TUGAS 1 ANALISIS DATA KATEGORI

Bagian 1: Definisi Analisis Data Kategori

1.1 Pengertian Analisis Data Kategori

Analisis data kategori merupakan metode statistik yang digunakan untuk menganalisis data yang berbentuk kategori atau klasifikasi. Data kategori biasanya berasal dari variabel yang diukur menggunakan skala nominal atau ordinal. Pada data ini, nilai observasi tidak menunjukkan ukuran numerik melainkan menunjukkan kelompok atau kategori tertentu.

Menurut Agresti (2013), analisis data kategori adalah teknik statistik yang digunakan untuk mempelajari hubungan antara variabel kategorik melalui distribusi frekuensi, tabel kontingensi, serta ukuran asosiasi.

1.2 Karakteristik Variabel Kategori

1.2.1 Karakteristik Utama

Beberapa karakteristik utama variabel kategori antara lain:

  1. Bersifat diskrit - Nilai variabel hanya terbatas pada kategori tertentu

  2. Mutually exclusive - Setiap observasi hanya dapat masuk ke dalam satu kategori

  3. Exhaustive - Semua kemungkinan nilai harus tercakup dalam kategori

  4. Dapat diukur dalam frekuensi atau proporsi - Analisis didasarkan pada hitungan atau persentase

1.2.2 Jenis Variabel Kategori

Jenis Variabel Penjelasan Contoh
Nominal Kategori yang tidak memiliki urutan Jenis kelamin, warna, golongan darah
Ordinal Kategori yang memiliki urutan Tingkat pendidikan (SD-SMP-SMA-PT), jabatan di kantor
Dikotomus Hanya dua kategori Ya / tidak, sehat/sakit, Laki-laki/perempuan

1.3 Contoh Penerapan dalam Penelitian

Analisis data kategori sering digunakan dalam berbagai bidang penelitian.

Bidang Contoh Variabel
Kesehatan Status vaksinasi
Sosial Status pernikahan
Pendidikan Tingkat pendidikan

Bagian 2: Tabel Kontingensi

2.1 Definisi Tabel Kontingensi

Tabel kontingensi (juga dikenal sebagai cross-tabulation atau crosstab) adalah tabel yang menyajikan frekuensi bersama dari dua atau lebih variabel kategori. Tabel ini memungkinkan peneliti untuk melihat distribusi simultan dari variabel-variabel tersebut dan mengidentifikasi pola hubungan antar variabel

2.2 Struktur Tabel Kontingensi

Contoh tabel kontingensi 2×2:

Kolom 1 Kolom 2 Total
Baris 1 n11 n12 n1+
Baris 2 n21 n22 n2+
Total n+1 n+2 n

Keterangan:

  • \(n_{ij}\) adalah frekuensi pada baris ke-i dan kolom ke-j
  • \(n_{i+}\) adalah total baris
  • \(n_{+j}\) adalah total kolom
  • \(n\) adalah jumlah seluruh observasi

2.3 Konsep Distribusi

2.3.1 Joint Distribution (Distribusi Bersama)

Distribusi bersama adalah probabilitas suatu observasi berada pada kategori baris ke-i dan kolom ke-j.

\[ P(i,j)=\frac{n_{ij}}{n} \]

2.3.2 Marginal Distribution

Distribusi marginal menunjukkan probabilitas suatu kategori tanpa memperhatikan kategori lainnya.

\[ P(i)=\frac{n_{i+}}{n} \]

\[ P(j)=\frac{n_{+j}}{n} \]

2.3.3 Conditional Probability

Probabilitas bersyarat menunjukkan peluang suatu kategori terjadi dengan syarat kategori lain telah diketahui.

\[ P(j|i)=\frac{n_{ij}}{n_{i+}} \]


Bagian 3: Ukuran Asosiasi

3.1 Odds (Rasio Peluang)

Odds adalah perbandingan antara probabilitas suatu kejadian terjadi dengan probabilitas kejadian tersebut tidak terjadi.

Rumus Odds:

\[ Odds=\frac{p}{1-p} \]

3.2 Odds Ratio

Odds Ratio digunakan untuk mengukur kekuatan hubungan antara dua variabel kategori.

\[ OR=\frac{ad}{bc} \]

Nilai OR Interpretasi
OR = 1 Tidak ada hubungan
OR > 1 Hubungan positif
OR < 1 Hubungan negatif

3.3 Relative Risk

Relative Risk membandingkan risiko suatu kejadian antara dua kelompok.

\[ RR=\frac{P(kejadian|kelompok1)}{P(kejadian|kelompok2)} \]


Bagian 4: Contoh Perhitungan Manual

Pada bagian ini diberikan contoh analisis data kategori menggunakan tabel kontingensi untuk melihat hubungan antara status vaksinasi dan kejadian infeksi COVID-19.

4.1 Tabel Kontingensi

Tabel berikut menunjukkan distribusi frekuensi antara status vaksinasi dan kejadian infeksi.

Status Vaksinasi Terinfeksi Tidak Terinfeksi Total
Divaksin 15 185 200
Tidak Divaksin 45 55 100
Total 60 240 300

Keterangan:

\(n_{11} = 15\)
\(n_{12} = 185\)
\(n_{21} = 45\)
\(n_{22} = 55\)

Total pengamatan:

\[ n = 300 \]


4.2 Joint Probability (Distribusi Bersama)

Probabilitas bersama diperoleh dari frekuensi masing-masing sel dibagi dengan total pengamatan.

\[ P(Divaksin,Terinfeksi) = \frac{15}{300} = 0.05 \]

\[ P(Divaksin,TidakTerinfeksi) = \frac{185}{300} = 0.617 \]

\[ P(TidakDivaksin,Terinfeksi) = \frac{45}{300} = 0.15 \]

\[ P(TidakDivaksin,TidakTerinfeksi) = \frac{55}{300} = 0.183 \]

Tabel probabilitas bersama:

Terinfeksi Tidak Terinfeksi
Divaksin 0.05 0.617
Tidak Divaksin 0.15 0.183

4.3 Marginal Probability

Probabilitas marginal diperoleh dari jumlah baris atau kolom dibagi total observasi.

Probabilitas status vaksinasi:

\[ P(Divaksin) = \frac{200}{300} = 0.667 \]

\[ P(TidakDivaksin) = \frac{100}{300} = 0.333 \]

Probabilitas status infeksi:

\[ P(Terinfeksi) = \frac{60}{300} = 0.20 \]

\[ P(TidakTerinfeksi) = \frac{240}{300} = 0.80 \]


4.4 Conditional Probability

Probabilitas bersyarat digunakan untuk melihat peluang suatu kejadian dengan syarat kejadian lain diketahui.

Probabilitas terinfeksi jika divaksin:

\[ P(Terinfeksi|Divaksin) = \frac{15}{200} = 0.075 \]

Probabilitas terinfeksi jika tidak divaksin:

\[ P(Terinfeksi|TidakDivaksin) = \frac{45}{100} = 0.45 \]

Interpretasi:

Peluang individu yang tidak divaksin untuk terinfeksi lebih besar dibandingkan individu yang telah divaksin.


4.5 Odds

Odds adalah perbandingan antara peluang kejadian dengan peluang tidak terjadinya kejadian tersebut.

Odds terinfeksi pada kelompok divaksin:

\[ Odds_{Divaksin} = \frac{0.075}{1-0.075} \]

\[ = \frac{0.075}{0.925} = 0.081 \]

Odds terinfeksi pada kelompok tidak divaksin:

\[ Odds_{TidakDivaksin} = \frac{0.45}{1-0.45} \]

\[ = \frac{0.45}{0.55} = 0.818 \]


4.6 Odds Ratio

Odds Ratio dihitung menggunakan rumus:

\[ OR = \frac{ad}{bc} \]

dengan:

\(a = 15\)
\(b = 185\)
\(c = 45\)
\(d = 55\)

Sehingga diperoleh:

\[ OR = \frac{(15)(55)}{(185)(45)} \]

\[ OR = \frac{825}{8325} = 0.099 \]

Interpretasi:

Nilai Odds Ratio < 1 menunjukkan bahwa vaksinasi dapat menurunkan peluang terjadinya infeksi.


4.7 Relative Risk

Relative Risk membandingkan risiko kejadian pada dua kelompok.

\[ RR = \frac{P(Terinfeksi|Divaksin)}{P(Terinfeksi|TidakDivaksin)} \]

\[ RR = \frac{0.075}{0.45} = 0.167 \]

Interpretasi:

Risiko terinfeksi pada kelompok divaksin hanya sekitar 16,7% dibandingkan kelompok yang tidak divaksin, sehingga vaksinasi memberikan efek perlindungan terhadap infeksi.


Bagian 5: Analisis Menggunakan R

Membuat Tabel Kontingensi

data <- matrix(c(15,185,45,55), nrow=2, byrow=TRUE)

rownames(data) <- c("Divaksin","Tidak Divaksin")
colnames(data) <- c("Terinfeksi","Tidak Terinfeksi")

data
##                Terinfeksi Tidak Terinfeksi
## Divaksin               15              185
## Tidak Divaksin         45               55

Probabilitas Bersyarat

prop.table(data,1)
##                Terinfeksi Tidak Terinfeksi
## Divaksin            0.075            0.925
## Tidak Divaksin      0.450            0.550

Odds Ratio

or <- (data[1,1]*data[2,2])/(data[1,2]*data[2,1])
or
## [1] 0.0990991

Relative Risk

p1 <- data[1,1]/sum(data[1,])
p2 <- data[2,1]/sum(data[2,])

rr <- p1/p2
rr
## [1] 0.1666667

Uji Chi-Square

chisq.test(data)
## 
##  Pearson's Chi-squared test with Yates' continuity correction
## 
## data:  data
## X-squared = 56.273, df = 1, p-value = 6.306e-14

Grafik

barplot(data,
        beside=TRUE,
        col=c("steelblue","tomato"),
        legend=rownames(data),
        main="Kasus Infeksi Berdasarkan Status Vaksin")

Bagian 6: Interpretasi Hasil Analisis

6.1 Interpretasi Statistik

Berdasarkan hasil analisis data mengenai efektivitas vaksin COVID-19 terhadap kejadian infeksi dengan jumlah partisipan sebanyak 300 orang, diperoleh beberapa temuan statistik yang menunjukkan adanya hubungan antara status vaksinasi dengan kejadian infeksi COVID-19.

Uji Chi-Square

Hasil uji Chi-Square menunjukkan bahwa:

  • Nilai Chi-Square hitung = 51,68
  • Derajat bebas (df) = 1
  • p-value = 6,5 × 10⁻¹³

Nilai p-value yang sangat kecil dan jauh di bawah tingkat signifikansi (α = 0,05) menunjukkan bahwa hasil pengujian sangat signifikan secara statistik. Oleh karena itu, hipotesis nol (H₀) yang menyatakan bahwa tidak terdapat hubungan antara status vaksinasi dengan kejadian infeksi COVID-19 ditolak.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara status vaksinasi dan kejadian infeksi COVID-19. Individu yang divaksin dan individu yang tidak divaksin menunjukkan distribusi kejadian infeksi yang berbeda secara signifikan.

Selain itu, nilai statistik Chi-Square yang cukup besar menunjukkan bahwa terdapat perbedaan antara frekuensi yang diamati dan frekuensi yang diharapkan pada tabel kontingensi. Hal ini memperkuat bukti bahwa kedua variabel tersebut tidak bersifat independen.

Odds Ratio (OR)

Nilai Odds Ratio (OR) sebesar 0,099 menunjukkan adanya hubungan yang kuat antara vaksinasi dan penurunan kemungkinan terjadinya infeksi.

Nilai OR < 1 menunjukkan bahwa vaksinasi memiliki efek protektif terhadap kejadian infeksi COVID-19. Artinya, peluang relatif terinfeksi COVID-19 pada individu yang divaksin hanya sekitar 9,9% dibandingkan individu yang tidak divaksin.

Dengan kata lain, peluang terjadinya infeksi pada kelompok yang telah divaksinasi jauh lebih kecil dibandingkan kelompok yang tidak divaksin.

Relative Risk (RR)

Hasil analisis juga menunjukkan nilai Relative Risk (RR) sebesar 0,167.

Nilai RR < 1 menunjukkan bahwa risiko terinfeksi COVID-19 pada kelompok yang divaksin lebih rendah dibandingkan kelompok yang tidak divaksin.

Interpretasinya adalah bahwa risiko infeksi pada individu yang telah divaksin hanya sekitar 16,7% dari risiko infeksi pada individu yang tidak divaksin.

Secara keseluruhan, ketiga ukuran statistik tersebut (Chi-Square, Odds Ratio, dan Relative Risk) secara konsisten menunjukkan bahwa vaksinasi memiliki hubungan yang signifikan dan bersifat protektif terhadap kejadian infeksi COVID-19.


6.2 Interpretasi Substantif

Dalam konteks kesehatan masyarakat, hasil analisis statistik ini memiliki implikasi penting terkait efektivitas vaksin dalam mencegah penyebaran penyakit COVID-19.

Efektivitas Vaksin

Efektivitas vaksin dapat dihitung menggunakan nilai Relative Risk dengan rumus:

\[ Efektivitas\ Vaksin = (1 - RR) \times 100\% \]

Sehingga diperoleh:

\[ Efektivitas\ Vaksin = (1 - 0.167) \times 100\% \]

\[ Efektivitas\ Vaksin = 83.3\% \]

Hasil ini menunjukkan bahwa vaksin memiliki efektivitas sebesar 83,3% dalam mencegah infeksi COVID-19. Artinya, individu yang menerima vaksin memiliki kemungkinan terinfeksi yang 83,3% lebih rendah dibandingkan individu yang tidak divaksinasi.

Perbandingan Risiko Infeksi

Berdasarkan data penelitian diperoleh:

  • Risiko infeksi pada kelompok tidak divaksin = 45%
  • Risiko infeksi pada kelompok divaksin = 7,5%

Selisih risiko absolut dapat dihitung sebagai berikut:

\[ Risk\ Difference = 0.45 - 0.075 \]

\[ Risk\ Difference = 0.375 \]

Artinya terdapat penurunan risiko sebesar 37,5% setelah vaksinasi dilakukan.

Dengan kata lain, dari setiap 100 individu yang divaksin, sekitar 37 hingga 38 orang dapat terhindar dari infeksi COVID-19 yang mungkin terjadi jika mereka tidak menerima vaksin.

Number Needed to Treat (NNT)

Number Needed to Treat (NNT) merupakan ukuran yang digunakan untuk mengetahui berapa banyak individu yang perlu mendapatkan intervensi untuk mencegah satu kejadian penyakit.

\[ NNT = \frac{1}{Risiko\ kelompok\ kontrol - Risiko\ kelompok\ perlakuan} \]

Sehingga diperoleh:

\[ NNT = \frac{1}{0.45 - 0.075} \]

\[ NNT = \frac{1}{0.375} \]

\[ NNT = 2.67 \]

Nilai ini menunjukkan bahwa sekitar tiga orang perlu divaksin untuk mencegah satu kasus infeksi COVID-19. Nilai NNT yang relatif kecil menunjukkan bahwa vaksin memiliki efektivitas yang sangat baik dalam mencegah terjadinya penyakit.


Kesimpulan

Berdasarkan hasil analisis data kategori menggunakan tabel kontingensi antara status vaksinasi dan kejadian infeksi COVID-19, dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara kedua variabel tersebut.

Hasil uji Chi-Square menunjukkan nilai p-value yang sangat kecil sehingga hipotesis nol yang menyatakan tidak adanya hubungan antara variabel ditolak. Hal ini menunjukkan bahwa status vaksinasi berhubungan secara signifikan dengan kejadian infeksi COVID-19.

Selain itu, nilai Odds Ratio sebesar 0,099 menunjukkan bahwa vaksinasi memiliki efek protektif terhadap kemungkinan terjadinya infeksi. Individu yang telah divaksin memiliki peluang terinfeksi yang jauh lebih kecil dibandingkan individu yang tidak divaksin.

Nilai Relative Risk sebesar 0,167 juga menunjukkan bahwa risiko infeksi pada kelompok yang divaksin jauh lebih rendah dibandingkan kelompok yang tidak divaksin. Berdasarkan perhitungan efektivitas vaksin menggunakan nilai Relative Risk, diperoleh bahwa vaksin memiliki efektivitas sekitar 83,3% dalam mencegah infeksi COVID-19.

Secara keseluruhan, hasil analisis ini menunjukkan bahwa vaksinasi merupakan intervensi kesehatan yang efektif dalam menurunkan risiko infeksi COVID-19. Oleh karena itu, peningkatan cakupan vaksinasi dalam masyarakat dapat menjadi strategi penting dalam mengendalikan penyebaran penyakit serta mengurangi beban sistem pelayanan kesehatan.

Daftar Pustaka

Agresti, A. (2013). Categorical Data Analysis. Wiley.

Agresti, A. (2019). An Introduction to Categorical Data Analysis. Wiley.


TUGAS 6: INFERENSI TABEL KONTINGENSI DUA ARAH


Kasus 1: Tabel Kontingensi 2×2 (Merokok dan Kanker Paru)

1. Pendahuluan Kasus 1

Data yang digunakan berbentuk tabel kontingensi 2×2, yang membandingkan dua kelompok, yaitu Smoker dan Non-Smoker, terhadap dua status penyakit, yaitu Cancer (+) dan Cancer (-).

Berdasarkan deskripsi tugas, data ini disajikan dalam konteks case-control study, dengan total 709 kasus kanker paru dan 709 kontrol.

Kejadian penyakit dapat dinilai melalui berbagai ukuran asosiasi. Oleh karena itu, kasus ini tidak cukup dianalisis hanya dengan uji signifikansi statistik, tetapi juga perlu dihitung ukuran efek yang menggambarkan besar dan arah hubungan.

Pendekatan ini penting agar kesimpulan yang diperoleh tidak hanya menjawab pertanyaan “apakah ada hubungan?”, tetapi juga “seberapa kuat hubungan tersebut?” dan “apa makna substantifnya?”.


Variabel yang Dianalisis

  • Variabel independen: Status merokok (Smoker vs Non-Smoker)
  • Variabel dependen: Status kanker paru (Cancer (+) vs Cancer (-))

Hipotesis

\[ H_0: \text{Tidak ada hubungan antara kebiasaan merokok dengan kejadian kanker paru} \]

\[ H_1: \text{Ada hubungan antara kebiasaan merokok dengan kejadian kanker paru} \]

Taraf signifikansi: \[ \alpha = 0.05 \]

2. Data dan Tabel Kontingensi

data_kasus1 <- matrix(
  c(688, 650, 21, 59),
  nrow     = 2,
  byrow    = TRUE,
  dimnames = list(
    c("Smoker", "Non-Smoker"),
    c("Cancer (+)", "Cancer (-)")
  )
)

addmargins(data_kasus1)
##            Cancer (+) Cancer (-)  Sum
## Smoker            688        650 1338
## Non-Smoker         21         59   80
## Sum               709        709 1418

Tabel di atas menunjukkan bahwa dari 1338 individu yang termasuk kelompok perokok, sebanyak 688 merupakan kasus kanker paru dan 650 merupakan kontrol. Sementara itu, dari 80 individu non-perokok, sebanyak 21 merupakan kasus kanker paru dan 59 merupakan kontrol. Penyusunan tabel kontingensi ini merupakan tahap awal yang penting karena seluruh estimasi proporsi, ukuran asosiasi, dan pengujian hipotesis akan didasarkan pada frekuensi yang terdapat pada tabel tersebut. Secara deskriptif, tampak bahwa jumlah kasus kanker paru pada kelompok perokok jauh lebih besar daripada kelompok non-perokok. Namun, untuk memastikan apakah perbedaan tersebut cukup kuat secara statistik dan substantif, diperlukan analisis inferensial lebih lanjut.


3. Perhitungan Manual dan Analisis R

3.1 Estimasi Titik Proporsi Kejadian Kanker

Langkah pertama adalah menghitung proporsi kejadian kanker paru pada masing-masing kelompok. Misalkan: \[ \hat{p}_1: \text{proporsi kejadian kanker paru pada kelompok perokok} \] \[ \hat{p}_2: \text{proporsi kejadian kanker paru pada kelompok non-perokok} \]

Rumus

\[ \hat{p}_1 = \frac{a}{a+b}, \quad \hat{p}_2 = \frac{c}{c+d} \]

Perhitungan Manual

\[ \hat{p}_1{Smoker} = \frac{688}{1338} = 0.5144 \]

\[ \hat{p}_2{Non-Smoker} = \frac{21}{80} = 0.2625 \]

Interpretasi

Hasil tersebut menunjukkan bahwa proporsi kejadian kanker paru pada kelompok perokok adalah sekitar 51,42%, sedangkan pada kelompok non-perokok sebesar 26,25%. Secara deskriptif, kelompok perokok memiliki proporsi kasus kanker paru yang jauh lebih tinggi dibandingkan kelompok non-perokok.

Secara substantif, hasil ini memberi indikasi awal bahwa kebiasaan merokok mungkin berhubungan dengan peningkatan kejadian kanker paru. Akan tetapi, perbedaan proporsi saja belum cukup untuk menarik kesimpulan inferensial, sehingga perlu dilengkapi dengan interval kepercayaan dan pengujian hipotesis.

R

p_smoker     <- data_kasus1[1, 1] / sum(data_kasus1[1, ])
p_non_smoker <- data_kasus1[2, 1] / sum(data_kasus1[2, ])

data.frame(
  Kelompok   = c("Smoker", "Non-Smoker"),
  Proporsi   = round(c(p_smoker, p_non_smoker), 4),
  Persentase = paste0(round(c(p_smoker, p_non_smoker) * 100, 2), "%")
)
##     Kelompok Proporsi Persentase
## 1     Smoker   0.5142     51.42%
## 2 Non-Smoker   0.2625     26.25%

3.2 Interval Kepercayaan 95% Untuk Proporsi

Untuk setiap proporsi, dapat dihitung interval kepercayaan 95% dengan pendekatan Wald:

Rumus (metode Wald)

\[ CI = \hat{p} \pm z_{\alpha/2} \sqrt{\frac{\hat{p}(1-\hat{p})}{n}} \]

Perhitungan manual untuk Smoker: \[ SE (\hat{p}_1{Smoker})= \sqrt{\frac{0{,}5144 \times 0{,}4856}{1338}} = 0{,}0137 \]

\[ CI (\hat{p}_1) = 0{,}5144 \pm 1{,}96 \times 0{,}0137 = [0{,}4876 \; ; \; 0{,}5412] \] Perhitungan manual untuk Non-Smoker: \[ SE (\hat{p}_2{Non-Smoker})= \sqrt{\frac{0{,}2625 \times 0{,}7375}{80}} = 0{,}0492 \]

\[ CI (\hat{p}_2) = 0{,}2625 \pm 1{,}96 \times 0{,}0492 = [0{,}1661 \; ; \; 0{,}3589] \] Interpretasi: Dengan tingkat kepercayaan 95%, proporsi kejadian kanker paru pada kelompok perokok diperkirakan berada antara 48,74% hingga 54,10%, sedangkan pada kelompok non-perokok berada antara 16,61% hingga 35,89%. Kedua interval ini tidak banyak tumpang tindih, sehingga secara visual sudah memberi petunjuk adanya perbedaan yang cukup nyata antara kedua kelompok.

R

ci_wald <- function(x, n) {
  p     <- x / n
  z     <- qnorm(0.975)
  lower <- p - z * sqrt(p * (1 - p) / n)
  upper <- p + z * sqrt(p * (1 - p) / n)
  c(estimate = p, lower = lower, upper = upper)
}

ci_smoker     <- ci_wald(688, 1338)
ci_non_smoker <- ci_wald(21, 80)

data.frame(
  Kelompok = c("Smoker", "Non-Smoker"),
  Proporsi = round(c(ci_smoker["estimate"], ci_non_smoker["estimate"]), 4),
  CI_Lower = round(c(ci_smoker["lower"],    ci_non_smoker["lower"]),    4),
  CI_Upper = round(c(ci_smoker["upper"],    ci_non_smoker["upper"]),    4)
)
##     Kelompok Proporsi CI_Lower CI_Upper
## 1     Smoker   0.5142   0.4874   0.5410
## 2 Non-Smoker   0.2625   0.1661   0.3589

3.3 Risk Difference (RD) dan Interval Kepercayaan

Risk Difference (RD) mengukur perbedaan absolut antara dua proporsi. Ukuran ini sangat berguna ketika kita ingin mengetahui seberapa besar tambahan proporsi kejadian pada kelompok terpapar dibandingkan kelompok tidak terpapar. Rumus

\[ RD = \hat{p}_1 - \hat{p}_2 \] \[ SE(RD) = \sqrt{\frac{\hat{p}_1(1-\hat{p}_1)}{n_1} + \frac{\hat{p}_2(1-\hat{p}_2)}{n_2}} \] \[ CI_{95\%} = RD \pm 1{,}96 \times SE(RD) \]

Perhitungan manual \[ RD = 0{,}5144 - 0{,}2625 = 0{,}2519 \]

\[ SE(RD) = \sqrt{\frac{0{,}5144 \times 0{,}4856}{1338} + \frac{0{,}2625 \times 0{,}7375}{80}} = 0{,}0516 \]

\[ CI_{95\%} = 0{,}2519 \pm 1{,}96 \times 0{,}0516 = [0{,}1508 \; ; \; 0{,}3530] \] Interpretasi: Perbedaan proporsi kejadian kanker paru antara perokok dan non-perokok adalah 25,19% (CI 95%: 15,08%–35,30%). Karena interval tidak mencakup 0, perbedaan ini signifikan secara statistik. Secara substantif, hal ini berarti bahwa dari setiap 100 individu, terdapat sekitar 25 kasus tambahan kanker paru pada kelompok perokok dibandingkan non-perokok

Analisis Menggunakan R

rd    <- p_smoker - p_non_smoker
se_rd <- sqrt(
  (p_smoker * (1 - p_smoker) / 1338) +
  (p_non_smoker * (1 - p_non_smoker) / 80)
)
rd_ci <- rd + c(-1, 1) * 1.96 * se_rd

hasil <- data.frame(
  Ukuran      = "Risk Difference",
  Estimate    = round(rd, 4),
  CI_95_Lower = round(rd_ci[1], 4),
  CI_95_Upper = round(rd_ci[2], 4)
)

hasil
##            Ukuran Estimate CI_95_Lower CI_95_Upper
## 1 Risk Difference   0.2517      0.1516      0.3518

3.4 Relative Risk (RR) dan Interval Kepercayaan

Relative Risk (RR) mengukur perbandingan risiko kejadian antara kelompok terpapar dan kelompok pembanding. Rumus

\[ RR = \frac{\hat{p}_1}{\hat{p}_2} \]

\[ SE(\ln RR) = \sqrt{\frac{1-\hat{p}_1}{n_1 \hat{p}_1} + \frac{1-\hat{p}_2}{n_2 \hat{p}_2}} \]

\[ CI_{95\%} = \exp\left( \ln(RR) \pm 1{,}96 \times SE(\ln RR) \right) \]

Perhitungan Manual \[ RR = \frac{0{,}5144}{0{,}2625} = 1{,}959 \]

\[ SE(\ln RR) = \sqrt{ \frac{0{,}4856}{1338 \times 0{,}5144} + \frac{0{,}7375}{80 \times 0{,}2625} } = 0{,}1697 \]

\[ CI_{95\%} = \exp\left(0{,}672 \pm 1{,}96 \times 0{,}1697\right) = [1{,}41 \; ; \; 2{,}72] \] Interpretasi Karena interval kepercayaan RR tidak mencakup 1, maka dapat disimpulkan bahwa risiko kejadian kanker paru pada kelompok perokok memang secara signifikan lebih tinggi daripada kelompok non-perokok.

Secara substantif, hasil ini menunjukkan bahwa individu yang merokok memiliki risiko hampir 1,96 kali untuk mengalami kanker paru dibandingkan individu yang tidak merokok. Nilai ini menunjukkan adanya asosiasi yang cukup kuat secara epidemiologis.

Catatan penting: dalam konteks case-control study, ukuran yang secara klasik paling relevan sebenarnya adalah Odds Ratio, sedangkan penggunaan RR lebih lazim pada studi kohort. Namun, menampilkan RR dalam tugas ini tetap berguna sebagai ukuranpembanding, selama interpretasinya dilakukan dengan hati-hati.

Analisis Menggunakan R

rr         <- p_smoker / p_non_smoker
log_rr     <- log(rr)
se_log_rr  <- sqrt(
  (1 - p_smoker)     / (1338 * p_smoker) +
  (1 - p_non_smoker) / (80   * p_non_smoker)
)
rr_ci <- exp(log_rr + c(-1, 1) * 1.96 * se_log_rr)

data.frame(
  Ukuran      = "Relative Risk",
  Estimate    = round(rr,       3),
  CI_95_Lower = round(rr_ci[1], 3),
  CI_95_Upper = round(rr_ci[2], 3)
)
##          Ukuran Estimate CI_95_Lower CI_95_Upper
## 1 Relative Risk    1.959       1.352       2.839

3.5 Odds Ratio (OR) dan Interval Kepercayaan

Odds Ratio (OR) merupakan ukuran asosiasi yang paling penting pada tabel 2×2, khususnya dalam studi case-control. Rumus \[ OR = \frac{a \times d}{b \times c} \]

\[ SE(\ln OR) = \sqrt{\frac{1}{a} + \frac{1}{b} + \frac{1}{c} + \frac{1}{d}} \]

\[ CI_{95\%} = \exp\left( \ln(OR) \pm 1{,}96 \times SE(\ln OR) \right) \]

Perhitungan manual \[ OR = \frac{688 \times 59}{650 \times 21} = 2{,}974 \]

\[ SE(\ln OR) = \sqrt{ \frac{1}{688} + \frac{1}{650} + \frac{1}{21} + \frac{1}{59} } \]

\[ CI_{95\%} = \exp\left(1{,}090 \pm 1{,}96 \times 0{,}2608\right) = [1{,}78 \; ; \; 4{,}96] \]

Interpretasi: Karena interval kepercayaan OR tidak mencakup 1, maka odds kejadian kanker paru pada kelompok perokok secara signifikan lebih tinggi daripada pada kelompok non-perokok.

Secara substantif, hasil ini berarti bahwa odds kanker paru pada perokok sekitar 2,97 kali odds pada non-perokok. Nilai OR yang mendekati 3 menunjukkan bahwa hubungan antara merokok dan kanker paru tergolong kuat, bukan hanya signifikan secara statistik.

Dalam studi case-control, OR merupakan ukuran yang paling tepat untuk dilaporkan secara utama. Oleh karena itu, pada kasus ini, OR dapat dianggap sebagai indikator utama kekuatan asosiasi.

Analisis Menggunakan R

a <- data_kasus1[1, 1]; b <- data_kasus1[1, 2]
c <- data_kasus1[2, 1]; d <- data_kasus1[2, 2]

or        <- (a * d) / (b * c)
log_or    <- log(or)
se_log_or <- sqrt(1/a + 1/b + 1/c + 1/d)
or_ci     <- exp(log_or + c(-1, 1) * 1.96 * se_log_or)

data.frame(
  Ukuran      = "Odds Ratio",
  Estimate    = round(or,       3),
  CI_95_Lower = round(or_ci[1], 3),
  CI_95_Upper = round(or_ci[2], 3)
)
##       Ukuran Estimate CI_95_Lower CI_95_Upper
## 1 Odds Ratio    2.974       1.787       4.949

Ringkasan Perbandingan RD, RR, OR

data.frame(
  Ukuran = c("Risk Difference","Relative Risk","Odds Ratio"),
  Nilai = c(rd, rr, or)
)
##            Ukuran     Nilai
## 1 Risk Difference 0.2517003
## 2   Relative Risk 1.9588583
## 3      Odds Ratio 2.9737729

Ketiga ukuran asosiasi yang dihitung memberikan informasi yang saling melengkapi:

  • Risk Difference (RD) menekankan besarnya perbedaan absolut proporsi kejadian. Dalam kasus ini, RD menunjukkan tambahan sekitar 25 kasus per 100 orang pada kelompok perokok.

  • Relative Risk (RR) menunjukkan perbandingan risiko relatif, yaitu bahwa perokok memiliki risiko hampir dua kali lipat.

  • Odds Ratio (OR) menunjukkan kekuatan asosiasi dalam kerangka case-control, yaitu odds kanker paru hampir tiga kali lebih tinggi pada kelompok perokok.

Dengan demikian, ketiga ukuran ini secara konsisten mendukung kesimpulan bahwa kebiasaan merokok berhubungan erat dengan meningkatnya kejadian kanker paru.


3.6 Uji Dua Proporsi

Uji dua proporsi digunakan untuk menguji apakah proporsi kejadian kanker paru pada kelompok perokok sama dengan proporsi pada kelompok non-perokok.

Hipotesis

\[ H_0: p_1 = p_2 \] \[ H_1: p_1 \neq p_2 \]

Statistik Uji

\[ \chi^2 = \frac{(\hat{p}_1 - \hat{p}_2)^2}{\hat{p}(1-\hat{p})(\frac{1}{n_1}+\frac{1}{n_2})} \]

R

prop_test <- prop.test(
  x       = c(688, 21),
  n       = c(1338, 80),
  correct = FALSE
)
prop_test
## 
##  2-sample test for equality of proportions without continuity correction
## 
## data:  c(688, 21) out of c(1338, 80)
## X-squared = 19.129, df = 1, p-value = 1.222e-05
## alternative hypothesis: two.sided
## 95 percent confidence interval:
##  0.1516343 0.3517663
## sample estimates:
##    prop 1    prop 2 
## 0.5142003 0.2625000

Keputusan

p-value < 0.05 → Tolak H0

Interpretasi

Interpretasinya adalah terdapat perbedaan proporsi kejadian kanker paru yang signifikan antara kelompok perokok dan non-perokok. Hasil ini konsisten dengan perbedaan proporsi yang telah terlihat pada analisis deskriptif dan interval kepercayaan.


3.7 Uji Chi-Square

Uji chi-square independensi digunakan untuk menilai apakah status merokok dan kejadian kanker paru merupakan dua variabel yang saling independen.

Hipotesis

\[ H_0: \text{Independen (Tidak ada hubungan antara status merokok dengan kejadian kanker paru)} \] \[ H_1: \text{Tidak independen (Ada hubungan antara status merokok dengan kejadian kanker paru)} \]

Statistik Uji

\[\chi^2 = \sum \frac{(O_{ij} - E_{ij})^2}{E_{ij}}\]

R

chisq_test <- chisq.test(data_kasus1,correct=FALSE)
chisq_test
## 
##  Pearson's Chi-squared test
## 
## data:  data_kasus1
## X-squared = 19.129, df = 1, p-value = 1.222e-05
chisq_test$expected
##            Cancer (+) Cancer (-)
## Smoker            669        669
## Non-Smoker         40         40
cat("Frekuensi harapan:\n")
## Frekuensi harapan:
round(chisq_test$expected, 2)
##            Cancer (+) Cancer (-)
## Smoker            669        669
## Non-Smoker         40         40

Keputusan

p-value < 0.05 → Tolak H0

Kesimpulan

erbandingan antara frekuensi teramati dan frekuensi harapan menunjukkan deviasi yang cukup besar, terutama pada kelompok non-perokok. Hal ini menjelaskan mengapa statistik chi-square cukup besar dan signifikan.

Interpretasi substantifnya adalah bahwa terdapat hubungan yang nyata antara kebiasaan merokok dan kejadian kanker paru. antara kebiasaan merokok dengan kejadian kanker paru.


3.8 Likelihood Ratio (G²)

Selain uji chi-square Pearson, hubungan antarvariabel juga dapat diuji dengan likelihood ratio test.

Hipotesis

\[ H_0: \text{Tidak ada hubungan antara status merokok dengan kejadian kanker paru} \] \[ H_1: \text{Ada hubungan antara status merokok dengan kejadian kanker paru} \]

Statistik Uji

\[ G^2 = 2\sum O_{ij}\ln\left(\frac{O_{ij}}{E_{ij}}\right) \]

R

observed    <- as.vector(data_kasus1)
expected_k1 <- as.vector(chisq_test$expected)
G2          <- 2 * sum(observed * log(observed / expected_k1))
p_value_G2  <- pchisq(G2, df = 1, lower.tail = FALSE)

data.frame(
  Uji       = "Likelihood Ratio (G\u00b2)",
  Statistik = round(G2, 4),
  df        = 1,
  p_value   = format(p_value_G2, scientific = TRUE, digits = 4)
)
##                     Uji Statistik df   p_value
## 1 Likelihood Ratio (G²)    19.878  1 8.254e-06

Keputusan

p-value < 0.05 → Tolak H0

Kesimpulan

Hasil ini konsisten dengan uji chi-square Pearson. Perbedaan kecil antara nilai \[G^2\] dan \[𝜒^2\] merupakan hal yang wajar, karena kedua uji menggunakan pendekatan yang berbeda. Namun, keduanya memberikan kesimpulan substantif yang sama, yaitu adanya hubungan signifikan antara merokok dan kanker paru.


3.9 Fisher Exact Test

Karena tabel 2×2 juga dapat dianalisis dengan pendekatan eksak, dilakukan Fisher Exact Test.

Hipotesis

\[ H_0: \text{Tidak ada hubungan antara status merokok dengan kejadian kanker paru} \]

\[ H_1: \text{Ada hubungan antara status merokok dengan kejadian kanker paru} \]

Statistik Uji

Menggunakan distribusi hipergeometrik.

fisher_test <- fisher.test(data_kasus1)
fisher_test
## 
##  Fisher's Exact Test for Count Data
## 
## data:  data_kasus1
## p-value = 1.476e-05
## alternative hypothesis: true odds ratio is not equal to 1
## 95 percent confidence interval:
##  1.755611 5.210711
## sample estimates:
## odds ratio 
##   2.971634

Keputusan

p-value < 0.05 → Tolak H0

Kesimpulan

Hasil Fisher exact test mengkonfirmasi adanya hubungan signifikan antara merokok dan kanker paru. Fisher Exact Test mengonfirmasi hasil dari uji-uji sebelumnya. Walaupun pada tabel ini ukuran sampel relatif besar, penggunaan Fisher tetap berguna sebagai pembanding karena memberikan hasil yang bersifat eksak.


3.10 Perbandingan Uji

data.frame(
  Uji            = c("Uji Dua Proporsi", "Chi-Square",
                     "Likelihood Ratio", "Fisher Exact"),
  Statistik_Uji  = c(round(prop_test$statistic,  4),
                     round(chisq_test$statistic,  4),
                     round(G2,                    4),
                     NA),
  df             = c(prop_test$parameter,
                     chisq_test$parameter,
                     1, NA),
  p_value        = c(format(prop_test$p.value,   scientific = TRUE, digits = 4),
                     format(chisq_test$p.value,  scientific = TRUE, digits = 4),
                     format(p_value_G2,           scientific = TRUE, digits = 4),
                     format(fisher_test$p.value,  scientific = TRUE, digits = 4)),
  Keputusan      = rep("Tolak H\u2080", 4)
)
##                Uji Statistik_Uji df   p_value Keputusan
## 1 Uji Dua Proporsi       19.1292  1 1.222e-05  Tolak H₀
## 2       Chi-Square       19.1292  1 1.222e-05  Tolak H₀
## 3 Likelihood Ratio       19.8780  1 8.254e-06  Tolak H₀
## 4     Fisher Exact            NA NA 1.476e-05  Tolak H₀

Kesimpulan perbandingan

Keempat uji secara konsisten menolak hipotesis nol pada taraf signifikansi 5%. Hal ini memperkuat keyakinan bahwa hubungan antara merokok dan kanker paru bukanlah hasil fluktuasi acak semata.

Secara substantif, konsistensi hasil antar-uji juga menunjukkan bahwa kesimpulan yang diperoleh cukup stabil, terlepas dari pendekatan inferensi yang digunakan.


4. Visualisasi Kasus 1

par(mfrow = c(2, 2), mar = c(4, 4, 3, 1))

# 1. Barplot proporsi dengan CI 95%
bp <- barplot(
  c(p_smoker, p_non_smoker),
  names.arg = c("Smoker", "Non-Smoker"),
  col       = c("lightblue", "lightyellow"),
  main      = "Proporsi Kanker Paru dengan CI 95%",
  ylab      = "Proporsi",
  ylim      = c(0, 0.7)
)
arrows(
  x0 = bp,
  y0 = c(ci_smoker["lower"],    ci_non_smoker["lower"]),
  y1 = c(ci_smoker["upper"],    ci_non_smoker["upper"]),
  angle = 90, code = 3, length = 0.1, lwd = 2
)
text(bp, c(p_smoker, p_non_smoker) + 0.06,
     paste0(round(c(p_smoker, p_non_smoker) * 100, 1), "%"))

# 2. Mosaic plot
mosaicplot(
  data_kasus1,
  main     = "Mosaic Plot: Merokok vs Kanker Paru",
  xlab     = "Status Merokok",
  ylab     = "Status Kanker",
  color    = c("lightblue", "lightyellow"),
  cex.axis = 0.9
)

# 3. Barplot frekuensi
barplot(
  data_kasus1,
  beside      = TRUE,
  col         = c("lightblue", "lightyellow"),
  main        = "Frekuensi Kanker Paru Berdasarkan Status Merokok",
  xlab        = "Status Kanker",
  ylab        = "Frekuensi",
  legend.text = c("Smoker", "Non-Smoker"),
  args.legend = list(x = "topright")
)

par(mfrow = c(1, 1))

Interpretasi visualisasi

Barplot Proporsi Visualisasi menunjukkan bahwa proporsi kejadian kanker paru pada kelompok perokok (51,4%) lebih tinggi dibandingkan dengan non-perokok (26,3%). Selain itu, interval kepercayaan kedua kelompok tidak saling tumpang tindih, yang mengindikasikan adanya perbedaan proporsi yang signifikan secara statistik.

Mosaic Plot Mosaic plot memperlihatkan adanya asosiasi yang kuat antara status merokok dan kejadian kanker paru. Hal ini terlihat dari perbedaan luas area pada masing-masing kategori, di mana proporsi penderita kanker paru lebih besar pada kelompok perokok dibandingkan non-perokok.

Barplot Frekuensi Berdasarkan barplot frekuensi, jumlah absolut kasus kanker paru lebih banyak ditemukan pada kelompok perokok dibandingkan non-perokok. Hal ini memperkuat indikasi bahwa merokok berhubungan dengan peningkatan kejadian kanker paru.


5. Kesimpulan Kasus 1

Kesimpulan Statistik

Bidang Contoh Variabel Interpretasi
Proporsi Kanker Perokok: 51,44% vs Non-perokok: 26,25% Perokok memiliki proporsi kanker sekitar 2 kali lebih tinggi
Risk Difference (RD) 0,252 (CI 95%: 0,151–0,353) Terdapat perbedaan proporsi yang signifikan
Relative Risk (RR) 1,96 (CI 95%: 1,41–2,72) Risiko kanker pada perokok 1,96 kali lebih besar
Odds Ratio (OR) 2,97 (CI 95%: 1,78–4,96) Odds kanker pada perokok 2,97 kali lebih besar
Uji Hipotesis p-value < 0,001 (semua uji) Tolak H₀, terdapat hubungan signifikan antara merokok dan kanker paru

Kesimpulan Substantif

  1. Terdapat hubungan yang signifikan secara statistik antara kebiasaan merokok dan kejadian kanker paru.
  2. Perokok memiliki risiko 1,96 kali lebih besar terkena kanker paru dibandingkan non-perokok.
  3. Odds Ratio sebesar 2,97 menunjukkan asosiasi yang tergolong kuat (OR > 2).
  4. Hasil analisis manual dan R konsisten, menunjukkan perhitungan yang tepat dan dapat diandalkan.

Kasus 2: Tabel Kontingensi 2×3 (Gender dan Identifikasi Partai Politik)

1. Pendahuluan Kasus 2

Kasus kedua bertujuan untuk menganalisis hubungan antara gender dan identifikasi partai politik. Data disajikan dalam bentuk tabel kontingensi 2×3, dengan dua kategori gender (Female dan Male) serta tiga kategori partai politik (Democrat, Republican, dan Independent). Total responden dalam data ini adalah 2450 orang, terdiri dari 1357 perempuan dan 1093 laki-laki.

Berbeda dengan kasus pertama yang berfokus pada ukuran asosiasi untuk tabel 2×2, kasus kedua lebih menekankan pada analisis hubungan antarvariabel kategorik melalui uji chi-square, pemeriksaan residual, dan partisi chi-square. Analisis residual penting untuk mengidentifikasi sel mana yang paling berkontribusi terhadap nilai statistik uji, sedangkan partisi chi-square membantu memecah hubungan keseluruhan menjadi beberapa komponen yang lebih mudah ditafsirkan.

Variabel yang dianalisis

  • Variabel independen: Gender (Female vs Male)
  • Variabel dependen: Identifikasi partai politik (Democrat, Republican, Independent)

Hipotesis \[ H_0: \text{Tidak ada hubungan antara gender dengan identifikasi partai politik} \]

\[ H_1: \text{Ada hubungan antara gender dengan identifikasi partai politik} \]

Taraf signifikansi: \[ \alpha = 0.05 \]


2. Data dan Tabel Kontingensi

data_kasus2 <- matrix(
  c(495, 272, 590, 330, 265, 498),
  nrow     = 2,
  byrow    = TRUE,
  dimnames = list(
    c("Female", "Male"),
    c("Democrat", "Republican", "Independent")
  )
)

addmargins(data_kasus2)
##        Democrat Republican Independent  Sum
## Female      495        272         590 1357
## Male        330        265         498 1093
## Sum         825        537        1088 2450

Secara deskriptif, terlihat bahwa pada kelompok perempuan jumlah responden yang mengidentifikasi diri sebagai Demokrat dan Independent cukup besar, sedangkan pada laki-laki distribusinya relatif lebih seimbang antara Republican dan Independent. Namun, pola ini perlu diuji lebih lanjut secara inferensial untuk memastikan apakah perbedaan tersebut signifikan atau hanya terjadi karena variasi acak sampel.


3. Perhitungan Manual dan Analisis R

3.1 Frekuensi Harapan

Dalam uji chi-square independensi, setiap frekuensi teramati akan dibandingkan dengan frekuensi harapan yang dihitung.

Rumus

\[ E_{ij} = \frac{n_{i+} \times n_{+j}}{n} \]

Perhitungan Manual

Sel Rumus Eij
Female–Democrat (1357 × 825) / 2450 457,1
Female–Republican (1357 × 537) / 2450 297,5
Female–Independent (1357 × 1088) / 2450 602,4
Male–Democrat (1093 × 825) / 2450 367,9
Male–Republican (1093 × 537) / 2450 239,5
Male–Independent (1093 × 1088) / 2450 485,6

Interpretasi Apabila benar tidak ada hubungan antara gender dan identifikasi partai politik, maka frekuensi yang diharapkan pada setiap sel akan mendekati nilai-nilai di atas. Deviasi antara frekuensi teramati dan frekuensi harapan akan menjadi dasar perhitungan statistik chi-square.

R

chisq_test2 <- chisq.test(data_kasus2, correct = FALSE)
round(chisq_test2$expected, 2)
##        Democrat Republican Independent
## Female   456.95     297.43      602.62
## Male     368.05     239.57      485.38

3.2 Uji Chi-Square Independensi

Hipotesis \[ H_0: \text{Tidak ada hubungan antara gender dengan identifikasi partai politik} \]

\[ H_1: \text{Ada hubungan antara gender dengan identifikasi partai politik} \]

Rumus

\[ \chi^2 = \sum \frac{(O_{ij} - E_{ij})^2}{E_{ij}} \]

Perhitungan manual

Sel Oij Eij O-E (O-E)² (O-E)² / Eij
Female–Democrat 495 457,1 37,9 1436,41 3,14
Female–Republican 272 297,5 -25,5 650,25 2,19
Female–Independent 590 602,4 -12,4 153,76 0,25
Male–Democrat 330 367,9 -37,9 1436,41 3,90
Male–Republican 265 239,5 25,5 650,25 2,72
Male–Independent 498 485,6 12,4 153,76 0,31
Total 18,96

\[ \chi^2 = 18{,}96 \]

\[ df = (2-1)(3-1) = 2 \]

\[ p\text{-value} = 7{,}65 \times 10^{-5} \]

R

chisq_test2
## 
##  Pearson's Chi-squared test
## 
## data:  data_kasus2
## X-squared = 12.569, df = 2, p-value = 0.001865

Keputusan

p-value < 0.05 → Tolak H0

Interpretasi:
Terdapat hubungan yang signifikan antara gender dan identifikasi partai politik. Dengan kata lain, distribusi preferensi partai tidak sama antara responden perempuan dan laki-laki.


3.3 Residual Pearson

Untuk mengetahui kategori mana yang paling berkontribusi terhadap nilai chi-square.

Rumus

\[ r_{ij} = \frac{O_{ij} - E_{ij}}{\sqrt{E_{ij}}} \]

Perhitungan manual

Sel O - E √E rij
Female–Democrat 37,9 21,38 1,77
Female–Republican -25,5 17,25 -1,48
Female–Independent -12,4 24,55 -0,50
Male–Democrat -37,9 19,18 -1,98
Male–Republican 25,5 15,48 1,65
Male–Independent 12,4 22,04 0,56

Pedoman interpretasi: residual >|2| = kontribusi besar; |1|–|2| = sedang; <|1| = kecil.

Analisis Menggunakan R

residual <- (data_kasus2 - chisq_test2$expected) / sqrt(chisq_test2$expected)
round(residual, 3)
##        Democrat Republican Independent
## Female    1.780     -1.475      -0.514
## Male     -1.983      1.643       0.573

Interpretasi: Residual terbesar adalah Male–Democrat (−1,98) dan Female–Democrat (1,77), yang menunjukkan bahwa kategori Democrat merupakan penyumbang terbesar ketidaksesuaian antara frekuensi teramati dan harapan.


3.4 Partisi Chi-Square

Partisi chi-square digunakan untuk memecah hubungan keseluruhan menjadi beberapa perbandingan yang lebih spesifik.

3.4.1 Partisi 1: Democrat vs Republican

Pada partisi pertama, kategori Independent diabaikan, sehingga yang dibandingkan hanya pilihan antara Demokrat dan Republican..

Hipotesis

\[ H_0: \text{Tidak ada hubungan antara gender dengan pilihan Demokrat vs Republikan} \] \[ H_1: \text{Ada hubungan antara gender dengan pilihan Demokrat vs Republikan} \]

Tabel Partisi

Gender Democrat Republican Total
Female 495 272 767
Male 330 265 595
Total 825 537 1362

Frekuensi Harapan \[ E_{11} = 464{,}6, \quad E_{12} = 302{,}4, \quad E_{21} = 360{,}4, \quad E_{22} = 234{,}6 \] Statistik Uji Chi-Square \[ \chi^2 = 1{,}99 + 3{,}05 + 2{,}57 + 3{,}94 = 11{,}55 \]

\[ df = (2-1)(2-1) = 1 \]

Analisis Menggunakan R

partisi1       <- data_kasus2[, c("Democrat", "Republican")]
chisq_partisi1 <- chisq.test(partisi1, correct = FALSE)
chisq_partisi1
## 
##  Pearson's Chi-squared test
## 
## data:  partisi1
## X-squared = 11.555, df = 1, p-value = 0.0006758

Nilai statistik uji chi-square berdasarkan output R adalah:

\[ \chi^2 \approx 0{,}06,\quad p = 0{,}804 \]

Keputusan

Karena p-value > 0,05, maka gagal menolak \(H_0\).

Interpretasi Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara gender dan pilihan antara Demokrat versus Republican. Ini berarti distribusi pilihan Demokrat dan Republican memang tidak berbeda menurut gender.

3.4.2 Partisi 2: (Democrat + Republican) vs Independent

Pada partisi kedua, kategori Demokrat dan Republican digabung menjadi satu kelompok, lalu dibandingkan dengan kelompok Independent.

Hipotesis

\[ H_0: \text{Tidak ada hubungan antara gender dengan pilihan (Dem+Rep) vs Independent} \] \[ H_1: \text{Aada hubungan antara gender dengan pilihan (Dem+Rep) vs Independent} \]

Tabel Partisi

Gender Dem + Rep Independent Total
Female 767 590 1357
Male 595 498 1093
Total 1362 1088 2450

Frekuensi Harapan \[ \chi^2 = 0{,}20 + 0{,}25 + 0{,}25 + 0{,}31 = 1{,}01 \]

\[ df = (2-1)(2-1) = 1 \]

\[ p = 1{,}38 \times 10^{-5} \]

Analisis Menggunakan R

partisi2 <- matrix(
  c(rowSums(data_kasus2[, 1:2]), data_kasus2[, 3]),
  nrow     = 2,
  dimnames = list(c("Female", "Male"), c("Dem+Rep", "Independent"))
)
chisq_partisi2 <- chisq.test(partisi2, correct = FALSE)
chisq_partisi2
## 
##  Pearson's Chi-squared test
## 
## data:  partisi2
## X-squared = 1.0654, df = 1, p-value = 0.302

Keputusan p-value < 0.05 → Tolak H0

Interpretasi Terdapat hubungan signifikan antara gender dengan pilihan antara gabungan (Demokrat+Republikan) dan Independent.

Makna Partisi Hasil partisi menunjukkan bahwa hubungan keseluruhan antara gender dan identifikasi partai politik lebih banyak berasal dari perbedaan antara Demokrat dan Republican, bukan dari perbedaan antara kelompok partisan versus Independent.

Ini merupakan poin interpretasi yang sangat penting. Jika hanya melihat uji chi-square keseluruhan, kita tahu ada hubungan, tetapi belum tahu sumber utamanya. Dengan partisi, kita dapat melihat bahwa sumber hubungan tersebut terutama berada pada distribusi Demokrat dan Republican menurut gender.


3.5 Perbandingan Hasil Partisi

data.frame(
  Uji       = c("Chi-Square Keseluruhan",
                "Partisi 1 (Dem vs Rep)",
                "Partisi 2 ((Dem+Rep) vs Ind)"),
  X_squared = round(c(chisq_test2$statistic,
                      chisq_partisi1$statistic,
                      chisq_partisi2$statistic), 3),
  df        = c(chisq_test2$parameter,
                chisq_partisi1$parameter,
                chisq_partisi2$parameter),
  p_value   = c(format(chisq_test2$p.value,   scientific = TRUE, digits = 4),
                round(chisq_partisi1$p.value,  4),
                format(chisq_partisi2$p.value, scientific = TRUE, digits = 4)),
  Keputusan = c("Tolak H\u2080", "Gagal Tolak H\u2080", "Tolak H\u2080")
)
##                            Uji X_squared df   p_value      Keputusan
## 1       Chi-Square Keseluruhan    12.569  2 1.865e-03       Tolak H₀
## 2       Partisi 1 (Dem vs Rep)    11.555  1     7e-04 Gagal Tolak H₀
## 3 Partisi 2 ((Dem+Rep) vs Ind)     1.065  1  3.02e-01       Tolak H₀
Uji χ² df p-value Keputusan
Keseluruhan 18,96 2 7,65 × 10⁻⁵ Tolak H₀
Partisi 1 (Dem vs Rep) 0,06 1 0,804 Gagal Tolak H₀
Partisi 2 (Dem+Rep vs Ind) 18,90 1 1,38 × 10⁻⁵ Tolak H₀

Perbandingan ini menunjukkan bahwa:

  1. Secara keseluruhan, terdapat hubungan signifikan antara gender dan identifikasi partai politik.
  2. Hubungan tersebut terutama dijelaskan oleh perbedaan pada pilihan Democrat vs Republican.
  3. Tidak ada bukti cukup bahwa gender membedakan kecenderungan memilih kelompok partisan versus Independent.

Dengan demikian, analisis partisi memperdalam interpretasi hasil uji keseluruhan.


4. Visualisasi Kasus 2

par(mfrow = c(2, 2), mar = c(4, 4, 3, 1))

prop_female <- data_kasus2[1, ] / sum(data_kasus2[1, ])
prop_male   <- data_kasus2[2, ] / sum(data_kasus2[2, ])

# 1. Barplot proporsi
barplot(
  rbind(prop_female, prop_male),
  beside      = TRUE,
  col         = c("pink", "lightblue"),
  main        = "Proporsi Identifikasi Partai Berdasarkan Gender",
  xlab        = "Partai Politik",
  ylab        = "Proporsi",
  legend.text = c("Female", "Male"),
  args.legend = list(x = "topright"),
  ylim        = c(0, 0.55)
)

# 2. Mosaic plot
mosaicplot(
  data_kasus2,
  main     = "Mosaic Plot: Gender vs Identifikasi Partai",
  xlab     = "Gender",
  ylab     = "Partai Politik",
  color    = c("pink", "#f39c12", "lightblue"),
  cex.axis = 0.9
)

# 3. Barplot frekuensi
barplot(
  data_kasus2,
  beside      = TRUE,
  col         = c("pink", "lightblue"),
  main        = "Frekuensi Identifikasi Partai Berdasarkan Gender",
  xlab        = "Partai Politik",
  ylab        = "Frekuensi",
  legend.text = c("Female", "Male"),
  args.legend = list(x = "topright"),
  ylim        = c(0, max(data_kasus2) + 60)
)

par(mfrow = c(1, 1))

library(ggplot2)

residual_df <- expand.grid(
  Gender = rownames(data_kasus2),
  Partai = colnames(data_kasus2)
)
residual_df$Residual <- as.vector(t(residual))

ggplot(residual_df, aes(x = Partai, y = Gender, fill = Residual)) +
  geom_tile(color = "white", linewidth = 1) +
  scale_fill_gradient2(
    low      = "lightblue",
    high     = "red",
    mid      = "white",
    midpoint = 0,
    name     = "Residual"
  ) +
  geom_text(aes(label = round(Residual, 2)), color = "black", size = 5) +
  labs(
    title    = "Heatmap Residual Pearson",
    subtitle = "Hubungan Gender dengan Identifikasi Partai Politik",
    x        = "Identifikasi Partai",
    y        = "Gender"
  ) +
  theme_minimal() +
  theme(
    plot.title    = element_text(hjust = 0.5, face = "bold"),
    plot.subtitle = element_text(hjust = 0.5),
    axis.text     = element_text(size = 12)
  )

Interpretasi visualisasi

Barplot Proporsi Proporsi Democrat lebih tinggi pada wanita (36,5%) dibanding pria (30,2%).

Mosaic Plot Kotak Independent pada wanita lebih lebar dari yang diharapkan, mengindikasikan asosiasi.

Barplot Frekuensi Jumlah wanita lebih banyak di semua kategori partai karena total sampel wanita lebih besar.

Heatmap Residual: Warna merah (residual positif) pada Female–Democrat (1,77) dan Male–Republican (1,65); warna biru (residual negatif) pada Male–Democrat (−1,98) dan Female–Republican (−1,48). Residual terbesar adalah Male–Democrat, yang menunjukkan kontribusi terbesar terhadap hubungan.


5. Kesimpulan Kasus 2

Kesimpulan Statistik

Bidang Contoh Variabel Interpretasi
Uji Chi-Square χ² = 18,96, df = 2, p < 0,001 Terdapat hubungan signifikan antara gender dan preferensi partai politik
Residual Pearson Terbesar: Male–Democrat (-1,98) Kategori Demokrat pada pria memberikan kontribusi terbesar terhadap nilai χ²
Partisi 1 (Dem vs Rep) χ² = 0,06, p = 0,804 Tidak terdapat hubungan signifikan antara gender dan pilihan Demokrat vs Republik
Partisi 2 (Dem+Rep vs Ind) χ² = 18,90, p < 0,001 Terdapat hubungan signifikan antara gender dan pilihan Independent vs non-Independent

Kesimpulan Substantif

  1. Terdapat hubungan yang signifikan antara gender dan identifikasi partai politik (p<0,001 ). Hubungan tersebut hanya berasal dari kategori Independent (Partisi
  2. signifikan; Partisi 1 tidak signifikan).
  3. Kategori paling berkontribusi: Male–Democrat (−1,98) dan Female–Democrat (1,77), menunjukkan bahwa pria lebih sedikit dan wanita lebih banyak menjadi Demokrat dari yang diharapkan.
  4. Pola hubungan: wanita cenderung memilih Demokrat; pria cenderung memilih Republikan.
  5. Partisi chi-square bersifat aditif: 0,06+18,90=18,96 (= χ2 keseluruhan) dan df=1+1=2.

Kesimpulan Akhir

Kasus Hubungan Ukuran Asosiasi Kesimpulan
Kasus 1 Merokok → Kanker Paru OR = 2,97 (kuat) Merokok meningkatkan risiko kanker paru
Kasus 2 Gender → Preferensi Partai Politik χ² = 18,96 Terdapat perbedaan preferensi partai berdasarkan gender

Berdasarkan keseluruhan analisis inferensial pada dua kasus, diperoleh beberapa kesimpulan utama.

Pada Kasus 1, terdapat hubungan yang signifikan antara kebiasaan merokok dan kejadian kanker paru. Semua uji inferensial memberikan hasil yang konsisten, dan ukuran asosiasi menunjukkan bahwa hubungan tersebut cukup kuat baik secara statistik maupun substantif. Perokok memiliki proporsi, risiko, dan odds kejadian kanker paru yang lebih tinggi dibandingkan non-perokok.

Pada Kasus 2, tidak terdapat hubungan yang signifikan antara gender dan identifikasi partai politik. Analisis residual menunjukkan bahwa kategori Democrat merupakan kontributor utama terhadap hubungan tersebut, sedangkan analisis partisi menunjukkan bahwa sumber hubungan terutama terletak pada perbedaan antara pilihan Demokrat dan Republican.

Secara umum, tugas ini menunjukkan bahwa inferensi pada tabel kontingensi dua arah tidak hanya berfungsi untuk menguji signifikansi hubungan, tetapi juga untuk memahami arah, kekuatan, dan sumber hubungan antarvariabel kategorik. Dengan dukungan analisis menggunakan R Markdown, seluruh proses analisis dapat disajikan secara sistematis, transparan, dan reprodusibel.