Pendahuluan

Pasar tenaga kerja di kawasan Asia Tenggara (ASEAN) mencerminkan keragaman kondisi ekonomi, sosial, dan pendidikan yang sangat luas. Dari Singapura yang maju dengan GDP per kapita di atas $65.000, hingga Myanmar dan Kamboja yang masih bergulat dengan kemiskinan dan dominasi sektor informal — setiap negara memiliki tantangan ketenagakerjaan yang unik.

Analisis ini bertujuan untuk mengeksplorasi pola dan hubungan antar variabel ketenagakerjaan di 10 negara ASEAN pada tahun 2025, menggunakan dua pendekatan: (1) analisis tren pencarian digital melalui Google Trends untuk melihat dinamika platform e-commerce sebagai proksi aktivitas ekonomi digital, dan (2) visualisasi data makroekonomi tenaga kerja untuk menemukan pola yang dapat mendukung perumusan kebijakan pengurangan pengangguran di kawasan ASEAN.

B. Analisis Data Tenaga Kerja ASEAN

Data yang digunakan adalah dataset pasar tenaga kerja dan ekonomi makro 10 negara ASEAN tahun 2025, mencakup variabel pengangguran umum, pengangguran muda, GDP per kapita, inflasi, indeks pendidikan, tenaga kerja informal, populasi, dan partisipasi angkatan kerja.

library(readr)
df <- read.csv2("C:/Users/User/Downloads/data_kuis2_latihan.csv")
str(df)
## 'data.frame':    10 obs. of  10 variables:
##  $ negara                    : chr  "Indonesia" "Malaysia" "Thailand" "Philippines" ...
##  $ pengangguran_umum         : num  5.2 3.4 1.1 4.7 2.3 2.1 2.6 0.8 1.5 4.9
##  $ pengangguran_muda         : num  14.8 10.2 4.8 13.2 7.1 5.9 8.4 3.2 5.4 22.1
##  $ gdp_per_kapita            : int  4913 12364 7807 3623 4163 65233 1209 1712 2576 31449
##  $ inflasi                   : num  3.2 2.4 1.8 4.1 3.8 2.7 18.4 2.2 25.1 0.9
##  $ indeks_pendidikan         : num  0.7 0.8 0.75 0.68 0.73 0.94 0.55 0.54 0.57 0.85
##  $ tenaga_kerja_informal     : int  56 28 44 60 54 9 80 82 75 12
##  $ populasi_juta             : num  277.5 33.6 71.8 115.6 98.2 ...
##  $ partisipasi_angkatan_kerja: num  68.1 70.2 73.5 66.3 74.8 77.2 65.4 79.1 77.6 63.3
##  $ tahun                     : int  2025 2025 2025 2025 2025 2025 2025 2025 2025 2025
head(df)
##        negara pengangguran_umum pengangguran_muda gdp_per_kapita inflasi
## 1   Indonesia               5.2              14.8           4913     3.2
## 2    Malaysia               3.4              10.2          12364     2.4
## 3    Thailand               1.1               4.8           7807     1.8
## 4 Philippines               4.7              13.2           3623     4.1
## 5     Vietnam               2.3               7.1           4163     3.8
## 6   Singapore               2.1               5.9          65233     2.7
##   indeks_pendidikan tenaga_kerja_informal populasi_juta
## 1              0.70                    56         277.5
## 2              0.80                    28          33.6
## 3              0.75                    44          71.8
## 4              0.68                    60         115.6
## 5              0.73                    54          98.2
## 6              0.94                     9           5.9
##   partisipasi_angkatan_kerja tahun
## 1                       68.1  2025
## 2                       70.2  2025
## 3                       73.5  2025
## 4                       66.3  2025
## 5                       74.8  2025
## 6                       77.2  2025
summary(df)
##     negara          pengangguran_umum pengangguran_muda gdp_per_kapita 
##  Length:10          Min.   :0.800     Min.   : 3.200    Min.   : 1209  
##  Class :character   1st Qu.:1.650     1st Qu.: 5.525    1st Qu.: 2838  
##  Mode  :character   Median :2.450     Median : 7.750    Median : 4538  
##                     Mean   :2.860     Mean   : 9.510    Mean   :13505  
##                     3rd Qu.:4.375     3rd Qu.:12.450    3rd Qu.:11225  
##                     Max.   :5.200     Max.   :22.100    Max.   :65233  
##     inflasi       indeks_pendidikan tenaga_kerja_informal populasi_juta   
##  Min.   : 0.900   Min.   :0.5400    Min.   : 9.00         Min.   :  0.45  
##  1st Qu.: 2.250   1st Qu.:0.5975    1st Qu.:32.00         1st Qu.:  9.95  
##  Median : 2.950   Median :0.7150    Median :55.00         Median : 44.00  
##  Mean   : 6.460   Mean   :0.7110    Mean   :50.00         Mean   : 68.22  
##  3rd Qu.: 4.025   3rd Qu.:0.7875    3rd Qu.:71.25         3rd Qu.: 91.60  
##  Max.   :25.100   Max.   :0.9400    Max.   :82.00         Max.   :277.50  
##  partisipasi_angkatan_kerja     tahun     
##  Min.   :63.30              Min.   :2025  
##  1st Qu.:66.75              1st Qu.:2025  
##  Median :71.85              Median :2025  
##  Mean   :71.55              Mean   :2025  
##  3rd Qu.:76.60              3rd Qu.:2025  
##  Max.   :79.10              Max.   :2025

Visualisasi 1 — Scatter Plot: GDP per Kapita vs Pengangguran Umum

ggplot(df, aes(x = gdp_per_kapita, y = pengangguran_umum,
               label = negara, size = populasi_juta)) +
  geom_point(alpha = 0.7, color = "#378ADD") +
  geom_text(size = 3, vjust = -1, show.legend = FALSE) +
  geom_smooth(method = "lm", se = FALSE,
              color = "red", linetype = "dashed") +
  theme_minimal() +
  labs(
    title    = "Hubungan GDP per Kapita vs Tingkat Pengangguran",
    subtitle = "Negara-negara ASEAN 2025",
    x        = "GDP per Kapita (USD)",
    y        = "Pengangguran Umum (%)",
    size     = "Populasi (juta)",
    caption  = "Sumber: Data Tenaga Kerja ASEAN 2025"
  )
Gambar 4. Hubungan GDP per Kapita vs Tingkat Pengangguran Umum ASEAN 2025

Gambar 4. Hubungan GDP per Kapita vs Tingkat Pengangguran Umum ASEAN 2025

Interpretasi: Garis regresi menunjukkan kemiringan yang hampir datar, mengindikasikan bahwa hubungan antara GDP per kapita dan tingkat pengangguran umum di ASEAN tidak sesederhana yang diperkirakan. Brunei menjadi anomali yang menarik — meski memiliki GDP per kapita $31.449, tingkat penganggurannya mencapai 4.9%, lebih tinggi dari Vietnam ($4.163) yang hanya 2.3%. Hal ini mengindikasikan bahwa struktur ekonomi yang bergantung pada satu sektor (minyak bumi di Brunei) tidak mampu menciptakan lapangan kerja yang memadai bagi seluruh angkatan kerjanya. Sementara itu, Singapore membuktikan bahwa diversifikasi ekonomi yang matang mampu menjaga pengangguran tetap rendah (2.1%) meski standar hidup sangat tinggi.


Visualisasi 2 — Bar Chart: Tingkat Pengangguran Muda per Negara

df <- df %>%
  mutate(kategori = ifelse(pengangguran_muda > 10,
                           "Tinggi (>10%)", "Normal (≤10%)"))

ggplot(df, aes(x = reorder(negara, -pengangguran_muda),
               y = pengangguran_muda, fill = kategori)) +
  geom_col() +
  geom_text(aes(label = paste0(pengangguran_muda, "%")),
            vjust = -0.4, size = 3.5) +
  scale_fill_manual(values = c("Tinggi (>10%)" = "#E24B4A",
                               "Normal (≤10%)" = "#378ADD")) +
  theme_minimal() +
  theme(axis.text.x = element_text(angle = 45, hjust = 1)) +
  labs(
    title   = "Tingkat Pengangguran Muda per Negara ASEAN 2025",
    x       = "Negara",
    y       = "Pengangguran Muda (%)",
    fill    = "Kategori",
    caption = "Sumber: Data Tenaga Kerja ASEAN 2025"
  )
Gambar 5. Tingkat Pengangguran Muda per Negara ASEAN 2025

Gambar 5. Tingkat Pengangguran Muda per Negara ASEAN 2025

Interpretasi: Empat negara masuk kategori pengangguran muda tinggi (di atas 10%): Brunei (22.1%), Indonesia (14.8%), Philippines (13.2%), dan Malaysia (10.2%). Yang paling mengejutkan adalah Brunei — sebagai negara dengan pendapatan per kapita tertinggi ketiga di ASEAN, angka pengangguran mudanya justru yang paling parah. Ini menunjukkan bahwa kemakmuran ekonomi berbasis sumber daya alam tidak otomatis menciptakan peluang kerja bagi generasi muda. Indonesia dengan populasi terbesar di ASEAN perlu sangat serius menangani masalah ini, mengingat jumlah absolut pemuda yang menganggur sangat besar dibandingkan negara lain.


Visualisasi 3 — Lattice: Indeks Pendidikan vs Tenaga Kerja Informal

xyplot(tenaga_kerja_informal ~ indeks_pendidikan,
       data = df,
       type = "p",
       main = "Indeks Pendidikan vs Tenaga Kerja Informal ASEAN",
       xlab = "Indeks Pendidikan (0-1)",
       ylab = "Tenaga Kerja Informal (%)",
       panel = function(x, y, ...) {
         panel.xyplot(x, y, ...)
         panel.abline(h = 50, col = "red", lty = 2)
         panel.text(0.90, 52, "Batas 50%", cex = 0.8)
       })
Gambar 6. Hubungan Indeks Pendidikan vs Tenaga Kerja Informal ASEAN

Gambar 6. Hubungan Indeks Pendidikan vs Tenaga Kerja Informal ASEAN

Interpretasi: Visualisasi lattice ini memperlihatkan pola negatif yang sangat jelas — semakin tinggi indeks pendidikan suatu negara, semakin rendah proporsi tenaga kerja informalnya. Negara dengan indeks pendidikan di bawah 0.60 (Cambodia 0.54, Myanmar 0.55) semuanya memiliki tenaga kerja informal di atas 75%, jauh melampaui garis referensi merah 50%. Sebaliknya, Singapore (0.94) dan Brunei (0.85) berhasil menekan tenaga kerja informal hingga di bawah 15%. Indonesia berada di posisi indeks 0.70 dengan 56% tenaga kerja informal — masih di atas batas kritis. Ini membuktikan bahwa investasi pendidikan, khususnya pendidikan vokasional yang terkoneksi dengan industri formal, merupakan instrumen paling langsung untuk mendorong formalisasi tenaga kerja.


C. Dashboard Tableau

Dashboard berikut menampilkan analisis visual terintegrasi menggunakan dataset tenaga kerja ASEAN 2025 yang dibuat menggunakan Tableau Public. Dashboard terdiri dari dua visualisasi utama — bar chart pengangguran muda per negara dan scatter plot hubungan GDP vs pengangguran — yang dilengkapi dengan filter interaktif berdasarkan negara sehingga pengguna dapat mengeksplorasi data secara mandiri.

Gambar 7. Dashboard Analisis Tenaga Kerja ASEAN 2025 (Tableau Public)

Gambar 7. Dashboard Analisis Tenaga Kerja ASEAN 2025 (Tableau Public)

Link dashboard interaktif Tableau Public:
Klik di sini untuk membuka Dashboard

{= html} <div class='tableauPlaceholder' id='viz1779689036323' style='position: relative'><noscript><a href='#'><img alt='dashboard_asean ' src='https:&#47;&#47;public.tableau.com&#47;static&#47;images&#47;An&#47;Analisis_Tenaga_Kerja_ASEAN_2025&#47;Dashboard1&#47;1_rss.png' style='border: none' /></a></noscript><object class='tableauViz' style='display:none;'><param name='host_url' value='https%3A%2F%2Fpublic.tableau.com%2F' /> <param name='embed_code_version' value='3' /> <param name='site_root' value='' /><param name='name' value='Analisis_Tenaga_Kerja_ASEAN_2025&#47;Dashboard1' /><param name='tabs' value='no' /><param name='toolbar' value='yes' /><param name='static_image' value='https:&#47;&#47;public.tableau.com&#47;static&#47;images&#47;An&#47;Analisis_Tenaga_Kerja_ASEAN_2025&#47;Dashboard1&#47;1.png' /> <param name='animate_transition' value='yes' /><param name='display_static_image' value='yes' /><param name='display_spinner' value='yes' /><param name='display_overlay' value='yes' /><param name='display_count' value='yes' /><param name='language' value='en-US' /><param name='filter' value='publish=yes' /></object></div> <script type='text/javascript'> var divElement = document.getElementById('viz1779689036323'); var vizElement = divElement.getElementsByTagName('object')[0]; if ( divElement.offsetWidth > 800 ) { vizElement.style.width='100%';vizElement.style.height=(divElement.offsetWidth*0.75)+'px';} else if ( divElement.offsetWidth > 500 ) { vizElement.style.width='100%';vizElement.style.height=(divElement.offsetWidth*0.75)+'px';} else { vizElement.style.width='100%';vizElement.style.height='1027px';} var scriptElement = document.createElement('script'); scriptElement.src = 'https://public.tableau.com/javascripts/api/viz_v1.js'; vizElement.parentNode.insertBefore(scriptElement, vizElement); </script>

Insight dari dashboard:


Kesimpulan & Rekomendasi

Berdasarkan seluruh analisis di atas — baik dari Google Trends maupun data makroekonomi tenaga kerja ASEAN — terdapat beberapa kesimpulan dan rekomendasi kebijakan yang dapat dirumuskan:

Pertama, dominasi Shopee di pasar e-commerce Indonesia (rata-rata skor 83.4 vs Lazada 8.5) menunjukkan bahwa ekosistem digital Indonesia sudah sangat matang dan terkonsentrasi. Pemerintah dan pelaku UMKM sebaiknya memanfaatkan platform ini secara maksimal untuk mendorong formalisasi usaha kecil, terutama di luar Jawa di mana penetrasi e-commerce masih sangat rendah namun potensinya besar.

Kedua, empat negara dengan pengangguran muda di atas 10% — Brunei, Indonesia, Philippines, dan Malaysia — perlu mengambil pendekatan yang berbeda-beda. Indonesia dan Philippines perlu memperluas akses pendidikan vokasional yang terhubung langsung dengan industri. Brunei dan Malaysia perlu diversifikasi ekonomi agar tidak bergantung pada sektor yang tidak padat karya.

Ketiga, indeks pendidikan terbukti menjadi prediktor kuat tingkat informalitas tenaga kerja. Negara-negara ASEAN yang ingin meningkatkan kualitas ketenagakerjaan harus memprioritaskan peningkatan kualitas pendidikan — bukan hanya akses, tapi relevansi kurikulum dengan kebutuhan pasar kerja formal. Indonesia dengan indeks 0.70 dan 56% tenaga kerja informal masih memiliki ruang besar untuk perbaikan di area ini.