A. Pendahuluan

Dalam industri coffee chain, aktivitas marketing sering digunakan untuk meningkatkan penjualan. Namun, peningkatan biaya marketing tidak selalu berdampak positif terhadap profit yang diperoleh perusahaan. Oleh karena itu, penting untuk menganalisis hubungan antara marketing dan profit.

Tujuan Analisis

  • Mengetahui hubungan antara marketing dan profit
  • Menganalisis pengaruh marketing terhadap profit
  • Menyajikan hubungan tersebut dalam bentuk visualisasi

B. Persiapan Data

Load Library

library(ggplot2)
library(readxl)
library(dplyr)
## 
## Attaching package: 'dplyr'
## The following objects are masked from 'package:stats':
## 
##     filter, lag
## The following objects are masked from 'package:base':
## 
##     intersect, setdiff, setequal, union

Import Data

data <- read_excel("1. Tugas SIM 2025B - Coffee Chain Datasets.xlsx")

Seleksi Variabel

df <- data %>%
  select(Marketing, Profit) %>%
  na.omit()

C. Analisis Data

1. Statistika Deskriptif

summary(df)
##    Marketing          Profit      
##  Min.   :  0.00   Min.   :-638.0  
##  1st Qu.: 13.00   1st Qu.:  17.0  
##  Median : 22.00   Median :  40.0  
##  Mean   : 31.19   Mean   :  61.1  
##  3rd Qu.: 39.00   3rd Qu.:  92.0  
##  Max.   :156.00   Max.   : 778.0

Statistika deskriptif digunakan untuk melihat gambaran umum data, seperti nilai minimum, maksimum, rata-rata, dan distribusi dari variabel marketing dan profit. Berdasarkan hasil statistika deskriptif, variabel marketing memiliki nilai minimum sebesar 0 dan maksimum sebesar 156, dengan rata-rata sebesar 31,19. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat variasi yang cukup besar dalam pengeluaran marketing.

Sementara itu, variabel profit memiliki nilai minimum sebesar -638 dan maksimum sebesar 778, dengan rata-rata sebesar 61,1. Nilai minimum yang negatif menunjukkan bahwa terdapat kondisi di mana perusahaan mengalami kerugian.

Sebagian besar nilai marketing berada pada rentang 13 hingga 39, sedangkan sebagian besar nilai profit berada pada rentang 17 hingga 92. Hal ini menunjukkan bahwa pada kondisi umum, perusahaan masih memperoleh profit positif meskipun terdapat variasi dalam pengeluaran marketing.

2. Visualisasi Hubungan Marketing dan Profit

ggplot(df, aes(x = Marketing, y = Profit)) +
  geom_point(alpha = 0.6) +
  geom_smooth(method = "lm", se = FALSE) +
  labs(
    title = "Hubungan Marketing terhadap Profit",
    x = "Marketing",
    y = "Profit"
  )
## `geom_smooth()` using formula = 'y ~ x'

Interpretasi Visualisasi

Berdasarkan scatter plot yang ditampilkan, terlihat bahwa hubungan antara marketing dan profit memiliki kecenderungan positif, yang ditunjukkan oleh garis tren yang sedikit meningkat.

Namun, sebaran titik data terlihat cukup luas dan tidak membentuk pola yang rapat. Hal ini menunjukkan bahwa hubungan antara marketing dan profit tidak terlalu kuat.

Selain itu, terdapat beberapa titik dengan nilai profit negatif meskipun pengeluaran marketing cukup tinggi. Hal ini mengindikasikan bahwa peningkatan biaya marketing tidak selalu menjamin peningkatan profit.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa meskipun terdapat kecenderungan hubungan positif antara marketing dan profit, hubungan tersebut bersifat lemah dan dipengaruhi oleh faktor lain di luar marketing.

3. Analisis Korelasi

correlation <- cor(df$Marketing, df$Profit, use = "complete.obs")
correlation
## [1] 0.225465

Interpretasi Korelasi

Nilai korelasi antara marketing dan profit sebesar 0,225 menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif dengan kekuatan yang lemah antara kedua variabel tersebut.

Hal ini berarti bahwa peningkatan pengeluaran marketing cenderung diikuti oleh peningkatan profit, namun hubungan tersebut tidak terlalu kuat. Dengan kata lain, marketing bukan satu-satunya faktor yang menentukan profit.

Hasil ini juga sejalan dengan visualisasi scatter plot yang menunjukkan bahwa meskipun terdapat kecenderungan kenaikan profit seiring peningkatan marketing, sebaran data yang luas mengindikasikan adanya variabilitas yang tinggi.

Selain itu, ditemukan beberapa kondisi di mana nilai marketing tinggi justru diikuti oleh profit yang rendah bahkan negatif. Hal ini menunjukkan bahwa efektivitas marketing tidak selalu konsisten dan dapat dipengaruhi oleh faktor lain seperti biaya operasional, jenis produk, atau kondisi pasar.

D. Kesimpulan

Berdasarkan analisis yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan positif antara marketing dan profit, namun dengan kekuatan yang lemah.

Visualisasi menunjukkan bahwa peningkatan marketing tidak selalu menghasilkan peningkatan profit secara konsisten. Hal ini diperkuat dengan nilai korelasi yang relatif rendah serta adanya variasi data yang cukup besar.

Dengan demikian, strategi marketing perlu direncanakan secara efektif dan efisien agar dapat memberikan dampak yang optimal terhadap profit. Selain itu, perusahaan juga perlu mempertimbangkan faktor lain di luar marketing yang dapat mempengaruhi kinerja profit secara keseluruhan.