A. Pendahuluan
Dalam dunia bisnis, pengelolaan persediaan (inventory) merupakan hal
yang sangat penting karena berkaitan langsung dengan penjualan. Jika
stok terlalu sedikit, perusahaan berisiko kehilangan peluang penjualan.
Sebaliknya, jika stok terlalu banyak, dapat menyebabkan penumpukan
barang (overstock) yang berujung pada inefisiensi.
Penjualan (sales) sebagai hasil utama dari aktivitas bisnis tidak
hanya dipengaruhi oleh jumlah stok, tetapi juga oleh jenis produk dan
wilayah pemasaran. Setiap produk memiliki karakteristik permintaan yang
berbeda, begitu juga dengan kondisi pasar di setiap wilayah yang dapat
memengaruhi tingkat penjualan.
Oleh karena itu, analisis ini bertujuan untuk memahami hubungan
antara Inventory dan Sales, serta melihat apakah terdapat perbedaan pola
penjualan berdasarkan Product Type dan wilayah (State). Selain itu,
analisis ini juga bertujuan untuk mengidentifikasi apakah terdapat batas
optimal dalam pengelolaan persediaan agar penjualan dapat
dimaksimalkan.
Hasil dari analisis ini diharapkan dapat memberikan gambaran
mengenai pentingnya pengelolaan persediaan yang efisien serta strategi
distribusi yang tepat berdasarkan karakteristik produk dan wilayah.
Import Data
library("readxl")
## Warning: package 'readxl' was built under R version 4.5.2
data_saya<-read_excel("1. Tugas SIM 2025B - Coffee Chain Datasets.xlsx")
B. Deskripsi Data
Melihat nama variabel yang selanjutnya akan dipilih untuk bahan
analisis
names(data_saya)
## [1] "Area Code" "Date" "Market" "Market Size"
## [5] "Product" "Product Line" "Product Type" "State"
## [9] "Type" "Budget COGS" "Budget Margin" "Budget Profit"
## [13] "Budget Sales" "COGS" "Inventory" "Margin"
## [17] "Marketing" "Profit" "Sales" "Total Expenses"
Selain itu, variabel Product Type digunakan untuk membedakan jenis
produk yang dijual, seperti Coffee, Espresso, Herbal Tea, dan Tea.
Perbedaan jenis produk ini penting karena setiap produk memiliki
karakteristik permintaan yang berbeda. Variabel State digunakan untuk
melihat perbedaan penjualan berdasarkan wilayah. Hal ini bertujuan untuk
mengetahui apakah terdapat ketimpangan performa penjualan di berbagai
daerah.
Dengan menggunakan keempat variabel tersebut, analisis ini
diharapkan dapat memberikan gambaran yang lebih lengkap mengenai
hubungan antara persediaan dan penjualan, serta bagaimana faktor produk
dan wilayah mempengaruhi pola tersebut.
C. Pengolahan Data
Pada bagian ini dilakukan pengolahan data untuk memahami hubungan
antara Inventory dan Sales, serta melihat perbedaan pola penjualan
berdasarkan Product Type dan wilayah (State). Pengolahan data dilakukan
melalui dua tahap utama, yaitu visualisasi data dan analisis
statistik.
Visualisasi data digunakan untuk memberikan gambaran awal mengenai
pola hubungan antar variabel serta distribusi data yang dimiliki.
Melalui visualisasi, dapat diketahui kecenderungan umum, perbedaan antar
kategori, serta kemungkinan adanya pola tertentu dalam data.
Selanjutnya, dilakukan analisis statistik untuk menguji temuan yang
diperoleh dari visualisasi secara lebih objektif. Analisis ini meliputi
uji normalitas, uji korelasi, serta uji perbedaan antar kelompok.
Pemilihan metode statistik disesuaikan dengan karakteristik data yang
digunakan.
Dengan adanya tahapan pengolahan data ini, diharapkan hasil analisis
yang diperoleh tidak hanya bersifat deskriptif, tetapi juga didukung
oleh pengujian statistik yang tepat.
Visualisasi Data
library(ggplot2)
## Warning: package 'ggplot2' was built under R version 4.5.3
Interpretasi
Meskipun rata-rata penjualan antar produk hampir sama, kategori
Coffee dan Espresso memiliki potensi lonjakan penjualan (high-end sales)
yang lebih sering dan lebih tinggi dibandingkan kategori Tea.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Interpretasi
Kesimpulan : Secara kolektif, terlihat bahwa manajemen inventory
harus dijaga pada kisaran 2.500 hingga 3.000 unit untuk memaksimalkan
angka penjualan, namun nilai ini dapat berbeda pada setiap product
type.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Interpretasi
Berdasarkan analisis wilayah, terlihat adanya ketimpangan performa
penjualan antar Negara Bagian. Hal ini menyiratkan bahwa kebijakan stok
2.500-3.000 unit yang ditemukan sebelumnya perlu disesuaikan
(didistribusikan lebih banyak) ke wilayah dengan rata-rata penjualan
tertinggi untuk menghindari lost sales.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
ANALISIS DATA
Menguji normalitas data
#Uji normalitas data Inventory
shapiro.test(data_saya$Inventory)
##
## Shapiro-Wilk normality test
##
## data: data_saya$Inventory
## W = 0.71102, p-value < 2.2e-16
#Uji normalitas data Sales
shapiro.test(data_saya$Sales)
##
## Shapiro-Wilk normality test
##
## data: data_saya$Sales
## W = 0.78969, p-value < 2.2e-16
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Interpretasi
Berdasarkan Uji normalitas, didapat informasi bahwa data Inventory
dan Sales tidak normal
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Interpretasi
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Mengetahui apakah terdapat perbedaan penjualan antar product
type
# H0 : Tidak terdapat perbedaan penjualan antar product type
# H1 : Terdapat perbedaan penjualan antar product type
# P-value < 0.05 maka H0 ditolak
kruskal.test(Sales ~ `Product Type`, data = data_saya)
##
## Kruskal-Wallis rank sum test
##
## data: Sales by Product Type
## Kruskal-Wallis chi-squared = 41.245, df = 3, p-value = 5.802e-09
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Interpretasi
Berdasarkan uji kruskal-Wallis diketahui nilai p-value = 5.802e-09
(ini sangat kecil, jauh di bawah 0.05). Artinya, ada perbedaan penjualan
yang sangat signifikan di antara keempat jenis produk tersebut.
Penjualan Coffee, Espresso, Herbal Tea, dan Tea tidaklah sama secara
statistik.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Mengetahui produk mana yang memiliki karakteristik penjualan
yang berbeda
pairwise.wilcox.test(data_saya$Sales, data_saya$`Product Type`, p.adjust.method = "bonferroni")
##
## Pairwise comparisons using Wilcoxon rank sum test with continuity correction
##
## data: data_saya$Sales and data_saya$`Product Type`
##
## Coffee Espresso Herbal Tea
## Espresso 0.00089 - -
## Herbal Tea 1.00000 0.00179 -
## Tea 1.4e-06 0.49165 1.5e-06
##
## P value adjustment method: bonferroni
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Interpretasi
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
D. Kesimpulan
Analisis ini bertujuan untuk memahami hubungan antara jumlah
persediaan (inventory) dan penjualan (sales) pada Coffee Chain.
Berdasarkan visualisasi, terlihat bahwa setiap jenis produk memiliki
pola penjualan yang berbeda. Produk seperti Coffee dan Espresso
cenderung memiliki peluang penjualan tinggi, meskipun rata-rata
penjualannya tidak jauh berbeda dengan produk lainnya.
Secara keseluruhan, efisiensi persediaan dapat dicapai dengan
mengelola jumlah stok secara optimal, serta menyesuaikannya berdasarkan
jenis produk dan wilayah penjualan.