1 1. Pendahuluan

Dokumen ini menyajikan analisis hasil survei evaluasi kegiatan perkuliahan yang dikumpulkan melalui Google Form: tautan instrumen survei. Sumber data yang dianalisis adalah file DataEvaluasi.xlsx, yaitu ekspor respons pada sheet Form Responses 1.

Analisis dilakukan untuk menjawab tiga tujuan utama:

  1. Menggambarkan persepsi mahasiswa terhadap pelaksanaan perkuliahan secara kuantitatif.
  2. Mengidentifikasi kekuatan dan area perbaikan dari komentar terbuka.
  3. Menyusun rekomendasi tindak lanjut yang dapat langsung digunakan untuk perbaikan pembelajaran.

2 2. Ringkasan Eksekutif

  • Survei mencakup 84 respons, berasal dari 6 mata kuliah dan 9 pertemuan, dalam rentang 19 Agustus 2025 sampai 17 Oktober 2025.
  • Rata-rata keseluruhan lima dimensi evaluasi mencapai 3,27 dari 4, atau setara dengan indeks deskriptif 81,8 pada skala 0-100.
  • Dimensi dengan performa tertinggi adalah Kejelasan penyampaian materi (3,30 dari 4), sedangkan dimensi terendah tetap berada dalam kategori baik, yaitu Interaksi dosen-mahasiswa (3,24 dari 4).
  • Pada evaluasi waktu pembelajaran, 100% respons menilai alokasi waktu minimal cukup: 70.2% menyatakan cukup dan 29.8% menyatakan sangat cukup.
  • Sebanyak 19.0% respons mengindikasikan perlunya tambahan waktu, diskusi, atau pengayaan. Proporsi tertinggi muncul pada Analisis Regresi Tingkat Lanjut (41.7%).
  • Masukan kualitatif paling sering menyoroti kebutuhan akan contoh praktis dan studi kasus, diikuti penguatan diskusi/interaksi, serta pengelolaan waktu pada awal perkuliahan.

Secara umum, hasil survei memperlihatkan bahwa pembelajaran sudah dipersepsi positif oleh mahasiswa. Penilaian terhadap waktu pembelajaran juga sangat baik, tetapi masih terdapat kebutuhan pengayaan pada sebagian kelas, terutama dalam bentuk tambahan diskusi, contoh, atau pendalaman materi, bukan sekadar penambahan jam kuliah formal.

3 3. Profil Data dan Sebaran Respons

Mata kuliah Dosen (nama dominan di data) Jumlah respons Indeks deskriptif (0-100) Interaksi (0-100) Perlu tambahan waktu
Komputasi Statistik dan Optimasi Dr. Anindya Apriliyanti Pravitasari, S.Si., M.Si. 22 85,5 85,2 22.7%
Analisis Regresi Tingkat Lanjut I Gede Nyoman Mindra Jaya, Ph.D. 12 82,5 83,3 41.7%
Proses Stokastik Tingkat Lanjut Dr. Irlandia Ginanjar, S.Si., M.Si. 14 82,1 82,1 14.3%
Statistika Inferensial Yudhie Andriyana, M.Sc., Ph.D. 13 81,5 82,7 15.4%
Analisis Multivariat Tingkat Lanjut Dr. Dra. Titi Purwandari, MS. 14 78,2 71,4 14.3%
Analisis Deret Waktu Tingkat Lanjut Dr. Gumgum Darmawan, S.Si., M.Si 9 77,8 77,8 0.0%

Tabel di atas menunjukkan bahwa mata kuliah dengan jumlah respons terbesar adalah Komputasi Statistik dan Optimasi dengan 22 respons. Dari sisi indeks deskriptif, nilai tertinggi juga muncul pada mata kuliah yang sama (85,5), sedangkan nilai terendah terdapat pada Analisis Deret Waktu Tingkat Lanjut (77,8). Nilai terendah ini tetap berada pada kisaran positif, sehingga perbedaannya lebih tepat dibaca sebagai area penguatan, bukan indikasi masalah yang berat.

Sebaran respons belum merata antar pertemuan. Sebanyak 44 dari 51 kombinasi mata kuliah-pertemuan hanya memiliki 1 respons. Artinya, pembacaan tren per pertemuan perlu dilakukan secara hati-hati, karena pada banyak kombinasi kelas jumlah umpan balik masih sangat terbatas. Oleh karena itu, interpretasi utama dalam laporan ini ditekankan pada pola agregat lintas mata kuliah dan lintas dimensi.

4 4. Hasil Analisis Kuantitatif

4.1 4.1 Kinerja keseluruhan tiap dimensi

Dimensi Rata-rata (1-4) Indeks (0-100) Respons positif Respons sangat positif
Kejelasan penyampaian materi 3,30 82,4 100.0% 29.8%
Kecukupan waktu 3,30 82,4 100.0% 29.8%
Kesesuaian dengan CPL 3,29 82,1 98.8% 29.8%
Pemahaman mahasiswa 3,25 81,2 98.8% 26.2%
Interaksi dosen-mahasiswa 3,24 81,0 97.6% 27.4%

Secara kuantitatif, seluruh dimensi memperoleh skor rata-rata di atas 3 dari skala 4. Ini menunjukkan bahwa persepsi mahasiswa secara umum berada pada kategori baik hingga sangat baik. Dimensi yang paling kuat adalah Kejelasan penyampaian materi, sedangkan dimensi yang relatif paling rendah adalah Interaksi dosen-mahasiswa. Meskipun demikian, dimensi terendah tersebut masih mencatat skor 3,24 dari 4, yang berarti persepsi mahasiswa tetap positif.

Temuan ini juga diperkuat oleh proporsi respons positif yang sangat tinggi. Pada sebagian besar dimensi, proporsi respons positif berada pada kisaran 97.6% hingga 100.0%. Dengan kata lain, kritik yang muncul bukan menunjukkan kegagalan pembelajaran, melainkan kebutuhan pengayaan agar pengalaman belajar menjadi lebih kuat dan lebih merata.

4.2 4.2 Perbandingan antarmata kuliah

Perbandingan antarmata kuliah menunjukkan bahwa performa terbaik secara agregat berada pada Komputasi Statistik dan Optimasi, sedangkan area yang relatif perlu perhatian lebih besar muncul pada Analisis Deret Waktu Tingkat Lanjut. Namun, perbedaan antar mata kuliah tidak terlalu lebar dan seluruhnya masih berada dalam rentang penilaian yang baik.

Sinyal paling spesifik terlihat pada aspek interaksi. Dalam data ini, nilai interaksi relatif lebih rendah pada mata kuliah Analisis Multivariat Tingkat Lanjut, yang sejalan dengan adanya komentar terbuka mengenai perlunya lebih banyak diskusi dan pelibatan mahasiswa. Karena itu, rekomendasi peningkatan interaksi tidak perlu digeneralisasi ke semua kelas dengan intensitas yang sama, tetapi cukup difokuskan pada mata kuliah yang menunjukkan sinyal tersebut.

4.3 4.3 Evaluasi waktu pembelajaran

Penilaian waktu pembelajaran Jumlah respons Proporsi
Cukup 59 70.2%
Sangat cukup 25 29.8%

Bagian evaluasi waktu pembelajaran perlu diberi penekanan khusus karena hasilnya sangat konsisten. Seluruh respons menilai waktu pembelajaran minimal cukup, tanpa ada satu pun respons yang menyatakan waktu perkuliahan tidak cukup. Secara rinci, 70.2% respons menilai waktu pembelajaran cukup, sedangkan 29.8% lainnya menilai sangat cukup.

Temuan ini menunjukkan bahwa dari sisi durasi formal, proses pembelajaran sudah berada pada kondisi yang memadai. Dengan kata lain, isu utama dalam survei ini bukan kekurangan waktu secara umum, melainkan bagaimana waktu yang tersedia digunakan untuk memaksimalkan pemahaman, interaksi, dan pendalaman materi.

Meski semua mata kuliah memperoleh penilaian positif pada aspek waktu, komposisi penilaian sangat cukup tetap bervariasi. Variasi ini penting karena mengindikasikan adanya perbedaan kenyamanan mahasiswa dalam mengikuti ritme pembelajaran antar kelas. Oleh sebab itu, evaluasi waktu pembelajaran sebaiknya tidak berhenti pada pertanyaan “cukup atau tidak”, tetapi dilanjutkan pada pertanyaan “bagian mana dari waktu pembelajaran yang paling bernilai bagi mahasiswa”.

4.4 4.4 Kebutuhan tambahan waktu, diskusi, atau pengayaan

Jika bagian sebelumnya menunjukkan bahwa durasi pembelajaran dinilai memadai, maka grafik ini memberi nuansa tambahan: masih ada 19.0% respons yang menginginkan tambahan waktu, diskusi, atau pengayaan. Karena itu, evaluasi waktu pembelajaran dalam survei ini perlu dibaca dalam dua lapis.

Lapis pertama adalah kecukupan waktu formal, yang sudah sangat baik. Lapis kedua adalah kebutuhan pendalaman, yang masih muncul pada sebagian mahasiswa. Dalam konteks ini, tambahan waktu tidak harus dibaca sebagai kebutuhan menambah jam kuliah formal, tetapi lebih tepat diterjemahkan sebagai kebutuhan akan ruang diskusi yang lebih banyak, contoh tambahan, atau latihan terarah.

Proporsi tertinggi muncul pada Analisis Regresi Tingkat Lanjut. Ini menunjukkan bahwa pengelolaan waktu pembelajaran perlu diarahkan secara lebih spesifik per mata kuliah: pada beberapa kelas, alokasi waktu sudah cukup; pada kelas lain, waktu yang ada mungkin perlu dioptimalkan melalui pengayaan yang lebih terstruktur.

5 5. Hasil Analisis Kualitatif

5.1 5.1 Tema kekuatan pembelajaran

Tema utama Jumlah penyebutan Proporsi terhadap seluruh respons
Penguatan konsep dasar 18 21.4%
Kejelasan dan struktur penyampaian 9 10.7%
Contoh dan relevansi praktis 7 8.3%
Orientasi perkuliahan 3 3.6%

Komentar pada kolom manfaat menunjukkan bahwa kekuatan utama pembelajaran berada pada tiga aspek. Pertama, mahasiswa merasakan manfaat dari penguatan kembali konsep dasar sebelum masuk ke materi yang lebih lanjut. Kedua, mahasiswa mengapresiasi penyampaian yang jelas, runtut, dan mudah diikuti. Ketiga, mahasiswa menilai contoh dan relevansi praktis membantu menghubungkan teori dengan konteks penerapan.

Khusus untuk program pascasarjana, temuan ini penting karena menunjukkan bahwa strategi pembelajaran yang menghubungkan konsep dasar dengan materi lanjut masih sangat dibutuhkan. Dengan kata lain, pembelajaran dinilai kuat bukan hanya karena materi tersampaikan, tetapi karena mahasiswa merasa dibantu untuk menyeberangkan pengetahuan awal menuju topik yang lebih kompleks.

5.2 5.2 Tema perbaikan dan saran

Tema masukan Jumlah penyebutan Proporsi terhadap seluruh komentar substantif
Contoh praktis dan studi kasus 7 53.8%
Diskusi dan interaksi 5 38.5%
Pengelolaan waktu perkuliahan 3 23.1%
Sumber Mata kuliah Pertemuan Contoh komentar
Perbaikan Komputasi Statistik dan Optimasi 1 Waktu diskusi bisa diperbanyak agar mahasiswa lebih aktif bertanya dan berdiskusi, serta penggunaan media pembelajaran interakt…
Perbaikan Komputasi Statistik dan Optimasi 1 Tetap mempertahankan cara mengajarnya agar bisa konsisten
Perbaikan Analisis Multivariat Tingkat Lanjut 1 Kajian kasus
Perbaikan Analisis Multivariat Tingkat Lanjut 1 Intensitas keaktifan dengan mahasiswa
Perbaikan Analisis Multivariat Tingkat Lanjut 1 Interaksi antara dosen dan mahasiswa masih kurang, sehingga diskusi dan tanya jawab belum maksimal.
Perbaikan Proses Stokastik Tingkat Lanjut 1 Perlu lebih banyak contoh aplikasi nyata agar pemahaman semakin kuat.

Masukan kualitatif yang spesifik relatif sedikit dibanding jumlah total respons, yang konsisten dengan tingginya penilaian kuantitatif. Namun, justru karena jumlahnya terbatas, komentar-komentar substantif tersebut menjadi penting sebagai penunjuk area perbaikan yang paling relevan.

Terdapat tiga tema yang paling konsisten:

  1. Contoh praktis dan studi kasus. Mahasiswa menginginkan lebih banyak contoh aplikasi, simulasi, visualisasi, atau studi kasus agar teori lebih mudah diinternalisasi.
  2. Diskusi dan interaksi. Sebagian komentar menekankan perlunya ruang tanya jawab yang lebih hidup dan pelibatan mahasiswa yang lebih aktif.
  3. Pengelolaan waktu di awal perkuliahan. Pada beberapa komentar, mahasiswa mengusulkan agar penjelasan kontrak atau pengantar dibuat lebih ringkas agar tersedia waktu untuk materi inti.

Pola ini memperlihatkan bahwa orientasi perbaikan bukan berada pada aspek dasar seperti kejelasan atau kesesuaian materi, melainkan pada pengayaan pengalaman belajar: lebih aplikatif, lebih dialogis, dan lebih efisien dalam pengaturan waktu.

6 6. Keterbatasan Analisis

Beberapa keterbatasan data perlu dicatat agar interpretasi tetap proporsional:

  1. Jumlah respons antar pertemuan sangat tidak merata; 44 dari 51 kombinasi mata kuliah-pertemuan hanya memiliki 1 respons.
  2. Penulisan nama dosen tidak sepenuhnya konsisten pada file ekspor Google Form, sehingga analisis lebih aman dilakukan pada level mata kuliah daripada level nama dosen mentah.
  3. Analisis ini bersifat deskriptif. Laporan ini dapat menunjukkan pola persepsi mahasiswa, tetapi tidak dirancang untuk menguji hubungan kausal.

Dengan memperhatikan tiga keterbatasan tersebut, hasil laporan ini tetap layak digunakan sebagai dasar perbaikan pembelajaran, khususnya untuk identifikasi area penguatan yang paling nyata.

7 7. Rekomendasi

Berdasarkan hasil kuantitatif dan kualitatif, rekomendasi tindak lanjut yang disarankan adalah sebagai berikut:

  1. Pertahankan kekuatan utama pada kejelasan penyampaian. Pola penilaian menunjukkan bahwa struktur penjelasan dosen sudah menjadi kekuatan utama dan perlu dijaga konsistensinya di seluruh mata kuliah.
  2. Tambahkan contoh aplikatif, studi kasus, atau visualisasi pada materi yang abstrak. Permintaan ini muncul paling konsisten dalam komentar terbuka dan relevan untuk meningkatkan kedalaman pemahaman mahasiswa.
  3. Sediakan ruang diskusi singkat yang terstruktur pada setiap pertemuan. Model yang disarankan adalah alokasi 10-15 menit untuk tanya jawab, refleksi, atau pembahasan contoh setelah materi utama selesai.
  4. Kelola waktu pembelajaran sebagai kualitas, bukan hanya durasi. Karena seluruh respons sudah menilai waktu minimal cukup, fokus perbaikan sebaiknya diarahkan pada bagaimana waktu digunakan: proporsi penjelasan konsep, diskusi, contoh, dan refleksi.
  5. Ringkas bagian kontrak atau pengantar pada pertemuan awal. Tujuannya agar terdapat waktu yang cukup untuk memberi gambaran materi inti dan ekspektasi akademik secara seimbang.
  6. Prioritaskan penguatan interaksi pada mata kuliah yang menunjukkan sinyal lebih rendah. Dalam data ini, fokus tersebut paling relevan untuk Analisis Multivariat Tingkat Lanjut.
  7. Perbaiki desain instrumen Google Form untuk pengumpulan data berikutnya. Kolom nama mata kuliah dan nama dosen sebaiknya menggunakan daftar pilihan, bukan isian bebas, agar analisis berikutnya lebih bersih dan lebih akurat.
  8. Tetapkan target minimum respons per pertemuan. Karena banyak kombinasi mata kuliah-pertemuan hanya memiliki satu respons, monitoring tindak lanjut akan jauh lebih kuat bila tiap sesi memiliki jumlah umpan balik yang lebih memadai.

8 8. Kesimpulan

Secara keseluruhan, survei evaluasi kegiatan perkuliahan menunjukkan bahwa proses pembelajaran telah berjalan dengan baik. Mahasiswa menilai materi sudah jelas, sesuai dengan capaian pembelajaran, dan sangat positif dari sisi evaluasi waktu pembelajaran, karena seluruh respons menempatkan alokasi waktu pada kategori cukup atau sangat cukup. Area perbaikan yang muncul lebih bersifat pengayaan daripada koreksi mendasar, terutama pada kebutuhan akan contoh praktis, ruang diskusi yang lebih aktif, dan pengelolaan waktu yang lebih efisien pada pertemuan awal.

Dengan demikian, tindak lanjut yang paling tepat bukan mengubah struktur pembelajaran secara drastis, melainkan memperkuat kualitas pengalaman belajar melalui pendekatan yang lebih aplikatif, interaktif, dan terdokumentasi lebih rapi pada instrumen evaluasi berikutnya.