Sikap masyarakat terhadap penggunaan spanking sebagai metode disiplin anak masih menjadi perdebatan. Sebagian menganggap spanking efektif untuk mengoreksi perilaku anak, sementara yang lain menilai praktik tersebut dapat berdampak negatif pada perkembangan anak. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa dukungan terhadap spanking cenderung lebih tinggi pada laki-laki, responden yang lebih tua, individu dengan tingkat pendidikan lebih rendah, pandangan politik yang lebih konservatif, serta tingkat religiositas yang lebih tinggi. Beberapa penelitian sebelumnya menggunakan regresi linear (OLS), sementara variabel respons yang dianalisis bersifat ordinal. Oleh karena itu, penelitian ini menggunakan regresi logistik ordinal dengan pendekatan Proportional Odds Model (POM). Jika asumsi proportional odds tidak terpenuhi, digunakan Partial Proportional Odds Model (PPOM) yang lebih fleksibel.
Penelitian ini bertujuan untuk:
Data yang digunakan dalam penelitian ini merupakan data sekunder yang diperoleh dari General Social Survey (GSS) tahun 2024. GSS merupakan survei sosial yang memuat informasi mengenai karakteristik demografis, sosial, politik, keagamaan, serta sikap responden terhadap berbagai isu sosial.
Variabel respons dalam penelitian ini adalah spanking,
yaitu sikap responden terhadap penggunaan hukuman fisik terhadap anak
sebagai bentuk disiplin.
Variabel prediktor yang digunakan meliputi sex,
age, degree, polviews, dan
attend. Pemilihan variabel tersebut didasarkan pada latar
belakang yang telah dijelaskan sebelumnya, yaitu bahwa sikap terhadap
spanking dapat berkaitan dengan karakteristik demografis,
pendidikan, pandangan politik, dan aspek keagamaan responden.
| Variabel | Peran | Keterangan | Skala Data | Kategori/Kode |
|---|---|---|---|---|
spanking |
Respons | Sikap responden terhadap penggunaan hukuman fisik terhadap anak | Ordinal | 1 = Strongly agree 2 = Agree 3 = Disagree 4 = Strongly disagree |
sex |
Prediktor | Jenis kelamin responden | Nominal | 1 = Male 2 = Female |
age |
Prediktor | Usia responden | Rasio | Usia responden dalam tahun |
degree |
Prediktor | Tingkat pendidikan terakhir responden | Ordinal | 0 = Less than high school 1 = High school 2 = Junior college 3 = Bachelor 4 = Graduate |
polviews |
Prediktor | Pandangan politik responden | Ordinal | 1 = Extremely liberal 2 = Liberal 3 = Slightly liberal 4 = Moderate 5 = Slightly conservative 6 = Conservative 7 = Extremely conservative |
attend |
Prediktor | Frekuensi kehadiran responden dalam kegiatan keagamaan | Ordinal | 0 = Never 1 = Less than once a year 2 = Once a year 3 = Several times a year 4 = Once a month 5 = 2–3 times a month 6 = Nearly every week 7 = Every week 8 = Several times a week |
Pengolahan awal data dilakukan dengan mengimpor data, memilih
variabel yang digunakan dalam analisis, serta menghapus observasi yang
tidak memuat jawaban substantif. Observasi tersebut mencakup sel kosong
yang terbaca sebagai NA pada proses impor data serta kode
cadangan GSS yang diawali tanda titik, seperti .d=don’t
know, .i=inapplicable, .n=no
answer, dan .s=skipped on web.
| Informasi | Nilai |
|---|---|
| Observasi setelah cleaning | 1.976 |
| Jumlah variabel digunakan | 6 |
| Variabel analisis | spanking, sex, polviews, attend, age, degree |
Setelah dilakukan pemilihan variabel dan penghapusan observasi yang tidak memuat jawaban substantif, diperoleh sebanyak 1976 observasi yang siap digunakan dalam analisis.
Selanjutnya, dilakukan penyesuaian tipe data dan pengkodean ulang
variabel. Variabel spanking dibentuk sebagai variabel
ordinal dengan urutan kategori dari tingkat ketidaksetujuan paling
tinggi hingga tingkat persetujuan paling tinggi. Dengan demikian,
kategori yang lebih tinggi menunjukkan sikap yang semakin setuju
terhadap penggunaan spanking.
Strongly Disagree < Disagree < Agree < Strongly Agree
Variabel sex diperlakukan sebagai variabel nominal,
sedangkan age diperlakukan sebagai variabel numerik.
Variabel degree, polviews, dan
attend dikodekan sebagai skor ordinal karena masing-masing
memiliki urutan kategori yang jelas.
| Informasi | Nilai |
|---|---|
| Jumlah observasi | 1.976 |
| Variabel respons | spanking |
| Kategori respons | Strongly Disagree < Disagree < Agree < Strongly Agree |
| Variabel prediktor | sex, age, degree, polviews, attend |
Bagian ini menyajikan hasil analisis mulai dari distribusi variabel respons, pemeriksaan multikolinearitas, estimasi model regresi logistik ordinal, pemeriksaan asumsi proportional odds, pembentukan partial proportional odds model, hingga evaluasi hasil prediksi ordinal. Setiap tahap yang berupa uji statistik disertai hipotesis dan kriteria keputusan agar alur analisis lebih runtut dan mudah diikuti.
Analisis awal dilakukan dengan melihat distribusi variabel respons,
yaitu sikap responden terhadap penggunaan spanking.
Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengetahui sebaran responden pada setiap
kategori sikap terhadap penggunaan hukuman fisik terhadap anak.
Bagian ini merupakan analisis deskriptif, sehingga tidak menggunakan hipotesis statistik. Distribusi respons dinilai memadai apabila seluruh kategori respons memiliki frekuensi observasi yang cukup dan tidak terdapat kategori yang kosong. Hal ini penting karena model regresi logistik ordinal membutuhkan variabel respons yang memiliki urutan kategori yang jelas.
| Kategori Spanking | Frekuensi | Proporsi |
|---|---|---|
| Strongly Disagree | 333 | 0.169 |
| Disagree | 559 | 0.283 |
| Agree | 744 | 0.377 |
| Strongly Agree | 340 | 0.172 |
Distribusi Variabel Respons Spanking
Kategori terbesar adalah agree, yaitu 744
responden atau 37,65%. Secara umum, responden
yang cenderung menyetujui spanking lebih banyak
dibandingkan responden yang tidak menyetujui. Seluruh kategori juga
terisi, sehingga respons ordinal layak digunakan dalam pemodelan.
Pemeriksaan multikolinearitas dilakukan menggunakan nilai Variance Inflation Factor (VIF) untuk mengetahui apakah terdapat hubungan linear yang kuat antarvariabel prediktor.
Pemeriksaan ini tidak menggunakan hipotesis formal. Kriteria yang digunakan adalah nilai VIF. Apabila nilai VIF < 10, maka tidak terdapat indikasi multikolinearitas serius antarvariabel prediktor. Sebaliknya, apabila nilai VIF ≥ 10, maka terdapat indikasi multikolinearitas yang perlu diperhatikan.
| Variabel | VIF |
|---|---|
| sex | 1.016 |
| age | 1.031 |
| degree | 1.021 |
| polviews | 1.140 |
| attend | 1.132 |
Nilai VIF berada pada rentang 1,016 hingga 1,140, jauh di bawah batas 10. Artinya, tidak terdapat indikasi multikolinearitas serius, sehingga seluruh prediktor dapat digunakan bersama dalam model.
Model awal yang digunakan dalam penelitian ini adalah regresi
logistik ordinal dengan pendekatan cumulative logit model.
Model ini digunakan untuk menganalisis pengaruh variabel
sex, age, degree,
polviews, dan attend terhadap sikap responden
terhadap spanking.
H0: Koefisien prediktor sama dengan nol,
sehingga prediktor tidak berpengaruh signifikan terhadap sikap responden
terhadap spanking.
H1:
Koefisien prediktor tidak sama dengan nol, sehingga prediktor
berpengaruh signifikan terhadap sikap responden terhadap
spanking.
Kriteria keputusan: Jika
p-value < 0,05, maka H0 ditolak. Namun,
interpretasi model awal tetap dilakukan secara hati-hati karena harus
menunggu hasil pemeriksaan asumsi proportional odds.
| Parameter | Jenis | Estimate | Std. Error | t value | p-value | OR | CI 2,5% | CI 97,5% |
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| sexFEMALE | Koefisien | -0.4670 | 0.0841 | -5.5496 | <0.001 | 0.6269 | 0.5316 | 0.7393 |
| age | Koefisien | -0.0060 | 0.0024 | -2.5415 | 0.0110 | 0.9940 | 0.9895 | 0.9986 |
| degree | Koefisien | -0.2671 | 0.0336 | -7.9513 | <0.001 | 0.7656 | 0.7168 | 0.8177 |
| polviews | Koefisien | 0.4001 | 0.0300 | 13.3578 | <0.001 | 1.4919 | 1.4069 | 1.5821 |
| attend | Koefisien | 0.0453 | 0.0160 | 2.8361 | 0.0046 | 1.0464 | 1.0141 | 1.0797 |
| STRONGLY DISAGREE|DISAGREE | Cutpoint | -1.0901 | 0.1822 | -5.9815 | <0.001 | NA | NA | NA |
| DISAGREE|AGREE | Cutpoint | 0.5079 | 0.1808 | 2.8087 | 0.0050 | NA | NA | NA |
| AGREE|STRONGLY AGREE | Cutpoint | 2.4835 | 0.1892 | 13.1264 | <0.001 | NA | NA | NA |
Pada model awal, seluruh prediktor memiliki p-value kurang dari 0,05. Namun, interpretasi koefisien belum dijadikan kesimpulan utama karena model ini masih harus melewati pemeriksaan asumsi proportional odds.
Pemeriksaan asumsi proportional odds dilakukan untuk mengetahui apakah pengaruh setiap variabel prediktor bersifat konstan pada seluruh batas kategori respons.
H0: Asumsi proportional odds
terpenuhi, sehingga pengaruh prediktor bersifat konstan pada seluruh
batas kategori respons.
H1: Asumsi
proportional odds tidak terpenuhi, sehingga terdapat pengaruh
prediktor yang tidak konstan pada seluruh batas kategori
respons.
Kriteria keputusan: Jika
p-value < 0,05, maka H0 ditolak dan asumsi
proportional odds dinyatakan tidak terpenuhi. Jika
p-value ≥ 0,05, maka H0 tidak ditolak.
| Variabel | Chi-square | Derajat Bebas | p-value |
|---|---|---|---|
| Omnibus | 22.644 | 10 | 0.012 |
| sexFEMALE | 1.392 | 2 | 0.498 |
| age | 5.041 | 2 | 0.080 |
| degree | 3.287 | 2 | 0.193 |
| polviews | 4.961 | 2 | 0.084 |
| attend | 2.643 | 2 | 0.267 |
Uji omnibus menghasilkan p-value sebesar
0.012 atau kurang dari 0,05, sehingga asumsi
proportional odds tidak sepenuhnya terpenuhi secara
keseluruhan. Karena itu, pemeriksaan dilanjutkan dengan
nominal_test() untuk melihat prediktor mana yang perlu
dimodelkan lebih fleksibel.
H0: Prediktor memenuhi asumsi
proportional odds.
H1:
Prediktor tidak memenuhi asumsi proportional odds.
Kriteria keputusan: Prediktor dengan p-value
< 0,05 diindikasikan memiliki efek non-proporsional dan dapat
dimasukkan ke dalam komponen nominal pada partial
proportional odds model.
| Prediktor | Derajat Bebas | Log-Likelihood | AIC | Likelihood Ratio | p-value |
|---|---|---|---|---|---|
|
|
NA | -2449.340 | 4914.681 | NA | NA |
| sex | 2 | -2448.277 | 4916.554 | 2.127 | 0.345 |
| age | 2 | -2445.313 | 4910.626 | 8.055 | 0.018 |
| degree | 2 | -2448.502 | 4917.005 | 1.676 | 0.433 |
| polviews | 2 | -2444.529 | 4909.058 | 9.623 | 0.008 |
| attend | 2 | -2447.255 | 4914.511 | 4.170 | 0.124 |
Variabel age dan polviews memiliki
p-value kurang dari 0,05, sehingga dimasukkan sebagai efek
non-proporsional. Variabel sex, degree, dan
attend tetap dimodelkan sebagai efek proporsional.
Model partial proportional odds digunakan karena terdapat indikasi bahwa beberapa variabel prediktor tidak sepenuhnya memenuhi asumsi proportional odds. Pada model ini, variabel yang memenuhi asumsi tetap dimodelkan dengan koefisien yang konstan, sedangkan variabel yang terindikasi melanggar asumsi dimodelkan dengan koefisien yang dapat berbeda pada setiap batas kategori respons.
Variabel yang dimasukkan ke dalam komponen nominal
dibaca sebagai efek non-proporsional, sehingga koefisiennya dapat
berbeda pada setiap batas kategori respons. Variabel yang tidak
dimasukkan ke dalam komponen nominal dibaca sebagai efek
proporsional, sehingga koefisiennya berlaku konstan pada seluruh batas
kategori respons. Parameter dengan p-value < 0,05 dinyatakan
signifikan pada taraf signifikansi 5%.
| Parameter | Estimate | Std. Error | z value | p-value |
|---|---|---|---|---|
| STRONGLY DISAGREE|DISAGREE.(Intercept) | -0.6199 | 0.2438 | -2.5427 | 0.0110 |
| DISAGREE|AGREE.(Intercept) | 0.6143 | 0.2008 | 3.0595 | 0.0022 |
| AGREE|STRONGLY AGREE.(Intercept) | 1.7995 | 0.2578 | 6.9813 | <0.001 |
| STRONGLY DISAGREE|DISAGREE.age | 0.0012 | 0.0036 | 0.3481 | 0.7278 |
| DISAGREE|AGREE.age | 0.0047 | 0.0027 | 1.7315 | 0.0834 |
| AGREE|STRONGLY AGREE.age | 0.0118 | 0.0035 | 3.3647 | <0.001 |
| STRONGLY DISAGREE|DISAGREE.polviews | -0.4692 | 0.0449 | -10.4598 | <0.001 |
| DISAGREE|AGREE.polviews | -0.4136 | 0.0347 | -11.9205 | <0.001 |
| AGREE|STRONGLY AGREE.polviews | -0.3164 | 0.0441 | -7.1749 | <0.001 |
| sexFEMALE | -0.4722 | 0.0844 | -5.5952 | <0.001 |
| age | NA | NA | NA | NA |
| degree | -0.2640 | 0.0337 | -7.8295 | <0.001 |
| polviews | NA | NA | NA | NA |
| attend | 0.0455 | 0.0161 | 2.8338 | 0.0046 |
Pada model akhir, sex, degree, dan
attend signifikan sebagai efek proporsional. Variabel
age dan polviews dimodelkan sebagai efek
non-proporsional; age signifikan pada batas
AGREE|STRONGLY AGREE, sedangkan polviews
signifikan pada seluruh batas kategori respons.
Perbandingan model dilakukan untuk menentukan model yang paling
sesuai dalam menjelaskan sikap responden terhadap spanking.
Model awal proportional odds dan partial proportional odds
model dibandingkan menggunakan nilai log-likelihood, AIC,
dan uji rasio likelihood.
H0: Model proportional odds
sudah cukup menjelaskan data.
H1:
Partial proportional odds model memberikan kesesuaian yang
lebih baik dibandingkan model proportional odds.
Kriteria keputusan: Jika p-value uji rasio
likelihood < 0,05, maka H0 ditolak. Selain itu, model
dengan nilai AIC lebih kecil dipilih sebagai model yang lebih baik
karena menunjukkan keseimbangan yang lebih baik antara kesesuaian model
dan kompleksitas parameter.
| Model | Log-Likelihood | Jumlah Parameter | AIC |
|---|---|---|---|
| Proportional Odds | -2449.340 | 8 | 4914.681 |
| Partial Proportional Odds | -2441.681 | 12 | 4907.362 |
| Likelihood Ratio | Derajat Bebas | p-value |
|---|---|---|
| 15.3184 | 4 | 0.0041 |
Model partial proportional odds memiliki log-likelihood lebih besar, AIC lebih rendah, dan uji rasio likelihood menghasilkan p-value 0.0041. Dengan demikian, PPOM dipilih sebagai model akhir.
Pemeriksaan kesesuaian model dilakukan untuk mengetahui apakah partial proportional odds model telah sesuai dalam menggambarkan data yang dianalisis.
H0: Model sesuai dengan data atau tidak
terdapat indikasi lack of fit.
H1: Model tidak sesuai dengan data atau
terdapat indikasi lack of fit.
Kriteria
keputusan: Jika p-value > 0,05, maka H0
tidak ditolak sehingga model dinilai sesuai dengan data. Jika
p-value ≤ 0,05, maka H0 ditolak sehingga model
dinilai kurang sesuai dengan data.
| G^2 Deviance | Derajat Bebas | p-value |
|---|---|---|
| 4597.052 | 5454 | 1.0000 |
Nilai \(G^2\) deviance sebesar 4597.0519, derajat bebas 5454, dan p-value 1.0000. Karena p-value lebih besar dari 0,05, tidak terdapat indikasi lack of fit.
Selain menggunakan statistik \(G^2\) deviance, kesesuaian model juga diperiksa menggunakan uji Hosmer-Lemeshow ordinal. Uji ini membandingkan frekuensi observasi aktual dan frekuensi harapan berdasarkan probabilitas prediksi model pada beberapa kelompok observasi.
H0: Tidak terdapat perbedaan yang
signifikan antara frekuensi observasi aktual dan frekuensi harapan,
sehingga model sesuai dengan data.
H1:
Terdapat perbedaan yang signifikan antara frekuensi observasi aktual dan
frekuensi harapan, sehingga model kurang sesuai dengan data.
Kriteria keputusan: Jika p-value > 0,05,
maka H0 tidak ditolak dan model dinilai sesuai dengan data.
Jika p-value ≤ 0,05, maka H0 ditolak dan model
dinilai kurang sesuai dengan data.
| Jenis Uji | Jumlah Kelompok | Jumlah Kategori Respons | Chi-square | Derajat Bebas | p-value |
|---|---|---|---|---|---|
| Hosmer-Lemeshow ordinal | 10 | 4 | 27.3124 | 24 | 0.2901 |
Uji membentuk 10 kelompok observasi dan menghasilkan chi-square 27.3124, derajat bebas 24, serta p-value 0.2901. Keputusannya: H0 tidak ditolak, sehingga tidak terdapat indikasi ketidaksesuaian model terhadap data.
Uji signifikansi parameter dilakukan secara simultan dan parsial. Uji
simultan digunakan untuk mengetahui apakah variabel prediktor secara
bersama-sama berpengaruh terhadap sikap responden terhadap
spanking, sedangkan uji parsial digunakan untuk mengetahui
pengaruh masing-masing parameter dalam model akhir.
H0: Seluruh koefisien prediktor sama
dengan nol, sehingga variabel prediktor secara bersama-sama tidak
berpengaruh signifikan terhadap sikap responden terhadap
spanking.
H1: Minimal
terdapat satu koefisien prediktor yang tidak sama dengan nol, sehingga
variabel prediktor secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap
sikap responden terhadap spanking.
Kriteria
keputusan: Jika p-value < 0,05, maka H0
ditolak dan model dinyatakan signifikan secara simultan.
| Likelihood Ratio | Derajat Bebas | p-value |
|---|---|---|
| 364.4352 | 9 | <0.001 |
Nilai likelihood ratio sebesar 364.4352
dengan p-value <0.001. Karena
p-value kurang dari 0,05, prediktor secara bersama-sama
berpengaruh signifikan terhadap sikap responden terhadap
spanking.
Setelah model dinyatakan signifikan secara simultan, pengujian
dilanjutkan secara parsial menggunakan statistik Wald yang ditunjukkan
melalui nilai z value dan p-value pada
masing-masing parameter model.
H0: Koefisien parameter sama dengan nol,
sehingga parameter tidak berpengaruh signifikan terhadap sikap responden
terhadap spanking.
H1:
Koefisien parameter tidak sama dengan nol, sehingga parameter
berpengaruh signifikan terhadap sikap responden terhadap
spanking.
Kriteria keputusan: Jika
p-value < 0,05, maka H0 ditolak dan parameter
dinyatakan signifikan secara parsial.
| Parameter | Jenis | Estimate | Std. Error | z value | p-value | Keputusan |
|---|---|---|---|---|---|---|
| Strongly Disagree | Disagree pada age | Efek non-proporsional | 0.0012 | 0.0036 | 0.3481 | 0.7278 | Tidak signifikan |
| Disagree | Agree pada age | Efek non-proporsional | 0.0047 | 0.0027 | 1.7315 | 0.0834 | Tidak signifikan |
| Agree | Strongly Agree pada age | Efek non-proporsional | 0.0118 | 0.0035 | 3.3647 | <0.001 | Signifikan |
| Strongly Disagree | Disagree pada polviews | Efek non-proporsional | -0.4692 | 0.0449 | -10.4598 | <0.001 | Signifikan |
| Disagree | Agree pada polviews | Efek non-proporsional | -0.4136 | 0.0347 | -11.9205 | <0.001 | Signifikan |
| Agree | Strongly Agree pada polviews | Efek non-proporsional | -0.3164 | 0.0441 | -7.1749 | <0.001 | Signifikan |
| sexFEMALE | Efek proporsional | -0.4722 | 0.0844 | -5.5952 | <0.001 | Signifikan |
| degree | Efek proporsional | -0.2640 | 0.0337 | -7.8295 | <0.001 | Signifikan |
| attend | Efek proporsional | 0.0455 | 0.0161 | 2.8338 | 0.0046 | Signifikan |
Efek proporsional yang signifikan adalah sex,
degree, dan attend. Pada efek
non-proporsional, age signifikan hanya pada batas
AGREE|STRONGLY AGREE, sedangkan polviews
signifikan pada seluruh batas kategori.
Interpretasi hasil model dilakukan menggunakan nilai koefisien dan odds ratio pada partial proportional odds model. Pada efek proporsional, satu koefisien berlaku pada seluruh batas kategori respons. Pada efek non-proporsional, interpretasi dilakukan pada masing-masing batas kategori respons.
Jika OR > 1, maka kenaikan satu unit variabel meningkatkan odds berada pada kategori respons yang lebih tinggi sebesar (OR − 1) × 100%. Jika OR < 1, maka kenaikan satu unit variabel menurunkan odds berada pada kategori respons yang lebih tinggi sebesar (1 − OR) × 100%, dengan asumsi variabel lain konstan.
Catatan interpretasi: Pada efek non-proporsional,
koefisien dari output clm() disesuaikan arahnya agar
interpretasi tetap mengacu pada odds berada pada kategori respons yang
lebih tinggi. Oleh karena itu, tabel menggunakan kolom Koefisien
Interpretasi, sehingga OR dihitung sebagai OR =
exp(β) dan dapat langsung digunakan dalam interpretasi.
| Parameter | Jenis | Koefisien Interpretasi | OR | 95% CI OR | p-value | Interpretasi Singkat |
|---|---|---|---|---|---|---|
| Strongly Disagree | Disagree pada age | Efek non-proporsional | -0.0012 | 0.9988 | [0.9918; 1.0058] | 0.7278 | Pada batas Strongly Disagree | Disagree, koefisien age menunjukkan OR = 0.9988. Setiap kenaikan 1 tahun usia menurunkan odds berada pada kategori Disagree atau lebih tinggi sebesar 0.12%. Namun, p-value = 0.7278, sehingga pengaruh ini tidak signifikan pada taraf 5% dan tidak dijadikan fokus interpretasi utama. |
| Disagree | Agree pada age | Efek non-proporsional | -0.0047 | 0.9953 | [0.9901; 1.0006] | 0.0834 | Pada batas Disagree | Agree, koefisien age menunjukkan OR = 0.9953. Setiap kenaikan 1 tahun usia menurunkan odds berada pada kategori Agree atau Strongly Agree sebesar 0.47%. Namun, p-value = 0.0834, sehingga pengaruh ini tidak signifikan pada taraf 5% dan tidak dijadikan fokus interpretasi utama. |
| Agree | Strongly Agree pada age | Efek non-proporsional | -0.0118 | 0.9883 | [0.9815; 0.9951] | <0.001 | Pada batas Agree | Strongly Agree, koefisien age menunjukkan OR = 0.9883. Setiap kenaikan 1 tahun usia menurunkan odds berada pada kategori Strongly Agree sebesar 1.17%. Pengaruh ini signifikan pada taraf 5%. |
| Strongly Disagree | Disagree pada polviews | Efek non-proporsional | 0.4692 | 1.5987 | [1.4641; 1.7456] | <0.001 | Pada batas Strongly Disagree | Disagree, koefisien polviews menunjukkan OR = 1.5987. Setiap kenaikan 1 unit polviews meningkatkan odds berada pada kategori Disagree atau lebih tinggi sebesar 59.87%. Pengaruh ini signifikan pada taraf 5%. |
| Disagree | Agree pada polviews | Efek non-proporsional | 0.4136 | 1.5123 | [1.4128; 1.6187] | <0.001 | Pada batas Disagree | Agree, koefisien polviews menunjukkan OR = 1.5123. Setiap kenaikan 1 unit polviews meningkatkan odds berada pada kategori Agree atau Strongly Agree sebesar 51.23%. Pengaruh ini signifikan pada taraf 5%. |
| Agree | Strongly Agree pada polviews | Efek non-proporsional | 0.3164 | 1.3722 | [1.2586; 1.496] | <0.001 | Pada batas Agree | Strongly Agree, koefisien polviews menunjukkan OR = 1.3722. Setiap kenaikan 1 unit polviews meningkatkan odds berada pada kategori Strongly Agree sebesar 37.22%. Pengaruh ini signifikan pada taraf 5%. |
| sexFEMALE | Efek proporsional | -0.4722 | 0.6236 | [0.5285; 0.7358] | <0.001 | Koefisien sexFEMALE menunjukkan OR = 0.6236. Perempuan memiliki odds berada pada kategori sikap yang lebih tinggi 37.64% lebih rendah dibanding laki-laki. Pengaruh ini signifikan pada taraf 5%. |
| degree | Efek proporsional | -0.2640 | 0.7680 | [0.7189; 0.8205] | <0.001 | Koefisien degree menunjukkan OR = 0.768. Setiap kenaikan 1 tingkat pendidikan menurunkan odds berada pada kategori sikap yang lebih tinggi sebesar 23.20%. Pengaruh ini signifikan pada taraf 5%. |
| attend | Efek proporsional | 0.0455 | 1.0466 | [1.0141; 1.08] | 0.0046 | Koefisien attend menunjukkan OR = 1.0466. Setiap kenaikan 1 tingkat kehadiran keagamaan meningkatkan odds berada pada kategori sikap yang lebih tinggi sebesar 4.66%. Pengaruh ini signifikan pada taraf 5%. |
Kolom OR menunjukkan besar pengaruh, sedangkan kolom Interpretasi Singkat langsung menjelaskan maknanya. Parameter yang tidak signifikan tetap diinterpretasikan, lalu diberi catatan bahwa pengaruhnya tidak signifikan pada taraf 5%.
Evaluasi klasifikasi dilakukan berdasarkan probabilitas prediksi ordinal yang dihasilkan oleh partial proportional odds model. Kategori prediksi ditentukan dari kategori respons dengan probabilitas terbesar pada setiap observasi, kemudian dibandingkan dengan kategori aktual menggunakan confusion matrix.
Bagian ini bukan uji hipotesis, melainkan evaluasi kemampuan klasifikasi model. Akurasi tepat menunjukkan proporsi prediksi yang sama persis dengan kategori aktual. Akurasi toleransi satu tingkat menunjukkan proporsi prediksi yang sama atau hanya berbeda satu kategori dari kategori aktual. Rata-rata jarak ordinal menunjukkan rata-rata selisih tingkat antara kategori aktual dan kategori prediksi. Semakin kecil rata-rata jarak ordinal, semakin dekat prediksi model dengan kategori aktual.
Tabel prediksi di bawah ini bersifat interaktif. Kolom prediksi ditebalkan agar pembaca langsung melihat kategori hasil prediksi model.
| Aktual | STRONGLY DISAGREE | DISAGREE | AGREE | STRONGLY AGREE |
|---|---|---|---|---|
| STRONGLY DISAGREE | 103 | 111 | 115 | 4 |
| DISAGREE | 59 | 154 | 342 | 4 |
| AGREE | 32 | 124 | 576 | 12 |
| STRONGLY AGREE | 11 | 40 | 273 | 16 |
| Akurasi Tepat | Akurasi Toleransi Satu Tingkat | Rata-rata Jarak Ordinal |
|---|---|---|
| 0.4297 | 0.8957 | 0.6822 |
Akurasi tepat model sebesar 42.97%, sehingga kemampuan prediksi kategori secara persis masih terbatas. Namun, akurasi toleransi satu tingkat sebesar 89.57% dan rata-rata jarak ordinal 0.6822 menunjukkan bahwa kesalahan prediksi umumnya tidak jauh dari kategori aktual. Model ini lebih cocok untuk inferensi daripada prediksi presisi.
Penelitian ini menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi sikap responden terhadap penggunaan spanking menggunakan data General Social Survey (GSS) tahun 2024. Hasil pengujian menunjukkan bahwa asumsi proportional odds tidak sepenuhnya terpenuhi, sehingga Partial Proportional Odds Model (PPOM) dipilih sebagai model yang lebih sesuai dibandingkan regresi logistik ordinal konvensional.
age dan polviews tidak diringkas menjadi satu angka efek global. Setiap kotak di bawah ini menunjukkan perubahan odds pada batas kategori tertentu, sehingga interpretasinya tetap sesuai dengan struktur Partial Proportional Odds Model.
Hasil analisis menunjukkan bahwa jenis kelamin, usia, tingkat pendidikan, pandangan politik, dan frekuensi kehadiran dalam kegiatan keagamaan berpengaruh signifikan terhadap sikap responden terhadap spanking. Secara umum, perempuan dan individu dengan tingkat pendidikan yang lebih tinggi cenderung memiliki tingkat persetujuan yang lebih rendah terhadap penggunaan spanking, sedangkan individu yang lebih sering menghadiri kegiatan keagamaan cenderung memiliki tingkat persetujuan yang lebih tinggi. Selain itu, pengaruh usia dan pandangan politik tidak bersifat konstan pada seluruh kategori respons, yang menunjukkan pentingnya penggunaan PPOM dalam penelitian ini.
Temuan penelitian ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa faktor demografis, politik, dan religiusitas merupakan determinan penting sikap terhadap spanking. Meskipun kemampuan prediksi tepat model masih tergolong moderat, hasil penelitian menunjukkan bahwa PPOM efektif digunakan untuk menjelaskan hubungan antara karakteristik responden dan sikap terhadap spanking pada data ordinal.
Gagné, M.-H., Tourigny, M., Joly, J., & Pouliot-Lapointe, J. (2007). Predictors of adult attitudes toward corporal punishment of children. Journal of Interpersonal Violence, 22(10), 1285–1304. https://doi.org/10.1177/0886260507304550
Widyastuti, N., et al. (2024). Enhancing parenting to prevent negative discipline in Yogyakarta: Mixed methods study. Berita Ilmu Keperawatan, 17(1). https://doi.org/10.23917/bik.v17i1.8808
Hoffmann, J. P., Ellison, C. G., & Bartkowski, J. P. (2017). Conservative Protestantism and attitudes toward corporal punishment, 1986–2014. Social Science Research, 63, 81–94.
Wolf, J. P., & Kepple, N. J. (2019). Individual- and county-level religious participation, corporal punishment, and physical abuse of children: An exploratory study. Journal of Interpersonal Violence, 34(19). https://doi.org/10.1177/0886260516674197
Chung, E. K., Mathew, L., Rothkopf, A. C., Elo, I. T., Coyne, J. C., & Culhane, J. F. (2009). Parenting attitudes and infant spanking: The influence of childhood experiences. Pediatrics, 124(2), e278–e286. https://doi.org/10.1542/peds.2008-3247
Vittrup, B., Holden, G. W., & Buck, J. (2006). Attitudes predict the use of physical punishment: A prospective study of the emergence of disciplinary practices. Pediatrics, 117(6), 2055–2064. https://doi.org/10.1542/peds.2005-2204
Deater-Deckard, K., Lansford, J. E., Dodge, K. A., Pettit, G. S., & Bates, J. E. (2003). The development of attitudes about physical punishment: An 8-year longitudinal study. Journal of Family Psychology, 17(3), 351–360. https://doi.org/10.1037/0893-3200.17.3.351
NORC at the University of Chicago. (2024). General Social Survey (GSS) 2024. https://gss.norc.org