum dan
menjelaskan data.
2.4.2. Estimasi & Perbandingan Model
Untuk tabel kontingensi dengan sel ke‑i yang mempunyai ekspektasi μᵢ,
model log‑linear menulis log μ = Xλ, di mana X adalah matriks desain, λ
vektor parameter log‑linear [10].
Dalam ekspansi loglinear penuh:
\[
log \mu_x = \sum_{D \subseteq V} \lambda_D(x_D)
\]
Dengan D himpunan indeks variabel, \(\lambda_D\) efek utama dan interaksi
[11].
Persamaan likelihood log‑linear diringkas sebagai:
\[
X^\top n = X^\top \hat{\mu}
\]
Artinya, margin yang diimplikasikan model (dari \(\hat{\mu}\)) harus sama dengan margin data
observasi untuk sufficient statistics terkait [12].
Secara umum, langkah estimasi MLE diawali dengan pemilihan efek utama
dan interaksi yang masuk dan susun matriks desain X. Selanjutnya, tulis
log‑likelihood poisson / multinomial dan turunkan persamaan Xᵀn = Xᵀμ(λ)
[13].
Dalam penghitungan MLE dengan algoritma numerik, ada dua pendekatan
utama.
Pendekatan pertama adalah Iterative Proportional Fitting (IPF). Pada
pendekatan ini, frekuensi sel disesuaikan secara bergantian agar margin
model‑spesifik sama dengan margin data. Proses diulang sampai konvergen
[13].
Pendekatan kedua adalah maksimum likelihood umum Newton–Raphson
(IRWLS). Pada pendekatan ini, model diperlakukan sebagai GLM Poisson log
μ = Xλ. Iteratively re‑weighted least squares (IRWLS) digunakan untuk
memecahkan Xᵀn = Xᵀμ berulang kali [14].
Dalam analisis tabel kontingensi, pemilihan model log‑linear biasanya
dilakukan dengan membandingkan goodness of fit (Deviance) dan kriteria
informasi (AIC, BIC) untuk mencari model yang pas sekaligus hemat
parameter [12].
Menurut Jose dkk. (2020) dan Brzezińska (2013), nilai deviance, AIC,
dan BIC dapat dihitung dengan rumus berikut [15][16].
\[
Deviance = -2 log\text{-}likelihood
\]
\[
AIC = Deviance + 2k, \quad k = jumlah\ parameter
\]
\[
BIC = Deviance + log(n)\cdot k, \quad n = ukuran\ sampel
\]
Model yang dipilih adalah model dengan deviance kecil / tidak
signifikan dan nilai AIC / BIC paling kecil dibanding kandidat-kandidat
model lainnya [17].
2.4.3. Uji Goodness of Fit
Goodness of fit umumnya diuji dengan statistik Pearson chi-square dan
likelihood ratio yang asimtotik berdistribusi chi‑square bila model
benar [18].
Statistik Pearson chi-square dihitung dengan rumus berikut.
\[
X^2 = \sum_i \frac{(n_i-\hat{\mu}_i)^2}{\hat{\mu}_i}
\]
Di bawah H₀, \(X^2 \sim
\chi^2_{df}\) secara asimtotik [18].
Adapun likelihood ratio dihitung dengan rumus berikut.
\[
G^2 = 2 \sum_i n_i ln\left(\frac{n_i}{\hat{\mu}_i}\right)
\]
Likelihood ratio juga asimtotik \(\chi^2_{df}\) bila asumsi terpenuhi
[19].
Nilai statistik uji dibandingkan dengan distribusi \(\chi^2_{df}\). Jika p-value kecil, maka
model dianggap tidak fit [18].
2.4.4. Uji Likelihood Ratio
Uji likelihood ratio membandingkan model yang lebih sederhana dengan
model alternatif yang lebih lengkap menggunakan deviance atau G² sebagai
statistik uji [20].
Untuk membandingkan dua model bersarang:
\[
G^2_{dif} = G^2_{restr} - G^2_{unrestr}
\]
\(G^2_{dif}\) asimtotik
berdistribusi \(\chi^2\) dengan derajat
bebas = selisih df kedua model [21].
Jika p-value kecil, tolak H0 sehingga dilakukan penambahan parameter
penting, misalnya efek interaksi. Model lebih lengkap memberi
peningkatan kecocokan yang bermakna. Sebaliknya, p-value besar berarti
tidak ada bukti kuat bahwa parameter tambahan diperlukan. Dengan kata
lain, model yang lebih sederhana sudah cukup [21].
2.4.5. Analisis Residual
Untuk tiap sel dengan observasi \(n_i\) dan harapan \(\hat{\mu}_i\), terdapat perhitungan
residual biasa, residual Pearson, dan residual deviance.
Residual biasa:
\[
e_i = n_i - \hat{\mu}_i
\]
Residual Pearson:
\[
r_{Pi} = \frac{n_i-\hat{\mu}_i}{\sqrt{\hat{\mu}_i}}
\]
Residual deviance didefinisikan sebagai akar bertanda dari kontribusi
deviance sel ke‑i terhadap deviance total [23].
Pola residual diperiksa dengan melihat besar-kecil nilainya dan
visualisasi grafis / biplot. Setelahnya, pola residual dihubungkan
dengan struktur data. Residual besar dan berpola sistematis menandakan
bahwa model tidak sepenuhnya cocok dan perlu dimodifikasi, sedangkan
residual yang kecil dan acak mendukung kecocokan model terhadap data
[22].
2.4.6. Odds Ratio
Odds ratio dipakai untuk mengukur kekuatan asosiasi / interaksi antar
kategori, dan dapat dihitung dari frekuensi terduga model [24].
Pada tabel data kategori yang lebih besar dari 2x2, digunakan set
odds ratio lokal atau matriks log odds ratio [25].
Setiap odds ratio lokal dihitung dengan rumus berikut.
\[
OR = \frac{\hat{m}_{11} \times \hat{m}_{22}}{\hat{m}_{12} \times
\hat{m}_{21}}
\]
Dengan \(\hat{m}_{ij}\) adalah
frekuensi terduga untuk setiap sel perpotongan dari kategori i dan
kategori j.
OR = 1 berarti tidak ada asosiasi, interaksi terkait = 0 di skala
log. OR > 1 berarti asosiasi positif. OR < 1 berarti asosiasi
negatif. Besar kecilnya |log OR| mencerminkan kekuatan interaksi. Nilai
besar berarti penyimpangan kuat dari independensi [26].
3. Hasil
3.1. Statistik Deskriptif
ggplot(data, aes(x = Pendidikan, y = Freq, fill = Wilayah)) +
geom_col(position = "dodge", width = 0.72, color = "white") +
scale_y_continuous(labels = comma) +
scale_fill_manual(values = c("#1D6FA5", "#F39C12")) +
labs(x = "Tingkat Pendidikan", y = "Jumlah Pengangguran", fill = "Wilayah") +
theme_minimal(base_size = 12) +
theme(legend.position = "top", axis.text.x = element_text(angle = 30, hjust = 1), axis.title = element_text(face = "bold"), panel.grid.minor = element_blank())
Gambar di atas menunjukkan perbedaan jumlah pengangguran terbuka
antara Kabupaten Bandung dan Kota Bandung berdasarkan tingkat
pendidikan. Kabupaten Bandung memiliki jumlah pengangguran lebih tinggi
pada lulusan SMA Umum, SMA Kejuruan, dan SMP, sedangkan Kota Bandung
cenderung lebih rendah kecuali pada jenjang Diploma/PT yang justru lebih
tinggi
prop_table <- prop.table(tab, margin = 1)
nice_kable(round(prop_table, 4), caption = "Table 2. Proporsi jumlah pengangguran pengangguran terbuka menurut tingkat pendidikan per wilayah", digits = 4, color = "#1D6FA5")
Table 2. Proporsi jumlah pengangguran pengangguran terbuka menurut
tingkat pendidikan per wilayah
|
|
Diploma/PT
|
SD ke Bawah
|
SMP
|
SMA Umum
|
SMA Kejuruan
|
|
Kabupaten Bandung
|
0.0371
|
0.1431
|
0.1952
|
0.3388
|
0.2859
|
|
Kota Bandung
|
0.2053
|
0.0854
|
0.1195
|
0.2373
|
0.3524
|
Tabel di atas menunjukan bahwa pada wilayah Kabupaten bandung
Proporsi Jumlah Pengangguran terbuka terbesar berada pada tingkat
pendidikan SMA (umum) dan yang terkecil adalah Diploma/PT, Berbeda
dengan Kota bandung yang memiliki proporsi terbesar adalah SMA
(kejuruan) dan yang terkecil adalah SD ke bawah.
3.2. Estimasi Model
Dalam Penelitian ini dibuat 5 model yakni, model null, efek wilayah,
efek pendidikan, independensi, dan saturated. Semua model tersebut akan
diestimasi parameter nya. Estimasi akan disajikan dalam tabel sebagai
berikut :
m_null <- glm(Freq ~ 1, family = poisson(link = "log"), data = data)
m_wilayah <- glm(Freq ~ Wilayah, family = poisson(link = "log"), data = data)
m_pendidikan <- glm(Freq ~ Pendidikan, family = poisson(link = "log"), data = data)
m_ind <- glm(Freq ~ Wilayah + Pendidikan, family = poisson(link = "log"), data = data)
m_sat <- glm(Freq ~ Wilayah * Pendidikan, family = poisson(link = "log"), data = data)
ambil_parameter <- function(model, nama_model) {
broom::tidy(model) %>%
mutate(Model = nama_model, Estimate = estimate, Std_Error = std.error, z_value = statistic, p_value = p.value) %>%
select(Model, Parameter = term, Estimate, Std_Error, z_value, p_value)
}
parameter_table <- bind_rows(
ambil_parameter(m_null, "M0: Null"),
ambil_parameter(m_wilayah, "M1: Efek Wilayah"),
ambil_parameter(m_pendidikan, "M2: Efek Pendidikan"),
ambil_parameter(m_ind, "M3: Independensi"),
ambil_parameter(m_sat, "M4: Saturated")
) %>% mutate(p_value = ifelse(p_value < 0.001, 0, round(p_value, 4)))
nice_kable(parameter_table, caption = "Table 3. Estimasi dari semua model", digits = 4, full_width = TRUE, color = "#0B3C5D")
Table 3. Estimasi dari semua model
|
Model
|
Parameter
|
Estimate
|
Std_Error
|
z_value
|
p_value
|
|
M0: Null
|
(Intercept)
|
10.0352
|
0.0021
|
4793.4694
|
0
|
|
M1: Efek Wilayah
|
(Intercept)
|
10.1570
|
0.0028
|
3646.0309
|
0
|
|
M1: Efek Wilayah
|
WilayahKota Bandung
|
-0.2605
|
0.0042
|
-61.6911
|
0
|
|
M2: Efek Pendidikan
|
(Intercept)
|
9.4401
|
0.0063
|
1497.5945
|
0
|
|
M2: Efek Pendidikan
|
PendidikanSD ke Bawah
|
0.0670
|
0.0088
|
7.6365
|
0
|
|
M2: Efek Pendidikan
|
PendidikanSMP
|
0.3860
|
0.0082
|
47.2517
|
0
|
|
M2: Efek Pendidikan
|
PendidikanSMA Umum
|
0.9825
|
0.0074
|
132.9586
|
0
|
|
M2: Efek Pendidikan
|
PendidikanSMA Kejuruan
|
1.0488
|
0.0073
|
143.1865
|
0
|
|
M3: Independensi
|
(Intercept)
|
9.5619
|
0.0066
|
1456.2812
|
0
|
|
M3: Independensi
|
WilayahKota Bandung
|
-0.2605
|
0.0042
|
-61.6911
|
0
|
|
M3: Independensi
|
PendidikanSD ke Bawah
|
0.0670
|
0.0088
|
7.6365
|
0
|
|
M3: Independensi
|
PendidikanSMP
|
0.3860
|
0.0082
|
47.2517
|
0
|
|
M3: Independensi
|
PendidikanSMA Umum
|
0.9825
|
0.0074
|
132.9587
|
0
|
|
M3: Independensi
|
PendidikanSMA Kejuruan
|
1.0488
|
0.0073
|
143.1865
|
0
|
|
M4: Saturated
|
(Intercept)
|
8.4711
|
0.0145
|
585.3681
|
0
|
|
M4: Saturated
|
WilayahKota Bandung
|
1.4517
|
0.0161
|
90.3009
|
0
|
|
M4: Saturated
|
PendidikanSD ke Bawah
|
1.3507
|
0.0162
|
83.1841
|
0
|
|
M4: Saturated
|
PendidikanSMP
|
1.6616
|
0.0158
|
105.2604
|
0
|
|
M4: Saturated
|
PendidikanSMA Umum
|
2.2130
|
0.0152
|
145.1870
|
0
|
|
M4: Saturated
|
PendidikanSMA Kejuruan
|
2.0431
|
0.0154
|
132.8365
|
0
|
|
M4: Saturated
|
WilayahKota Bandung:PendidikanSD ke Bawah
|
-2.2285
|
0.0208
|
-107.3846
|
0
|
|
M4: Saturated
|
WilayahKota Bandung:PendidikanSMP
|
-2.2026
|
0.0196
|
-112.6286
|
0
|
|
M4: Saturated
|
WilayahKota Bandung:PendidikanSMA Umum
|
-2.0682
|
0.0180
|
-114.9362
|
0
|
|
M4: Saturated
|
WilayahKota Bandung:PendidikanSMA Kejuruan
|
-1.5030
|
0.0177
|
-84.7955
|
0
|
3.3. Perbandingan Model
Model yang telah dibuat akan dibandingkan dengan melihat Deviance,
AIC, dan BIC. Perbandingan disajikan dalam tabel berikut :
models <- list(Null = m_null, `Efek Wilayah` = m_wilayah, `Efek Pendidikan` = m_pendidikan, Independensi = m_ind, Saturated = m_sat)
comparison_table <- data.frame(
Model = names(models),
df = sapply(models, df.residual),
Deviance = sapply(models, deviance),
AIC = sapply(models, AIC),
BIC = sapply(models, BIC),
row.names = NULL
)
nice_kable(comparison_table, caption = "Table 4 Perbandingan Model", digits = 4, color = "#0B3C5D")
Table 4 Perbandingan Model
|
Model
|
df
|
Deviance
|
AIC
|
BIC
|
|
Null
|
9
|
68650.60
|
68769.4862
|
68769.7888
|
|
Efek Wilayah
|
8
|
64812.47
|
64933.3548
|
64933.9599
|
|
Efek Pendidikan
|
5
|
25222.90
|
25349.7874
|
25351.3004
|
|
Independensi
|
4
|
21384.77
|
21513.6560
|
21515.4715
|
|
Saturated
|
0
|
0.00
|
136.8837
|
139.9095
|
Nilai deviance yang semakin kecil menunjukkan model semakin mampu
merepresentasikan frekuensi observasi. Model saturated memiliki deviance
mendekati nol karena model ini mereproduksi seluruh frekuensi observasi,
tetapi hal ini tidak berarti model saturated harus langsung dipilih
tanpa interpretasi substantif.
3.4. Uji Goodness Of Fit
gof_table <- data.frame(
Model = "Independensi",
df = df.residual(m_ind),
`p-value (G²)` = pchisq(deviance(m_ind), df = df.residual(m_ind), lower.tail = FALSE),
`p-value (X²)` = pchisq(sum(residuals(m_ind, type = "pearson")^2), df = df.residual(m_ind), lower.tail = FALSE),
check.names = FALSE
)
gof_table <- gof_table %>%
mutate(
`p-value (G²)` = ifelse(`p-value (G²)` < 0.0001, "< 0,0001", format_id(`p-value (G²)`, 4)),
`p-value (X²)` = ifelse(`p-value (X²)` < 0.0001, "< 0,0001", format_id(`p-value (X²)`, 4))
)
nice_kable(gof_table, caption = "Table 5. Hasil Uji Goodness Of Fit", digits = 4, color = "#C0392B")
Table 5. Hasil Uji Goodness Of Fit
|
Model
|
df
|
p-value (G²)
|
p-value (X²)
|
|
Independensi
|
4
|
< 0,0001
|
< 0,0001
|
Model independensi memiliki p-value kurang dari 0,001 sehingga model
tersebut tidak fit terhadap data. Artinya, asumsi bahwa wilayah dan
pendidikan saling independen tidak sesuai dengan data pengangguran
terbuka.
3.5. Uji likelihood Ratio
Pengujian signifikansi model dilakukan menggunakan Likelihood Ratio
Test (LRT) melalui analisis deviance. Hasil pengujian disajikan pada
Tabel
lrt_table <- anova(m_null, m_wilayah, m_ind, m_sat, test = "Chisq")
nice_kable(lrt_table, caption = "Table 6. Hasil Uji Likelihood Ratio", digits = 4, color = "#1D6FA5")
Table 6. Hasil Uji Likelihood Ratio
|
Resid. Df
|
Resid. Dev
|
Df
|
Deviance
|
Pr(>Chi)
|
|
9
|
68650.60
|
NA
|
NA
|
NA
|
|
8
|
64812.47
|
1
|
3838.131
|
0
|
|
4
|
21384.77
|
4
|
43427.699
|
0
|
|
0
|
0.00
|
4
|
21384.772
|
0
|
Hasil analisis menunjukkan bahwa setiap penambahan faktor pada model
menyebabkan penurunan residual deviance yang signifikan (p-value <
0,001). Hal ini menandakan bahwa faktor-faktor yang ditambahkan
berpengaruh signifikan meningkatkan kecocokan model. Oleh karena itu,
model akhir merupakan model terbaik karena mampu menjelaskan data secara
baik dengan residual deviance sebesar 0.
3.6. Analisis Residual
residual_data <- data %>% mutate(
Ekspektasi = fitted(m_ind),
`Residu Pearson` = residuals(m_ind, type = "pearson"),
`Residu Standar` = rstandard(m_ind, type = "pearson")
)
residual_table <- residual_data %>% select(Wilayah, Pendidikan, Observasi = Freq, Ekspektasi, `Residu Pearson`, `Residu Standar`)
nice_kable(residual_table, caption = "Table 7. Hasil Analisis Residual", digits = 4, full_width = TRUE, color = "#0B3C5D")
Table 7. Hasil Analisis Residual
|
Wilayah
|
Pendidikan
|
Observasi
|
Ekspektasi
|
Residu Pearson
|
Residu Standar
|
|
Kabupaten Bandung
|
SD ke Bawah
|
18433
|
15197.65
|
26.2442
|
42.3564
|
|
Kabupaten Bandung
|
SMP
|
25153
|
20909.62
|
29.3453
|
48.5984
|
|
Kabupaten Bandung
|
SMA Umum
|
43658
|
37967.02
|
29.2068
|
52.7126
|
|
Kabupaten Bandung
|
SMA Kejuruan
|
36838
|
40569.43
|
-18.5257
|
-33.9246
|
|
Kabupaten Bandung
|
Diploma/PT
|
4775
|
14213.28
|
-79.1673
|
-127.2212
|
|
Kota Bandung
|
SD ke Bawah
|
8477
|
11712.35
|
-29.8950
|
-42.3564
|
|
Kota Bandung
|
SMP
|
11871
|
16114.38
|
-33.4276
|
-48.5984
|
|
Kota Bandung
|
SMA Umum
|
23569
|
29259.98
|
-33.2698
|
-52.7126
|
|
Kota Bandung
|
SMA Kejuruan
|
34997
|
31265.57
|
21.1029
|
33.9246
|
|
Kota Bandung
|
Diploma/PT
|
20392
|
10953.72
|
90.1803
|
127.2212
|
residual_plot <- residual_data %>% mutate(Kombinasi = paste(Wilayah, Pendidikan, sep = " - "))
ggplot(residual_plot, aes(x = reorder(Kombinasi, `Residu Standar`), y = `Residu Standar`)) +
geom_col(fill = "#1D6FA5", width = 0.72) +
coord_flip() +
geom_hline(yintercept = c(-2, 2), linetype = "dashed", color = "#C0392B", linewidth = 1) +
geom_hline(yintercept = 0, color = "#263238") +
labs(x = "Kombinasi Wilayah dan Pendidikan", y = "Residual Standar") +
theme_minimal(base_size = 12) +
theme(axis.title = element_text(face = "bold"), panel.grid.minor = element_blank())
Residual terbesar terdapat pada kategori Diploma/PT. Kota
Bandung–Diploma/PT memiliki residual positif sangat besar, sedangkan
Kabupaten Bandung–Diploma/PT memiliki residual negatif sangat besar. Hal
tersebut menunjukkan bahwa kategori Diploma/PT merupakan sumber
interaksi terbesar antarwilayah dan tingkat pendidikan.
3.7. Odds Ratio
ref <- "Diploma/PT"
hitung_or <- function(kat, ref, tab) {
a <- tab["Kabupaten Bandung", kat]
b <- tab["Kabupaten Bandung", ref]
c <- tab["Kota Bandung", kat]
d <- tab["Kota Bandung", ref]
OR <- (a * d) / (b * c)
Log_OR <- log(OR)
SE_Log_OR <- sqrt(1/a + 1/b + 1/c + 1/d)
Z <- Log_OR / SE_Log_OR
p_value <- 2 * (1 - pnorm(abs(Z)))
CI_95_Lower <- exp(Log_OR - 1.96 * SE_Log_OR)
CI_95_Upper <- exp(Log_OR + 1.96 * SE_Log_OR)
data.frame(Pendidikan = kat, Referensi = ref, OR = OR, Log_OR = Log_OR, SE_Log_OR = SE_Log_OR, Z = Z, p_value = p_value, CI_95_Lower = CI_95_Lower, CI_95_Upper = CI_95_Upper)
}
kategori_uji <- setdiff(colnames(tab), ref)
odds_table <- do.call(rbind, lapply(kategori_uji, hitung_or, ref = ref, tab = tab)) %>%
mutate(p_value = ifelse(p_value < 0.001, 0, round(p_value, 4)))
nice_kable(odds_table, caption = "Table 8. Odds ratio", digits = 4, full_width = TRUE, color = "#1D6FA5")
Table 8. Odds ratio
|
Pendidikan
|
Referensi
|
OR
|
Log_OR
|
SE_Log_OR
|
Z
|
p_value
|
CI_95_Lower
|
CI_95_Upper
|
|
SD ke Bawah
|
Diploma/PT
|
9.2862
|
2.2285
|
0.0208
|
107.3846
|
0
|
8.9161
|
9.6718
|
|
SMP
|
Diploma/PT
|
9.0488
|
2.2026
|
0.0196
|
112.6286
|
0
|
8.7085
|
9.4023
|
|
SMA Umum
|
Diploma/PT
|
7.9106
|
2.0682
|
0.0180
|
114.9362
|
0
|
7.6365
|
8.1946
|
|
SMA Kejuruan
|
Diploma/PT
|
4.4952
|
1.5030
|
0.0177
|
84.7955
|
0
|
4.3417
|
4.6541
|
Seluruh OR lebih besar dari 1. Artinya, dibandingkan Diploma/PT,
kategori SD ke bawah, SMP, SMA Umum, dan SMA Kejuruan relatif lebih
dominan pada Kabupaten Bandung dibandingkan Kota Bandung.
3.8. Pemilihan Model Terbaik
Dari Perbandingan model dan uji yang telah dilakukan maka didapatkan
model terbaik, yakni model saturated atau model model interaksi, berikut
model tersebut :
\[
log(\mu_{ij}) = 8.4711 + 1.4517X_{kota} + 1.3507Y_{SD} + 1.6616Y_{SMP} +
2.2130Y_{SMA} + 2.0431Y_{SMK} - 2.2285X_{kota}Y_{SD} -
2.2026X_{kota}Y_{SMP} - 2.0682X_{kota}Y_{SMA} - 1.5030X_{kota}Y_{SMK}
\]
4. Diskusi
Hasil penelitian menunjukkan bahwa wilayah dan tingkat pendidikan
memiliki interaksi yang signifikan terhadap jumlah pengangguran terbuka
di Kabupaten Bandung dan Kota Bandung. Pengujian goodness of fit pada
model independensi menghasilkan nilai deviance G2 = 21.384,77 dengan
derajat bebas 4 dan p < 0,001, sehingga hipotesis bahwa wilayah dan
tingkat pendidikan saling independen ditolak. Hal ini menunjukkan bahwa
pola jumlah pengangguran terbuka tidak dapat dijelaskan hanya dengan
efek wilayah atau efek pendidikan secara independen, melainkan terdapat
interaksi yang perlu dipertimbangkan.
Perbandingan kelima model log-linear yang dibuat yakni model null,
model efek wilayah, model efek pendidikan, model independensi, dan model
saturated, menunjukkan penurunan deviance yang konsisten seiring
penambahan parameter. Model saturated memperoleh nilai AIC = 136,88 dan
BIC = 139,91, jauh lebih rendah dibandingkan model lainnya. Penurunan
deviance yang signifikan pada setiap tahap penambahan faktor (uji
likelihood ratio dengan p < 0,001) mengonfirmasi bahwa setiap
komponen baik efek utama wilayah, efek utama pendidikan, maupun
interaksi keduanya memiliki pengaruh yang signifikan .
Pada Analisis residual. Penyimpangan terbesar terdapat pada kategori
Diploma/Perguruan Tinggi: Kota Bandung menghasilkan residual standar
sebesar +127,221, sedangkan Kabupaten Bandung menghasilkan residual
standar sebesar −127,221. Ini berarti jumlah pengangguran lulusan
Diploma/PT di Kota Bandung jauh melebihi frekuensi harapan model
independensi, sementara di Kabupaten Bandung jauh di bawah ekspektasi.
Kondisi ini mungkin disebabkan karena Kota Bandung merupakan kota pusat
pendidikan tinggi dan memiliki banyak perguruan tinggi yang tinggi,
sehingga lulusan dari perguruan tinggi sangat besar. Di sisi lain,
ketersediaan lapangan kerja yang membutuhkan untuk lulusan
Diploma/Sarjana belum sepenuhnya mampu menyerap seluruh lulusan
tersebut, terutama bagi yang memiliki preferensi kerja tertentu atau
sedang dalam masa tunggu kerja yang panjang. Temuan ini sejalan dengan
fenomena educated unemployment yang kerap terjadi di kota-kota besar
dengan populasi mahasiswa tinggi.
Di Kabupaten Bandung, pengangguran lebih besar pada kelompok
pendidikan menengah dan rendah. Residual standar pada kategori SMA Umum
(+52,713), SMP (+48,598), dan SD ke Bawah (+42,356) seluruhnya bernilai
positif di Kabupaten Bandung, menandakan bahwa frekuensi observasi lebih
besar daripada frekuensi harapan di bawah asumsi independensi. Kondisi
ini berkaitan erat dengan struktur ekonomi Kabupaten Bandung yang lebih
banyak bertumpu pada sektor industri manufaktur, informal, dan
pertanian. Ketidaksesuaian antara keterampilan tenaga kerja lulusan
pendidikan menengah dan bawah dengan kebutuhan industri, terbatasnya
akses pelatihan vokasional, serta minimnya informasi pasar kerja dapat
menjadi faktor yang memperparah pola tersebut.
Pada Hasil odds ratio. Seluruh kategori pendidikan selain Diploma/PT
memiliki nilai odds ratio lebih besar dari 1, dengan kisaran antara
4,4952 (SMA Kejuruan) hingga 9,2862 (SD ke Bawah), semuanya signifikan
secara statistik (p < 0,001). Artinya, relatif terhadap Diploma/PT,
kelompok pendidikan SD ke Bawah, SMP, SMA Umum, dan SMA Kejuruan lebih
dominan di Kabupaten Bandung dibandingkan Kota Bandung. Ini
mengindikasikan bahwa Diploma/PT merupakan kategori yang secara
proporsional jauh lebih menonjol di Kota Bandung, sementara pendidikan
menengah dan bawah lebih menonjol di Kabupaten Bandung. Odds ratio
tertinggi pada kategori SD ke Bawah (OR = 9,286) dan SMP (OR = 9,049)
mengisyaratkan bahwa disparitas antara dua wilayah justru paling tajam
pada kelompok pendidikan terendah.
Dari sudut pandang kebijakan ketenagakerjaan, temuan ini memiliki
implikasi yang berbeda untuk masing-masing wilayah. Kota Bandung
memerlukan strategi yang diarahkan pada penyerapan lulusan Diploma dan
sarjana. Di sisi lain, Kabupaten Bandung memerlukan penguatan pelatihan
dan peningkatan keterampilan bagi angkatan kerja berpendidikan menengah
dan bawah, sekaligus membangun jembatan yang lebih efektif antara
lulusan pendidikan menengah dengan kebutuhan industri lokal. Pendekatan
kebijakan yang seragam tanpa mempertimbangkan interaksi wilayah dan
tingkat pendidikan berisiko tidak tepat sasaran dalam mengatasi
pengangguran terbuka di kedua wilayah ini.
5. Pembahasan
Dari Hasil dan Diskusi yang telah dilakukan didapat beberapa
kesimpulan sebagai berikut :
- Terdapat interaksi antara wilayah (Kabupaten Bandung dan Kota
Bandung) dan tingkat pendidikan dalam membentuk pola pengangguran
terbuka.
- Pada Analisis residual standar terlihat bahwa penyimpangan terbesar
terjadi pada kategori Diploma/PT di Kota Bandung memiliki proporsi
pengangguran berpendidikan tinggi yang jauh melebihi ekspektasi,
sedangkan Kabupaten Bandung jauh di bawah ekspektasi.
- Dari perbandingan kelima model log-linear, model saturated terpilih
sebagai model yang paling sesuai.
- Hasil odds ratio menunjukkan bahwa seluruh kategori pendidikan
selain Diploma/PT memiliki nilai OR > 1 dan signifikan secara
statistik (p < 0,001), dengan OR tertinggi pada kategori SD ke Bawah
(OR = 9,286) dan SMP (OR = 9,049). Ini berarti kelompok pendidikan
menengah dan bawah secara relatif lebih dominan di Kabupaten Bandung
dibandingkan Kota Bandung, sementara Diploma/PT justru lebih menonjol di
Kota Bandung.
- Untuk pemangku kebijakan diperlukan strategi ketenagakerjaan yang
berbeda antara kedua wilayah. Kota Bandung perlu memperkuat program
penyerapan lulusan pendidikan bagi lulusan Sarjana dan Diploma,
sedangkan Kabupaten Bandung membutuhkan penguatan pelatihan keterampilan
terhadap lulusan menengah ke bawah.
- Untuk penelitian selanjutnya, disarankan untuk memasukkan variabel
tambahan seperti jenis kelamin, usia, dan sektor industri guna membangun
model log-linear tiga arah atau lebih yang mampu menjelaskan keragaman
data..
References
Badan Pusat Statistik. (2023). Keadaan Ketenagakerjaan Indonesia
Agustus 2023. Jakarta: BPS Indonesia.
Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Barat. (2024). Berita Resmi
Statistik: Keadaan Ketenagakerjaan Jawa Barat Februari 2024. Bandung:
BPS Jawa Barat.
Jibril, H. T., Susilo, S., & Sakti, R. K. (2022). Pemodelan
tingkat pengangguran di Indonesia dengan random effect spasial
autoregression (SAR-RE). JPPI (Jurnal Penelitian Pendidikan Indonesia),
8(4), 1090–1101. https://doi.org/10.29210/020221721
Khoiruddin, M. A., Setyanti, A. M., Suman, A., Prasetyia, F.,
& Susilo, S. (2024). Exploring determinants of education-job
mismatch among educated workers in Indonesia. Jurnal Ekonomi
Pembangunan: Kajian Masalah Ekonomi dan Pembangunan, 25(2), 263–281. https://doi.org/10.23917/jep.v25i2.23994
Haryanto, A. E. P., & Wibowo, W. (2022). Pemodelan
faktor-faktor yang memengaruhi jumlah pengangguran di Indonesia
menggunakan metode generalized Poisson regression dan negative binomial
regression. Jurnal Ketenagakerjaan, 17(2), 174–186. https://doi.org/10.47198/naker.v17i2.132
Satria, T. A. I., Imro’ah, N., & Huda, N. M. (2023).
Penerapan model log linier dalam menganalisis tabel kontingensi dua
arah. BIMASTER: Buletin Ilmiah Matematika, Statistika dan Terapannya,
12(4). https://jurnal.untan.ac.id/index.php/jbmstr/article/view/72242
Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi Jawa Barat. (2025).
Jumlah pengangguran terbuka berdasarkan pendidikan dan kabupaten/kota di
Jawa Barat. Available online : . https://opendata.jabarprov.go.id/id/dataset/jumlah-pengangguran-terbuka-berdasarkan-pendidikan-dan-kabupatenkota-di-jawa-barat
Justyna, B. (2016). Ordinal Log-Linear Models for Contingency
Tables. Folia Oeconomica Stetinensia, 16, 264-273. https://doi.org/10.1515/foli-2016-0017
Maswar, M. (2017). ANALISIS STATISTIK DESKRIPTIF NILAI UAS
EKONOMITRIKA MAHASISWA DENGAN PROGRAM SPSS 23 & EVIEWS 8.1. 273-292.
https://doi.org/10.35316/jpii.v1i2.54
Klimova, A., & Kuhn, M. (2022). On the maximum likelihood
estimation in general log-linear models.
Fienberg, S., & Rinaldo, A. (2011). Maximum Likelihood
Estimation in Log-Linear Models: Theory and Algorithms. arXiv:
Statistics Theory. https://doi.org/10.1214/12-aos986
Jing, W., & Papathomas, M. (2017). On the correspondence of
deviances and maximum-likelihood and interval estimates from log-linear
to logistic regression modelling. Royal Society Open Science, 7. https://doi.org/10.1098/rsos.191483
Hammond, C., Van Der Heijden, P. G. M., & Smith, P. A.
(2023). Generating contingency tables with fixed marginal probabilities
and dependence structures described by loglinear models. Journal of
Statistical Computation and Simulation, 94, 2797 - 2812. https://doi.org/10.1080/00949655.2024.2353760
Vinciotti, V., & Wit, E. C. (2026). Loglinear modelling of
huge contingency tables.
Jose, A., Philip, M., Prasanna, L., & Manjula, M. (2020).
Comparison of Probit and Logistic Regression Models in the Analysis of
Dichotomous Outcomes. 1-19. https://doi.org/10.3844/amjbsp.2020.1.19
Brzezińska, J. (2013). Model Selection Methods in Log-Linear
Analysis. 107-114.
Li, Y., Yu, J., & Zeng, T. (2020). Deviance information
criterion for latent variable models and misspecified models. Journal of
Econometrics. https://doi.org/10.1016/j.jeconom.2019.11.002
Skinner, C., & Shlomo, N. (2008). Assessing Identification
Risk in Survey Microdata Using Log-Linear Models. Journal of the
American Statistical Association, 103, 1001 - 989. https://doi.org/10.1198/016214507000001328
Maydeu-Olivares, A., & Joe, H. (2006). Limited Information
Goodness-of-fit Testing in Multidimensional Contingency Tables.
Psychometrika, 71, 713-732. https://doi.org/10.1007/s11336-005-1295-9
Oliveira, N. L., Pereira, C., Diniz, M., & Polpo, A. (2016).
A discussion on significance indices for contingency tables under small
sample sizes. PLoS ONE, 13. https://doi.org/10.1371/journal.pone.0199102
Maydeu-Olivares, A., & Cai, L. (2006). A Cautionary Note on
Using G2(dif) to Assess Relative Model Fit in Categorical Data Analysis.
Multivariate Behavioral Research, 41, 55 - 64. https://doi.org/10.1207/s15327906mbr4101_4
Brighenti, C. R. G., Mafra, D. A., & Cirillo, M. A. (2022).
Heterogeneity among contingency tables diagnosed by hierarchical
log-linear models and their effect on Biplots. Semina: Ciências Exatas e
Tecnológicas. https://doi.org/10.5433/1679-0375.2022v43n2p135
Feng, C., Li, L., & Sadeghpour, A. (2020). A comparison of
residual diagnosis tools for diagnosing regression models for count
data. BMC Medical Research Methodology, 20. https://doi.org/10.1186/s12874-020-01055-2
Bouchet-Valat, M. (2019). General Marginal-free Association
Indices for Contingency Tables: From the Altham Index to the Intrinsic
Association Coefficient. Sociological Methods & Research, 51, 203 -
236. https://doi.org/10.1177/0049124119852389
Lawal, B. H. (2003). The Structure of the Log Odds-Ratios in
Non-Independence and Symmetry Diagonal Models for Square Contingency
Tables. Quality and Quantity, 37, 111-134. https://doi.org/10.1023/a:1023391731581
Norton, E., & Dowd, B. (2018). Log Odds and the
Interpretation of Logit Models. Health Services Research, 53, 859–878.
https://doi.org/10.1111/1475-6773.12712