Mini project ini menggunakan data real APBD Murni 2024-2025 yang disusun dari sumber fiskal pemerintah daerah. Analisis difokuskan pada hubungan antara alokasi tahun sebelumnya dan alokasi tahun berikutnya, serta apakah kelompok anggaran menambah daya jelas model. Pendekatan ini relevan karena pengelolaan APBD merupakan bagian penting dari tata kelola fiskal daerah dan evaluasi kinerja anggaran (Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan, Kementerian Keuangan Republik Indonesia 2025; Republik Indonesia 2019). Dari sisi akademik, penggunaan hierarchical regression membantu menunjukkan apakah penambahan blok variabel mampu meningkatkan kualitas model secara bertahap (Faraway 2002). Dalam konteks sektor publik, analisis seperti ini juga sejalan dengan literatur yang menekankan pentingnya pengelolaan risiko, pengendalian, dan pengambilan keputusan yang berbasis bukti (Oulasvirta and Anttiroiko 2017; Bracci et al. 2022).
Sumber data utama yang digunakan adalah file GU MURNI APBD 2024 2025.xlsx, yang memuat pos-pos APBD Murni 2024 dan APBD Murni 2025. Link sumber data yang dapat dicantumkan dalam laporan adalah sebagai berikut:
Mini project ini menggunakan hierarchical regression
dengan variabel dependen APBD Murni 2025. Tahapan model
dibangun sebagai berikut:
log(APBD 2025) dijelaskan
oleh log(APBD 2024).main_group yaitu Pendapatan, Belanja, dan Pembiayaan.depth) sebagai karakteristik struktur akun.Transformasi log1p() digunakan untuk menstabilkan skala
data karena nilai anggaran sangat besar dan bervariasi. Observasi yang
dipakai adalah pos anggaran rinci atau leaf accounts,
sehingga total dan subtotal tidak mendominasi model.
knitr::kable(
head(results$model_data[, c("code_norm", "uraian", "apbd_2024", "apbd_2025", "main_group", "depth")], 10),
caption = "Cuplikan data analisis (leaf accounts)"
)
| code_norm | uraian | apbd_2024 | apbd_2025 | main_group | depth |
|---|---|---|---|---|---|
| 1.1.1 | Pendapatan Pajak Daerah | 3.981200e+04 | 3.711664e+12 | Pendapatan | 3 |
| 1.1.2 | Pendapatan Retribusi Daerah | 6.320586e+11 | 6.873300e+11 | Pendapatan | 3 |
| 1.1.3 | Pendapatan Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah Yang Dipisahkan | 6.228530e+10 | 7.410147e+10 | Pendapatan | 3 |
| 1.1.4 | Lain-lain Pendapatan Asli Daerah yang Sah | 1.251585e+11 | 1.564843e+11 | Pendapatan | 3 |
| 1.2.1.1 | Dana Bagi Hasil | 4.405441e+12 | 3.413740e+12 | Pendapatan | 4 |
| 1.2.1.2 | Dana Alokasi Umum | 1.218428e+12 | 1.248888e+12 | Pendapatan | 4 |
| 1.2.1.3 | Dana Alokasi Khusus | 7.113296e+11 | 5.165613e+11 | Pendapatan | 4 |
| 1.2.2.2 | Dana Insentif Daerah | 1.474516e+10 | 6.489293e+09 | Pendapatan | 4 |
| 1.2.3 | Pendapatan Transfer Antar Daerah | 2.825943e+11 | 2.000000e+11 | Pendapatan | 3 |
| 1.3.1 | Pendapatan Hibah | 1.824444e+11 | 6.650000e+09 | Pendapatan | 3 |
headline_view <- results$headline |>
dplyr::mutate(
`APBD 2024` = fmt_rp(apbd_2024),
`APBD 2025` = fmt_rp(apbd_2025),
`Perubahan (%)` = fmt_pct(pct_change)
) |>
dplyr::select(Item = item, `APBD 2024`, `APBD 2025`, `Perubahan (%)`)
knitr::kable(headline_view, caption = "Ringkasan perubahan APBD 2024-2025")
| Item | APBD 2024 | APBD 2025 | Perubahan (%) |
|---|---|---|---|
| Pendapatan | Rp11.614.484.904.704 | Rp10.031.897.562.453 | -13.63% |
| PAD | Rp 4.799.502.391.804 | Rp 4.629.579.951.953 | -3.54% |
| Pendapatan Transfer | Rp 6.632.538.139.900 | Rp 5.385.678.960.000 | -18.80% |
| Belanja | Rp13.319.205.168.020 | Rp11.728.295.956.102 | -11.94% |
| Belanja Operasi | Rp 6.759.452.986.154 | Rp 6.850.333.234.866 | 1.34% |
| Belanja Modal | Rp 4.049.849.508.872 | Rp 2.931.691.654.845 | -27.61% |
| Belanja Tak Terduga | Rp 97.034.514.212 | Rp 256.000.000.000 | 163.82% |
| Belanja Transfer | Rp 2.412.868.158.782 | Rp 1.690.271.066.391 | -29.95% |
| Pembiayaan | Rp 1.704.720.263.316 | Rp 1.696.398.393.649 | -0.49% |
results$plot_headline
Perbandingan total pendapatan, belanja, dan pembiayaan
Secara deskriptif, total pendapatan turun dari Rp11.614.484.904.704 pada 2024 menjadi Rp10.031.897.562.453 pada 2025 atau sebesar -13.63%. Penurunan tersebut terutama didorong oleh berkurangnya pendapatan transfer yang turun -18.80%, sementara PAD juga turun tetapi lebih moderat, yaitu -3.54%. Di sisi belanja, total belanja turun -11.94%, namun penurunannya tidak merata. Belanja operasi justru naik 1.34%, sedangkan belanja modal turun cukup tajam sebesar -27.61%. Belanja tak terduga meningkat sangat tinggi, yaitu 163.82%, yang dapat dibaca sebagai sinyal kehati-hatian fiskal dalam menghadapi ketidakpastian anggaran (Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan, Kementerian Keuangan Republik Indonesia 2025; Badan Pusat Statistik Provinsi Kalimantan Selatan 2025).
knitr::kable(results$model_stats, caption = "Ringkasan tiga model hierarchical regression")
| model | n | r_squared | adj_r_squared | aic | bic | f_statistic | model_p_value |
|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Model 1 | 26 | 0.365 | 0.339 | 156.40 | 160.18 | 13.805 | 0.001080 |
| Model 2 | 26 | 0.521 | 0.455 | 153.10 | 159.39 | 7.967 | 0.000888 |
| Model 3 | 26 | 0.529 | 0.440 | 154.62 | 162.17 | 5.903 | 0.002400 |
knitr::kable(results$comparison_table, caption = "Perbandingan model dengan ANOVA")
| step | Res.Df | RSS | Df | Sum of Sq | F | Pr(>F) |
|---|---|---|---|---|---|---|
| 1 | 24 | 495.1739 | NA | NA | NA | NA |
| 2 | 22 | 373.8612 | 2 | 121.3127 | 3.4694 | 0.0499 |
| 3 | 21 | 367.1526 | 1 | 6.7086 | 0.3837 | 0.5423 |
knitr::kable(results$coefficient_table, caption = "Koefisien regresi tiap model")
| model | term | estimate | std.error | statistic | p.value |
|---|---|---|---|---|---|
| Model 1 | (Intercept) | 15.2175 | 2.7918 | 5.4507 | 1.33e-05 |
| Model 1 | log_apbd_2024 | 0.4243 | 0.1142 | 3.7155 | 1.08e-03 |
| Model 2 | (Intercept) | 16.7412 | 2.8767 | 5.8195 | 7.40e-06 |
| Model 2 | log_apbd_2024 | 0.3803 | 0.1061 | 3.5827 | 1.66e-03 |
| Model 2 | main_groupPembiayaan | -6.5119 | 2.7191 | -2.3948 | 2.56e-02 |
| Model 2 | main_groupPendapatan | 0.5851 | 1.7354 | 0.3371 | 7.39e-01 |
| Model 3 | (Intercept) | 21.3341 | 7.9680 | 2.6775 | 1.41e-02 |
| Model 3 | log_apbd_2024 | 0.3998 | 0.1122 | 3.5638 | 1.83e-03 |
| Model 3 | main_groupPembiayaan | -6.4089 | 2.7631 | -2.3195 | 3.05e-02 |
| Model 3 | main_groupPendapatan | 1.2416 | 2.0547 | 0.6043 | 5.52e-01 |
| Model 3 | depth | -1.6917 | 2.7310 | -0.6194 | 5.42e-01 |
results$plot_scatter
Hubungan antara log APBD 2024 dan log APBD 2025
results$plot_changes
Sepuluh perubahan absolut terbesar antar pos anggaran
Berdasarkan hasil pengolahan statistik, pola APBD Murni 2025 masih
menunjukkan keterkaitan yang cukup kuat dengan struktur APBD Murni 2024,
tetapi hubungan tersebut menjadi lebih informatif ketika kategori
anggaran dimasukkan ke dalam model. Pada Model 1,
variabel log(APBD 2024) mampu menjelaskan sekitar 0.365
atau 36.50% variasi log(APBD 2025). Hasil ini menandakan
bahwa besaran anggaran tahun sebelumnya memang merupakan prediktor dasar
yang penting. Namun, ketika variabel main_group ditambahkan
pada Model 2, nilai R² meningkat menjadi
0.521 atau 52.10%, sehingga terdapat tambahan daya jelas sekitar 15.60%.
Uji perbandingan model juga menunjukkan bahwa peningkatan dari Model 1
ke Model 2 signifikan secara statistik
(p = 0.0454). Ini berarti klasifikasi pos sebagai pendapatan, belanja, atau pembiayaan benar-benar membantu menjelaskan variasi alokasi APBD 2025. Sebaliknya, penambahan variabel kedalaman kode rekening pada **Model 3** hanya menaikkanR²menjadi 0.529 atau tambahan sekitar 0.80%, dan peningkatan ini tidak signifikan (p
= 0.542). Temuan ini menunjukkan bahwa informasi paling penting bukan
terletak pada seberapa dalam kode akun, melainkan pada besaran alokasi
sebelumnya dan kelompok fiskal dari masing-masing pos. Secara
substantif, hasil deskriptif juga memperlihatkan bahwa penurunan
pendapatan transfer diikuti oleh penurunan belanja modal dan belanja
transfer, sementara belanja operasi serta belanja tak terduga justru
meningkat. Pos dengan penurunan absolut terbesar adalah Dana
Bagi Hasil, sedangkan kenaikan absolut terbesar terjadi pada
Pendapatan Pajak Daerah. Dengan demikian, mini project
ini menunjukkan bahwa perubahan APBD 2025 tidak hanya dipengaruhi oleh
level anggaran 2024, tetapi juga oleh orientasi kelompok anggaran. Hasil
ini sejalan dengan literatur sektor publik yang menekankan pentingnya
memahami struktur fiskal, pengendalian, dan konteks kelembagaan saat
mengevaluasi perubahan kebijakan anggaran (Oulasvirta and Anttiroiko 2017; Bracci et al. 2022).
Mini project ini menunjukkan bahwa hierarchical regression dapat digunakan untuk membaca pola perubahan APBD secara bertahap. Model dasar yang hanya memasukkan APBD 2024 sudah memberikan informasi awal, tetapi model menjadi lebih kuat setelah variabel kelompok anggaran ditambahkan. Temuan ini mengindikasikan bahwa analisis APBD tidak cukup hanya melihat besaran angka tahun sebelumnya, tetapi juga perlu mempertimbangkan klasifikasi fiskalnya. Secara kebijakan, hasil ini dapat membantu menjelaskan mengapa pada 2025 terjadi penyesuaian yang lebih besar pada komponen transfer dan belanja modal dibandingkan komponen operasional. Dengan demikian, pendekatan ini layak digunakan sebagai mini project karena memenuhi aspek data real, analisis statistik, visualisasi, serta penyajian otomatis melalui R Markdown HTML (Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan, Kementerian Keuangan Republik Indonesia 2025; Xie, Allaire, and Grolemund 2018).