Sebuah penelitian dilakukan untuk mengevaluasi kualitas sensorik suatu produk pangan berdasarkan dua faktor utama, yaitu:
Perlakuan (Treatment): terdiri dari 3 jenis (A, B, C, dan D)
Waktu Penyimpanan (Time): terdiri dari 2 level (H7 dan H14)
Setiap kombinasi perlakuan dan waktu diuji sebanyak 3 kali ulangan (replikasi). Penilaian kualitas produk dilakukan berdasarkan 4 parameter sensorik:
Skala penilaian menggunakan rentang numerik (semakin tinggi nilai menunjukkan kualitas semakin baik). Tentukan:
Apakah terdapat pengaruh signifikan dari Perlakuan?
Apakah terdapat pengaruh signifikan dari Waktu?
Apakah terdapat interaksi antara Perlakuan dan Waktu?
#Input Data
data_1 <- read_xlsx("C:/Users/dals/OneDrive - untirta.ac.id/KULIAH/Sem 6/Konstat/Data/Data Studi Kasus.xlsx", sheet = "Data 1")
head(data_1, 10)#Mengubah Variabel Menjadi Faktor
data_1$Perlakuan <- as.factor(data_1$Perlakuan)
data_1$Waktu <- as.factor(data_1$Waktu)## tibble [24 × 6] (S3: tbl_df/tbl/data.frame)
## $ Perlakuan: Factor w/ 4 levels "A","B","C","D": 1 1 1 1 1 1 2 2 2 2 ...
## $ Waktu : Factor w/ 2 levels "H14","H7": 2 2 2 1 1 1 2 2 2 1 ...
## $ Warna : num [1:24] 2.67 2.69 2.62 2.69 2.67 2.76 2.69 2.71 2.96 2.84 ...
## $ Aroma : num [1:24] 2.58 2.71 2.71 2.78 2.64 2.87 2.71 2.78 2.91 2.78 ...
## $ Rasa : num [1:24] 2.76 2.73 2.62 2.93 2.58 2.73 2.69 2.78 2.69 3.04 ...
## $ Tekstur : num [1:24] 2.56 2.84 2.8 2.76 2.4 2.51 2.78 2.64 2.93 2.98 ...
## Perlakuan Waktu Warna Aroma Rasa
## A:6 H14:12 Min. :2.620 Min. :2.580 Min. :2.580
## B:6 H7 :12 1st Qu.:2.705 1st Qu.:2.763 1st Qu.:2.730
## C:6 Median :2.925 Median :2.945 Median :3.065
## D:6 Mean :3.015 Mean :3.031 Mean :3.033
## 3rd Qu.:3.248 3rd Qu.:3.295 3rd Qu.:3.290
## Max. :3.690 Max. :3.670 Max. :3.640
## Tekstur
## Min. :2.400
## 1st Qu.:2.775
## Median :3.065
## Mean :3.051
## 3rd Qu.:3.315
## Max. :3.710
#Model Anova
model_warna <- aov(Warna ~ Perlakuan*Waktu, data = data_1)
model_aroma <- aov(Aroma ~ Perlakuan*Waktu, data = data_1)
model_rasa <- aov(Rasa ~ Perlakuan*Waktu, data = data_1)
model_tekstur <- aov(Tekstur ~ Perlakuan*Waktu, data = data_1)##
## Shapiro-Wilk normality test
##
## data: residuals(model_warna)
## W = 0.86843, p-value = 0.004902
Interpretasi:
Plot Berdasarkan grafik
Q-Q plot residual, terlihat bahwa sebagian besar
titik berada di sekitar garis diagonal, yang menunjukkan bahwa
distribusi residual mendekati distribusi normal. Namun, terdapat
beberapa titik yang menyimpang cukup jauh dari garis, terutama pada
bagian ekor (ujung kiri dan kanan), yang mengindikasikan adanya
penyimpangan dari normalitas serta kemungkinan adanya outlier. Oleh
karena itu, dapat disimpulkan bahwa asumsi normalitas tidak sepenuhnya
terpenuhi, meskipun secara umum pola distribusi residual masih mendekati
normal.
Shapiro Wilk Berdasarkan
hasil uji normalitas menggunakan Shapiro-Wilk terhadap residual
model, diperoleh nilai p-value sebesar 0.004902 yang lebih kecil dari
taraf signifikansi 0.05. Hal ini menunjukkan bahwa residual tidak
berdistribusi normal, sehingga asumsi normalitas pada model ANOVA belum
terpenuhi. Hasil ini juga dapat didukung oleh visualisasi plot normal
Q-Q yang menunjukkan adanya penyimpangan titik-titik dari garis
diagonal.
Levene Test Berdasarkan uji
homogenitas varians menggunakan uji Levene, diperoleh nilai
p-value sebesar 0.2315 (>0.05). Hal ini menunjukkan bahwa varians
antar kelompok adalah homogen, sehingga asumsi homogenitas varians telah
terpenuhi. Dengan demikian, meskipun asumsi normalitas tidak terpenuhi,
asumsi homogenitas varians sudah dipenuhi sehingga analisis ANOVA masih
dapat dipertimbangkan untuk dilanjutkan dengan catatan
tertentu.
##
## Shapiro-Wilk normality test
##
## data: residuals(model_aroma)
## W = 0.96479, p-value = 0.5418
Interpretasi:
Plot Berdasarkan grafik
Q-Q plot residual, terlihat bahwa sebagian besar
titik berada di sekitar garis diagonal, yang menunjukkan bahwa
distribusi residual mendekati distribusi normal. Meskipun terdapat
beberapa titik yang sedikit menyimpang, khususnya pada bagian ekor,
penyimpangan tersebut tidak terlalu signifikan. Oleh karena itu, dapat
disimpulkan bahwa asumsi normalitas pada variabel aroma secara umum
telah terpenuhi.
`Shapiro Wilk` Berdasarkan hasil uji normalitas Berdasarkan hasil uji normalitas menggunakan Shapiro-Wilk, diperoleh nilai p-value sebesar 0.5418 yang lebih besar dari 0.05. Hal ini menunjukkan bahwa residual berdistribusi normal, sehingga asumsi normalitas telah terpenuhi.
Levene Test Berdasarkan uji
homogenitas varians menggunakan Levene Test, diperoleh nilai
p-value sebesar 0.7644 (> 0.05). Hal ini menunjukkan bahwa varians
antar kelompok adalah homogen, sehingga asumsi homogenitas varians telah
terpenuhi.
##
## Shapiro-Wilk normality test
##
## data: residuals(model_rasa)
## W = 0.95572, p-value = 0.3586
Interpretasi:
Plot Berdasarkan grafik
Q-Q plot residual, terlihat bahwa sebagian besar
titik mengikuti garis diagonal, yang mengindikasikan bahwa distribusi
residual mendekati distribusi normal. Namun, terdapat beberapa titik
yang menyimpang pada bagian ekor, terutama di sisi kiri dan kanan, yang
menunjukkan adanya sedikit deviasi dari normalitas. Meskipun demikian,
secara keseluruhan pola masih cukup mengikuti garis diagonal, sehingga
asumsi normalitas dapat dianggap terpenuhi.
Shapiro Wilk Berdasarkan
hasil uji normalitas berdasarkan hasil uji normalitas,
diperoleh nilai p-value sebesar 0.3586 yang lebih besar dari 0.05,
sehingga dapat disimpulkan bahwa residual berdistribusi normal.
Levene Test Berdasarkan uji
homogenitas berdasarkan hasil uji homogenitas varians,
diperoleh nilai p-value sebesar 0.6129 (>0.05), yang menunjukkan
bahwa varians antar kelompok homogen.
##
## Shapiro-Wilk normality test
##
## data: residuals(model_tekstur)
## W = 0.97694, p-value = 0.8335
Interpretasi:
Plot Berdasarkan grafik
Q-Q plot residual, terlihat bahwa titik-titik
residual hampir seluruhnya berada di sekitar garis diagonal dan
mengikuti pola garis tersebut dengan baik. Penyimpangan yang terjadi
relatif kecil dan tidak signifikan. Hal ini menunjukkan bahwa distribusi
residual sangat mendekati distribusi normal, sehingga asumsi normalitas
pada variabel tekstur telah terpenuhi dengan baik.
Shapiro Wilk Berdasarkan
hasil uji normalitas berdasarkan hasil uji normalitas,
diperoleh nilai p-value sebesar 0.8335 yang lebih besar dari 0.05, yang
menunjukkan bahwa residual berdistribusi normal.
Levene Test Berdasarkan uji
homogenitas berdasarkan hasil uji homogenitas varians,
diperoleh nilai p-value sebesar 0.8741 (>0.05), yang menunjukkan
bahwa varians antar kelompok homogen.
data_1$Warna_bc <- 1 / sqrt(data_1$Warna)
model_warna2 <- aov(Warna_bc ~ Perlakuan*Waktu, data = data_1)
shapiro.test(residuals(model_warna2))##
## Shapiro-Wilk normality test
##
## data: residuals(model_warna2)
## W = 0.89727, p-value = 0.01885
Interpretasi:
Berdasarkan hasil transformasi data menggunakan metode
Box-Cox, diperoleh nilai parameter \(\lambda\) yang mengarah pada transformasi
\(\frac{1}{\sqrt x}\). Setelah
dilakukan transformasi dan pengujian ulang normalitas menggunakan uji
Shapiro-Wilk, diperoleh nilai p-value
sebesar 0.01885 yang masih lebih kecil dari taraf signifikansi 0.05. Hal
ini menunjukkan bahwa residual model setelah transformasi masih belum
berdistribusi normal, sehingga asumsi normalitas belum sepenuhnya
terpenuhi. Meskipun demikian, terjadi peningkatan nilai p-value
dibandingkan sebelum transformasi, yang mengindikasikan adanya perbaikan
terhadap distribusi residual.
## Df Sum Sq Mean Sq F value Pr(>F)
## Perlakuan 3 1.9578 0.6526 23.071 4.71e-06 ***
## Waktu 1 0.0852 0.0852 3.012 0.102
## Perlakuan:Waktu 3 0.0545 0.0182 0.643 0.599
## Residuals 16 0.4526 0.0283
## ---
## Signif. codes: 0 '***' 0.001 '**' 0.01 '*' 0.05 '.' 0.1 ' ' 1
## Df Sum Sq Mean Sq F value Pr(>F)
## Perlakuan 3 0.017582 0.005861 27.349 1.55e-06 ***
## Waktu 1 0.000585 0.000585 2.728 0.118
## Perlakuan:Waktu 3 0.000297 0.000099 0.462 0.713
## Residuals 16 0.003429 0.000214
## ---
## Signif. codes: 0 '***' 0.001 '**' 0.01 '*' 0.05 '.' 0.1 ' ' 1
## Df Sum Sq Mean Sq F value Pr(>F)
## Perlakuan 3 1.9388 0.6463 16.838 3.32e-05 ***
## Waktu 1 0.0400 0.0400 1.043 0.322
## Perlakuan:Waktu 3 0.0126 0.0042 0.109 0.953
## Residuals 16 0.6141 0.0384
## ---
## Signif. codes: 0 '***' 0.001 '**' 0.01 '*' 0.05 '.' 0.1 ' ' 1
## Df Sum Sq Mean Sq F value Pr(>F)
## Perlakuan 3 1.7342 0.5781 19.532 1.35e-05 ***
## Waktu 1 0.0840 0.0840 2.839 0.111
## Perlakuan:Waktu 3 0.0258 0.0086 0.290 0.832
## Residuals 16 0.4735 0.0296
## ---
## Signif. codes: 0 '***' 0.001 '**' 0.01 '*' 0.05 '.' 0.1 ' ' 1
## Df Sum Sq Mean Sq F value Pr(>F)
## Perlakuan 3 2.3145 0.7715 20.831 9e-06 ***
## Waktu 1 0.0353 0.0353 0.952 0.344
## Perlakuan:Waktu 3 0.1548 0.0516 1.393 0.281
## Residuals 16 0.5926 0.0370
## ---
## Signif. codes: 0 '***' 0.001 '**' 0.01 '*' 0.05 '.' 0.1 ' ' 1
Interpretasi:
Berdasarkan hasil analisis ANOVA dua
arah, diperoleh bahwa faktor Perlakuan memiliki nilai p-value yang
sangat kecil (p-value < 0,05) pada seluruh parameter sensorik, yaitu
warna (p = 4.71e-06 dan 1.55e-06 setelah transformasi), aroma (p =
3.32e-05), rasa (p = 1.35e-05), dan tekstur (p = 9e-06). Hal ini
menunjukkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan dari perlakuan
terhadap kualitas produk pangan pada semua aspek yang diuji. Dengan
demikian, dapat disimpulkan bahwa perbedaan jenis perlakuan (A, B, C,
dan D) memberikan dampak nyata terhadap penilaian sensorik produk, di
mana setiap perlakuan menghasilkan kualitas yang berbeda.
Berdasarkan hasil ANOVA, faktor Waktu
penyimpanan menunjukkan nilai p-value yang lebih besar dari 0,05 pada
seluruh parameter, yaitu warna (p = 0.102 dan 0.118 setelah
transformasi), aroma (p = 0.322), rasa (p = 0.111), dan tekstur (p =
0.344). Hal ini menunjukkan bahwa tidak terdapat pengaruh signifikan
dari waktu penyimpanan terhadap kualitas produk. Dengan kata lain,
perbedaan waktu penyimpanan antara H7 dan H14 tidak memberikan perubahan
yang signifikan terhadap kualitas sensorik produk berdasarkan keempat
parameter yang diuji.
Hasil analisis juga menunjukkan bahwa interaksi antara Perlakuan dan Waktu memiliki nilai p-value yang lebih besar dari 0,05 pada semua parameter, yaitu warna (p = 0.599 dan 0.713), aroma (p = 0.953), rasa (p = 0.832), dan tekstur (p = 0.281). Hal ini menunjukkan bahwa tidak terdapat interaksi yang signifikan antara perlakuan dan waktu penyimpanan terhadap kualitas produk. Dengan demikian, pengaruh perlakuan terhadap kualitas produk tidak bergantung pada waktu penyimpanan, begitu pula sebaliknya.
Secara keseluruhan, dapat disimpulkan bahwa faktor yang paling berpengaruh terhadap kualitas sensorik produk pangan adalah perlakuan, sedangkan faktor waktu penyimpanan dan interaksi antara perlakuan dan waktu tidak memberikan pengaruh yang signifikan. Hal ini menunjukkan bahwa kualitas produk lebih ditentukan oleh jenis perlakuan dibandingkan lamanya waktu penyimpanan dalam rentang yang diuji.
## Tukey multiple comparisons of means
## 95% family-wise confidence level
##
## Fit: aov(formula = Warna ~ Perlakuan * Waktu, data = data_1)
##
## $Perlakuan
## diff lwr upr p adj
## B-A 0.1083333 -0.1694828 0.3861495 0.6854623
## C-A 0.5266667 0.2488505 0.8044828 0.0002970
## D-A 0.6900000 0.4121838 0.9678162 0.0000136
## C-B 0.4183333 0.1405172 0.6961495 0.0027373
## D-B 0.5816667 0.3038505 0.8594828 0.0001009
## D-C 0.1633333 -0.1144828 0.4411495 0.3644715
##
## $Waktu
## diff lwr upr p adj
## H7-H14 -0.1191667 -0.2647253 0.02639201 0.1018615
##
## $`Perlakuan:Waktu`
## diff lwr upr p adj
## B:H14-A:H14 0.09000000 -0.38544208 0.56544208 0.9971723
## C:H14-A:H14 0.59000000 0.11455792 1.06544208 0.0100463
## D:H14-A:H14 0.79000000 0.31455792 1.26544208 0.0006113
## A:H7-A:H14 -0.04666667 -0.52210875 0.42877542 0.9999610
## B:H7-A:H14 0.08000000 -0.39544208 0.55544208 0.9986462
## C:H7-A:H14 0.41666667 -0.05877542 0.89210875 0.1089870
## D:H7-A:H14 0.54333333 0.06789125 1.01877542 0.0194561
## C:H14-B:H14 0.50000000 0.02455792 0.97544208 0.0356729
## D:H14-B:H14 0.70000000 0.22455792 1.17544208 0.0021192
## A:H7-B:H14 -0.13666667 -0.61210875 0.33877542 0.9686069
## B:H7-B:H14 -0.01000000 -0.48544208 0.46544208 1.0000000
## C:H7-B:H14 0.32666667 -0.14877542 0.80210875 0.3134991
## D:H7-B:H14 0.45333333 -0.02210875 0.92877542 0.0674032
## D:H14-C:H14 0.20000000 -0.27544208 0.67544208 0.8184975
## A:H7-C:H14 -0.63666667 -1.11210875 -0.16122458 0.0051783
## B:H7-C:H14 -0.51000000 -0.98544208 -0.03455792 0.0310467
## C:H7-C:H14 -0.17333333 -0.64877542 0.30210875 0.8999836
## D:H7-C:H14 -0.04666667 -0.52210875 0.42877542 0.9999610
## A:H7-D:H14 -0.83666667 -1.31210875 -0.36122458 0.0003262
## B:H7-D:H14 -0.71000000 -1.18544208 -0.23455792 0.0018425
## C:H7-D:H14 -0.37333333 -0.84877542 0.10210875 0.1861504
## D:H7-D:H14 -0.24666667 -0.72210875 0.22877542 0.6310042
## B:H7-A:H7 0.12666667 -0.34877542 0.60210875 0.9791194
## C:H7-A:H7 0.46333333 -0.01210875 0.93877542 0.0589276
## D:H7-A:H7 0.59000000 0.11455792 1.06544208 0.0100463
## C:H7-B:H7 0.33666667 -0.13877542 0.81210875 0.2820001
## D:H7-B:H7 0.46333333 -0.01210875 0.93877542 0.0589276
## D:H7-C:H7 0.12666667 -0.34877542 0.60210875 0.9791194
## Tukey multiple comparisons of means
## 95% family-wise confidence level
##
## Fit: aov(formula = Aroma ~ Perlakuan * Waktu, data = data_1)
##
## $Perlakuan
## diff lwr upr p adj
## B-A 0.0900000 -0.23361719 0.4136172 0.8553683
## C-A 0.4733333 0.14971614 0.7969505 0.0035180
## D-A 0.7000000 0.37638281 1.0236172 0.0000698
## C-B 0.3833333 0.05971614 0.7069505 0.0176851
## D-B 0.6100000 0.28638281 0.9336172 0.0003153
## D-C 0.2266667 -0.09695052 0.5502839 0.2274506
##
## $Waktu
## diff lwr upr p adj
## H7-H14 -0.08166667 -0.2512223 0.08788895 0.3224198
##
## $`Perlakuan:Waktu`
## diff lwr upr p adj
## B:H14-A:H14 0.04666667 -0.507157218 0.600490551 0.9999862
## C:H14-A:H14 0.46666667 -0.087157218 1.020490551 0.1335141
## D:H14-A:H14 0.72000000 0.166176116 1.273823884 0.0067397
## A:H7-A:H14 -0.09666667 -0.650490551 0.457157218 0.9982941
## B:H7-A:H14 0.03666667 -0.517157218 0.590490551 0.9999974
## C:H7-A:H14 0.38333333 -0.170490551 0.937157218 0.3056843
## D:H7-A:H14 0.58333333 0.029509449 1.137157218 0.0352918
## C:H14-B:H14 0.42000000 -0.133823884 0.973823884 0.2160996
## D:H14-B:H14 0.67333333 0.119509449 1.227157218 0.0119060
## A:H7-B:H14 -0.14333333 -0.697157218 0.410490551 0.9822003
## B:H7-B:H14 -0.01000000 -0.563823884 0.543823884 1.0000000
## C:H7-B:H14 0.33666667 -0.217157218 0.890490551 0.4514648
## D:H7-B:H14 0.53666667 -0.017157218 1.090490551 0.0610467
## D:H14-C:H14 0.25333333 -0.300490551 0.807157218 0.7530354
## A:H7-C:H14 -0.56333333 -1.117157218 -0.009509449 0.0447189
## B:H7-C:H14 -0.43000000 -0.983823884 0.123823884 0.1955816
## C:H7-C:H14 -0.08333333 -0.637157218 0.470490551 0.9993379
## D:H7-C:H14 0.11666667 -0.437157218 0.670490551 0.9945823
## A:H7-D:H14 -0.81666667 -1.370490551 -0.262842782 0.0020872
## B:H7-D:H14 -0.68333333 -1.237157218 -0.129509449 0.0105400
## C:H7-D:H14 -0.33666667 -0.890490551 0.217157218 0.4514648
## D:H7-D:H14 -0.13666667 -0.690490551 0.417157218 0.9863692
## B:H7-A:H7 0.13333333 -0.420490551 0.687157218 0.9881554
## C:H7-A:H7 0.48000000 -0.073823884 1.033823884 0.1155764
## D:H7-A:H7 0.68000000 0.126176116 1.233823884 0.0109771
## C:H7-B:H7 0.34666667 -0.207157218 0.900490551 0.4175588
## D:H7-B:H7 0.54666667 -0.007157218 1.100490551 0.0543578
## D:H7-C:H7 0.20000000 -0.353823884 0.753823884 0.9041441
## Tukey multiple comparisons of means
## 95% family-wise confidence level
##
## Fit: aov(formula = Rasa ~ Perlakuan * Waktu, data = data_1)
##
## $Perlakuan
## diff lwr upr p adj
## B-A 0.0900000 -0.1941682 0.3741682 0.8018426
## C-A 0.5100000 0.2258318 0.7941682 0.0005224
## D-A 0.6333333 0.3491651 0.9175016 0.0000495
## C-B 0.4200000 0.1358318 0.7041682 0.0032172
## D-B 0.5433333 0.2591651 0.8275016 0.0002714
## D-C 0.1233333 -0.1608349 0.4075016 0.6107115
##
## $Waktu
## diff lwr upr p adj
## H7-H14 -0.1183333 -0.2672201 0.03055344 0.1114149
##
## $`Perlakuan:Waktu`
## diff lwr upr p adj
## B:H14-A:H14 0.163333333 -0.322979381 0.6496460 0.9314643
## C:H14-A:H14 0.576666667 0.090353953 1.0629794 0.0145738
## D:H14-A:H14 0.643333333 0.157020619 1.1296460 0.0057772
## A:H7-A:H14 -0.043333333 -0.529646047 0.4429794 0.9999798
## B:H7-A:H14 -0.026666667 -0.512979381 0.4596460 0.9999993
## C:H7-A:H14 0.400000000 -0.086312714 0.8863127 0.1502989
## D:H7-A:H14 0.580000000 0.093687286 1.0663127 0.0139163
## C:H14-B:H14 0.413333333 -0.072979381 0.8996460 0.1278296
## D:H14-B:H14 0.480000000 -0.006312714 0.9663127 0.0543780
## A:H7-B:H14 -0.206666667 -0.692979381 0.2796460 0.8112589
## B:H7-B:H14 -0.190000000 -0.676312714 0.2963127 0.8651620
## C:H7-B:H14 0.236666667 -0.249646047 0.7229794 0.6962619
## D:H7-B:H14 0.416666667 -0.069646047 0.9029794 0.1226899
## D:H14-C:H14 0.066666667 -0.419646047 0.5529794 0.9996387
## A:H7-C:H14 -0.620000000 -1.106312714 -0.1336873 0.0079876
## B:H7-C:H14 -0.603333333 -1.089646047 -0.1170206 0.0100682
## C:H7-C:H14 -0.176666667 -0.662979381 0.3096460 0.9015587
## D:H7-C:H14 0.003333333 -0.482979381 0.4896460 1.0000000
## A:H7-D:H14 -0.686666667 -1.172979381 -0.2003540 0.0031717
## B:H7-D:H14 -0.670000000 -1.156312714 -0.1836873 0.0039926
## C:H7-D:H14 -0.243333333 -0.729646047 0.2429794 0.6686854
## D:H7-D:H14 -0.063333333 -0.549646047 0.4229794 0.9997421
## B:H7-A:H7 0.016666667 -0.469646047 0.5029794 1.0000000
## C:H7-A:H7 0.443333333 -0.042979381 0.9296460 0.0877274
## D:H7-A:H7 0.623333333 0.137020619 1.1096460 0.0076262
## C:H7-B:H7 0.426666667 -0.059646047 0.9129794 0.1083432
## D:H7-B:H7 0.606666667 0.120353953 1.0929794 0.0096128
## D:H7-C:H7 0.180000000 -0.306312714 0.6663127 0.8930576
## Tukey multiple comparisons of means
## 95% family-wise confidence level
##
## Fit: aov(formula = Tekstur ~ Perlakuan * Waktu, data = data_1)
##
## $Perlakuan
## diff lwr upr p adj
## B-A 0.2133333 -0.1045597 0.5312264 0.2588962
## C-A 0.7550000 0.4371069 1.0728931 0.0000233
## D-A 0.6550000 0.3371069 0.9728931 0.0001207
## C-B 0.5416667 0.2237736 0.8595597 0.0008740
## D-B 0.4416667 0.1237736 0.7595597 0.0053908
## D-C -0.1000000 -0.4178931 0.2178931 0.8049873
##
## $Waktu
## diff lwr upr p adj
## H7-H14 -0.07666667 -0.2432232 0.08988986 0.3436867
##
## $`Perlakuan:Waktu`
## diff lwr upr p adj
## B:H14-A:H14 0.376666667 -0.16736123 0.9206946 0.3053655
## C:H14-A:H14 0.880000000 0.33597210 1.4240279 0.0008135
## D:H14-A:H14 0.873333333 0.32930544 1.4173612 0.0008812
## A:H7-A:H14 0.176666667 -0.36736123 0.7206946 0.9417258
## B:H7-A:H14 0.226666667 -0.31736123 0.7706946 0.8251348
## C:H7-A:H14 0.806666667 0.26263877 1.3506946 0.0019767
## D:H7-A:H14 0.613333333 0.06930544 1.1573612 0.0215700
## C:H14-B:H14 0.503333333 -0.04069456 1.0473612 0.0805945
## D:H14-B:H14 0.496666667 -0.04736123 1.0406946 0.0870087
## A:H7-B:H14 -0.200000000 -0.74402790 0.3440279 0.8962102
## B:H7-B:H14 -0.150000000 -0.69402790 0.3940279 0.9748471
## C:H7-B:H14 0.430000000 -0.11402790 0.9740279 0.1807964
## D:H7-B:H14 0.236666667 -0.30736123 0.7806946 0.7938733
## D:H14-C:H14 -0.006666667 -0.55069456 0.5373612 1.0000000
## A:H7-C:H14 -0.703333333 -1.24736123 -0.1593054 0.0070767
## B:H7-C:H14 -0.653333333 -1.19736123 -0.1093054 0.0131619
## C:H7-C:H14 -0.073333333 -0.61736123 0.4706946 0.9996765
## D:H7-C:H14 -0.266666667 -0.81069456 0.2773612 0.6892349
## A:H7-D:H14 -0.696666667 -1.24069456 -0.1526388 0.0076874
## B:H7-D:H14 -0.646666667 -1.19069456 -0.1026388 0.0142948
## C:H7-D:H14 -0.066666667 -0.61069456 0.4773612 0.9998275
## D:H7-D:H14 -0.260000000 -0.80402790 0.2840279 0.7135677
## B:H7-A:H7 0.050000000 -0.49402790 0.5940279 0.9999751
## C:H7-A:H7 0.630000000 0.08597210 1.1740279 0.0175658
## D:H7-A:H7 0.436666667 -0.10736123 0.9806946 0.1686024
## C:H7-B:H7 0.580000000 0.03597210 1.1240279 0.0324246
## D:H7-B:H7 0.386666667 -0.15736123 0.9306946 0.2782169
## D:H7-C:H7 -0.193333333 -0.73736123 0.3506946 0.9108552
Interpretasi:
Variabel Warna Berdasarkan uji lanjut
Tukey pada variabel warna, diketahui bahwa
perlakuan C dan D berbeda signifikan dibandingkan perlakuan A dan B
(p-value < 0.05), sedangkan A dengan B serta C dengan D tidak berbeda
signifikan. Hal ini menunjukkan bahwa perlakuan C dan D menghasilkan
warna yang lebih baik. Untuk faktor waktu, tidak terdapat perbedaan
signifikan antara H7 dan H14 (p-value > 0.05), sehingga waktu tidak
berpengaruh terhadap warna.
Variabel Aroma Berdasarkan uji lanjut
Tukey pada variabel aroma, diketahui bahwa
perlakuan C dan D berbeda signifikan dibandingkan perlakuan A dan B
(p-value < 0.05), sedangkan A dengan B serta C dengan D tidak berbeda
signifikan. Hal ini menunjukkan bahwa perlakuan C dan D menghasilkan
aroma yang lebih baik. Untuk faktor waktu, tidak terdapat perbedaan
signifikan antara H7 dan H14 (p-value > 0.05), sehingga waktu tidak
berpengaruh terhadap aroma.
Variabel Rasa Berdasarkan uji lanjut
Tukey pada variabel rasa, diketahui bahwa
perlakuan C dan D berbeda signifikan dibandingkan perlakuan A dan B
(p-value < 0.05), sedangkan A dengan B serta C dengan D tidak berbeda
signifikan. Hal ini menunjukkan bahwa perlakuan C dan D menghasilkan
rasa yang lebih baik. Untuk faktor waktu, tidak terdapat perbedaan
signifikan antara H7 dan H14 (p-value > 0.05), sehingga waktu tidak
berpengaruh terhadap rasa.
Variabel Tekstur Berdasarkan uji lanjut
Tukey pada variabel tekstur, diketahui bahwa
perlakuan C dan D berbeda signifikan dibandingkan perlakuan A dan B
(p-value < 0.05), sedangkan A dengan B serta C dengan D tidak berbeda
signifikan. Hal ini menunjukkan bahwa perlakuan C dan D menghasilkan
tekstur yang lebih baik. Untuk faktor waktu, tidak terdapat perbedaan
signifikan antara H7 dan H14 (p-value > 0.05), sehingga waktu tidak
berpengaruh terhadap tekstur.
Sebuah organisasi ingin mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja karyawan (Y). Penelitian dilakukan terhadap 51 responden yang merupakan karyawan aktif dari berbagai divisi. Penelitian ini menguji tiga variabel independen:
Disiplin Kerja (X1)
Emotional Quotient (X2)
Kepuasan Kerja (X3)
Variabel dependen:
Seluruh variabel diukur menggunakan skala Likert (1–5), di mana nilai yang lebih tinggi menunjukkan tingkat yang lebih baik. Tentukan apakah:
H1: Disiplin Kerja (X1) berpengaruh terhadap Kinerja (Y)
H2: Emotional Quotient (X2) berpengaruh terhadap Kinerja (Y)
H3: Kepuasan Kerja (X3) berpengaruh terhadap Kinerja (Y)
#Input Data
data_2 <- read_xlsx("C:/Users/dals/OneDrive - untirta.ac.id/KULIAH/Sem 6/Konstat/Data/Data Studi Kasus.xlsx", sheet = "Data 2")
head(data_2, 10)#Membuat Variabel
#Disiplin Kerja (X1)
data_2$X1 <- rowMeans(data_2[, c("X1.1","X1.2","X1.3","X1.4")])
#Emotional Quotient (X2)
data_2$X2 <- rowMeans(data_2[, c("X2.1","X2.2","X2.3","X2.4","X2.5")])
#Kepuasan Kerja (X3)
data_2$X3 <- rowMeans(data_2[, c("Z1.1","Z1.2","Z1.3")])
#Kinerja (Y)
data_2$Y <- rowMeans(data_2[, c("Y1.1","Y1.2","Y1.3")])## tibble [51 × 19] (S3: tbl_df/tbl/data.frame)
## $ X1.1: num [1:51] 2 2 4 2 3 2 1 2 2 3 ...
## $ X1.2: num [1:51] 2 1 4 2 1 2 2 1 1 3 ...
## $ X1.3: num [1:51] 3 1 2 1 1 1 3 1 3 4 ...
## $ X1.4: num [1:51] 4 3 3 2 1 1 3 1 3 3 ...
## $ X2.1: num [1:51] 1 1 1 1 1 1 2 1 1 2 ...
## $ X2.2: num [1:51] 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 ...
## $ X2.3: num [1:51] 2 2 1 2 1 1 3 1 1 3 ...
## $ X2.4: num [1:51] 3 3 2 3 1 1 3 1 1 1 ...
## $ X2.5: num [1:51] 1 1 1 3 1 1 3 1 2 3 ...
## $ Y1.1: num [1:51] 1 1 1 1 1 1 2 1 1 3 ...
## $ Y1.2: num [1:51] 2 1 1 1 1 1 2 1 3 3 ...
## $ Y1.3: num [1:51] 4 4 4 3 4 4 4 4 3 4 ...
## $ Z1.1: num [1:51] 2 4 4 2 4 4 2 2 2 2 ...
## $ Z1.2: num [1:51] 3 4 4 3 3 4 3 3 3 2 ...
## $ Z1.3: num [1:51] 1 1 1 1 3 2 1 3 3 1 ...
## $ X1 : num [1:51] 2.75 1.75 3.25 1.75 1.5 1.5 2.25 1.25 2.25 3.25 ...
## $ X2 : num [1:51] 1.6 1.6 1.2 2 1 1 2.4 1 1.2 2 ...
## $ X3 : num [1:51] 2 3 3 2 3.33 ...
## $ Y : num [1:51] 2.33 2 2 1.67 2 ...
## X1.1 X1.2 X1.3 X1.4 X2.1
## Min. :1.00 Min. :1.000 Min. :1.000 Min. :1.000 Min. :1.000
## 1st Qu.:2.00 1st Qu.:1.000 1st Qu.:1.000 1st Qu.:1.000 1st Qu.:1.000
## Median :3.00 Median :2.000 Median :1.000 Median :2.000 Median :1.000
## Mean :2.51 Mean :2.059 Mean :1.647 Mean :2.196 Mean :1.294
## 3rd Qu.:3.00 3rd Qu.:3.000 3rd Qu.:2.000 3rd Qu.:3.000 3rd Qu.:1.000
## Max. :4.00 Max. :4.000 Max. :4.000 Max. :4.000 Max. :3.000
## X2.2 X2.3 X2.4 X2.5
## Min. :1.000 Min. :1.000 Min. :1.000 Min. :1.000
## 1st Qu.:1.000 1st Qu.:1.000 1st Qu.:1.000 1st Qu.:1.000
## Median :1.000 Median :1.000 Median :2.000 Median :1.000
## Mean :1.196 Mean :1.725 Mean :1.961 Mean :1.647
## 3rd Qu.:1.000 3rd Qu.:2.000 3rd Qu.:3.000 3rd Qu.:2.000
## Max. :3.000 Max. :4.000 Max. :4.000 Max. :4.000
## Y1.1 Y1.2 Y1.3 Z1.1
## Min. :1.000 Min. :1.000 Min. :1.000 Min. :2.000
## 1st Qu.:1.000 1st Qu.:1.000 1st Qu.:4.000 1st Qu.:2.000
## Median :1.000 Median :1.000 Median :4.000 Median :3.000
## Mean :1.471 Mean :1.373 Mean :3.686 Mean :2.941
## 3rd Qu.:2.000 3rd Qu.:1.000 3rd Qu.:4.000 3rd Qu.:4.000
## Max. :3.000 Max. :3.000 Max. :4.000 Max. :4.000
## Z1.2 Z1.3 X1 X2
## Min. :1.000 Min. :1.000 Min. :1.000 Min. :1.000
## 1st Qu.:3.000 1st Qu.:1.000 1st Qu.:1.625 1st Qu.:1.000
## Median :3.000 Median :1.000 Median :2.000 Median :1.400
## Mean :2.941 Mean :1.824 Mean :2.103 Mean :1.565
## 3rd Qu.:3.000 3rd Qu.:3.000 3rd Qu.:2.500 3rd Qu.:2.000
## Max. :4.000 Max. :3.000 Max. :3.750 Max. :3.000
## X3 Y
## Min. :1.667 Min. :1.000
## 1st Qu.:2.000 1st Qu.:2.000
## Median :2.667 Median :2.000
## Mean :2.569 Mean :2.176
## 3rd Qu.:3.000 3rd Qu.:2.333
## Max. :3.333 Max. :3.333
## X1.1 X1.2 X1.3 X1.4 X2.1 X2.2 X2.3 X2.4
## 2.509804 2.058824 1.647059 2.196078 1.294118 1.196078 1.725490 1.960784
## X2.5 Y1.1 Y1.2 Y1.3 Z1.1 Z1.2 Z1.3 X1
## 1.647059 1.470588 1.372549 3.686275 2.941176 2.941176 1.823529 2.102941
## X2 X3 Y
## 1.564706 2.568627 2.176471
##
## Shapiro-Wilk normality test
##
## data: residuals(model_2)
## W = 0.96256, p-value = 0.1072
## X1 X2 X3
## 1.127526 1.289677 1.153864
##
## studentized Breusch-Pagan test
##
## data: model_2
## BP = 14.603, df = 3, p-value = 0.002189
##
## Durbin-Watson test
##
## data: model_2
## DW = 1.6967, p-value = 0.1555
## alternative hypothesis: true autocorrelation is greater than 0
Interpretasi:
Berdasarkan hasil uji normalitas menggunakan
Shapiro-Wilk terhadap residual model
regresi, diperoleh nilai p-value sebesar 0.1072 yang lebih besar dari
0.05. Hal ini menunjukkan bahwa residual berdistribusi
normal, sehingga asumsi normalitas telah terpenuhi.
Selanjutnya, hasil uji multikolinearitas menunjukkan bahwa nilai
`Variance Inflation Factor (VIF) untuk
seluruh variabel independen, yaitu X1, X2, dan X3, berada di bawah 10,
sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat masalah
multikolinearitas dalam model.
Namun demikian, berdasarkan uji heteroskedastisitas menggunakan
Breusch-Pagan, diperoleh nilai p-value
sebesar 0.002189 yang lebih kecil dari 0.05, sehingga menunjukkan adanya
gejala heteroskedastisitas, yaitu varians
residual yang tidak konstan. Sementara itu, hasil uji autokorelasi
menggunakan Durbin-Watson menunjukkan
nilai p-value sebesar 0.1555 yang lebih besar dari 0.05, sehingga dapat
disimpulkan bahwa tidak terdapat autokorelasi pada
residual. Dengan demikian, sebagian besar asumsi regresi telah
terpenuhi, kecuali asumsi homoskedastisitas yang belum terpenuhi.
##
## t test of coefficients:
##
## Estimate Std. Error t value Pr(>|t|)
## (Intercept) 1.87121 0.91229 2.0511 0.04585 *
## X1 0.12840 0.11266 1.1397 0.26017
## X2 0.19873 0.24514 0.8107 0.42165
## X3 -0.10734 0.21808 -0.4922 0.62487
## ---
## Signif. codes: 0 '***' 0.001 '**' 0.01 '*' 0.05 '.' 0.1 ' ' 1
Interpretasi:
Berdasarkan hasil uji menggunakan
coeftest dengan robust standard error,
diperoleh bahwa nilai p-value untuk variabel X1 sebesar 0.26017, X2
sebesar 0.42165, dan X3 sebesar 0.62487, yang seluruhnya lebih besar
dari 0.05. Hal ini menunjukkan bahwa secara parsial ketiga variabel
independen tersebut tidak berpengaruh signifikan terhadap variabel
dependen (kinerja karyawan). Sementara itu, nilai p-value pada intercept
sebesar 0.04585 (< 0.05) menunjukkan bahwa konstanta model
signifikan. Dengan demikian, meskipun telah dilakukan penanganan
terhadap heteroskedastisitas, hasil analisis tetap menunjukkan bahwa
tidak terdapat pengaruh signifikan dari disiplin kerja,
emotional quotient, dan kepuasan kerja terhadap kinerja karyawan.
##
## Call:
## lm(formula = Y ~ X1 + X2 + X3, data = data_2)
##
## Residuals:
## Min 1Q Median 3Q Max
## -1.49480 -0.23221 -0.00473 0.21474 1.00696
##
## Coefficients:
## Estimate Std. Error t value Pr(>|t|)
## (Intercept) 1.8712 0.5325 3.514 0.000987 ***
## X1 0.1284 0.1121 1.146 0.257650
## X2 0.1987 0.1449 1.371 0.176753
## X3 -0.1073 0.1516 -0.708 0.482429
## ---
## Signif. codes: 0 '***' 0.001 '**' 0.01 '*' 0.05 '.' 0.1 ' ' 1
##
## Residual standard error: 0.5036 on 47 degrees of freedom
## Multiple R-squared: 0.1258, Adjusted R-squared: 0.06996
## F-statistic: 2.254 on 3 and 47 DF, p-value: 0.09439
Interpretasi:
Berdasarkan hasil analisis regresi, variabel Disiplin Kerja (X1) memiliki nilai p-value sebesar 0.257650 (>0.05). Hal ini menunjukkan bahwa Disiplin Kerja tidak berpengaruh signifikan terhadap Kinerja Karyawan. Dengan demikian, hipotesis H1 yang menyatakan bahwa Disiplin Kerja berpengaruh terhadap Kinerja Karyawan ditolak.
Berdasarkan hasil analisis regresi, variabel Emotional Quotient (X2) memiliki nilai p-value sebesar 0.176753 (>0.05). Hal ini menunjukkan bahwa Emotional Quotient tidak berpengaruh signifikan terhadap Kinerja Karyawan. Dengan demikian, hipotesis H2 yang menyatakan bahwa Emotional Quotient berpengaruh terhadap Kinerja Karyawan ditolak.
Berdasarkan hasil analisis regresi, variabel Kepuasan Kerja (X3) memiliki nilai p-value sebesar 0.482429 (>0.05). Hal ini menunjukkan bahwa Kepuasan Kerja tidak berpengaruh signifikan terhadap Kinerja Karyawan. Dengan demikian, hipotesis H3 yang menyatakan bahwa Kepuasan Kerja berpengaruh terhadap Kinerja Karyawan ditolak.
Berdasarkan hasil
analisis regresi linear berganda,
diperoleh bahwa nilai p-value uji simultan (Uji F) sebesar 0.09439 yang
lebih besar dari 0.05. Hal ini menunjukkan bahwa secara bersama-sama
variabel Disiplin Kerja (X1), Emotional Quotient (X2), dan Kepuasan
Kerja (X3) tidak berpengaruh signifikan terhadap
Kinerja Karyawan (Y).
Secara parsial (Uji t), diperoleh bahwa
Disiplin Kerja (X1) memiliki p-value sebesar 0.257650, Emotional
Quotient (X2) sebesar 0.176753, dan Kepuasan Kerja (X3) sebesar
0.482429, yang seluruhnya lebih besar dari 0.05. Hal ini menunjukkan
bahwa masing-masing variabel independen tidak berpengaruh
signifikan terhadap kinerja karyawan. Dengan demikian,
hipotesis H1, H2, dan H3 ditolak.
Nilai
koefisien determinasi (Adjusted R-squared)
sebesar 0.06996 menunjukkan bahwa model hanya mampu menjelaskan sekitar
6.996% variasi kinerja karyawan, sedangkan sisanya
dipengaruhi oleh faktor lain di luar model.
Secara keseluruhan, dapat disimpulkan bahwa Disiplin Kerja, Emotional Quotient, dan Kepuasan Kerja tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap Kinerja Karyawan baik secara parsial maupun simultan pada data yang digunakan.
Seorang analis ekonomi memiliki data inflasi bulanan dari Januari 2003 hingga Desember 2020 (total 216 observasi). Data ini digunakan untuk memahami pola pergerakan inflasi serta menyusun model prediksi sebagai dasar pengambilan kebijakan ekonomi. Inflasi merupakan indikator penting dalam stabilitas ekonomi, sehingga analisis yang akurat diperlukan untuk mengidentifikasi pola jangka pendek maupun jangka panjang. Tentukan:
identifikasi pola tren, musiman, dan fluktuasi acak pada data inflasi bulanan periode 2003–2020
Pemodelan time series apa yang tepat digunakan? jelaskan!
lakukan peramalan inflasi 1 tahun kedepan sebagai dasar prediksi kondisi ekonomi jangka pendek.
Hitung nilai MAE (Mean Absolute Error) dan MAPE (Mean Absolute Percentage Error) untuk melihat akurasi model
data_3 <- read_xlsx("C:/Users/dals/OneDrive - untirta.ac.id/KULIAH/Sem 6/Konstat/Data/Data Studi Kasus.xlsx", sheet = "Data 3")
head(data_3, 10)#Transformasi ke Time Series
data_ts <- ts(data_3$`Data Inflasi`, start = c(2003,1), frequency = 12)Interpretasi:
Berdasarkan plot time series inflasi bulanan periode 2003–2020, terlihat bahwa data memiliki pola yang cenderung berfluktuasi dengan kecenderungan tren menurun dalam jangka panjang, terutama setelah sekitar tahun 2008 hingga 2020. Pada awal periode, terjadi peningkatan yang cukup signifikan hingga mencapai puncak sekitar tahun 2005–2006, kemudian diikuti penurunan dan pergerakan yang relatif lebih stabil meskipun tetap mengalami naik turun. Pola musiman tidak terlihat secara jelas dari plot ini, namun terdapat indikasi adanya pola berulang dalam periode tertentu.
Interpretasi:
Berdasarkan hasil dekomposisi time series, pola data dapat diidentifikasi dengan lebih jelas. Komponen tren menunjukkan adanya kecenderungan peningkatan pada awal periode yang kemudian diikuti penurunan dan stabilisasi pada periode berikutnya. Komponen musiman memperlihatkan pola yang berulang secara konsisten setiap tahun, yang menunjukkan adanya pengaruh musiman dalam data inflasi. Sementara itu, komponen residual (acak) menunjukkan adanya fluktuasi yang tidak teratur di sekitar nol, yang mencerminkan variasi acak yang tidak dapat dijelaskan oleh tren maupun musiman.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa data inflasi bulanan memiliki komponen tren, pola musiman yang cukup kuat, serta fluktuasi acak, sehingga model time series yang mempertimbangkan ketiga komponen tersebut (seperti ARIMA musiman/SARIMA) layak untuk digunakan dalam pemodelan dan peramalan.
##
## Augmented Dickey-Fuller Test
##
## data: diff_ts
## Dickey-Fuller = -5.6998, Lag order = 5, p-value = 0.01
## alternative hypothesis: stationary
Interpretasi:
Berdasarkan hasil uji stasioneritas menggunakan
Augmented Dickey-Fuller (ADF) terhadap
data yang telah dilakukan differencing, diperoleh nilai statistik uji
sebesar -5.6998 dengan p-value sebesar 0.01. Nilai p-value tersebut
lebih kecil dari taraf signifikansi 0.05, sehingga H0 ditolak dan dapat
disimpulkan bahwa data hasil differencing sudah bersifat
stasioner.
Hal ini menunjukkan bahwa proses differencing yang dilakukan berhasil menghilangkan ketidakstasioneran pada data, sehingga data telah memenuhi asumsi stasioneritas yang diperlukan dalam pemodelan time series. Dengan demikian, data tersebut sudah layak digunakan untuk tahap identifikasi dan pembentukan model, seperti ARIMA.
## Series: data_ts
## ARIMA(2,1,0)(0,0,1)[12] with drift
##
## Coefficients:
## ar1 ar2 sma1 drift
## 0.1362 -0.1451 -0.8150 -3e-04
## s.e. 0.0678 0.0680 0.0548 2e-04
##
## sigma^2 = 6.291e-05: log likelihood = 730.31
## AIC=-1450.62 AICc=-1450.33 BIC=-1433.76
##
## Training set error measures:
## ME RMSE MAE MPE MAPE MASE
## Training set 0.000142688 0.007839273 0.004000209 -1.026325 7.018252 0.1334602
## ACF1
## Training set 0.005910675
##
## Ljung-Box test
##
## data: Residuals from ARIMA(2,1,0)(0,0,1)[12] with drift
## Q* = 17.263, df = 21, p-value = 0.6951
##
## Model df: 3. Total lags used: 24
Interpretasi:
Berdasarkan hasil pemodelan menggunakan
auto.arima, diperoleh model terbaik yaitu
ARIMA(2,1,0)(0,0,1)[12] dengan drift. Model ini
menunjukkan bahwa data telah didifferencing satu kali (d = 1) untuk
mencapai stasioneritas, serta memiliki komponen autoregressive pada lag
ke-1 dan ke-2 (AR(2)), serta komponen musiman moving average orde 1
(SMA(1)) dengan periode 12, yang menandakan adanya pola musiman
tahunan.
Nilai AIC yang relatif kecil (-1450.62)
menunjukkan bahwa model ini cukup baik dalam
menjelaskan data. Selain itu, hasil uji diagnostik residual menggunakan
uji Ljung-Box menghasilkan p-value sebesar
0.6951 (> 0.05), yang menunjukkan bahwa residual bersifat
white noise (tidak mengandung autokorelasi). Hal ini
mengindikasikan bahwa model sudah mampu menangkap pola dalam data dengan
baik.
Dengan demikian, model ARIMA(2,1,0)(0,0,1)[12] dengan drift merupakan model yang tepat digunakan karena mampu mengakomodasi pola tren (melalui differencing), pola musiman (melalui komponen musiman), serta menghasilkan residual yang memenuhi asumsi independensi.
## Point Forecast Lo 80 Hi 80 Lo 95 Hi 95
## Jan 2021 0.01866747 0.0085016348 0.02883331 0.003120167 0.03421477
## Feb 2021 0.01632108 0.0009343061 0.03170785 -0.007210958 0.03985311
## Mar 2021 0.01500957 -0.0034861993 0.03350534 -0.013277269 0.04329641
## Apr 2021 0.01308146 -0.0078911978 0.03405412 -0.018993453 0.04515638
## May 2021 0.01268192 -0.0105626224 0.03592647 -0.022867542 0.04823139
## Jun 2021 0.01462941 -0.0107129541 0.03997177 -0.024128390 0.05338721
## Jul 2021 0.01879307 -0.0084826628 0.04606881 -0.022921565 0.06050771
## Aug 2021 0.01997370 -0.0091030219 0.04905042 -0.024495309 0.06444271
## Sep 2021 0.02068821 -0.0100841974 0.05146063 -0.026374128 0.06775056
## Oct 2021 0.02109605 -0.0112839027 0.05347599 -0.028424812 0.07061690
## Nov 2021 0.02026387 -0.0136475820 0.05417532 -0.031599220 0.07212696
## Dec 2021 0.02018462 -0.0151920547 0.05556130 -0.033919337 0.07428858
Interpretasi:
Berdasarkan hasil peramalan menggunakan model ARIMA(2,1,0)(0,0,1)[12], diperoleh bahwa nilai inflasi untuk 1 tahun ke depan (2021) cenderung berada pada tingkat yang relatif rendah dan stabil. Nilai point forecast pada awal tahun, seperti Januari dan Februari 2021, menunjukkan angka inflasi sekitar 0,018 hingga 0,016, yang mengindikasikan tidak adanya lonjakan inflasi yang signifikan dalam jangka pendek.
Selain itu, interval prediksi (baik 80% maupun 95%) menunjukkan rentang yang tidak terlalu lebar, sehingga tingkat ketidakpastian model masih dalam batas wajar. Hal ini menandakan bahwa hasil peramalan cukup konsisten dan dapat dipercaya untuk menggambarkan kondisi ke depan.
Secara keseluruhan, hasil peramalan menunjukkan bahwa kondisi inflasi dalam 1 tahun ke depan diperkirakan relatif stabil dengan kecenderungan rendah, sehingga dapat diinterpretasikan bahwa kondisi ekonomi jangka pendek cenderung terkendali tanpa tekanan inflasi yang tinggi.
#Evaluasi Model
train_data <- window(data_ts, end = c(2019,12))
test_data <- window(data_ts, start = c(2020,1))
train_model <- auto.arima(train_data)
predik <- forecast(train_model, h = length(test_data))
mae(test_data, predik$mean)## [1] 0.01183228
## [1] 0.7468122
Interpretasi:
Berdasarkan hasil evaluasi model, diperoleh nilai
MAE (Mean Absolute Error) sebesar 0.0118.
Nilai ini menunjukkan bahwa rata-rata kesalahan absolut antara hasil
prediksi dan data aktual relatif kecil, sehingga model memiliki
tingkat kesalahan yang rendah dalam memprediksi nilai
inflasi.
Sementara itu, nilai
MAPE (Mean Absolute Percentage Error)
sebesar 0.7468 atau sekitar 0.75% menunjukkan bahwa rata-rata kesalahan
prediksi hanya kurang dari 1% dari nilai aktual. Hal ini mengindikasikan
bahwa model memiliki tingkat akurasi yang sangat baik
dalam melakukan peramalan.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa model yang digunakan memiliki akurasi yang tinggi dan layak digunakan untuk peramalan inflasi dalam jangka pendek.